Hai, hai, haiii!

Saya kembali lagi dengan chapter 2 The Cost of Power ! #tebarconfetti

Ada yang nunggu kelanjutan fic ini?

Kalo nggak ada ya udah deh, nggak jadi nge-post chap 2 nya #digampar

Oh, iya, chapter 1 nya plotnya kecepetan dan terlalu maksa ya? Mohon dimaklumi, soalnya ini fic pertama author jadi gaya penulisannya masih amatiran banget.

Untuk chapter 2 ini udah diusahain agak lebih panjang dari yang kemaren, mudah-mudahan plotnya nggak terlalu maksa lagi, ya?

Buat yang udah nge-review, nge-fav, atau nge-follow fic ini, author ucapkan terima kasih banyak. ^^

Oke tanpa banyak basa-basi lagi, ini dia chapter duanya.

Happy Reading ;)

Warning : Gaje, OOC, OC, Typo(s)

Disclaimer : Boboiboy dkk milik Animonsta Studios

Ide cerita ini berasal dari saya sendiri, tapi mungkin sedikit mengambil inspirasi dari beberapa fanfic yang saya baca di fandom ini.

Chapter 2

Boboiboy membuka matanya perlahan dan mengerjap-ngerjap karena silau dengan cahaya yang memaksa masuk ke penglihatannya. Setelah matanya mulai terbiasa dengan cahaya, Boboiboy mendapati dirinya tengah berbaring di sebuah tempat tidur dan keempat sahabatnya memandangnya dengan tatapan cemas.

"Boboiboy?" Ia bisa mendengar Gopal memanggil namanya, namun ia masih bingung mencerna apa yang sedang terjadi.

"Ini dimana?" gumam Boboiboy setelah berhasil menemukan suaranya kembali.

"I-ini di UKS sekolah. Ta-tadi kau pingsan di lapangan, Boboiboy. Kau ingat?" jelas Yaya terbata-bata.

Boboiboy bisa melihat betapa pucat dan khawatirnya wajah Yaya. Dan ia terkejut melihat ada bercak-bercak airmata di pipi Yaya.

Ia memandang wajah sahabatnya satu persatu dan menyadari betapa kacaunya keadaan mereka. Ying terlihat seperti baru selesai menangis dan gadis berkacamata itu masih sedikit terisak-isak. Gopal yang biasanya selalu ceria, kini terlihat pucat dan tampangnya terlihat seperti ia akan menangis meraung-raung. Fang pun tak kalah pucatnya, tampangnya seperti ia baru saja menyaksikan kematian seseorang.

"A-apa yang terjadi? Kenapa kalian terlihat kacau sekali?" tanya Boboiboy heran.

Teman-temannya hanya saling berpandangan namun tidak menjawab pertanyaannya. Akhirnya Ying memecah kebisuan dengan menjawab pertanyaan Boboiboy.

"Ka-kau..ta-tadi kau tiba-tiba terjatuh dan …" kata Ying dengan suara yang bergetar.

"Ka-kami pikir kau akan mati …" akhirnya tangis Ying pun pecah. Yaya langsung memeluk sahabatnya itu dan berusaha menenangkannya.

"Mati?" tanya Boboiboy kaget.

"Tapi apa …" kata-katanya terputus saat ingatan tentang kejadian tadi menghantamnya.

Suara dingin yang berbisik di telinganya, dan juga jantungnya yang seolah-olah terbakar. Boboiboy menggigil. Ia masih bisa mendengar suara itu dengan sangat jelas. 'Waktumu hampir tiba. Bersiaplah.' Boboiboy memejamkan matanya untuk mengusir suara itu dari pikirannya.

"Boboiboy? Boboiboy?!" Gopal mengguncang-guncang tubuh Boboiboy dan mengembalikannya ke alam nyata.

"A-apa?" tanya Boboiboy kaget. Semua sahabatnya memandangnya khawatir.

"Oh, aku baik-baik saja. Jangan khawatir," kata Boboiboy. Ia berusaha memasang wajah ceria agar teman-temannya tidak tambah cemas.

"Sungguh?" tanya Yaya tidak yakin.

"Tentu saja. Kalian pikir aku ini siapa? Aku kan Boboiboy. Cowok paling kece dan populer di sini. Jadi aku pasti akan baik-baik saja," ucap Boboiboy sambil nyengir.

"Enak saja. Aku jauh lebih keren dan populer daripadamu," kata Fang seraya menjitak kepala Boboiboy.

Boboiboy hanya cengengesan. Setelah yakin Boboiboy sudah tidak apa-apa, teman-temannya pun kembali ke kelas dan meninggalkan Boboiboy sendiri untuk beristirahat.

.

.

.

"Apa kau punya riwayat penyakit jantung, Boboiboy?" tanya Dokter Ryan, dokter UKS yang memeriksa Boboiboy.

"Seingat saya tidak, dokter," jawab Boboiboy.

"Benarkah?Tapi kejadian seperti ini tidak bisa dianggap remeh, Boboiboy. Sebaiknya kau memeriksakan dirimu ke rumah sakit. Mungkin saja ini gejala suatu penyakit serius," saran dokter Ryan.

"Baik,dokter," kata Boboiboy.

"Hmm,denyut nadi dan suhu tubuhmu sudah kembali normal. Lebih baik kau segera pulang,Boboiboy. Beristirahatlah. Jangan keluyuran kemana-mana," pesan dokter Ryan sambil membereskan alat-alat yang digunakannya untuk memeriksa Boboiboy.

"Oke. Terima kasih banyak, dokter," ucap Boboiboy.

"Ya, sama-sama."

Setelah itu Boboiboy pun berjalan keluar dari UKS untuk mengambil tasnya di kelas. Saat tangannya baru akan menyentuh gagang pintu, pintu sudah terbuka duluan dan memperlihatkan sosok gadis berkerudung yang tak lain adalah Yaya.

"Oh, Boboiboy. Kami datang untuk membawakan tasmu," kata Yaya saat melihat Boboiboy.

"Waah, terima kasih," ucap Boboiboy dan ia pun mengambil tasnya dari tangan Gopal.

"Ini kubawakan kopi kaleng kesukaanmu," kata Ying. Ia melemparkan sekaleng kopi yang disambut dengan antusias oleh Boboiboy.

"Dan ini roti isi. Kau pasti lapar kan?" Gopal menyerahkan roti yang dipegangnya kepada Boboiboy.

"Waah, aku jadi terharu. Kalau gini sih, aku mau deh sering-sering sakit biar kalian jadi perhatian gini sama aku," kata Boboiboy dan ia mendapat empat jitakan keras dari sahabat-sahabatnya.

"Dasar bodoh. Awas kalau kau sampai membuat kami khawatir seperti tadi lagi," kata Ying.

"Ehehe, maaf, maaf. Aku kan cuma bercanda," kata Boboiboy sambil mengelus kepalanya yang sakit karena dijitak teman-temannya.

"Umm, makasih ya kalian udah khawatirin aku," gumam Boboiboy agak salah tingkah.

"Iya, sama-sama," kata Yaya lembut.

"Tapi, ingat, kau nggak boleh sakit seperti ini lagi, Boboiboy. Kau membuat kami ketakutan setengah mati, tau!" kata Yaya tiba-tiba berubah galak.

"Iya,iya. Maaf," kata Boboiboy.

"Huhuhu,Boboiboy. Aku benar-benar mencemaskanmu tadi," kata Gopal sambil memeluk Boboiboy hingga membuat pemuda bertopi jingga itu merasa sesak.

"Lepasin, ah, Gopal. Sesak!" ucap Boboiboy dan menarik dirinya lepas dari Gopal.

"Huh,dasar. Kau ini selalu saja menyusahkan orang," kata Fang, yang sedari tadi hanya diam saja, pada Boboiboy. Boboiboy hanya nyengir. Tiba-tiba ia teringat sesuatu.

"Oh,iya! Di lomba lari tadi siapa yang menang?" tanya Boboiboy.

"Ya, jelas aku,lah," kata Fang sambil tersenyum angkuh.

"Ah, sial! Padahal sedikit lagi tadi aku hampir menang," gerutu Boboiboy.

"Huh, kau tak akan pernah bisa mengalahkanku, Boboiboy," ucap Fang sinis.

"Jangan berlagak. Jelas-jelas aku yang lebih hebat daripadamu Fang. Hari ini kau Cuma sedang beruntung saja. Lain kali aku tidak akan kalah!" balas Boboiboy sengit.

"Apa katamu?!"

Ying hanya memutar bola matanya melihat dua manusia ini kembali bertengkar karena hal sepele. Sedangkan Yaya dan Gopal hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah kedua temannya itu.

"Sudah,sudah. Ayo kita pulang," kata Yaya sambil melerai kedua pemuda yang masih terus adu mulut itu.

Boboiboy dan Fang pun berhenti bertengkar dan mengikuti ketiga teman mereka pulang.

"Oh, iya, teman-teman. Umm, tentang kejadian di lapangan tadi, tolong jangan beritahu Tok Aba, ya? Aku tidak ingin membuat Atok khawatir," pinta Boboiboy pada teman-temannya.

Keempat sahabatnya saling berpandangan selama beberapa saat.

"Baiklah. Kami tidak akan memberitahu Tok Aba," kata Yaya akhirnya.

Boboiboy pun mendesah lega dan tersenyum penuh terima kasih pada sahabat-sahabatnya ini. Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan pulang sambil bercakap-cakap riang dan berusaha melupakan semua kekhawatiran dan ketakutan mereka hari ini.

.

.

.

Boboiboy menatap langit-langit kamarnya yang dihiasi dengan miniatur planet-planet di tata surya. Ia berusaha memejamkan matanya dan tidur, namun gagal. Hati dan pikirannya sedang sangat gelisah, sehingga menyulitkannya untuk tidur. Akhirnya setelah berulang kali mencoba tidur dan gagal, Boboiboy memutuskan untuk turun ke dapur dan membuat susu hangat untuk membantunya tidur.

Dengan perlahan Bobiboy turun dari tempat tidurnya dan berjalan keluar tanpa mengeluarkan suara agar tidak membangunkan Ochobot. Ia pun berjalan mengendap-endap ke dapur. Setelah tiba di dapur, Boboiboy mengambil susu yang ada di kulkas dan menuangkannya di panci untuk dipanaskan. Setelah selesai, Boboiboy membawa segelas susu hangatnya dan duduk di meja makan.

Boboiboy hanya menatap gelas yang ada di hadapannya. Pikirannya melayang mengingat kejadian di lapangan sekolah tadi dan juga mimpinya semalam yang akhirnya berhasil diingatnya. Ia juga yakin sosok yang dilihatnya dari jendela di koridor lantai dua merupakan makhluk yang smaa. Sosok berkerudung hitam dan suaranya yang dingin. Juga kata-kata yang diucapkannya, 'Waktumu hampir tiba. Bersiaplah.'

"Siapa sosok hitam itu? Dan apa maksud kata-katanya?" gumam Boboiboy pada dirinya sendiri. "Mungkinkah itu …" Gumaman Boboiboy terputus saat tiba-tiba angin dingin meniup helai-helai rambutnya. Bulu kuduknya meremang. Dan ia pun mendengar sebuah suara yang membuat nafasnya tercekat.

"Aku mengawasimu." Boboiboy terlonjak kaget dan hampir saja menjatuhkan gelas susunya. Ia segera berbalik ke belakang dan menahan nafas saat melihat sosok hitam itu tengah berdiri di pintu dapurnya.

"Si-siapa kau? Apa yang kau inginkan dariku, hah?" tanya Boboiboy berusaha memberanikan diri. Sosok berkerudung itu berdecak kesal.

"Ternyata kau ini benar-benar bodoh, ya?" ucap sosok hitam itu dengan nada kesal. Boboiboy tercengang mendengar perubahan nada suara si sosok misterius itu.

"Masa kau tidak bisa menebak siapa aku?" lanjut sosok itu tanpa mempedulikan ekpresi tercengang Boboiboy.

"Me-memangnya kau siapa?" tanya Boboiboy setelah berhasil menguasai diri kembali.

"Cih. Aku tak menyangka kalau kau sebodoh ini. Padahal kukira kau orang hebat." Boboiboy mulai merasa kesal mendengar perkataan si makhluk hitam di hadapannya ini. Tiba-tiba sebuah sabit panjang telah mucul di tangan sosok hitam itu dan Boboiboy melangkah mundur dengan ngeri.

"Apa dengan ini kau bisa menebak siapa aku?" tanya sosok itu sambil memperlihatkan sabitnya yang berkilau samar.

"Ka-ka-kau … Apa kau Malaikat Pencabut Nyawa?" tanya Boboiboy. Ia benar-benar terlihat ketakutan sekarang.

"Huh, akhirnya kau sadar juga. Ya, aku adalah Malaikat Pencabut Nyawa. Atau kau juga bisa menyebutku Malaikat Kematian," kata sosok yang mengaku sebagai Malaikat Kematian itu.

Boboiboy ternganga. Ia memandang sosok di depannya dengan tatapan tidak percaya.

"Ini pasti halusinasi. Aku pasti sedang bermimpi," pikir Boboiboy.

Ia memejamkan matanya, berharap sosok itu akan menghilang saat ia membuka mata. Ternyata ia masih ada disana. Malah kini ia berjalan medekati Boboiboy.

"Ja-jangan mendekat!Apa yang kau lakukan disini?" Boboiboy berusaha terlihat berani walau sebenarnya ia ingin sekali lari dari sini.

"Tentu saja aku datang untuk mencabut nyawa, bodoh!" jawab Malaikat Kematian dan ia pun menarik salah satu kursi meja makan dan menghempaskan dirinya di kursi.

"Me-mencabut nyawa? Nyawa siapa?" tanya Boboiboy ngeri.

Malaikat Kematian itu menghembuskan nafas kesal.

"Siapa lagi kalau bukan kau?!" kata Malaikat Kematian ketus. Boboiboy mematung mendengar jawaban itu.

"Nya-nyawaku? Ta-tapi … Tidak! Aku tidak mau mati! Aku belum siap mati!" seru Boboiboy panik.

Malaikat itu mendesah pelan.

"Aku tidak akan mengambil nyawamu malam ini. Duduklah. Aku ingin menjelaskan beberapa hal padamu," katanya pelan.

"Tidak! Pasti kalau aku mendekat kau akan membunuhku!"

"Kan sudah kubilang aku tidak akan mengambil nyawamu sekarang! Duduklah sebelum aku kehilangan kesabaran!" Boboiboy mengkerut ketakutan dan akhirnya ia pun duduk di kursi yang berhadapan dengan sang Malaikat Kematian.

"Baiklah. Aku akan menjelaskan semuanya padamu. Dengarkan dan ingat setiap kata-kata yang akan kuucapkan," kata Malaikat itu.

"Umm,maaf, tapi, bisakah kau membuka penutup kepalamu itu? Rasanya aneh berbicara dengan seseorang tanpa memandang wajahnya," kata Boboiboy takut-takut.

"Baiklah." Malaikat Kematian itu membuka penutup kepalanya. Boboiboy ternganga melihat tampang sang Malaikat Kematian. Awalnya ia membayangkan Malaikat Kematian itu sebagai sosok seorang lelaki yang pemarah dan mengerikan. Namun yang ada di hadapannya kini adalah seorang wanita cantik dengan rambut coklat ikal dan Boboiboy menaksir umurnya sekitar 17 atau 18 tahun.

"Kau-kau seorang wanita?" tanya Boboiboy kaget.

"Memangnya kenapa kalau aku wanita?" balas Malaikat Kematian itu sambil mendelik pada Boboiboy.

"Umm, tidak. Aku hanya mengira…"

"Sudahlah, aku tak punya banyak waktu. Dengarkan aku baik-baik." kata wanita itu. Boboiboy memasang telinganya tajam-tajam dan mendengarkan dengan seksama apa yang disampaikan wanita itu.

"Umurmu sudah tidak lama lagi. Sebentar lagi, aku tidak bisa mengatakan dengan pasti kapan waktunya akan tiba, karena itu semua tergantung pada dirimu sendiri." Malaikat kematian itu mengawali penjelasannya dengan kata-kata yang membuat Boboiboy shock setengah mati.

"Tapi, kenapa? Aku masih 15 tahun! Aku juga tidak mengidap penyakit parah!" protes Boboiboy.

"Kematian bisa datang kapan saja, bodoh! Kematian tidak mengenal tempat dan usia," kata Malaikat itu dan Boboiboy hanya bisa terdiam.

"Tapi untuk kasusmu ini, kematianmu disebabkan oleh kekuatan yang kau miliki."

"Kekuatan yang kumiliki?Tapi bagaimana bisa ..."

"Jangan memotong ucapanku! Dengarkan penjelasanku baik-baik atau akan kucabut nyawamu sekarang juga!" Boboiboy menutup mulutnya rapat-rapat.

"Kekuatan yang ada pada dirimu itu terlalu besar dan kuat untuk dimiliki oleh seorang manusia, apalagi bocah sepertimu. Aku sudah mengawasimu sejak pertama kali kau mendapatkan kekuatan itu. Aku heran kau bisa bertahan sampai sejauh ini. Seharusnya kekuatan itu sudah menghancurkan tubuhmu dari dulu. Tapi ternyata kau tidak selemah yang kuduga. Kau bisa bertahan walaupun kau sering menggunakan kekuatan itu. Tapi itu tidak akan bertahan lama lagi. Tubuhmu mulai lelah menahan kekuatan itu. Dan sebentar lagi akhirnya tubuhmu akan kalah dan hancur karena kekuatan yang kau miliki. Singkatnya tak lama lagi kau akan mati," jelas sang Malaikat kematian panjang lebar.

Perasaan Boboiboy bercampur aduk mendengar semua itu. Marah, sedih, takut, tak percaya, semuanya bercampur aduk hingga membuatnya pusing. Matanya bertatapan dengan mata sang Malaikat kematian. Ekspresi yang ada pada wajah Malaikat itu sulit ditebak.

"Ja-jadi, sebentar lagi aku akan mati?" tanya Boboiboy. Ia masih tidak percaya dengan semua ini dan berharap ini hanyalah salah satu mimpi buruknya saja.

"Ya," jawab Malaikat kematian.

"Kapan? Berapa lama lagi waktu yang kumiliki?"

"Itu semua tergantung padamu. Semakin sering kau menggunakan kekuatanmu, semakin cepat waktu kematianmu akan tiba."

"Berarti, kalau aku tidak menggunakan kekuatanku, apa aku tidak akan mati?"

"Tidak juga. Sudah kubilang, kekuatan itu menghancurkan tubuhmu perlahan-lahan dari dalam. Memiliki kekuatan itu saja sudah bisa membuatmu kehilangan nyawa. Jadi, jika kau tidak menggunakannya pun hanya sedikit bisa menunda ajalmu."

"Kenapa? Apa aku ini lemah sampai tidak bisa menahan kekuatan itu?"

"Kau tidak lemah. Justru kau orang yang sangat hebat karena bisa menahan kekuatan ini dalam waktu yang cukup lama. Kalau orang lain mungkin akan langsung mati saat menerima kekuatan seperti itu."

"Bagaimana dengan teman-temanku? Apa mereka akan mati juga?"

"Yah, sebenarnya tidak. Mungkin kau sadar hanya saja kau tidak mengakuinya, tapi kekuatan yang kau miliki adalah yang paling kompleks dan rumit di antara teman-temanmu kan? Kau bisa menggunakan kekuatan elemen-elemen yang ada di bumi dan kau juga bisa berpecah menjadi tiga. Jadi ya wajar saja nyawamu lebih terancam dibandingkan mereka."

Boboiboy bisa merasakan matanya memanas. Hatinya hancur. Ia akan segera mati. Ia akan meninggalkan dunia dan tak akan bisa lagi bertemu Tok Aba, juga Ochobot dan teman-temannya. Tanpa bisa dicegah, bulir-bulir bening jatuh membasahi pipinya.

Boboiboy sudah lama tidak menangis. Sejak Ochobot memberinya kekuatan dan ia menjadi superhero, Boboiboy selalu menahan diri agar tidak menangis. Ia harus kuat dan tidak boleh cengeng. Karena ia adalah superhero yang dibutuhkan oleh orang banyak.

Walaupun terkadang ia ingin sekali berhenti berpura-pura kuat dan tegar, namun ia selalu meyakinkan dirinya bahwa ia sanggup mengemban tugasnya sebagai seorang pahlawan.

Tapi kini seorang malaikat kematian datang dan memberitahunya ia akan segera mati. Ia tidak akan bisa menolong orang lagi. Dan ia harus meninggalkan semua orang yang disayanginya. Kenyataan macam apa ini? Apa salahnya hingga ia harus menerima semua ini?

Malaikat Kematian itu hanya memandang pemuda di hadapannya ini dengan tatapan iba. Ia sedikit merasa bersalah karena memberitahu anak ini tentang kebenaran pahit ini. Tapi ia ingin sekali memperingatkan pemuda yang selalu berpura-pura tegar dan kuat ini. Agar ia bisa menjalani sisa-sisa kehidupannya dengan sebaik mungkin. Jujur saja, ia selalu mengawasi pemuda yang suka mengenakan topi jingga ini dan kagum dengan kekuatan dan keteguhan hati yang dimiliki pemuda ini. Karena itulah ia memutuskan untuk memberi peringatan sebelum mencabut nyawa pemuda bernama Boboiboy ini.

"Baiklah. Aku harus pergi." Akhirnya setelah keheningan panjang, sang Malaikat Wanita itu memutuskan untuk pergi karena tidak tahan melihat Boboiboy terus meratapi nasibnya.

"Tunggu dulu. Bolehkah aku bertanya satu hal lagi?" pinta Boboiboy sambil menghapus air matanya.

"Ya. Silakan."

"Kenapa kau memberitahuku semua ini? Apa malaikat kematian selalu memberi penjelasan sebelum mencabut nyawa seseorang?" tanya Boboiboy.

Malaikat itu hanya terdiam mendengar pertanyaan Boboiboy.

"Tidak. Malaikat biasanya tidak memberikan penjelasan atau peringatan apapun sebelum mencabut nyawa seseorang," jawab sang Malaikat setelah terdiam beberapa saat.

"Kalau begitu kenapa kau memperingatkanku?"

"Karena aku mengagumimu," katanya singkat dan setelah itu ia pun menghilang meninggalkan Boboiboy yang tertegun.

.

.

.

TBC

Yeeei! Akhirnya Chapter 2 nya selesai!

Absurd bin abal-abal banget ya?

Nggak tau deh kenapa tiba-tiba bisa kepikiran untuk buat fic kayak gini #merenungdipojokan.

Oh iya, jadi karakter Malaikat Kematian itu author dapat inspirasinya dari drama korea High School Love On.

Penampakan fisiknya sih, kira-kira sama. Cuma sifatnya aja yang beda.

Jadi, terima kasih buat yang udah menyempatkan diri membaca fic ini.

Kalau ada kritik dan saran, silakan sampaikan di kotak review ^^