desclaimer: Semua karakter kuroko no basuke itu punya om Fujimaki Tadoshi kalau punya saya pasti udah saya homoin Akashi sama Furihata.
warning: Shounei ai, AU, OOC. Apalagi? Adegan berdarah, tembak-tembakkan, bakal ada karakter dengan codename. Kise!sadis, Oreshi. Akan ada sedikit adegan ranjang. Multipair. Bro!AkaKuro. Adegan membingungkan, ribet kali ya.
Satu tembakan berhasil menumbangkan satu orang tanpa berbelas kasih sekedar mendengar penjelasan yang baginya hanya membuang waktu dan menunda kematian saja. Satu orang tersisa berteriak tertahan kain melihat rekannya mendapat lubang di dahi tepat diantara kedua mata yang mendelik kosong.
Pistol berkaliber 3.5mm itu di kokang lagi, mengarahkan pada satunya. Tidak memperdulikan berisik kursi maupun geramannya, dia menarik pelatuk.
Seolah erangan sakit orang itu adalah simphoni paling indah di dunia sekali lagi tembakan di lepaskan ke arah lengan kanan setelah kaki kiri menjadi sasaran sebelumnya.
Lirikan onyx pada bawahan yang berdiri di samping belakang memberi tanda perintah, tidak perlu ucapan sudah mengerti apa yang diinginkan.
Kain penutup mulut dilepas dan teriakan memenuhi ruang pengap tersebut. "Saya mohon―akh! Maafkan saya!" Tidak kuat menahan berat kepala yang terasa pening akibat rasa sakit mendera seluruh tubuh yang menerima siksaan sejak dua hari lalu.
Tanpa ampun dia diberi penyiksaan, langsung oleh orang bertangan besi yang tak pernah main-main dalam memainkan belati untuk menciptakan siksa bak neraka. Suatu kesialan siapapun yang jatuh di tangannya.
"Signore―"
Kini sebuah tongkat bisbol melayang menghantam kepalanya sangat keras hingga rasanya meretakkan tengkoraknya. Teriakan kembali terdengar, lantas sang pelaku pemukulan bergeming sedikitpun. Dimainkan tongkat besi tersebut di tangan, bersiap memberi pukulan susulan saat pintu dibelakang terjeblak seseorang.
Seseorang bertopeng warna merah keoranyean masuk ke dalam, membawa lembaran kertas ditangan, langkahnya tak sedikitpun gentar meski melihat satu tubuh tergeletak tak bernyawa satu lagi tertunduk tak berdaya dan bau anyir memenuhi ruangan. Terus mendekati orang sedari tadi masih berkeinginan memberi siksaan.
"Ada apa, Il Capitano?" tanyanya kemudian tanpa menoleh sudah tahu jika ada orang berdiri dibelakangnya.
Il Capitano hanya mendengus melihat keadaan sekitar, sudah menjadi kebiasaan ketuanya kalau sedang marah. "Aku membawa apa yang kau minta," ujar Il Capitano mengangsurkan berkas-berkas pada lelaki bertopeng hitam itu.
Tongkat bisbol berbahan besi itu dilempar asal kemudian mengambil rokok di balik jas hitam yang dia kenakan, mendecih ketika sadar ada bercak darah membekas di tangan. Dia menerima berkas dari lelaki bercode name Il Capitano hanya dilihat sekilas. Tidak ada ekspresi berarti di wajah setengah tertutup topeng saat melirik korban penyiksaannya. Masih hidup ternyata.
"Lepaskan." ujarnya singkat pada bawahan yang masih ada disitu lalu melangkah meninggalkan ruang. Terdengar helaan nafas lega dari sang tawanan. "Oh ya," lantas terhenti di ambang pintu. Lelaki tersebut memutar tubuh menatap orang setengah sadar itu menyungging senyum penuh terima kasih dan lega. Namun semuanya hilang ketika sang lelaki bertopeng hitam merogoh belakang jasnya. Mengarahkan sepucuk senjata api ke arah orang itu dan melepaskan timah panasnya, menembus kepala tepat di antara dua mata. Sasaran faforite sang pria bertopeng hitam.
"Kukira kau benar-benar akan melepaskannya, Il Dottore."
"Masih ada sisa satu peluru, sayang kan kalau disia-siakan."
Il Capitano hanya menggeleng maklum, dia sudah hapal bagaimana watak ketuanya.
Tidak memiliki belas kasih.
.
Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujumaki
.
Commedia dell'Arte adalah sebuah drama jalanan berasal dari Italia yang tidak diketahui milik siapa dan Scapino, Brighella dll adalah nama-nama anggotanya. Saya hanya meminjamnya tanpa maksud mengambil keuntung apapun.
.
.
'Lungo Viaggio'
.
Manik abunya menatap gedung di depan yang sudah hampir hangus seluruhnya. Menurut rekan sesama penyidik jelas bukan kebakaran tidak di sengaja. Ada banyak mayat tak diketahui identitasnya keluar dalam keadaan sulit dikenali. Entah tadinya rumah ini bekas tempat pesta atau lainnya?
"Inspektur Mayuzumi, saya menemukan ini." Dia menoleh ke samping, seseorang tengah menyodorkan plastik berisi sesuatu sudah gosong padanya. Alis mengernyit bingung menerima kantong plastik tersebut tanpa banyak tanya, karena sudah jelas apa isi kantung ini. "Tersebar di dalam, sepertinya tempat ini semalam digunakan untuk ajang perang tembak."
"Mafia?"
"Kurang lebih. Apa mungkin ini kerjaan Commedia dell'Arte."
Bisa jadi, selama ini pihak yang selalu membuat uring-uringan kepolisian ada kelompok mafia satu itu. Tidak ada habisnya mencari masalah, dan entah keberuntungan dari mana mereka mudahnya bisa lolos. Hilangnya jejak menyulitkan polisi menyelidiki lebih dalam kelompok ini. Padahal sudah banyak barang mereka yang disita polisi. Tidak jera juga berurusan dengan Mayuzumi dan kawan.
"I-inspektur!" Mayuzumi memutar tubuh menghadap lelaki yang kini tengah menarik-lepas nafas alias ngos-ngosan di samping dia berdiri.
Manik abu Mayuzumi menyipit sinis melihat salah satu anak buahnya ini baru datang padahal mereka sudah bertugas satu jam lalu. "Ogiwara, kau niat kerja tidak sih?" ujarnya sinis.
Lantas yang dipanggil Ogiwara masih mengatur nafas menegakkan tubuh kemudian hormat sebentar tanpa menunggu dibalas Mayuzumi, "ma-maaf, Inspektur. Saya ketiduran di meja saya. Hehehe..." Ogiwara Shigehiro, detektife penanganan narkotika dan senjata ilegal ini hanya tertawa sambil menggaruk belakang kepala.
Mayuzumi memutuskan tidak menanggapi lagi, mengembalikan fokus pada kasusnya setelah berkata, "Ogiwara, masih ada nasi di dagumu."
Tanpa menebak pun Mayuzumi sudah tahu seperti apa wajah Ogiwara. Memang dasar ceroboh, heran, kenapa dia bisa menjadi detektif sih?
"Ugh menyebalkan." Keluhan singkat berhasil tertangkap di telinga Ogiwara untuk terakhir kali sebelum pergi masuk menemui rekannya di dalam.
Keadaan sama kacaunya dengan di luar, bau asap, arang dan busuk memaksa Ogiwara mengernyit jijik. Hampir saja sarapan pagi tadi keluar lagi jika pundaknya tidak ditepuk keras oleh seseorang.
"Woi!"
Ogiwara hampir saja terjungkal, refleks dia memutar tubuh. Ingin mengumpat seluruh kata kasar di dunia pada rekan satu divisinya ini. "Hayama-san!" teriaknya kemudian. Sedangkan Hayama Koutaro hanya tertawa tidak jelas. Seolah kejadian tadi sudah biasa dia lakukan dan Ogiwara juga tidak masalah. Namun itu masalah juga untuk Ogiwara, punggungnya sakit.
"Hei, Shige. Kan sudah kukatakan panggil saja 'Koutaro', memakai suffix san seperti sudah tua saja." keluh Hayama memanyunkan bibir.
Manik kecoklatan Ogiwara memutar bosan. "Kau memang sudah tua kan?"
"Tapi selisih umur kita hanya setahun, Shige! Ya, kan, Reo-nee?" Hayama beralih pada rekannya yang tengah memberi instruksi pada bawahan untuk mengidentifikasi gedung.
Lantas Mibuchi Reo, lelaki cantik bertubuh tinggi itu hanya melirik sekilas pada Hayama dan kembali bekerja. Hayama menggerutu, Ogiwara tertawa. Puas.
"Bagaimana? Ada yang ditemukan?" tanya Ogiwara melihat keadaan sekitar, benar-benar kacau.
Hayama menghela nafas, dia yang sudah disini sejak tadi dan ikut berkeliling saja tidak menemukan petunjuk. Hanya bangkai manusia gosong, berbagai jenis senjata api tergeletak, kekacauan dan hangus dimana-mana. Spekulasi sementaranya adalah, semalam terjadi peperangan antar mafia. Begitu, tapi dia sendiri tidak yakin.
"Selain apa yang kau lihat sekarang, tidak ada yang lebih. Tapi kata Inspektur ini kerjaan para Commedia dell'Arte."
Alis Ogiwara tertaut mendengar nama sebuah kelompok sensasional seantero kepolisian yang sudah tiga bulan ini sepi kasus, tapi sekarang dengar-dengar mulai berulah lagi. "Kenapa menyimpulkan kalau itu mereka?"
"Siapa lagi? Mafia kelas atas yang bisa melakukan ini semua hanya mereka."
Anggukan menjadi sahutan Ogiwara yang tidak tahu harus menanggapi bagaimana lagi. Jadi tersangka kasus ini adalah Commedia, tapi tidak ada bukti akurat yang memberatkan mereka.
Helai coklat karamel di garuknya gusar, bingung. Semuanya serba buntu. Ah kalau kepolisian begini terus, bagaimana bisa mereka berkembang?
"Ledakannya besar, menggunakan bom rakitan beradius 10 meter. Oh bukan, bom waktu mungkin. Pelakunya pasti lebih dari dua dilihat dari keadaan gedung dan mayat. Tapi mayatnya kebanyakan mati karena ledakan ya? Sebagian ditemukan memilki luka tembakan. Dari identifikasi memang ada perang antar mafia, tapi jelas bukan mafia kelas abal-abal jika dilihat hasil kelakuannya. Jadi―" Ogiwara Shigehiro dan Hayama Koutaro melongo menatap sosok pria bertubuh tegap berkacamata disamping yang baru saja mebeberkan hasil penyelidikan pada kasus ini. Lengkap, tapi masih spekulasi. Yang entah kenapa lebih Ogiwara yakini.
"Hyuuga-san," gumam Ogiwara menyebut nama si pria masih menatap balik dia.
"Hallo, Ogiwara. Telat ya?" tanya Hyuuga Junpei menyeringai melihat bawahannya terdiam, tebakannya benar pasti.
"Bagaimana bisa, Hyuuga-san?" masih menganga tak percaya matanya melihat Hyuuga dari atas sampai bawah, seolah sedang melihat lelaki banci di tengah jalan. Tentu yang di lihat intens risih dan layangan jitak mengenai kepala Ogiwara.
Hyuuga menggerutu, "aku ini kerjaannya bukan tidur terus sepertimu."
"Tapi aku menganalisa kasus, sampai malam. Wajar kan kalau lelah?" sela sang detektif tak mau kalah.
"Aku juga lho, Hyuuga, semalaman tidak tidur menganalisa kasus. Hahaha..." Hayama menimpali.
"Kau berada di divisi yang berbeda, Hayama. Tidak mungkin, menganalisa apaan?"
"Menganalisa banyak hal, seperti, foundation apa yang digunakan Reo-nee, berapa kali Eikichi bersendawa, berapa banyak light novel yang dibaca Inspektur Mayuzumi sehari―"
"Ya lah, terserah." Mata dibalik lensa cembung tak berbingkai itu berputar bosan, malas berdebat pada lelaki absurd macam Hayama. Apalagi Ogiwara yang sangat keras kepala, tidak akan menyerah memperjuangkan pendapatnya. Pantas saja kan jika seorang Ogiwara Shigehiro bisa menjadi bawahannya sekarang di divisi sama; divisi penanganan bahan narkotika dan senjata ilegal. Bersama kedua rekannya yang lainnya.
"Hyuuga-san, sudah menyisiri TKP?" tanya Ogiwara kemudian, matanya terpaku pada gedung setengah rubuh dihadapannya.
"Sudah, dan hanya itu yang bisa kutemukan."
"Kesimpulannya?"
Terdiam sesaat, sang detektife berumur 26 tahunan itu tampak berpikir. "Pelakunya? Tidak tahu." Kemudia dia beranjak dari sebelah Ogiwara dan memutuskan bergabung dengan rekan lainnya, meninggalkan Ogiwara dan Hayama masih faceplam di tempat.
.
.
.
.
.
Lelaki bertopeng hitam itu melempar kertas-kertas dari sang tangan kanan ke atas meja, menyebabkan lembaran tersebut menyebar hingga ada yang terjatuh ke lantai. Dia mendengus kemudian melempar punggung ke sandaran kursi.
"Apa-apaan ini, Il Capitano?" tanya Il Dottore dengan nada rendahnya.
Il Capitano tidak langsung menanggapi, dia hanya meraih kertas-kertas bertebaran di atas meja sang ketua dan melihatnya sebentar. "Ini palsu, Il Dottore."
"Kau tahu kalau ini palsu, kenapa diberikan padaku? Dan aku juga sudah memerintahkanmu apapun yang terjadi, dapatkan data yang asli."
Dibalik topeng merah keoranyean wajah wakil Commedia dell'Arte tersungging senyum di wajah, mata beralih menatap pemimpinnya tanpa gentar meski mendapat tatapan tajam.
"Maaf, Il Dottore," Il Capitano membungkuk singkat, "apa daya, ada pihak lain ikut campur dalam misi kemarin. Anda tahu sendiri jika yang kita turunkan adalah Scapino, notabene masih baru di kelompok ini. Bukan Sandrone. Anda sendiri yang meminta. Salah siapa?"
"Jadi kau menyalahkanku?" ada nada sengit terselip di perkataan pria bertopeng hitam itu.
"Bukan menyalahkan keputusan Anda, tapi menyalahkan persepsi Anda terhadap misi ini. Anda kira ini misi mudah? Jangan lupa ada kelompok lain yang juga mengincar kita."
Hening yang menusuk merayap di ruangan luas tersebut setelah Il Capitano bersuara dan masih menyungging senyum khas.
Keheningan pecah ketika Il Dottore tertawa cukup keras, menggema di dalam ruang kedap suaranya. "Hahaha... Oh, ya. Aku lupa kalau sampai mati orang itu tidak akan ada habisnya mengganggu kita."
Helaan nafas panjang keluar dari mulut sang pemimpin, dia memutar kursi dan memainkannya sebentar. Sembari berpikir bagaimana caranya menghabisi orang-orang sialan yang berani bermain api dengan kelompoknya.
Commedia dell'Arte, adalah kelompok mafia besar, siapa yang tidak kenal kelompok ini? Sampai seluruh kepolisian Jepang pun tahu mereka, dan terlalu terkenalnya sampai banyak yang mengincar.
Tapi apapun yang tengah mengawang di atas pasti ada saja penggangu ingin menjatuhkannya. Sama seperti mereka. Seolah tidak pernah sadar tempat asal saja.
"Habisi mereka, jangan sampai gagal lagi." ujar Il Dottore, memberi perintah mutlak. Nadanya menuntut dan terkesan dingin di tiap kata yang terucap.
Il Capitano tida bisa berkata apapun lagi, ketuanya sudah memerintah dan sudah menjadi kewajibannya untuk melaksanakan. Tubuh berlapis kemeja mahal itu menunduk lagi, senyuman terukir di wajah tampan di balik topeng. "Apapun untukmu, Il Dottore."
Il Dottore membalas dengan senyuman.
Selesai dengan urusannya, Il Capitano keluar dari ruangan tersebut. Sama sekali tidak sadar jika senyum itu sudah berubah menjadi seringai buas.
"Kita lihat saja nanti, berapa banyak harga yang harus kalian bayar."
.
Perasaannya saja atau ruangan ini benar-benar berubah sepi? Hilangnya tiga si biang onar macam Aomine, Kagami dan Takao merubah suasana menjadi mencekam mendadak. Kise jadi tidak nyaman. Dia biasa berisik, mengajak orang mengobrol ini-itu. Tapi kalau yang diajak ngobrol itu Midorima, sepertinya kesalahan besar. Yang ada Kise akan mendapat khotbah ramalan oha-asa mendadak. Kalau Akashi? Kise tidak berani, auranya mengerikan. Padahal Kuroko bilang sendiri kalau Akashi bukannya lelaki mengerikan. Hanya pawakannya saja. Ah bohong. Siapa pula yang tidak akan menilai demikian ketika mendapat lirikan ganas dari lelaki berambut merah itu. Murasakibara? Tolong jangan ganggu laki-laki itu, Kise sudah mempelajarinya dua bulan ini. Karena ketika Murasakibara sedang makan, tidak boleh ada sedikitpun gangguan atau nanti ruangan ini akan berubah porak poranda.
Kuroko sendiri kata Akashi sedang kuliah, tidak menyangka ternyata selisih umur mereka itu tiga tahun lebih tua Kise.
Helaan nafas keras memecah keheningan, menarik perhatian ketiga lelaki lain di dalam. Dia bosan. Sangat bosan.
"Scapino, kalau kau bosan, latihan menembak saja. Atau kau ingin berlatih denganku?"
Bulu kuduk Kise meremang begitu mendengar Akashi berujar, bagaimana bisa dia tahu apa yang Kise pikirkan?
"A-ano... Tapi ssu―"
"Ayo, tanding menembak. Siapa yang kalah, dia harus mentraktir ketiga orang pemenang di restoran." kata Akashi, tersenyum manis. Tanpa diduga.
Sebuah tangan terangkat menginterpusi, berasal dari si lelaki raksasa. "Aku tidak ikut~ Malas."
Sesuai perkiraan, seperti biasa Murasakibara paling tidak mau jika harus berkegiatan banyak gerak. Walaupun menembak hanya butuh tangan terangkat, berdiri dan membidik. Tapi dasarnya pemalas tetap saja.
Kise terkekeh pelan, "Hahaha... Jadi hanya kita bertiga saja ssu?"
"Bagaimana, Brighella? Kau sniper 'kan? Pasti menang."
"Tsk! Sandrone, kau ini penembak jitu disini. Jangan merendahkan diri." sahut Midorima, membetulkan kacamata yang sedikitpun tidak melorot. Lantas dia berdiri, mengambil senjata laras pendek jenis Glock dari laci disamping dia duduk.
Akashi Seijuurou mengikuti, diambilnya sebuah handgun dari balik kemeja. Sedangkan Kise, masih melongo di tempat. Mereka akan menggunakan senjata sendiri? Kise kira akan menggunakan senjata latihan.
"Ayo, Scapino. Kau mau menyerah?"
"I-iya, sebentar ssu!" Kise menyusul sambil membawa sebuah shotgun di tangan sebagai senjata.
Tidak disangka ternyata Akashi bisa menjadi pencair suasana juga dengan ide-idenya. Tidak kaget juga seharusnya sih, kata Scaramuccia―Takao Kazunari, Akashi itu anggota paling disayang ketua mereka.
Mereka sudah di posisi masing-masing, berderet di bilik menembak. Akashi mengenakan goggle pelindung dari serpihan lontaran pistol. Sedangkan kedua rekannya memilih hanya memegang senjata. Murasakibara duduk di salah satu bangku panjang di belakang mereka, melihat ketiga temannya saling adu tembak dengan sebuah papan berbentuk manusia di seberang sana.
"Bidik sasaran kalian disana, kuberi waktu tiga puluh detik. Apakah peluru kalian sudah terisi penuh? Kuharap sudah, karena tidak ada sesi isi ulang." Akashi berhenti memberi instruksi hanya untuk tertawa pelan menatap ekspresi Kise. "Hei, Scapino, baru pernah menembak ya?" godanya.
Sontak tubuh Kise menegang, Akashi memperhatikannya. "Bu-bukan begitu, Sandrone. Aku hanya belum pernah berlatih menembak dengan teman ssu. Jadi ini pertama kalinya, maaf saja kalau aku jadi aneh."
Gelengan pelan menyahuti, Akashi hanya tersenyum sekilas, "santai saja." Hanya itu tanggapannya, tapi bagi Kise itu adalah kalimat penyemangat.
Ah padahal latihan tembak biasa. Tapi Kise sudah segirang ini.
"Baiklah, Pulcinella. Tolong ya." Menoleh sebentar pada Murasakibara dan mendapat anggukan malas darinya.
Mereka bersiap, menunggu aba-aba Murasakibara di belakang.
Pistol tergenggam erat di kedua tangan. Tiga pasang mata beda warna membidik dengan tajam sasaran. Garis-garis putih menjadi aksen begitu kentara pada bidang hitam, memberikan fokus bidikan jelas.
Begitu tenang nafas mereka, terkendali tanpa kegugupan jelas.
Jari mulai menegang menarik pelatuk di detik-detik Murasakibara menghitung mundur. Satu hembusan nafas keluar, saat Murasakibara berteriak; "TIGA!"
Letusan-letusan senjata api bersaut-saut berasal dari ketiganya. Mereka terlihat konsentrasi pada sasaran berjarak lima meter dari mereka berdiri. Kaca bilik sebagai pemisah bergetar akibat lontaran peluru bertubi-tubi.
Midorima menembak menggunakan ciri khasnya, sebelah mata terpejam dan lebih memfokuskan mata kanan yang meski minus besar masih bisa menembak dengan jitu tepat di dahi dan jantung bidang kayu berbentuk manusia itu.
Sedangkan Akashi, terus-terusan menuju satu sasaran. Yaitu bagian kedua dahi, tepat di tengah kedua mata. Letak otak besar. Bisa dibayangkan jika sasarannya benar-benar manusia, sudah sebanyak apa darah terciprat.
Dan Kise menangkap jelas aura dari sampingnya, berasal dari Akashi. Sebuah aura ganas tidak kenal ampun yang terlalu mengerikan. Kise bisa merasakan sisi lain Akashi Seijuurou.
Tiga puluh detik berlalu. Murasakibara berteriak jika waktu habis dan ditanggapi dengan berhentinya mereka menembak.
Helaan nafas keluar dari bibir Kise, dia sudah menahan nafas hanya untuk memfokuskan sasaran. Tidak ada niatan baginya untuk meniru gaya menembak orang seperti biasa dia lakukan. Dan sudah dipastikan berapa poin yang dia dapat nanti.
"Scapino, kemana sasaranmu? Kenapa acak begini?" tanya Midorima setelah menarik sebuah tuas di ujung ruang untuk mendekatkan bidang sasaran.
Kekehan keluar dari mulut Kise, benar 'kan? "Hehehe... Aku asal tembak. Juga kurang konsentrasi ssu." Belakang kepalanya digaruk alih-alih tak gatal sama sekali.
Lantas Midorima mendengus, perhatiannya beralih pada objek sasaran. Dilihat hasilnya, "kau menang, Sandrone." ujarnya.
Akashi menyeringai, mendapati ketiga puluh pelurunya tepat mengenai dahi yang bernilai seratus poin. Sedangkan Midorima yang lebih ahli menembak kepala dan jantung memang tidak berbeda jauh hasilnya dengan milik Akashi.
Kise Ryouta? Bagi Akashi lumayan untuk ukuran anggota baru di Commedia dell'Arte meski sudah berkeliling dunia membunuh banyak orang, tapi hasilnya juga tidak jauh dari mereka berdua. Walaupun masih dibawah Midorima.
"Jadi jelas siapa yang akan mentraktir kita?" Suara lain menginterupsi otomatis menarik perhatian keempat pemuda di dalam.
Il Capitano dengan topeng merah-oranye khasnya tersenyum di balik benda keramik tersebut, langsung mendapat sambutan berupa bungkukkan tubuh singkat dari anggota lain. Kecuali Akashi, hanya tersenyum sebagai balasan. Tanpa segan sedikitpun meski Il Capitano memegang jabatan wakil di Commedia.
"Ada apa, Il Capitano?" tanya Akashi meletakkan shotgunnya di atas meja di dekat dia berdiri. Melangkah mendekati wakil ketua mereka yang datang kemari bukan sekedar memberi sapa. "Misi lagi? Apa kali ini?"
Kedua lengan berlapis jas hitam terlipat di depan dada menyamankan posisi dengan bersandar di bingkai pintu, menatap satu-satu anggota tersisa disitu. "Kita bahas di ruanganku saja, bagaimana, Sandrone?"
Tawaran Il Capitano hanya di sahuti dengan anggukan singkat saja dan setelah kepergian kedua orang itu, ruangan berubah sepi lagi.
"Sekarang kita mau apa ssu?" Kise memecah kesunyian akhirnya.
"Mereka pasti akan membahas misi sampai malam nanti. Aku akan pulang dulu." ujar pemuda berambut hijau berlalu sambil membawa teko minuman―lucky item cancer katanya.
Kepergian satu orang lagi, Kise beralih pada sisanya. Murasakibara balas menatap. "Tidak keluar, Pulcinella?"
"Ayo cari makan."
.
.
.
.
.
Dahi berkerut bermacam kertas laporan dari divisi lain berserak di meja kerja, jas abunya sudah ditanggalkan dan kopi pun dia abaikan. Ogiwara sudah serius pada pekerjaan pasti lupa segalanya, termasuk lupa makan.
Kadang Reiji Mochida khawatir pada kesehatan rekannya. Makan saja hanya melahap satu lembar roti tawar dan segelas minuman sereal. Itu bisa sampai malam. Makan siang terlewatkan. Ogiwara jadi terlihat seperti mayat hidup apalagi didukung dengan lingkar hitam mengerikan di bawah matanya. Mandi juga pasti jarang. Lengkap sudah. Pantas sampai sekarang dia masih jomblo ya.
"Ada apa, Mochida?" tanya Ogiwara kemudian, merasa risih diperhatikan terus oleh Reiji.
Detektife tersebut menghela nafas panjang, punggung disandarkan. "Tidak, aku hanya heran padamu saja."
"Apanya? Aku baik-baik saja."
Lihat, Ogiwara Shigehiro, seorang detektif yang terkenal dengan kepiawaiannya dalam bertindak ternyata bodoh. Sudah begitu kadang ceroboh, dan ditambah menjijikannya dia. Jarang mandi, malas mengurus diri. Contoh manusia tidak menghargai hidup.
"Percuma kalau kau terkenal dalam memecahkan kasus, tapi tubuh sendiri di abaikan."
"Aku menghargai hidupku," bibir Ogiwara mengerucut, suaranya mengeras ketika protes tidak terima. Dia merasa hidupnya tidak ada masalah. Kenapa orang lain yang repot?
Tapi bagi Reiji, dia merasa repot. Bagaimana tidak, dia ini kan teman satu divisi si bocah ini. Maaf saja, mengabaikan sesuatu bukanlah tipikalnya.
"Ya, dengan jarang mandi, tidak makan. Lalu apalagi?"
Iris choco caramel itu memincing, sejenak melupakan berbagai berkas di genggamannya. "Aku mandi, makan juga. Buktinya aku masih hidup." Ogiwara masih mengelak. Lantas menciptakan decak geram sang pemuda berambut hitam.
"Hidup? Ya seperti zombie, tahu."
"Mochida, kita sedang dilanda berbagai macam kasus. Bagaimana aku bisa sesantai dirimu?"
"Aku tidak santai kok, kau saja yang memforsir."
Ogiwara ingin sekali menggebrak meja sebagai pelampiasannya sekarang juga jika saja seseorang tidak masuk mengusik perdebatan tidak penting mereka.
Susa Yoshinori masuk tanpa mengetuk atau memberi salam pada isi ruangan hanya melangkah santai menuju dispenser di pojok ruang. Mengabaikan tatapan bingung kedua pasang mata di dalam.
Baru sadar ketika air dalam gelas sedang dia teguk. "Oh, hai. Maaf, air di divisi kejahatan kriminalitas habis." dia berujar santai kemudian mendekati Ogiwara, dahinya mengernyit melihat ekspresi Ogiwara. "Sedang marah ya?" Tebaknya, tepat sasaran.
"Tahu darimana, Susa-san?" tanya Ogiwara merilekskan kembali dirinya setelah beberapa menit terakhir tadi sibuk bersitegang dengan Reiji.
"Mukamu menakutkan."
"He, apaan itu?!"
"Yah intinya, kalian ini satu divisi. Jangan bertengkar. Dan kau Ogiwara, mandi dan makan yang benar. Kau sudah seperti zombie, kau tahu?"
Setelah mengatakan kalimat yang sukses menohok perasaan Ogiwara dan menarik seringai kemenangan Reiji, Susa keluar.
"Apa kubilang. Dasar detektif zombie."
Akibat paksaan Reiji Mochida yang menariknya keluar dari kantor polisi, akhirnya disinilah Ogiwara sekarang. Duduk di salah satu restoran cepat saji. Dengan segunung cheeseburger, sekantong frenchfries ukurang besar dan dua gelas soda yang mana milik Ogiwara sudah habis setengah.
"Lupakan sejenak pekerjaan, Shige. Kalau kau jatuh sakit yang ada kasus akan terhambat, dan kau akan mendapat damprat Inspektur Mayuzumi. Habislah kita." Reiji berujar satu gigitan besar dia kunyah.
Ogiwara mendesah lelah, memang akhir-akhir ini dia bahkan jarang tidur nyenyak. Bayang-bayang anggota Commedia dell'Arte menghantui tiap malamnya.
Padahal beberapa bulan terakhir dia agak santai karena vakumnya Commedia dari dunia kriminalitas. Tapi sekarang mereka seolah sedang menunjukkan kembalinya mereka di dunia.
"Oh ya, kau tahu kalau ada satu organisasi mafia yang harus kita waspadai sama halnya dengan Commedia dell'Arte?"
Alis Ogiwara mengerut bingung, dia baru tahu soal ini. "Apa itu?"
"Jabberwock. Gangster dari Amerika, kelompok yang sering membuat kepolisian Washington DC uring-uringan. Sekarang mereka disini, seperti menantang Commedia."
"Italia versus Amerika ya?" Ogiwara bergumam sambil mengaduk kentang goreng ke saus. "Kasusnya apa? Spesifik. Sama seperti Commedia?"
"Mirip, tapi jabberwock lebih terkesan bar-bar dibanding Commedia dell'Arte. Mereka itu lebih ke geng kejahatan dibanding mafia sebenarnya."
Ogiwara tidak heran juga sebenarnya, di kelompok itu ada Sandrone. Salah satu anggota Commedia yang terkenal akan kecerdasannya dan sukses membuat seluruh kepolisian Jepang geram akan aksi mereka dibawah perintah Sandrone. Lebih teratur, rapi dan susah di tebak.
Setelah Commedia dell'Arte yang kasusnya belum selesai, sekarang ditambah jabberwock. Lalu nanti ada apa lagi? Dunia memang susah untuk merasakan kedamaian.
Lelah terusan memikirkan kasus yang tidak ada hentinya, Ogiwara menyambar gelas cola dan diseruput dalam-dalam hingga tandas. Tidak puas dengan satu botol saja dia mendengus, lantas bangkit dari kursi menuju counter pemesanan bermaksud meminta satu atau dua gelas ice coffe. Dia bosan minum soda terus.
Baru saja Ogiwara akan mengambil posisi mengantri, seseorang menabrak yang untung tidak sampai menajtuhkan masing-masing.
Seorang pemuda berambut biru muda menunduk sembari mengucapkan kata maaf pada Ogiwara. Bukannya menjawab alih-alih mata coklat karamel itu terpaku pada sosok si penabrak. Dia memang tidak bisa melihat wajahnya tapi Ogiwara kenal akan fisik dan auranya.
"Wooo! Kurokoo!" jeritnya memeluk si penabrak tadi erat-erat lantas dia mendongkak melihat siapa orang beraninya memeluk dia sembarang dan darimana tahu namanya?
"Hisashiburi!" Teriakan Ogiwara langsung menarik perhatian seluruh pengunjung, sadar dilihat berbagai pasang mata Ogiwara membungkam mulutnya erat-erat dan membungkuk meminta maaf.
"Kau tetap saja ya, Ogiwara-kun." ujar pemuda berambut babyblue tersebut.
"Hehehehe..." Ogiwara menggaruk belakang kepala yang sama sekali tidak terasa gatal. "Sedang apa kau disini? Kebetulan sekali!"
Kuroko Tetsuya tersenyum tipis, "kampusku didekat sini."
"Ehh?! Kau masih kuliah?"
"Ambil strata dua, jurusan bahasa."
"Kereenn! Ayo lanjutkan di mejaku." kata Ogiwara masih kegirangan bertemu sahabat lamanya, sudah beberapa bulan ini mereka tidak bertemu karena kesibukkan masing-masing akhirnya bisa bertemu lagi.
"Oh ya, kenalkan, ini rekanku di kepolisian. Reiji Mochida." Setelah menyilahkan Kuroko duduk di salah satu kursi, dia memperkenalkan Reiji padanya. "Mochida, ini Kuroko, sahabatku sejak kecil. Hehehe..."
"Hai, Kuroko-kun, salam kenal." Lengan Reiji terulur dan disambut Kuroko dengan senyuman.
"Salam kenal, Reiji-san."
"Kuroko, sekarang kau tinggal dimana?" masih dengan antusias dan tidak sabaran, Ogiwara langsung bertanya setelah sesi perkenalan mereka. Reiji hanya bisa menghela nafas melihat tingkah rekannya yang terlampu unik ini―Inspektur Mayuzumi pun mengakui.
"Tidak jauh dari sini kok. Aku menyewa apartemen, kau bisa berkunjung kalau mau."
"Yaaa..." belakang kepala di garuk kikuk, desahana nafas lelah keluar dari mulutnya. "Kalau aku ada waktu ya, akhir-akhir ini aku sibuk. Mafia-mafia sialan itu berulah lagi."
Sepasang alis biru itu mengernyit, "mafia? Siapa?"
"Commedia dell'Arte. Maka dari itu, kau harus hati-hati." ujar Ogiwara mewanti-wanti, begini-begini dia sangat peduli pada teman, meski kehidupannya sendiri kadang diabaikan. "Setelah kami gagal menangkap mereka saat transaksi narkoba di pelabuhan Minato satu minggu lalu, tadi pagi ada kebakaran di sebuah rumah besar di distrik chiba, katanya itu ulah mereka. Duh tidak ada habisnya." Kedua lelaki itu tertawa pelan melihat Ogiwara terus meracau setelah menjatuhkan kepala ke meja.
"Oh ya, aku membaca artikel mereka di koran."
Kepala berambut coklat karamel itu terangkat kembali hanya untuk menyambar botol cola dan meyeruputnya banyak-banyak. "Sekarang di tambah jabberwock. Baru-baru ini kasus mereka bertambah."
"Jabberwock?"
"Ya, mereka gangster dari Amerika." Kini Reiji yang menyambung.
Kuroko terlihat makin penasaran dengan masalah kedua polisi ini, "bagaimana mereka bertindak?"
Namun tidak mendapat tanggapan positif dari Reiji yang mengernyit tak wajar pada pemuda berambut biru muda. "Kenapa? kau penasaran sekali?"
Ah ya, Kuroko lupa. Mungkin ini adalah batasannya. Polisi kan juga punya rahasia.
"Kenapa tidak ceritakan saja, Mochida? Kuroko kan juga harus tahu. Agara dia bisa waspada. Tidak apa kan?" Masih menyumpal mulut dengan kentang goreng. Lantas Mochida hanya mengangkat bahu acuh, memang ada benarnya omongan Ogiwara. Tapi kan ini informasi rahasia juga. Namun tahu betapa keras kepalanya Ogiwara yang bisa Mochida lakukan hanya berharap Ogiwara tidak kelepasan.
"Mereka lebih bar-bar dari Commedia dell'Arte. Membunuh tanpa pandang bulu. Penjualan ilegal banyak hal, seperti narkoba, senjata hingga manusia. Kudengar mereka sempat ada konflik dengan Commedia, tapi aku tidak tahu sekarang. Jabberwock kan baru disini. Mereka biasa beraksi di Amerika, Meksiko, Argentina, bahkan Rusia. Dan mereka melakukan perjanjian dengan mafia serta gangster disana. Info yang kudapat untuk menghancurkan Commedia. Entahlah."
"Menghancurkan Commedia?"
"Oh ya, kami juga sedang melakukan pengintaian pada salah satu anggota jabberwock, mereka akan melakukan transaksi senjata ilegal mung―"
"Shige, cukup. Kita harus kembali ke kantor." penjelasan Ogiwara terpotong oleh peringatan Reiji yang tengah menatapnya tajam hingga lelaki itu sesaat ngeri dengan rekannya satu ini. "Maaf Kuroko-kun, jam siang kami habis." kemudian menyambar salah satu tangan Ogiwara dan menariknya, tanpa sempat membiarkannya protes. Hanya salam perpisahan yang terucap dan lambaian dari Ogiwara diterima Kuroko sebelum dua sosok polisi tersebut menghilang.
Tanpa mereka sadari, senyum puas tersungginng di wajah si pemuda.
.
.
.
.
.
Aomine menguap lebar untuk ke sekian. Omong-omong sudah keberapa kali? Sungguh dia bosan hanya menanti perintah lanjutan dari 'ketua' mereka. Ya ketua, Sandrone, siapa lagi?
"Aku lapar." sederet kalimat singkat terdengar dari samping, rekan sejawat yang selalu ada di setiap misinya yang tengah memasang magazine shotgunnya.
Maklum, pemuda asal Los Angles ini sudah ditakdirkan tidak bisa lepas barang satu jam dari makanan. Alasannya sih karena dia terlalu banyak gerak dan butuh lemak lebih untuk banyak kegiatan. Tapi Aomine tahu lebih dari siapapun, Kagami Taiga itu terlalu banyak alasan hanya untuk satu box besar berisi hamburger.
Heran, kenapa dia tidak gemuk atau mungkin obesitas karena terlalu banyak makan junkfood.
"Sabar, Sandrone sedang kemari nanodayo." kata Midorima tengah mencoba teleskop snipernya.
"Tau darimana, Shin-chan?"
Tiga detik kemudian pintu ruangan tersebut terbuka oleh seorang lelaki bertopeng merah lalu melepaskannya setelah menutup kembali pintu. "Kita ada misi, siapkan semuanya. Ke pelabuhan jam sepuluh malam."
"Hah? Kenapa mendadak ssu?" Kini Kise yang sedari tadi diam memperhatikan para temannya berdebat mulai bersuara, tak kalah keras dari perdebatan tadi. "Bukannya kita biasa melakukan persiapan dulu?"
"Misi selalu datang tiba-tiba, Scapino. Biasakan dirimu." ucapan Akashi Seijuurou berhasil membungkam Kise.
"Lawan kita kali ini adalah sebuah gangster dari Amerika, mereka akan melakukan transaksi senjata di pelabuhan. Tugas kalian adalah, menyusup dan hancurkan."
"Kenapa kita harus mengurusi mereka?" Takao bertanya sambil mengangkat sebelah tangan.
"Karena mereka adalah musuh Commedia dell'Arte yang harus dimusnahkan." Kata Akashi diiringi lirikan pada pemuda bermata elang di pojok ruangan tengah bermain bilyar bersama Kise. Memutuskan untuk melanjutkan lagi penjelasan yang sempat tertunda. "Menurut informasi dari Pantalone jika polisi juga akan ikut campur dalam misi ini. Maka dari itu, berhati-hatilah terhadap mereka. Kalau bisa, bunuh juga."
"Wohooo! Tumben. Biasanya kita cari aman." ujar Aomine memberi pendapat.
"Ya, kalau kita memang dalam keadaan aman. Kalian tidak mau kan kalau salah satu dari kita tertangkap? Tapi jika benar itu terjadi, jangan pernah segan."
Inilah sisi paling mengerikan seorang Akashi Seijuurou, Sandrone, pembunuh bayaran berdarah dingin kepercayaan Il Capitano. Tidak akan pernah memberi ampun sedeikit pun pada kesalahan. Meski itu menyangkut teman sendiri.
Masih terekam jelas diingatan mereka, kecuali Kise, ketika Sandrone dengan wajah datarnya menembak mati Mezzetino ditempat tepat di tengah kedua mata. Membuat pemuda berambut putih keabuan itu mati seketika di depan seluruh rekannya. Haizaki Shougo. Telh melakukan kesalahan fatal mengakibatkan dia hampir tertangkap dan menghancurkan organisasi, hanya karena perasaan iri dan dendam pada Pantalone.
"Kalian siap?" Namun senyum itulah yang membuat mereka percaya pada Akashi, bukan atas hormat karena dia paling hebat disini tapi perasaan kekeluargaan yang meyakinkan mereka.
"Apapun, kami laksanakan." serempak diucapkan penuh hormat.
.
.
.
.
.
Kuroko mengernyit pada sosok bertopeng oranye disampingnya, lagi-lagi dia dipasangkan dengannya. Biasanya juga dia dipasangkan dengan Kagami atau Aomine, kenapa sekarang jadi sering bersama Kise? Bukan karena Kuroko tidak menyukai Kise, hanya saja dia kan belum mengenal Kise, jadi kurang nyaman. Tapi ini perintah Akashi, tidak ada penawaran lagi. Meski dia adiknya sekalipun.
"Ada apa, Pantalone?" tanya Kise tiba-tiba menyentakkan Kuroko.
Alih-alih menjawab Kuroko hanya diam dan kembali mempersiapkan diri dengan memasang topengnya.
"Tidak nyaman denganku, ya? Hehehe... Tenang saja ssu, aku akan melindungimu."
"Bukan begitu, Scapino. Kau tidak mengerti." lalu pergi meninggalkan Kise dalam kebingungan.
Memang tidak mengerti, sampai Kuroko mau bicara ada apa sebenarnya. Kalau tidak mau bicara Kise mana tahu salahnya 'kan? Ya sudahlah.
Sesuai perintah, Kise berjaga di jarak 400 meter dari tempat transaksi yang dikatakan Sandrone bersama Pantalone. Dua machine gun terselip di balik kemeja dan satu shotgun di gengaman dalam mode siaga. Kuroko Tetsuya disampingnya, berkomunikasi dengan para rekannya yang berjarak jauh.
Brighella atau Midorima Shintaro siap membidik diatas gedung tinggi pelabuhan, tempat pas bagi tipe sniper seperti dia dengan Scaramuccia yang berjaga di dekatnya untuk melindungi si pemuda berambut hijau.
Burattino, Arlecchino dan Sandrone bertugas sebagai salah satu kelompok yang ikut bertransaksi. Profesi sambilan Akashi Seijuurou sebagai penjual senjata selain anggota Commedia lah alasan dia bisa dengan mudah masuk dalam transaksi gelap tersebut.
Lantas Pulcinella bersiap pada posisi, untuk memberi pertunjukan megah khas Commedia dell'Arte.
Tak lama kemudian beberapa mobil hitam berkumpul disatu tempat, dilihat dari teropong Kuroko memperkirakan ada dua puluh satu―tidak termasuk ketiga rekannya―keluar dari masing-masing mobil. Memakai jas hitam dan kacamata hitam.
Akashi juga terlihat, meski bukan berambut merah mencolok miliknya tapi Kuroko tahu. Ikatan saudara mungkin.
"Mereka sudah bergerak." ujar Kuroko memberi tanda pada teman-temannya melalui earphone. Banyak jawaban terdengar, dalam hati Kuroko berdoa semoga misi kali ini berjalan mulus. Seperti biasa.
DHUAARR!
Sudah dimulai.
Pembukaan yang bagus Murasakibara.
Kuroko melompat untuk menghampiri ledakan, memastikan semuanya berjalan dengan baik namun terhenti ketika lengannya ditarik bersamaan dengan sebuah peluru hampir menggores dahi.
"Jangan bergerak! Kalian ditahan!" teriak seseorang dari samping kuroko, dia menoleh dan mendapati dua polisi tengah mengacungkan pistol padanya. Lalu ke belakang pada orang yang tadi menyelamatkannya.
"Scapino."
"Hampir saja ya," Scapino―Kise―membalas dengan senyuman lebar khasnya, kemudian ikut mengacungkan senjata pada kedua polisi tersebut. Atau harus dipanggil detektife Ogiwara Shigehiro dan rekannya, Reiji Mochida. "Tidak semudah itu, tuan. Kita sama-sama memegang pistol." ujarnya menantang lalu tertawa meremehkan.
"Dengan jarak sedekat ini, aku yakin bisa membuka kedok kalian―Pulcinella dan... omong-omong, siapa kau?"
Yang ditanya sempat sweatdrop, "Nah makanya jangan asal sebut! Aku anggota baru di Commedia dell'Arte. Panggil saja Scapino, karena sepertinya nama asli tidak penting untuk kalian. Salam kenal. Semoga kau bisa menangkapku." kata Scapino memperkenalkan diri santai saja seolah mereka sedang ada di acara reuni.
Mendadak kepala Kuroko dibuat pusing oleh tingkah Kise Ryouta.
'Dari dua puluh satu, aku berhasil membunuh setengahnya. Bagaimana disana, nodayo?' suara Brighella terdengar lewat earphone.
'Lumayan lah, kami sudah membunuh beberapa. Ditambah juga para polisi. Hati-hati yang disana, jangan sampai tertangkap.' Kini suara berat Arlecchino, diselingi suara desing senjata menambahi.
Namun sayangnya sang Pantalone dan Scapino harus berhadapan langsung dengan dua polisi. Yang jujur saja, adalah polisi yang sangat tidak ingin Kuroko hadapi. Sungguh, kenapa harus Ogiwara Shigehiro.
'Pantalone, aku tahu kau sekarang sedang apa. Tapi ingat, kesampingkanlah perasaanmu.' Benar kata Sandrone, apapun yang terjadi. Dia akan melawannya, walaupun yang ada dihadapannya adalah sahabat sendiri.
"Mari kita lihat, siapa yang akan mati lebih dulu." Suara Kuroko terdengar tegas, dia siap menghadapinya. Shotgun diangkat mengarah pada kedua polisi tersebut.
.
.
Bersambung
.
a/n:
Saya males bikin ribet-ribet, mbingungin. Tapi intinya tahulah ya tanpa saya jelasin disini. Hehe... Mungkin cuman satu penjelasan, kenapa Ogiwara bisa sadar keberadaan Kuroko yang punya hawa keberadaan tipis. Kembali mengingat ke anime, siapa yang pertama kali sadar ada bocah kelas 5 SD maenan basket sendirian? Siapa yang pertama kali manggil di pertandingan pas SMP terus ngerangkul? Ogiwara duluan kan? Begitulah. Kenapa Ogiwara nyasarin peluru ke Kuroko.
Masih ada yang bingung namanya? Haruskah saya kasih codenamenya? Tapi kayanya Il Capitano sama Il Dottere jangan dulu. Intinya mereka karakter di KnB, bukan Lovino apalagi Arthur.
