Original author: WillowBlueJay17

Translator: BrokenWings2602

DISCLAIMER: Big Hero 6 (c) Disney & Marvel


"Apa yang kau lakukan?"

Tadashi dengan cepat menutup buku catatan yang telah ia gambari selagi ia memutar kursinya untuk menghadapi Hiro. Bocah berusia sebelas tahun menatap kakak lelakinya yang berusia tujuh belas tahun dengan bingung.

"Oke, sekarang aku benar-benar penasaran," Hiro menyatakan sebelum mencapai buku tersebut, "Apa yang ada di dalam situ?"

"Kau tidak perlu tahu," Tadashi membalas, menangkap lengan adiknya sebelum berhasil menyentuh buku tersebut.

"Apa rahasia besarnya?" tanya Hiro, mencoba untuk memanjat Tadashi agar ia dapat melihat buku tersebut.

Sayangnya bagi Hiro, masa pubertas telah menendang untuk Tadashi, memberikan remaja tersebut postur tubuh yang tinggi. Dan tubuh Tadashi juga cukup berotot, berkat bertahun-tahun ikut karate. Hiro, di sisi lain, masih jauh lebih pendek dan lebih kurus dari pada anak-anak lain yang seumuran dengannya. Remaja berusia tujuh belas tahun itu dengan mudah menahan adiknya dari mendapatkan buku tersebut.

"Hanya suatu hal kecil yang ingin aku kerjakan di masa depan," ujar Tadashi selagi ia mendorong pelan adiknya, "Begitu aku menyelesaikannya, barulah kau bisa melihatnya."

Hiro menghembuskan nafas, rasa penasarannya menggerakan dirinya untuk mencoba dan mencuri buku catatan tersebut dan mencari tahu proyek rahasia apa yang Tadashi rencanakan.

"Lagian, bukannya kau harus tidur?" Tadashi menunjuk ke arah jam, "Sudah larut malam. Kau ada sekolah besok."

"Begitu juga kau," balas Hiro selagi ia merebahkan diri di atas ranjang, kedua lengannya tersilang di depannya.

"Yeah, tapi besok adalah hari pertamamu di sekolah SMA."

Tadashi tidak ketinggalan ekspresi panik yang terlihat di wajah adiknya dalam sepersekian detik.

Hiro telah menyelesaikan kelas tujuh dan delapan dengan lengkap. Namun, seperti yang Tadashi takutkan, ada lebih banyak masalah setelah perkelahian pertama itu. Sementara Hiro diam saja dan mengelak pertanyaan-pertanyaan, Tadashi masih melihat potongan-potongan dan memar-memar yang disembunyikan oleh bocah tersebut. Selain beberapa insiden ekstrim, kepala sekolah tidak pernah menelpon rumah, mengartikan bahwa Hiro melakukan sebisanya untuk merahasiakan masalahnya. Bibi Cass menyebutkan bahwa semua gurunya mengatakan bahwa Hiro terus-menerus membantah mereka.

Tidak hanya itu saja. Hiro terlihat menjadi lebih pendiam. Ia menghabiskan lebih banyak waktu mengerjakan robot-robotnya daripada ia pergi keluar, bahkan dengan Tadashi. Sementara ia tidak mengendur pada PR, ia memperlakukannya sebagai pekerjaan sehari-hari yang tidak layak waktunya.

Adik lelakinya menderita, itu jelas.

"Sekolah baru, diriku yang baru, 'kan?" Hiro tertawa kecil gugup, "Yah, ini akan menjadi pertama kalinya kau dan aku berada di sekolah yang sama, Tadashi!"

"Yeah, tapi kau adalah seorang freshman, aku senior," balas Tadashi, "Jadwal kita akan memisahkan kita seharian. Yah, kecuali untuk makan siang."

Seluruh tubuh Hiro tampak terkulai mendengarnya. Bocah berusia sebelas tahun itu menjatuhkan diri telentang sebelum menoleh ke sisinya, jauh dari Tadashi. Remaja berusia tujuh belas tahun itu mendesah sebelum pergi dan duduk di atas ranjang Hiro.

"Jadi...Bagaimana Megabotmu itu?" ia bertanya, mencoba untuk mengalihkan pikiran Hiro dari sekolah.

"Hilang beberapa bagian," gumam Hiro, "Tapi sudah hampir selesai."

"Dan ini untuk pertempuran robot? Kau tahu itu ilegal, Hiro."

"Bertaruh pada pertempuran itu ilegal," Hiro mengoreksi, berbalik telentang untuk melihat Tadashi.

"Bisakah kau mencoba untuk tidak membuat dirimu tertangkap?"

"Aku tidak janji."

Tadashi mengacak-acak rambut Hiro, menyebabkan anak lelaki yang lebih muda itu tertawa dan mendorong lengannya.

"Sungguh, kalau sampai aku menangkapmu di pertempuran robot..." suara Tadashi melemah, peringatan terdapat jelas.

"Oh hore, aku akan mendapatkan satu lagi ceramah berpatenkan Tadashi yang terkenal!" seru Hiro sarkastis.

"Tidak ada yang menyukai seorang snarker, bonehead."

"Yah, orang-orang pasti membenci keluarga kita."


"Kau tidak perlu mengantar kita, Bibi Cass, aku bisa mengantar Hiro menggunakan sepeda motorku."

"Omong kosong!" Bibi Cass menyatakan selagi gedung sekolah mulai terlihat, "Aku harus mengantar kalian hari ini. Lagipula, hari ini hari pertama pria kecil kita!"

"Whoo..." Hiro mulai berbicara, bahkan tidak mencoba untuk memalsukan rasa antusias.

Mobil berhenti di depan gedung sekolah, halamannya dipenuhi oleh lusinan siswa-siswi menyambut teman-teman.

"Baiklah, tahun ajaran baru," Bibi Cass cekikikan, "Pergilah buat para guru itu takjub, anak-anak! Buat mereka terpesona dengan otak kalian!"

Tadashi dan Hiro berbagi cengiran mendengarnya sebelum keluar dari mobil.

"Oh, dan Hiro?" Bibi Cass memanggil.

Hiro melangkah dekat ke jendela mobil yang diturunkan. Bibi Cass mengulurkan lengannya untuk mengacak pelan rambut keponakannya yang lebih muda.

"Kau akan baik-baik saja, 'kan sayang?" ia bertanya dengan senyuman yang lembut.

Hiro kembali senyum dan mengangguk.

"Aku akan baik-baik saja...Trims, Bibi Cass."


"Maka, saya berharap kalian semua menyambut Mr. Hamada dengan hangat!"

Hiro, yang telah berdiri sekaku papan, mengeluarkan nafas lega ketika kepala sekolah yang telah memperkenalkannya ke kelas wali kelasnya akhirnya pergi. Ia mengira bahwa kepala sekolah hanya memberikannya perkenalan singkat. Tapi tidak, orang itu telah memberikan pidato panjang tentang bagaimana pintarnya Hiro dan tentang bagaimana ia akan menjadi aset besar untuk sekolah dan seterusnya.

"Kau boleh mengambil tempat dudukmu sekarang, Mr. Hamada," ujar wali kelasnya.

"Y-ya, bu," Hiro menjawab dalam suara kecil sebelum pergi ke tempat duduk yang kosong di tengah ruangan.

Begitu ia duduk di kursinya, ia mulai mendengar bisikan-bisikan dari para murid yang lain.

"Sebelas? Dia cuma sebelas tahun dan sudah mulai SMA?"

"Bocah itu bahkan tidak terlihat seperti anak umur delapan tahun!"

"Apakah dia benar-benar sepintar itu? Mungkin aku bisa membuat dia mengerjakan PR-ku untukku."

"Hamada...Kau pikir dia terkait dengan orang yang namanya Tadashi itu?"

"Tadashi? Orang yang memegang pimpinan dalam klub robotik?"

"Oh, aku tahu dia! Aku pernah melihatnya di dojo karate lokal. Orang ganteng yang bersabuk coklat!"

"Seakan-akan orang itu terkait dengan anak ini. Mereka tidak kelihatan begitu mirip...Tapi Tadashi satu-satunya Hamada lain yang ada di sekolah ini, jadi mungkin..."

Selagi bisikan-bisikan tersebut berlanjut, Hiro menatap bangkunya, mengkalkulasi berapa banyak kekuatan yang ia perlukan untuk memukul kepalanya pada bangku itu tanpa meretakkan tengkoraknya sampai terbuka.


Jika ada satu hal yang Hiro benci tentang sekolah, maka itu adalah tentang bagaimana sebagian anak-anak yang lain di kelasnya tidak akan berhenti membicarakan dirinya. Terutama ketika mereka berbicara cukup keras sampai-sampai mereka harus tahu bahwa Hiro bisa mendengar mereka.

Baru hari pertama dan Hiro sudah harus berhadapan dengan para pengganggu...seperti biasa. Setidaknya tidak ada yang pergi dan benar-benar memukulinya. Tidak, ia hanya dipanggili berbagai nama yang buruk dan didorong terhadap loker dan disandung di lorong...Hal-hal kecil, sebutnya.

Tetapi kemudian tibalah saat makan siang.

"Hei, bocah."

Hiro menekan erangan selagi ia menoleh untuk melihat tiga anak yang jauh lebih tinggi mengelilinginya, menjebaknya pada lokernya. Bocah berusia sebelas tahun itu melirik ke bawah lorong, tetapi tidak ada seorang pun yang terlihat. Bel baru berbunyi beebrapa menit yang lalu, jadi hampir semuanya entah di kelas atau pergi makan siang, di mana Hiro seharusnya menuju.

"Bisakah kalian tidak melakukan...apapun yang akan kalian lakukan?" Hiro bertanya, separuh kuatir dan separuh capek karena harus berhadapan dengan hal semacam ini, "Aku lapar jadi aku mau pergi sebelum antrian makan siang jadi terlalu panjang."

"Hei, kita tidak melakukan apa-apa," salah seorang dari mereka mencemooh, "Kita hanya ingin bertemu dengan Hiro Hamada yang terkenal yang dibicarakan oleh semua orang."

"Kenapa tidak ambil foto saja, itu akan bertahan lebih lama..." gumam Hiro.

Hiro segera menyesali telah mewarisi sarkasme keluarga Hamada selagi salah seorang pengganggu tersebut mendorongnya kasar ke loker, bunyinya bergema di seluruh lorong. Sungguh, bagaimana tidak ada yang mendengarnya?

"Kau pikir kau adalah jagoan hanya karena kau lebih pintar, hah?" salah seorang yang lain dari trio itu bertanya, mencengkeram Hiro melalui kaosnya.

"Aku-aku tidak pernah mengatakan apa-apa!" jawab Hiro, mencoba melonggarkan tangan pengganggu tersebut, "Ayolah, guys, aku hanya ingin pergi."

"Kenapa begitu terburu-buru?" tanya yang tertinggi di antara mereka bertiga selagi ketiganya melangak lebih dekat, "Seseorang menunggumu?"

"Ya, sebenarnya."

Bocah berusia sebelas tahun itu segera dilepaskan selagi tiga anak yang lebih tua itu berputar untuk menghadapi pemilik suara tersebut. Hiro memaksakan jalannya melalui tiga pengganggu itu, tersenyum ke arah orang yang menatap tajam mereka.

"Hiro, melangkah ke sana untuk semenit," perintah Tadashi dalam suara yang dingin, mengisyaratkan ke arah pojokan lorong.

Untuk sekali Hiro tidak membalas selagi ia kabur untuk mengikuti perintah kakaknya. Begitu ia sampai di pojokan, ia melihat Tadashi, yang menjulang tinggi tiga pengganggu tersebut, melangkah dekat ke mereka dan mulai berbicara. Ia tidak berteriak, jadi Hiro tidak tahu apa yang dikatakan, tapi ia cukup mengenal kakaknya untuk mengetahui bahwa Tadashi marah besar. Tatapan tajamnya yang menusuk dan kedua tinjunya yang terkepal adalah kenyataan yang jelas.

Setelah beberapa menit, para pengganggu itu pergi kabur. Tadashi terlihat mengambil beberapa nafas dalam sebelum berjalan ke arah Hiro, wajahnya terlihat kuatir.

"Kau tidak terluka, 'kan?"

"Nah, kau menghentikan mereka sebelum terjadi apa-apa," ujar Hiro.

Tadashi memandanginya cemas sebelum menariknya untuk pelukan satu lengan.

"Aw, ayolah, bro!" Hiro berusaha keluar dari genggaman Tadashi, "Itu memalukan!"

"Aku minta maaf ini terjadi terus," Tadashi memberitahu Hiro ketika ia akhirnya membiarkannya eprgi.

"Itu bukan salahmu," balas Hiro.

Keduanya berdiri dalam keheningan yang canggung untuk semenit sebelum Tadashi menuntun Hiro untuk mendapatkan makan siang. Pada saat berjalan ke sana Tadashi berhasil mengembalikan senyum di wajah Hiro dengan bertukar ide untuk temuan-temuan dan mengingat kembali sebagian proyek-proyek masa lalu mereka, seperti sepasang sepatu bot roket yang pernah mereka kenakan pada Mochi.

Tetapi pada saat waktu makan siang berakhir dan mereka harus berpisah lagi, Tadashi melihat ekspresi sedikit takut di wajah Hiro. Dan ketika mereka bertemu di depan sekolah saat bel pelajaran terakhir telah berbunyi, Hiro terlihat lebih lelah daripada sebelumnya.


"Aku akan mengalahkanmu kapan-kapan!"

"Tumbuhkan satu kaki lagi dan taruh sebagian daging pada tulang-tulang itu dan lalu kita akan bicara."

Kedua Hamada bersaudara, penuh keringat dan terengah-engah, berbaring di atas alas dojo di mana Tadashi adalah murid di dojo tersebut. Dojo itu sedang kosong tapi Tadashi, sebagai salah satu murid paling top dan asisten instruktur, kadang punya akses ke bangunan tersebut. Hiro tidak pernah mengambil kelas karate seperti Tadashi tapi anak lelaki itu punya cukup minat sampai-sampai Tadashi terkadang akan membawanya masuk untuk beberapa pelajaran pribadi. Hal tersebut membuat Tadashi merasa lebih baik untuk mengetahui bahwa adiknya punya sedikit kemampuan bela diri, untuk berjaga-jaga.

Setelah hari pertama sekolah yang cukup kasar yang dialami oleh Hiro, Tadashi telah membawanya kemari ke dojo tersebut untuk mencoba dan melepaskan uap. Sepertinya bekerja cukup baik. Bila ada satu hal yang dapat mengalihkan Hiro, maka hal tersebut adalah daya saing anak lelaki itu.

"Hei, Tadashi?" Hiro memulai, berguling ke perutnya, "Bagaimana kau menghadapi sekolah?"

"Yah, aku tidak keberatan," Tadashi merespon selagi ia duduk.

"Kau tidak keberatan karena orang-orang berpikiran kau keren. Itu membayangi separuh dirimu yang berotak."

"Aku juga senang datang ke sekolah, kau tahu..."

"Diucapkan seperti kutu buku sejati," Hiro menghela nafas.

"Aku bukan satu-satunya kutu buku di keluarga ini, kau anak nakal," Tadashi tertawa kecil, "...Bagaimana denganmu?"

"Lebih cepat aku menyelesaikan sekolah, lebih baik. Aku hanya ingin mendapatkan diplomaku dan meninggalkan itu semua di belakangku."

"Tidak ada rencana untuk kuliah?"

Hiro mengeluarkan tawa yang keras. Tadashi mengerutkan alis mendengar isyarat kepahitan di dalamnya.

"Lupakan!" seru bocah berusia sebelas tahun itu, "Aku sudah selesai dengan semua itu, Tadashi...Pokoknya aku...sudah."


Tadashi melirik jam tangannya selagi ia mengebutkan sepeda motornya melalui jalanan kembali ke kafe. Ia telah lupa waktu mengerjakan sebuah proyek dengan para anggota klub robotik. Sebelum ia mengetahuinya, jam sudah setengah enam...jauh lebih terlambat daripada saat ia diharapkan kembali. Setidaknya jalanan di dekat kafe kosong untuk sekali.

Selagi kafe tersebut sudah mulai terlihat, Tadashi berharap bahwa Hiro, yang telah Bibi Cass jemput saat sekolah selesai, sedang mengulur bibi mereka. Selagi pikiran itu melintasi benaknya, seorang pejalan kaki melangkah di depannya.

"Whoa!" Tadashi berteriak, membelokkan sepeda motornya keluar dari jalan.

Pejalan kaki itu, seorang pria tua, terkejut, menjatuhkan kertas-kertasnya di tanah. Tadashi berhasil menghindari pria dan kertas-kertas tersebut, tetapi belokkan yang parah itu menyebabkan buku-buku dan kertas-kertasnya terjatuh jeluar dari tasnya dan bercampur dengan milik pria tua tersebut. Tadashi berhasil menghentikan kendaraannya yang melengking ke dekat trotoar. Ia merasakan dirinya bergetar, baik dari tabrakan yang nyaris terjadi dan dari belokan mendadak yang ia lakukan, tetapi ia tidak dapat fokus pada dirinya saat itu. Ia melompat dari sepeda motornya dan melepaskan helmnya, menjatuhkannya ke tanah sebelum berlari ke arah pria tua itu, yang sedang mengangkat kertas-kertas yang telah bercampuran itu.

"Saya sangat, sangat, sangat menyesal!" Tadashi berteriak, "Apakah Anda baik-baik saja, pak?"

"Sudah, sudah, tidak ada yang rusak," ujar pria itu dalam nada yang kalem, melihat ke arah Tadashi dengan senyum, "Saya seharusnya tidak menyebrang tanpa melihat, itu salah saya."

"Pak, sayalah yang mengebut," bantah Tadashi pelan sebelum berlutut, "Sini, biarkan saya membantu mengangkat ini untuk Anda."

"Saya menghargainya," balas pria tersebut, "Sepertinya sebagian barangmu tercampur di sini, jadi mungkin akan sedikit memakan waktu."

Tadashi dan pria tua tersebut segera mengangkat dan menyortir kertas atau buku mana milik siapa. Selagi ia merasa bahwa itu adalah pelanggaran privasi, Tadashi tidak bisa tidak memperhatikan beberapa kertas pria itu memiliki informasi tentang nanoteknologi, teleportasi, dan se artikel tentang seorang pria bernama Alistair Krei. Tidak heran, menganggap banyaknya pekerjaan yang berhubungan dengan teknologi di San Fransokyo tapi...

"Wah, kau tertarik dalam robotik, anak muda?"

Tadashi melihat ke arah pria itu, yang melihat ke sebuah buku yang terbuka di atas tanah, yang segera dikenali oleh remaja berusia tujuh belas tahun itu sebagai salah satu buku catatannya.

"Yeah, saya tertarik," balas Tadashi, "Kedua orang tua saya bekerja dengan banyak robot, jadi saya sering di sekitar mereka waktu saya masih kecil. Saya rasa saya mengikuti jejak mereka."

"Seperti putriku sendiri," ada pandangan aneh di mata pria itu saat mendengarnya, tetapi pandangan tersebut segera hilang setelah Tadashi memperhatikannya, "Dan apa desain yang menarik ini?"

Tadashi berlari dan melihat bahwa buku catatan itu jatuh terbuka ke halaman salah satu proyek rahasia yang Tadashi rencanakan. Yang Hiro pernah coba intip beberapa bulan yang lalu. Bukannya Hiro tidak seharusnya mengetahui tentang proyek rahasia tersebut. Tadashi hanya ingin merahasiakannya sampai ia benar-benar punya kesempatan untuk membuatnya. Lagipula, kedua orang tuanya selalu mengatakan bahwa presentasi penemuan sangatlah penting. Dan ada juga Peraturan Hamada Bersaudara nomor 457 untuk dipertimbangkan.

"Oh itu!" Tadashi dapat merasakan senyuman di wajahnya sudah tumbuh, "Itu adalah proyek yang saya harap dapat saya kerjakan di masa depan."

"Kau tidak bisa melakukannya sekarang?" pria itu bertanya.

"Saya masih senior di SMA. Tidak bisa beli peralatan yang tepat untuk mengerjakannya. Jadi yang saya bisa lakukan sekarang adalah membuat desain-desain dan mencoba untuk memahami coding-nya. Itu akan menjadi rumit, tapi saya bertekad untuk membuatnya!"

"Begitu...Dan apa maksudnya 'Baymax'?" tanya pria itu.

"Heh, yah...Dia hanya agak mirip seperti Baymax," Tadashi tertawa canggung.

"Yah, saya pernah dengar berbagai alasan yang lebih aneh di belakang mana-nama," pria tersebut tertawa kecil, "'Sebuah pendamping kesehatan pribadi'?"

Komentar pria itu meluncurkan Tadashi bergembar-gembor penuh gairah tentang apa yang sudah ia bayangkan tentang Baymax. Ia tahu berapa banyak pasien, terutama yang muda-muda, ketakutan saat mereka pergi ke rumah sakit, seperti kegugupan Hiro kapan pun ia pergi ke rumah sakit atau menemui para dokter. Baymax dirancang untuk memiliki penampilan yang lembut, bisa dipeluk yang dapat membuat para pasien merasa tenang. Ia akan dibangun dengan berbagai macam pengetahuan medis dan prosedur-prosedurnya, dengan kekuatan yang besar dan nada yang meyakinkan.

Tadashi berharap jika Baymax berhasil bekerja, bisa ada satu ditempatkan di tiap rumah sakit, bahkan lebih bila memungkinkan. Ia berharap untuk juga mengerjakan pemrograman yang berkaitan dengan kesehatan mental dan emosional.

"Mungkin aku bisa membuatnya agar setiap keluarga dapat memiliki satu Baymax!" seru Tadashi, "Dalam keadaan darurat di rumah. Aku bisa merancang tas portabel agar ia bisa dibawa ke mana-mana. Kau tahu, seandainya...kecelakaan mobil..."

Selagi suara Tadashi melemah, ia menatap ke arah pria itu, yang mengamati remaja tersebut dengan penasaran.

"Saya bertele-tele, ya?" tanya Tadashi tidak enak.

"Rasa antusiasmu cukup menyegarkan," jawab pria itu, "Sekali lagi, itu mengingatkanku akan Abigail-ku."

Sisa dari kertas-kertas dan buku-buku diangkat dan diberikan ke pemilik masing-masing. Tadashi menyalami tangan pria tersebut dan mulai meminta maaf lagi.

"Tidak apa-apa, Tuan..." suara pria itu

"Tadashi Hamada, pak."

"Senang berkenalan dengan Anda, Tuan Hamada. Saya Robert Callaghan."

Tadashi membeku dengan syok mendengarnya, genggamannya di tangan pria tersebut mengerat.

"R-Robert Ca-Callaghan?" remaja tersebut tergagap selagi pria itu menarik keluar tangannya dari genggaman Tadashi yang erat, "Sang Robert Callaghan? Pencipta Hukum-Hukum Robotik Callaghan? Kepala profesor di Institut Teknologi San Fransokyo?"

"Ah, jadi Anda pernah mendengar tentang saya?" Callaghan terdengar terhibur, "Ya, saya adalah Callaghan itu. Dan saya harus mengatakan, dari hal yang Anda tunjukkan ke saya, Anda memiliki masa depan yang cukup cerah di depan Anda di bidang robotik, Tuan Hamada."

Tadashi hampir tidak bisa menggagapi ucapan terima kasih, terlalu syok karena akhirnya bertemu dengan idolanya.

"Well, saya harus pergi," ujar Callaghan dengan lirikan di jam tangannya, "Anda bilang Anda seorang senior SMA, 'kan? Well...saya dapat perasaan kita akan saling segera bertemu lagi."

"...Y-y-ya, pak!" Tadashi merespon.

Hanya ketika ia mendengar pintu kafe terbuka dan Bibi Cass meneriaki namanya, Hiro mengatakan ia telah mencoba sebisanya untuk mengalihkan dia, Tadashi akhirnya pergi masuk ke dalam. Dan bahkan dihukum karena terlalu terlambat tidak mengurangi suasana hati Tadashi.

Tentu saja, kehidupan Tadashi menjadi lebih baik ketika, beberapa hari kemudian, ia menerima surat dari ITSF. Sebuah undangan pribadi untuk menghadiri perguruan tinggi yang bergengsi itu, langsung dari Profesor Robert Callaghan sendiri.


Hari pertama Tadashi kuliah juga menandakan hari pertama Hiro sebagai senior di SMA. Hiro telah menyetujui untuk loncat dua kelas, tidak menginginkan apapun selain daripada cepat-cepat menyelesaikan sekolah.

Begitu sekolah bubar, ia bisa mencurahkan seluruh waktunya kepada robot-robotnya.

Megabot adalah robot favorit pribadi bocah berusia dua belas tahun itu, proyek yang telah ia kerjakan terus-menerus untuk tiga tahun terakhir. Hiro biasanya tidak memakan waktu lama untuk membangun sebuah robot, tetapi ia ingin memastikan Megabot siap untuk beraksi.

Lagipula, ia telah tertarik pada pertempuran robot yang telah banyak ia dengar.

Terkadang, ketika Hiro memiliki terlalu banyak waktu luang dan sedang bosan, ia akan berkeliaran di sekitar lingkungan. Beberapa kali, ia melihat sebagian anak-anak yang lebih tua menandingi robot-robot mereka di jalanan. Hiro, meski ia memiliki sejarah yang buruk dengan perkelahian, sebenarnya benar-benar tertarik dengan pertarungan dan aksi. Ialah yang akan mengambil semua film-film blockbuster action dan film-film horor dari rak-rak saat movie night.

Segera, Hiro memutuskan untuk mengambil prototipenya Megabot dan mengujinya melawan robot anak-anak yang lain. Tentu saja, tidak ada yang menanggapinya dengan serius, karena ia terlihat tiga atau empat tahun lebih muda. Tetapi mereka semua menatap dengan mata lebar, rahang mereka turun, ketika megabotnya yang kecil, sederhana dengan cepat mengalahkan robot-robot mereka.

Tentu saja, pertempuran seperti itu membosankan. Anak-anak yang lain tidak pernah membuat apapun yang benar-benar menantang untuk Hiro hadapi.

Dan saat itulah ia mendengar tentang pertempuran robot rahasia, yang berbayarkan uang. Yang seratus persen ilegal, karena faktor pertaruhannya dan yang telah Tadashi peringati berkali-kali.

Tapi Hiro jelas-jelas bisa menggunakan uang itu untuk membangun robot-robot yang lebih besar dan lebih baik. Dan sensasinya...ia tidak mungkin menolaknya.

Beberapa pertempuran pertama tidak berjalan lancar, sebagian karena ia tidak terbiasa dengan lompatan dalam tingkat kemampuan robot-robot yang digunakan para orang dewasa untuk bertempur tetapi karena ia terus dilempar keluar kerena terlihat terlalu muda. Tetapi begitu ia mulai menyelinap dan dapat menguasainya, ia mulai menghasilkan banyak uang.


"Apa yang kau pikirkan?!"

Hiro menggerutu di bawah nafasnya selagi ia duduk di kursi komputernya, Tadashi yang sepenuhnya marah besar berdiri di depannya.

Sejujurnya, itu adalah kecelakaan. Ia telah berhasil menghindari ketahuan selama berbulan-bulan. Tetapi satu kali saat Tadashi pulang lebih awal dari kuliah adalah saat ketika Hiro menyelinap kembali ke kamar tidur mereka. Perlu banyak pengungkitan tetapi akhirnya Hiro mengakui apa yang telah ia lakukan...dan Tadashi meledak.

"Kau bisa terluka!" kakaknya berteriak. Untungnya saat itu sedang sibuk di kafe atau Bibi Cass mungkin sudah pergi naik ke atas dalam sekejap, "Kau bisa ditangkap! Atau bahkan lebih buruk lagi!"

"Aku telah melakukan ini untuk berbulan-bulan, Tadashi," bantah Hiro, "Aku selalu lolos dengan baik sebelumnya."

"Yeah, tapi keberuntunganmu itu tidak akan bertahan selamanya, Hiro! Kau tidak akan melakukan ini lagi!"

"Sulit dipercaya," Hiro mencibir, "Kau akan menghentikanku dari melakukan sesuatu yang aku pandai."

"Kau pandai dalam banyak hal, Hiro!" nada Tadashi terdengar memohon sekarang, "Hal-hal yang tidak ilegal. Kau bisa melakukan jauh lebih baik daripada ini! Ambil kuliahku, sebagai contoh-"

"Aku tidak mau dengar tentang kuliah tololmu lagi!" Hiro berteriak selagi ia berdiri, mendorong Tadashi pergi, "Aku tidak peduli! Aku tidak pergi kuliah, oke?"

"Kalau kau tidak pergi kuliah maka tolong pikirkanlah sesuatu yang lebih baik untuk dilakukan daripada bot fighting!"

"Bagaimana kalau kau tinggalkan aku sendiri dan biarkan aku melakukan apa yang aku mau? Aku umur tiga belas sekarang! Itu hidupku!"

"Hidup yang kau sia-siakan! Aku sumpah, Hiro, kadang-kadang kau sangat-"

"Apa?" Hiro bertanya, menatap tajam kakaknya, "Ayo, beri tahu aku."

Tadashi, yang telah melemparkan topinya selama argumen tadi, menggeram selagi ia mengusap rambutnya.

"Kau tidak akan pergi ke pertempuran-pertempuran itu lagi, akhir dari diskusi," ia menyatakan tegas.

"Kau bukan bosku," Hiro menimpal.

"Oh, balasan yang bagus," Tadashi balas menimpali.

"...Aku akan tetap pergi, entah kau menyukainya atau tidak," ujar Hiro.

"Aku melarangmu untuk-"

"Berhenti, sudah! Berhenti bertingkah seolah-olah kau adalah orang tua! Kau bukan Ibu dan Ayah!"

Keheningan yang mengikuti memukul Hiro cukup keras. Ia melihat ekspresi syok di wajah Tadashi, diikuti oleh ekspresi terluka.

Ia seharusnya tidak mengatakan itu. Kenapa ia malah mengatakannya?

"T-Tadashi..." Hiro tergagap, mengulurkan tangan.

Tadashi mengabaikan tangan Hiro, pergi menuju ke arah pintu.

"...Aku akan membantu Bibi Cass," ujarnya lirih, "Kau tinggalah di sini dulu."

Hiro menatap ke arah pintu cukup lama setelah Tadashi pergi.


Ia tahu...Tadashi sangat tahu ia tidak seperti kedua orang tuanya. Dan ia tidak berhak menjadi seperti mereka.

Tetapi membayangkan Hiro terluka atau...atau...Ia bahkan tidak mau memikirkannya.

Ia tidak memenuhi janji yang telah ia buat. Hiro tidak mengetahuinya, tetapi Tadashi masih menyesali apa yang telah ia lakukan di hari kedua orang tuanya meninggal. Dan itu semua kaena kekanak-kanakannya hari itu ia bersumpah ia akan menjadi kakak lelaki yang baik untuk Hiro. Mungkin dengan begitu kedua orang tuanya akan memaafkannya...

Tetapi sepertinya ia sangat gagal...


Makan malam menjadi acara yang dipenuhi ketegangan, dengan kedua saudara lelaki itu tidak berbicara satu sama lain. Bibi Cass tetap mencoba memulai percakapan dengan kedua keponakannya, tetapi mereka tidak memiliki banyak hal untuk dikatakan. Terkadang mereka akan saling melihat untuk beberapa detik, sebelum cepat-cepat mengembalikan pandangan mereka ke makanan masing-masing.

Beberapa jam kemudian, Hiro pergi tidur, tetapi ia hanya berpura-pura tidur. Beberapa saat kemudian, Tadashi masuk dan, setelah beberapa menit, mematikan lampu sebelum pergi ke ranjangnya sendiri. Hiro menunggu untuk beberapa menit sebelum ia menemukan kekuatan untuk berbicara.

"Tadashi?"

Hening.

"...Aku tahu kau belum tertidur."

Lebih hening. Hiro keluar dari ranjangnya dan berjalan di lantai yang dingin ke ranjang Tadashi. Tadashi berada di sisinya, menghadap jauh dari Hiro. Bocah berusia tiga belas tahun itu merangkak ke atas ranjang, duduk dengan posisi bersila.

"Tadashi?" ia memanggil sekali lagi, meletakkan tangan di bahu Tadashi. Ia merasakan kakaknya berkedut di bawah tangannya, "...Aku benar-benar minta maaf...Aku tidak bermaksud begitu."

Tadashi tidak menjawab. Hiro menelan ludah, bertanya-tanya seberapa marahnya kakak lelakinya itu tentang kata-kata tololnya.

"Aku bahkan tidak mengingat Ibu dan Ayah," Hiro melanjutkan, menunggu respon, "Bagaimana aku bisa tahu kalau kau seperti mereka atau tidak? ...Tapi aku pikir kau melakukan pekerjaan yang baik menjadi kakak lelaki. Kau kuatir tentang aku, kau membantuku, kita nongkrong bareng. Aku sudah lihat kakak lelaki orang lain menjadi orang brengsek bagi mereka. Aku benar-benar beruntung memilikimu sebagai kakak, Tadashi."

Hiro sejenak terkejut ketika Tadashi tiba-tiba duduk, berbalik menghadapnya dengan cengiran lelah di wajahnya.

"...Mencoba untuk menyenangiku, bonehead?" tanyanya main-main, "Apakah ini berarti kau akan menjauh dari pertempuran robot?"

"...Ya," Hiro tidak melihat ke arah Tadashi saat ia menjawabnya.

"Pembohong," kakaknya tertawa kecil.

Setelah sesaat, Tadashi melingkarkan lengannya di sekeliling leher Hiro dan menarik dirinya dekat untuk memberikannya sebuah noogie. Hiro tertawa dan memukul-mukul lengannya mencoba untuk menghentikan Tadashi, yang akhirnya berhenti.

"...Terima kasih, Hiro...Itu...Benar-benar sangat berarti untukku. Kau tidak tahu."

"Hei, jangan jadi sentimen di depanku..."


"Sulit dipercaya!"

Para anggota yang lain di lab ITSF melompat mendengar teriakan Tadashi yang tiba-tiba. Pemuda yang kini berusia dua puluh tahun itu menatap tajam ke arah sebuah peralatan di tangannya, sebuah pelacak.

Setelah menangkap Hiro hari itu setahun yang lalu, telah menjadi argumen konstan di antara keduanya, meski tidak ada yang seburuk yang pertama itu sejujurnya. Hiro biasanya memang kembali dari pertempuran-pertempuran robot itu dengan selamat, tapi Tadashi yakin bahwa keberuntungan bocah berusia empat belas tahun itu akan segera berakhir.

Dan berakhirlah keberuntungan tersebut. Terkadang Hiro akan kembali dengan beberapa goresan dan memar yang ia coba sembunyikan. Saat ia kembali dengan mata bengkak itulah Tadashi merasa sudah cukup. Ia tidak bisa menghentikan Hiro dari pergi ke pertempuran-pertempuran robot tersebut tanpa membuat adiknya menjadi tahanan di rumah sendiri.

Jadi ia melakukan hal terbaik berikutnya...Memastikan adiknya kembali dengan selamat.

Agak berlebihan, tetapi ia sejujurnya tidak punya pilihan lain. Tadashi menjahitkan pelacak-pelacak GPS mungil di seluruh hoodie dan kaos Hiro. Ia juga memastikan untuk menyiapkan telinga untuk mendengar kabar berbagai pertempuran robot yang sedang terjadi. Begitu ia melihat Hiro menuju keluar ke bagian San Fransokyo yang lebih gelap di alat pelacaknya, ia akan segera berada di luar sana, biasanya membawa Hiro pergi tepat waktu.

"Aku baru saja menyeretnya keluar dari pertempuran robot kemarin dan dia pergi ke yang lainnya!" Tadashi berteriak, melirik tajam alat pelacak tersebut.

Para anggota yang lain di lab, Gogo Tomago, Honey Lemon, Wasabi, dan Fred, semuanya berbagi pandangan mengerti selagi Tadashi bergembar-gembor tentang adiknya sementara ia mengemasi barang-barangnya untuk pergi dan menjemput bocah itu.

Keempatnya telah menjadi sahabat Tadashi sejak tahun pertamanya di ITSF. Fred telah menjadi yang pertama ia temui, dalam cara yang cukup menyakitkan. Fred, di dalam kostum maskotnya, dengan parahnya telah mengagetkan Tadashi yang sudah gugup, menyebabkan Tadashi bereaksi dengan tendangan. Fred berakhir mengambilnya cukup baik dan ia memperkenalkan Tadashi ke Gogo, Wasabi, dan Honey, menjelaskan cerita di balik julukan-julukan yang menarik itu sepanjang jalan. Kelimanya segera menjadi sahabat. Dan yang empat lainnya segera menjadi korban gembar-gembor Tadashi tentang adik lelakinya.

"Man, aku agak lega aku anak tunggal," Fred tertawa, "Aku bakal capek mengejar adikku kalau ia tetap melakukan ini."

"Kau yakin adikmu itu tahu berapa banyak masalah yang bisa ia kena jika ia tertangkap?" Wasabi bertanya, membersihkan peralatannya dan menempatkannya di tempat yang tepat di atas mejanya, "Penjara remaja tidak terdengar seperti tempat yang menyenangkan untuk didatangi."

"Dia tidak mendengarkan!" Tadashi membalas, memasukkan catatan terakhirnya ke dalam tas sebelum memakainya dan berbaris menuju pintu.

"Hiro itu semacam pemberontak," Gogo tertawa kecil, "Aku mau ketemu dia."

"Jangan mendorong tingkah laku ini, Gogo," Tadashi menggeram.

"Tapi dia benar, Tadashi!" seru Honey, rambutnya melompat-lompat selagi ia melompat di tempat dari kegembiraan, "Kita belum pernah ketemu Hiro kecil! Dia pasti begitu manis!"

Tadashi berhenti di ambang pintu.

...Hiro tidak pernah ketemu teman-temannya...Tadashi biasanya sibuk di ITSF, terutama sejak Baymax mulai bekerja dengan tepat. Hiro biasanya keluar dan akan melakukan sesuatu atau yang lainnya, dan ia tidak tertarik untuk pergi dekat "sekolah kutu buku" Tadashi.

Tapi jika Hiro sebenarnya bisa melihat ITSF...Dan melihat bagaimana semuanya bekerja di sini...

"Aku rasa aku dapat ide..." bisik Tadashi.