Original author: WillowBlueJay17
Translator: BrokenWings2602
DISCLAIMER: Big Hero 6 (c) Disney & Marvel
Setiap jendela ditutupi, membuat ruangan itu cukup gelap meski saat itu adalah pagi yang cerah. Bibi Cass dengan pelan menutup pintu di belakangnya selagi ia masuk ke kamar tidur, sepiring sarapan pagi yang hangat di tangannya.
"Hei, Tadashi, sayang," dia menyapa dalam suara yang lembut selagi ia membuat jalannya menuju ke dalam kamar, melirik ke arah sosok yang ditutupi selimut di ranjang terdekat.
Bibi Cass dengan hati-hati melangkah di sekitar dan sekeliling kertas-kertas, tisu-tisu, pakaian-pakaian kusut, dan alat-alat rusak yang berserakan di lantai. Tadashi memiliki malam yang buruk beberapa hari sebelumnya dan telah mengeluarkan rasa frustrasi dan kesedihannya di kamarnya. Tetapi Bibi Cass melihat bahwa bagian kamar Hiro tidak tersentuh, masih terlihat persis seperti malam itu tiga minggu sebelumnya.
"Aku membuatkan sarapan pagi untukmu," ujar Bibi Cass selagi dia mendekati ranjang itu, "Sini, biarkan aku mengambil itu."
Dia menyingkirkan piring makan malam tadi malam dari meja samping tempat tidur Tadashi, menggantikannya dengan piring sarapan pagi. Bibi Cass mengerutkan kening sejenak, memperhatikan bahwa makan malam tersebut nyaris tidak disentuh. Tetapi dia tahu lebih baik daripada membahas subyek itu...lagi.
Bibi Cass meletakkan piring makan malam itu di atas meja terdekat, memanuver jalannya ke jendela dan membuka naungan untuk membiarkan cahaya masuk, batuk selagi naungan tersebut menyepak sejumlah debu di udara.
"Kau tahu, wanita tua favorit kita yang memakai terlalu sedikit mampir ke kafe hari ini," dia menyatakan dengan nada ceria.
Tidak ada reaksi dari sosok yang tidak bergerak di atas ranjang. Dia melihat sekeliling kamar, melihat sabuk merah karate Tadashi, yang telah ia dapatkan dengan usaha keras setahun sebelumnya, dan gi putihnya di pojok.
"Oh, aku dapat telpon dari dojomu pagi ini," dia memulai, "Mereka bilang tidak apa-apa. Lagian boneka-boneka latihan itu sudah lama dan mereka berencana akan menggantikannya segera."
Sekitar setengah minggu sebelumnya, setelah mengurung dirinya di dalam kamarnya begitu lama, Tadashi mulai pergi keluar sekali-kali, baik ke dojo karate atau pergi berkeliling dengan mengendarai sepeda motornya. Bibi Cass mendorong kegiatan pergi keluar tersebut, lebih dari senang untuk melihat keponakan lelakinya meninggalkan rumah, mendapatkan udara segar.
Tetapi kemudian Tadashi didenda karena mengemudi dengan sembrono...Dua kali. Mengemudi dengan sembrono dan Tadashi tidak cocok, pokoknya tidak. Bibi Cass menekan Tadashi untuk menghentikan kegiatan pergi dengan sepeda motornya. Tetapi tidak apa-apa, masih ada dojo, 'kan?
Kecuali kemudian Bibi Cass mendapatkan beberapa panggilan kuatir dari sensei Tadashi, tentang bagaimana Tadashi secara tidak wajar menjadi agresif di kelas. Ke titik di mana senseinya kuatir bisa-bisa Tadashi secara tidak sengaja melukai murid-murid yang lain dan harus mendudukinya di sela-sela tempat penonton.
Ini bukan Tadashi...Bukan keponakannya.
Dan hari sebelum ia datang ke kafe, tubuhnya sangat kaku selagi ia pergi naik ke kamarnya tanpa sepatah kata pun. Dia menerima telpon dari dojo tentang bagaimana Tadashi telah merusak beberapa boneka latihan.
"...Um..." Bibi Cass gugup, bertanya-tanya apakah dia harus membicarakan ini. Tetapi Tadashi punya hak untuk tahu, "Aku juga dapat telpon dari perguruan tinggimu. Mereka menyebutkan ketidakhadiranmu tetapi mereka bilang tidak apa-apai mereka mengerti. Alasan utama mereka menelpon...adalah karena mereka mendanai pencarian yang lebih ekstensif di reruntuhan itu."
Dia mulai mengoceh, tentu, tetapi Bibi Cass menjelaskan bagaimana ITSF menolak untuk menerima bahwa tidak ada lagi sisa-sisa yang didapatkan kembali dari kebakaran itu. Maka mereka mengumpulkan bersama-sama sejumlah uang yang besar untuk mempekerjakan para penyelidik untuk mencari dengan hati-hati melalui reruntuhan yang masih ada di kampus dan reruntuhan yang sudah disingkirkan. Pasti ada sesuatu.
Tadashi bergeser sedikit di ranjangnya, tetapi ia tidak mengatakan apa-apa. Bibi Cass berjalan ke arahnya, bertanya-tanya mungkin ia selama ini tertidur dan tidak mendengarnya.
Tetapi tidak...Bibi Cass menarik selimut dari kepalanya dan melihat bahwa keponakannya terjaga. Berdasarkan kedua kantung gelap di bawah kedua matanya, ia mungkin tidak tidur lagi. Ia terlihat benar-benar kelelahan, bahkan seperti mayat, meski dia sama sekali benci memikirkan Tadashi seperti itu ketika Hiro telah...Dia tidak sanggup membentuk pikiran itu.
Dia melihat bahwa di tangannya, tercengkeram erat di dadanya, adalah sebuah robot...Salah satu robot tercinta Hiro. Megabot, jika dia mengingat dengan benar.
"Oh, sayang," dia menghela nafas, mengambil tempat duduk di atas ranjang dan dengan lembut membelai rambut Tadashi.
Tindakan tersebut menyebabkan Tadashi perlahan duduk tegak, mengucek salah satu mata merahnya. Hal tersebut menyakitkan dirinya untuk melihat Tadashi memaksakan senyum di wajahnya, betapapun kecilnya itu, hanya untuknya.
"Maaf, Bibi Cass," gumam Tadashi, Megabot masih menempel pada dadanya, "Aku mendengarmu...Hanya saja-"
Bibi Cass dengan lembut menariknya dekat untuk pelukan yang pendek. Dia merasakannya santai untuk sejenak sebelum ia menarik diri dan bangun.
"Aku akan, uh, berpakaian dan..." suara Tadashi melemah selagi ia melihat sekeliling kamar tidur.
"Kau ambil waktumu, Tadashi," Bibi Cass memberitahunya selagi dia pergi menuju pintu untuk memberikannya privasinya, mengambil piring makan malam di sepanjang jalan.
Tadashi mengangguk sebagai tanggapan selagi dia menutup pintu di belakangnya. Begitu dia mendengar bunyi klik, dia menempelkan punggungnya pada pintu dan mengeluarkan nafas gemetar. Terkadaing dia bertanya-tanya bagaimana Tadashi bisa tahan untuk menyembunyikan dirinya di kamar seharian penuh. Perlu semua yang dia punya untuk tidak menangis setiap kali dia melangkah ke dalam.
Hiro terus-menerus muncul di benaknya. Anak kecil berumur tiga tahun yang melekat padanya untuk beberapa hari ketika dia dan Tadashi pertama kali pindah. Anak kecil berumur lima tahun yang bekerja sama dengan Tadashi untuk membuat sebuah robot kecil konyol untuk membuatnya tersenyum setelah hari yang sangat buruk. Anak berusia sebelas tahun yang sudah memulai SMA dan terlihat sangat mungil di antara murid-murid yang lain. Remaja berusia empat belas tahun yang selalu mengerang tentang pelukannya tetapi tidak pernah gagal untuk mengembalikannya pada akhirnya.
Rumah tampak begitu tidak bernyawa sekarang. Tidak banyak senyuman, setidaknya senyuman yang tulus. Dan kini biasanya begitu sunyi...Tidak ada bunyi kedua keponakannya yang sangat cerdas bermain-main semacam temuan baru atau berdebat tentang sesuatu yang konyol atau tertawa.
Saat dia menuruni tangga, Bibi Cass berhenti di foto kedua keponakannya dan kedua orang tua mereka, mereka semua tersenyum dan terlihat senang.
"...Maafkan aku, Marie," bisiknya sebelum dia melanjutkan perjalanannya.
Tidakan pertama Tadashi di hari yang baru adalah segera menutup seluruh jendela yang telah Bibi Cass buka. Ia pergi ke meja berantakan yang dulunya milik Hiro dan dengan lembut meletakkan Megabot di tempat biasanya. Saat ia berjalan pergi, ia sebuah melihat tanda pesan di komputer.
Ia memiliki perasaan tentang apa pesan tersebut saat ia duduk dan membuka pesan itu, menghela nafas saat ia melihat ia benar. Sebuah pesan video dari teman-temannya.
"Hei, Tadashi," keempat sahabatnya menyapa, senyum sedih di wajah mereka.
"Kami ingin kau tahu bahwa kami benar-benar merindukanmu," Honey memulai, menyesuaikan ponselnya agar kamera dapat menangkap seluruh kelompok.
"ITSF tidak sama tanpa kau di sekitar," Gogo melanjutkan, ekspresi lembut yang langka di wajahnya.
"Kami telah merawat labmu untukmu," ujar Wasabi, "Semua barang-barangmu bersih dan di tempat masing-masing, kami tidak akan membiarkan apa pun terjadi kepada barang-barangmu."
Tadashi merasakan kedua ujung bibirnya sedikit naik mendengarnya.
"Tadashi, kau tahu aku akan senang memiliki kekuatan super," Fred memulai, "Tapi kalau aku bisa punya satu kekuatan sekarang, maka itu adalah untuk menembus layar ini dan memberimu pelukan, man."
Tadashi tidak yakin jika pesan itu sudah selesai, ia mematikannya tepat setelah Fred berbicara.
Apakah ia merindukan teman-temannya? Tentu saja ia merindukan mereka. Tetapi ia tidak bisa menanganinya lagi. Beberapa kunjungan pertama baik-baik saja, mereka telah membantu. Tetapi hari-hari berlalu dan Tadashi terus menghubungkan teman-temannya dengan ITSF dan ITSF dengan Hiro dan semuanya menjadi terlalu banyak, berujung di dalam dirinya memohon kepada mereka untuk meninggalkannya sendiri.
"Kami kuatir akan kau!" seru Honey setelah mendengar Tadashi memberitahu mereka, dalam suara yang kering, untuk berhenti mengunjunginya.
"Yeah, man, kau adalah sahabat kita!" tambah Fred, menjangkau untuk menyentuh bahunya, hanya untuk Tadashi menepisnya, "...Kami hanya ingin kau baik-baik saja."
"Guys, aku perlu kalian semua untuk pergi," ulang Tadashi, tenggelam ke kursi tempat ia duduk.
"Tadashi, mengunci dirimu di dalam sini tidak sehat untukmu!" Wasabi berteriak, mencoba untuk membuatnya melihat alasan.
"Tapi itu adalah apa yang aku inginkan," Tadashi menyatakan.
"Apakah Hiro menginginkan ini?" tanya Gogo tajam.
Nama Hiro adalah pemicu yang membuat Tadashi melompat berdiri, kedua tangannya mengepal erat selagi Honey, Wasabi, dan Fred melihat Gogo dengan gugup, yang bertemu pandangan marah Tadashi dengan pandangannya sendiri yang kalem.
"Pergi," perintah Tadashi, suaranya, tangannya, semuanya bergetar.
"Tadashi-"
"Kumohon!" ia memohon.
Tanpa bicara lagi, setelah beberapa detik menatapnya, teman-temannya melakukan apa yang ia katakan.
Tadashi berputar di kursi dengan linglung sebelum berdiri dan menuju ke lemarinya, mengambil pakaiannya agar ia dapat berpakaian. Tentu saja, ia hanya akan berpakaian dan akan segera kembali ke tempat tidur.
Ia terlalu lelah untuk yang lainnya. Jauh terlalu lelah...
Saat ia selesai bersiap-siap, ia melihat sarapan pagi yang Bibi Cass telah tinggalkan untuknya. Ia meraih tangan ke arah garpu. Mungkin kali ini ia akan mendiamkannya. Tetapi saat ia mengangkat piring, meskipun mendengar bunyi-bunyi yang perutnya buat dari kebiasaan makannya yang buruk dari beberapa hari terakhir, Tadashi tidak merasa lapar.
Sayang sekali. Itu saja yang dapat ia pikirkan saat ia membuang makanan, piring kertas dan semuanya, di tempat sampah terdekat. Saat ia berbalik, kakinya secara tidak sengaja menghantam sudut meja.
"Ow!" ia berteriak, melompat pada kakinya yang baik untuk sesaat selagi ia menunggu rasa sakit itu reda.
Bunyi bip dan kemudian bunyi sesuatu yang menggembung memenuhi ruangan. Tadashi bingung untuk sesaat sebelum mengingat seseorang tertentu yang teman-temannya telah turunkan di kamarnya seminggu sebelumnya.
"Oh hebat," gumam Tadashi pelan saat ia menoleh dan melihat apa yang ia kira.
Baymax sedang mencoba untuk manuver melalui ruang sempit yang ia sedang berada untuk sampai di mana Tadashi berada, menjatuhkan buku-buku dalam prosesnya.
"Halo, aku Baymax, pendamping kesehatan pribadimu," salam Baymax saat ia sampai ke Tadashi.
"Baymax," Tadashi merespon. Ia menghela napas, "M-maaf, kawan, aku tidak bermaksud untuk mengaktifkanmu."
"Aku mendengar bunyi kesakitanmu, Tadashi," ujar Baymax. Sebuah layar dengan sepuluh wajah muncul di dada Baymax, "Dari skala satu sampai sepuluh, bagaimana kau akan menilai rasa sakitmu?"
"Nol, aku tidak apa-apa," Tadashi bersikeras, sedikit mendorong Baymax ke arah ia tadi datang, "Baiklah, kau perlu kembali ke tempatmu."
"Aku tidak bisa melakukan itu kecuali kau mengatakan bahwa kau puas dengan perawatanmu," Baymax memberitahunya, "Itulah bagaimana kau memprogramku, Tadashi."
"Aku tahu bagaimana aku memprogrammu, Baymax, aku bekerja selama dua tahun padamu."
"Sensorku mengindikasikan reseptor nyeri kaki kananmu-"
"Oke, lihat," Tadashi menginterupsi, mundur dan mengangkat kakinya untuk Baymax lihat, "Sedikit merah tapi aku tidak apa-apa. Tidak ada yang salah, rasanya bahkan tidak sakit lagi."
Tentu saja begitu Tadashi mengatakannya, ia menempatakn kakinya ke bawah...di atas salah satu alat-alat rusak yang berserakan di atas lantai.
"Oke!" Tadashi terkesiap, mengertakkan giginya, "Yang itu menyengat..."
"Dari skala-"
"Jangan mulai, Baymax, aku tidak apa-apa!"
"Tadashi, pola suaramu mengindikasikan kau sedang mencoba untuk menekan rasa sakitmu."
Di saat seperti inilah Tadashi menyesali bagaimana sensor Baymax begitu mutakhir. Begitu ia dapat menempatkan kakinya ke bawah tanpa meringis, Tadashi pergi ke Baymax dan mulai untuk mencoba dan meremasnya melalui jalan sempit yang menuntun ke stasiun pengisiannya.
"Baiklah, kawan, aku benar-benar tidak apa-apa," Tadashi mengerang selagi ia mendorong dengan sekuat tenaga, "Jadi kau perlu kembali! Whoa!"
Kekuatan yang Tadashi gunakan pada Byamax berakhir bekerja melawannya, mengirimnya jatuh kembali dan menghantam meja Hiro. Ini menyebabkan salah satu rak di atas Tadashi tumbang, mengirim sebagian robot-robot yang cukup berat yang Tadashi dan Hiro telah rakit selama ke kepala Tadashi.
"Gah!" ia berteriak, berjongkok dan menutupi kepalanya dengna kedua lengannya setelah sebuah robot yang sangat berat mendarat di atasnya, "Hari ini bukan hariku."
"Dari skala satu sampai sepuluh, bagaimana kau akan menilai rasa sakitmu?" Baymax bertanya dalam nada yang selalu menenangkan itu.
Tadashi menggigit ucapan yang ada di benaknya. Itu bukan salah Baymax, ia hanya mengikuti pemrograman yang telah Tadashi buat. Malahan, Tadashi bekerja mengumpulkan robot-robot yang terjatuh, memeriksa mereka untuk melihat apakah ada goresan dan mencoba untuk mengusir ingatan tentang Hiro yang datang ke pikiran dengan tiap robot.
"Jangan pikir aku tidak melihatmu," ujarnya saat ia melihat satu robot yang setengah bersarang di bawah ranjangnya. Saat ia membungkuk dan menariknya keluar, sedikit gerakan di bawah ranjang menangkap matanya, "Apa...?"
Gerakan tersebut berasal dari sepotong kain yang merupakan hoodie milik Hiro, yang ada sakunya...Satu-satunya pengingat akan adiknya. Ada sesuatu yang bergerak di dalam saku tersebut. Penasaran, Tadashi mengambil kain tersebut, menempatkan tangannya di dalam saku itu untuk melihat apa yang menyebabkan gerakan tersebut.
"Mikrobot?"
Sebutir mikrobot, salah satu milik Hiro. Mikrobot tersebut menggeliat di dalam genggaman Tadashi, sampai-sampai Tadashi meraih petri dish dari meja Hiro dan menempatkan mikrobot itu di dalam, menutup tutupnya dengan erat.
"Kenapa kok...?" Tadashi terdiam ketika ia melihat Baymax melangkah lebih dekat.
"Tadashi, aku memindaimu saat kau sedang mengambil mainan-mainan," Baymax menyatakan.
"Apa?" balas Tadashi saat ia berdiri, "Baymax, kau seharusnya meminta izin du-Lupakan..."
"Pindaianku mengindikasikan korteks prefrontalmu bekerja lebih dari biasanya," robot itu mulai menjelaskan, "Kau juga memiliki tingkat kortisol lebih tinggi di atas rata-rata di dalam darah, bersama dengan fungsi TSH yang menurun. Bersama dengan pewarnaan yang gelap di bawah matamu, aku menyimpulkan bahwa kau menderita dari kurang tidur."
"Bravo," Tadashi menghela nafas, mencoba untuk mengembalikan perhatiannya ke mikrobot yang bertingkah ganjil itu.
"Aku juga mendeteksi pelepasan neurotransmitter bertingkat rendah," Baymax melanjutkan, "Terutama serotonin. Kau juga kelihatannya sedang mengalami perubahan suasana hati, terutama kemarahan. Aku akan mendiagnosismu sebagai mengalami masa puber, tetapi itu tidak masuk akal, menganggap usiamu."
Tadashi tidak bisa tidak tersenyum pada Baymax. Ia berjalan dan menepuk robot itu dengan pelan.
"Tidak apa-apa, kawan," ujarnya.
Baymax tidak dapat mengetahuinya karena Tadashi tidak pernah memrogram database kesehatan mental dan emosional. Bukannya Tadashi mengalami sesuatu yang begitu parah. Ia tidak...Ia jelas-jelas tidak...
"Sepertinya ia mau pergi ke suatu tempat."
Tadashi mendongkak mendengar komentar Baymax. Robot itu menunjuk ke arah petri dish yang berada di tangan Tadashi.
"Pasti rusak," gumam Tadashi, "Api itu pasti telah merusaknya atau bagaimana."
Ia dengan hati-hati meletakkan petri dish itu di atas ranjangnya, menatapnya dengan pandangan sendu sebelum berbalik. Satu lagi hal kecil yang mengingatkannya akan adiknya. Seperti kain yang masih Tadashi pegang. Ia telah menyorongkannya di bawah ranjangnya untuk melupakan tetapi...
Tadashi melipat kain itu dengan pelan saat ia pergi ke arah meja di samping ranjangnya, menyelipkan kain itu ke bingkai foto Hiro yang diambil beberapa bulan yang lalu. Ia tidak dapat berhenti menatap foto tersebut.
"Tadashi," suara Baymax memanggilnya dari belakang, "Robot kecil ini sepertinya mau pergi keluar."
"Kalau begitu kenapa kau tidak cari tahu ke mana robot kecil itu ingin pergi?" Tadashi menyarankan dengan sarkastis, tidak mengalihkan pandangannya dari foto tersebut saat ia meletakannya.
"Apakah itu akan meningkatkan kesehatanmu?" tanya Baymax.
"Tentu, Baymax..." jawab Tadashi, mengangkat topinya dari meja di samping ranjangnya, membersihkannya dari debu yang menempel sebelum memakainya.
Hening untuk beberapa saat. Bukannya Tadashi keberatan...sampai ia mendengar bunyi di bawah. Ia berbalik sangat lambat, berani untuk tidak percaya.
Tetapi Baymax tidak ada di sana.
"Oh tidak," gumamnya, "Tidak, tidak, tidak, tidak, tidak..."
Ia berlari ke jendela dan menarik kembali naungan.
Baymax menuju jalan, menatap ke arah petri dish di tangannya. Sama sekali tidak menghiraukan selagi mobil-mobil menyelip di sekelilingnya.
"Oh, kau pasti bercanda!" seru Tadashi saat ia berlari menuju pintu.
Ia membeku sebelum ia mengambil satu langkah dekat tangga, mendengar Bibi Cass berbicara kepada beberapa pelanggan. Bagaimana Baymax berhasil melewati mereka tanpa menarik perhatian? Mungkin mereka semua tidak melihat? Apapun alasannya, Tadashi tidak akan berhasil pergi tanpa Bibi Cass memperhatikan. Dan ia tidak bisa membuang waktu menjelaskan.
Ia pergi kembali ke kamarnya, mengambil tas sekolahnya dan kunci sepeda motornya, sebelum berlari ke bawah dan melalui kafe.
"Tadashi?" panggil Bibi Cass.
"Hei, Bibi Cass!" Tadashi meringis mendengar suaranya mencicit. Ia berbicara cepat, memandang pintu tiap beberapa detik selagi Bibi Cass berjalan ke arahnya, "Aku memutuskan sudah saatnya aku berhenti mengurung diriku."
"Tunggu, itu tasmu," ujarnya, sebuah senyuman membentuk di wajahnya, "Kau kembali kuliah?"
"Yup, kau betul!" ia tidak pandai berbohong tetapi ia berharap rasa antusiasnya dapat meyakinkannya, "Aku harus berhenti berlari!"
Bibi Cass memeluknya erat mendengarnya, berbicara banyak tentang betapa bangganya ia dan bahwa ia akan membuatkan sayap ayam pedasnya yang terkenal untuk makan malam.
"Trims, Bibi Cass, sampai jumpa nanti!" ujar Tadashi, tetapi Bibi Cass menariknya lagi.
"Pelukan terakhir!" serunya senang sebelum memperbolehkannya bergegas keluar pintu.
Tadashi melihat ke jalan, Baymax tidak terlihat. Ia menghembuskan nafas sebelum melompat pada sepeda mototnya dan mengebut ke arah terakhir kali ia melihat robot itu.
"Dia sebetulnya 'kan marshmallow raksasa, bagaimana bisa aku belum menemukanya?"
Tadashi melihat ke arah sini dan situ dengan sangat gelisah, mencari di manakah Baymax menghilang. Ia berbelok di sekeliling beberapa mobil dan menerobos beberapa lampu merah sepanjang jalan, jantungnya berdebar dan jari-jarinya berkedut, mempercepat nafasnya. Pemuda berusia dua puluh tahun itu takut ditemukan oleh polisi. Ia beruntung bahwa orang yang menemukannya adalah petugas yang sama yang menghentikannya dua kali terakhir karena mengembudi dengna sembrono, dan bahwa orang itu cukup baik hanya dengan memberinya denda, tidak peduli seberapa banyak itu melukai dompet Tadashi. Jika ia tertangkap lagi, Tadashi mungkin akan melihat sel tua dari insiden bot fight itu lagi.
Saat Tadashi berbelok ke bagian San Fransokyo yang buruk, ia kebetulan sedang melihat ke arah sebuah gang...
...Dan melihat sebuah robot yang tidak asing sedang melenggang ke bawah...
"Baymax!" panggil Tadashi.
Ia melihat bahwa gang tersebut terlalu berantakan untuk dilewati dengan sepeda motor. Beresiko, tetapi Tadashi harus meninggalkan sepeda motor dan tasnya di dekat lampu jalanan. Mungkin jalan utama yang sibuk yang berada dalam pandangan akan menghalangi berbagai pencuri.
Dengan pikiran itu, Tadashi berlari ke gang mengejar Baymax. Setelah memanjat reruntuhan dan mengambil beberapa putaran dan belokan, Tadashi tiba di depan sebuah gudang besar. Gudang tersebut terlihat tua dan tidak terawat, jelas-jelas terbengkalai.
Baymax berdiri di depan pintu gudang tersebut.
"Baymax!" teriak Tadashi marah saat ia mendekati robot itu, "Apa yang kau pikirkan, kau knucklehead?"
Tadashi menyadari apa yang telah ia katakan dan mengambil sebuah nafas dalam sebelum melanjutkan.
"Kau tidak bisa pergi begitu saja, Baymax. Itu tidak aman, untuk kau dan orang lain. Aku melihat sebagian pengemudi yang marah dalam perjalanan ke sini."
"Aku telah menemukan di mana robot kecil itu mau pergi," Baymax menyatakan.
"Baymax," Tadashi menggerutu saat ia mengambil petri dish dari tangan robot itu, "Aku bilang ke kau, robot kecil itu hanya rusak. Tidak mungkin...robot kecil itu..."
Suara Tadashi mered asaat ia melihat mikrobot membentur terhadap pinggiran petri dish, menunjuk ke arah pintu. Ia menggerakkan petri dish itu ke kiri dan ke kanan, tetapi robot kecil itu tetap menunjuk ke arah pintu. Tadashi melirik jalan masuk ke gudang yang terbengkalai itu.
Ini tidak masuk akal. Berasumsi mikrobot itu tidak rusak, mengapa mikrobot itu...?
"Apa yang terjadi di sini?"
