Alohaa~

Saya kembali lagi dengan membawa chapter 3 !

Uwaa senang banget rasanya ada yang suka sama fic ini .

Terima kasih banyak untuk yang udah nge-review.

Review anda sangat berarti untuk saya ;)

Oke, jadi ini dia kelanjutannya.

Selamat membaca ^^

Warning : Gaje, OOC, OC, Typo(s)

Disclaimer : Boboiboy dkk milik Animonsta Studios

Ide cerita ini berasal dari saya sendiri, tapi mungkin sedikit mengambil inspirasi dari beberapa fanfic yang saya baca di fandom ini.

Chapter 3

Keesokan paginya Boboiboy terbangun dengan perasaan kacau. Ia hanya duduk di tempat tidurnya memandang kosong ke dinding kamarnya yang bercat biru tua dan berharap apa yang didengarnya semalam hanyalah sebuah mimpi. Tapi ia tau, itu semua bukan mimpi. Itu adalah kenyataan pahit yang harus diterimanya. Boboiboy menenggelamkan kepalanya ke lututnya dan mengacak-acak rambutnya frustasi.

"Boboiboy? Kau sudah bangun?" terdengar suara Tok Aba yang mengetuk pintu kamar Boboiboy perlahan.

"Ya, Tok. Boboiboy sudah bangun," kata Boboiboy berusaha menenangkan diri.

"Cepatlah bersiap-siap dan turun untuk sarapan. Nanti kau terlambat ke sekolah," kata Tok Aba lagi.

"Baik, Tok," jawab Boboiboy.

Boboiboy menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan diri dan akhirnya ia turun dari tempat tidur untuk bersiap-siap ke sekolah.

.

.

.

"Ochobot kemana, Tok?" tanya Boboiboy sambil mengunyah nasi gorengnya.

"Oh, Ochobot sudah atok suruh pergi mempersiapkan kedai," jawab Tok Aba. Boboiboy hanya mengangguk-angguk dan melanjutkan menyantap nasi goreng.

"Oh iya, Tok. Gimana kalau hari Minggu ini kita jalan-jalan?" kata Boboiboy pada Atoknya yang juga tengah menyantap nasi goreng.

"Jalan-jalan kemana?" tanya Tok Aba heran. Tumben-tumbenan Boboiboy mengajaknya pergi.

"Hmm, gimana kalau ke pantai?" usul Boboiboy.

"Pantai?"

"Iya, Tok. Kan sudah lama kita tidak ke pantai. Ayolah, Tok …" pinta Boboiboy sambil memasang wajah memelas.

"Tapi kasihan pelanggan kedai atok kalau atok tutup kedai hari Minggu."

"Ah, atok. Masa lebih sayang sama pelanggan atok daripada cucu atok sendiri," kata Boboiboy cemberut.

"Iya deh, iya. Hari Minggu nanti kita ke pantai," ucap tok Aba mengalah pada cucu kesayangannya ini.

"Serius, Tok? Yei, atok memang atok yang terbaik!" kata Boboiboy sambil mengacungkan jempolnya.

"Sudah,sudah. Cepat habiskan sarapanmu. Nanti kau telat ke sekolah," kata Tok Aba.

"Baik, Tok."

Setelah menghabiskan sepiring nasi goreng dan telur mata sapi, Boboiboy segera meminum habis susu yang telah disiapkan Tok Aba untuknya.

"Atok, Boboiboy berangkat sekolah dulu," pamit Boboiboy pada atoknya.

"Iya. Hati-hati di jalan. Belajar yang rajin di sekolah. Ingat, jangan nakal," pesan Tok Aba.

"Iya, Tok. Assalamualaikum," Boboiboy pun mencium tangan Tok Aba dan segera berlari keluar.

"Waalaikumsalam." Tok Aba memandang kepergian cucunya dengan sedikit was-was. Entah kenapa tiba-tiba perasaannya jadi tidak enak. Rasanya seperti akan ada sesuatu yang buruk yang akan terjadi. Tetapi Tok Aba segera menyingkirkan perasaan itu dan bersiap-siap berangkat ke kedai kokonya.

.

.

.

Sepulang sekolah, seperti biasanya, Boboiboy pulang bersama teman-temannya, Ying, Yaya, Gopal, dan Fang. Tapi tidak seperti biasanya, Boboiboy hari ini menjadi pendiam dan murung sehingga membuat teman-temannya heran.

"Hei, Boboiboy. Kenapa hari ini kau pendiam sekali?" tanya Gopal.

"Yaloh, sejak pagi kau murung terus. Apa kau punya masalah?" Ying pun ikut menanyai Boboiboy.

"Ayolah, Boboiboy. Kalau kau punya masalah, kau bisa menceritakannya pada kami," kata Yaya.

"Ah, aku tidak apa-apa, kok," ucap Boboiboy sambil memasang senyum cerianya. Teman-temannya menatapnya curiga, mereka tau Boboiboy tengah menyembunyikan sesuatu.

"Kau yakin? Kalau kau memang punya masalah ceritakanlah pada kami, siapa tau kami bisa membantu," kata Yaya lagi.

"Tenang saja. Aku sedang tidak punya masalah apapun kok. Aku hanya sedikit tidak enak badan," dusta Boboiboy.

"Baiklah kalau begitu," Yaya akhirnya menyerah.

Saat itu, tiba-tiba tanah yang mereka pijak bergetar. Gopal langsung menjerit panik.

"Gempa bumi! Lari!" teriak Gopal smabil menyeret teman-temannya untuk menyelamatkan diri. Tiba-tiba di hadapan mereka muncul seekor banteng raksasa. Namun itu bukanlah banteng biasa, tubuh banteng itu terbuat dari besi-besi rongsokan. Kabel-kabel listrik mencuat dari beberapa celah di tubuhnya. Banteng itu mendengus dan menatap bengis pada Boboiboy dan teman-temannya.

"Ini pasti kerjaan si alien kepala kotak itu," kata Ying geram.

"Bagaimana ini? Bagaimana kita bisa mengalahkan banteng mengerikan itu?" ucap Gopal ngeri sambil bersembunyi di balik tubuh Boboiboy.

"Tenang. Biar kuhadapi." Boboiboy bersiap mengeluarkan keris petirnya, saat tiba-tiba ia mendengar suara bisikan di telinganya.

"Jangan gunakan kekuatanmu, bodoh. Kau bisa mati!" bisik sang Malaikat Kematian. Boboiboy tertegun dan saat itulah banteng besi yang melihat Boboiboy sedang lengah langsung menghantam Boboiboy dengan tanduknya hingga menyebabkan Boboiboy terhempas dan tubuhnya menabrak tiang listrik.

"Boboiboy!" seru Ying dan Yaya. Mereka segera menghampiri Boboiboy yang tergeletak tak bergerak di aspal.

"Huh, biar aku yang menghadapi banteng itu," kata Fang. Tangannya bergerak menciptakan sebuah bentuk bayangan di tanah.

"Harimau bayang!" seru Fang. Harimau bayang pun muncul dari bayangan yang terbentuk dari tangan Fang.

"Harimau bayang, serang banteng itu!" perintah Fang. Harimau bayang itu mengaum dan menyerbu ke arah banteng rongsokan itu. Banteng itu pun langsung menyeruduk harimau bayang dengan secepat kilat hingga harimau itupun terhempas dan melebur kembali menjadi bayangan tak berbentuk dan menghilang.

"Ck!" Fang berdecak dan bersiap membentuk bayangan baru. Namun tiba-tiba saja banteng itu sudah berdiri di hadapannya. Fang yang tidak sempat menghindar, harus merasakan sakitnya diseruduk banteng. Apalagi ternyata tanduk banteng itu bisa mengalirkan listrik sehingga membuat Fang tersetrum.

"Fang!" Gopal berlari ke arahnya. Fang berusaha bangkit, namun sekujur tubuhnya mati rasa akibat setruman listrik dari banteng itu.

"Sial! Tubuhku mati rasa," ucap Fang kesal.

"Tak apa Fang. Serahkan saja padaku," kata Gopal mencoba terdengar berani. Ia kemudian berbalik untuk menghadapi banteng yang mendengus marah ke arahnya.

Gopal menelan ludah. Ia menekan kuat-kuat keinginannya untuk kabur dari sini. Saat ini teman-temannya membutuhkannya, maka ia tidak boleh lari. Gopal hanya berharap Ying dan Yaya bisa segera membantunya. Pemuda berjaket hijau itu menarik nafas dalam-dalam dan bersiap mengeluarkan kekuatannya.

"Kuasa tukaran makanan!" seru Gopal sambil mengarahkan tangannya ke banteng itu.

Sayangnya serangan Gopal meleset. Walaupun tubuhnya besar, namun banteng itu bisa bergerak sangat cepat. Gopal berkali-kali berusaha membidikkan serangannya dengan tepat, namun selalu gagal. Alhasil kini di sekitar mereka banyak bertebaran makanan berbagai jenis hasil dari serangan Gopal yang meleset.

Gopal mulai kelelahan dan serangannya semakin meleset jauh dari targetnya. Banteng itu segera mengambil kesempatan saat Gopal mulai kehabisan tenaga. Dengan satu serangan, Gopal pun bernasib sama seperti Fang. Tubuhnya kelelahan dan juga mati rasa karena sengatan listrik dari tanduk banteng itu.

Yaya dan Ying yang sedari tadi berusaha menyadarkan Boboiboy yang pingsan, akhirnya sadar dengan keadaan kedua teman mereka yang lain, Fang dan Gopal. Mereka segera berlari membantu kedua pemuda yang terkapar di tanah dengan tubuh penuh luka itu.

"Kalian tidak apa-apa?" tanya Yaya khawatir.

"Menurutmu bagaimana?" Fang balik bertanya dengan nada sarkastis.

"Huhuhu. Tubuhku mati rasa. Aku tidak bisa bergerak," keluh Gopal.

"Dasar banteng jelek! Beraninya kau melukai teman-teman kami! Yaya, bersiaplah! Ayo kita hajar banteng rongsokan itu!" seru Ying. Yaya mengangguk. Mereka segera mengambil ancang-ancang untuk melancarkan serangan kombo Y & Y mereka.

"Terima ini banteng jelek! Serangan laju dan padu!" Yaya mengumpulkan energi gravitasi di kaki Ying dan kemudian melepaskannya. Ying pun melaju secepat kilat dan menghantam banteng itu tepat di wajahnya.

"Rasakan ini, seribu tendangan laju!" Ying menendang kepala banteng itu dengan cepat dan bertubi-tubi. Banteng itu terhempas ke belakang karena serangan Ying. Wajah sang banteng kini menjadi tidak karuan. Banyak bekas penyok hasil tendangan Ying, dan juga salah satu tanduk di kepalanya telah patah.

Namun banteng itu segera bangkit lagi. Ia menatap Ying dengan pandangan marah. Hidungnya yang mendengus sampai mengeluarkan asap, menandakan betapa marahnya ia. Saat banteng itu bersiap menyerang Ying, tiba-tiba ia telah terpental kembali karena Yaya tanpa terduga melayangkan pukulan mautnya ke tubuh sang banteng dari samping.

"Huh, rasakan akibat menyakiti teman-teman kami," kata Yaya.

"Yei, kita berhasil Yaya!" seru Ying gembira. Kedua gadis itu pun ber high five.

Tapi ternyata banteng itu masih belum menyerah. Walaupun tubuhnya telah penyok disana sini, namun banteng yang kini hanya memiliki satu tanduk itu masih memiliki kekuatan untuk menyerang Ying dan Yaya.

Kedua gadis itu berhasil menghindar tepat waktu, namun tanduk yang mengaliri listrik itu berhasil menyerempet lengan Yaya. Gadis berkerudung itu bisa merasakan lengannya nyut-nyutan. Tapi untunglah ia masih bisa menggerakkannya.

"Kau tidak apa-apa, Yaya?" tanya Ying yang telah muncul di sebelahnya khawatir.

"Ya, aku tidak… Awas, Ying!" Untunglah Yaya memperingatkan Ying tepat waktu, kalau tidak gadis berkacamata yang memiliki logat cina itu pasti sudah gepeng sekarang.

Belum sempat Ying dan Yaya menghembuskan nafas lega, banteng itu kembali menyerang mereka. Kali ini banteng itu menyerang dengan membabi buta. Ying dan Yaya mulai kewalahan menghindari serangan banteng itu yang semakin ganas. Mereka berusaha mencari celah untuk menyerang, namun sayangnya mereka sudah terlalu sibuk menghindar sehingga tidak bisa melancarkan serangan.

Sayangnya walaupun sejauh ini masih bisa menghindar, Yaya mulai kehabisan tenaga. Ia sudah kehilangan fokusnya dan akhirnya ia tersandung batu saat berusaha menghindar dari serudukan banteng itu. Yaya jatuh ke tanah dengan cukup keras, dan ia bisa merasakan sakit di lututnya.

Yaya tak sempat mengkhawatirkan lututnya yang sakit, karena saat itu banteng yang sangat marah itu telah mengambil ancang-ancang dan berlari cepat ke arah Yaya sambil memperlihatkan tanduknya yang hanya tersisa satu.

"Yaya, lari!" seru Ying panik.

Yaya sudah tidak sanggup menghindar. Ia hanya memejamkan matanya rapat-rapat dan bersiap menghadapi rasa sakit.

"Keris petir!" seru sebuah suara yang familiar di telinga Yaya. Yaya membuka matanya perlahan dan melihat banteng itu tersetrum oleh bebrapa keris petir yang menancap di tubuhnya. Yaya segera berpaling dan melihat Boboiboy tengah berdiri dengan susah payah.

Pemuda yang mengenakan topi dan jaket jingga itu terlihat cukup menyedihkan. Kepalanya yang terbentur dengan tiang listrik tadi mengalirkan darah segar yang turun perlahan ke pipinya. Ia terlihat kesulitan bernafas, tangannya memegangi rusuknya dan terlihat sekali bahwa ia sedang menahan sakit. Namun mata coklat pemuda bernama Boboiboy itu berkilat marah. Ia menatap banteng yang telah ambruk karena keris petirnya itu dengan tatapan siap membunuh.

"Bersiaplah sapi rongsokan jelek! Rasakan akibatnya karena berani melukai teman-temanku!" seru Boboiboy marah.

"Boboiboy kuasa tiga!" Boboiboy menggunakan kekuatan terkuatnya dan berpecah menjadi Halilintar, Taufan, dan Gempa.

Banteng yang telah babak belur itu ternyata masih bisa bangkit. Dengan mendengus marah, ia bergerak ke arah tiga elemental Boboiboy sambil bersiap menyeruduk. Ketiga elemental Boboiboy pun menerjang ke arah banteng itu sambil mengeluarkan jurus mereka masing-masing.

"Pedang halilintar!" seru Halilintar sambil mengeluarkan pedang merahnya dan segera menghajar banteng itu dengan bertubi-tubi.

"Gerudi taufan!" Taufan pun ikut menyerang dengan kekuatan anginnya.

"Golem tanah!" Yang terakhir adalah Gempa yang mnegeluarkan golem tanahnya dan langsung meremukkan banteng itu hingga hancur berkeping-keping.

Setelah berhasil mengalahkan banteng itu, elemental Boboiboy kembali bersatu menjadi Boboiboy yang biasa, yang mengenakan topi jingga terbalik dan juga hoodie jingga.

"Hhh,hh,rasakan itu!" kata Boboiboy pelan. Nafasnya terasa berat, kepalanya terasa berputar-putar, dan matanya juga berkunang-kunang. Ia berlutut di aspal dan berusaha mengatur nafasnya.

Ying, Yaya, juga Fang dan Gopal yang telah pulih dari serangan banteng itu segera menghampiri Boboiboy yang terlihat seperti mau pingsan.

"Kau baik-baik saja Boboiboy?" tanya Gopal cemas.

"Kau ini bodoh,ya? Kau tidak lihat tampangnya seperti apa? Dan kau bertanya apa dia baik-baik saja?" Lagi-lagi Fang berkomentar dengan sinis.

"Hh,hh, aku baik-baik sa … uhuk, uhuk …" Tiba-tiba Boboiboy terbatuk-batuk hebat dan yang lebih mengejutkan lagi batuknya mengeluarkan darah.

"Boboiboy! Batukmu berdarah! Kau harus ke rumah sakit! Cepat panggil ambulan!" seru Gopal panik.

"Tidak, jangan! Aku tidak apa-apa," ucap Boboiboy sambil menyeka darah dari mulutnya.

"Tapi, Boboiboy …" Yaya berusaha memprotes namun kata-katanya dipotong oleh Boboiboy.

"Tolong bantu aku berdiri. Aku harus segera pulang, kalau tidak Tok Aba akan khawatir," pinta Boboiboy.

"Baiklah. Kami akan memapahmu dan mengantarkanmu pulang," kata Ying. Boboiboy tidak punya cukup tenaga lagi untuk memprotes. Maka ia pun membiarkan Fang dan Gopal memapahnya karena ia benar-benar tidak sanggup berjalan lagi. Sementara Yaya dan Ying yang membawakan tas Boboiboy berjalan mengikuti mereka di belakang.

.

.

.

Saat tiba di rumah, Boboiboy disambut dengan seruan panik dan khawatir dari Tok Aba dan Ochobot yang melihatnya pulang dengan dipapah oleh Fang dan Gopal. Boboiboy sudah tidak punya tenaga untuk menjelaskan pada mereka, karena itu Yaya lah yang akhirnya menjelaskan semua kejadiannya pada Tok Aba dan Ochobot.

Setelah mendengarkan penjelasan Yaya, Tok Aba pun meminta Gopal dan Fang utnuk membawa Boboiboy ke kamarnya.

"Gopal, Fang, bisa tolong antarkan Boboiboy ke kamarnya?" pinta Tok Aba.

"Baik, tok."

Boboiboy pun kembali dipapah oleh Gopal dan Fang naik ke kamarnya. Tok Aba, Ying, Yaya, dan juga Ochobot mengikuti mereka. Setelah itu mereka membantu Boboiboy berbaring di tempat tidurnya.

Tok Aba menyuruh Ochobot mengambil kotak P3K. Setelah itu Tok Aba membersihkan luka di dahi Boboiboy dan membalutnya dengan perban. Setelah memastikan lukanya sudah tertutup, Tok Aba menyuruh Boboiboy istirahat dan tidur.

"Selamat beristirahat, Boboiboy," kata Yaya.

"Cepat sembuh, ya," lanjut Ying.

"Terima kasih teman-teman," balas Boboiboy lirih.

"Kalau kau perlu apa-apa, panggil saja atok ya, Boboiboy. Atok ada di bawah dengan Ochobot," kata Tok Aba sambil menyelimuti Boboiboy dan mengusap rambut cucunya itu pelan.

"Oke, Tok," kata Boboiboy. Mereka pun meninggalkan Boboiboy sendirian untuk beristirahat.

Boboiboy merasa benar-benar tidak karuan sekarang. Kepalanya tidak berhenti berputar dan tubuhnya menggigil kedinginan padahal udara saat ini cukup hangat. Boboiboy menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya sampai ke bagian bawah dagunya dan meringkuk kedinginan.

Tiba-tiba muncul bayangan hitam di samping tempat tidurnya. Bayangan itu semakin besar hingga akhirnya membentuk sesosok wanita yang mengenakan jubah hitam panjang dan sedang menatap marah pada Boboiboy.

"Kau mengabaikan peringatanku! Kau kira mudah bagiku untuk memberikan peringatan pada seorang manusia yang akan kucabut nyawanya? Kau tak tau kesulitan apa yang harus kuhadapi karena nekat memperlihatkan diriku dan memberi peringatan padamu!" kata sang malaikat kematian dengan marah.

"Maafkan aku," ucap Boboiboy pelan.

"Aku tidak bisa diam saja dan membiarkan teman-temanku terluka di depan mataku."lanjut Boboiboy.

Malaikat kematian itu hanya menghela nafas kesal.

"Oh ya, apa kau punya nama?" tanya Boboiboy tiba-tiba. "Aku tidak tau harus memanggilmu apa. Kalau kupanggil 'Malaikat Kematian' rasaya terlalu aneh," kata Boboiboy masih sambil meringkuk di balik selimutnya.

"Livey," kata malaikat itu singkat.

"Apa?"

"Kau bisa memanggilku Livey."

"Livey? Nama yang aneh," kata Boboiboy.

"Namamu sendiri juga aneh. Boboiboy, huh," ucap Livey sambil mendengus.

"Iya juga, ya." Boboiboy hanya tertawa pelan.

Setelah itu mereka terdiam cukup lama. Boboiboy merasa agak baikan karena kepalanya sudah berhenti berputar, dan tubuhnya juga sudah berhenti menggigil.

Malaikat Kematian, atau Livey, terus memandangi Boboiboy dengan ekspresi yang sulit ditebak. Antara iba dan juga sedih. Boboiboy lama-lama merasa agak risih dengan tatapannya.

"Kenapa kau menatapku seperti itu? Ada yang salah denganku?" tanya Boboiboy.

Livey menghela nafas pelan. Ia mengalihkan pandangannya ke pigura di samping tempat tidur Boboiboy. Pigura itu berisi foto Boboiboy dan sahabat-sahabatnya yang tersenyum bahagia di hari kelulusan mereka saat SMP. Livey kembali menghela nafas, membuat Boboiboy kebingungan.

"Aku harus memberitahumu sesuatu," kata Livey akhirnya.

"Memberitahu apa?" tanya Boboiboy penasaran. Ia bangkit dari tempat tidurnya dan memandang Livey.

"Kau yakin kau sanggup mendengarnya?"

"Apa itu berita buruk?" Livey hanya diam, tidak menjawab pertanyaan Boboiboy.

"Yah, sepertinya aku sanggup mendengarnya. Nah, apa yang ingin kau sampaikan?" tanya Boboiboy.

Livey memandang iris coklat Boboiboy. Ia tidak yakin pemuda itu akan sanggup menghadapi apa yang akan ia sampaikan. Akhirnya ia menarik nafas panjang dan membuka mulutnya.

"Satu minggu lagi," kata Livey pelan.

"Hah?" Boboiboy menatap Livey bingung.

"Waktumu hanya tersisa satu minggu lagi," ujar Livey.

Boboiboy membeku mendengar ucapan Livey. Ia hampir tidak mempercayai telinganya, namun melihat ekspresi Livey, Boboiboy tau ia tidak salah dengar.

"Aku sudah memperingatkanmu agar tidak menggunakan kekuatanmu lagi karena itu bisa mempersingkat waktu yang kau miliki. Tapi kau tidak mengindahkan peringatanku," kata Livey.

Boboiboy masih tetap bergeming. Livey tidak sanggup lagi melihat ekspresi shock Boboiboy, maka ia memutuskan untuk segera pergi.

"Maafkan aku," bisiknya pelan. Setelah itu sang malaikat kematian melebur dalam bayangan dan menghilang.

Boboiboy tetap pada posisinya, membeku di tempat tidurnya. Ia masih berusaha mencerna informasi yang baru diterimanya itu. Satu minggu. Hidupnya hanya tersisa satu minggu. Apa yang harus ia lakukan?

Ketukan di pintu kamarnya menyadarkan Boboiboy. Ia tersentak saat mendengar suara atoknya di balik pintu.

"Boboiboy? Makan malam sudah siap. Kau mau turun dan makan di bawah atau kau mau atok membawa makananmu ke kamar?" tanya Tok Aba dari luar pintu kamarnya.

Boboiboy segera melompat turun dari tempat tidurnya. Ia tidak ingin bertemu siapapun sekarang. Ia tidak sanggup menghadapi orang-orang yang akan ditinggalkannya sebentar lagi. Maka tanpa pikir panjang, Boboiboy berubah menjadi Boboiboy Halilintar dan melompat dari jendela kamarnya.

.

.

.

TBC

Yap, chapter 3 pun berakhir dengan gajenya.

Akhirnya memutuskan untuk mencoba buat adegan pertarungan.

Pengennya sih buat adegan pertarungan yang keren, tapi nggak bisa, huwee T.T #nangisdarah

Tapi nggak apa deh, setidaknya udah berhasil menyiksa Boboiboy mwahaha #digilesgolemtanah

Baiklah sekian komentar dari author gaje ini.

Sekali lagi terima kasih buat yang udah berkenan membaca fic ini.

Maaf kalo ceritanya makin gaje dan banyak typo u.u

Author selalu siap menerima saran dan kritik dari reader.

Jadi silakan review jika berkenan ^^

Sampai jumpa di chapter depan!