Otaku!
Disclaimer: Fujimaki Tadatoshi
Rated: T
Don't Like, Don't Read!
.
.
.
Otaku!
.
.
.
"Jadi, pada waktu itu Ratu Elizabeth I memerintah kerajaan Inggris..." Jelas Nanase-sensei, sang guru sejarah. Kau mendengarnya dengan...setengah seksama setengah tidak. Hari ini merupakan hari terburukmu. Tapi kau bisa menghadapi semua masalah dengan baik, dengan wajah datar-mu tentunya.
Kau hanya bisa pasrah duduk di tengah-tengah Kiseki no Sedai. Ada Aomine yang berulang kali menguap, Kise yang sibuk mencoret-coret buku tulisnya, Kuroko yang sedang mencatat penjelasan Nanase-sensei, dan Murasakibara yang asyik mengunyah permen karet. Hanya Akashi dan Midorima saja yang mendengar pelajaran dengan seksama.
Teng! Teng!
Suara lonceng istirahat berbunyi nyaring. Semuanya bersorak senang. Kau lega pelajarannya telah selesai. Segera, kau mengambil bekalmu. Tapi kau teringat sesuatu . Aomine duduk di tempatmu yang dulu. Kau berencana untuk tukar tempat duduk dengan Aomine. Dan, kau berharap agar Aomine tidak akan meminta-minta yang aneh. Misalnya, majalah porno.
Kau menghampiri Aomine. Aomine yang baru saja meregangkan tubuhnya, tersenyum kepadamu. "Ada apa Haruka? Oh, aku tahu, kau pasti merindukanku, kan?!" Tebak Aomine yaang jelas-jelas bukan. Kau menatapnya datar. "Tidak. Aku cuma ingin meminta sesuatu.." Ujarmu. "Bolehkah aku tukar tempat duduk denganmu?".
Aomine bingung. Kau menghela nafas. "Aku nyaman disitu, karena di samping jendela." Lanjutmu. Ampun, kau sebenarnya tidak ingin berbicara banyak. Tapi mau tak mau, kau harus memberi pengertian kepada Aomine. Atau dia akan berpikiran tidak-tidak.
"Heh begitu?" Kau menaikkan alis. "Boleh saja! Aku akan tukar tempat dudukmu dengan satu syarat..." Aomine menyeringai. Kau mundur 1 langkah. "Cium aku!" Pintanya.
"APAAAA?!" Teriak semua anggota Kiseki no Sedai kecuali Aomine. Mereka semua menatap Aomine dengan tajam. Bahkan, Akashi sudah menyiapkan dua gunting untuk membunuh Aomine. Aomine nyengir kuda. Kau menghela nafas.
"Kalau begitu, tidak jadi." Ujarmu lalu kembali lagi ke tempat dudukmu. Kiseki no Sedai, kecuali Aomine berteriak kegirangan. Aomine memasang tampang bingung. "Kenapa?" Tanyanya. "Karena aku tidak mau." Jawabmu singkat.
"Kyahahaha! Tentu saja karena Harukacchi tidak akan mungkin mau menciummu-ssu!" Ejek Kise. Aomine ingin sekali membalas perkataan Kise, tapi tidak jadi. Wajah Aomine memerah menahan amarah, mencoba untuk tidak membalas Kise.
Sejujurnya, kau tidak peduli dengan hal itu. Jika memang tidak memungkinkan, kau akan mundur. Seperti saat ini. Tapi kau cukup kasihan juga melihat wajahnya yang seperti kepiting rebus. Ini memang bukan sepertimu, tapi, bagaimana pun juga kau tetaplah manusia. Kau pasti punya rasa kasihan juga terhadap manusia lain. Kira-kira begitulah.
Kau berjalan mendekati Aomine. Aomine masih berusaha menahan marah. Kau menatapnya datar. "Baiklah, aku akan melakukannya." Ucapmu pelan. Aomine terkejut mendengarnya. Kau menarik kerah baju seragam Aomine yang tubuhnya lebih tinggi darimu. Dan...
Cup.
Kau mencium pipi kanan Aomine. Tak butuh waktu lama, wajah Aomine memerah seketika. Lebih merah daripada yang tadi. Yang lainnya melongo melihatmu mencium pipi Aomine. Kau melepaskan cengkramanmu dari kerah baju seragam Aomine. Kau segera mengambil tas-mu, lalu meletakkannya di kursi Aomine. Aomine yang tersadar, buru-buru menghampirimu.
"Tunggu!" Serunya. "Kau curang! Yang kumaksud bukan cium di pipi! Tapi..." Aomine agak sulit untuk meneruskan perkataannya. Kau menghela nafas.
"Kau tadi menyuruhku menciummu. Kau tidak bilang bahwa aku tidak boleh menciummu di pipi, jadi karena itu aku menciummu di pipi. Memangnya kau mau aku menciummu di mana?" Kau balik bertanya. Aomine terdiam.
"Yah, maksudku..." Aomine menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Cium di bibir.." Lanjut Aomine.
"TENTU SAJA TIDAK AKAN DILAKUKANNYA!" Teriak para Kiseki no Sedai, kecuali Aomine. Kau tidak memedulikan mereka, kau hanya mengambil bento-mu lalu memakannya dengan lahap. Apakah begitu caranya perlakuan mereka dengan target mereka sendiri? Sebetulnya, kau juga bingung, target apa yang dimaksud oleh mereka. Tapi kau lebih memilih diam dan tidak peduli dengan mereka. Itu lebih baik, kan? Ketimbang kau harus repot-repot ikut campur dengan urusan mereka, kau lebih baik diam.
"Ano.. Haruka-san mau ikut makan siang bersama kami di atap?" Tanya Kuroko, makhluk yang hawa keberadaannya tipis itu. Kau menggeleng pelan. "Tidak. Aku di kelas saja." Jawabmu dengan wajah sedatar mungkin. Kiseki no Sedai kecewa mendengarnya. "Baiklah kalau begitu.." Kuroko mulai meninggalkanmu, padahal ada rasa kecewa di dalam hati Kuroko. Yang lainnya pun mengikuti langkah Kuroko. Sedangkan kau memasang earphone-mu dan mulai mendengarkan musik.
Setelah ini, apalagi?
.
.
.
"Minna! Sebentar lagi festival kebudayaan-ssu! Ada yang punya usul mau buat apa-ssu?" Kise berteriak dengan semangat. Yang lainnya mulai bersorak ria. Sedangkan kau lebih memilih membaca manga Gekkan Shoujo Nozaki-kun di android-mu. Kau membacanya di manga online. Dan, yah, sepertinya hanya kau yang tidak mendengarkan.
"Rumah hantu!"
"Quiz!"
"Photo Studio!"
"Cafe!"
Usulan yang terakhir membuat Kise menoleh ke asal suara. Rupanya asal suara itu dari Takuma, si laki-laki berkacamata penyuka kucing akut. Kise menatapnya berseri-seri. "Takumacchi! Cafe seperti apa yang Takumacchi usulkan-ssu?" Tanya Kise dengan nada gembira. Tapi Kise memang selalu gembira, kan?
Takuma tersenyum penuh arti. "Butler and Maid Cafe." Jawabnya. "EEEHHH?" Semua anak berteriak kaget, kecuali kau. Kau saja tidak mendengar apa yang dikatakan Takuma karena masih asyik membaca manga. Akashi masih memasang wajah biasa saja, Kuroko terdiam, Kise berbinar-binar, Aomine tersenyum-senyum sendiri, Midorima menaikkan alisnya, dan Murasakibara asyik mengemut permennya. Ada yang tidak setuju, ada juga yang setuju. Tapi kebanyakan mereka setuju karena menurut mereka itu adalah hal yang patut dicoba.
Kau mengenakan earphone-mu untuk menghilangkan suara berisik yang terdengar di telingamu. Mengalun suara nyanyian dari Kaito, Miku, dan Luka. Kau mendengarkan lagu tersebut sambil membaca manga. Tanpa tahu bahwa festival kali ini akan membuatmu terkejut sekaligus tidak percaya.
(ALL)Tsumetai heya o yuruegoku kanjoo
Surudoku eguru nureta hokosaki
Hanabi no yoo ni moeagaru shunkan
Tagai o kogashi yakeato o nameau
Yasashiku...
(KAITO) kono mama de ii to omootteta
Nigedashita yoru no naka de
Amaoto ga mado o uchinarasu
Kookai ni sainamareta
(MIKU) watashi dake o mite hoshii nante
Sunao ni ieru wake monai
Yuganda ai no ketsumatsu ni wa
(MIKU KAITO) nani ga mieru?
Yami ga fukamari hanatareru yokuboo
Ima kono basho de kotaete hoshii
Dareka no kage ga miekakure shite iru
Obieru yoo ni sono mune ni karada o
Uzumete...
(KAITO) itsu datte shiritai jijoo wa
Saishin no kankei darou
Karakara to nibui oto o tate
Haguruma wa mawatte iru
(LUKA) aki mo shinaide anata o shinji
Nareta sagyoo ga kurukuru to
Tashikameatta tsumori ni natte
(LUKA KAITO)Gomakasareru
Tatsuzan no beru karamiau yuujoo
Uso o kasanete hohoenda mama
Kurushimagire no iiwake ni sugareba
Sabita kokoro wa yuukkuri to mahi shite
Iku dake...
(LUKA) tsumetai heya o kaousa suru kanjoo
Ima kono basho de kotaete hoshii
(MIKU) akuma no koe wa tsukisasari kienai
Kamen no ura o
(ALL) saa hikihagashite
Yami ga fukamari modorenai aijoo
Suru doku eguru nureta hokosaki
Hanabi no yoo ni hajikete kieru made
Tagai o kogashi subete o moyashiteku
Yasashiku...
Translate:
(ALL)selama perasaan kita berputar di ruangan yang dingin ini
Senjata tajamku berubah menjadi berkarat
Di suatu kenangan ketika kita berhamburan layaknya kembang api
Kita melukai satu sama lain, dan kemudian mencicipi kemarahan satu sama lain
Secara hati-hati...
(KAITO) aku kira semuanya akan berjalan dengan lancar
Di saat malam ketika aku mulai melarikan diri
Hujan mengguyur jendela dengan deras
Di saat aku dipenuhi dengan penolakan
(MIKU) sesuatu seperti "Aku ingin kamu hanya melihatku saja"
Tidak ada cara yang mungkin untuk mengatakannya dengan keras
Berada di sebuah kesimpulan dari cinta yang memusingkan ini
(MIKU KAITO) apa yang bisa kamu lihat?
Selama kegelapan semakin dalam, perasaan ku menjadi tidak karuan
Aku ingin kau menjawabku di sini sekarang juga
Bayangan seseorang yang lain menghilang dan kembali muncul
Jadi penuhi tubuhku di genggamanmu, selama kamu ketakutan
(KAITO) kebenaran yang selalu ingin kau cari tahu
Adalah hubungan cinta terbaruku
Dikuasai oleh suara yang serak dan muak
Roda waktu terus berputar
(LUKA) aku memiliki kepercayaan kepadamu
Tapi sekarang aku harus menghilangkan perasaanku yang tidak tergambarkan ini
Kita memang sudah seharusnya saling mencintai dan terikat satu sama lain
(LUKA KAITO)Tapi itu semua hanyalah perkiraan saja
Tiba-tiba dering handphone memutuskan sebuah ikatan persahabatan
Mengemukakan satu kebohongan dengan yang lain, kau tetap tersenyum
Selama aku bertahan untuk alasanmu dari tekanan yang menyakitkan
Detak jantungku yang mulanya lambat menjadi tidak karuan
(LUKA) selama perasaan kita saling beradu di ruangan yang dingin ini
Aku ingin kamu menjawabku di sini sekarang juga
(MIKU) suara kejahatan telah masuk ke dalam diriku dan tidak mau pergi
Sekarang buka topengmu
(ALL) dan tunjukkan kepadaku wajah aslimu
Selama kegelapan semakin dalam, cinta kita tidak akan pernah kembali
Ujung pisauku yang tajam menjadi berkarat
Sampai kita meledak dan menghilang layaknya kembang api
Mari kita melukai satu sama lain dan membakar semuanya
Dengan hati-hati...
(Acute: Hatsune Miku, Megurine Luka, Shion Kaito)
.
.
.
"Butler and Maid Cafe?" Kau menatap Takuma dengan tatapan apa maksudnya?. Kau memang tidak mendengar apapun apa yang mereka bicarakan tentang cafe tersebut. Takuma mengangguk. "Sekarang yang kita perlukan adalah beberapa kertas krep. Serizawa-san, bisakah kau pergi ke gudang peralatan seni untuk mengambil beberapa kertas krep? Warna apa saja boleh. Tolong ya?" Pinta Takuma. Kau mengangguk, lalu berbalik pergi meninggalkan kelas. Seperti biasa, wajahmu yang datar, tenang, dan selalu diam itu selalu ada kapan pun kau berada. Kau mempercepat jalanmu, atau lebih tepatnya berlari ke arah gudang peralatan seni. Karena kau sama sekali tidak ingin membuat teman sekelasmu menunggu lama. Oke, kali ini kau memang tidak bisa tidak peduli.
Setelah sampai, kau segera masuk ke dalam. Ruangan itu penuh dengan peralatan seni bekas. Ada beberapa karton, kardus, dan barang bekas dari festival kebudayaan tahun lalu. Kau segera mencari kertas krep yang diminta.
Kau menemukannya tepat di bagian paling atas lemari. Masalahnya, tinggi lemari tersebut sangat melebihi tinggi badanmu. Kau berusaha menggapai kardus berisi kertas krep tersebut. Hasilnya? Nihil. Kau hanya bisa memandangi kardus itu dengan pandangan dingin seakan-akan menyuruh kardus itu jatuh. Tapi kau tetap berusaha menjinjit untuk menggapai kardus itu.
"Nih."
Suara laki-laki yang menginterupsi kegiatanmu berhasil membuatmu menoleh ke belakang. Di belakangmu, kini ada laki-laki bertubuh atletis, dan memiliki poni lempar samping. Itulah Himuro Tatsuya, sepupumu.
"Tatsuya.." Gumammu. Tatsuya tersenyum kecil. Ah, sudah lama kau tidak melihatnya. Padahal, dia selalu satu sekolah denganmu. Tapi kau paham kenapa kalian berdua jarang bertemu. Tatsuya merupakan bendahara osis. Hari-harinya disibukkan dengan kegiatan osis. Yah, itu dimulai sejak kau masuk SMA.
"Kau belum berubah ya! Masih datar seperti dulu!" Sahut Tatsuya ceria sambil mengacak-acak rambutmu. Kau hanya diam menikmati tangan Tatsuya yang perlahan mulai mengelus puncak kepalamu. Kau menatap Tatsuya tanpa berkedip. Ah, Tatsuya sudah makin tinggi. Padahal dulu dia setinggi denganmu. Dia juga makin tampan. Kau terpana melihat perubahan yang terjadi pada sepupumu. Kau sama sekali tidak menyangka, bahwa seorang Himuro Tatsuya adalah seorang bendahara osis dan salah satu cowok ganteng di Teikou Gakuen. Lagi-lagi kau terpana.
Tatsuya tersenyum lembut kepadamu. "Nee, Haruka. Kau tidak balik ke kelasmu? Sepertinya mereka menunggu." Kau tersadar dari lamunanmu. Segera, kau mengangguk dan menatap kembali Tatsuya. "Tatsuya," Tatsuya balas menatapmu," kau makin tampan."
Kau berlari meninggalkan Tatsuya yang sudah menganga lebar.
.
.
.
Kau hanya bisa menatap tak percaya kepada kostum maid yang akan kau kenakan hari ini. Segala persiapan sudah selesai. Dan sekarang adalah hari Festival Kebudayaan. Semua kostum juga sudah selesai. Seharusnya sudah tidak ada lagi masalah. Tapi untukmu. Yaitu kostum maid ini. Oke, sebetulnya ini adalah kostum yang sangat bagus. Kostum ini mirip dengan seragam maid di anime kesukaanmu, Kaichou wa Maid-sama!. Di bagian bahunya terbuka. Tapi masalahnya, kau takut kostum ini tidak cocok untukmu. Meskipun kau suka dengan hal yang berbau cosplay, tapi bukan berarti semua pakaian cocok untukmu, kan? Kau kembali menatap kostum maid itu dengan tatapan tak percaya.
"Haruka-chan! Ayo cepat ganti baju! Anak cowok mau datang, loh!" Seru Mayaka, gadis tambun yang memiliki lesung pipi. Kau mengangguk pasrah. Yah, mau tak mau kau harus memakai kostum maid itu.
2 menit kemudian, para murid laki-laki memasuki kelas. Salah satunya Kiseki ni Sedai. "Wah! Apa mataku tidak salah lihat? Kenapa di kelas ini banya bidadari?" Ujar Aomine gombal. Semua penghuni kelas perempuan bersorak kegirangan. Sedangkan yang lainnya mendengus kesal. Cih, dasar gombal! Alay! ,batin mereka semua bersamaan. Kau yang baru siap ganti baju, keluar dari tempat ganti baju yang diluarnya diberi tirai.
Siing.
Semua terdiam, lebih tepatnya terpana melihatmu. Kau memakai kostum maid dan kau menikat rambutmu dengan gaya ekor kuda, sehingga menampilkan leher mulusmu. Tubuhmu yang tinggi dan langsing sangat cocok dengan kostum yang kau kenakan. Semua orang baru menyadari bahwa kau cantik. Kiseki no Sedai yang tidak kuasa menahan darah dari hidung mereka, akhirnya keluar juga. Cantik..,gumam mereka.
"Ano, minna, bisakah kita mulai bekerja?" Suara Kuroko memecah keheningan. Mereka semua mulai gelagapan. Sedangkan kau berdiri diam menatap mereka semua dengan pandangan datar. Pandanganmu kau alihkan kepada sekumpulan makhluk warna-warni yang baru saja berkumpul.
Kau masih kepikiran soal target yang dimaksud oleh Kiseki no Sedai. Kau merasa bahwa mereka tidak akan memberitahumu apa maksudnya. Jadi, kau memilih untuk bertanya pada Kuroko nanti.
Dengan langkah tegap, kau berdiri menuju pintu kelas, siap untuk menyambut para pengunjung.
"FESTIVAL DIMULAI!"
.
.
.
"Pesanan untuk meja nomor 1 datang!"
"2 orang tamu!"
"Meja ini belum dibersihkan!"
Kau hanya bisa menghela nafas. Tak disangka rupanya bekerja menjadi maid sangat melelahkan. Kau hampir tidak punya waktu untuk bernafas. Sungguh melelahkan. Sedangkan pengunjung terus bertambah. Yah, sepertinya pulang nanti kau akan tergeletak tak berdaya di atas tempat tidurmu.
Sebagian besar pengunjung berjenis kelamin perempuan. Oh, semuanya pasti tahu alasannya. Karena ada Kiseki no Sedai? Tepat. Kau akui, mereka memang terlihat sangat tampan dengan pakaian butler yang melekat di tubuh mereka. Tapi bagimu, tidak ada yang bisa mengalahkan ketampanan seorang Sebastian Michaelis, seorang butler di anime Kuroshitsuji, yang merupakan seorang 'perfect butler'. Sempurna. Itu 1 kata yang terlintas di benakmu ketika memikirkan salah satu tokoh anime kesukaanmu itu. Tapi sayangnya dia tidak nyata. Tidak nyata. Iya, tidak nyata. Kau cuma bisa mengulang-ulang perkataanmu di dalam hati.
"Yang bernama Haruka, Shun, Kuroko, Kise, Emi, Rika, dan Takuma boleh istirahat!"
Suara lantang dari Rima, sang sekretaris kelas menyadarkanmu dari lamunanmu. Kau segera keluar dari kelasmu ketika mendengar kata-kata Rima. Sekarang sudah waktunya istirahat. Nah, sekarang kau harus pergi ke mana?
Kau berpikir untuk keliling sekolah. Pastinya semua kelas akan membuka stan-stan yang menarik.
Kenapa tidak pergi ke kelas Tatsuya saja?, pikirmu. Kau mengangguk, lalu berjalan menuju kelas Tatsuya. Kelas 2-D. Itu adalah kelas Tatsuya. Kau yakin sekali, pasti kelas Tatsuya ramai akan pengunjung perempuan. Seperti di kelasmu. Dan kau berharap kau tidak perlu berdesak-desakan di sana. Yah, semoga.
Kau sampai di kelas Tatsuya. Sesuai yang sudah kau duga, kelas Tatsuya sangat ramai. Tapi tidak seramai kelasmu. Mungkin karena di kelasmu cowok gantengnya terlalu banyak. Bukannya tidak bersyukur, tapi terlalu banyak orang yang ganteng dan cantik itu sangat merepotkan. Buktinya, kau harus kerja rodi tadi.
Kau mendongakkan kepalamu, mencoba melihat papan yang berada di atas plang kelas Tatsuya. Papan itu bertuliskan 'Love Quiz- Buktikan Keserasianmu Dengan Pasanganmu'. Tubuhmu menegang. Oke, kau berharap bukan Tatsuya yang mencetuskan ide gila ini. Karena kau tahu, Tatsuya selalu saja mengusulkan ide-ide yang gila, tidak masuk akal, dan apalah itu.
Akhirnya, kau memutuskan untuk masuk ke dalam kelas Tatsuya. Dengan susah payah, kau bisa masuk. Kau hanya bisa terbelalak melihat apa yang sedang terjadi.
"Oke semuanya! Pemenang dari Lomba Memecahkan Balon bersama pasangan adalah pasangan Rin dan Len!" Teriak Tatsuya dengan penuh kegembiraan. Tatsuya menjadi MC dari acara ini. Sekarang kau benar-benar percaya bahwa Tatsuya yang mencetuskan ide ini. Tatsuya benar-benar sangat konyol. Lihat saja, dia memakai setelan jas berwarna pink dan dasi kupu-kupu yang warnanya sama dengan jas yang dipakainya. Benar-benar konyol.
Tanpa sengaja, kau beradu pandang dengan Tatsuya. Tatsuya tersenyum kepadamu, dan kau hanya diam. Tiba-tiba, Tatsuya memberikan mic-nya kepada orang lain, lalu berjalan menuju ke arahmu. Tatsuya menghampirimu dengan wajah gembira. "Haruka! Kau datang!".
"Yah, begitulah." Jawabmu pendek. Tatsuya menarik tanganmu. "Ayo!" ajak Tatsuya. Kau mengerutkan kening. "Kemana?" Tatsuya tersenyum penuh arti. "Ikut lomba yang selanjutnya." Ujar Tatsuya.
Kau baru saja mau menolak tapi sayangnya Tatsuya sudah menarik tanganmu duluan. Dia melepaskan jas-nya dan dasi kupu-kupu, lalu membawamu menuju ke tengah-tengah kelas Tatsuya yang dipenuhi dengan kertas-kertas berwarna pink yang berserakan.
"Nah, semua! Lomba selanjutnya adalah Lomba Mencari Harta Karun! Nah, tugas kalian adalah mencari kertas yang bertuliskan 'KEBERUNTUNGAN'. Di balik kertas tersebut ada sebuah perintah. Kalian harus melaksanakan perintah tersebut agar dapat memenangkan hadiahnya! Tapi, jika kalian tidak melakukannya dengan baik, maka kalian kalah dan tidak akan diberi kesempatan kedua untuk mengikuti lomba ini lagi. Nah, sekarang, MULAI!" seru MC tersebut.
Dengan semangat, Tatsuya mencari kertas tersebut. Sedangkan kau menatap Tatsuya dengan tatapan datar sekaligus bingung. Tatsuya, kan, anak kelas ini, jadi sudah pasti dia sudah tahu tentang permainan ini. Tapi, kau merasa bahwa Tatsuya tidak tahu di mana letak kertas tersebut. Maklum, kertasnya sangatlah banyak, kira-kira ada 1000. Kau hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala berapa banyak kertas yang di sia-siakan untuk permainan yang menurutmu konyol ini. Tapi terserah. Kau sama sekali tidak peduli.
"Ah, aku menemukannya!" seru Tatsuya. MC tersebut menoleh ke arah Tatsuya. "Wah, cepat sekali! Nah, sekarang cepat bacakan apa perintahnya, Tatsuya!" Tatsuya mengangguk. Tatsuya membaca perintah di kertas itu dengan suara yang keras. "Ciumlah pasanganmu dengan sangat mesra!".
APA?!
Tubuhmu kembali menegang. Lidahmu kelu. Cium? Dengan Tatsuya? Oke, Tatsuya memang sepupumu, tapi apakah mungkin kau mencium sepupumu sendiri? Kenapa, sih, sejak kemarin kau selalu dirundung masalah? Sudah dengan Kiseki no Sedai, sekarang dengan Tatsuya?! Tapi kau hanya bisa diam dengan memasang wajah datar andalanmu. Kau berharap Tatsuya tidak benar-benar melakukannya kepadamu.
Tiba-tiba saja wajah Tatsuya sudah berhadapan denganmu. Entah ini bohongan atau bukan, kau sepertinya ada melihat seringaian kecil di wajah Tatsuya. "Haruka..." deru nafas Tatsuya menerpa wajahmu. Demi apapun itu, otakmu tiba berhenti bekerja. Kau hanya menatap Tatsuya dengan pandangan datar. Sedangkan kedua tangan Tatsuya telah melingkar di pinggangmu. Dan...
Cup.
Tatsuya mencium bibirmu dengan lembut. Lalu, Tatsuya makin memperdalam ciumannya. Kau menjadi sulit bernafas. Tatsuya menciummu dengan sangat lama. Merasa butuh oksigen, Tatsuya melepaskan tautan antara bibirmu dengan bibir Tatsuya. Tak berapa lama kemudian, para penonton mulai bertepuk tangan.
"WOW! Benar-benar sangat mesra, ya! Sudah diputuskan, pemenangnya adalah Tatsuya dengan pacarnya! Hadiahnya adalah, 2 tiket taman bermain! Pas sekali untuk kencan!" seru sang MC. Tatsuya hanya tersenyum. Sedangkan kau, hanya terdiam seperti orang bodoh. Serius, kau benar-benar tidak bohong. Otakmu benar-benar tidak bisa mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Itu ciuman pertamamu. Seharusnya ciuman pertama itu bersama dengan orang yang kau suka, kan? Bukankah hal seperti itu yang biasanya kau baca di komik-komik shoujo? Tapi, ini apa?
Hell, batinmu.
.
.
.
Kau berjalan melewati koridor sekolah yang lumayan ramai. Di kanan-kirimu, banya sekali murid-murid yang membagikan pamflet, membawa papan kayu yang bertuliskan kelas mereka masing-masing. Tentu saja itu semua dilakukan untuk mempromosikan kelas mereka masing-masing. Sebetulnya kau sudah kehilangan niat untuk keliling-keliling sekolah. Kau ingin pulang. Tapi sayangnya, Akashi pasti tidak akan membiarkanmu pulang. Kerjaan di cafe,kan, belum selesai.
Kau masih mengingat dengan jelas apa yang kau lakukan setelah Tatsuya menciummu. Itu adalah petama kalinya bagimu. Dan kau benar-benar merasa frustasi.
FLASHBACK ON
Setelah Tatsuya menciummu, kau kembali tersadar. Tatsuya tersenyum kepadamu. "Maaf, ya, Haruka. Aku tak punya pilihan lain selain menciummu." Ujar Tatsuya. Di tangannya terdapat hadiah yang baru saja diterimanya.
Kau tidak menghiraukan kata-kata Tatsuya. Sebaliknya, kau menatap Tatsuya dengan tatapan dingin. "Minggir.".
Tatsuya sama sekali tidak terkejut mendengar kata-katamu. Sebaliknya, Tatsuya tersenyum kecil. Kau berjalan melewati Tatsuya. Saat itu pula, kau mendengar bisikan halus dari Tatsuya.
"Anak manis."
FLASHBACK OFF
Tatapan dingin itu hanya kau berikan ketika kau memang benar-benar marah. Ya, kau memang marah pada Tatsuya. Bukankah semua ini salahnya? Dia menarikmu ke permainan tersebut tanpa meminta persetujuan darimu. Kau berhak marah, kan? Kau sadar, hidupmu tidak seperti yang dulu. Dulu kau hanya gadis biasa yang tidak mengalami hal-hal seperti ini. Sekarang? Kau memang tidak peduli, tapi rasanya sangatlah lelah. Meskipun begitu, kau memilih untuk tidak peduli dan tidak memikirkannya.
"Haruka-san."
Kau menoleh ke belakang. Di belakangmu sudah ada seorang laki-laki bersurai baby blue yang hawa keberadaannya tipis. Kau sama sekali tidak kaget melihatnya. Karena kau tahu, dia pasti muncul tiba-tiba. Dia, Kuroko Tetsuya.
"Daritadi aku mencarimu..." ucap Kuroko. "Memangnya ada apa?" kau balas balik bertanya. Wajah Kuroko yang semula biasa saja berubah menjadi merah. Dan tidak tahu kenapa di sekililing Kuroko ada bunga-bunga. "Aku ingin mengajakmu keliling sekolah, Haruka-san. Apa Haruka-san mau?" tawar Kuroko.
"Tidak." Jawabmu dengan singkat, jelas, padat. Wajah Kuroko yang semula malu-malu menjadi kecewa. Sungguh, kau ingin pulang. Dan saat ini kau benar-benar tidak peduli dengan Kuroko.
"Ano, Haruka-san. Apa ada sesuatu yang membuat perasaan Haruka-san tidak enak?" tanya Kuroko. Kau terdiam. Bimbang. Memberi tahu kepada Kuroko? Kau tidak ingin masalah yang sudah kau alami ini tersebar kemana-mana. Apalagi Kuroko ini antek-nya Akashi bisa runyam jadinya. "Tidak. Baiklah, kau mau pergi ke stan mana?"
Senyum Kuroko kembali merekah.
.
.
.
Rumah Hantu Kelas 3-A
Kau memandang pintu masuk rumah hantu tersebut dengan pandangan datar. Tidak, bukan karena kau takut dengan hantu atau semacamnya. Tapi karena tidak menyangka Kuroko akan mengajakmu ke tempat seperti ini. Tapi yah, kau sama sekali tidak peduli.
Kau mengikuti langkah Kuroko yang masuk ke dalam rumah hantu tersebut. Pencahayaannya sangatlah minim. Itupun lampunya remang-remang. Membuatmu sulit untuk melihat. Tapi kau tetap berjalan. Berusaha mengikuti rute yang sudah diberitahu sebelumnya oleh penjaga pintu rumah hantu tadi.
Tiba-tiba, muncul sesosok gadis yang rambutnya panjang sampai kena lantai, memakai baju putih panjang, berjalan dengan sangat pelan. Gadis itu mengucapkan sesuatu yang terdengar olehmu dan Kuroko, tapi dengan suara yang kecil dan pelan.
"Shi...shi...shi...shi...*" ucap gadis itu. Kau menatap datar gadis itu yang sudah berlalu, lalu tetap berjalan. Kuroko menatapmu heran. "Haruka-san tidak takut dengan hantu?" tanya Kuroko lagi. "Tidak." Jawabmu. Sial. Padahal kupikir dia akan takut lalu memelukku.,batin Kuroko.
Selama di rumah hantu, kau tidak berbicara sepatah kata pun. Kau hanya diam dan memasang wajah datar. Tidak ada niat untuk memulai percakapan. Kuroko pun sepertinya paham kalau suasana hatimu sedang tidak baik. Jadi, dia hanya diam.
Kau pun kembali ke kelasmu dengan wajah yang masih tetap datar. Waktu istirahatmu sebenarnya masih lama, tapi kau memilih untuk kembali ke kelas karena ada suatu urusan penting. Kau menghampiri Akashi yang sedang berdiri dengan sok keren-nya.
"Akashi-kun, ada yang ingin kubicarakan denganmu." Ujarmu. Akashi melirikmu dengan penuh minat. "Hm? Tentang apa?" Kau menghela nafas. "Tentang aku yang dijadikan target, dan apa maksud dari semua ini." Jawabmu. Akashi terkekeh. Manik mata heterochrome-nya melirikmu dengan tajam. "Tidak biasanya kau berbicara banyak, Haruka." Ucap Akashi.
"Aku serius." Kau menatap Akashi dengan tatapan yang sangat datar. Akashi menampakkan raut wajah yang mengatakan bahwa dia tidak suka dengan tatapanmu. Tapi kau merupakan orang yang tidak peduli. Sudah cukup kau meladeni lelucon mereka. Entah kenapa, semenjak kejadian Tatsuya yang tadi kau berubah menjadi seperti ini. Terkesan emosional. Tapi kau hanya ingin mengakhiri semuanya. Kau hanya ingin hidup normal. Hanya sesederhana itu.
Akashi menhela nafas. "Baiklah. Aku, bukan, kami menjadikanmu sebagai target karena kau menarik. Seorang otaku yang pendiam, dan tertutup. Hal itu membuat kami sangat penasaran. Kami pun berusaha untuk mengenalmu lebih dekat. Tapi rupanya kau lebih menarik dari yang kami duga. Bahkan kami sudah lebih dari kata tertarik denganmu." Jelas Akashi.
"Jadi hanya permainan?" Kau balas balik bertanya. Akashi menyeringai.
"Bagaimana kau bisa menganggapnya sebagai permainan? Kau terlalu menarik untuk menjadi sebuah objek penelitian. Tapi tenang saja, kau akan menyadarinya nanti." Kau tertegun mendengar kata-kata Akashi. Sebetulnya, kau masih tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Akashi. Tapi kau memahami kata kuncinya.
Menarik. Target. Objek penelitian. Permainan. Mengenal lebih dekat. Lebih dari kata 'tertarik'.
"Jadi lebih tepatnya mereka mulai menyukaiku."
.
.
.
Festival kebudayaan yang sangat melelahkan, membuatmu ingin segera pulang ke rumah. Dan kali ini permintaanmu terkabulkan. Sudah waktunya pulang. Ah, kau ingin segera tidur lalu menonton anime Gatchaman Crowds. Atau Tokyo Ghoul. Atau mungkin bagusnya Sket Dance? Entahlah, begitu banyak anime yang ingin kau tonton. Semuanya demi menghilangkan rasa penatmu.
"Harukacchi!"
Ya, ya, kau tahu siapa yang memanggilmu. Kise Ryouta, sang model papan atas. Kau menoleh ke belakang. Tampak semua anggota Kiseki no Sedai berjalan ke arahmu.
"Mau pulang sama-sama, nanodayo?" tanya Midorima. Hari ini dia memakai pita hijau di jari kelingkingnya. Kau yakin itu adalah lucky item-nya. Tapi kau tidak punya waktu untuk memikirkan lucky item Midorima. "Tidak, terima kasih." Jawabmu pelan. Kau segera berlari meninggalkan mereka. Kise menatap kepergianmu dengan khawatir.
"Apa yang terjadi dengan Harukacchi-ssu? Dia agak berbeda dari yang kemarin." Ujar Kise sambil memainkan poninya. "Aku sudah memberi tahu Haruka tentang maksud kita." Timpal Akashi dengan nada yang datar. Aomine menatap Akashi dengan tatapan tidak percaya. "Kau memberi tahu dia?!" Akashi menyeringai. "Yah, biarlah. Kita lihat siapa yang akan menang nanti." Ucap Akashi dengan nada setengah berbisik.
Tanpa disadari oleh mereka, seseorang mengawasi mereka dari kejauhan. Laki-laki itu menyeringai. "Haruka, kau benar-benar sepupuku yang manis. Sampai kau dikelilingi oleh Kiseki no Sedai." Ujar laki-laki itu. "Aku akan memberikanmu hukuman."
Kenapa semuanya tidak bisa kembali menjadi normal?
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
HALO SEMUANYA! Jumpa lagi dengan author yang udah berbulan-bulan menghilang kemana! Huweeee! Akhirnya nih fict kelar juga! Agak panjang,ya? Sengaja, karena udah lama nggak muncul... :p
Maafkan Syifa kalau fict ini makin ABAL-ABAL, JELEK, TIDAK KARUAN, BANYAK TYPO, ALUR KECEPATAN, ATAU KESALAHAN LAINNYA. Otak Syifa udah blank akibat ujian semester, apalagi PKN, , IPS, FISIKA, oh apalagi, pokoknya banyak!
Nah, sekarang Syifa mau tanya. Menurut para readers Haruka cocok dengan siapa? Kalau menurut Syifa, Haruka kurang cocok dengan Akashi, lebih cocok dengan Kise. Tapi Syifa akan membuat cerita ini sesuai keinginan para readers. Jadi silakan di-vote untuk calon pasangan Haruka^^
Akashi:
Kise:
Aomine:
Kuroko:
Midorima:
Murasakibara:
Atau boleh juga kalau mau Himuro, tapi nanti jadinya nggak nyambung... nah, daripada banyak bacot, mendingan sekarang Syifa jawab review dari para readers^^
Silvia-KI chan: Deja vu? Oke, ini udah lanjut!
Sakazuki123: Iya.. YAOInya emang sesuatu.. XDXD ehe, ni dah lanjut!
Sasamiajeng: oke! Ini udah lanjut! Iya, si Mura keenakan tuh!
Sabila Foster: oke, udah lanjut! Ganti pen name ya?
Juvia Hanaka: Nanti bakal dipilih kok! Terima kasih atas review-nya...
Aoi Yukari: Haruka emang harus kece Aoi-san! XDXD Arigatou untuk review-nya!
Koizumu ayumu: TERIMA KASIH ATAS PUJIANNYA! HUWEE! Terharu banget#alay. Oke, ni dah lanjut...
Misaki Younna: ehe, di chapter ini akan diberitahu... Misaki-san, ni dah lanjut!
AzuraLunatique: Syifa juga penasaran kok bisa, ya? #plak! Ni udah lanjuttt...
Yuzurizha Aera: Arigatou atas review-nya! INI SUDAH LANJUT!
loneWolf: Terima kasih atas review-nya! Maaf Syifa gak bisa update kilat...
Haruna Ichijou82: udah lanjut^^
Guest: Oke, dah lanjut ni fanfic! Sama-sama otaku? Wah, punya kawan nih!
Leaf and Flower: TERIMA KASIH ATAS PUJIANNYA! SYIFA TERHARU BANGET! :') INI SUDAH LANJUT! #alay
Lavender White: ini sudah lanjut, Lavender-san! :D Belum kasih saran? Akan Syifa tunggu! Terima kasih atas pujiannya!
Oke, Syifa sudah menjawab semua review! Syifa minta maaf karena Syifa telat update. Ujian dan pr yang sungguh buanyak juga menjadi salah satu faktornya. IDE CERITA YANG KOSONG juga. Syifa harap para readers puas dengan cerita Syifa dan tetap terus mengikuti cerita Syifa. Syifa juga sangat terharu begitu banyak review yang datang ke Syifa. Arigatou gozaimasu^^
Ada juga nyempil karakter di vocaloid. Iya, soalnya Syifa gak tahu lagi pakai nama apalagi. Terus ada Himuro lagi? Haduh, padahal maunya pakai Chihiro. Bukan sebagai sepupu sih, tapi kayak tunangan gitu.. HEAAHH! SYIFA BOCORIN IDE CERITA! AH BIARLAH, LAGIAN GAK DIPAKAI KOK! Syifa udah gila. Hahaha, kayak curhat ya? Biarlah, yang penting hati Syifa tenang! #HUEK!
Jangan lupa vote!
So, Mind To Review?
