Yuhuuu~

Saya kembali lagii~ #tebarbunga #digebukinramerame #kenapaasikluajayangnongolsih

Oke, selamat menikmati chapter baru ini.

Happy Reading ^^

Warning : Gaje, OOC, OC, Typo(s)

Disclaimer : Boboiboy dkk milik Animonsta Studios

Ide cerita ini berasal dari saya sendiri, tapi mungkin sedikit mengambil inspirasi dari beberapa fanfic yang saya baca di fandom ini.

Chapter 7

Yaya membeku tak percaya. Pemuda di hadapannya itu kini tidak lagi bernafas dan jantungnya juga telah berhenti berdetak yang hanya berarti satu hal. Boboiboy telah pergi meninggalkan mereka.

"Boboiboy!" Yaya menjerit. Ia mengguncang-guncang tubuh Boboiboy lebih keras, gadis itu bahkan menampar wajah pemuda yang terbaring di hadapannya itu, tapi sia-sia. Jantungnya sudah berhenti. Yang ia tampar hanyalah kekosongan. "Boboiboy!"

"Minggir." Fang mendorong Yaya menjauh dari Boboiboy. Jari-jarinya menyentuh titik-titik di leher Boboiboy, meraba tulang di rusuk dan tulang belakangnya.

Fang kemudian memencet hidung Boboiboy dan membuka mulutnya. Ia lalu meniupkan udara ke paru-paru Boboiboy. Dada Boboiboy perlahan-lahan naik dan turun seiring setiap udara yang ditiupkan Fang ke paru-parunya.

Yaya menangis dalam diam, menyesali dirinya yang tidak berusaha cukup keras untuk mencegah Boboiboy ikut bersama mereka. Sedangkan Ying hanya bisa diam dan melihat sambil berharap mati-matian usaha Fang berhasil. Menit-menit yang menyiksa berlalu ketika harapan mereka makin lama makin pudar. Ketika mereka berpikir bahwa sudah terlambat, bahwa Boboiboy sudah meninggal, pergi, tak bisa disentuh lagi selamanya, dia terbatuk kecil dan menyemburkan air dari mulutnya. Yaya, Ying, dan Fang menghembuskan nafas lega.

Yaya perlahan mendekat ke arah Boboiboy. "Boboiboy?" panggilnya lembut dengan suara tercekat.

Kelopak mata Boboiboy bergetar dan akhirnya terbuka. Matanya menatap ketiga temannya bingung selama beberapa saat.

"Apa— aku belum mati?" gumam Boboiboy pelan.

"Ya," bisik Yaya. Bibirnya bergetar. "Ya, kau masih hidup. Kau masih hidup." Yaya langsung menarik Boboiboy ke dalam pelukannya dan menangis terisak-isak.

"Bodoh, bodoh, bodoh! Dasar Boboiboy bodoh! Kenapa kau selalu membuatku khawatir setengah mati?!"

"Aku tidak apa-apa, Yaya. Aku baik-baik saja," ucap Boboiboy.

"Kau sempat mati! Kau tidak bernapas dan jantungmu berhenti!" kata Yaya dengan suara tercekik.

"Tidak apa-apa. Jantungku sudah kembali bekerja sekarang," kata Boboiboy berusaha menenangkan Yaya.

Ying dan Fang saling bertukar pandang penuh arti. Namun mereka tidak mengatakan apa-apa dan hanya diam memandangi kedua teman mereka itu. Saat itu, mereka mendengar suara Gopal yang berseru memanggil mereka.

"Hoooi! Aku datang membawa bantuan!" seru Gopal. Ia berlari menghampiri mereka bersama Tok Aba, Ochobot, dan dua orang penjaga pantai. Yaya segera melepaskan pelukannya dari Boboiboy.

"Boboiboy! Kamu nggak apa-apa, nak?" tanya Tok Aba khawatir.

"Ya, tok," jawab Boboiboy lemah.

Salah seorang penjaga pantai datang menghampiri Boboiboy dan berlutut di sebelahnya.

"Sepertinya dia baik-baik saja. Denyut nadinya normal. Pernapasannya juga sepertinya tidak bermasalah. Mungkin hanya sedikit terguncang. Lebih baik segera bawa dia pulang dan biarkan dia beristirahat," kata penjaga pantai itu pada Tok Aba.

"Ya, baiklah. Terima kasih banyak," ucap Tok Aba. Kedua penjaga pantai itu membungkuk singkat dan kemudian berlalu meninggalkan mereka.

"Apa yang terjadi, Boboiboy?" tanya Tok Aba cemas sambil membelai rambut cucunya itu.

"Tadi Boboiboy tenggelam, dan dia sempat … tak sadarkan diri," jelas Ying. Ia ingin mengucapkan 'sempat mati', tapi takut Tok Aba terkejut dan malah terkena serangan jantung.

"Tapi Boboiboy udah nggak apa-apa kok, Tok. Dia udah dikasih nafas buatan sama Fang," lanjut Ying.

"APA?! Fang ngasih nafas buatan ke Boboiboy?!"seru Gopal shock. Fang melemparkan tatapan membunuh pada Gopal dan pemuda bertubuh gempal itu pun langsung menutup mulutnya rapat-rapat.

"Sudahlah. Yang penting sekarang kau baik-baik saja Boboiboy. Ayo, kita pulang," kata Tok Aba.

Mereka berlima mengangguk. Boboiboy segera bangkit berdiri dengan sedikit limbung. Teman-temannya menatapnya dengan khawatir.

"Kau bisa jalan? Perlu kupapah?" tanya Gopal.

"Tidak. Aku tidak apa-apa," ucap Boboiboy. Ia kemudian berjalan beriringan dengan teman-temannya mengikuti Tok Aba yang berjalan di depan bersama Ochobot.

Boboiboy merutuki dirinya sendiri karena telah menghancurkan liburannya yang seharusnya menyenangkan. Tapi itu tidak berlangsung lama, karena ia merasa sangat lega dirinya masih hidup. Masih bisa bernafas dan melihat teman-temannya lagi.

Selama sesaat yang mengerikan saat ia tenggelam di laut tadi, Boboiboy sudah sangat yakin dirinya tidak akan bisa lagi bertemu dengan orang-orang yang dicintainya. Ia sangat bersyukur masih diberikan kesempatan untuk menghirup udara dan membuka matanya. Walaupun waktu yang dimilikinya untuk menikmati semua ini semakin berkurang.

Boboiboy seolah bisa melihat sebuah jam pasir yang terus menitikkan pasir setiap detiknya, seolah menghitung mundur sisa-sisa waktu yang dimilikinya.

.

.

.

Hari Rabu selalu menjadi hari yang menyebalkan bagi Boboiboy. Karena setiap hari Rabu, Boboiboy harus mengikuti 3 mata pelajaran yang paling dibencinya sekaligus. Matematika, Kimia, dan Biologi.

Namun, hari Rabu ini terasa lebih berat daripada Rabu-Rabu sebelumnya. Tidak hanya harus menerima siksaan dari tiga mata pelajaran yang paling dibencinya, tapi ia juga harus menerima siksaan dari tubuhnya.

Sejak pulang dari pantai hari Minggu kemarin, Boboiboy terus-terusan merasa tidak enak badan. Badannya panas dingin dan ia sering merasakan nafasnya sesak. Dan kelihatannya hari ini merupakan puncaak rasa sakitnya. Ia berulang kali harus meminta izin keluar kelas, karena perutnya terus merasa mual. Seolah-olah ada sesuatu di tubuhnya yang marah karena ia bisa menghindari kematian dan berniat menyiksanya habis-habisan.

Boboiboy duduk di lantai toilet —yang untungnya kering— dengan kepala tertunduk. Ia menyeka darah dari mulutnya dengan sapu tangan. Ya, ia lagi-lagi harus meminta izin ke toilet karena ingin muntah. Dan kali ini, muntahan yang keluar dari mulutnya berupa darah segar.

Air mata mengalir dari sudut-sudut matanya. Sudah berakhir, pikir Boboiboy. Semuanya sudah berakhir sekarang. Waktu satu mingguku hampir habis. Aku tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi.

Pemuda bertopi jingga itu membiarkan air matanya terus tumpah, mewakili setiap perasaan takut yang ia rasakan sejak ia divonis akan segera mati. Namun Boboiboy tau ia harus segera kembali ke kelas agar teman-temannya —yang sudah mulai merasa curiga dengan kondisi anehnya beberapa hari ini— tidak tambah khawatir. Maka dengan sisa-sisa kekuatannya, Boboiboy pun bangkit, membersihkan diri, dan berjalan kembali menuju ke kelasnya.

.

.

.

Boboiboy berjalan pulang bersama teman-temannya sambil berusaha sekuat tenaga menyembunyikan rasa sakitnya.. Tubuhnya yang sedang sekarat sepertinya mulai menyerah untuk melawan kekuatan yang menggerogoti tubuhnya. Dan saat kekuatan itu berhasil menghancurkan seluruh tubuhnya, saat itulah hidupnya benar-benar akan berakhir.

Pemuda pemilik kekuatan lima elemen itu, menghentikan langkahnya dan menyenderkan dirinya di tembok yang membatasi gang kecil yang sedang mereka lewati. Ia memejamkan mata dan berusaha mengusir rasa pusing yang mulai menjalar di kepalanya.

"Boboiboy?" sebuah suara menyentakkan Boboiboy., tapi otaknya mulai susah mencerna pemiliki suara itu. Sepertinya itu suara Ying. Dengan perlahan ia membuka matanya, namun pandangannya mulai memburam. Boboiboy menggeleng-gelenngkan kepalanya untuk menjernihkan otaknya dan akhirnya ia bisa melihat keempat temannya menunduk memandanginya dengan cemas. Boboiboy baru menyadari bahwa ia kini sedang berlutut di atas tanah sambil memegangi kepalanya yang serasa mau pecah.

"Aku baik-baik saja," gumamnya. Ia sudah mengucapkan kata-kata itu beribu kali beberapa hari ini. Namun teman-temannya jelas mulai tidak mempercayai kata-katanya.

"Kau jelas tidak baik-baik saja. Ayolah Boboiboy, berhentilah berbohong pada kami," kata Ying.

"Aku tidak apa-apa. Sungguh. Cuma sedikit pusing," ucap Boboiboy bersikeras. Ia kemudian bangkit berdiri dan bersyukur karena ia bisa berdiri dengan mantap dan tidak limbung.

"Nah, ayo kita lanjutkan perjalanan pulangnya," lanjut Boboiboy. Ia berusaha tersenyum, namun senyumannya malah lebih mirip seringai kesakitan karena dadanya juga mulai nyut-nyutan. Teman-temannya memandanginya, namun Boboiboy segera berjalan mendahului mereka dan akhirnya keempat sahabatnya itu mengikutinya.

Yaya dan Ying berjalan di sisi kanan dan kirinya. Sedangkan Gopal dan Fang berjalan di belakangnya. Mereka seolah tengah bersiap untuk menangkap Boboiboy bila ia terjatuh. Dan pemuda itu terlalu letih untuk mendebat mereka.

Akhirnya setelah perjalanan yang terasa sangat panjang dan melelahkan bagi Boboiboy, ia pun tiba di depan rumahnya. Ia mengucapkan sampai jumpa pada temannya.

"Kami mau mampir ke kedai Tok Aba dulu. Kau beristirahatlah di rumah, Boboiboy," kata Yaya. Ia sebenarnya ingin menemani Boboiboy di rumah, tapi takut membuat teman-temannya yang lain curiga. Gadis berkerudung merah jambu itu telah berjanji pada Boboiboy untuk tidak membiarkan teman-teman mereka yang lain mengetahui keadaannya.

Boboiboy hanya menanggapi ucapan Yaya dengan anggukan lemah.

"Kalau kau sudah merasa agak baikan, kau bisa menemui kami di kedai Tok Aba, oke?" lanjut Yaya lagi.

Boboiboy kembali mengangguk dan kemudian ia melambai pada temannya. Sambil menyeret langkahnya, Boboiboy pun masuk ke rumahnya dan beristirahat.

.

.

.

Sementara itu, Ying, Yaya, Fang, dan Gopal tengah asyik bersantai di kedai coklat Tok Aba. Saat ini hanya ada Ochobot yang menjaga kedai, karena Tok Aba sedang pergi mengantarkan coklat ke rumah pelanggannya. Keempat anak itu masing-masing memesan segelas es coklat yang dengan cekatan disiapkan oleh Ochobot. Setelah itu robot bola kuning itu terlihat sibuk menyapu sekitar kedai dan membiarkan Ying, Yaya, Fang, dan Gopal menikmati minuman mereka.

Yaya menyeruput es coklatnya sambil pikirannya menerawang jauh. Ia mengkhawatirkan Boboiboy yang sedang sakit dan sendirian di rumah. Gadis berkerudung itu berpikir untuk kembali ke rumah Boboiboy dan memeriksa keadaan temannya itu.

"Hei, Yaya. Apa kau tau sesuatu tentang Boboiboy?" tanya Ying.

Yaya tersedak minumannya. "Sesuatu apa?" tanyanya sambil menepuk-nepuk dada.

"Entahlah. Kau tau, akhir-akhir ini kondisi Boboiboy agak aneh. Aku mulai merasa cemas melihat keadaannya. Dan juga … aku terus-terusan merasakan firasat buruk tentang Boboiboy," ujar Ying sambil merenung.

"Kau juga merasakan firasat buruk? Aku juga sama. Entah kenapa aku jadi takut dan khawatir sekali dengan keadaan Boboiboy," sambung Gopal.

"Ya, aku juga merasakannya. Seolah-olah Boboiboy akan pergi jauh…" kata-kata Fang menggantung dan menyelimuti mereka dengan atmosfer suram.

"Tidak!" kata Yaya keras. "Boboiboy tidak akan pergi kemana pun! Ia akan tetap bersama kita!" lanjutnya lagi dan gadis itu menatap ketiga temannya seolah menantang mereka untuk membantahnya.

"Ya, aku juga berharap begitu. Tapi firasatku…" ucapan Ying terpotong oleh seruan marah Yaya.

"Berhentilah memikirkan tentang firasat buruk itu! Boboiboy akan baik-baik saja! Aku tau itu." Yaya menatap ketiga temannya dengan marah. Sebenarnya ia juga sedang berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa Boboiboy memang akan baik-baik saja. Walaupun ia tau kebenaran pahit yang disembunyikan Boboiboy dari teman-teamnnya yang lain.

Ying, Fang, dan Gopal saling berpandangan dan mereka tidak mengatakan apapun selama beberapa lama. Yaya berusaha menenangkan dirinya dengan menyeruput kembali es coklatnya.

"Hei, Yaya. Apa kau menyukai Boboiboy?" tanya Ying tiba-tiba.

Yaya menyemburkan es coklat yang sedang diminumnya. "Ap-apa?" tanyanya gugup sambil mengelap tumpahan es coklatnya.

"Aku tanya, apa kau menyukai Boboiboy?" Ying mengulangi pertanyaannya sambil menyeringai jahil.

"Tidak! Aku tidak menyukai Boboiboy," jawab Yaya cepat. Wajahnya mulai memerah dan ia berusaha sebisa mungkin menyembunyikannya.

"Oh, ya? Lalu kenapa mukamu jadi merah gitu?" Gopal ikut-ikutan menggoda Yaya.

"Ti-tidak kok!" Yaya berusaha menutupi wajahnya yang semakin memerah.

"Tapi kemarin di pantai, aku dan Fang melihatmu langsung memeluk Boboiboy saat ia sadar setelah kejadian tenggelam itu," kata Ying lagi.

"It-itu karena aku mengkhawatirkan Boboiboy! Sebagai teman! Dia kan temanku, dan dia teman kalian juga kan?" bela Yaya.

"Iya sih. Tapi aku dan Ying tidak langsung menghambur memeluk Boboiboy saat ia sadar." Fang pun mulai ikut-ikutan memojokkan Yaya.

"Emm, itu…" Yaya mulai kehabisan akal untuk mengelak. Untunglah ia diselamatkan oleh kemunculan Ochobot.

"Kalian sedang membicarakan apa, sih? Keliatannya seru," tanya Ochobot penasaran.

"Itu lho, Ochobot. Kami sedang membicarakan…"

"Kami sedang tidak membicarakan apa-apa kok." Yaya segera memotong ucapan Ying.

"Oh ya? Tapi keliatannya tadi kalian sedang membicarakan sesuatu," kata Ochobot bingung.

"Oh, itu, kami sedang —kami sedang membicarakan cuaca! Hari ini cuacanya cerah sekali ya!" ucap Yaya asal sambil menunjuk langit biru di atas. Namun setelah Yaya mengatakan itu, cuaca tiba-tiba langsung berubah mendung. Awan kelabu berarak pelan bergulung-gulung menutupi matahari. Yaya ternganga tak percaya. Sementara teman-temannya tertawa terbahak-bahak.

"Ya, cuacanya cerah sekali, Yaya," sindir Fang.

"Diam kau," kata Yaya galak.

Teman-temannya kembali tertawa geli.

"Waah, kalian semua sedang apa disini?" Tok Aba tiba-tiba muncul entah darimana.

"Kami sedang bersantai, tok," jawab Ying.

"Dimana Boboiboy?" tanya Tok Aba heran saat menyadari cucunya tidak ada disitu.

"Boboiboy sedang beristirahat di rumah tok. Sepertinya dia tidak enak badan," kata Gopal.

"Boboiboy sakit lagi? Ia semakin membuat atok khawatir saja. Apalagi Boboiboy juga selalu menolak saat atok mengajaknya ke dokter," kata Tok Aba cemas.

Keempat sahabat Boboiboy hanya diam karena mereka juga mengkhawatirkan teman mereka itu. Sementara itu, langit semakin menggelap dan tak lama kemudian tetes-tetes hujan mulai jatuh perlahan.

"Oh, tidak. Kita harus segera pulang sebelum hujannya semakin deras," kata Ying. Ketiga temannya mengangguk setuju. Mereka segera membereskan barang-barang mereka dan bersiap pulang.

"Atok, kami pulang dulu," pamit keempat remaja itu. Tak lupa mereka meninggalkan bayaran di atas meja —kecuali Gopal yang seperti biasa berhutang dulu.

"Ya. Hati-hati di jalan," kata Tok Aba.

Baru saja mereka melangkahkan kaki untuk pulang, tiba-tiba tanah yang mereka pijak bergetar. Kemudian di hadapan mereka muncul sebuah robot raksasa setinggi 5 meter yang menjulang di atas mereka. Terdengar suara tawa membahana dari arah robot tersebut.

"Itu suara Adu Du. Sial, apa lagi rencana si alien kepal kotak itu?" kata Ying geram.

Ying, Yaya, Fang, dan Gopal segera bersiap-siap menyerang namun tiba-tiba robot itu menyerang mereka lebih dulu dengan menembakkan sebuah peluru raksasa. Keempat anak itu berusaha menghindari serangan robot raksasa itu. Peluru itu pun melesat melewati mereka kemudian meledak saat menghantam tanah dan menghancurkan sebagian kedai Tok Aba. Untunglah Tok Aba dan Ochobot berhasil menyelamatkan diri.

"Beraninya kau Adu Du!" seru Yaya marah.

Gadis itu bersiap melancarkan serangan. Tiba-tiba di hadapan mereka muncul sebuah robot ungu yang langsung menembak mereka dengan sebuah pistol yang mengeluarkan cahaya aneh. Yaya merasa matanya memberat saat tubuhnya perlahan terkulai jatuh dan ia pun tak sadarkan diri.

.

.

.

Boboiboy baru saja memejamkan matanya saat ia mendengar suara ledakan. Ia segera melompat dari tempat tidurnya dan berlari ke jendela. Hujan sedikit mengaburkan penglihatannya yang memang sedang tidak dalam kondisi yang baik. Namun akhirnya ia melihat asap mengepul dari arah taman di dekat rumahnya. Dan yang membuatnya ngeri, asap itu sepertinya berasal dari kedai atoknya.

Dengan segera Boboiboy berlari keluar dari kamarnya dan berderap menuruni tangga. Sayangnya karena terlalu terburu-buru, ia malah tersandung dan akhirnya jatuh menggelinding menuruni tangga. Kepalanya terasa berputar dan perutnya mual, namun Boboiboy memaksakan dirinya bangun dan berlari ke luar.

Boboiboy tiba di taman dan pemandangan yang disaksikannya membuatnya ngeri. Ia melihat keempat teman-temannya, juga Tok Aba dan Ochobot tergeletak tak sadarkan diri. Ditambah lagi kedai Tok Aba yang hancur sebagian seolah baru saja diledakkan oleh sesuatu.

Tanah yang dipijaknya bergetar saat tiba-tiba sebuah robot besar mendarat tak jauh darinya. Boboiboy mendongak dan melihat Adu Du sedang duduk di ruang kendali si robot raksasa.

"Halo, Boboiboy. Akhirnya kau muncul juga," kata Adu Du sambil menyeringai jahat.

"Apa yang telah kau lakukan pada Tok Aba dan teman-temanku?!" teriak Boboiboy marah.

"Oh, jangan khawatir. Mereka akan baik-baik saja. Aku hanya menidurkan mereka sebentar agar mereka tidak bisa mengganggu pertarungan kita," ucap Adu Du.

"Pertarungan apa?" seru Boboiboy marah.

"Pertarungan satu lawan satu antara kau dan aku, Boboiboy!"

"Pertarungan satu lawan satu?"

"Ya! Kali ini teman-temanmu tidak akan bisa membantumu. Jadi kau harus menghadapiku seorang diri!"

Boboiboy terlihat berpikir keras.

"Ayolah, Boboiboy. Kau tidak mungkin takut menghadapiku sendirian kan?" kata Adu Du meremehkan.

Boboiboy terdiam. Pikirannya berkecamuk. Ia memikirkan konsekuensi yang akan didapatnya jika ia nekat bertarung melawan Adu Du dengan kondisi seperti ini. Tapi ia juga tidak bisa membiarkan teman-temannya begitu saja.

"Jangan lakukan itu. Kau akan mati kalau kau nekat bertarung melawannya," bisik suara Livey di telinga Boboiboy.

"Tapi jika aku tidak bertarung melawannya, ia mungkin akan menyakiti Tok Aba dan yang lain!" balas Boboiboy putus asa.

"Kau harus memikirkan keselamatanmu sendiri! Pergilah! Jangan bertarung dengannya! Teman-temanmu mungkin akan baik-baik saja walaupun kau tidak bertarung melawan Adu Du."

"Aku tidak bisa meninggalkan mereka. Mereka segalanya bagiku. Aku harus menyelamatkan mereka."

"Bagaimana Boboiboy? Apa kau sudah berpikir baik-baik? Apa kau mau menyerah dan lari dari pertarungan ini?" kata Adu Du dengan nada mengejek.

"Aku tidak akan lari, dasar alien sialan! Aku bukan pecundang! Sini hadapi aku kalau kau berani!" seru Boboiboy. Ia dipenuhi amarah sekarang. Boboiboy bisa merasakan kekuatan yang dimilikinya, yang selama ini terus menghancurkan tubuhnya, kini mengalir di seluruh urat nadinya dan memberinya energi.

Tubuhnya kini tidak lagi merasa lemah dan seluruh indranya kembali segar. Walaupun rasa sakit yang dirasakannya tidak berkurang dan malah semakin menyiksa dirinya. Seolah-olah kekuatan itu menyiapkan dirinya agar kuat untuk menghadapi pertarungan ini dan juga sekaligus ingin menyiksanya sampai mati.

"BOBOIBOY KUASA TIGA!" Boboiboy berseru dan ia hampir menjerit kesakitan saat dirinya berpecah menjadi tiga dan jantungnya seolah dirobek dan ditusuk-tusuk dengan pisau.

Kini ketiga elemental Boboiboy berdiri berdampingan dengan wajah meringis kesakitan namun juga dipenuhi amarah.

"Oke, ayo kita selesaikan ini secepatnya," ucap Gempa. Taufan dan Halilintar mengangguk.

"Bagus sekali, Boboiboy. Sebentar lagi aku akan menyaksikan kehancuranmu!" gumam Adu Du sambil tertawa jahat.

"Halilintar, Taufan, kalian serang robot itu dari atas. Biar aku serang dia dari bawah sini," kata Gempa yang dijawab dengan anggukan oleh Halilintar dan Taufan.

"Pedang Halilintar! Gerakan kilat!" Halilintar mengeluarkan dua pedang halilintar merahnya dan bergerak cepat menyerang robot itu.

Taufan pun segera menyusul dengan menaiki hoverboard nya. Ia mengeluarkan banyak sekali bola taufan dan melemparkannya ke arah robot raksasa itu.

Serangan Halilintar dan Taufan digagalkan oleh kemunculan sebuah perisai yang menyelubungi seluruh tubuh robot itu, membuatnya menjadi tak bisa tersentuh.

"Golem tanah!" seru Gempa dan muncullah raksasa tanah andalannya. Ia berusaha menghancurkan perisai robot itu dengan golem tanahnya, tapi perisai itu tak bisa ditembus.

Hujan turun semakin deras, sementara ketiga elemental Boboiboy terus berusaha menyerang robot itu dengan kuasa elemen mereka masing-masing. Namun serangan mereka tidak berhasil melukai robot itu sedikit pun, bahkan sedikit goresan pun tidak berhasil mereka tinggalkan. Ketiganya mulai kehabisan nafas. Mereka kini berdiri bersisian sambil terengah-engah karena kehabisan tenaga.

"Ahaha! Kau menyerah Boboiboy? Kau tak akan bisa melukai robot ini sedikitpun! Perisainya jauh lebih kuat daripada perisai robot tempur mana pun!" seru Adu Du sambil tertawa kejam.

Halilintar menggeram marah dan sekali lagi berusaha menyerang robot itu dengan sabetan pedang halilintarnya. Robot itu menangkis serangan Halilintar dengan tangan raksasanya. Halilintar yang tidak mengantisipasi hal itu, terkena tangkisan tangan robot itu dan terhempas ke tanah dengan keras.

"Halilintar!" Gempa dan Taufan berlari menghampiri Halilintar. Elemental Boboiboy yang memakai topi merah hitam itu meringis kesakitan dan mulutnya mulai memuntahkan darah.

"Oh, tidak! Kita benar-benar akan tamat!" seru Taufan panik.

"Bagaimana ini? Kita tak akan bisa bertahan lebih lama lagi," kata Gempa putus asa.

"Sial! Seandainya kita bisa menghancurkan perisai robot itu!" ucap Halilintar sambil menghapus darah di mulutnya.

"Kita sudah mencoba menghancurkan perisai itu berkali-kali, tapi tidak mempan," ucap Taufan.

"Tapi, tidakkah kalian merasa aneh? Kita terus menyerang berkali-kali, tapi Adu Du tidak membalas serangan kita sedikitpun. Ia hanya bertahan dengan perisainya," ujar Gempa.

"Ya, sepertinya ia hanya membiarkan kita terus menyerangnya tanpa berniat membalas serangan kita," timpal Taufan.

"Mungkinkah ia sengaja? Adu Du sengaja membiarkan kita menyerangnya sampai kita kehabisan tenaga. Setelah itu barulah ia akan menghabisi kita," gumam Gempa.

"Dasar alien sialan! Kita harus menghabisi dia sebelum kita sendiri benar-benar tamat," kata Halilintar marah. Ia mencoba bangkit dan langsung terpuruk lagi karena kakinya sudah tidak kuat menopang tubuhnya.

Gempa memandang Halilintar dengan cemas. Ia sendiri merasa sudah kehabisan tenaga. Ia bahkan sudah tidak sanggup lagi mempertahankan golem tanahnya yang kini telah menghilang.

"Kita tak mungkin sanggup melawannya lagi. Kita sudah tak punya tenaga," ucap Gempa pasrah.

"Hei, kita tidak boleh menyerah sekarang! Kita harus bertempur sampai titik darah penghabisan! Ayolah, optimislah sedikit. Kita pasti bisa menghadapi ini," kata Taufan berusaha menyemangati dua bagian dirinya yang lain. Walaupun dalam hatinya ia sendiri menyadari bahwa mereka sudah tidak memiliki harapan.

"Tapi bagaimana…" kata-kata gempa terputus saat tiba-tiba terdengar suara di belakang mereka.

"Sepertinya kalian sedang kewalahan. Butuh bantuan?" ucap sebuah suara.

Ketiga elemental Boboiboy berbalik dan mata mereka terbelalak melihat dua sosok tak asing yang menghampiri mereka.

"Kalian?!"

TBC

Yap, bersambuung, iyeeei #apaansih #digampar

Oke, gimana adegan pertarungannya? Gaje banget banget kan?

Tolong diterima dengan lapang dada aja ya, author bener-bener nggak bisa bikin adegan pertarungan u.u

Oh, iya ada yang bisa nebak siapa dua sosok yang baru muncul itu?^^

Akhirnya fic ini akan segera berakhir

Chapter depan mungkin bakal jadi chapter terakhir

Jadi, terus dukung fanfic ini sampai akhir ya ;)

Sekali lagi, mind to review?