"Midorima, kudengar kau baru punya adik angkat ya?"
" Katanya adik barumu itu manis ya?"
" Selain itu, juga pintar masak,jago mengurus rumah dan perhatian?"
" Midorima! Gosipnya kau punya istri baru ya?"
" ITU SEMUA FITNAHHHHHHHHH!"
Lagipula siapa sih, yang kurang kerjaan menyebarkan gosip seperti ini?
.
.
.
My Brother is So Cute I Don't Even Know What is This About Anymore
Chapter 2 : My Brother Comes to School
" Kise!" Midorima menggebrak meja tempat duduk Kise dengan penuh emosi. Kise yang sedang asyik memainkan ponselnya, langsung merinding disko melihat tatapan membunuh Midorima.
" A-ada apa, Midorimacchi?" ia mencoba tersenyum, siapa tahu bisa mengangkat mood temannya tersebut.
" Siapa bilang kau boleh menyebarluaskan berita tentang Takao hah! Dengan gosip tidak bermutu seperti itu lagi!" sekali lagi, Midorima menggebrak meja.
Kise gemetar.
" Ta..tapi itu 'kan kenyataan Midorimacchi, itu bukan cuma gosip!"
" Tapi nggak perlu diumbar ke semua orang juga 'kan?"
" Nggak semua orang juga kali! Aku cuma cerita ke Tanaka, Suzuki.. oh iya terus Oda, Minami.. oh, juga Takai, Kaoru, Mizushima, terus.."
"Cukuppppp! Itu sama saja semua orang tahu!"
Satu gebrakan lagi mendarat di meja Kise.
" Shintarou, tidak perlu gebrak – gebrak meja begitu, berisik" rupanya Kise sekelas dengan Akashi, walaupun mereka duduk berjauhan. Dan saking emosinya Midorima sampai melupakan hal itu.
" A.. Akashi.." Midorima kicep, takut diomeli sahabat sekaligus pemimpin geng sekaligus kapten klubnya tersebut. Belum apa – apa, Akashi sudah melotot padanya.
" Memangnya kenapa kalau semua orang tahu tentang adikmu yang teladan itu? Bukannya tidak akan merugikanmu juga?" Akashi berkata lagi, kali ini sambil tersenyum.
" Rugi lah! Malu aku kalau semua orang tahu aku punya adik sedekil dia!"
"Hoo.. masa sih?"
Grr.. Midorima merasa dari kemarin Akashi selalu tersenyum nista kalau sudah menyangkut tentang adik barunya itu.
" Midorima-kun cuma takut mereka tahu kau punya adik semanis itu 'kan?" tiba-tiba terdengar suara yang familiar dari samping Midorima.
" Huwaaa! Kuroko! Sejak kapan kau ada disitu!"
" Dari tadi, Midorima-kun. Aku kan juga murid kelas ini" Kuroko duduk kalem dimejanya, yang ternyata berada disebelah Kise.
" Huh!" Midorima mendengus kesal. " Sebenernya bodo amat sih mereka tahu tentang Takao atau tidak. Tapi itu 'kan merusak imageku!"
" Lagi –lagi Midorimacchi tsundere.."
" Dari awal juga imagemu 'kepala hijau aneh yang suka bawa barang-barang tidak jelas'.." Kuroko melirik bantal doraemon yang dibawa-bawa oleh Midorima.
" Apa katamu—"
" Oooi, Midorima... ada yang mencari – carimu, nih!" tiba- tiba Aomine muncul dari arah pintu kelas tersebut. " Sudah kuduga kau disini"
Midorima masih gondok, tapi ia berusaha mengendalikan emosinya. Ia membetulkan letak kacamatanya sambil menghela napas.
Tenang Shintarou, kau ini makhluk intelektual yang cerdas dan dewasa. Jangan termakan omongan makhluk – makhluk seperti ini. Keep cool, man, Midorima berbisik dalam hati.
" Siapa?"
" Shin-channnnnn~!"
Seketika itu juga, kacamata Midorima langsung melorot semiring-miringnya.
" KENAPA KAU ADA DISINIIIIIIII!?"
Resolusi yang baru saja ditetapkannya beberapa detik yang lalu, langsung sirna dalam sekejap mata.
Keep cool? Mending gue kelaut aja deh! Batin Midorima.
.
.
" Wah, Teikou besar juga ya! Aku sampai tersesat tadi! Untung ketemu Aomine-kun dan Murasakibara-kun!" sosok yang ternyata adalah Takao itu tersenyum riang sambil melihat kiri kanan, seperti sedang berada dalam suatu tur.
" Takaocchiiiiii!" Kise langsung menyeruduk Takao. " Sedang apa disini? Kok main nggak bilang – bilang?"
" Ini," Takao menunjuk bungkusan bekal yang dibawanya. " Shin-chan lupa membawa bekal yang kubuat"
He? Apa? Bekal?
Memang sih, tadi pagi Midorima buru – buru berangkat setelah sarapan.
" Iya, sekarang 'kan jam makan siang, nanti Shin-chan kelaparan lagi. Jadi aku datang mengantarkan bekal deh!"
" Awww.. Takaocchi memang adik yang baik!" Kise makin mengeratkan pelukannya.
Midorima melotot. Disekeliling mereka murid – murid yang lain memandangi Takao dengan seragamnya yang jelas berbeda dengan Teikou ( Teikou memakai blazer putih, sementara Shuutoku gakuran hitam), menandakan dia murid sekolah lain. Ditambah segala teriakan Midorima dan kehebohan Kise, mereka langsung mengetahui identitas Takao.
" Sepertinya, itu adik Midorima yang digosipkan itu.."
" Yaampun! Manisnya! Anak SMP? Eh, tapi itu seragam Shuutoku kan?"
" Coba adikku seperti itu juga.."
" Adik perempuanku saja tidak bisa memasak.."
Bisikan-bisikan mulai terdengar disekitar mereka.
" Ini bekalnya, shin-chan~"
" Huh! Aku biasa beli roti kok nanodayo"
" Jangan begitu, anak SMA yang lagi tumbuh kan butuh banyak gizi, apalagi kau ada latihan klub kan nanti?"
" Darimana kau tahu aku ada latihan klub?"
" Dari Tecchan~"
Midorima langsung mendelik ke Kuroko yang masih kalem disebelah mereka, tanpa merubah ekspresinya.
" Apa, Midorima-kun? Aku Cuma ngobrol sedikit dengan Kazu-kun lewat telepon kok semalam"
Apa? Tecchan? Kazu? Sejak kapan Kuroko dan Takao seakrab itu? Dalam semalam mereka sudah jadi teman ngobrol di telepon? Eh? Aku saja masih belum memanggilnya dengan nama pertamanya..
" Aku juga sudah SMS Akashi-kun, apa aku boleh datang mengantarkan bekal kesini, katanya boleh" lanjut Takao.
SMS? Midorima makin melongo. Aku bahkan tidak tahu nomor HP Takao!
" Iya, tidak apa-apa kok, aku sudah memberinya ijin, shintarou"
Kesal, kesal. Midorima kesal melihat senyum penuh kesombongan dari Akashi dan Kuroko.
" Harusnya kamu minta ijin ke aku dulu, tahu!"
" Ehh.. habis aku tidak tahu nomor HP Shin-chan.. tadi pagi juga Shin-chan buru buru berangkat dan meninggalkanku..padahal kan aku mau berangkat bareng.." Takao cemberut.
Sial, moe.
Entah kenapa batin Midorima menjadi ala otaku begini.
" Ehh? Midorimacchi belum ngasih tahu nomor Hpnya? Padahal kan kau adiknya!" Kise ikutan merengut sambil memandang Takao lekat - lekat. " Sini, aku kasih nomerku saja. Kalau ada apa-apa kau bisa minta tolong padaku!"
" Boleh sa.."
" Menjauh dari Takao, dasar hama parasit!" tiba – tiba sebuah tangan kekar mendorong Kise menjauh dari Takao, yang langsung membuat semuanya terkejut.
Ternyata dari tadi dibelakang Takao berdiri tiga orang jangkung yang berlagak seperti bodyguardnya, lengkap dengan muka preman dan tatapan kebencian.
Kise yang tadi terdorong (sampai jatuh terduduk) meringis. " Aduhh, apa apaan sih!"
" Kalian..siapa?" Akashi mendelik tajam pada ketiga sosok yang (jauh) lebih tinggi didepannya, tidak terima rekan setimnya didorong begitu (walaupun ia sendiri sering melakukan berbagai macam siksaan yang lebih kejam pada Kise sih)
" Aduhh, senpai, jangan kasar begitu dong! Dia ini temannya kakakku!" Takao buru buru menenangkan ketiga orang tersebut.
" Hah? Jadi si pirang alay ini bukan kakak yang kau ceritakan itu toh? Rugi deh aku mendorongnya"
" Tapi tetap saja, dia seenaknya memeluk Takao kita"
" Sudah kuduga mengantarnya kesini adalah keputusan yang tepat"
Ketiga pria tersebut sibuk berdebat sendiri.
'Kita'? Midorima melongo.
" Lalu? Mana kakak yang kau ceritakan itu, Takao?" seorang diantara mereka yang berbadan paling besar, melotot kearah Midorima dan teman-temannya.
" Ah, yang ini! Senpai kenalkan, ini kakak baruku, Shin-chan! Shin-chan, mereka kakak kelasku di kegiatan klub, maaf kalau mereka agak kasar, mereka orang baik kok, Cuma agak protektif saja.." Takao buru-buru menggamit lengan Midorima yang masih kebingungan.
" Ini? Dia kakakmu itu?" seketika Midorima dipelototi oleh tiga orang senpai Takao tersebut, dengan tatapan penuh selidik. Rasanya seperti sedang diamati oleh ibu pacar saat kita datang kerumah pacar kita untuk pertama kalinya.
Sebentar, tapi dia kan 'cuma' jadi kakak angkat Takao?
Midorima berusaha tetap stay cool, walaupun bingung harus berbuat apa.
" Sa..salam kenal," ujarnya sekenanya.
Seketika ia mendapat deathglare dari para senpai Takao.
" Aku tidak terimaaa!" raung yang berbadan paling besar dan berambut jabrik.
" Ka..kau kenapa, Ootsubo-senpai?" Takao ikut panik.
" Aku juga! Kenapa si lumut aneh ini bisa menjadi kakak Takao!?"
" Kimura-senpai? Kenapa kau juga..?"
" Aghhhh! Aku benar – benar ingin membunuhnyaa! Mana nanas gue, mana!?"
" Sampai Miyaji-senpai juga?"
Ketiga orang itu histeris sendiri, membuat keributan ditengah kelas, dengan seluruh mata memandang mereka keheranan.
" Kalian ini tidak sopan sekali, membuat keributan di sekolah orang," celetuk Akashi, kesal dengan suara berisik yang dihasilkan sosok – sosok didepannya.
" Berisik, bocah! Tahu apa kau!" setengah menangis, Miyaji menendang meja didepannya.
Alis Akashi makin mengkerut. Enak saja dia bilang bocah.
" Memangnya apa yang salah dengan Shintarou menjadi kakak Kazunari?"
" Salah! Salah banget!" kali ini, Kimura menggebrak meja.
" Soalnya..soalnya.." Ootsubo mengepalkan tangannya erat-erat.
" Seharusnya cuma kami yang bisa menjadi kakak Takao!"
.
.
" Hah?"
Kacamata Midorima melorot.
" Kalian semua tahu 'kan.. Takao itu sosok adik yang sempurna. Manis, baik, perhatian, imut, pintar masak, jago mengurus pekerjaan rumah, manis.." Ootsubo lanjut bercerita. Sebentar, sepertinya ada satu kata yang diulang dua kali..
" Selama ini, sebagai senpainya sejak SMP, hanya kami yang bisa menikmati kemewahan sebagai 'kakak' Takao.. menikmati bekal buatan Takao.. menikmati Takao mengejar-ngejar kami sambil berteriak 'senpai,senpai'.. bersama-sama bermain di klub.. kami sangat bahagia! tapi, sejak si kunyuk ini muncul!" kali ini ia mengacungkan jari telunjuknya tepat didepan hidung Midorima. " Takao berkata kalau ia akan keluar dari klub kami karena sibuk mengurusi 'kakak'nya!"
Hee? Mengurusi aku?
Midorima makin melongo.
" Gara – gara kamu aku jadi tidak bisa menikmati kehidupan klubku lagi!" Miyaji makin emosi. Sebentar, memangnya kehidupan klub kalian itu Cuma berarti karena ada Takao disana?
" Ditambah karena Takao sibuk mengurusi kamu, dia jadi tidak peduli pada kami lagi!"
Ini kenapa malah jadi curhat deh.
" Jadi intinya, kalian cemburu pada Shintarou?"
" IYA!" teriak mereka bersamaan, jujur.
Dan beberapa orang mulai turut prihatin pada mereka. Benar-benar sinetron.
" Tunggu sebentar, aku ini menjadi kakaknya bukan karena aku mau, tahu!" Midorima akhirnya membetulkan kacamatanya, dan kembali pada sikap cool-nya. Cool sih, tapi sebenarnya dalam hati ia keki juga.
" Kalau begitu, kembalikan Takao pada kami! Dasar tidak becus! Kau pasti berpikir yang tidak – tidak tentang Takao!"
" Ber.. apa? Enak saja!" Midorima merasa mukanya memerah.
" Tunggu, tunggu! Shin-chan, senpai! Tenang duluu!" Takao yang dari tadi diam karena bingung makin panik. Tiba-tiba, dari arah jendela kelas terdengar bunyi keras, dan kemudian suara kaca pecah.
Dan yang sempat dilihat Midorima sebelum sempat berpikir adalah pecahan kaca yang berterbangan kearah gerombolan mereka.
Tubuhnya bergerak secara refleks untuk menghindar.
.
Suasana sangat kacau dengan kejadian itu, untungnya tidak ada yang terluka parah.
" Shin-chan?"
Suara Takao menyadarkan Midorima, yang otaknya masih belum bisa bekerja karena keributan mendadak tersebut.
" Eh?"
Rupanya, tadi ia refleks menghindar, namun juga sekaligus menyelamatkan Takao dengan cara mendorongnya jatuh (dan sekarang menindihnya). Yah, posisi mereka sangat ambiguay sekarang, tapi yang ada dipikiran Midorima adalah, kenapa ia bisa refleks melindungi Takao begitu?
Midorima bahkan belum mau mengakuinya sebagai adik angkatnya!
" Eh.. euh.. jangan salah paham, ya!" Midorima langsung mendorong Takao untuk menjauh darinya, dengan gaya tsunderenya.
" Shin-chan! Tanganmu berdarah!" tapi rupanya Takao malah merangkak mendekat lagi, penuh kekhawatiran melihat tangan kanan Midorima yang sedikir tergores.
" Eh? Oh, tadi kayaknya kegores kaki meja.."
Midorima berhenti melanjutkan kalimatnya saat melihat ekspresi Takao yang penuh kesedihan.
" Maaf.. gara – gara menolongku, kau jadi terluka begini.."
Tolong jangan tatap aku dengan mata berkaca – kaca seperti itu!
Kau jadi terlihat makin imu..uhuk, bukan, bukan. Aku yang malah terlihat seperti yang melakukan sesuatu padamu kan.
" Huh.. ini bukan apa – apa nanodayo, yang lebih penting, jangan pegang – pegang tanganku seperti ini!"
" Tapi lukamu harus cepat diobati sebelum infeksi, Shin-chan!"
" ..baik-baik saja.."
"Eh?"
"Kau sendiri.. baik – baik saja? Tidak terluka? Bu-bukannya aku khawatir loh! Aku Cuma tidak mau lebih direpotkan olehmu saja!"
Kali ini, mendengar ketsunderean Midorima, Takao tersenyum lembut. Ia mengulurkan tangannya kedepan, dan mengelus – elus rambut hijau Midorima. Untungnya posisi mereka masih terduduk, jadi walaupun Takao jauh lebih pendek dari Midorima, tangannya bisa mencapai kepala Midorima.
" Iya, aku nggak apa – apa kok. Makasih ya, Shin-chan, sudah melindungiku"
Ukh. Sepertinya Midorima terkena critical hit dari serangan adik moe Takao. Disaat seperti ini, yang bisa Midorima lakukan hanyalah pasrah ( dan menikmati belaian Takao di kepalanya)
Dan mereka pun sibuk didalam dunia mereka sendiri.. tanpa menghiraukan keadaan sekitar mereka yang sekarang sudah lepas dari kepanikan dan asyik menonton.
" Eehhh.. aku datang untuk mengambil bola, tapi ada apa ini.." seorang siswa berambut abu – abu muncul dari jendela, dan melongo melihat pemandangan ala sinetron yang terjadi di kelas tersebut.
" Haizaki! Jadi ini ulahmu ya! Kalau nendang bola lihat-lihat dong! Jendelanya sampai pecah kan!" Kise yang menyadari kehadiran Haizaki langsung mengomel, walau matanya masih fokus pada pemandangan indah kasih sayang kakak beradik yang tengah terjadi ditengah kelas.
" Euhh.. sori, sori, yah tapi toh ini Cuma kecelakaan kan? Haha, aku menendang bola terlalu keras saat bermain tadi"
" Kau sama sekali tidak merasa bersalah ya.."
" Heiiiii Haizaki! Kau bikin ulah lagi ya! Kali ini tidak ada ampun!" tampak beberapa guru mulai berdatangan mendengar keriuhan dikelas tersebut.
" Ups, gawat," dan Haizaki pun langsung kabur dengan profesionalnya. Maklum, dia merupakan anak nakal yang sudah langganan jadi omelan guru di sekolah itu.
Setelah Haizaki kabur dan para guru pergi mengejarnya, kondisi kelas kembali kondusif. Beberapa sudah mulai merapikan kembali bangku dan meja yang tadi berantakan. Beberapa masih menonton Midorima dan Takao yang masih asyik berdebat sambil mengeluarkan aura pink, dan bergosip.
Cuma Akashi yang menyadari kepergian rombongan trio Shuutoku yang diam – diam keluar dari kelas tersebut.
" Kalian tidak mau memisahkan mereka? Takao kesayangan kalian sedang asik bermesraan dengan Shin-channya tuh" Akashi tak dapat menahan senyumnya, walaupun ia memunggungi tiga orang yang baru saja melewatinya yang berdiri didekat pintu keluar.
Ootsubo, yang berdiri dipaling depan, tidak menengok. Namun ia menjawab lirih pertanyaan akashi.
" Midorima.. orang yang bisa melindungi Takao. Paling tidak aku percaya itu"
" Hee.." sahut Akashi, senyumnya makin mengembang.
Saat itulah, Miyaji berbalik dan mengacungkan jari telunjuknya kedepan akashi.
" Tapi bukan berarti kami mengakui dia jadi kakak Takao! Hanya saja hari ini kami mengaku kalah! Kalau dia atau kalian berani membuat Takao menangis, kalian akan tahu kibatnya!"
" Tentu saja" Akashi terkekeh, matanya tertuju pada Takao yang sibuk memaksa Midorima untuk pergi ke UKS bersamanya.
" Tapi sepertinya kalian tidak perlu khawatir tentang hal itu"
TBC
Doh OOC Doh Alay hahahhahhahhahahahhahah
Btw, ini bakal ada 5 chapter kayaknya, dan bakal slow update kecuali banyak yang review..
..becanda, makasih buat yang udah review lol
Oh ya chapter berikutnya bakal muncul karakter paling ganteng sejagat Kurobasu, buat yang kangen
