Halooo~!
Aku kembali dengan membawa chapter terakhir!
Maaf lama banget updatenya, soalnya pusing setengah mati mikirin ide cerita #digebukin
Yap, tebakan kalian di chapter kemarin itu benar sekali!
Dua sosok yang muncul itu adalah Boboiboy Api dan Boboiboy Air.
Kenapa mereka berdua tiba-tiba muncul? Entahlah, mungkin biar ceritanya bisa lebih rame? #dibakarreaders
Oke, jadi chapter terakhir ini udah aku usahain supaya bisa jadi sebagus mungkin, tapi serius, ini abal-abal dan absurd banget
Jadi, yang nggak tahan baca cerita absurd mending langsung mundur dan nggak usah baca #dilemparinbatu
Ya udah deh, tanpa banyak cuap-cuap lagi, ini dia chapter terakhirnya.
Happy Reading ^^
Warning : Gaje, OOC, OC, Typo(s)
Disclaimer : Boboiboy dkk milik Animonsta Studios
Ide cerita ini berasal dari saya sendiri, tapi mungkin sedikit mengambil inspirasi dari beberapa fanfic yang saya baca di fandom ini.
Chapter 8
Mata Gempa membulat tak percaya melihat dua sosok elemental Boboiboy yang baru saja muncul. Itu Air dan Api. Bagaimana mereka bisa ada disini?
"Bagaimana kalian bisa ada disini?" Taufan menyuarakan apa yang ada di pikiran Gempa.
"Yah, kami nggak mungkin dong mau melewatkan pertarungan seru kayak gini. Iya kan Air?" ujar Api bersemangat. Air hanya memutar bola matanya.
"Entahlah. Aku juga tidak terlalu mengerti. Tau-tau saja aku sudah muncul disini, bersama dengan Api," kata Air.
Gempa dan Taufan masih ternganga tak percaya dengan kehadiran dua elemental lainnya. Namun Halilintar berhasil mengatasi kekagetannya.
"Oke, jadi sekarang kita sudah berlima. Kita pasti bisa mengalahkan alien muka hijau itu," kata Halilintar pelan.
"Tapi, walaupun kita berlima, tetap saja kita ini sedang sekarat. Boboiboy sedang sekarat," ucap Gempa.
"Walau kita sedang sekarat, setidaknya kita harus berhasil mengalahkan Adu Du sebelum kita mati," tegas Halilintar.
"Halilintar benar. Ayo kita bertarung! Aku sudah tidak sabar ingin menghajar si muka kotak itu!" seru Api.
"Ya, kita sebentar lagi akan mati. Dan ini akan jadi pertarungan terakhir kita. Setidaknya kita harus memenangkan satu pertarungan lagi sebelum semuanya berakhir. Demi Tok Aba dan teman-teman kita," kata Air pelan. Ia terlihat tenang saat mengucapkan kata 'mati', seolah itu bukan masalah sama sekali baginya.
"Pertarungan terakhir…" gumam Gempa.
"Benar sekali! Ayo kita hadapi ini dengan gagah berani! Bangkitlah wahai rekanku sekalian!" seru Taufan yang disambut dengan seruan semangat dari Api.
"Ayo hajar si alien jelek bermuka hijau!" seru Api.
Gempa tersenyum. Ya, ia tidak boleh menyerah sekarang. Mereka tidak boleh menyerah sekarang.
"Ya, kalian benar. Mari kita akhiri ini. Kau bisa bangun Halilintar?" tanya Gempa sambil mengulurkan tangannya.
"Hmp, jangan remehkan aku." Halilintar bangkit dengan susah payah.
Kelima elemental Boboiboy berdiri berdampingan menghadap robot besar milik Adu Du itu. Terdengar suara tawa membahana dari arah dalam robot.
"Hoo, sudah selesai berbincang? Kalian beruntung sekali aku sedang baik hati dan tidak langsung memusnahkan kalian saat kalian sedang berdiskusi mengenai akhir kalian sendiri." Adu Du tertawa kejam.
"Jangan banyak omong alien jelek! Sekarang kami sudah berlima. Bersiaplah menghadapi kekalahanmu!" kata Taufan lantang.
"Kalian pikir mentang-mentang berlima, kalian akan bisa mengalahkanku? Jangan harap! Nah, serang dan kalahkanlah aku kalau kalian bisa!" seru Adu Du.
Kelima Boboiboy saling berpandangan dan kemudian seolah tengah menyetujui sesuatu, mereka saling mengangguk satu sama lain.
"Baiklah. Kalian siap?" tanya Gempa. Keempat bagian dirinya yang lain mengangguk. "Kau duluan, Air," kata Gempa lagi. Air mengangguk.
Air memejamkan matanya dan berkonsentrasi. Hujan di sekeliling mereka kini mulai berpusar mengelilingi tubuh Air. Klon Boboiboy yang bisa menguasai elemen air itu mengarahkan pusaran air hujan itu ke arah robot milik Adu Du. Segera saja kini tubuh robot itu mulai tidak terlihat jelas karena tertutup pusaran air hujan.
"Hah, Cuma segini saja?" kata Adu Du meremehkan. Ia bersiap menerbangkan robotnya agar menjauh dari pusaran air itu.
"Tanah pencengkram!" seru Gempa. Segera saja sebuah tangan raksasa dari tanah muncul dan mencengkram kaki robot itu dengan kuat sehingga ia tidak bisa melarikan diri.
"Taufan giliranmu," kata Halilintar.
Taufan segera menciptakan sebuah bola taufan raksasa di tangannya. Setelah dirasa cukup, Taufan mengarahkan bola taufan itu agar bergabung dengan pusaran air hujan yang dibuat Air. Gabungan dari bola taufan dan pusaran air hujan itu kini mengelilingi tubuh robot milik Adu Du. Perisai yang menyelubungi robot itu mulai terlihat sedikit retak dan Adu Du mulai terlihat ketakutan.
"Hujan Halilintar!" Kini giliran Halilintar yang mengeluarkan kekuatan elemennya. Tak lama, langit mendung yang kelabu mulai terlihat memerah dan satu persatu petir-petir yang berwarna semerah darah turun dan mengarah ke robot Adu Du, bergabung dengan pusaran taufan dan air. Kini pusaran itu terlihat semakin membesar dan terlihat berkilat-kilat akibat listrik yang dihasilkan oleh petir merah milik Halilintar.
Api mendapat giliran terakhir. Ia menciptakan sebuah tali raksasa yang terbuat dari api yang menyala-nyala. Api kemudian melemparkan tali itu ke arah robot raksasa Adu Du dan memerintahkan talinya agar membelit tubuh robot itu. Segera saja kini robot itu terbelit oleh tali api raksasa yang entah bagaimana tidak padam walaupun dikelilingi oleh pusaran air. Api itu malah semakin membesar dan mulai membakar perisai yang melindungi tubuh robot itu.
Pusaran milik Taufan dan Air yang mengalirkan listrik dari Halilintar itu terus menyetrum perisai robot itu, dibantu dengan belitan tali milik Api dan juga tanah pencengkram Gempa yang mencegah robot itu kabur. Sedikit demi sedikit retakan yang mereka ciptakan semakin membesar saat ia mulai tidak kuat menghadapi serangan kombo milik kelima elemental Boboiboy.
Tiba-tiba saja sebuah ledakan besar terjadi saat perisai itu akhirnya hancur berkat usaha gabungan dari kelima Boboiboy. Mereka berlima terhempas ke belakang karena angin yang tercipta dari ledakan itu. Debu dan kabut mengaburkan penglihatan mereka sehingga mereka tidak bisa melihat apa yang terjadi pada robot itu.
"Apa kita berhasil mengalahkannya?" tanya Api penuh harap.
Saat itu terdengar suara keras dan tiba-tiba saja robot itu sudah kembali berdiri di hadapan mereka.
"Sepertinya tidak," kata Taufan sambil mendesah.
"Tidak, kita berhasil! Lihatlah! Robot itu kini tidak lagi memiliki perisai yang menyelubungi tubuhnya," ujar Gempa sambil memandangi robot raksasa di hadapannya. Yang lain mengikuti arah pandangannya dan membenarkan apa yang dikatakan Gempa.
"Ya, Gempa benar. Sekarang kita bisa menyerang robot itu tanpa perlu khawatir lagi dengan perisainya," ucap Air.
"Tapi aku sudah tidak sanggup lagi menyerang. Aku sudah benar-benar kehabisan tenaga," keluh Taufan. Keempat elemental lainnya pun diam-diam membenarkan perkataan Taufan. Mereka sudah benar-benar kehabisan tenaga dan tidak bisa lagi menyerang robot itu.
Kelima Boboiboy itu terlalu sibuk memikirkan nasib mereka sehingga tidak menyadari sebuah pedang laser merah yang diarahkan kepada mereka. Hanya Gempa yang berhasil menyadarinya di detik-detik terakhir.
"Tanah pelindung!"seru Gempa. Ia meninju tanah dengan kepalan tangannya namun tidak ada apa pun yang terjadi. Tanah pelindung yang selalu menjadi andalannya untuk melindungi diri kini tidak bisa ia munculkan lagi.
Tanpa dapat dielakkan lagi, pedang laser itu menghantam kelima elemental Boboiboy dan melemparkan mereka beberapa meter ke belakang. Tubuh kelimanya terseret sebelum akhirnya mendarat dengan keras. Tubuh Halilintar dan Gempa menghantam sebuah pohon dengan sangat keras hingga beberapa rantingnya patah dan berjatuhan di atas mereka. Sedangkan Air, Api, dan Taufan jatuh menghantam kedai Tok Aba yang bentuknya kini semakin tidak karuan.
Mereka berlima mengerang kesakitan sebelum akhirnya tubuh kelimanya kembali bersatu menjadi Boboiboy yang biasa. Boboiboy berusaha bangkit, namun sekali lagi ia dihantam oleh sapuan pedang laser Adu Du. Hantaman itu telak mengenai dadanya dan mengakibatkan beberapa tulang rusuknya patah.
Boboiboy ingin menjerit kesakitan namun ia bahkan tidak mempunyai cukup tenaga lagi untuk itu. Ia hanya terkapar tak berdaya dan membiarkan hujan terus membasahi tubuhnya yang babak belur.
Boboiboy merasa tubuhnya tiba-tiba melayang dan ia berhasil memaksa sebelah matanya untuk terbuka dan melihat sebuah tangan raksasa tengah mencengkram tubuhnya dengan kuat.
"Bagaimana rasanya berada di ambang maut, Boboiboy? Bagaimana rasanya bertempur seorang diri tanpa ada siapapun yang bisa menolongmu?" kata Adu Du sambil tersenyum keji.
"Akhirnya aku bisa membalaskan dendamku setelah bertahun-tahun dikalahkan olehmu. Kini aku akan menyaksikan akhir dari superhero Boboiboy!" Adu Du mengeluarkan sebuah pistol besar yang langsung diarahkannya kepada Boboiboy.
"Bersiaplah menjemput kematianmu!" Boboiboy memejamkan matanya rapat-rapat dan bersiap menghadapi apa pun yang akan terjadi. Ia hanya berdoa semoga Adu Du tidak akan menyakiti Tok Aba dan teman-temannya setelah ia mati nanti.
"Jari bayang!" Terdengar sebuah suara yang tidak asing di telinga Boboiboy. Cengkraman tangan robot itu di tubuhnya tiba-tiba terlepas dan Boboiboy merasakan tubuhnya melayang jatuh sebelum akhirnya ditangkap oleh sebuah tangan yang kecil namun kuat.
"Bertahanlah, Boboiboy," bisik sebuah suara. Itu suara Yaya. Boboiboy berhasil menyunggingkan sebuah senyum tipis sebelum akhirnya kegelapan menelannya.
.
.
.
Ying membuka matanya yang terasa seberat timah. Ia berusaha bangkit dan hampir saja terjatuh lagi karena kepalanya terus berputar-putar. Gadis berkacamata bulat itu memandangi keadaan di sekelilingnya yang kacau balau dengan campuran perasaan bingung dan panik.
"Apa yang terjadi?" gumam Ying.
"Ukh…" Ying berpaling dan melihat sahabatnya, Yaya, tengah berusaha bangkit sambil memegangi kepalanya.
"Yaya!" gadis berkuncir dua itu segera berlari menghampiri Yaya. "Kau tidak apa-apa?" tanya Ying khawatir.
"Ya, aku baik-baik saja, hanya sedikit pusing. Dimana yang lain?" tanya Yaya. Ying memerhatikan sekelilingnya dan melihat Gopal dan Fang masih tak sadarkan diri, juga Tok Aba dan Ochobot.
"Hei, Fang, bangun!" Ying mengguncang-guncangkan tubuh Fang yang terbaring tak jauh darinya. Fang mengerang pelan namun matanya masih terpejam. Sementara itu, Yaya berusaha menyadarkan Gopal.
"Gopal! Gopal, ayo sadarlah!" kata Yaya sambil menepuk-nepuk kepala Gopal.
"Makanan…" Gopal mengigau dengan mata setengah terpejam. Yaya mendecak kesal dan mengguncang Gopal lebih keras.
"Hei, Gopal! Cepat bangun, kalau tidak…" Sebuah ledakan keras di dekat mereka hampir saja membuat Yaya terkena serangan jantung. Gopal tiba-tiba bangkit dan kepalanya langsung terantuk dengan kepala Yaya yang masih berlutut di atasnya.
"Aduuh…" Keduanya mengeluh sambil mengusap-usap kepala mereka.
"Suara apa itu?" tanya Tok Aba yang entah kapan sudah sadar dan berdiri tegak sambil memegang Ochobot yang ketakutan.
Fang yang juga sudah sadar segera bangkit berdiri dengan dibantu oleh Ying. Mereka memicingkan mata berusaha melihat di balik kabut dan debu yang kini memenuhi udara dan menghalangi pandangan mereka.
Saat kabut mulai menipis, akhirnya mereka bisa melihat lima sosok yang berdiri memunggungi mereka. Kelima sosok itu memakai jaket yang berlainan warna dan juga topi yang dikenakan di kepala mereka dengan berbagai posisi berbeda.
"Boboiboy?" ucap Ying pelan.
Sebelum mereka sempat melakukan sesuatu, sebuah pedang merah telah dihantamkan ke arah kelima Boboiboy itu dan tiga diantaranya terseret jatuh ke arah kedai Tok Aba. Keempat sahabat Boboiboy, juga Tok Aba dan Ochobot bergegas menghampiri ketiga Boboiboy itu, namun mereka telah menghilang.
Yaya menatap sekelilingnya dengan panik dan melihat Boboiboy yang asli tengah digenggam kuat oleh sang robot raksasa.
"Tidak!" Ying dan Yaya berseru secara bersamaan dan berlari menghampiri Boboiboy. Sebuah robot ungu menghadang jalan mereka.
"Eits, aku tidak akan membiarkan kalian merusak rencana Incik Bos," kata Probe.
"Minggir!" Sebelum Probe sempat menyadari apa yang akan menimpanya, ia sudah melayang tinggi ke angkasa akibat pukulan super dari Yaya dan juga tendangan dari Ying.
"Fang! Cobalah untuk menahan robot itu dengan jari bayangmu!" kata Ying. Fang segera mengangguk dan bersiap-siap mengeluarkan jari bayangnya.
"Gopal, lindungi Tok Aba dan Ochobot!" kata Ying lagi. Gopal pun mengangguk dan berlari menghampiri Tok Aba dan Ochobot.
"Jari bayang!" Fang berseru dan jari-jari raksasa berwarna hitam segera mencuat keluar dari tanah. Tangan-tangan itu mencengkram robot raksasa milik Adu Du dan membuat robot itu melepaskan cengkramannya dari Boboiboy.
Yaya berhasil menangkap Boboiboy sebelum tubuh yang sudah lemah tak berdaya itu menghantam tanah.
"Bertahanlah, Boboiboy," bisik Yaya. Gadis itu membawa Boboiboy ke tempat Tok Aba dan Ochobot.
Setelah itu Yaya kembali bersama Gopal untuk membantu Fang dan Ying yang sedang terlibat pertarungan sengit dengan robot Adu Du.
"Ular bayang!" seru Fang. Sesuatu yang seperti tali-tali hitam panjang yang menggeliat muncul dari bayangan yang dibentuk Fang dan segera melata menuju robot itu. Ada banyak sekali ular bayang yang diciptakan Fang dan semuanya kini mulai melilit tubuh robot milik Adu Du dan menyebabkan alien berkepala kotak itu sedikit panik.
"Sial! Laser pemusnah!" Adu Du mengarahkan pistol lasernya kepada Fang. Namun dengan cekatan Ying memperlambat waktu dan menyelamatkan Fang dari tembakan pistol itu.
"Gopal! Cepat ubah benda-benda di sekitar sini jadi batu-batu besar!" kata Yaya pada Gopal.
"Benda apa yang harus kuubah?" balas Gopal sambil menatap sekelilingnya dengan panik.
"Apa saja!"seru Yaya lagi. Gopal melihat ranting-ranting yang jatuh dari pohon di dekatnya dan memutuskan untuk menggunakan ranting-ranting itu.
"Kuasa tukaran molekul!" seru Gopal. Ranting-ranting itu segera berubah menjadi batu-batu besar yang saling bertindih-tindihan.
"Bagus. Sekarang giliranku," ucap Yaya.
Yaya memukulkan tangannya ke tanah dan memerintahkan gravitasi yang bisa ia rasakan di bawah tangannya berkumpul di sekitar kaki robot itu. Dengan bertambahnya gravitasi di kakinya, kini robot yang sudah terbelit oleh ular-ular bayang milik Fang itu, jatuh terpuruk tanpa bisa menggerakkan tubuhnya sedikit pun.
Setelah itu Yaya membiarkan batu-batu besar hasil dari kekuatan manipulasi molekul Gopal melayang ke atas dan kemudian menjatuhkannya persis di atas tubuh robot yang sudah tak bisa bergerak itu.
Adu Du menjerit nyaring dari bagian dalam robot saat batu-batu besar itu berjatuhan dan menjepitnya di dalam.
"Sial! Probe! Dimana kau! Cepat tolong aku!"Adu Du berseru memanggil-manggil Probe. Namun sayangnya robot ungu malang itu masih menghilang entah kemana karena serangan dari Yaya dan Ying tadi.
"Ini semua gara-gara penipu Ba Go Go itu! Katanya pistol tidur itu bisa membuat mereka tidur sampai 24 jam. Tapi kenapa baru sebentar udah bangun! Ba Go Go sialan!" maki Adu Du. Ia berusaha menghubungi komputernya untuk meminta bantuan sementara keempat superhero itu terus menyerang robotnya.
Gopal sedang berusaha mengubah bagian-bagian tubuh robot itu menjadi makanan. Sementara Ying dan Yaya menghantam tubuh robot itu habis-habisan hingga penyok. Dan Fang menggunakan harimau bayangnya untuk mencakar-cakar pintu ruang pengendali robot dan memaksa Adu Du keluar.
Adu Du semakin panik melihat keadaan robotnya yang terus diserang dari berbagai arah. Robotnya ini hanya mampu menahan serangan dengan mengandalkan perisai yang melindungi saja. Perisai itu sudah dibuat agar mampu bertahan dari serangan apapun, karena itu Adu Du tidak mengira perisainya itu akan bisa dihancurkan oleh serangan kombo dari kelima elemen Boboiboy. Dan sekarang, tanpa perisai itu, robot ini tidak ada apa-apanya dan akan hancur dengan segera bila terus diserang seperti ini.
"Komputer dimana kau? Cepat bawa kapal angkasaku kemari dan selamatkan aku!" perintah Adu Du pada Komputer.
"Sabar, bos. Aku sedang berusaha mengaktifkan pesawat angkasanya Incik Bos. Mungkin akan membutuhkan sedikit waktu," kata Komputer dari seberang sana.
"Cepatlah! Kalau tidak aku akan habis dipukuli oleh anak-anak itu!" Saat itu, pintu ruang kendali meledak hancur dan Adu Du berteriak kaget.
Tiba-tiba saja sang pengendali bayang telah muncul di hadapannya dan menariknya keluar. Adu Du hanya bisa pasrah membiarkan dirinya diseret.
"Kenapa kau tidak pernah berhenti mengganggu kami, hei kepala kotak!" bentak Ying.
Adu Du yang sudah pasrah hanya memutar bola matanya. Sudah jelas, kan? Ia selalu menyerang kelima bocah superhero itu agar bisa mengambil kembali bola kuasanya dan juga untuk menguasai semua cokelat di bumi. Alien berkepala kotak itu memandang langit dan bersorak gembira dalam hati saat melihat kapal angkasanya telah muncul di atas mereka.
"Hah, kenapa kau tanya? Karena aku tidak akan pernah puas sebelum melihat kalian semua hancur dan musnah! Tapi tak apa, setidaknya aku telah berhasil menyingkirkan salah satu dari kalian!" seru Adu Du. Tiba-tiba saja sebuah sinar muncul menyelubungi tubuh Adu Du dan dalam sekejap mata alien itu telah menghilang dari hadapan keempat remaja itu.
"Apa?! Kemana dia pergi?" seru Gopal.
"Dia melarikan diri!" Fang menatap ke atas dan melihat kapal angkasa Adu Du bergerak menjauhi mereka. Pemuda berkacamata dengan gagang nila itu berniat mengejar, namun dicegah oleh Yaya.
"Sudahlah. Biarkan saja ia pergi," kata Yaya.
"Hei, apa maksudnya dia sudah berhasil menyingkirkan salah satu dari kita?" tanya Ying sambil berusaha mencerna maksud Adu Du.
Yaya terkesiap. "Boboiboy!" serunya. Ketiga temannya yang lain juga terkejut seolah baru ingat tentang teman mereka yang satu lagi itu.
Mereka segera berlari menghampiri Tok Aba yang sedang berusaha membersihkan luka di tubuh Boboiboy.
Jantung keempat superhero itu mencelos melihat kondisi sahabat mereka. Ada sebuah luka sayatan besar di dada Boboiboy yang terus mengalirkan darah segar dan membasahi kaos putih yang dikenakannya. Keadaan anggota tubuhnya yang lain pun tak kalah mengenaskan. Ada banyak lebam di sekujur tangan dan kakinya. Mulut dan hidungnya juga mengalirkan darah yang kini mulai mengering.
Mereka berempat berlutut di samping Boboiboy. Ying dan Yaya langsung menangis melihat keadaan Boboiboy.
"Boboiboy…" bisik Ying pelan.
"Atok sudah menyuruh Ochobot menghubungi ambulan. Sebentar lagi mereka pasti akan tiba dan kita bisa membawanya ke rumah sakit. Tenang saja. Boboiboy pasti akan baik-baik saja," kata Tok Aba berusaha menenangkan mereka, namun suara laki-laki tua itu bergetar. Seolah ia sendiri pun tidak yakin apakah cucunya masih bisa selamat.
Yaya meletakkan kepala Boboiboy di pangkuannya. Gadis itu menyingkirkan helai-helai rambut yang menutupi wajah pemuda di hadapannya ini.
"Boboiboy… Kau bisa mendengarku? Kumohon bukalah matamu. Kumohon bertahanlah…" Yaya menangis terisak-isak dan memeluk Boboiboy erat.
"Kumohon jangan tinggalkan aku…" bisik Yaya pilu.
.
.
.
Boboiboy membuka matanya dan mendapati dirinya tengah berdiri di samping Livey, sang malaikat kematian. Ia memandangi tangannya yang terlihat kabur seolah tebuat dari asap. Seluruh tubuhnya kini seolah terbuat dari asap putih tipis.
"Apa yang…"
"Sudah waktunya. Kita harus pergi sekarang," kata Livey dingin.
"Sudah waktunya? Tapi—tapi aku belum sempat mengucapkan selamat tinggal!" seru Boboiboy tak percaya. Ia menoleh ke belakang dan melihat teman-temannya dan Tok Aba sedang berlutut di samping tubuhnya yang terbaring tak bergerak.
"Tak ada waktu lagi. Ayolah," Livey menyeret roh Boboiboy menjauh.
"Tungu, tunggu! Kumohon, kumohon beri aku kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal! Aku tidak bisa pergi begitu saja tanpa mengucapkan apa pun!" pinta Boboiboy. Livey berdecak kesal. Ia mengeluarkan sebuah jam saku dari jubahnya dan memandanginya sebentar.
"Baiklah. Aku akan memberimu waktu. Tapi jangan lama-lama!" kata Livey akhirnya. Ia melambaikan tangannya di depan Boboiboy dan pemuda itu merasakan sakit yang tak tertahankan hingga ia harus memejamkan matanya.
.
.
.
Saat Boboiboy membuka matanya kembali, yang bisa ia lihat adalah sebuah hijab berwarna pink. Ternyata Yaya sedang memeluk tubuhnya. Boboiboy berusaha menggerakkan tangannya namun tidak terjadi apa-apa. Tangannya tidak bisa ia gerakkan lagi. Ia kemudian mencoba menggerakkan anggota tubuhnya yang lain namun tetap tak terjadi apa-apa. Boboiboy bahkan tak bisa lgi merasakan dinginnya air hujan yang masih terus mengguyur tubuhnya.
Ternyata memang sudah berakhir, pikir Boboiboy putus asa. Tapi setidaknya kau masih bisa mengucapkan selamat tinggal.
"Yaya…" ucap Boboiboy pelan. Ia bersyukur sekali suaranya masih bisa keluar.
"Boboiboy! Syukurlah, syukurlah…" Yaya melepaskan pelukannya dari Boboiboy dan terus menangis terisak-isak.
"Boboiboy, bertahanlah, nak. Sebentar lagi ambulan akan tiba. Kau akan baik-baik saja. Cucu atok pasti akan baik-baik saja," kata Tok Aba sambil mengusap kepala cucunya itu.
Bulir bening mengalir turun dari mata Boboiboy, menyatu dengan tetesan hujan yang terus membasahi wajahnya.
"Kenapa kau menangis? Apa kau kesakitan?" ucap Ying dengan suara tercekat. Ia tidak sanggup melihat keadaan Boboiboy seperti ini.
Boboiboy menggeleng. Ia berusaha keras untuk tidak menangis agar ia bisa lebih mudah mengucapka salam perpisahan pada orang-orang yang disayanginya.
"Aku harus mengucapkan selamat tinggal…" kata Boboiboy pelan.
"Tidak!" Gopal berseru lantang sekali sehingga membuat mereka semua terkejut. "Jangan berani-berani mengucapkan hal itu Boboiboy! Kau tidak akan pergi kemana pun! Kau akan baik-baik saja!" kata Gopal dan pemuda berbadan besar itu mulai ikut menangis.
"Gopal… aku menyayangimu, sobat. Lebih dari apa pun. Kau sahabat terbaikku. Dan kau akan selalu menjadi sahabatku. Terima kasih atas waktu-waktu berharga yang kau bagi bersamaku. Aku tak akan pernah melupakannya walaupun aku sudah mati nanti." Boboiboy berusaha tersenyum sebaik mungkin agar tidak membuat mereka semua semakin sedih.
"Sudahlah, Boboiboy. Berhentilah bicara, kalau tidak keadaanmu akan…" Perkataan Ying terpotong saat Yaya menyikutnya dan menyuruhnya diam.
"Ying, terima kasih karena telah menjadi sahabat yang sangat pengertian. Kau selalu menolongku disaat aku membutuhkan bantuan, terutama dalam hal belajar. Aku belajar lebih banyak hal darimu daripada dari guru-guru di sekolah kita. Terima kasih Ying." Ying tak kuasa menahan air matanya dan membiarkan dirinya menangis terisak-isak.
"Fang…" Boboiboy kini berpaling kepada Fang.
"Tidak! Aku tidak mau menerima ucapan selamat tinggal!" kata Fang keras.
"Fang… kau menunjukkan padaku bagaimana rasanya memiliki rival yang juga adalah sahabat terbaik bagiku. Setiap hari aku bersemangat melakukan sesuatu agar selalu bisa lebih baik darimu. Kau mengajarkanku cara untuk membuat hidupku lebih bersemangat dan lebih berwarna. Aku selalu merasa bersyukur telah berteman denganmu, Fang." Boboiboy menarik nafas sebentar dan merasakan paru-parunya mulai menolak udara masuk sehingga ia sedikit kesulitan bernafas.
"Dan sekarang … kau bisa memiliki semua kepopuleran itu untukmu sendiri, karena aku sudah tidak bisa … lagi bersaing dan memperebutkan popularitas itu … darimu," lanjut Boboiboy lagi dengan nafas terputus-putus.
"Bodoh! Lebih baik aku kehilangan semua kepopuleranku daripada aku harus kehilangan seorang sahabat sepertimu!" Fang akhirnya membiarkan air matanya lolos dan kini ia menangis frustasi sambil mengepalkan tangannya erat-eat.
Boboiboy menyunggingkan sebuah senyum tipis. Kini ia menatap mata Yaya yang persis berada di atasnya.
"Yaya… kau gadis yang luar biasa. Aku tidak akan bisa mengungkapkan betapa bersyukurnya aku karena telah dipertemukan dengan seseorang sepertimu. Kau selalu membuat keadaan di sekelilingmu ceria dengan kebaikan dan ketulusan juga sifat ceriamu. Kau selalu ada untukku disaat aku membutuhkanmu, dan kau selalu setia menemaniku di saat aku sedang kesepian. Aku berharap bisa membalas semua kebaikan yang telah kau berikan kepadaku." Yaya menggenggam tangan Boboiboy dan meletakkannya di pipinya yang telah dibanjiri air mata.
"Banyak sekali hal yang ingin kusampaikan padamu. Tapi sepertinya waktuku sudah tidak cukup. Aku hanya ingin kau tau bahwa aku sangat menyukai senyummu. Karena itu, mulai sekarang tersenyumlah setiap hari. Karena menurutku senyummu selalu jadi yang terindah," kata Boboiboy pelan.
Suara sirene ambulan meraung-raung dari kejauhan dan perlahan semakin mendekat ke arah mereka. Namun Boboiboy tau itu tak ada gunanya. Ia sudah mati. Tak ada lagi yang bisa mereka lakukan untuknya.
"Atok akan pergi memanggil ambulannya." Tok Aba segera bangkit dan bersiap berjalan pergi namun Boboiboy mencegah atoknya itu.
"Jangan, Tok. Sudah tak ada gunanya lagi. Tetaplah disini bersama Boboiboy," pinta Boboiboy. Tok Aba tertegun dan akhirnya ia kembali berlutut di sisi cucunya itu.
"Atok… maafkan Boboiboy karena selalu meyusahkan atok. Maaf karena Boboiboy … tidak akan bisa membantu dan menjaga atok lagi. Atok harus selalu menjaga kesehatan dan jangan sampai sakit. Atok akan selalu … jadi atok yang terbaik untuk Boboiboy." Tok Aba mengusap pelan kepala cucunya. "Dan tolong sampaikan pada ayah dan ibu bahwa Boboiboy sangat menyayangi mereka," pinta Boboiboy. Tok Aba hanya mengangguk pelan.
"Ochobot, terima kasih karena sudah memberikanku kekuatan super ini. Aku jadi bisa berguna bagi banyak orang dan aku bisa bertemu dengan berbagai macam orang dan juga mengalami banyak hal yang bisa kujadikan pelajaran. Ochobot, berjanjilah kau tidak akan pernah meninggalkan Tok Aba sendiri. Berjanjilah kau akan selalu menjaga tok Aba, oke?"
"Oke," ucap Ochobot dengan suara tercekat.
Boboiboy terbatuk dan tubuhnya mendadak kejang-kejang. Ia mengerang kesakitan. Matanya mulai menggelap dan ia tidak bisa mendengar dengan jelas seruan panik dari teman-temannya maupun Tok Aba.
Seluruh ingatan yang ia miliki selama hidupnya berkelebat di benaknya seperti sebuah film pendek. Berbagai kenangan indah yang ia miliki, juga saat-saat sedih yang ia alami, semuanya berputar di kepalanya. Boboiboy tersenyum. Walaupun hidupnya cukup singkat, tapi ia telah mengalami banyak hal yang luar biasa. Dan ia akan selalu merasa bersyukur tentang hal itu.
Boboiboy membuka matanya dan ia bisa melihat Livey berdiri di hadapannya dan menunggunya.
"Sudah waktunya. Aku harus pergi…" bisik Boboiboy pelan.
"Tidak! Jangan pergi! Tetaplah bersama kami, Boboiboy!" kata Ying histeris.
"Aku benar-benar berharap aku bisa memiliki lebih banyak waktu untuk kuhabiskan bersama kalian," kata Boboiboy. Suaranya kini terdengar semakin lirih.
Boboiboy memandang langit kelabu di atasnya yang telihat semakin samar karena pandangannya terus mengabur.
"Selamat tinggal, semuanya. Ke tempat yang lebih jauh dari bintang-bintang, aku pergi… lebih… dulu…" Suara Boboiboy menghilang bersamaan dengan kelopak matanya yang tertutup rapat. Senyum terakhirnya masih tersisa di wajah pucat yang kini sudah tak bernyawa itu.
Ying dan Yaya menjerit histeris. Mereka berusaha membangunkan Boboiboy, namun pemuda itu sudah berada di luar jangkauan mereka. Mereka tak akan bisa lagi meraihnya. Ia telah pergi ke tempat yang tidak bisa mereka ikuti.
"Tidak… Boboiboy, tidak… Jangan pergi… Kumohon jangan pergi…" Yaya meletakkan kepalanya di dada Boboiboy dan terus menangis terisak-isak. Sementara Ying memeluk Yaya erat dan ikut menangis bersama sahabatnya itu.
"Argh!" Fang berteriak frustasi dan ia meninju tanah berkali-kali. Tak puas dengan hanya itu, pemuda berambut ungu itu bangkit dan mulai menendang dan juga memukul benda apapun yang ada di hadapannya.
Gopal menenggelamkan wajahnya di lututnya dan menangis terisak-isak. Pikirannya terus memaksanya untuk berpikir bahwa ini hanya sebuah mimpi buruk. Ia pasti sedang bermimpi dan tak lama lagi ia akan bangun dan mendapati sahabatnya itu masih hidup dan baik-baik saja.
Tok Aba hanya mendesah sedih sambil memeluk Ochobot yang sedang menangisi kepergian Boboiboy tanpa air mata. Ia sudah cukup tua dan sudah banyak menyaksikan kematian. Mulai dari kematian teman-teman dan rekan-rekannya, juga kematian istri tercintanya. Namun lelaki tua itu tidak menyangka ia harus menyaksikan kematian cucunya sendiri. Cucunya yang masih sangat muda dan bahkan belum menginjak usia dewasa. Tanpa dapat ditahan lagi, air mata kini ikut mengalir keluar dari mata tuanya yang semakin meredup oleh usia senja. Ia kini harus merelakan cucu kesayangannya itu untuk pergi ke tempat istrinya berada.
Hujan terus turun semakin deras seolah-olah langit pun ikut merasakan kesedihan akibat kehilangan seseorang yang sangat dikasihi dan dicintai. Seorang sahabat di kala suka maupun duka. Dan juga seorang pahlawan yang selalu mengabdikan hidupnya untuk menolong orang lain.
.
.
.
Boboiboy memandangi dari kejauhan teman-temannya dan juga Tok Aba yang terus menangisi kepergiannya. Ia tersenyum sedih karena ia juga akan merasa sangat kehilangan mereka.
"Ayo kita pergi," kata Livey. Boboiboy berpaling menatap sosok malaikat kematian itu dan kemudian ia mengangguk.
"Ya, ayo kita pergi," ucap Boboiboy.
Boboiboy menatap teman-temannya untuk terakhir kalinya dan tersenyum.
"Sampai berjumpa lagi, teman-teman. Kuharap kita masih bisa bertemu lagi suatu hari nanti," ucap Boboiboy.
Ia kemudian berbalik memunggungi orang-orang yang disayanginya itu dan berjalan pelan mengikuti Livey menuju ke suatu tempat dimana ia tidak akan bisa lagi kembali.
.
.
.
END
Fuuuh, akhirnya selesai fic pertamaku ini. Huraaay~
Gimana endingnya? Terlalu gaje nggak sih?
Maaf kalau endingnya sangat mengecewakan
Pengennya bisa buat ending yang sedih, tapi kok rasanya feelnya nggak ngena ya?
Maafkan diri ini u.u
Dan maaf juga untuk yang minta supaya endingnya Boboiboy jangan mati
Aku sih udah dari awal niatnya mau bikin Boboiboy nya mati sih, jadi maaf ya #dihajarmasa
Sekali lagi, aku ingin mengucapkan beribu-ribu terima kasih buat yang udah repot-repot mau membaca, mendukung, me-review, meng-fav, maupun meng-follow fic ini.
Maaf reviewnya nggak sempat dibalas satu-satu.
Terima kasih atas kesediaannya mampir #bungkukdalam2
Kalau begitu, sampai jumpa lagi di kesempatan berikutnya ^^
