Musim Panas Kisedai

.

Kuroko no Basuke hanyalah milik Tadatoshi Fujimaki

Rating: K+

Warning: OOC, humor gagal plus gaje, typo dimana-mana dll

Chara: Fem!GoM, Fem!Kuroko dan lain-lain

Don't like don't read

Enjoy!


Mata Aomine merem-merem mirip lampu 5 watt, sesekali matanya kembali terbuka agar tidak hilang kesadaran. Gadis bersurai navy itu masih mengantuk tingkat maksimal. Dia melihat ke samping kanannya dan menemukan gadis bersurai blonde tengah asik mengorok dan ileran di bahunya. Ya ampun Kise, kami tidak menyangka ternyata kamu kalau tidur seperti itu. ingin sekali Aomine mendorongnya menjauh, tetapi tidak bisa karena Kise bakal balik lagi ke dekatnya seperti karet. Dan disebelah kirinya tertidur gadis bersurai baby blue dengan tenang. Tapi tunggu, ada bunyi aneh.

Gruk...

Aomine celingukan mencari sumber suara yang kelewat aneh dan absurt itu... gruk... dia langsung menengok ke arah Kuroko dan...

Gruk...

Oh Tuhan ternyata Kuroko ngorok..

Aomine hanya bisa facepalm mendengarnya, oh dia baru tahu ternyata kelakuan kawan-kawan sejatinya seperti ini. Bersabarlah Aomine..

"Kokoroku sakit tahu" batin gadis navy itu memengang dadanya sambil mengeluarkan air mata buaya. Ok kamu 4lay banget Aomine.

Dia melirik jam tangannya yang masih menunjukkan jam 6 pagi. WHAT...JAM 6?

Kalau di ingat-ingat lagi bukannya mereka harusnya ngumpul di lapangan steratball jam 8 pagi ya? Oh salahkan kapten merah yang kelewat unyu kita yang mengirimkan pesan seperti ini.

To: Semua gadis-gadis kisedai yang imut dan unyu

From: Akashi Seisura

Subject: pergantian jam

Maaf ya semuanya, besok kumpulnya bukan jam 8 tapi jam 4 pagi, karena kita akan berangkat cepat-cepat agar tidak terjebak macet seperti di jalan Pantura yang kena banjir dan macet berkilo-kilo meter. Jangan telat ya, atau mau mati sebelum malaikat maut menjemput juga tidak apa. Jaa ne..

Pesan kelewat Absurt tetapi kenyataan yang dikirim oleh kapten perempuan yang paling unyu sejagat itu membuat para gadis-gadis Kisedai kalang kabut jam 3 pagi ditempat masing-masing.

Bahkan Aomine yang biasanya baru tidur jam 1 malam dan tidak ingin diganggu kalau sudah dalam masa hibernasi alias tidur sampai sore hari terpaksa membuka matanya yang udah merah seperti orang yang kena sakit mata karena menerima pesan dari kapten merah tercinta. Urusan tidur bisa nanti, yang penting nyawa tidak melayang.

Setelah berlari dengan kecepatan 100km/jam yang dilakukan dengan keadaan zone, gadis itu mencapai lapangan steatball hanya dalam waktu 10 menit. Pemecahan rekor karena biasanya dia menghabiskan waktu hampir 45 menit, maklum aja udah masuk zone jadi kecepatannya melebihi panter hamil(?). Tapi apa yang didapatnya disana... tidak ada seorang pun...

Dan tak lama kemudian, muncullah gadis bersurai blonde yang membawa koper unyu berwarna pink dengan motif hello kitty, memakai topi pantai, kacamata hitam, dan pakaian musim panas. Aomine yang melihatnya hanya sweatdrop melihatnya.

Kemudian disusul oleh Kuroko, gadis itu mengagetkan kedua sahabatnya dengan menggunakan topeng tengkorak dan sukses membuat keduanya pingsan ditempat.

Dan sudah berapa lama mereka bertiga menunggu? 3 jam pemirsa, 3 JAM...

Kalau tahu begini, Aomine masih bobo cantik di kasurnya tercinta dan akan dibangunkan dengan suara merdu dari laki-laki bersuara ikemen yang terdapat di handphonenya sebagai alarm. Dan itu bukannya membuat gadis itu bangun, tapi kembali ke alam mimpi.

Karena Akashi tidak muncul-muncul juga dari tadi, membuat urat kesabaran gadis itu akhirnya putus menjadi serpihan debu(?).

"AKASHIIIIII...LOE MAU GUE HANCURIN MENJADI KEPINGAN-KEPINGAN MOLEKUL ATOM KALAU ELO NGGAK MUNCUL SEKARANG JUGA" teriak Aomine sambil berdiri, kedua gadis disebelahnya tersentak kaget dan langsung membuka mata selebar-lebarnya.

"Tadi Aomine-san/-cchi lagi ngigau ya" batin keduanya.

Dan mungkin dewi fortuna sedang berpihak kepadanya, setelah berteriak seperti itu, sebuah gunting bedah melintas di dekatnya. Itu sebenarnya bukan keberuntungan dan bukan juga disebut kesialan. Aomine langsung bergidik ngeri.

"Daika, apa yang barusan katakan?" tanya gadis bersurai merah yang baru saja datang dengan aura hitam yang menyeruak keluar dari seluruh tubuhnya.

"Egh...tidak ada" jawab Aomine cepat.

"Bukannya Aomine-san mau menjadikan Akashi-san kepingan-kepingan molekul atom ya?" ujar Kuroko dengan polosnya. Gadis navy itu menatap gadis mungil di belakangnya tidak percaya.

"Benarkah itu Daika?" tanya Akashi dan sudah terdengar senjata kematian berada ditangannya.

"Itu benar Akashicchi" seru Kise. Aomine langsung men-death glare kedua gadis polos yang tidak bisa diajak kompromi dan kerja sama.

Cris...

Alarm peringatan Akashi akan membunuh berdendang dikepala Aomine untuk memberikan informasi ke seluruh tubuhnya agar pergi menjauh sejauh-jauhnya dari gadis keturunan dewi bergunting itu sekarang juga. Tapi apa mau dikata, dewi firtuna tidak berpihak kepadanya kali ini. Mungkin berita TV dan koran pagi ini akan memberikan kabar bahwa ditemukan gadis tomboy bersurai navy tidak bernyawa di lapangan steatball dengan keadaan tidak elit ditambah kata banget dibelakangnya.

Ok setelah Akashi membuat Aomine bungkam alias tidak bisa bergerak karena pingsan ditengah lapangan dan itu membuat Kise dan Kuroko mendekatinya.

"Aomine-san bangun" ujar Kuroko mentoel pipi Aomine menggunakan ranting. Katanya takut ketularan otak mesumnya gadis itu kalau bersentuhan langsung.

"Akashicchi kok lama sekali ssu kami sampai ketiduran menunggumu ssu" ujar Kise yang sudah menghapus ilernya tadi.

"Oh, tadi Aku mandi cantik dulu, ternyata Aku ketiduran dan baru bangun deh" jawab Akashi polos.

Kise hanya sweatdrop "O-oh begitu ya".

"Enak banget dia bilang begitu tanpa rasa bedosa sama sekali" batin Kise.

"Aku juga sholat subuh dulu sebelum kesini, tidak bagus kalau meninggalkan sholat, Saudariku" ujar Akashi dengan pakaian ustadzah. Oh ternyata putri bergitar—maksudnya bergunting kita sudah tobat pemirsa. Yang melihatnya langsung jawdrop berjamaah.

"Akashi-san, Apa kamu melihat Murasakibara-san dan Midorima-san" tanya Kuroko yang tidak menemukan batang hidung kedua gadis itu sejak mereka datang tadi.

"Kyaaaa..Ohayou Tetsuna-chan" ujar Akashi yang sudah bersiap menerjang tubuh mungil gadis baby itu. Dengan sigap Kuroko menghindar dan membuat gadis scarlet itu jatuh dengan tidak elitnya. Tapi dia langsung bangkit agar reputasinya tidak jatuh karena kejadian barusan.

Dia berdehem pelan dan menjawab pertanyaan Kise, "Atsuko sudah menunggu di mobil, kalau Shichiko dia akan menyusul nanti".

"Ehhhhhhh? Kok bisa begitu" kaget Aomine yang baru saja bangkit dari kematiannya.

"Shichiko ada urusan mendadak" terang gadis merah itu.

"Hah urusan apa?" tanyanya lagi.

"Mencari lucky itemnya hari ini" jelas Akashi.

Krik..

Krik..

Krik..

"Uanjer, enak amat tuh anak nggak datang hanya untuk mencari barang antik sebagai lucky itemnya" seru Aomine.

"Memangnya lucky item Midorimacchi apaan ssu" tanya gadis blonde yang penasaran setengah mati.

"Apel Malang".

1 detik...

3 detik..

5 detik...

"Jadi? Midorimacchi sekarang... PERGI KE MALANG?" teriak Kise histeris. Akashi hanya mengangguk. Aomine menghantamkan kepalanya kepohon, kalau bisa begitu dia akan beralasan mencari pinguin ke Antartika biar tidak ikut camp training aneh ini.

"Dia akan menyusul kita ke Akita nanti, ayo cepat ke mobil" perintah gadis merah itu. yang lain hanya mengangguk.

"Akashi Aku juga mau—" kalimat Aomine terpotong karena gunting kebun lewat seenak jidat melewati badan rampingnya.

"Mau beralasan ingin pergi juga, DAIKA" lirik Akashi udah menunjukkan hasami-chan tercinta. Aomine hanya menggeleng dan langsung masuk mobil.

Dan tidak disangka-sangka, pagi ini macetnya luar binasa, bukan karena antri bensin atau minyak tanah(?) tapi ada razia mendadak dari Satpol PP yang lagi mencari banci kaleng keliaran pagi hari. Biar tidak mengganggu ketertiban katanya.

Tapi yang perlu ditanyakan adalah, KENAPA HARUS DIJALAN RAYA MENCARINYA? Dan itu hanya pihak Satpol PP dan Kami-sama yang tahu..

Setelah beberapa jam terjebak macet dengan mobil yang berjalan lebih pelan dibandingkan siput dan perdebatan—baca bentrok dengan seorang Satpol PP yang mengatakan Aomine adalah seorang banci dan menggeretnya masuk mobil patroli dan masuk kantor polisi beberapa detik setelah gadis navy itu menunjukkan kartu pelajarnya dan foto feminimnya membuat petugas melepaskannya dan mereka melanjutkan perjalannya.

"Pfffttt... Aominecchi dikira banci ssu" ejek Kise yang menahan tawanya.

"Cih, diamlah Kise. Apa mereka tidak bisa membedakan cewe unyu sepertiku dengan cowo jadi-jadian" yang lain langsung muntah mendengarnya, bahkan Murasakibara keselek maibo miliknya.

"Soalnya Aomine-san punya otot dan kulitmu yang coklat gosong itu seperti laki-laki" perkataanmu nge-jleb banget Kuroko.

Aomine hanya pundung di pojokan kursi belakang. Awalnya Akashi ingin menaruh gadis itu di bagasi, tapi dia masih punya hati untuk menempatkan gadis itu di kursi belakang.

Keluar dari jalanan Tokyo, mobil jazz hitam Akashi melaju cepat menuju Akita. Menyelip mobil lain dengan lihai, bahkan sampah yang ada dijalanpun diselip. Supir pribadinya tidak ingat kalau ada penumpang lain dibelakang sana.

Aomine sudah komat kamit baca mantra(?) di belakang sekaligus mengumpat supir itu dengan tidak berperi kesupiran. Murasakibara berhenti makan. Kuroko menatap datar kedepan tanpa berkedip. Sedangkan Kise sudah merapalkan doa agar selamat sampai tujuan.

Tidak membutuhkan waktu lama, mobil itu sampai ditempat tujuan. Para penumpang langsung mencari oksigen karena sedari tadi tidak bernapas sama sekali.

Barang-barang diturunkan dan smobil Akashi melaju pergi meninggalkan kelima gadis unyu itu diseberang jalan.

"Akashi supirmu itu mantan pembalap ya" tanya gadis navy yang masih mencari udara sebanyak-banyak sebelum habis didekatnya.

"Bukan, dia mantan bos mafia yang pindah profesi menjadi supir karena uangnya habis" jawab Akashi. Yang lain langsung ber-oh-ria.

"Penginapannya dimana Akashicchi? Kok tidak terlihat?" tanya Kise yang sedari tadi celingukan mencari bangunan didepannya yang dipenuhi semak belukar dan pohon-pohon.

"Di atas sana, jadi kita harus menyusuri jalan setapak ini baru sampai kesana" jawabnya dan menunjuk jalan setapak didepannya.

Yang lain langsung lemas pengen pisan ditempat. Tapi kalau tidak dilalui mereka tidak akan sampai-sampai juga. Dengan penuh perjuangan dan tangisan(?) mereka melewati jalan itu dan berhasil sampai dipenginapan saat sore hari. Bagaimana tidak membutuhkan waktu hampir 8 jam perjalanan kalau dijalan mereka melewati halang rintang seperti pelatihan militer, sungai yang mengalir deras tanpa ada jembatan, berurusan dengan binatang buas dan berhasil sujud dihadapan tuan putri Akashi, terperosok ke jurang, salah jalan, dan lain-lain. Kasian ya gadis-gadis unyu kita ini.

"Elu aja yang tega banget Author Haru sarappppp" teriak Aomine pada semilir angin yang lewat didepannya.

Rekannya yang lain hanya terdiam mendengarnya, mungkin efek perjalanan yang absurt tadi membuat otak gadis navy itu sedikit ya terbentur mungkin.

"Selamat datang, tuan putri Seisura, kami sudah menunggu Anda sejak tadi a.k.a 10 jam yang lalu" sambut seorang perempuan tua, mungkin dia pemilik dari penginapan ini.

"Terima kasih sudah menyambut kami, Minami-san" balas Akashi sopan.

"Mari Saya antar ke kamar Anda semua" ujarnya dan memandu para tamu-tamunya. Kise dan Aomine sedari tadi tidak henti-hentinya memperhatikan sekelilingnya. Mungkin merasa sedikit aneh dengan bangunan penginapan yang terbilang WOW itu.

"Ini kamar anda sekalian, selamat beristirahat" wanita tua itu meninggalkan gadis-gadis pelangi terkece kita.

"Ayo masuk" komando Akashi dan membuka pintu geser didepannya, pemandangan takjub langsung menghinggapi para gadis lain dibelakangnya. Pasalnya kamar itu luasnya minta ampun untuk mereka berenam, beralaskan tatapi dengan perlengkapan lemari futon, meja ditengah ruangan dan aja jendela yang terbuka di depan mereka, dan jangan lupakan tivi super slim 20 inchi disana.

"Wow, ini melebihi kata penginapan biasa" kagum Aomine.

"Keluarga Akashi gitu loh" ujar Akashi dengan bangganya, tapi tidak ada yang mendengar perkataannya barusan.

Mereka meletakkan barang-barang mereka disamping lemari dan menjauhkan meja dari tengah ruangan agar bisa bermain basket(?). Akashi dan Kuroko pergi keluar mencari udara sejuk, sedangkan Murasakibara mencari makanan didapur. Jadi tinggal gadis blonde dan navy di dalam kamar.

"Aku mau istirahat" ucap Aomine yang sudah berbaring di dekat jendela.

"Lebih baik Aominecchi mandi dulu deh, baumu nggak enak banget" ujar Kise jujur karena sejak tadi indra penciumannya terganggu.

"Nanti malam saja" balasnya dan membelakangi gadis blonde itu. kise mencibir dan bergumam terserah kau saja.

Ngung...

Bunyi binatang bersayap lewat, Kise yang masih dalam keadaan duduk langsung mencari sumber suara.

Ngung...

Aomine membuka matanya dan bangun untuk mencari hewan aneh yang mengganggunya..

Ngung...

Ngung...

Keduanya memicingkan mata, terlihat binatang bersayap terbang menuju mereka berwarna coklat sebesar ibu jari Kuroko dan memiliki antena tentunya. Ekspresi keduanya langsung berubah, wajah keduanya pucat pasi. Binatang itu...

.

.

.

"KYAAAAAAAAAAAAAAAA KECOAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA".

.

.

Bagaimanakah nasib gadis-gadis unyu kita selanjutnya? Tunggulah di chapter selanjutnya...

To Be Continued


Haruki: Akhirnya ada juga ide untuk melanjutkan fict ini yang sudah terbengkalai sejak lama, fufufu *evil smirk*

Mimi: Haru kamu tidak apa-apa nak *panik*

Haruki: Lagi strees tingkat maksimal Mimi makanya Haru sanggup ngetik fict ini, kufufufu

Aomine: Makanya Author sarap ini bisa bikin fict nista nan gaje ini

Kise: Aominecchi kasian banget dari awal sampai akhir di nistain mulu ya

Haruki: Huahahahaha, maafkan daku ini Ao-chan *piece*

Midorima: Aku tidak dapat bagian ya *bawa sekotak apel Malang*

Haruki: Tenang aja Midorin, chapter depan kamu akan dapat bagian kok, tapi tunggu otak ku ini strees lagi ya *evil smirk*

All: dasar Author sarappppp

Mimi: Ya begitulah, hehehe

Akashi: ku tutup saja ya, daripada bicara yang tidak bermutu lagi..

Kuroko: Minna-san Mind to RnR Please