Original author: WillowBlueJay17
Translator: BrokenWings2602
DISCLAIMER: Big Hero 6 (c) Disney & Marvel
"Sakit!"
Hiro meraung dengan keras, mencengkeram lututnya. Goresan yang anak itu dapatkan ketika dia terjatuh selama permainan petak umpet dengan kakak lelakinya terlihat tidak terlalu parah, sedikit darah tapi tidak lebih. Namun, Tadashi mengetahui rasanya pasti sedikit menyengat.
"Jangan kuatir, Hiro,"ujar Tadashi menenangkan selagi ia mendudukkan bayi berusia tiga tahun itu di atas bangku taman terdekat, "Aku akan merawatmu."
Hiro terisak selagi Tadashi mencari kantong-kantongnya, selalu diisi oleh tisu dan perban untuk kapanpun Hiro membuat dirinya kena masalah, yang sebagian waktu sering terjadi.
"Oke, Hiro, jadi katakan padaku..." Tadashi memulai selagi ia menarik keluar selembar tisu, "Dari skala satu sampai sepuluh, seberapa parah lukanya?"
"...Satu miliar," Hiro tersedu-sedu.
"Hiro..."Tadashi dengan lembut mulai menyeka darah dan kotoran di sekeliling luka selagi adiknya sekali-kali meringis, "Kau yakin tentang itu?"
Anak berusia tiga tahun itu mengangguk sungguh-sungguh, menyebabkan Tadashi yang berusia sembilan tahun mengeluarkan tawa kecil.
"Baiklah kalau begitu, kalau rasanya satu miliar..." Tadashi menarik keluar perban dipenuhi gambar-gambar robit dengan berbagai warna, "Hanya ini yang bisa membantumu!"
Tadashi melihat kedua mata Hiro berbinar saat melihat perban favoritnya. Anak berusia sembilan tahun itu segera memakaikan perban itu, yang Hiro tatapi dan sodok pelan.
"Merasa lebih baik?" tanya Tadashi.
"Yeah," jawab Hiro, menyeka air mata yang masih terjatuh dari kedua matanya.
"Dan karena kau adalah pasien yang baik, kau dapat ini!"
Tadashi tertawa selagi Hiro mencerah saat melihat permen lolipop. Tadashi selalu memastikan untuk membawa beberapa di tangan. Mereka adalah cara yang pasti untuk membuat adiknya tersenyum lagi.
Tadashi memiliki beberapa goresan dan memar-memar di sekujur tubuhnya akibat dari terlempar oleh ledakan itu. Tetapi pukulan di kepalalah yang mendaratkannya di rumah sakit.
Gegar otak, para dokter mengatakan. Gegar otak ringan yang seharusnya akan sembuh dalam beberapa hari. Bibi Cass membuat Tadashi tinggal di rumah sakit karena ia cukup kebingungan dari ledakan tersebut. Tadashi tidak mau, sesuatu di dalam kepalanya meneriakkan bahwa ada yang salah tetapi ingatannya tidak bekerja sama dengannya. Butuh Gogo, Wasabi, Honey, dan Fred memohon kepadanya untuk meyakinkannya untuk tinggal di rumah sakit.
Seperti yang diharapkan, ia memang segera sembuh. Begitu ia sembuh, ingatan tentang malam yang mengerikan itu kembali. Ia menuntut untuk mengetahui di ruangan rumah sakit mana Hiro dirawat, seberapa parah lukanya, kapan ia akan sembuh. Tadashi bangun, siap untuk pergi keluar dan mencari di seluruh rumah sakit kamar demi kamar, ketika Bibi Cass tidak menjawab.
Ia tetap membeku di tempat ketika Bibi Cass mendekat kepadanya, air mata segar mengalir di pipinya.
Ia tahu...Tetapi ia tidak dapat menerimanya...Ini tidak benar, semua ini tidak ada yang benar. Hiro telah diterima kuliah. Mereka akan merayakan! Tadashi telah mengucapkan selamat kepadanya...Mereka sempat beradu mulut, tapi semua itu akan dibereskan. Ini hanyalah sebuah mimpi buruk...Mimpi buruk, itu saja.
Hiro berusia empat belas tahun...Hanya empat belas. Ini tidak benar! Ini tidak terjadi!
Bibi Cass mengulurkan secarik kain yang ada kantong di atasnya...Kain dari hoodie yang Hiro kenakan malam itu.
Beberapa dokter dan suster bergegas masuk mendengar suara jeritan yang menusuk.
Selama tiga bulan mengikuti kecelakaan itu, Tadashi dan Hiro tidur di ranjang yang sama.
Hiro akan mengalami mimpi buruk yang berulang-ulang tentang ledakan yang keras dan teriakan-teriakan dan menggantung terbalik dari jok mobil dan orang-orang asing yang membawanya pergi dari ibu dan ayahnya, yang tidak menjawab tangisannya. Tadashi membutuhkan Hiro di sisinya, baik untuk kenyamanan dan untuk mengingatkannya bahwa ia belum kehilangan semuanya; bahwa ia tidak akan bangun di kehidupan tanpa Hiro juga.
Anak-anak tidak seharusnya dikuburkan. Anak-anak meninggal di seluruh dunia, itu adalah fakta. Tetapi itu seharusnya tidak terjadi. Tidak seorangpun seharusnya menghadiri pemakaman untuk seorang anak.
Tidak seorangpun seharusnya mengubur seorang anak berusia empat belas tahun...Tidak adik lelakinya.
Tetapi tidak ada apa pun untuk dikubur. Pencarian sudah dilakukan begitu lama, tetapi selain beberapa carik kain, tidak ada sisa dari Hiro Hamada yang ditemukan. Tidak seorangpun dapat menemukan bahkan sebanyak itu untuk Profesor Callaghan. Api itu...Ledakan itu telah menghapus kehidupan mereka berdua menjadi ketiadaan.
Seorang anak lelaki berusia empat belas tahun dengan rambut hitam yang selalu berantakan, sepasang mata cokelat cerah yang berkelip dengan kenakalan, sebuah senyuman yang menunjukkan sedikit celah di giginya, dan otak seorang anak yang luar biasa kepandaiannya yang dapan menawarkan sangat banyak kepada dunia. Sarkastis, pemberontak, rajin, seorang dork, menyukai action, menyukai sayap ayam, menyukai permen gummy, suka membangun, benci sekolah tapi itu akan berubah, ia diterima ke ITSF...
Hiro Hamada adalah itu dan jauh lebih.
Tetapi dalam semalam yang tersisa darinya hanyalah beberapa potong pakaian.
"Maka, sebagai kesimpulannya...Tunggu, tidak, aku sudah bilang 'maka' berkali-kali...Tanpa basa-basi...Tidak, itu terdengar tolol...Mungkin aku bilang 'sebagai kesimpulannya' saja? Gah!"
"Berbicara kepada dirimu sendiri, Tadashi? Kuliah sudah sampai ke kau?"
Tadashi menatap Hiro selagi anak berusia tiga belas tahun itu datang ke kamar mereka, sebuah seringaian terhibur di wajah adiknya.
"Aku sedang melatih pidatoku sebenarnya," Tadashi merespon, memegang kertas di tangannya, "Di akhir tahun, presiden sekolah memilih freshman yang paling menjanjikan untuk memberikan pidato kepada para murid dan staf tentang masa depan robotik."
"Jadi kau terpilih presiden para kutu buku?" tanya Hiro.
"Itu adalah raja kutu buku bagimu," Tadashi menimpal dengan dorongan main-main, "Aku perlu membuat kesan yang bagus dengan pidato ini, tapi susah."
"Berlatihlah padaku!" saran Hiro selagi ia menjatuhkan diri di atas ranjang Tadashi, "Kau memiliki perhatianku sepenuhnya."
Tadashi menyeringai melihat wajah terlalu serius yang dibuat Hiro sebelum menerima tawaran adiknya.
"Baiklah kalau begitu," ujar Tadashi, mengambil nafas dalam untuk mempersiapkan dirinya, "Selamat sore, semuanya. Nama saya adalah Tadashi Hamada dan-"
"Boo!"
"Hiro..."
"Maaf, aku tidak bisa menahan diri..."
Sebagai saudara lelaki yang lebih tua, sudah diharapkan darinya untuk mengatakan sesuatu di upacara pemakaman. Bibi Cass memberitahunya ia tidak perlu, tetapi Tadashi bersikeras. Ia akan memberikan Hiro sebuah pidato yang layak akan adiknya.
Kedua kakinya terkunci ketika ia berdiri di atas mimbar, menatap ke arah sekelompok kecil para pelayat. Hiro pantas mendapatkan lebih banyak orang menghadiri pemakamannya. Tetapi Tadashi juga tidak mau kerumunan orang datang ke pemakaman seseorang yang hanya mereka ketahui sebagai salah satu korban dari kebakaran tragis itu.
Tenggorokan Tadashi kering dan ia harus berhenti beberapa kali di pidatonya ketika suaranya habis. Ia merogoh saku setelannya, jari-jarinya menyentuh potongan kain itu yang telah Bibi Cass tunjukkan kepadanya di rumah sakit. Potongan kain tersebut sekarang miliknya...
Ia tergagap di beberapa kalimat terakhir pidatonya sebelum mempermisikan dirinya, bergegas ke kamar mandi. Ia gemetar selagi kedua kakinya jatuh dan ia meluncur ke tanah. Ia menarik kedua lututnya dekat ke dadanya dan membenamkan wajahnya terhadap lututnya.
Tadashi berterimakasih semua memberinya waktu satu jam sebelum mereka mengirim seseorang untuk mencarinya.
"Gendong aku, Bibi Cass!" seru Hiro, mengangkat kedua lengannya.
Bibi Cass tersenyum selagi ia melakukan apa yang keponakan lelakinya minta. Tadashi tertawa selagi Hiro kemudian memanuverkan dirinya ke atas bahu Bibi Cass.
"Ayolah, bung, kau mau di sana untuk fotonya?" tanya Tadashi.
"Yup!" anak berusia lima tahun itu merespon dengan senyuman yang besar.
"Kau lebih baik berpegangan yang erat, monyet kecil," Bibi Cass tertawa, menyebabkan Hiro mengunci kedua kakinya di sekeliling lehernya, "Oke, tidak seerat itu, sayang!"
Begitu Hiro sudah siap, Bibi Cass menarik Tadashi dekat dan menempatkan kedua lengannya di atas bahunya.
"Baiklah, senyum semuanya!" seru sang fotografer.
Sementara Hiro dan Bibi Cass menatap ke arah kamera, Tadashi tidak bisa tidak melirik ke arah Bibi Cass. Ia bersyukur akan bibinya. Tanpanya, ia dan Hiro akan...yah, siapa tahu?
"Trims, Bibi Cass..." ujar Tadashi setelah fotonya diambil.
Bibi Cass terlihat sedikit bingung untuk hal apa ia berterima kasih. Tetapi senyuman hangat itu segera kembali dan ia memeluknya erat.
"Aku juga mau pelukan!" seru Hiro dari duduknya di atas bahu Bibi Cass.
Tadashi tidak pernah menyadari betapa banyak foto dirinya dan Hiro. Mereka berjajar di dinding dan beberapa rak-rak. Ada sekumpul di kamar mereka...Sekarang hanya kamarnya.
Hiro banyak tersenyum di foto-foto itu dari tahun-tahun mereka yang lebih muda. Di tahun-tahun yang baru ia tidak tersenyum selebar dulu, tetapi senyumannya masih tulus.
Foto-foto dan ingatan Tadashi sendirilah yang tersisa akan senyuman-senyuman itu, wajah itu.
Tadashi menggeram dan memukul kepalanya pelan, mencoba untuk menghendaki dirinya untuk berhenti berpikiran seperti itu. Bahwa itu tidak sehat baginya. Tetapi pikiran-pikiran itu masih datang, tanpa peringatan tetapi dengan banyak pukulan.
Pemuda berusia dua puluh tahun itu menuju ke bawah anak tangga untuk mengecek Bibi Cass, yang telah duduk di atas dipan selama beberapa jam. Selagi ia mencapai akhir dari anak tangga tersebut, ia melirik dan melihat Bibi Cass menatap TV, Mochi di sisinya.
Dia menonton video ulang tahun Hiro yang kesepuluh. Hiro yang berusia sepuluh tahun menghantamkan sepotong kue ke wajah Tadashi yang berusia enam belas tahun. Bibi Cass yang berada di video dapat didengar sedang tertawa, kamera bergetar, selagi Tadashi mengejar Hiro di sekeliling meja.
Bibi Cass tertawa sambil menangis selagi ia menonton video tersebut. Tadashi melihatnya dan video itu diam-diam untuk beberapa saat sebelum Mochi memperhatikannya. Dengan meongan gembira, kucing itu menggilap terhadap kedua kakinya. Bibi Cass melirik sebelum memberhentikan video itu dan melompat.
Dia segera menyeka matanya selagi dia berjalan ke arah Tadashi, bertanya kepadanya bagaimana kabarnya dan apakah ia membutuhkan apa pun. Tadashi membuka mulutnya tetapi ia tidak bisa mengatakan apa pun.
Dia mengerti...Dia benar-benar mengerti...
Dia membuka lengannya dan hanya perlu beberapa detik sebelum Tadashi berjalan ke dalam pelukan itu.
"Sedang memulai sebuah temuan baru, Mr. Hamada?"
Tadashi terlonjak kaget, tidak menyangka orang lain berada di sekitar kampus begitu larut malam. Namun, ia seharusnya tahu bahwa jika ada orang lain yang bekerja selarut Tadashi, orang itu adalah Profesor Callaghan.
"Bukan sebuah temuan, pak," Tadashi merespon selagi sang profesor masuk ke dalam ruangan, "Saya hanya...menjahit..."
"Menjahit..." ulang Callaghan.
Tadashi memang melakukan hal itu, meja kerjanya dipenuhi beberapa helai pakaian dan hoodie, sebuah jarum dan benang di tangannya. Tadashi mengerang secara mental selagi sang profesor melihat tumpukan kecil pelacak-pelacak mungil di sebelah gulungan benang.
"...Mr. Hamada, haruskah saya kuatir bahwa Anda menjahit pelacak di pakaian orang lain?" tanya Callaghan.
Untuk menghindari idolanya berpikir yang aneh-aneh tentangnya, Tadashi menjelaskan dirinya. Bagaimana Hiro terobsesi dengan bot fighting dan tidak akan berhenti. Bagaimana ia telah melihat adiknya pulang ke rumah dengan terlalu banyak luka bagi Tadashi untuk hadapi. Bagaimana setidaknya dengan begini ia dapat menemukan Hiro dan menyelamatkannya.
"Adik Anda itu benar-benar sesuatu," Callaghan tertawa.
"Dia mengingatkan saya tentang apa yang Anda katakan tentang putri Anda."
Tadashi menampar tangan di mulutnya tetapi sudah terlambat, kata-kata itu telah dikeluarkan. Sang profesor memiliki pandangan aneh di matanya untuk sesaat sebelum menghela nafas.
"Ya, sepertinya Abigail dan Hiro benar-benar mirip. Saya yakin mereka akan akrab...Mr. Hamada, bolehkah saya menyarankan untuk menjahit pelacak di sini saja? Adik Anda akan lebih susah memperhatikannya."
Pemakaman Profesor Callaghan diadakan beberapa hari setelah pemakaman Hiro. Ratusan orang menghadiri pemakaman itu, karena sang profesor adalah seorang roboticist yang terkenal. Tadashi adalah salah seorang dari para pelayat, tentunya.
Sulit dipercaya bahwa sebuah kecelakaan tidak hanya merampas adiknya tetapi juga pengajar dan idola yang memberikannya kesempatan yang ia butuhkan untuk menciptakan Baymax dan bekerja untuk membantu dunia.
Tadashi ingin berteriak kepada para wartawan yang meliputi layanan itu. Ini adalah pemakaman, bukan acara sosial...Tetapi Tadashi tahu ia ingin berteriak kepada mereka untuk melepaskan kemarahannya sendiri terhadap kekacauan ini.
Kekacauan yang mutlak...
"Jadi..." Hiro memulai dalam apa yang terdengar seperti nada kasual, "Bagaimana sekolah kutu buku?"
"Kenapa kau tidak datang ke sekolah kutu buku dan mencari tahu?" tanya Tadashi, mendongkak dari PR-nya untuk melirik ke arah Hiro, yang sedang mengutak-atik salah satu robot tarungnya.
"Ugh, aku tidak mau pergi ke kuliah bodohmu!" rengek Hiro.
"Jadi kenapa kau terus menyebutkannya kalau begitu?" Tadashi menyeringai, menikmati menggoda Hiro.
"Yah, maafkan aku untuk mau bertanya tentang kehidupanmu layaknya adik lelaki yang baik."
Tadashi tertawa melihat cemberutan di wajah Hiro.
"Sungguh, Hiro, aku rasa kau akan menyukai ITSF," itu merupakan hal yang sama yang telah Tadashi katakan berulang kali sebelumnya tetapi ia gigh, "Kampusnya luar biasa, ada begitu banyak kesempatan untuk menciptakan apa pun yang bisa kau bayangkan, dan kau bisa membuat banyak teman yang bagus."
"Oh, seperti aku pernah membuat sekumpulan teman yang hebat sebelumnya?" tanya Hiro sarkastis.
"...Aku sungguh-sungguh, Hiro. Teman-teman yang aku buat di ITSF adalah teman-teman terbaik yang pernah aku punya..."
Ia memutuskan untuk kembali ke kuliah. Bibi Cass mengatakan ia bisa menunggu beberapa hari lagi, bahwa itu tidak apa-apa. Tetapi Tadashi tahu ia harus kuat dan mulai bergerak maju. Ia tidak bisa mengurung dirinya terus-menerus. Hiro tidak akan mau itu.
Teman-temannya melakukan yang terbaik untuk mendukungnya selagi mereka pergi menuju kuliah. Mereka memastikan ia baik-baik saja dan memberitahunya bahwa mereka tidak akan pernah lupa Hiro. Hal tersebut membawa kembali ingatan-ingatan tentang pemakaman.
Selama kita mengingat Hiro, dia masih bersama dengan kita.
Tadashi tidak berkutat pada pikiran itu jauh sebelum ITSF mulai terlihat. Ia berhenti dan menghela nafas ketika ia melihat tugu peringatan yang telah dibangun di depan sekolah untuk Hiro dan Profesor Callaghan. Ia dapat mendengar para pekerja konstruksi di kejauhan, masih membersihkan reruntuhan dari puing-puing ruang pameran. Tadashi melihat foto Hiro yang tersenyum, diambil di ulang tahunnya yang keempatbelas, dikelilingi banyak lilin dan bunga.
Ia mendengar beberapa murid yang berbisik di antara mereka sendiri selagi mereka melihat tugu peringatan. Mereka berbicara tentang Profesor Callaghan dan betapa hebatnya dia, bagaimana dia akan dirindukan. Mereka bertukar cerita tentang sang profesor dan mencucurkan air mata
Semua yang dapat mereka sebutkan tentang Hiro adalah bahwa ia terlalu muda. Mereka tidak mengenalnya, jadi mereka tidak bisa mengatakan banyak.
Tadashi melihat teman-temannya menatapnya cemas. Ia telah diam terlalu lama. Ia memaksakan senyum di wajahnya dan berlari ke dalam, mseki ia sudah merasakan keputusannya untuk tinggal retak selagi ingatan tentang api oranye dan panas dan asap berlari melalui benaknya.
Ia bahkan tidak berhasil menuju ke kelas pertama. Begitu saat untuk mengheningkan cipta diserukan melalui sistem PA, ia bergegas keluar dan berlari pulang.
Di hari-hari berikutnya, teman-temannya akan datang berkunjung untuk memberikan PR dan catatan-catatan atau hanya untuk berbicara dan mencoba untuk membuatnya meninggalkan kamarnya, untuk setidaknya membuka naungan dan membiarkan sebagian cahaya masuk atau makan sesuatu karena Bibi Cass telah memperhatikan ia hampir tidak menyentuh makanannya dalam dua hari. Tetapi kombinasi dari kekerasan Gogo, kelemah-lembutan Honey, logika Wasabi, dan usaha-usaha Fred yang bermaksud baik untuk membuatnya tersenyum tidak menghasilkan banyak untuk membuat Tadashi bergerak lagi.
Tadashi telah membentur dinding batu bata. Ia tidak bisa bergerak maju, ia tidak bisa.
Ia bahkan tidak bisa membuat dirinya untuk menggumamkan "ow" ketika teman-temannya membawa Baymax ke kamarnya, memberitahunya bahwa mungkin saatnya temuannya membantunya untuk sebuah perubahan.
Tadashi tidak sanggup melakukannya.
"Tadashi, kami pergi sekarang."
Setelah beberapa saat, anak berusia sembilan tahun itu meninggalkan kamarnya. Kedua orang tuanya di pintu, ayahnya menggendong Hiro yang sedang tidur. Bibi Cass datang dan mencium pipi Tadashi.
"Tadashi, sayang, kami benar-benar minta maaf," ujar ibunya. Dia berlutut dan mengulurkan kedua lengannya untuknya, sebuah senyuman kecil di wajahnya, "Kami akan menggantikannya untukmu."
Tadashi, masih marah akan janji yang teringkari, tidak pergi memeluk ibunya. Ia berpaling, kerutan terdapat di wajahnya. Tetapi ia merasakan sebersit rasa sakit di hatinya ketika ia melihat keluar dari ujung matanya dan melihat ekspresi terluka di wajah ibunya ketika dia berdiri.
"Ayolah, Tadashi..." Bibi Cass mulai memarahi, "Jangan-"
"Tidak apa-apa, Cass," Nyonya Hamada menginterupsi.
"Kami akan kembali secepat yang kami bisa, Tadashi," ujar ayahnya, "Jadilah anak yang baik untuk bibimu."
Tadashi masih terlalu marah untuk mengatakan sepatah kata dalam menanggapi...Penyesalan terbesar di hidupnya untuk tahun-tahun yang akan datang...
Alat pelacak...Alat tersebut rusak, tetapi masih dapat diperbaiki. Alat itu ditemukan di bawah balok di puing-puing ruang pameran. Alat tersebut telah ditemukan oleh sebagian para pekerja dan diidentifikasikan sebagai milik Tadashi oleh teman-temannya, yang mengirimkannya saat usaha mereka tidak berhasil lagi untuk membuatnya meninggalkan rumah. Selagi Tadashi duduk di ruangan yang gelap, memutar mesin yang rusak dan diselimuti debu itu ke arah sini dan situ, ia berusaha untuk menahan diri untuk tidak melemparkannya keluar ke jendela atau menghantamnya pada dinding.
Mesin kecil ini selamat dari api dan ledakan itu...Tetapi adiknya tidak...
Ini tidak adil. Ini telah terjadi lagi. Sebuah perkelahian bodoh dan kemudian dunianya hancur. Salah apakah ia kali ini? Alat itu hanya untuk memastikan Hiro selamat. Tidak seperti kedua orang tuanya, di mana ia adalah seorang anak nakal.
Hiro mati. Kedua orang tuanya mati. Ketiganya mati setelah ia membuat mereka marah.
Ini sama sekali tidak adil.
Ia telah gagal memegang janjinya kepada kedua orang tuanya. Ia telah gagal memegang janjinya kepada dirinya sendiri. Ia begitu bodoh, kenapa ia tidak bisa diam saja? Kalau saja ia langsung mengantarkan Hiro ke tempat pertempuran robot itu. Kalau saja ia tidak begitu keras kepala untuk memasukkan adiknya ke kuliah.
Ia merogoh sakunya, menarik keluar potongan kain itu. Tangannya bergetar selagi ia memegangnya. Dengan isakan yang tersedak, ia mendorong potongan kain tersebut di bawah ranjangnya. Dari pandangan karena ia tidak sanggup melihatnya, merasakannya, lagi.
Apakah ini karena ia tidak menginginkan Hiro pada awalnya? Apakah ini karena ia sebegitu putusasanya ingin menjadi anak tunggal? Bahwa kedua orang tuanya harus "membatalkan pesanan mereka" untuk seorang bayi yang baru? Apakah ini karena ia telah iri? Iri karena adiknya yang lebih pintar?
Tidak adil...
"Tadashi?"
"Yeah?"
"Kau tidak akan pergi, 'kan?"
"Ke mana aku akan pergi?"
"...Di mana Ibu dan Ayah pergi."
"Hiro, dengar. Kau tersangkut denganku untuk hidup, oke? Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku berjanji untuk merawatmu. Kita bersaudara, 'kan?"
"He-eh! Tersangkut bersama!"
Tadashi Hamada berusia sembilan tahun ketika ia menjadi anak yatim piatu.
Tadashi Hamada berusia dua puluh tahun ketika ia menjadi anak tunggal.
...Rasanya sangat menyakitkan...
