Original author: WillowBlueJay17

Translator: BrokenWings2602

DISCLAIMER: Big Hero 6 (c) Disney & Marvel


Sudah sebuah keajaiban bahwa Tadashi berhasil menyelip tepat ke dalam gang sebelum Hiro dipukuli oleh para pria yang ukurannya dua kali dari dirinya. Sementara bagian dirinya ingin Yama dan gengnya tahu persis bagaimana ia merasa tentang sekelompok pria dewasa mencoba memukul bocah berumur empat belas tahun, terutama adik lelakinya, Tadashi tahu ia punya hal-hal yang lebih baik dikuatirkan.

Mencari rute kabur salah satunya.

Selagi sepeda motor itu berputar dan berbalik dan berbelok dan melengking, Tadashi memastikan untuk meneriaki ceramahnya ke Hiro. Ia mencapai kembali dan menambahkan beberapa jitakan untuk memastikan Hiro benar-benar mengerti. Hei, bocah itu mengatakan ia tidak terluka jadi bukannya Tadashi seolah-olah menambahkan rasa sakitnya.

Hal tersebut menganggunya bahwa Hiro tampak begitu tenang akan seluruh masalah tersebut. Ketika sepeda motor itu pergi terbang dari lereng, Tadashi melirik kembali untuk melihat Hiro nyengir ke arah bayangannya di jendela. Sungguh, apakah Hiro tidak mengerti masalah yang ia kena? Bahwa mereka berdua akan kena masalah jika Yama berhasil menyusul mereka?

Tentu saja, Yama bukanlah kekuatiran mereka yang utama. Percayakan keberuntungan Hiro untuk mendapatkan mereka berdua langsung ke jalan yang dipenuhi oleh sekelompok petugas polisi...sementara Hiro memegang sebundel uang.

Setidaknya orang-orang yang lain dari pertempuran robot telah ditangkap dan diangkut ke stasiun juga. Tadashi dan Hiro beruntung dan mendapatkan mobil patroli seluruhnya untuk mereka berdua, jika kau bisa menganggap itu beruntung.

Dan di situlah kedua saudara lelaki itu berada, duduk di kursi belakang mobil polisi dalam perjalanan mereka menuju sel-sel tahanan. Hiro tetap melihat ke arah Tadashi dengan senyum malu-malu tetapi pemuda berusia dua puluh tahun itu tetap menatap tajam adiknya. Bagian dirinya berharap petugas itu tidak ada di sana agar ia bisa menjitak kepala Hiro beberapa kali. Untuk seorang anak dengan otak yang besar, adik lelakinya bisa menjadi seorang yang tolol.

"Bot fighting, hah?" tanya petugas itu, senyuman agak terhibur di wajahnya, "Si orang besar, aku mengerti. Tapi bagaimana denganmu, cebol? Berapa umurmu, sepuluh? Sebelas?"

"Aku empat belas," gumam Hiro.

"Tentu."

Hiro menggerutu di bawah nafasnya, menyebabkan seringaian singkat muncul di wajah Tadashi. Adiknya selalu jengkel karena begitu pendek untuk usianya.

Tadashi melihat mata petugas itu tercermin di kaca spion, melirik antara dia dan Hiro.

"Kalian berdua berhubungan?" tanya petugas itu.

"Dia adik saya," Tadashi menyatakan, memberikan Hiro pandangan yang menyebabkan anak lelaki yang lebih muda itu menunduk ke bawah.

"Semacam kakak kau rupanya, menyeret adik kecilmu ke pertempuran robot bawah tanah," petugas itu menggeram.

"Hei, saya tidak ada peran dalam hal ini!" bantah Tadashi.

"Ia benar-benar tidak ada hubungannya dengan hal ini, pak petugas," Hiro mulai berbicara, "Sayalah yang melakukan bot fighting, dia hanya-"

"Tidak apa-apa, nak, tidak perlu membela kakakmu," petugas itu menginterupsi Hiro pelan sebelum bertanya dengan kasar ke Tadashi, "Baiklah, anak topi, berapa umurmu?"

"Dua puluh," Tadashi merespon, menyesuaikan topinya dengan sadar.

"Yah, kalau begitu kau akan bergabung dengan semua teman-teman bot fighting-mu di sel khusus!"


"Tadashi?"

Hening.

"Hei, Tadashi?"

Lebih hening.

"Hei, ayolah, aku minta maaf."

Tadashi tidak sedikit pun merespon ke Hiro. Ia hanya terus menatap tajam adiknya, yang sebagai seorang minor, memiliki sel besar untuk dirinya sendiri, sementara ia harus bergabung dengan para bot fighter dewasa di dalam sel yang sangat sempit yang berlawanan arah dengan sel Hiro. Tadashi tertekan pada bar-bar sel, yang ia genggam dengan erat. Ia mengabaikan ketidaknyamanan kedekatan teman-teman satu selnya dengan menatap tajam Hiro.

Ketika mereka sampai di stasiun, butuh banyak berdebat tetapi akhirnya Tadashi berhasil meyakinkan para petugas bahwa ia tidak melakukan bot fighting. Ia juga sedikit berbohong, meski ia merasa bersalah akan hal itu, dan berhasil mengeluarkan Hiro dari masalah, menyatakan bahwa adiknya hanya berada di tempat yang salah pada waktu yang salah pula. Hiro berhasil menambahkan ekspresi kekanak-kanakan yang inosen untuk benar-benar meyakinkan kebohongan itu. Dan bukannya para petugas akan mempercayai apa yang dikatakan oleh para bot fighter yang lainnya, yang kebanyakan adalah para pelanggar berulang.

Tetapi kedua cowok itu masih harus tinggal di dalam sel sampai Bibi Cass datang menjemput mereka. Mengapa Tadashi tidak bisa mengambil sepeda motornya saja, yang telah disita, dan pergi, ia tidak tahu...

"Ayolah, Tadashi, berbicaralah kepadaku," Hiro memohon dari mana ia duduk di selnya, menendang kedua lututnya.

Tadashi hanya menghembuskan nafas sebagai respon.

"Kau tidak bisa mengabaikanku selamanya. Kita hidup bersama, jadi kau harus berbicara padaku pada akhirnya!"

Tadashi tetap mendiamkan.

"Ayolah, Tadashi!" seru Hiro, bangun dan berdiri di dekat bar-bar selnya, "Aku benar-benar minta maaf!"

"Aku tidak berbicara kepadamu," Tadashi akhirnya merespon dalam nada yang ketat.

"Hei, ayolah, kawan, berikan bocah itu kesempatan!" seseorang di suatu tempat di belakang sel Tadashi berteriak.

"Yeah, anak malang itu sudah meminta maaf berkali-kali!" suara lain dari persis di belakangnya menambahkan.

"Aku tidak berbicara ke kalian juga!" teriak Tadashi.

"Hei, diam di sana!" seorang petugas berteriak dari lorong.


Orang akan berpikir setelah perjalanan pulang yang canggung dan gembar-gembor/ceramah yang Bibi Cass berikan Hiro akan tahu lebih baik. Tapi nggak, Tadashi melihat bahwa bocah itu siap untuk menghadiri pertempuran robot yang lainnya.

Jadi Tadashi akhirnya mengatur rencana kecilnya bergerak. Ia berhasil meyakinkan Hiro bahwa ia akan mengantarnya ke pertempuran robot itu. Tidak terlalu susah, menganggap bahwa ia telah melakukan bagiannya yang adil selama bertahun-tahun untuk membuat Hiro memakan sayurannya, melakukan PR-nya, dan seterusnya. Maka mereka duduk di atas sepeda motornya, untungnya dikembalikan kepadanya oleh polisi dalam kondisi bagus.

Hiro telah mengoceh tentang pertempuran robot untuk beberapa menit pertama dalam perjalanan itu. Tadashi harus mengakui, kedengarannya memang cukup menarik. Bagaikan laron-laron yang mengerubungi cahaya lampu, dan hal-hal yang lainnya...Tetapi ia tidak dapat memiliki adiknya menyia-nyiakan seluruh potensinya ke pertempuran-pertempuran itu lagi. Ia tidak dapat memiliki Hiro terus-terusan membuat dirinya dalam bahaya.

Ia tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya jika ia tidak mengakhiri kesembronoan ini.

Setelah beberapa putaran dan belokan, Hiro masih tidak menyadari bahwa mereka sedang menuju jauh dari pertempuran tersebut. Tadashi merasakan lengan adiknya mengerat di sekelilingnya selagi Hiro menekan dirinya pada punggungnya.

"Tadashi?" suara Hiro datang diam-diam, "...Sungguh, aku minta maaf...Aku tidak bermaksud membuatmu kena masalah."

"...Tidak apa-apa," balas Tadashi, "Bukannya aku tidak mengharapkan sesuatu seperti itu terjadi nantinya."

Kalau kau tidak mengeluarkan kita dari masalah..." Hiro memulai dengan gelisah, "...Apakah kau akan membenciku?"

Tadashi tersentak mendengar pertanyaan yang tidak diduga itu. Sudah lama sejak ia mendengar Hiro terdengar sangat menderita.

"Hiro Hamada, kau dengarkan aku," ia menyatakan tegas. Ia harus memastikan Hiro mengerti, "Kita banyak bertengkar. Kita sering marah satu sama lain berkali-kali. Kita tidak selalu melihat dari mata ke mata. Tapi kau adalah adik kecilku. Dan aku akan selalu menyayangimu."

"Ugh," Hiro mengerang, "Jangan jadi sentimen di depanku!"

Tadashi tersenyum mendengar kelegaan tersembunyi di suara Hiro.

"Hei, sedikit sentimen itu bagus sekali-kali!" Tadashi menimpal, "Baiklah, aku sudah mengatakannya, sekarang giliranmu!"

"Jijik, aku tidak mengatakannya! Aku punya gengsi!"

"Hei, ayolah, kau terbiasa mengatakannya waktu kau lebih muda!"

"Diam! Aku tidak mengatakannya!"

"Kau tahu kau mau."

"Aku tidak-Tunggu, kita mau ke mana?"


Rencana Tadashi untuk membawa Hiro ke ITSF telah bekerja seperti mimpi. Gogo, Wasabi, Honey, dan Fred telah berhasil mempesona Hiro dengan kepribadian mereka dan penemuan mereka. Atau keanehan yang memesona dalam kasus Fred. Tadashi tidak dapat menahan senyumannya selagi Hiro berjalan mengelilingi temuan-temuan tersebut, hampir-hampir linglung. Ia tahu bocah berusia empat belas tahun itu bermimpi untuk membuat hal-hal besar, tetapi tidak pernah memiliki peralatan atau uang untuk melakukannya. Bot fighting adalah cara Hiro menabung untuk semua itu.

Tetapi di sini adalah segerombolan murid yang memiliki akses untuk apa yang mereka butuhkan. Yang menggunakan kecerdasan mereka untuk pergi melampaui batas robotik biasa. Dan, lebih dari apapun, Tadashi ingin adiknya menjadi salah satu murid itu.

Hiro telah merespon ke Baymax dengan cukup baik. Tadashi cukup bangga untuk akhirnya memamerkan proyek yang telah ia rencanakan dan kerjakan selama bertahun-tahun. Susah merahasiakan Baymax begitu lama, terutama di hari-hari di mana malfungsi Baymax sangat buruk. Tadashi masih tidak dapat percaya ia berhasil menghindari pertanyaan-pertanyaan tentang saat ia pulang dengan mata bengkak.

Sudah luar biasa untuk melihat ketertarikan Hiro dalam Baymax. Hiro tidak mengetahuinya, tetapi bocah berusia empat belas tahun itulah yang telah menginspirasi penciptaan Baymax. Rasa takut Hiro yang dalam terhadap rumah sakit menyebabkan Tadashi berpikir tentang seluruh orang di dunia yang takut dokter dan rumah sakit dan semacamnya. Bagaimana jika orang-orang itu memiliki pendamping yang lembut di sana dengan mereka? Satu yang dapat melakukan ribuan prosedur medis sementara masih menyediakan pasien dengan rasa nyaman?

Tentu saja, Tadashi masih belum memrogramkan fungsi mengenai kesehatan mental dan emosional, tetapi ia mengerjakannya terus-menerus.

Beruntung pula saat itu Profesor Callaghan seedang mampir, memperbolehkan Hiro untuk bertemu dengan idola mereka bersama. Tadashi menahan tawa melihat bagaimana Hiro bereaksi ke Callaghan mirip dengan dirinya sendiri beberapa tahun sebelumnya.

Seluruh potongan telah jatuh pada tempat. Hiro akhirnya menghadiri ITSF. Kekuatiran Tadashi akhirnya dapat diselesaikan dan berakhir.


"Kau bisa membuatku terlempar, kau tahu? Menggantungku dengan lutut seperti itu."

"Itu berhasil membuat otakmu itu bekerja, 'kan?" Tadashi menimpal, menyengir selagi ia melihat adiknya menggambar dan menulis di atas kertas demi kertas, "Jadi... mikrobot, hah?"

"Yeah!" seru Hiro, tidak mengangkat matanya dari kerjaannya, "Ribuan dan ribuan mereka. Mereka kecil dan mereka tidak akan melakukan banyak ketika mereka sendirian. Tapi bersama? Mereka bisa melakukan sangat banyak!"

"Seperti?"

Mendengar itu, Hiro terlihat berhenti. Tadashi pergi ke arahnya dan melihat sebuah ekspresi kebingungan di wajah adiknya.

"Ayolah, Hiro, jangan bilang ke aku kau tidak berpikiran sejauh itu," Tadashi tertawa kecil, "Sebuah temuan tidak berarti apa-apa tanpa tujuan. Baymax hanya akan menjadi marshmallow raksasa yang berjalan dan berbicara jika tujuanya bukan menjadi pendamping kesehatan."

Hiro menyilangkan kedua lengannya dan memakai ekspresi berpikirnya yang biasa.

"Yah..." bocah berusia empat belas tahun itu memulai dengan pelan, "Aku rasa...apapun yang kau bayangkan."

Tadashi sedikit kebingungan sebelum Hiro melompat dan mulai mondar-mandir di sekeliling ruangan.

"Yeah..." Hiro mengangguk, "Kau memikirkannya, kau bisa melakukannya! Seperti...seperti transportasi! A-atau mungkin konstruksi! Mengangkat benda-benda berat...Kemungkinannya hanya terbatas pada imajinasimu!"

Selagi Hiro mengoceh dan terus mengoceh, Tadashi mengambil tempat duduk di kursi Hiro, menatap adiknya penuh sayang. Sudah lama sekali sejak ia melihat Hiro sangat gembira, dipenuhi dengan banyak gairah.

"Jadi..." Tadashi memotong pidato Hiro dengan lembut, "Kau mau membantu dunia."

"...Itu adalah apa yang bisa dilakukan mikrobot ini," balas Hiro, "Kaulah yang benar-benar ingin membantu dunia."

"Ibu dan Ayah juga ingin membantu dunia," Tadashi merespon, "Kurasa itu adalah hal Hamada."

Hiro memiliki tatapan yang aneh di wajahnya mendengar itu. Ia mengambil beberapa langkah lebih dekat.

"Tadashi? ...Bisakah kau beri tahu aku beberapa cerita tentang mereka? Ibu dan Ayah?"

Untuk mengatakan Tadashi terkejut oleh itu adalah meremehkan. Kembali saat Hiro masih berusia tiga tahun, setelah kecelakaan itu, anak lelaki tersebut akan bertanya untuk kedua orang tuanya setiap saat. Setelah beberapa saat, pertanyaan-pertanyaan itu mulai berkurang sebelum akhirnya benar-benar berhenti. Hiro tidak terlihat begitu peduli seperti apa orang tua mereka, bahkan saat ia sudah tidak bisa mengingat mereka lagi. Tadashi kuatir bahwa Hiro telah memutuskan untuk melupakan kedua orang tua mereka.

"Kau pikir mereka akan senang tentang ini?" tanya Hiro gugup.

Tadashi berdiri dan berjalan ke arah Hiro. Ia mengacak-acak rambut adiknya pelan, cengiran terdapat di wajahnya.

"Aku rasa mereka akan cukup bangga kepadamu," Tadashi memberitahunya tulus, "Kau mungkin adalah seorang bonehead, tapi kau telah tumbuh menjadi anak yang baik, Hiro."

"Kau juga tidak seburuk itu," Hiro dengan pelan mendorong tangan Tadashi, "Ketika kau tidak mengomeliku, kau cukup keren untuk seorang kutu buku. Ibu dan Ayah mungkin akan bangga kepadamu juga."

...Ia berharap begitu. Tadashi benar-benar berharap begitu.

"Yah, kalau kau mau mendengar tentang mereka, lebih baik ambil tempat duduk. Aku punya kumpulan cerita yang bagus untuk dikisahkan."


"Adik Anda itu bekerja keras, Mr. Hamada?"

Tadashi menoleh dari komputernya, di mana ia masih mengerjakan program kesehatan mental untuk Baymax. Profesor Callaghan berada di pintu.

"Yeah, Hiro benar-benar gembira untuk pameran itu, Profesor," jawab Tadashi, "Pertama kalinya dalam sementara saya pernah melihatnya tertarik dalam sesuatu yang berhubungan dengan sekolah."

"Abigail-ku sangat mirip," Callaghan menyatakan, sebuah ekspresi sayu terdapat di wajahnya, "Menyukai bot fighting. Perlu sedikit dorongan sebelum ia menjadi tertarik pergi kuliah."

Tadashi tahu lebih baik daripada mengatakan apapun tentang itu. Sementara ia tidak tahu cerita sepenuhnya, ia tahu bahwa Profesor Callaghan telah kehilangan anak satu-satunya, Abigail, dalam kecelakaan beberapa tahun sebelumnya. Dari sebutan-sebutan yang dibuat oleh profesor itu tentang putrinya, ia mengingatkan Tadashi akan Hiro.

"Saya harus berterima kasih lagi kepada Anda, Profesor Callaghan," ujar Tadashi, "Kata-kata Anda memberikan Hiro dorongan ekstra yang dia butuhkan untuk memutuskan untuk datang ke sini."

"Well, saya yakin Hiro muda akan menjadi tambahan yang baik untuk sekolah ini," ujar Callaghan dengan anggukan, "Seorang anak lelaki dengan pikiran seperti itu bisa mengubah dunia."

"Yeah, saya tahu dia bisa."


Tadashi harus menahan diri dari mengambil telpon genggamnya dan mengambil beberapa gambar dari pemandangan di depannya.

Hiro tertidur pulas di atas beberapa tempat sampah yang penuh oleh mikrobot-mikrobotnya. Tadashi tidak menyalahkannya, mengetahui bocah itu telah begadang selama beberapa hari untuk menyelesaikan proyek itu tepat waktu untuk pameran itu. Tetapi bukannya ia seolah-olah melakukannya sendirian. Bagaimanapun juga Tadashi, Gogo, Honey, Wasabi, dan Fred semuanya membantu, meski Hiro bersikeras bahwa kebanyakan kerjaan itu diserahkan ke dia.

"Honey, aku rasa Hiro tidak akan menghargai itu," Tadashi memperingati.

Honey telah memekik saat melihat Hiro dan segera pergi ke arahnya untuk mengambil beberapa foto.

"Oh, tapi lihat dia!" bisik Honey, "Dia sangat berharga! Aku akan mengirimkanmu salinan foto-foto itu!"

"Yah, kalau begitu..."

Gogo masuk merodai tempat sampah yang lain dan melihat ke arah Hiro.

"Bocah itu benar-benar mungil, ya?" ia bertanya, meletuskan permen karetnya, "Tidak percaya dia akan menjadi murid."

"Akhirnya!" adalah semua yang dapat Tadashi katakan sebagai balasan untuk itu.

"Man, waktu kau bilang Hiro pintar, aku tidak menyangka dia akan sepintar ini, Tadashi!" Wasabi menyatakan, "Empat belas tahun dan dia bisa menyaingi para profesor."

"Bicara tentang Hiro," Fred menyatakan, "Ceritakan lebih lanjut tentang Hiro ke kita, Tadashi. Bocah itu masih terlalu pemalu untuk benar-benar berbicara kepada kita."

"Apa yang bisa kukatakan?" tanya Tadashi, "Dia menyukai robot-robotan, film action dan horor, permen gummy. Oh, jika kalian berencana untuk mengajaknya ke mana saja yang menjual sayap, kalian lebih baik memiliki banyak uang kas."

"Jadi, apa dia tipe adik lelaki yang lekat?" tanya Gogo berikutnya, seringaian terdapat di wajahnya.

"...Belum seperti itu selama bertahun-tahun." Tadashi menghela nafas.

Ia dan Hiro benar-benar selalu bersama ketika mereka masih kecil. Tentu saja mereka masih cukup dekat, jauh lebih dekat daripada kebanyakan saudara-saudara lelaki umumnya selagi mereka bertambah tua. Tetapi Tadashi telah waspada akan adanya semacam dinding di antara mereka sejak ia pergi ke ITSF dan Hiro melakukan bot fighting-nya.

Tapi mungkin pergi kuliah bersama akan menghapus dinding itu di antara mereka...

"Hei, Tadashi," ujar Fred, "Kita tahu kau menyayangi adikmu tapi pernah nggak kau merasa iri sama dia? Sungguh, otak bocah ini ada di tingkatan yang lain, bahkan dibandingkan dengan otakmu."

"Fred!" Gogo, Wasabi, dan Honey ketiganya mendesis.

"Tidak guys, dia benar," Tadashi bersandar pada meja terdekat, "Sejujurnya, aku selalu merasa sedikit iri akan Hiro sejak kita anak-anak. Terutama ketika kami belajar bagaimana pintarnya dia. Separuh dari hal-hal yang dia bisa pikirkan, aku tidak bisa mengikuti. Cukup sebuah pukulan memiliki adik yang lebih muda enam tahun lebih pintar darimu."

Ia tertawa kecil kepada dirinya sendiri selagi ingatan-ingatan membanjiri benaknya.

"Aku ingat bersaing dengan dia berkali-kali. Bukannya Hiro penah tahu aku mencoba menyainginya, itu semua hanya di dalam kepalaku. Ketika Hiro menyelesaikan satu peralatan robotik dalam sehari, aku mencoba mencoba menyelesaikan dua. Ketika dia menghafal isi-isi buku dalam seminggu, aku mencoba melakukan hal yang sama dalam sehari. Tentu saja, yang itu tidak berjalan begitu baik."

Tadashi melirik ke Hiro yang masih tertidur dengan penuh sayang.

"Susah untuk tidak iri dengan adik sepert dia...Tapi lebih susah lagi untuk tidak bangga dengan orang semacam dia."

Snap!

"Honey, berhentilah mengambil foto ini..."


"Kau tidak pernah memberitahuku..."

Malam pameran besar itu akhirnya tiba. Tadashi, yang telah meluruskan pakaiannya, melirik Hiro, yang tidak berhasil mencoba untuk meratakan rambutnya yang selalu berantakan.

"Apa maksudmu?" tanya Tadashi dalam menanggapi pernyataan Hiro yang ganjil.

Hiro berbalik menghadapnya, kerutan terdapat di wajahnya dan hidungnya meringkuk.

"Kau tidak pernah memberitahuku kalau kau iri padaku," jelas Hiro.

"Apa yang kau...?" Tadashi mulai bertanya sebelum menyadari, "Tunggu...Hari itu satu minggu yang lalu...Kau terbangun?"

"Aku mau memberitahu Honey kalau dia mau ambil foto dia harus mematikan flash-nya," Hiro merespon, "Tapi kemudian kalian mulai berbicara. Aku pikir kalau kau tahu aku terbangun kau akan berhenti."

"Hiro, kau tahu aku-"

"Aku tahu apa yang akan kau katakan," Hiro memotong, "Tapi kau masih bisa memberitahuku, kau tahu."

"Dengar, aku sedikit iri saat itu," ujar Tadashi, "Aku masih sedikit iri sekarang. Tapi, seperti yang aku katakan hari itu, aku bangga akan kau di atas semuanya."

"Aku tahu itu."

"Jadi kenapa kau masih terlihat terganggu?"

"Aku tidak!" ujar Hiro. Bocah berusia empat belas tahun itu menggeram, akhirnya menyerah merapikan rambutnya, sebelum mengambil hoodie-nya, "Ayo kita berangkat saja. Aku ada undangan ITSF dengan namaku di atasnya."


Pameran itu telah menjadi kesuksesan yang spektakuler, seperti yang telah Tadashi prediksikan. Hiro, sementara ia gugup pada awalnya, berhasil mempesona para orang banyak dan membuat mereka kagum hanya dengan apa yang mikrobotnya bisa lakukan. Tadashi melihat Profesor Callaghan terlihat kaget oleh mikrobot tersebut. Sunggu ajaib adiknya berhasil mengejutkan seorang roboticist top...Dan Hiro bahkan menolak tawaran Alistair Krei untuk membeli mikrobot itu. Tadashi tidak mau berpikir tentang apa yang akan dilakukan terhadap temuan adiknya dengan orang semacam Krei. Profesor Callaghan terlihat merasakan hal yang sama, kejijikan di nada suaranya selagi ia memberitahu Krei untuk mundur.

Tetapi semua itu sudah selesai...Hiro telah memiliki tiketnya untuk kuliah, di mana otak besarnya itu dapat menciptakan dan mengubah dunia menjadi lebih baik.

Setelah mereka meninggalkan ruang pameran, Tadashi menarik Hiro dari rombongan mereka untuk berbicara kepada adiknya secara pribadi. Ia tertawa pelan ketika Hiro menarik risletingnya malu-malu.

"Sungguh, kerja bagus!" Tadashi nyengir, "Dan selamat datang di sekolah kutu buku, kau kutu buku kecil."

Hiro mendengus mendengarnya.

"Hei, Tadashi, aku mau berterima kasih kepadamu," ujar Hiro malu-malu, "Maksudku, trims untuk...kau tahu..."

"Menjadi induk ayam yang mengomel?"

"Mengambil kata-kata persis keluar dari mulutku!" Hiro merespon.

Sang kakak tergelak mendengarnya.

"Omong-omong," ujar Hiro, meraih ke dalam kantongnya, "Aku menemukan benda aneh ini di kamar kita. Aku menunggu sampai pameran itu selesai untuk menunjukkannya kepadamu. Kau mengenalinya?"

Tadashi merasakan jantungnya jatuh terjerembab selagi Hiro menarik keluar alat pelacak GPS itu.

"Umm...Itu..."

"Pelacak, 'kan?" Hiro menginterupsi, tidak sadar akan kecemasan kakaknya, "Aneh. Aku tidak punya satu. Apa yang ini lakukan di kamar kita?"

"Hiro, mungkin kau harus-" Tadashi tidak tahu apa yang akan ia katakan karen Hiro telah menyalakannya, mesin tersebut memancarkan bunyi bip yang kecil.

"Hei, lihat, ada titik kecil di atasnya!" seru Hiro, "Hah...Kelihatannya berada di sekeliling kita...Di mana ya?"

Hiro mulai berjalan beberapa langkah sebelum berhenti dengan ekspresi kebingungan di wajahnya.

"Hei, itu aneh. Menurut pelacak ini, titiknya bergerak..."

Hiro mengambil beberapa langkah lagi.

"Titiknya bergerak lagi!"

"Hiro..." Tadashi memanggil.

"Aneh, titiknya bergerak terus kapanpun...Aku..."

Hiro terlihat membeku dan Tadashi tahu ia tiba-tiba telah mengetahuinya. Bocah berusia empat belas tahun itu berbalik untuk menatap tajam Tadashi.

"Dude!" seru Hiro, "Ini milikmu, 'kan?"

"...Bagaimana lagi kau pikir aku menemukanmu di pertempuran-pertempuran robot itu?"

Tadashi membenci dirinya karena membuat Hiro memiliki ekspresi dikhianati di wajahnya.

"Berapa banyak pakaianku yang telah kau tempatkan pelacak di dalamnya?" tanya Hiro marah, "Tidak, jangan beritahu aku, aku rasa aku tidak mau tahu!"

"Hiro, aku tahu aku tidak bisa menghentikanmu dari pergi ke pertempuran-pertempuran robot itu!" Tadashi berteriak sebagai gantinya, "Setidaknya dengan begini aku bisa sampai kepadamu sebelum kau kena masalah besar!"

"Oh, kalau begitu itu membuat semua ini oke!" teriak Hiro sarkastis, "Jujur, kau sangat-"

"Aku sangat apa?" Tadashi menginterupsi.

"Kau..."

Suara Hiro melemah selagi bocah berusia empat belas tahun itu melihat kantong jaketnya dengan penasaran. Tadashi hanya dapat melihat dalam kebingungan selagi Hiro meraih kantongnya dan menarik keluar sesuatu. Pemuda berusia dua puluh tahun itu tidak dapat melihat apa yang Hiro lihat dengan sangat limbung di tangannya.

"Kenapa kok...?" Tadashi mendengar Hiro menggumam dalam suara kecil.

"Hiro?"

Hiro menggenggam apapun yang ada di tangannya dengan erat dan memandang Tadashi.

"Aku perlu kembali ke ruang pameran untuk sebentar," ujarnya selagi ia mulai berjalan.

"Bibi Cass dan yang lainnya menunggu," Tadashi memanggil.

"Kau tunggu dengan mereka kalau begitu! Aku akan kembali dalam beberapa menit...Dan kita belum selesai membicarakan pelacak tolol itu, Tadashi!"

"Hiro!" Tadashi berteriak, tetapi adiknya sudah berlari kembali ke aula.

Tadashi menghela nafas selagi ia berjalan kembali ke tempat parkir di mana yang lainnya sedang menunggu. Ia memiliki penjelasan yang harus dilakukan saat Hiro kembali, tetapi ia berharap adiknya akan mengerti. Ia hanya tidak menginginkan apapun yang buruk terjadi pada Hiro. Dan tidak akan ada...Ia akan memastikan itu.


Rombongan itu telah berkerumun di sekeliling mobil van untuk dua atau tiga menit ketike mereka mendengar suara jeritan dari jauh. Mereka menatap selagi mereka melihat kerumunan orang banyak berlari dan apa yang terlihat seperti asap dari kejauhan.

"Ruang pameran terbakar!" mereka mendengar seseorang berteriak.

"Terbakar?" Bibi Cass mengulangi, "Itu mengerikan! Aku ingin tahu apakah semuanya-Tadashi?"

Rombongan itu melihat Tadashi, yang menatap asap itu penuh kengerian.

Ruang pameran terbakar? Ruang pameran...

"Hiro," bisiknya sebelum ia lepas landas berlari.

Ia mendorong melalui kerumunan orang-orang yang panik, mencoba mati-matian untuk sampai ke ruang pameran tersebut. Selagi paru-parunya terbakar dan ia terengah-engah, benaknya meneriakkan kalimat yang sama berulang-ulang.

Jangan Hiro. Jangan Hiro. Jangan Hiro. Jangan Hiro. Jangan Hiro!

"Kumohon jangan," ia terkesiap selagi ia mendekat dan mendekat ke tujuannya, "Jangan dia juga..."

Akhirnya, ruang pameran itu berada di garis penglihatanya. Dan Tadashi membeku di tempat.

Pemandangan di depannya bagaikan neraka. Api-api oranye itu terlihat menyelimuti gedung tersebut habis-habisan. Meskipun ia berdiri jauh dari gedung itu, Tadashi masih dapat merasakan panas yang intens. Ia terbatuk mencium bau asap yang tebal.

Ia melihat di sekitar, berharap-harap, tetapi ia tidak melihat bocah kecil yang tidak asing dengan rambut sarang burung...Hiro masih ada di dalam aula.

"Profesor Callaghan masih ada di dalam!" seorang wanita berteriak.

"Tidak, tidak, tidak..." gumam Tadashi, kedua lututnya bergetar.

Hiro dan beliau keduanya masih terjebak di dalam sana? Ini mimpi buruk...Ini tidak mungkin terjadi.

Tadashi mengertakkan gigi-giginya selagi ia berlari maju, bertekad untuk menyelam melalui api-api tersebut dan mencari, tidak peduli seberapa banyak ia terbakar, sampai ia menemukan mereka.

Tetapi, tiba-tiba, Tadashi ditahan oleh beberapa pasang lengan.

"Lepaskan aku!" teriaknya, berjuang melawan tiga orang yang menahannya.

"Apa kau gila?" salah seorang dari mereka berteriak, "Terlalu berbahaya!"

"Tunggu para pemadam kebakaran!" tambah yang lain, "Mereka akan menyelamatkan beliau!"

"Adikku ada di dalam sana!" Tadashi berteriak.

Pernyataan yang mengagetkan itu melonggarkan pegangan mereka cukup untuk Tadashi melepaskan dirinya dan melanjutkan berlari ke arah bangunan itu. Ia hampir sampai. Hampir-

BOOM!

Sebuah ledakan mengoyak melalui ruang pameran itu, kekuatan dari ledakan tersebut melempar Tadashi kembali beberapa kaki sebelum ia terbanting ke tanah dengan keras, kepalanya menghantam beton.

Deru api mereda. Ia tidak bisa mendengar jeritan orang banyak lagi. Tadashi dengan gemetar mencoba bangkit kembali, hanya untuk jatuh pada lututnya, penglihatannya mengabur. Sebelum ia jatuh ke depan dan dunianya berubah gelap, ia masih memiliki energi yang cukup...cukup untuk berteriak.

"HIRO!"