Hai, hai, haii~

Akhirnya fic ini mulai memasuki chapter ke 4! Iyeeeii xD!

Karena ada permintaan dari reader, maka author mencoba untuk membuat chapter ini lebih panjang.

Mudah-mudahan aja udah cukup panjang ya.

Happy Reading ^^

Warning : Gaje, OOC, OC, Typo(s)

Disclaimer : Boboiboy dkk milik Animonsta Studios

Ide cerita ini berasal dari saya sendiri, tapi mungkin sedikit mengambil inspirasi dari beberapa fanfic yang saya baca di fandom ini.

Chapter 4

Boboiboy berlari secepat kilat tanpa mempedulikan kemana arah yang ia tuju. Walaupun tubuhnya memprotes, nafasnya terputus-putus dan tangan serta kakinya keram, namun Boboiboy tidak menghentikan larinya hingga ia tiba di pelabuhan Pulau Rintis.

Tubuhnya langsung ambruk di atas bebatuan dan ia kembali menjadi dirinya yang biasa. Boboiboy menatap laut lepas di hadapannya yang memantulkan cahaya matahari yang sedang terbenam. Pemuda yang kini hanya mengenakan kaus lengan panjang berwarna coklat itu merasakan matanya memanas dan tanpa dapat dicegah bulir-bulir air mata mengalir dari iris coklatnya.

Ia benar-benar putus asa sekarang. Hidupnya hanya tersisa satu minggu lagi. Dan ia tidak bisa melakukan apa-apa untuk mengubah takdirnya itu.

"Kenapa? Kenapa semua jadi seperti ini?" teriak Boboiboy frustasi.

Sunyi. Tak ada jawaban. Hanya suara ombak yang berdebur menghantam bebatuan yang mengisi kesunyian. Air mata Boboiboy semakin tak terbendung. Ia terus menangis dan menangis.

Langit kini telah berubah, dari kemerahan menjadi biru gelap. Dan satu persatu bintang mulai memperlihatkan diri. Bulan pun ikut muncul, memperlihatkan kecantikannya dengan cahaya keperakan yang dipantulkan oleh ombak. Boboiboy tak tahu sudah berapa lama ia berada disitu. Ia pun sudah lelah menangis. Kini pemuda berumur 15 tahun itu hanya menatap kosong ke lautan.

Samar-samar Boboiboy bisa mendengar suara langkah kaki yang mendekat ke arahnya.

"Boboiboy?" ucap sebuah suara yang familiar. Boboiboy berbalik dan mendapati Yaya tengah berjalan ke arahnya. Wajahnya terlihat lega karena berhasil menemukan Boboiboy.

"Syukurlah aku akhirnya menemukanmu. Kami sudah mencarimu kemana-mana," ujar Yaya.

"Ayo kita pulang, Boboiboy. Tok Aba sangat mengkhawatirkanmu," ajak Yaya lembut.

"Tinggalkan aku sendiri, Yaya. Kumohon," pinta Boboiboy lirih.

"Tapi semuanya mencemaskanmu. Ayolah, kita pulang ya?" bujuk Yaya.

"Aku tidak ingin pulang, Yaya! Aku butuh waktu untuk sendirian! Tolong tinggalkan aku sendiri!" bentak Boboiboy.

Yaya terkejut. Ini pertama kalinya Boboiboy membentak dirinya. Yaya segera menghampiri pemuda yang telah menjadi sahabatnya sejak kecil itu.

"Ada apa, Boboiboy? Kau punya masalah? Ceritakanlah padaku," kata Yaya khawatir.

"Tidak! Aku tidak punya masalah apa-apa. Aku hanya …" Boboiboy berusaha sekuat tenaga menahan dirinya agar tidak menangis lagi, namun tetap saja bulir bening itu kembali jatuh membasahi pipinya.

Boboiboy terkejut saat Yaya tiba-tiba mengusap kepalanya pelan.

"Tidak apa-apa. Menangislah jika kau memang ingin menangis. Jangan ditahan," ucap Yaya lembut.

Yaya terus mengusap-usap kepala Boboiboy lembut, membuat pemuda itu kembali tak bisa membendung air matanya. Ia pun meluapkan semua rasa frustasinya di depan gadis berkerudung merah jambu itu.

Akhirnya setelah merasa agak tenang, Boboiboy mengusap air mata dari wajahnya. Setelah puas menangis, kini ia mulai merasa malu karena telah memperlihatkan sisi cengengnya pada sahabatnya ini.

"Terima kasih sudah menemaniku, Yaya. Maaf aku jadi cengeng begini," gumam Boboiboy malu.

"Sama-sama. Tidak apa. Aku justru senang karena kau mau menunjukkan sisimu yang seperti ini padaku. Habis biasanya kau terlalu menahan diri dan berpura-pura tegar. Walaupun kau pahlawan super yang hebat, tapi kau tetaplah manusia biasa, Boboiboy. Kadang kita sebagai manusia punya saat-saat dimana kita tidak sanggup menanggung beban yang kita rasakan. Dan menangis adalah salah satu cara untuk meringankan sedikit beban itu. Jadi kau tak perlu malu," ujar Yaya sambil tersenyum. Boboiboy membalas senyum Yaya dengan penuh terima kasih.

"Apa kau sudah merasa agak baikan?" tanya Yaya.

"Kurasa begitu," kata Boboiboy.

"Nah, sekarang apa kau mau berbagi masalahmu padaku? Mungkin dengan menceritakannya kau bisa merasa lebih lega," ucap Yaya.

Boboiboy menatap Yaya selama beberapa saat. Kemudian ia menghembuskan nafas perlahan dan menceritakan semuanya pada Yaya.

"Hidupku sudah tidak lama lagi, Yaya. Sebentar lagi aku akan meninggalkan dunia ini," kata Boboiboy pelan.

Yaya terkejut mendengar perkataan Boboiboy.

"Kau pasti bercanda, kan?" ucap Yaya.

"Tidak, Yaya. Aku serius." Boboiboy menatap mata Yaya yang melebar karena terkejut mendengar perkataannya.

"Tapi…Tidak! Bagaimana mungkin? Apa yang terjadi? Apa kau sakit?" tanya Yaya bertubi-tubi.

Boboiboy menghela nafas.

"Kau mungkin tidak akan percaya jika aku mengatakan ini, tapi beberapa waktu lalu seorang malaikat kematian datang menemuiku. Ia berkata bahwa umurku sudah tidak lama lagi. Kekuatan yang kumiliki terlalu besar untuk diterima oleh tubuhku dan perlahan-lahan kekuatan itu menggerogoti nyawaku. Jika aku menggunakan kekuatanku, aku mungkin akan terluka atau pingsan, dan mungkin bisa langsung mati," jelas Boboiboy.

Yaya tertegun mendengar penjelasan Boboiboy. Wajahnya menampilkan ekspresi shock dan tidak percaya.

"Tidak, tidak, tidak. Ini tidak mungkin. Kau pasti bercanda, kan, Boboiboy? Tolong katakan padaku kau hanya bercanda," kata Yaya dengan suara bergetar.

"Aku tidak bercanda, Yaya. Aku sebentar lagi akan mati."

"Tidak! Kau tidak boleh mati, Boboiboy! Kau tidak boleh…" kata-kata Yaya terpotong oleh tangisannya.

"Maafkan aku, Yaya. Tapi inilah kenyataan yang harus kuhadapi." Boboiboy menyunggingkan senyum sedih dan kini gilirannya yang mengusap lembut kepala Yaya.

"Kau tidak boleh pergi, Boboiboy! Kumohon jangan tinggalkan kami, jangan tinggalkan aku …" isak Yaya.

"Tak ada yang bisa kulakukan untuk mencegah kematian, Yaya. Maafkan aku," gumam Boboiboy.

Yaya terus terisak-isak dan yang bisa Boboiboy lakukan hanyalah mengusap punggung gadis itu perlahan.

"Maukah kau berjanji satu hal padaku, Yaya?" pinta Boboiboy.

"A-apa?" Yaya berusaha menghentikan tangisnya dan menatap iris coklat pemuda di hadapannya ini.

"Tolong jangan beritahukan hal ini pada siapa pun," kata Boboiboy.

"Tapi, tapi mereka semua harus tahu!"

"Tidak, Yaya. Aku tidak ingin membuat mereka sedih dan khawatir. Aku sudah cukup merasa bersalah karena menceritakan hal ini padamu."

"Dasar bodoh! Kau ingin merahasiakan ini dari kami semua dan kemudian kau akan pergi begitu saja?"

"Aku hanya tidak ingin menghabiskan hari-hari terakhirku dengan kesedihan dari orang-orang yang kusayangi."

"Berjanjilah kau tidak akan memberitahu mereka, Yaya." Boboiboy memohon sambil menatap mata Yaya yang masih dipenuhi air mata.

"Ba-baiklah," ucap Yaya akhirnya.

Boboiboy tersenyum. Ia meraih kepala Yaya dan menyatukan keningnya dengan kening gadis itu.

"Terima kasih. Aku bersyukur sekali memiliki seorang sahabat sepertimu," kata Boboiboy lirih.

Tiba-tiba Boboiboy merasakan nyeri di rusuknya,

"Akh!" Boboiboy memegang dadanya sambil meringis menahan sakit.

"Boboiboy?" seru Yaya panik.

"Aku tidak apa …akh!" Boboiboy jatuh berlutut sambil terus memegangi dadanya yang seperti ditusuk-tusuk dengan jarum panas.

"Boboiboy!" Yaya berlutut di hadapan Boboiboy dan menatapnya panik.

"Ayo kita kembali ke rumahmu. Aku akan membawamu pulang." Yaya menyampirkan lengan Boboiboy ke bahunya. Setelah itu ia menggunakan kekuatan manipulasi gravitasinya untuk meringankan bobot mereka berdua dan ia pun terbang dengan memapah Boboiboy di sisinya.

Boboiboy berusaha keras menjaga agar dirinya tetap sadar. Ia tidak ingin pingsan dan membuat teman-temannya dan Tok Aba khawatir lagi. Tapi susah sekali mempertahankan kesadarannya sementara ia juga harus menahan rasa sakit dan nyeri di dadanya.

"Bertahanlah, Boboiboy, kumohon. Sebentar lagi kita sampai," pinta Yaya.

Boboiboy hanya bisa mendengar suara Yaya samar-samar. Ia masih terus berjuang agar tidak pingsan.

"Sial, kenapa aku jadi selemah ini, sih? Aku tidak boleh membuat Tok Aba dan teman-teman khawatir. Ayolah, Boboiboy, bertahanlah!" seru Boboiboy berulang-ulang dalam hatinya.

Tapi Boboiboy bisa merasakan kesadarannya perlahan memudar. Pandangannya menjadi buram. Ia merosot dari bahu Yaya dan kemudian Boboiboy merasakan tubuhnya melayang jatuh ke bawah. Boboiboy mendengar angin menderu di telinganya dan ia bisa melihat bintang-bintang yang berkedip perlahan di langit sebelum semuanya menghilang dan ia terjatuh dalam kegelapan.

.

.

.

Sementara itu, sebuah robot berwarna ungu dengan kepala mirip seperti tudung saji, bergegas menghampiri bosnya yang sedang menyantap makan malam.

"Incik Bos! Incik Bos! Aku ada berita bagus untuk Incik Bos!" seru robot ungu yang bernama Probe itu.

Adu Du, orang atau alien yang dipanggil Incik Bos oleh Probe, langsung tersedak karena kaget dengan teriakan Probe.

"Dasar kau ini! Aku sedang makan tahu! Kenapa kau tiba-tiba mengagetkanku, hah?" kata Adu Du marah.

"Maaf, Incik Bos! Aku tidak tahu kalau Incik Bos sedang makan," kata Probe. Adu Du hanya mendengus kesal dan melanjutkan makannya.

"Apa berita bagus yang ingin kau samapikan padaku?" tanya Adu Du.

"Oh, iya! Jadi begini Incik Bos, tadi saat aku sedang berjalan-jalan menghirup udara segar, aku tak sengaja melihat Boboiboy Halilintar sedang berlari seperti dikejar oleh sesuatu. Jadi aku mengikuti dia, Incik Bos," ujar Probe.

"Lalu, setelah itu apa yang terjadi?" tanya Adu Du lagi sambil terus mengunyah makan malamnya.

"Awalnya aku sempat kehilangan jejak dia Incik Bos. Habis Boboiboy Halilintar itu larinya cepet banget. Tapi akhirnya aku berhasil menemukannya di pelabuhan Pulau Rintis. Incik Bos tahu tidak apa yang kulihat disana tadi?"

"Tidak. Memangnya kau lihat apa?"

"Aku melihat… Boboiboy dan Yaya sedang berduaan dan bermesraan Incik Bos! Kyaa, aku suka sekali melihat mereka berdua! Ah, andai saja mereka benar-benar pacaran …" kata Probe sambil menari kegirangan. Sebuah cangkir besi langsung melayang ke arahnya sehingga Probe mengaduh kesakitan.

"Kau ini! Aku sedang serius mendengarkan dan ternyata kau cuma mau menyampaikan itu? Dasar tak berguna!" kata Adu Du kesal.

"Aduuh… Maaf, Incik Bos," ucap Probe sambil mengelus-elus kepala robotnya yang terkena lemparan.

"Sebenarnya bukan itu yang mau aku sampaikan ke Incik Bos. Begini Incik Bos, tadi aku menguping pembicaraan Boboiboy dan Yaya, dan aku mendengar tentang sesuatu yang bena-benar mengejutkan Incik Bos!" kata Probe dengan bersemangat.

"Apa yang kau dengar?"

"Aku mendengar Boboiboy memberitahu Yaya bahwa sebentar lagi Boboiboy akan mati, Incik Bos!"

"Hah? Mati? Mati kenapa?" tanya Adu Du kaget.

"Sepertinya kekuatan yang dimiliki Boboiboy mulai menghancurkan tubuhnya Incik Bos!. Jadi, jika Boboiboy menggunakan kekuatannya lagi, maka kemungkinan besar ia akan mati!"

"Hoo, jadi begitu. Huh, dasar manusia lemah!" ucap Adu Du. Alien hijau bermuka kotak itu terdiam beberapa saat. Sepertinya ia sedang merencanakan sesuatu yang jahat.

"Komputer!" panggil Adu Du. Komputer segera menghampiri tuannya.

"Ya, ada apa Incik Bos?" tanya Komputer.

"Cepat hubungi Ba Go Go! Kita harus memesan senjata yang hebat untuk mengalahkan Boboiboy! Kali ini kita pasti menang!" seru Adu Du gembira.

"Baik, Incik Bos!" Komputer pun segera melaksanakan perintah tuannya dan menghubungi penjual senjata Ba Go Go.

Adu Du menyeringai jahat sambil menatap layar komputer di hadapannya.

"Bersiaplah, Boboiboy. Kali ini aku pasti akan melenyapkanmu dari dunia ini!" pikir Adu Du sambil tersenyum penuh kemenangan.

.

.

.

Boboiboy membuka matanya dan mendapati ia berada di suatu tempat yang asing. Tempat itu menyerupai sebuah ruangan luas yang memiliki langit-langit berbentuk kubah yang cukup tinggi. Boboiboy menatap ke sekeliling ruangan itu dan mencoba menerka ruangan apa ini sebenarnya. Namun sebelum ia berhasil mengetahuinya, ruangan itu tiba-tiba mengabur. Dinding-dindingnya menyusut dan berganti warna. Dan tiba-tiba saja Boboiboy telah berdiri di kamarnya sendiri.

Dengan terheran-heran Boboiboy memandangi ruangan yang kini telah berubah menjadi kamarnya. Saat itulah ia mendengar suara-suara dari lantai bawah. Suara-suara itu terdengar familiar. Boboiboy pun melangkah ke pintu kamarnya dan membukanya perlahan. Suara-suara itu terdengar semakin jelas. Ia bisa mendengar suara isakan dan tangisan dari arah ruang tamu rumah kakeknya itu.

Boboiboy melangkah menuruni tangga untuk melihat apa yang terjadi. Ia terkejut mendapati rumah Tok Aba dipenuhi banyak orang. Boboiboy bisa melihat teman-teman sekelasnya dan juga guru-gurunya tengah berdiri di ruang tamu sambil menatap sesuatu yang tidak bisa ia lihat.

Dengan perlahan ia menyeruak melalui kerumunan orang hingga ia melihat Tok Aba, Ochobot, Ying, Yaya, Fang, dan juga Gopal berada di tengah ruangan dan sedang menangis sambil menatap sebuah peti mati.

Jantung Boboiboy serasa berhenti berdetak. Nafasnya tercekat. Pikirannya dihantui pertanyaan-pertanyaan tentang siapakah yang ada di peti mati itu. Apakah itu keluarganya?

Boboiboy ingin bertanya pada Tok Aba, namun ia tak bisa mengeluarkan suaranya. Akhirnya Boboiboy berjalan mendekat untuk melihat isi peti tersebut. Ekspresi shock dan tak percaya terpancar dari wajahnya saat melihat siapa yang terbaring di peti mati itu. Itu adalah dirinya. Boboiboy. Terbaring kaku dengan wajah pucat dan sudah tak bernyawa.

"Tidak. Itu tidak mungkin diriku. Aku belum mati. Aku tidak mau mati!" seru Boboiboy. Ia menghampiri atoknya dan mengguncang-guncang tubuh lelaki tua yang sedang menangis itu.

"Tok Aba! Itu bukan Boboiboy kan, Tok? Atok jawablah!" Namun Tok Aba seolah tidak bisa merasakan ataupun mendengar suaranya.

Boboiboy berpaling kepada sahabat-sahabatnya.

"Ying! Yaya! Gopal! Fang! Tolong jawab aku!" seru Boboiboy putus asa. Mereka pun tidak menghiraukan Boboiboy seolah ia tidak ada disana.

"Ochobot! Ochobot, kau bisa mendengarku? Tolong dengarkan aku! Aku ada disini!" seru Boboiboy pada robot bola kuning itu. Tapi sama seperti yang lainnya, Ocohobot tidak menggubrisnya dan sepertinya ia tidak bisa mendengar seruan Boboiboy.

"Tidak! Seseorang kumohon dengarkan aku! Jawab aku! Aku masih disini! Aku belum mati!" Boboiboy berteriak frustasi. Tiba-tiba saja ruangan itu berputar dan semuanya berubah menjadi gelap.

Boboiboy tersentak bangun. Ia mendapati dirinya sedang berbaring di tempat tidurnya sendiri. Sebuah robot bola berwarna kuning sedang melayang di dekatnya sambil mengelap dahinya.

"Boboiboy! Akhirnya kau sadar juga!" seru Ochobot gembira. Ia segera memeluk Boboiboy yang terlihat kebingungan.

"Apa yang terjadi?" tanya Boboiboy.

"Kau tidak sadarkan diri sejak semalam, Boboiboy. Kami semua mengkhawatirkanmu. Terutama Tok Aba. Atok bahkan menutup kedainya hari ini karena ia ingin merawatmu," ujar Ochobot.

"Dimana Tok Aba sekarang?" tanya Boboiboy lagi.

"Atok sedang di bawah, mengambil air hangat untuk mengompresmu. Kau terus-menerus menggigil saat pingsan," jawab Ochobot.

Boboiboy kemudian terdiam. Diam-diam ia menarik nafas lega karena kejadian yang dialaminya tadi hanyalah mimpi. Tapi Boboiboy tahu mimpinya itu akan menjadi kenyataan tak lama lagi.

Ochobot terus memandangi Boboiboy dengan khawatir. Robot berbentuk bola itu telah meng-scan tubuh Boboiboy saat pemuda itu tak sadarkan diri. Dan kini ia mengetahui keadaan Boboiboy yang sedang berada di ambang maut. Ochobot tak sanggup menghadapi kenyataan bahwa Boboiboy sebentar lagi akan meninggal dan itu semua karena kesalahannya yang telah memberi kekuatan pada pemuda itu.

"Boboiboy, aku …" ucapan Ochobot terputus karena Boboiboy tiba-tiba berseru kaget.

"Ah! Bukankah sebelum pingsan aku terjatuh? Aku ingat, Yaya membawaku terbang pulang dan di tengah perjalanan aku merosot dari bahunya dan terjatuh ke bawah, kan? Apa aku terluka? Atau patah tulang?" Boboiboy memeriksa seluruh tubuhnya seolah ingin memastikan anggota tubuhnya masih lengkap.

"Ah,iya. Yaya bilang kau memang sempat terjatuh, tapi ia berhasil menangkapmu sebelum tubuhmu menghantam tanah," jelas Ochobot.

"Oh, syukurlah," kata Boboiboy lega. Ia bergidik memikirkan apa yang akan terjadi padanya jika ia benar-benar jatuh menghantam tanah.

Tiba-tiba pintu kamar Boboiboy terbuka dan terlihatlah sosok Tok Aba yang berjalan masuk sambil membawa sebuah baskom berisi air hangat. Wajahnya yang terlihat kelelahan segera berubah gembira saat melihat cucunya telah sadar.

"Boboiboy! Akhirnya cucu atok sudah sadar. Atok sangat mencemaskanmu, Boboiboy," kata Tok Aba penuh syukur.

"Maaf, Tok. Boboiboy sudah membuat atok khawatir," ucap Boboiboy.

"Apa kau sudah merasa baikan? Apa masih ada yang sakit?" tanya Tok Aba khawatir.

"Tidak, Tok, tidak ada yang sakit. Boboiboy sudah baikan kok," kata Boboiboy berusaha menenangkan atoknya.

"Kau yakin, Boboiboy? Jangan berbohong pada atok. Kalau ada yang sakit, katakanlah."

"Boboiboy nggak bohong kok, Tok. Sekarang Boboiboy merasa benar-benar sehat, tidak ada yang sakit sedikitpun," ujar Boboiboy.

Dan ia tidak berbohong. Boboiboy merasa sangat sehat padahal kemarin tubuhnya terus merasa kesakitan.

"Baiklah kalau begitu," ucap Tok Aba. "Nah, kau pasti lapar kan? Kau mau makan apa? Biar atok buatkan makanan yang special untuk cucu kesayangan atok ini," lanjut Tok Aba.

"Ehehe, atok tahu aja Boboiboy lagi lapar. Kalau gitu, Boboiboy mau makan nasi goreng special buatan atok! Sekalian tolong buatkan juga special hot chocolate atok ya!" kata Boboiboy sambil nyengir.

"Baiklah. Kau beristirahatlah dulu sementara atok akan memasak di bawah," kata Tok Aba sambil beranjak keluar dari kamar Boboiboy.

"Oke, Tok!" ucap Boboiboy.

"Ochobot, tolong kau jaga Boboiboy, ya," kata Tok Aba pada Ochobot yang masih melayang-layang di dekat Boboiboy.

"Baik, Tok," sahut Ochobot. Setelah itu Tok Aba keluar dari kamar Boboiboy dan turun ke dapur untuk memasak.

Boboiboy beranjak bangun dari tempat tidurnya dan berjalan ke arah jendela kamarnya. Ia menatap pemandangan yang tampak dari jendela kamarnya.

Sejak pertama kali menempati kamar ini hingga sekarang, Boboiboy tak pernah bosan melihat pemandangan yang disuguhkan melalui jendela kamarnya. Pemandangan kota kecil di Pulau Rintis yang indah dan gemerlapan di malam hari. Ia tersenyum sedih mengingat saat pertama kali ia menyaksikan pemandangan ini dan langsung terpukau dengan keindahannya.

Boboiboy menatap langit yang terbentang luas di atasnya. Ia mengerutkan dahi saat melihat langit yang kini berwarna kemerahan.

"Ochobot? Jam berapa sekarang? Berapa lama aku pingsan?" tanya Boboiboy pada Ochobot. Namun tak terdengar jawaban dari robot kuning itu. Boboiboy berbalik dan mendapati Ochobot seperti sedang melamun di dekat tempat tidurnya. Sayangnya Ochobot adalah sebuah robot yang tidak memiliki ekspresi, sehingga Boboiboy tidak bisa memastikan apa yang sebenarnya tengah dilakukan oleh robot kuning kesayangannya itu.

"Ochobot?" panggil Boboiboy.

"Ah,ya. Ada apa, Boboiboy?" Ochobot seolah baru tersadar dari lamunannya.

"Kau baik-baik saja?" tanya Boboiboy.

"Tentu. Aku hanya sedang memikirkan beberapa hal," kata Ochobot.

Boboiboy memutuskan untuk tidak bertanya lebih jauh.

"Jadi, berapa lama aku pingsan?" tanya Boboiboy lagi.

Ochobot memandang jam antik yang tergantung di dinding.

"Hmm, kau pingsan tadi malam sekitar pukul 8. Dan sekarang sudah pukul 6 sore. Berarti …" kata-kata Ochobot terputus oleh pekikan Boboiboy.

"Apa? Jadi aku pingsan hampir 24 jam?!" seru Boboiboy.

"Yap. Sepertinya begitu," sahut Ochobot.

"Oh, tidak! Bagaimana dengan sekolah? Hari ini ada ulangan kimia! Dan hari ini juga ada pemilihan pemain baru untuk pertandingan sepak bola di turnamen nanti! Ah,bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan? Kenapa kau tidak membangunkanku saja, Ochobot?" seru Boboiboy panjang lebar.

Ochobot hanya memutar bola matanya melihat tingkah Boboiboy.

"Ada apa, Boboiboy?" Tok Aba tiba-tiba muncul dan heran melihat Boboiboy uring-uringan.

"Ah, tidak ada apa-apa,tok," kata Boboiboy. Saat itu perut Boboiboy berbunyi nyaring menandakan betapa laparnya ia. Boboiboy hanya tertawa malu.

"Kau mau makan di bawah atau atok bawakan ke sini?" tanya Tok Aba setelah mendengar suara keruyukan perut cucunya itu.

"Di bawah aja, tok," jawab Boboiboy.

"Ayo, kita turun kalau begitu. Kau sanggup jalan turun ke bawah?" Tok Aba bertanya dengan khawatir.

"Ya ampun, tok. Atok terlalu khawatir. Boboiboy udah nggak apa-apa kok. Jangankan turun ke bawah, lari marathon keliling Pulau Rintis ini aja Boboiboy udah sanggup kok, tok," canda Boboiboy.

Tok Aba tersenyum melihat cucunya sudah kembali sehat dan bisa bercanda.

Pria yang sudah berusia lanjut itu masih tidak bisa menyingkirkan kejadian yang terjadi kemarin dari pikirannya. Saat ia melihat cucunya pulang sekolah dengan tubuh babak belur dan harus dipapah oleh teman-temannya. Apalagi setelah itu cucunya itu malah menghilang entah kemana saat ia meninggalkannya di kamar untuk beristirahat.

Pikiran Tok Aba melayang mengingat kejadian semalam, saat ia tidak mendapati Boboiboy di kamarnya.

*Flashback on

"Boboiboy? Makan malam sudah siap. Kau mau turun dan makan di bawah atau kau mau atok membawa makananmu ke kamar?" tanya Tok Aba dari luar pintu kamar Boboiboy.

Tak ada sahutan dari dalam.

"Apa mungkin Boboiboy sudah tidur?" gumam Tok Aba. Ia pun kemudian membuka pintu perlahan dan terkejut karena mendapati kamar itu kosong dengan jendela yang terbuka lebar.

Tok Aba yang panik karena Boboiboy menghilang segera turun ke bawah dan menemui Ochobot. Ochobot yang sedang membersihkan meja makan heran melihat tampang panik Tok Aba.

"Ada apa, Tok? Kenapa Atok keliatan panik gitu?" tanya Ochobot.

"Boboiboy hilang Ochobot! Cepat kau hubungi Ying, Yaya, Gopal, dan Fang! Tolong minta mereka mencari Boboiboy. Atok akan coba mencari di sekitar sini dengan motor Atok," kata Tok Aba.

"Baik, Tok." Ochobot pun segera menghubungi keempat teman Boboiboy, sementara Tok Aba bergegas mengambil kunci motornya dan langsung berlari keluar.

Sudah berjam-jam Tok Aba berkeliling, tapi ia masih belum bisa menemukan keberadaan cucunya. Keadaan sekitar yang gelap karena hari sudah malam membuatnya semakin kesulitan untuk meneruskan pencarian. Akhirnya Tok Aba memutuskan untuk pulang dan berharap semoga saja Boboiboy sudah kembali.

Saat tiba di rumah, Tok Aba hanya mendapati Ochobot yang masih sibuk berusaha menghubungi Boboiboy melalui jam tangannya.

"Bagaimana, Ochobot? Apa kau berhasil menghubungi Boboiboy?" tanya Tok Aba.

"Belum, Tok. Boboiboy tidak menjawab panggilan diriku," kata Ochobot.

"Apa ada kabar dari Ying, Yaya, Gopal, atau Fang?" tanya Tok Aba lagi. Ochobot hanya menggeleng sedih.

Tok Aba menghela nafas. Ia sangat mengkhawatirkan Boboiboy. Apalagi anak itu sedang terluka dan tubuhnya masih lemah. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Boboiboy?

"Atok, lihat itu! Itu Yaya dan Boboiboy!" seru Ochobot gembira.

"Mana?" Tok Aba memandang ke atas dan melihat Yaya sedang melayang ke arah mereka sambil memapah Boboiboy. Akhirnya mereka mendarat di depan rumah Tok Aba.

"Boboiboy!" Tok Aba berseru sambil menghampiri cucunya itu.

Namun Boboiboy tidak bisa menjawabnya karena pemuda itu kini terkulai lemah di bahu Yaya dalam keadaan tak sadarkan diri. Sementara Yaya tampak berurai air mata.

"Yaya, apa yang terjadi?" tanya Tok Aba.

Yaya tidak mengatakan apapun. Gadis itu terus saja menangis hingga Tok Aba menjadi bingung apa yang harus dilakukannya.

"Yaya! Kau berhasil menemukan Boboiboy!" seru Ying. Tok Aba berpaling dan melihat teman-teman Boboiboy yang lain telah kembali.

"Apa yang terjadi pada Boboiboy?" tanya Gopal panik saat menyadari ternyata sahabatnya itu tak sadarkan diri.

Yaya akhirnya mencoba menjelaskan apa yang terjadi, namun karena ia tidak berhenti menangis, suaranya jadi terdengar tidak jelas. Setelah itu Yaya malah jadi semakin histeris sehingga ia tidak bisa melanjutkan ceritanya.

Akhirnya Tok Aba meminta Ying untuk mengantarkan Yaya pulang dan menenangkannya. Sementara itu, ia meminta Gopal dan Fang untuk membantu membawa Boboiboy ke kamarnya.

Tok Aba mengucapkan terima kasih pada Fang dan Gopal dan kemudian menyuruh mereka segera pulang karena sudah larut. Kini hanya tinggal Tok Abad an Ochobot di kamar Boboiboy.

"Ochobot, tolong kau ambilkan air hangat dan juga handuk kecil di bawah, ya," pinta Tok Aba pada Ochobot.

"Baik, Tok." Ochobot bergegas turun ke bawah utnuk mengambilkan air hangat dan handuk.

Tok Aba memandang cucunya yang sedang terbaring. Wajah Boboiboy yang biasanya selalu berseri-seri, kini terlihat pucat seperti hantu. Tubuhnya juga sangat dingin. Hanya detak jantung dan suara nafas Boboiboy lah yang meyakinkan Tok Aba bahwa cucunya itu masih hidup.

Sejak dulu Tok Aba selalu merasa khawatir pada Boboiboy. Sifanya yang ceroboh dan suka berbuat nekat seringkali membuat pemuda yang senang menggunakan topi terbalik itu terlibat berbagai masalah. Apalagi sejak ia mendapat kekuatan super, Boboiboy harus sering berhadapan dengan alien-alien jahat yang ingin menguasai bumi. Bukan untuk pertama kalinya Tok Aba mendapati Boboiboy pulang dengan tubuh babak belur dan penuh luka.

Namun kali ini Tok Aba tahu ada sesuatu hal buruk yang akan menimpa cucu kesayangannya. Firasat buruk terus menghantui pikirannya sepanjang hari ini. Dan untuk pertama kalinya, Tok Aba benar-benar merasa takut. Ia takut dirinya akan kehilangan cucu tersayangnya itu.

Tapi, Tok Aba tahu Boboiboy adalah anak yang kuat. Boboiboy selalu berhasil menghadapi semua masalah yang datang padanya. Tok Aba hanya berharap bahwa firasat buruk ini tidak akan menjadi kenyataan dan ia tak akan kehilangan matahari kecilnya itu.

*Flashback off

"Tok Aba? Atok kenapa?" Tok Aba tersadar dari lamunannya. Ia melihat Boboiboy sedang memandanginya dengan bingung.

"Ah, tidak. Atok cuma melamun saja tadi," kata Tok Aba.

"Emang atok ngelamunin apa?" tanya Boboiboy heran.

"Sudahlah, tak usah dipikirkan. Ayo kita segera turun dan makan." Tok Aba pun mendahului Boboiboy dan segera menuruni tangga.

Boboiboy menatap kepergian atoknya dengan bingung. Namun ia segera menyingkirkan kebingungannya dan bergegas turun untuk mengisi perutnya.

"Ayo, Ochobot." Ochobot hanya mengangguk dan mengikuti Boboiboy menuruni tangga.

Baru saja Boboiboy melangkahkan kakinya memasuki dapur, terdengar suara ketukan di pintu depan.

"Boboiboy, tolong kau lihat siapa yang datang," kata Tok Aba dari dapur.

"Baik, tok," sahut Boboiboy.

"Kau pergilah ke dapur duluan, bantu Tok Aba," kata Boboiboy pada Ochobot. Ochobot pun melayang meninggalkan Boboiboy.

Boboiboy bergerak ke ruang depan dan membuka pintu untuk melihat siapa yang datang. Ternyata yang mengetuk pintu adalah tetangga sekaligus sahabatnya, Yaya.

Yaya terbelalak saat melihat siapa yang membukakan pintu.

"Boboiboy!" serunya gembira. Dan tiba-tiba saja Yaya langsung memeluk pemuda di hadapannya itu sehingga membuat Boboiboy merasa jengah.

"Yaya, ada apa …"

"Syukurlah kau sudah sadar," Yaya terisak pelan di bahu Boboiboy.

Boboiboy terdiam. Ia pasti telah membuat semua orang khawatir. Terutama Yaya, karena ia sudah memberitahu gadis itu tentang keadaannya saat ini.

Boboiboy mengelus kepala Yaya pelan.

"Maaf sudah membuatmu khawatir," kata Boboiboy lembut.

"Kemarin aku takut sekali. Kupikir aku tidak akan bisa melihatmu lagi," gumam Yaya di sela-sela tangisannya.

Boboiboy hanya diam dan terus melanjutkan mengelus kepala Yaya.

Setelah merasa lebih tenang, Yaya akhirnya melepaskan pelukannya pada Boboiboy. Wajah gadis itu memerah karena tanpa sadar ia langsung memeluk pemuda itu tadi saat melihatnya sudah kembali sehat.

Kini suasana di antara Yaya dan Boboiboy mulai terlihat canggung. Keduanya merasa salah tingkah dan terlalu kikuk untuk memulai pembicaraan. Untunglah saat itu Tok Aba datang untuk melihat siapa yang mengetuk pintu rumahnya malam-malam.

"Oh, ternyata kau Yaya. Masuklah. Kau mau ikut makan malam bersama kami?" tawar Tok Aba.

"Ah, tidak usah, Tok. Yaya hanya mau mengecek keadaan Boboiboy. Kalau begitu Yaya pulang dulu." Yaya segera berbalik dan berlari pulang ke rumahnya. Tok Aba hanya memandang heran kepergian gadis itu.

"Ada apa Boboiboy? Kenapa Yaya bertingkah seperti itu?" tanya Tok Aba.

"Tidak ada apa-apa kok, Tok," jawab Boboiboy cepat.

"Ayo, Tok, kita makan. Boboiboy udah lapar berat nih." Boboiboy segera menarik atoknya masuk ke dalam dan kemudian menutup pintu rumahnya.

.

.

.

TBC

Fuuh, akhirnya selesai juga chapter ini.

Gimana? Udah cukup panjang kah?

Maaf kalo konflik di chapter ini terlalu gaje dan amburadul.

Author udah mencoba menulis sebaik mungkin, tapi yah namanya juga masih amatir, jadi pasti masih banyak kekurangan disana-sini. Mohon dimaafkan.

Oh, iya. Soal Boboiboy x Yaya.

Awalnya sih, author mau buat fic ini netral-netral aja, nggak ada pairing gitu.

Tapi tangan ini gatal rasanya pengen ngetik tentang mereka berdua.

Akhirnya terciptalah kisah gaje antara Boboiboy dan Yaya.

Sekalian juga biar endingnya nanti bisa dibuat lebih nyesek #plakk

Dan tak lupa terima kasih sebanyak-banyaknya untuk yang udah mau membaca dan me-review fanfic ini.

Jangan bosan-bosan mampir dan mengisi kotak review ya ^^