Warning : Gaje, OOC, OC, Typo(s)

Disclaimer : Boboiboy dkk milik Animonsta Studios

Ide cerita ini berasal dari saya sendiri, tapi mungkin sedikit mengambil inspirasi dari beberapa fanfic yang saya baca di fandom ini.

Chapter 6

Boboiboy membuka jendela kamarnya lebar-lebar dan membiarkan sinar matahari pagi menyinari wajahnya. Ia menarik nafas dalam-dalam untuk menghirup udara pagi yang masih segar. Boboiboy menatap kota kecil di hadapnnya yang masih sepi karena sebagian besar penduduknya masih berada di kasur mereka yang nyaman. Bibirnya melengkung membentuk sebuah senyuman.

Ini hari Minggu. Artinya hari ini ia akan pergi liburan ke pantai bersama Tok Aba dan sahabat-sahabatnya. Ini mungkin akan menjadi liburan terakhirnya bersama mereka, karena itulah ia harus menikmatinya sebaik mungkin.

Pemuda itu merenggangkan tubuhnya dan sekali lagi menghirup udara pagi dalam-dalam. Setelah itu ia berjalan keluar dai kamarnya dan menuruni tangga menuju dapur untuk sarapan.

"Pagi, Tok Aba, Ochobot!" sapa Boboiboy.

"Pagi," balas keduanya.

"Cepat habiskan sarapanmu dan segera bersiap-siap Boboiboy. Nanti teman-temanmu sudah keburu datang dank au masih belum siap," kata Tok Aba sambil menuangkan teh untuk Boboiboy.

"Tenang aja, tok. Mereka datang nanti jam 8. Sekarang kan masih jam setengah 7," ucap Boboiboy santai.

"Ya sudah. Terserah kau saja," kata Tok aba mengalah.

Mereka kemudian menghabiskan sarapan dalam diam. Setelah selesai sarapan, Boboiboy membantu atoknya mencuci piring-piring kotor. Barulah setelah itu ia kembali ke kamarnya bersama Ochobot untuk bersiap-siap.

Pukul 8 tepat, Boboiboy telah berdiri di depan pintu rumahnya dengan semua perlengkapannya tersusun rapi di sebelahnya. Hari ini Boboiboy mengenakan celana pendek sedikit di bawah lutut dan kaos lengan pendek berwarna putih. Tak lupa rompi jingga kesayangannya. Dan juga topi dinosaurusnya yang dipasang terbalik menutupi rambut hitamnya yang acak-acakan.

Tak lama, Yaya muncul dengan membawa sebuah ransel berukuran sedang yang disampirkan ke punggungnya. Kemudian disusul oleh Ying dan Fang yang juga sama-sama mengenakan tas ransel di punggung masing-masing. Yang terkahir muncul adalah Gopal. Ia berlari terengah-engah ke arah mereka. Di punggungnya terdapat sebuah ransel besar yang Boboiboy yakini isinya pastilah makanan.

"Oke, semua sudah lengkap?" tanya Tok Aba setelah mengecek keadaan mobil VW tuanya.

"Sudah, tok," sahut Boboiboy.

"Baiklah kalau begitu. Kita berangkat sekarang?" tanya Tok Aba lagi.

Mereka semua mengangguk bersemangat.

"Ayo kita ke pantai!" seru Gopal. Mereka pun meletakkan bawaan masing-masing di jok belakang mobil dan kemudian menjejalkan diri mereka di jok di belakang kursi pengemudi.

Awalnya kelima sahabat itu saling berdesakan di jok tengah hingga akhirnya mereka memutuskan untuk menyuruh Gopal duduk di jok depan di sebelah Tok Aba yang mengemudikan mobil. Akhirnya mereka bisa duduk nyaman tanpa harus merasa sesak lagi. Tok Aba pun kemudian menyalakan VW nya dan mereka pun meluncur pelan menuju pantai Pulau Rintis.

.

.

.

Pantai di hari Minggu memang selalu dipenuhi banyak orang. Berbagai macam orang dari berbagai kalangan memang selalu menjadikan pantai sebagai salah satu alternatif liburan untuk menyegarkan pikiran mereka yang penat oleh pekerjaan maupun sekolah.

Setelah berkeliling selama beberapa saat, akhirnya Boboiboy dan teman-temannya menemukan sebuah pondok peristirahatan kosong yang bisa mereka tempati. Tok Aba, Boboiboy, Yaya, Ying, dan Fang memilih untuk beristirahat sejenak untuk melepas kepenatan mereka setelah berkendara selama kurang lebih 1 jam. Sementara Gopal dan Ochobot langsung berlari dengan bersemangat ke arah laut setelah mencampakkan begitu saja barang bawaan mereka.

"Yuhuu, lautt! I'm comi~ng!" seru Gopal dan ia langsung melesat meniggalkan teman-temannya dan menceburkan diri ke laut.

Fang memutar bola matanya, sedangkan Ying, Yaya, dan Boboiboy hanya geleng-geleng kepala.

Setelah puas duduk-duduk beristirahat sambil menikmati semilir angin laut yang sejuk, Bobobiboy pun memutuskan untuk mengikuti jejak Gopal berenang di laut.

"Aku mau berenang sekarang. Kalian ikut?" tanya Boboiboy.

Ying dan Yaya mengangguk-angguk bersemangat. Sementara Fang sibuk mengubek-ubek tas ranselnya dan mencari sesuatu. Akhirnya pemuda berkacamata itu berhasil menemukan apa yang dicarinya. Boboiboy tercengang saat Fang mengeluarkan sebotol besar sun-block dan kemudian dengan hati-hati mengoleskannya di sekujur tubuhnya.

"Astaga, Fang. Kau sudah seperti cewek saja," komentar Ying.

"Aku dan Ying bahkan tidak membawa sun-block. Sepertinya kau lebih cocok jadi cewek daripada kami, Fang," sambung Yaya.

Boboiboy dan Tok Aba hanya tertawa geli, sementara Fang mendengus kesal karena dikatai seperti anak perempuan.

"Terserah deh, kalian mau bilang apa. Yang penting besok aku tidak harus masuk sekolah dengan keadaan kulit gosong terbakar matahari." Ying dan Yaya memutar mata mereka dan Boboiboy tergelak mendengar komentar Fang.

"Sudahlah, ayo kita tinggalkan saja nona Fang ini. Lebih baik kita segera berenang di laut," kata Boboiboy.

Kemudian ia, Ying, dan Yaya berjalan ke arah laut dan meninggalkan Fang yang masih sibuk mengoleskan sun-block, dan juga Tok Aba yang memilih untuk tetap beristirahat di pondok dan menjaga barang-barang mereka.

"Oi! Tunggu aku!" Fang menyusul mereka tak lama kemudian.

.

.

.

Boboiboy menikmati waktu yang sangat menyenangkan hari ini bersama teman-temannya. Tapi ada yang aneh dengan tubuhnya. Ia beberapa kali mengalami kesulitan saat bergerak, dan ia juga cepat merasa lelah. Namun Boboiboy berusaha sebaik mungkin menyembunyikannya dari teman-temannya. Hanya Yaya yang menyadari kondisinya, dan gadis itu berkali-kali menatap Boboiboy dengan cemas, takut sahabatnya itu akan tumbang lagi.

Kelima remaja itu —dan juga Ochobot— duduk beristirahat di bawah pohon kelapa setelah puas bermain. Mereka meminta Ochobot mengipasi mereka satu persatu, dan Ochobot pun melakukannya dengan sedikit menggerutu. Tak ada yang berbicara selama beberapa saat, barulah kemudian Gopal membuka mulut untuk memecah keheningan.

"Hei, ini sudah waktunya makan siang. Ayo kita kembali ke pondok. Aku lapar sekali," keluh Gopal sambil mengusap perutnya.

"Ya, aku juga lapar. Ayo kita makan siang," kata Yaya menyetujui usul Gopal.

Ketiga teman mereka yang lain mengangguk setuju. Mereka pun bangkit dan berjalan kembali ke pondok tempat Tok Aba menunggu.

"Hei bagaimana kalau nanti kita naik ke tebing itu?" usul Ying tiba-tiba sambil menunjuk tebing yang berada tak jauh dari pantai.

"Apa?! Untuk apa kita naik ke tebing mengerikan itu?" seru Gopal tak percaya dengan usul Ying.

"Tentu saja untuk melakukan cliff diving, Gopal. Masa kau tidak pernah lihat orang yang terjun ke laut dari atas tebing seperti itu?" ucap Ying.

"Tentu saja aku pernah melihatnya. Tapi aku tak akan pernah mau melakukannya. Kalau aku mati bagaimana?" tanya Gopal ketakutan.

"Jangan berlebihan. Kau tidak akan mati. Malahan itu seru sekali, lho. Aku sering melakukannya dengan sepupu-sepupuku," ujar Ying lagi.

"Sepertinya seru. Ayo kita coba," kata Boboiboy antusias.

"Kurasa lebih baik tidak usah," gumam Yaya sambil memandangi Boboiboy dengan khawatir. Ia tau pemuda itu sedang tidak dalam kondisi yang baik, jadi Yaya tidak ingin mereka melakukan sesuatu yang bisa membuat keadaan Boboiboy semakin buruk.

Gopal terlihat senang mendengar penolakan Yaya, namun Ying hanya menatap sahabatnya itu dengan sedikit heran. "Lho, kenapa? Biasanya kau suka hal-hal seperti ini," kata gadis berkacamata bundar itu.

"Iya, sih. Tapi Boboiboy …" Yaya langsung menghentikan uucapannya saat Boboiboy menatapnya, berusaha mencegahnya berbicara lebih jauh.

"Boboiboy kenapa?" tanya Fang curiga.

"Aku nggak kenapa-napa, kok. Jadi ayo kita naik ke tebing itu setelah makan siang nanti," ujar Boboiboy bersemangat.

Ying dan Fang saling berpandangan selama beberapa saat, sedangkan Gopal terlihat tidak mengerti dengan situasi saat ini. Ia hanya berharap teman-temannya membatalkan niat mereka untuk melompat dari tebing mengerikan itu. Akhirnya Ying pun mengangguk dengan bersemangat.

"Baiklah. Kalau begitu selepas makan siang kita akan terjun dari tebing itu!" seru Ying.

Boboiboy bersorak gembira dan Yaya hanya bisa mendesah pelan. Fang mengangkat bahunya dan terus berjalan menuju pondok tempat Tok Aba menunggu. Sedangkan Gopal hanya menatap mereka tak percaya. Ia menganggap teman-temannya pasti sudah gila dan pemuda berbadan besar itu bertekad untuk tidak ikut-ikutan.

.

.

.

"Atok, nanti kami mau melakukan cliff diving ya? "kata Boboiboy pada atoknya saat mereka sedang menyantap makan siang.

"Cliff diving? Apa itu?" tanya Tok Aba bingung.

"Itu lho, tok. Terjun bebas ke laut dari atas tebing. Kayak yang di TV-TV itu," jelas Boboiboy.

"Apa? Terjun dari atas tebing? Tidak, tidak, tidak. Kalian tidak boleh melakukannya. Itu kan berbahaya!" kata Tok Aba.

"Ha! Benar sekali perkataan, Tok Aba! Kita tidak boleh melakukannya, bahaya!" Gopal segera menyambut gembira penolakan dari Tok Aba.

"Nggak bahaya, kok, Tok. Ying saja sering melakukannya. Ya kan, Ying?" Gadis berkacamata bulat itu hanya mengangguk karena mulutnya masih penuh dengan makanan.

"Plis, Tok. Boboiboy pengen banget coba melompat dari tebing itu," pinta boboiboy dengan wajah memelas.

"Kalau nanti kalian kenapa-napa gimana?"

"Nggak bakalan, Tok. Janji, deh." Boboiboy mengacungkan jari kelingkingnya.

Tok Aba terlihat berpikir untuk beberapa saat. Gopal menggelengkan kepalanya kuat-kuat dan memberi isyarat pada Tok Aba agar ia tak memberi mereka izin.

"Baiklah. Kalian boleh pergi," kata Tok Aba akhirnya. Gopal mendesah kecewa sementara teman-temannya yang lain bersorak gembira. Bahkan Yaya yang tadinya ikut menolak juga terlihat senang karena sejujurnya ia memang menyukai hal-hal seperti ini.

"Atok ini memang selalu terbaik!" kata Boboiboy sambil mengacungkan dua jempolnya.

"Ya lah. Kalau lagi begini aja baru kau bilang atok terbaik," dengus Tok Aba. Boboiboy hanya nyengir.

"Kau mau ikut, Ochobot?" ajak Boboiboy pada robot bola kuning yang sedang sibuk memotong-motong semangka untuk mereka.

"Tidak, tidak, tidak. Aku kan takut ketinggian," ucap Ochobot ngeri.

"Ya sudah kalau begitu."

Boboiboy dan teman-temannya segera menuntaskan makan siang mereka dan tidak sabar ingin segera merasakan bagaimana rasanya terjun dari atas tebing.

.

.

.

Gopal sudah bertekad untuk tidak ikut-ikutan ataupun menuruti kemauan teman-temannya yang ingin melakukan cliff diving itu. Namun malang bagi Gopal, walaupun ia bersikeras untuk tidak ikut, teman-temannya berhasil menyeretnya bersama mereka dan kini disinilah mereka berlima. Berdiri di atas tebing setinggi 15 meter di atas laut.

"Ayolah teman-teman. Tolong jangan paksa aku melakukan ini. Aku belum mau mati. Aku masih ingin menikmati masa-masa SMA ku. Aku bahkan belum punya pacar!" kata Gopal ngawur.

Teman-temannya hanya menyeringai ke arahnya dan tiba-tiba saja mereka telah mendorongnya ke bawah dan kini ia sedang menukik turun ke arah lautan yang berwarna biru terang di bawahnya. Gopal sibuk berkomat-kamit berdoa dalam hatinya dan berharap agar ia bisa pulang dengan selamat nantinya.

Boboiboy, Fang, Ying, dan Yaya tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Gopal setelah mereka mendorongnya jatuh. Kini mereka berempat mulai mengambil ancang-ancang dan kemudian secara bersamaan mereka terjun bebas ke arah lautan yang membentang di bawah mereka.

Angin menderu di telinga Boboiboy saat ia membiarkan gravitasi menarik tubuhnya ke bawah. Ia menjerit. Tapi itu bukan jeritan ketakutan, melainkan jeritan kegembiraan dan kepuasan saat membiarkan tubuhnya terus melayang jatuh. Ia bisa mendengar teman-temannya juga menjerit gembira. Ini benar-benar menyenangkan! Jerit Boboiboy dalam hati.

Akhirnya setelah melayang selama beberapa saat, tubuhnya menghantam air laut yang dingin. Air laut bergemuruh di telinganya. Boboiboy menggerakkan tangan dan kakinya untuk berenang ke atas, saat rasa sakit di dadanya menghapus semua kegembiraan yang ia rasakan beberapa saat lalu. Ia berusaha berenang ke atas dengan panik dan mengabaikan rasa sakit di dadanya.

Sayangnya tekanan air laut seolah memaksanya untuk terus tenggelam. Ia menggapai-gapai ke atas tak berdaya. Tangan dan kakinya mulai terasa keram saat perlahan ia merasakan udara di paru-parunya mulai menipis. Boboiboy menutup matanya dan berusaha mengusir semua rasa sakit yang dirasakannya.

Jeritan kegembiraan dalam hatinya kini digantikan oleh jeritan kesakitan. Sakit yang dirasakannya semakin menjadi-jadi dan benar-benar tak tertahankan sehingga ia berharap agar Livey segera datang dan mencabut nyawanya untuk menghilangkan rasa sakit ini.

Samar-samar Boboiboy bisa melihat sebuah sosok hitam datang menghampirinya. Itu pasti Livey. Malaikat itu pasti datang untuk mencabut nyawanya dan mengakhiri semua penderitaan ini.

Cahaya matahari semakin menjauh saat perlahan tubuh Boboiboy terus tenggelam dalam air laut yang dingin yang terus menariknya ke bawah, menuju kehampaan.

.

.

.

Fang menyemburkan air dari mulutnya saat ia akhirnya berhasil memunculkan kepalanya di atas permukaan air. Ia memandang sekelilingnya dan melihat Ying dan Yaya berada tak jauh darinya. Mereka juga terlihat terbatuk-batuk dan menyemburkan air laut yang memaksa masuk ke tenggorokan mereka saat melompat ke bawah tadi. Beberapa meter dari Fang, Gopal sedang mengapung dan mulutnya tak henti-hentinya mengeluarkan sumpah serapah yang menandakan bahwa pemuda berdarah India itu masih hidup dan baik-baik saja.

"Itu tadi menyenangkan sekali! Ayo kita ulangi lagi!" seru Yaya gembira. Ia sudah lupa sama sekali dengan kekhawatirannya tadi.

"Ayo!" sambut Ying antusias.

"Tidak, terima kasih. Sudah cukup sekali aku hampir mati. Aku tak akan pernah mau mengulanginya lagi," gerutu Gopal sambil berenang ke arah mereka.

"Oh, ayolah, Gopal. Masa kau tidak menikmatinya tadi?" kata Yaya sambil tertawa.

"Bagaimana aku bisa menikmati saat teman-temanku mendorongku jatuh dari tebing setinggi 15 meter dan kukira maut akan segera menjemputku saat aku tiba di bawah?" kata Gopal kesal.

Ying dan Yaya tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Gopal. Namun Fang tidak ikut tertawa karena ia baru menyadari bahwa mereka hanya berempat.

"Dimana Boboiboy?" tanya Fang tajam. Ying dan Yaya menghentikan tawa mereka dan baru menyadari ketidakhadiran teman mereka yang seorang lagi.

"Oh, tidak! Boboiboy pasti tenggelam!" Gopal berseru panik. Yaya merasa jantungnya berhenti berdetak saat rasa panik karena ketidakhadiran Boboiboy memenuhi seluruh pikirannya.

"Jangan bodoh, Gopal. Boboiboy kan pandai berenang. Dia tidak mungkin…" Perkataan Ying terputus dan matanya membelalak saat ia melihat sesosok tubuh terapung tak jauh di belakang Gopal.

"Boboiboy!" Ying berseru dan segera berenang menghampiri tubuh yang terapung-apung itu. Ketiga temannya mengikutinya.

Ying menatap tak percaya saat dilihatnya ternyata tubuh yang terapung itu benar-benar Boboiboy. Mata pemuda itu terpejam dan bibirnya membiru.

"Oh, tidak! Boboiboy!" seru Yaya, ketakutan setengah mati saat melihat tubuh terapung Boboiboy.

"Cepat! Kita harus membawanya ke pinggir pantai!" kata Fang. Ketiga temannya mengangguk. Mereka kemudian bersama-sama berenang ke tepi pantai sambil membopong tubuh Boboiboy yang terkulai lemah.

Akhirnya mereka tiba di pantai dan mereka segera membaringkan tubuh Boboiboy di pasir.

"Gopal, cepat beritahu Tok Aba dan Ochobot! Juga carikan bantuan! Hubungi penjaga pantai atau siapa pun!" perintah Ying pada Gopal. Gopal mengangguk dan segera berlari meninggalkan mereka.

"Boboiboy?" Yaya mencoba memanggil Boboiboy dan mengguncang-guncangkan tubuhnya, tapi ia tidak bergerak.

Yaya meletakkan jarinya di mulut Boboiboy. Tak ada tanda-tanda bahwa pemuda itu bernafas.

"Dia tidak bernafas!" kata Yaya panik.

Yaya kemudian meletakkan kepalanya di dada Boboiboy dimana ia yakin akan bisa mendengar debar jantung sahabatnya itu. Namun ia tidak mendengar apa pun, hanya keheningan.

.

.

.

TBC

._.

Review, please?