Haloo~

Masih adakah yang menunggu kelanjutan fic ini?

Kalau nggak ada ya udah deh #nangisdipojokan

Baiklah ini dia kelanjutannya~

Selamat membaca ;)

Warning : Gaje, OOC, OC, Typo(s)

Disclaimer : Boboiboy dkk milik Animonsta Studios

Ide cerita ini berasal dari saya sendiri, tapi mungkin sedikit mengambil inspirasi dari beberapa fanfic yang saya baca di fandom ini

Chapter 5

Boboiboy menatap jalanan dan lampu-lampu kota yang terbentang di hadapannya. Saat ini Boboiboy tengah duduk di pinggir jendela kamarnya dan memandangi pemandangan indah yang terlihat dari jendela ini.

Ia tersenyum sedih mengingat sedikitnya waktu yang masih dimilikinya untuk bisa menikmati pemandangan ini. Tatapannya beralih dan memandangi langit yang dipenuhi bintang. Bintang-bintang itu seolah berkedip ramah dan menyapanya. Boboiboy tersenyum sambil terus memandangi langit yang cerah tak berawan.

"Apa aku bisa pergi ke tempat bintang-bintang itu nanti jika aku sudah mati?" pikir Boboiboy.

Ia selalu ingin menghampiri bintang-bintang jika ia melihat mereka di malam hari. Boboiboy selalu berharap ia bisa menjadi seperti bintang di langit, yang selalu menghiasi malam yang gelap dengan keindahan cahaya-cahaya mereka sendiri. Tak peduli walau awan menutupi mereka. Mereka akan selalu berada disana, menanti saat mereka bisa memperlihatkan cahaya mereka di langit malam.

"Boboiboy?" sebuah suara menyentakkan Boboiboy dari lamunannya. Ia berbalik dan melihat Ochobot sedang melayang ke arahnya.

"Ada apa, Ochobot?" Tanya Boboiboy. Ochobot bertingkah aneh sekali sejak tadi. Robot kuning yang biasanya selalu cerewet itu, malam ini menjadi lebih pendiam dan murung. Boboiboy bertanya-tanya apa kiranya yang sedang mengganggu pikiran Ochobot.

"Aku, aku ingin menyampaikan sesuatu padamu." Gumam Ochobot pelan.

"Menyampaikan apa?" Tanya Boboiboy penasaran.

"Aku, aku ingin minta maaf padamu."gumam Ochobot. Robot itu terus menunduk dan tidak berani menatap Boboiboy.

"Minta maaf kenapa?"Tanya Boboiboy heran.

"Saat kau pingsan, aku mencoba meng-scan tubuhmu dan aku melihat bahwa ternyata kekuatan yang kuberikan padamu mulai menghancurkan tubuhmu dan akan merenggut nyawamu." suara Ochobot terdengar bergetar. Jika saja ia bukan sebuah robot, Ochobot pasti sudah menangis sekarang.

Boboiboy terkejut mendengar ucapan Ochobot. Oh, tidak. Bertambah lagi satu orang yang mengetahui keadaannya. Padahal Boboiboy bertekad untuk menyimpan rapat-rapat rahasianya itu agar ia tidak membuat orang-orang yang disayanginya menkhawatirkan dirinya.

"Kau tidak perlu minta maaf, Ochobot. Ini semua bukan salahmu." Ucap Boboiboy sambil menepuk-nepuk kepala robot berbentuk bola itu.

"Tapi, aku yang memberikan kekutan itu padamu! Aku tidak tau bahwa kekuatan itu bisa menghancurkanmu! A-aku hanya… Seharusnya aku tidak memberimu kekuatan itu. Maafkan aku." Kata Ochobot sedih.

"Jangan minta maaf. Sudah kubilang ini bukan salahmu. Dan aku benar-benar bersyukur kau memberikan kekuatan ini padaku. Aku jadi bisa menolong banyak orang. Aku tidak pernah menyesal memiliki kekuatan ini, Ochobot."ujar Boboiboy.

"Tapi, tapi, kekuatan itu akan merenggut nyawamu! Kau akan mati! Aku tidak mau kehilanganmu, Boboiboy.."

"Setiap manusia pasti akan mati, Ochobot. Walaupun kau tidak memberikan kekuatan ini padaku, aku tetap akan mati jika ajalku memang telah tiba. Ini sudah takdirku sebagai seorang manusia."

Ochobot menghambur ke arah Boboiboy dan memeluknya erat. Boboiboy mendesah pelan.

Kemarin Yaya, dan sekarang Ochobot. Ia tidak menginginkan situasi seperti ini. Yang diinginkannya adalah ia bisa menghabiskan sisa waktu yang dimilikinya dengan berusaha sebaik mungkin membahagiakan orang-orang yang disayanginya. Bukannya malah membuat mereka sedih seperti ini. Boboiboy hanya berharap semoga Tok Aba dan teman-temannya yang lain tidak akan mengetahui keadaannya ini.

.

.

.

Sinar matahari pagi masuk ke kamar Boboiboy melalui celah-celah di jendelanya. Boboiboy membuka matanya dan segera beranjak bangun. Ia menguap dan memandangi jam dinding yang tergantung di samping tempat tidurnya.

"Ah, sudah jam 6! Aku harus segera bersiap, kalau tidak nanti telat ke sekolah."gumam Boboiboy sambil merenggangkan tubuhnya. Ia memaksa dirnya bangun dari tempat tidur dan segera bersiap untuk berangkat sekolah.

Boboiboy melangkah ke dapur sambil menguap. Ia melihat atoknya tengah sibuk mempersiapkan sarapan sehingga tidak memperhatikan kedatangannya.

"Selamat pagi, Tok Aba."sapa Boboiboy.

"Pagi, Boboiboy."Tok Aba berbalik dan heran melihat cucunya sudah rapi dan mengenakan seragam sekolahnya.

"Kau mau kemana, Boboiboy?"Tanya Tok Aba heran.

"Ya ke sekolah lah, Tok. Memangnya Boboiboy mau kemana lagi dengan seragam sekolah seperti ini?" jawab Boboiboy sambil menghempaskan dirinya di kursi meja makan.

"Kau kan baru sembuh, Boboiboy. Jangan memaksakan diri. Beristirahatlah lagi hari ini. Biar nanti atok yang menghubungi gurumu untuk memberitahukan keadaanmu." kata Tok Aba.

"Boboiboy udah nggak apa-apa, kok, Tok. Boboiboy udah sanggup ke sekolah. Lagian kalau hari ini Boboiboy tidak masuk lagi, nanti Boboiboy ketinggalan pelajaran terus." Ujar Boboiboy.

"Baiklah kalau itu memang keinginanmu. Tapi ingat, jangan memaksakan diri. Kalau kau merasa tidak sehat, segeralah minta izin pulang." Kata Tok Aba yang akhirnya mengalah pada cucunya yang keras kepala itu.

"Oke, Tok!"

Setelah itu Tok Aba dan Boboiboy menghabiskan sarapan mereka dalam diam. Pukul 6 lebih 45 menit, barulah Boboiboy menyeleaikan sarapannya. Pemuda iu menatap jam di dinding dengan panik.

"Ah, sudah jam segini! Boboiboy berangkat dulu, tok! Assalamualaikum!"pamit Boboiboy.

"Waalaikumsalam. Hati-hati di jalan! Ingat jangan memaksakan diri!" pesan Tok Aba.

"Oke, Tok."

Boboiboy segera berlari keluar. Ia terus-terusan memandang jam tangannya sambil tetap berlari menuju ke sekolah.

"Sial! Aku pasti terlambat!" gumam Boboiboy panik. Ia berusaha mempercepat larinya. Namun tiba-tiba saja ia terjatuh dan baju sekolahnya yang berwarna putih jadi kotor terkena debu di jalan.

Boboiboy tertegun. Ia menatap tubuhnya sendiri yang kini belepotan debu. Tadi kakinya tiba-tiba berhenti bergerak sendiri. Karena itulah ia terjatuh.

"Kekuatan itu menghancurkan tubuhmu dari dalam."

Boboiboy teringat perkataan sang Malaikat Kematian. Mungkinkah ini yang dimaksud 'menghancurkan tubuhnya dari dalam'? Apakah kekuatannya itu akan menyebar perlahan ke seluruh tubuhnya dan merusak satu persatu jaringan dan organ-organ di tubuhnya lalu kemudian ia akan mati?

Pemuda bertopi jingga itu kembali dihantui ketakutan akan kematian yang akan segera menjemputnya. Namun Boboiboy segera menyingkirkan ketakutannya dan ia pun bangkit berdiri. Setelah berusaha membersihkan bajunya yang kotor sebisa mungkin, Boboiboy kembali melanjutkan berlari ke sekolah.

Akhirnya Boboiboy tiba di sekolah tanpa mengalami insiden apa pun lagi. Ia mencoba mengatur nafasnya yang memburu karena terus berlari. Setelah nafasnya mulai agak teratur, Boboiboy pun melangkah menuju ke kelasnya. Ia mengintip melalui pintu dan mendesah lega karena belum ada guru yang masuk ke kelasnya. Boboiboy pun segera memasuki kelasnya.

"Boboiboy!" Pemuda berambut hitam itu disambut dengan banyak seruan yang menyebut namanya. Namun sebelum ia sempat menyapa teman-temannya, seseorang telah menubruknya dan hampir saja membuatnya terjungkal ke belakang.

"Boboiboy!" Ternyata yang menubruknya adalah Gopal. Gopal memeluk Boboiboy erat sekali hingga membuat Boboiboy sesak nafas.

"Boboiboy! Apa kau sudah sembuh? Apa masih ada yang sakit? Luka di kepalamu bagaimana?" Rentetan pertanyaan meluncur keluar dari pemuda berdarah India itu.

"Go..pal. Lepas..kan, se..sak, tau!"keluh Boboiboy.

Gopal pun segera melepaskan dekapannya dan hanya cengengesan melihat Boboiboy mengurut-urut dadanya.

"Sori, Boboiboy."ucap Gopal.

"Huh, dasar kau ini."Boboiboy hanya mendengus.

"Kenapa bajumu kotor, Boboiboy?"Tanya Ying heran.

Boboiboy menunduk memandangi seragam sekolahnya dan baru ingat kalau seragamnya masih kotor karena insiden jatuhnya tadi.

"Ah, tadi aku jatuh di jalan."kata Boboiboy sambilmenggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

"Kau tidak apa-apa?"Tanya Ying khawatir.

"Ya."kata Boboiboy sambil tersenyum.

"Ah, bu guru sudah datang!"kata Gopal. Boboiboy berbalik dan melihat gurunya berjalan masuk ke kelas. Ia pun segera melangkah ke tempat duduknya.

Celotehan para murid segera terhenti dan mereka pun duduk rapi di tempatnya masing-masing untuk memulai pelajaran hari ini.

.

.

.

Boboiboy memandangi meja counter di depannya sambil berpikir serius. Enaknya makan apa ya? pikir Boboiboy dalam hati. Ia terus memandangi satu persatu makanan yang ada di meja dan masih belum bisa memutuskan makanan apa yang akan dibelinya.

"Yo, Boboiboy!"Gopal tiba-tiba muncul dan menepuk punggung Boboiboy.

"Apa?"Tanya Boboiboy tanpa mengalihkan pandangannya.

"Kau lama sekali cuma milih makanan doang. Ayolah, Ying, Yaya, dan Fang sudah menunggu."kata Gopal.

"Iya, iya, bentar."ucap Boboiboy. Akhirnya ia pun mengambil keputusan.

"Bu, nasi lemak pakai ayam goreng satu, ya."kata Boboiboy pada ibu-ibu yang menjaga counter itu.

"Oke, tunggu sebentar." Tak lama kemudian pesanan Boboiboy telah siap. Ia pun membeli sekaleng jus jeruk sebagai minumannya.

Setelah itu Boboiboy melangkah bersama Gopal menuju ke tempat teman-teman mereka sudah menunggu.

"Eh, Boboiboy. Aku lupa memberitahumu sesuatu."kata Gopal tiba-tiba.

"Oh ya? Memangnya kau mau memberitahuku apa?"Tanya Boboiboy.

"Aku terpilih sebagai pemain untuk turnamen sepak bola nanti! Aku akan menjadi kiper!"ucap Gopal gembira.

"Serius? Wah, selamat Gopal! Kau memang terbaik!" kata Boboiboy ikut merasa gembira.

"Ehehe, terima kasih."ujar Gopal. "Sebenarnya kau juga terpilih Boboiboy, tapi karena kemarin kau tidak datang, maka pelatih menggantimu dengan orang lain."lanjut Gopal.

"Begitukah? Ah, sayang sekali. Padahal aku ingin sekali bermain di turnamen itu."ucap Boboiboy sedih.

"Tak apa Boboiboy. Kan masih banyak pertandingan lain. Lain kali kau pasti bisa jadi pemain juga." hibur Gopal. Boboiboy hanya tersenyum. Sayang sekali, sepertinya aku tak akan sempat bermain di pertandingan apapun lagi, Gopal., pikir Boboiboy sedih.

Mereka akhirnya tiba di meja tempat teman-teman mereka sudah menunggu. Fang terlihat sedang sibuk menyantap makanannya, sedangkan Yaya dan Ying masih belum menyentuh makan siang mereka karena menunggu Gopal dan Boboiboy.

"Hey, Fang! Kau ini tidak setia kawan sekali, sih. Masa kau makan tanpa menunggu kami?"kata Gopal kesal.

"Kalian yang kelamaan. Tidak tau apa aku sudah kelaparan dari tadi? Nanti kalau aku menunggu kalian terus pingsan karena kelaparan gimana? Bisa jatuh popularitasku."balas Fang.

Gopal dan Boboiboy hanya memutar bola mata mereka dan kemudian menarik kursi dan duduk.

Kelima anak itu pun menyantap makan siang mereka dengan lahap. Untuk beberpa saat tak ada percakapan yang terjadi karena mereka terlalu sibuk menghabiskan makan siang mereka sebelum waktu istirahat siang berakhir.

Tak butuh waktu lama, lima piring yang tadinya penuh dengan makanan kini telah habis tak bersisa menandakan betapa laparnya mereka. Kelima sahabat itu kemudian hanya duduk diam karena merasa kekenyangan.

"Eh, kalian harus nonton aku bermain di turnamen sepak bola nanti ya!" tiba-tiba Gopal memecah kesunyian di antara mereka.

"Tenang saja kami pasti akan datang dan mendukungmu Gopal!"kata Yaya.

"Memangnya kapan turnamen itu diadakan?"Tanya Fang sambil menguap.

"Hmm, kata pak pelatih sih dua bulan lagi."ucap Gopal.

"Dua bulan lagi?"Tanya Boboiboy kaget.

"Iya. Kenapa memangnya?"Gopal heran mendengar kekagetan Boboiboy.

"Ah, tidak apa-apa."gumam Boboiboy.

"Pokoknya kalian semua harus datang! Awas kalau nggak!"kata Gopal lagi.

"Iya, iya. Kami pasti datang kok." Kata Fang malas.

"Yaloh, kami akan menjadi supportermu dan berteriak paling keras!"seru Ying semangat.

"Kau juga akan datang mendukungku kan Boboiboy?"Tanya Gopal pada Boboiboy yang hanya diam saja.

"Ah, iya. Tenang saja, sobat, aku pasti akan datang dan menonton aksi hebatmu!"kata Boboiboy.

"Maaf, Gopal. Sepertinya aku tidak akan bisa datang dan mendukungmu."lanjut Boboiboy dalam hati.

Boboiboy melihat Yaya sedang menatap ke arahnya dan segera berpaling saat Boboiboy menatapnya balik. Boboiboy hanya menghela nafas pelan.

Saat itu bel masuk berbunyi. Kelima sahabat itu pun segera membereskan barang mereka dan berjalan menuju ke kelas mereka untuk mengikuti pelajaran selanjutnya.

.

.

.

"Hei, apa hari Minggu nanti kalian ada waktu kosong?"Tanya Boboiboy pada keempat sahabatnya.

Saat ini mereka sedang dalam perjalanan pulang sekolah bersama-sama, seperti biasanya. Keempat sahabatnya memandang Boboiboy heran.

"Aku sih, sepertinya ada waktu kosong. Memangnya ada apa?"Tanya Ying heran.

"Aku, Tok Aba, dan Ochobot berencana jalan-jalan ke pantai hari Minggu nanti. Bagaimana kalau kalian juga ikut?"ajak Boboiboy.

"Ke pantai? Aku ikut!"seru Gopal semangat.

"Ah, aku benci pantai. Nanti kalau kulitku gosong gimana? Kau mau bertanggung jawab kalau kulit indahku ini kenapa-napa?"ujar Fang.

Boboiboy, Gopal, Ying, dan Yaya hanya memandang Fang dengan tatapan bosan.

"Oh, ayolah. Kita kan sudah lama tidak liburan. Mungkin ini terakhir kalinya kita bisa liburan bersama."kata Boboiboy.

"'Terakhir kalinya?' Apa maksudmu?"Tanya Ying curiga.

Boboiboy merutuki dirinya sendiri dalam hati. Kenapa pula ia bisa sampai kelepasan bicara?

"Oh, itu, umm, sebentar lagi kan sudah ujian semester. Jadi mungkin ini terakhir kalinya kita bisa liburan sebelum ujian."ujar Boboiboy gugup. Ia hanya berharap semoga teman-temannya tidak tambah curiga.

Ying memandangi Boboiboy dengan tatapan menyelidik. Namun akhirnya ia berujar.

"Baiklah, aku ikut."

"Yeii! Jadi kita bakalan liburan nih? Ayiikk!"seru Gopal sambil menari-nari kegirangan.

"Cih. Ya sudahlah. Kalau begitu aku juga ikut." Kata Fang akhirnya. Boboiboy pun tersenyum senang.

"Yaya? Kenapa kau diam saja? Kau juga ikut, kan?"Tanya Ying pada Yaya yang sedari tadi hanya melamun sendirian.

"Ah, iya. Tentu saja aku ikut. Mana mungkin aku mau melewatkan kesempatan untuk liburan bersama sahabat-sahabatku."kata Yaya sambil tersenyum ceria.

"Oke, kalau begitu, hari Minggu kita berkumpul di rumah Boboiboy. Bawa amkanan yang banyak, ya!"seru Gopal semangat.

"Kau ini. Taunya makan saja."gerutu Fang.

"Ya iyalah. Kalau tidak makan bagaimana kita bisa hidup?"balas Gopal.

Mereka kemudian terus melanjutkan perjalanan pulang dengan diwarnai pertengkaran Gopal dan Fang.

.

.

.

Boboiboy memencet beberapa angka di hpnya dan kemudian menekan tombol call. Ia mendekatkan telepon genggam itu ke telinganya dan mendengar nada tunggu yang menandakan bahwa panggilannya belum diangkat. Tak berpa lama berulah terdengar suara seorang wanita dari seberang sana.

"Halo? Siapa ini?"sapa suara wanita itu.

"Halo, ibu. Ini Boboiboy."

"Oh, ternyata kau Boboiboy. Ada apa kok anak kesayangan ibu ini tiba-tiba menelepon? Biasanya juga kalau ibu menelopon kamu selalu sibuk." Canda ibu Boboiboy.

"Tidak ada apa-apa kok, bu. Boboiboy cuma kangen pengen dengar suara ibu."

"Aduh, anak ibu ini manis sekali. Jadi, bagaimana kabar jagoan kecil ibu? Kamu sehat-sehat saja kan sayang?"

"Boboiboy sehat, kok, bu. Ibu gimana?"

"Alhamdulillah, ibu juga sehat sayang. Gimana kabar Tok Aba?"

"Tok Aba juga sehat, bu. Sangat bersemangat, seperti biasa."

"Oh, iya, ayah dimana bu? Boboiboy juga pengen dengar suara ayah."

"Oh, ayahmu sedang dinas ke luar kota. Ayahmu itu sibuk sekali. Sebentar-bentar harus ke luar kota. Ibu ditinggal sendirian lagi di rumah. Untunglah ibu bisa membujuk tantemu untuk memperbolehkan sepupumu menginap disini dan menemani ibu."

Boboiboy hanya tertawa mendengar gerutuan ibunya. Ia kemudian terdiam selama beberapa saat.

"Ibu.."

"Ya?"

"Terima kasih ya ibu sudah membesarkan Boboiboy sampai sebesar ini dan selalu menyayangi Boboiboy."

Ibunya terdiam selama beberapa saat.

"Kamu salah minum obat Boboiboy? Atau kamu makan sesuatu yang aneh tadi siang? Kok tiba-tiba bicaramu jadi lembut begitu? Ibu jadi merinding."

Boboiboy kembali tertawa, tapi kini air mata mulai turun membasahi pipinya. Ia harus menjaga suaranya agar ibunya tidak tau ia sedang menangis.

"Ibu ini, anaknya lagi serius mau ngucapin terima kasih malah dibilang salah minum obat."kata Boboiboy sambil pura-pura ngambek.

"Ahaha, maaf, maaf. Habis ibu heran, kok tumben-tumbenan kamu ngomongnya gitu. Biasanya juga kamu nggak pernah ngomong lembut-lembut sama ibu apalagi bilang makasih. Hmm, pasti ada maunya ya?"

"Tidak, kok, bu. Kali ini Boboiboy tulus deh ngomong gitu ke ibu."

"Iya deh, ibu percaya."

"Ibu…"

"Ya? Apa lagi kali ini? Pasti sekarang kamu mau minta sesuatu dari ibu kan? Hayo jujur aja."

"Ibu ini kok curigaan terus sih sama anak sendiri."

"Ahaha maaf. Anak ibu yang satu ini kan kadang-kadang otaknya licik. Jadi ibu harus waspada dong."

"Ibu jahat."

"Jangan ngambek dong sayang. Ibu kan cuma bercanda."

"Ibu, Boboiboy kangen pengen liat wajah ibu."

"Makanya kalau kangen pulang kesini dong. Kamu ini waktu ibu suruh pulang alasannya selalu sedang sibuk."

"Yaah, Boboiboy kan memang sibuk bu. Kegiatan sekolah padat sekali."

"Padat apaan. Masih SMA juga udah sok sibuk kayak pejabat aja."

"Ih, ibu. Nggak percayaan amat sama anak sendiri. Boboiboy banyak kegiatan di sekolah bu."

"Iya, deh, iya. Tapi liburan semester nanti kamu pulang ke Kuala Lumpur kan?"

"Umm, soal itu Boboiboy nggak bisa janji deh, bu."

"Lho, kok gitu? Kamu sibuk juga waktu liburan nanti?"

"Nggak sih, bu. Cuma…"

"Cuma apa? Pokoknya ibu nggak mau tau. Liburan nanti kamu harus pulang. Ibu kan juga kangen pengen meluk anak kesayangan ibu."

Boboiboy tercekat. Ia tidak mengeluarkan suara selama beberapa saat, kalau tidak ibunya akan sadar ia sedang menangis.

"Ah, Boboiboy. Sudah dulu, ya. Teman ibu sudah datang menjemput. Ibu mau pergi arisan dulu. Nanti ibu telepon kamu lagi."

"Oke, bu. Aku menyayangimu ibu."kata Boboiboy dengan suara tercekat.

"Ibu juga menyayangimu, sayang."

Setelah itu Boboiboy pun memutuskan panggilannya. Ia menjatuhkan diri di tempat tidurnya dan membiarkan air mata yang sedari tadi ditahannya mengalir keluar.

Ia benar-benar sangat merindukan ibunya dan juga ayahnya. Dan ia mungkin tak akan memiliki kesempatan untuk bertemu lagi dengan mereka. Boboiboy memandangi foto kedua orang tuanya yang tergantung di dinding. Ia menyesal karena sudah menyia-nyiakan waktunya tanpa sempat membalas kebaikan kedua orang tuanya. Kini ia kehilangan kesempatan untuk membahagiakan mereka seiring berkurangnya waktu yang masih dimilikinya untuk hidup dan bernafas.

Boboiboy terus menangis sampai sinar kemerahan perlahan menyusup ke kamarnya menandakan terbenamnya matahari dan berakhir pula satu hari lagi dari sisa satu minggu waktu yang masih ia miliki untuk hidup di dunia ini.

.

.

.

Malam sudah larut, namun Boboiboy belum juga memejamkan matanya. Suasana di rumahnya sangat sunyi dan tenang. Yang terdengar hanyalah suara binatang malam yang sesekali memecah kesunyian malam di luar.

Boboiboy akhirnya memutuskan untuk beranjak dari tempat tidurnya dan melangkah sepelan mungkin melintasi kamar tidurnya. Dengan perlahan ia membuka jendela kamarnya. Angin malam yang sejuk langsusng menyapanya begitu ia telah membuka jendela itu.

Tanpa mengeluarkan suara sedikitpun, Boboiboy memanjat turun dari jendela kamarnya. Kemudian dengan berhati-hati, ia kembali memanjat naik ke atas, ke atap rumah Tok Aba nya itu. Akhirnya setelah usaha keras yang diselingi dengan beberapa kali hampir jatuh karena terpeleset, Boboiboy tiba di atas atap.

Pemuda itu menghembuskan nafas pelan dan kemudian ia pun membaringkan tubuhnya di atap itu. Boboiboy memandang langit malam yang bertabur bintang di atasnya. Ia tak akan pernah merasa bosan menatap bintang-bintang yang jumlahnya tak terhingga itu. Setiap kali melihat bintang, Boboiboy tak pernah merasa sedih dan kesepian. Ia selalu merasa bintang-bintang itu seolah sedang menyapanya dan berbicara padanya.

Boboiboy sudah seringkali naik ke atas sini hanya untuk memandangi bintang. Biasanya ia lebih memilih menggunakan kekuatan anginnya untuk terbang naik ke sini. Namun kali ini ia tidak ingin mengambil resiko dengan menggunakan kekuatannya dan malah akan semakin memperparah keadaannya sekarang.

Semilir angin membelai lembut wajah Boboiboy dan meniup beberepa helai rambut hitamnya. Boboiboy sedikit menggigil kedinginan. Ia merutuki dirinya sendiri yang bisa lupa untuk mengenakan jaket padahal ia tau udara malam itu sangat dingin. Tapi ia tidak mungkin turun ke kamarnya mengambil jaket dan naik kembali ke sini. Akhirnya ia hanya bisa berusaha menahan dinginnya sengatan udara malam sambil terus memandangi keindahan bintang di langit.

"Sedang meratapi nasib?"sebuah suara mengagetkan Boboiboy. Ia berpaling ke samping dan mendapati sang Malaikat Kematian sedang duduk beberapa meter darinya.

"Sedang apa kau disini?"Tanya Boboiboy heran.

"Tidak ada. Aku sedang berjalan-jalan dan menikmati angin malam saat secara tak sengaja aku melihat seorang pemuda bodoh yang tengah duduk sendirian di atap dengan hanya memakai kaus tipis walaupun udara sangat dingin dan sedang meratapi hidupnya yang hanya tersisa seminggu lagi."jelas Livey dengan nada sarkastis.

Boboiboy hanya memutar bola matanya mendengar perkataan Livey. Ia kemudian kembali menatap bintang.

"Hey, Livey, kemana orang-orang pergi setelah mereka mati?"Tanya Boboiboy.

"Kau akan mengetahuinya nanti."jawab Livey singkat.

"Tak bisakah kau memberitahuku sekarang?"pinta Boboiboy.

"Tidak."Livey kembali menjawab pertanyaan Boboiboy dengan singkat.

"Kalau begitu, apa tempat itu jauh? Lebih jauh dari bintang-bintang di atas sana?"Boboiboy terus saja bertanya pada Livey walaupun Malaikat Kematian itu hanya memberikan respon yang singkat.

"Ya."ucap Livey.

"Apa kalau aku sudah mati nanti aku masih bisa berhubungan dengan keluarga dan teman-temanku disini? Dengan menjadi hantu, mungkin?"Tanya Boboiboy lagi.

"Huh, kenapa kalian para manusia bisa berpikiran seperti itu, sih? Tentu saja tidak bisa. Kalau kau sudah mati, maka hubungan apapun yang kau miliki dengan dunia ini akan terputus. Kau tak akan pernah bisa kembali dan berhubungan dengan orang-orang disini lagi."

"Oh, begitu ya."

Setelah itu mereka terdiam untuk beberapa saat.

"Apa kau sering berhubungan atau berbicara dengan manusia?"Tanya Boboiboy.

"Tidak. Aku sering memperhatikan dan mengawasi manusia. Tapi ini pertama kalinya aku memperlihatkan diri dan berbicara dengan seorang manusia."ujar Livey.

"Benarkah? Wah, aku merasa sangat tersanjung."kata Boboiboy sambil tertawa. Livey hanya mendengus.

Mereka kembali duduk dalam diam. Boboiboy menggosok-gosokkan telapak tangannya untuk mencari kehangatan saat tiba-tiba sebuah suara lain mengagetkannya.

"Boboiboy?" Ia menoleh dan melihat Yaya sedang terbang menghampirinya.

"Astaga, Yaya. Kau mengagetkanku!"kata Boboiboy.

"Maaf."ucap Yaya merasa bersalah karena telah mengagetkan Boboiboy.

"Kau sedang bicara dengan siapa Boboiboy?"Tanya Yaya penasaran.

"Apa maksudmu? Aku tidak sedang berbicara dengan siapapun."jawab Boboiboy gugup. Ia melirik ke tempat Livey berada dan menyadari bahwa Malaikat itu telah menghilang.

"Tapi tadi aku mendengarmu sedang bercakap-cakap."kata Yaya bingung.

"Oh, itu. Aku hanya sedang berbicara pada diriku sendiri. Aku sering kok melakukannya."kata Boboiboy sambil tertawa garing.

"Oh, begitu." Yaya pun tidak bertanya-tanya lagi dan Boboiboy menghembuskan nafas lega.

"Apa yang kau lakukan disini, Yaya?"Tanya Boboiboy.

"Ah, aku tak sengaja melihatmu sedang duduk sendirian disini melalui jendela kamarku. Jadi aku memutuskan untuk terbang kesini dan menemuimu."jelas Yaya.

Boboiboy hanya mengangguk-angguk.

"Apa yang kau lakukan malam-malam di atas sini, Boboiboy?"kali ini giliran Yaya yang bertanya pada Boboiboy.

"Aku hanya ingin melihat bintang. Aku sering melakukannya kalau sedang tidak bisa tidur."jawab Boboiboy.

"Apa kau sedang tidak bisa tidur?"Tanya Yaya lagi.

"Bukannya tidak bisa. Mungkin lebih tepatnya aku takut."

"Takut kenapa?"

"Aku takut kalau aku memejamkan mata dan tertidur, aku tidak akan bisa membuka mataku lagi besok."

"Boboiboy…"

"Manusia benar-benar serakah, ya. Kita selalu menginginkan sesuatu yang tidak bisa kita miliki. Padahal aku tau kalau semua manusia pasti akan mati, tak terkecuali diriku. Tapi saat kematian itu sudah di depan mata, aku malah menyangkalnya dan ingin menghindarinya. Aku masih ingin memiliki lebih banyak waktu untuk hidup. Masih banyak hal-hal yang ingin kulakukan di masa depan. Aku tidak mau mati secepat ini."

Yaya tak tau harus berkata apa. Kata-kata Boboiboy terasa mengiris hatinya. Ia seolah bisa ikut merasakan kepedihan yang dialami sahabatnya itu. Harus menghadapi kenyataan bahwa dirinya akan mati di usia yang masih sangat muda. Mereka baru 15 tahun. Masa depan mereka masih sangat panjang dan masih banyak sekali hal-hal yang bisa mereka lakukan di masa depan.

"Aku akan hidup berapa tahun lagi ya? Kenapa aku tak bisa membagi setengahnya saja untuk Boboiboy?"pikir Yaya putus asa.

"Yaya, kalau aku mati nanti, tolong jangan lupakan aku ya?" ucap Boboiboy lirih.

"Dasar bodoh. Mana mungkin aku melupakanmu. Kau kan sahabatku."balas Yaya.

Boboiboy bertatapan dengan mata Yaya dan tersenyum. Bagi Yaya senyum itu jauh lebih indah daripada jutaan bintang di langit sana.

Lama sekali mereka terus berpandangan, seolah ingin saling membagikan kata-kata dalam diam yang tak sanggup mereka ungkapkan. Hingga akhirnya Boboiboy berpaling dan kembali menatap langit berbintang. Yaya pun ikut menatap langit dan berharap ia bisa menghentikan waktu. Ia ingin waktu berhenti sekarang juga agar momen ini tidak pernah berakhir dan akan terus abadi selamanya.

.

.

.

TBC

Yuhuu, more BBBxYaya

Chapter ini kurang greget ya?

Maaf, soalnya otak author lagi ngadat (?) jadi ide-idenya susah keluar u.u

Terima kasih untuk para readers yang selalu setia menunggu kelanjutan fic ini.

Jangan bosan-bosan mampir dan mengisi kotak review ^^