Otaku!

Disclaimer: Fujimaki Tadatoshi

Rated: T

Don't Like, Don't Read!

.

.

.

Otaku!

.

.

.

Kau mengeluarkan air mata. Lebih tepatnya, air mata yang menandakan kau sangat sedih. Mungkin ini terdengar konyol, dan semua orang yang melihatnya pasti akan mengatakan 'kau gila'. Tapi inilah yang terjadi. Kau menangis.

Kau sedang menonton anime Angel Beats, dimana kau menangis karena melihat adegan ketika sedang menampilkan masa lalu masing-masing tokoh. Kau menyeka air matamu dengan selembar tissue. Yah, begitulah menjadi seorang otaku. Menghayati banget ketika menonton anime atau baca manga.

"Dasar aneh! Cuma karena itu saja nangis!"

Berterima kasihlah dengan seseorang yang berdiri di pintumu, dan sudah mencercamu. Suara menyebalkannya mampu membuat suasana yang tadinya penuh haru menjadi menyebalkan. Kau menatap tajam orang tersebut, atau lebih tepatnya kakakmu. Tapi kakakmu malah melengos tidak peduli. "Jangan ge-er, ya! Aku kesini Cuma mau pinjam pensil! Jangan kira aku mau lama-lama berada disini! Bau otaku!" seru kakakmu sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamarmu.

Ukuran kamarmu cukup luas. Kamarmu dilengkapi dengan tempat tidur untuk satu orang, jendela yang berada di samping tempat tidur dan memiliki kusen, meja belajar ukuran sedang yang berada di sudut kanan kamarmu, dan lemari pakaian di sebelahnya. Dan, jangan lupa, kamramu juga dilengkapi dengan rak buku. Satu rak buku yang berisi semua komikmu, satu rak buku yang berisi buku pelajaran, dan satu rak kecil yang berisi software game kesukaanmu. Ada juga televisi yang dilengkapi dengan DVD player, sound speaker, dan PlayStation 3. Dindingmu yang dicat berwarna putih, kini dipenuhi dengan poster-poster bergambar Natsu Dragneel, Team 7 yang ada di anime Naruto, dan game kesukaanmu, Shall We Date: Destiny Ninja. Kamar ini memang mencerminkan dirimu. Otaku.

"Ah, kau memang benar-benar seorang otaku! Kalau begini, kau tidak akan bisa mendapatkan pacar, loh!" ujar kakakmu begitu antusias. Kau hanya memandangnya dengan tatapan malas, lalu kembali fokus menonton Angel Beats. Sama sekali tidak peduli dengan ocehan kakakmu.

Kakakmu yang merasa tidak dipedulikan, memasang wajah cemberut, lalu ngeloyor pergi. Setelah itu, kau mengambil androidmu lalu membuka suatu aplikasi game. Yaitu game bernama Zombiegal Kawaii yang baru saja kau download. Dan setelah itu kau lupa dengan semuanya, kembali pada duniamu. Dunia otaku.

.

.

.

Kau menatap datar papan tulis yang bertuliskan siapa saja yang piket hari ini. Kau tidak terkejut ketika melihat satu nama yang familiar denganmu. Bukan apa-apa, hanya saja nama itu adalah nama orang yang sangat dingin. Kau membacanya satu per satu di dalam hato.

Kisaragi Takuma

Serizawa Haruka

Akashi Seijuro

Oguri Haru

Kau menghela nafas. Mungkin sekarang kau harus melaksanakan tugas piket secepat mungkin. Agar bisa pulang dan menonton anime kesukaanmu. Kebetulan sekali, hari ini tidak ada kegiatan klub. Membuatmu leluasa untuk menikmati anime kesukaanmu.

"Bantu aku membuang sampah."

Suara bariton dari seorang Akashi mampu membuatmu menoleh ke asal suara. Nada bicaranya dingin, datar, dan memerintah. Semua orang tahu bahwa perintah seorang Akashi Seijuro itu MUTLAK. Tidak boleh dilawan.

Kau mengangguk tanda mengerti.

.

.

.

Kau dan Akashi baru saja membuang sampah di halaman belakang. Setelah buang sampah, kau dan Akashi mengambil kembali tempat sampah dan membawanya sma-sama. Hening. Tidak ada percakapan sedikitpun. Kau yang memang pendiam, dan memang bukan orang yang biasanya memulai pembicaraan, sama sekali tidak peduli. Kau tidak peduli kalau misalnya Akashi yang memulai pembicaraan. Kau hanya diam.

"Ada kecoak di bahumu."

Kau terlonjak kaget. Hanya bisa menatap Akashi dengan pandangan tidak percaya. Oke, jelas-jelas ini tidak lucu. Kau memang seorang gadis yang cuek, tapi kau tetap takut dengan kecoak. Seperti pada perempuan umumnya. Kau juga takut akan suatu benda ataupun dengan binatang.

Kau sebenarnya takut, tapi kau tidak berteriak. Itulah salah satu keajaiban yang ada pada dirimu. Ketika takut, kau tidak berteriak, melainkan hanya diam. Namu, tubuhmu akan menegang. Suatu hal yang sangat jarang ditemui.

Akashi mengernyit bingung ketika melihat gadis yang di depannya tidak berteriak seperti pada umumnya. "Kau tidak takut?" tanya Akashi. Kau menggelengkan kepalamu. "Bukannya tidak takut, tapi jika aku tekejut atau ketakutan, aku tidak akan berteriak, melainkan diam dan tubuhku akan menegang." Kau menjawabnya dengan jujur.

Akashi tersenyum. Kau tidak tahu apa arti dari senyuman itu. Akashi mendekatkan wajahnyya. Kini, jarak antara wajah Akashi dengan wajahmu sangat dekat. Deru nafas Akashi dapat kau rasakan. Kau menatap Akashi dengan pandangan tidak mengerti. Akashi tersenyum kepadamu, ah, bukan, lebih tepatnya menyeringai.

"Kecoaknya sudah kubuang."

Kau mengerjapkan matamu. Seakan tidak percaya dengan yang Akashi katakan. Bagaimana bisa? Kau bahkan tidak melihta tangannya berada di bahumu, ataupun merasakan sentuhan dari Akashi. Apakah Akashi berbohong padamu? Entahlah, kau tidak tahu. Tapi yang jelas, kau tidak ingin terlalu memikirkannya. Bahkan, jika dia memang berbohong, kau tidak peduli. Asalkan itu tidak merugikanmu, itu tidak masalah, bukan?

Kau baru tersadar dari lamunanmu. Kau tersenyum pada Akashi. "Mm, terima kasih karena telah mengusir kecoak yang ada di bahuku. Dan oh, kurasa kita harus cepat kembali kelas." Ujarmu. Kau melangkahkan kakimu menuju ke kelas, meninggalkan Akashi. Tanpa sadar, Akashi menyeringai kepadamu.

Menarik.

.

.

.

Langkah kaki menuju atap terdengar pelan. Seorang laki-laki bersurai merah, membuka pintu menuju atap dengan perlahan. Terdengar suara tawa dan canda yang dapat ditebak bahwa itu adalah salah satu suara dari 'budak' Akashi.

Akashi melangkahkan kakinya ke dalam. Seketika, suara tawa dan canda itu lenyap. Digantikan dengan keheningan. Hanya satu suara yang tersisa. Suara Murasakibara yang asyik mengunyah maibo nya.

"Akashi, kau mengagetkan kami saja!" Aomie mulai membuka suaranya. Laki-laki berambut navy blue ini sedang duduk santai sambil menggenggam majalah kesayangannya. Cover depan majalah itu menampilkan seorang perempuan cantik berpakaian minim dan berdada besar. Tipe Aomine Daiki.

"Aku tidak butuh komentarmu, Daiki..." sahut Akashi dingin. Seketika, Aomine bungkam.

"Seijuro-kun, apa yang ingin Seijuro-kun katakan?" tanya Kuroko yang hawa keberadaanya tipis. Akashi tersenyum. "Kau tajam juga ya, Tetsuya...," jawab Akashi. "Yah, aku baru saja menemukan sesuatu yang menarik. Dan aku telah menjadikannya sebagai TARGET." Lanjut Akashi.

Semua menatap Akashi dengan pandangan heran, sekaligus tertarik. Ya, jika Akashi menemukan sesuatu yang menarik, para 'budak' nya pun juga ikut tertarik. Sudah pasti, hal yang membuat Akashi tertarik itu pasti selalu membuat mereka penasan. Karena Akashi jarang tertarik dengan suatu hal.

"Nyam...apa itu Aka-chin?" tanya Murasakibara di sela-sela kegiatan makannya. Akashi menyeringai.

"Gadis itu, Serizawa Haruka..." jawab Akashi dengan tenang.

1 detik.

2 detik.

3 detik.

Semua memandang Akashi dengan tidak percaya. Sejak kapan seorang Akashi tertarik dengan seorang wanita? Itu mustahil! "Aka-chin tidak bercanda, kan?" Murasakibara mencoba untuk bertanya lagi, memastikan apakah itu benar.

"Apa menurutmu aku bercanda, Atsushi?" Akashi balas bertanya pada Murasakibara. Semua mengerti bahwa Akashi serius. Nada suara Akashi tidak terdengar main-main.

"Kami semua mengenalnya. Serizawa Haruka, 16 tahun, kelas 2-A, mengikuti klub memasak, tipikal anak pendiam. Kita, kan, ada ketemu sama dia kemarin.." jelas Kuroko. Yang lainnya mengiyakan. "Jadi, apa yang membuatmu tertarik dengan anak itu, nanodayo?" tanya Midorima. Dia sibuk membersihkan kacamatanya. Akashi tersenyum.

"Kalian tidak tahu bukan kalau sebenarnya dia adalah seorang otaku akut?" ujar Akashi. "Tapi, apa kau yakin dia adalah seorang otaku akut? Kelihatannya, dia tidak seperti itu. Rasanya, dia cuma cewek yang biasa-biasa saja!" timpal Aomine.

"Daiki, aku selalu benar." Dan lagi-lagi Aomine dibuat bungkam oleh Akashi.

"Dia seorang gadis yang berbeda dengan gadis lain. Menarik sekali. Dia adalah targetku. Kalian juga tertarik bukan, dengan seorang gadis pendiam yang rupanya seorang otaku akut?" sahut Akashi. Mereka semua tersenyum. Yah, siapa yang tidak tertarik?

Serizawa Haruka, kau adalah target kami.

.

.

.

Kau merebahkan badanmu diatas tempat tidur. Kau baru saja habis mandi. Kau ingin segera tidur dan mulai mimpi indah. Kau mengambil MP3-mu, lalu mulai memutarkan musik. Musik pengantar tidur. Dan seketika, kau terlelap dengan lagu yang mengalun dengan keras. Kau tak tahu bahwa mulai sekarang, kehidupanmu 100% akan berubah.

mitsumeau sono shisen tojita sekai no naka
kizukanai furi wo shite mo yoi wo satoraresou

yaketsuku kono kokoro kakushite chikazuite
toiki kanjireba shibireru hodo

arifureta koigokoro ni ima wana wo shikakete
wazukana sukima nimo ashiato nokosanai yo

miesuita kotoba dato kimi wa yudan shiteru
yoku shitta gekiyaku nara nomihoseru kigashita

sabitsuku kusari kara nogareru atemonai
hibiku byoushin ni aragau hodo

tatoeba fukai shigemi no naka suberikomasete
tsunaida ase no kaori ni tada okasaresou

arifureta koigokoro ni ima wana wo shikakeru
wazukana sukima nozokeba

tsukamaete

tatoeba fukai shigemi no naka suberikomasete
tsunaida ase no kaori ni tada okasareteru.

Translate:

Pandangan mata itu saling bertemu terperangkap di dalam dunia
Walaupun berpura-pura tidak menyadari, kemabukan telah kumengerti

Terbakar hati ini, Kusembunyikan dan mendekatimu
Jika dapat merasakan nafas panjang ini, seperti akan mati rasa

Rasa cinta yang meluap di hati ini sekarang telah memasang perangkap
Walaupun ada celah kecil ku tidak akan meninggalkan jejak kaki

Kata-kata yang mudah dipahami yang membuat kau lengah
Jika paham dengan baik itu adalah racun mematikan maka akan meminumnya

Tidak ada tempat untuk melarikan diri dari rantai berkarat ini
Semakin kau melawan semakin keras bunyi jarum jam ini

Misalkan saja masuk kedalam semak belukar yang dalam
Aroma keringat kita berdua berhubungan hanya terasa akan mengganggumu

Rasa cinta yang meluap di hati ini sekarang memasang perangkap
Jika ada celah kecil ku akan mengintip

dan tertangkaplah

Misalkan saja masuk kedalam semak belukar yang dalam
Aroma keringat kita berdua berhubungan hanya terasa akan mengganggumu.

(Cantarella: KAITO ft Hatsune Miku)

.

.

.

To Be Continued

.

.

.

Yahooo! Syifa kembali! Akhirnya, kelar juga ni ff. Ff-nya agak panjang ya? Iya, apalagi ditambah dengan lirik lagu Cantarella! Ehe, itu termasuk lagu kesukaan Syifa, loh! BTW, Syifa bakal jawab semua review yang Syifa dapatkan!

Kiyouku Akane : Terima kasih Akane-chan atas penemuan typo-nya! Mohon maaf jika ff ini ada banyak kekurangannya. Sekali lagi Syifa minta maaf! Terima kasih juga atas ketersediaan Akane-chan untu me-review ff Syifa^^

Silvia-KI chan: arigatou untuk review-nya! Ini udah lanjut... :D

Ichika07: Eh? Benarkah? Wah, Haruka harus Syifa kasih royalty nih! *lirik Haruka*/diabaikan/pundung di pojokan. Suka juga ya dengan lagu World is Mine? Iya, itu adalah lagu pertama yang bikin Syifa jatuh cinta dengan yang namanya vocaloid! BTW, terima kasih atas review-nya Ichi-chan! :3

Nah, segitu aja dulu ya. Maaf kalau kepanjangan! Syifa akan selalu berusaha untuk... update kilat!

Minna, mind to review?:)