Naruto © Masashi Kishimoto. AU, OOC, EYD, TYPO DAN SEJENISNYA.
Mengenakan hoodie jaket nyentriknya Naruto mengikuti Sakura yang mambawa tas hitam di lorong sekolah diam-diam, sampai di Toilet laki-laki dia bersembunyi mengintip Sakura. Dahinya mengernyit bingung melihat Sakura masuk ke bilik toilet satu dan bilik toilet yang lain, semua toilet gadis itu masuki. Setelah memastikan Sakura pergi Naruto keluar dari persembunyiannya mendekati bilik toilet yang Sakura masuki. Dia menutup hidung saat mencium bau tak sedap, dan saat dia masuk rasanya dia ingin muntah melihat kotoran kuning encer di kloset.
"Huek!" Naruto mabok, wajahnya pucat pasi. Tanpa pikir panjang dia berlari keluar dari toilet bau itu. Menarik napas perlahan Naruto menyandarkan punggungnya ke dinding. Dia tau itu bukan kotoran sungguhan tapi baunya benar-benar bikin mabok. Untung saja selama ini dia tidak pernah mendapat hukuman membersihkan toilet. Jadi ini yang membuat siswa-siswi berhenti berbuat ulah setelah membersihkan toilet, kotoran palsu dengan bau super busuk.
Naruto menggelengkan kepalanya yang tiba-tiba saja pusing. Ada saja ide ketua osis cantik satu itu untuk membuat orang kapok. Naruto tersenyum. "Hhh... dia itu benar-benar menarik."
OoO
Hari ini cukup bagus. Tidak ada siswi yang memiliki kuku panjang, siswi membawa kutek, siswa-siswi menjahili guru, dan siswa-siswi yang membawa kendaraan. Mereka semua menaati peraturan.
Meregangkan otot tangannya yang kaku Sakura menarik napas dalam lalu menghembuskannya perlahan. "Andaikan setiap hari seperti ini." Gumamnya dengan senyuman kecil.
"Haruno-san, ada siswa berkelahi di depan gerbang sekolah." Tiba-tiba speker suara yang di pasang di belakang meja Osis berbunyi.
Sakura hanya bisa mnghela napas sebelum beranjak dari tempat duduknya. Di perjalannya menuju gerbang sekolah dia menempelkan handphone ke daun telinganya. "Ten-Ten, ada yang sok jagoan di gerbang sekolah."
Setalah mendapat balasan 'Aku segera ke sana.' dari Ten-Ten Sakura mematikan panggillannya dan kembali memasukkan handphonenya ke saku seragam.
OoO
Buag!
Kiba tersungkur mendapat pukulan telak dari sepupu Hinata. Wajahnya mamar dengan sudut bibir berdarah. Pemuda itu mengerang sakit sambil memegangi pipinya yang baru di tonjok Neji, sepupu Hinata.
"Kau! Cepat berdiri berengsek!"
Dengan tertatih Kiba bangkit dan langsung menatap Neji yang menatapnya tajam. Pemuda Hyuga itu murka pada Kiba karena Kiba sudah mengerjai Hinata sampai menangis semalaman sampai mogok makan, dan dengan seenaknya jidatnya mengajak (memaksa) Hinata berangkat bersama. Dia kembali mencengkrang kerah seragam Kiba, siap menonjok kembali wajahnya.
"Ini sekolah, bukan tempat adu otot." Sakura menahan kepalan tinju Neji, menatap pemuda bermanik abu-abu itu malas.
Neji sangat mengenal gadis berambut merah muda ini, adiknya Sasori, teman satu kampusnya. Dia sering melihat Sakura dalam mobil Sasori.
"Kau dengar apa kata temanku? Cepat turunkan kepalan tanganmu atau," Ancam Tenten dengan satu lengan melingkari leher Neji, gadis bercepol itu berjinjit untuk menyamai tinggi Neji. Tapi sayang Neji jauh lebih tinggi darinya, jadi dia sedikit bergelantung di punggung lebar Neji. Bukan, bukan pose seperti itu. bukan pose romantis, melainkan pose seperti preman terminal sedang memalak atau mengancam dengan senjata tajam. Bisa kau bayangkan? Baiklah kalau begitu kita lanjut ceritanya.
Neji melirik gadis bercepol dua cerewat dibelakangnya, "Atau apa?" Dia menantang dengan nada merendahkan.
Kesal dengan pria setengah wanita di depannya Tenten melipat lengan baju sampai menampil otot-otot lengannya. "Kepalan tinjuku akan mendarat di pipi chabimu." Ancam Tenten mengarahkan kepalan tinjunya ke pipi Neji, berpikir dengan seperti ini Neji takut padanya.
Sakura diam melihat pose berbahaya NejiTen, tak lama kemudian dia tersenyum melihat Tenten yang tak sadar sedang memeluk Neji dari belakang. Sepertinya dia harus mengambil gambar langka ini. Berpikir sejenak Sakura memutuskan mengambil handphonenya di saku lalu memotret NejiTen. Melempar tangkap Handphonenya Sakura kembali tersenyum.
Dengan kaki di seret-seret Kiba mendekati Sakura. "Kau tidak mau menghentikan ini." Ucapnya menunjuk NejiTen dengan dagu sambil mengusap rahangnya yang memar.
Sakura melirik Kiba sekilas. "Jangan kau pikir aku lupa dengan hukuman yang aku berikan padamu Inuzuka-san,"
Kiba meringis. Hhh... Osis satu ini benar-benar menyebalkan.
"Bersihkan toilet."
Kiba mendengus. "Iya. Iya." Dia menarik tangan Hinata ikut dengannya saat melewati gadis itu.
"Nii-chan!" Panggil Hinata lemah lembut meminta pertolongan pada Neji yang masih saling tatap dengan Tenten.
Kiba tetap cuek menarik tangan Hinata. "Aku antar kau sampai kelas."
Melihat Kiba dan Hinata membuat Sakura mendengus. "Hhh... Dasar anak-anak." Gadis itu mengguman. Tidak sadar kalau dia sendiri juga masih anak-anak, mungkin.
Di tatap sedikian intens oleh Neji, Tenten meringis ngeri. "Apa lihat-lihat." Tantangnya sambil melotot galak. "Naksir." Lanjutnya lagi dengan wajah lebih sangar dari sebelumnya.
Neji tersenyum, unik dan manis. "Sepertinya begitu." Senyum pemuda itu membuat Tenten bergidik ngeri.
Melihat espresi wajah dan mendengar kata-kata Neji cepat-cepat Tenten melepaskan cekalannya pada leher Neji. Dengan perlahan tapi pasti dia menjauhi pemuda itu lalu mendekati Sakura dan bersembunyi di belakang punggungnya. "Sakura... Dia mengerikan."
Sakura menepuk jidat melihat Tenten yang takut dengan senyuman Neji yang menurut Sakura sih tampan dan keren. Perlu di catat, Tenten takut dengan... Arghh... Entah lah. #di timpuk!
Meregangkan otot lehernya Neji terkekeh pelan melihat gadis bercepol dua yang kini menyeret-nyeret Sakura. "Namanya tadi siapa ya?" Gumamnya berjalan mendekati mobilnya yang terparkir asal.
OoO
Naruto menyeringai melihat Shino Aburame, siswa kelas sebelas berkaca mata bulat yang gosipnya naksir Sakura, lewat. "Hei," Dari tempat duduknya, di atas motor yang di parkir di kedai ramen tidak jauh dari sekolah, Naruto memanggil Shino. Pemuda cupu itu menoleh sambil membenarkan frame kaca matanya yang merosot, espresi santainya berubah jadi takut saat tahu Naruto yang memanggil. Dengan mulut terbuka tutup seperti ikan Koi kehabisan oksigen Shino membenarkan letak ranselnya gugup sebelum berlari menghindari Naruto. Naruto yang nangkring di atas motor ninja nyengir sebelum menggas motornya mengejar Shino, menyalip pemuda itu lalu berhenti tepat di depannya. Naruto turun dari motor dengan senyuman, mendekati Shino yang kini berkeringat dingin. "Kenapa buru-buru," Ucap Naruto sambil memainkan dasi kupu-kupu Shino.
Shino gemetaran. "Aku sudah sangat terlambat Senpai." Cicitnya. Lima belas menit lagi pintu gerbang sekolah di tutup, dan ini kali pertama Shino hampir terlambat sekolah. Kalo sudah bertemu Naruto, Shino tidak yakin bisa meloloskan diri, pasti dia akan sangat terlambat hari ini.
Naruto menepuk-nepuk bahu dan pipi Shino pelan tanpa menghilangkan senyum manisnya membuat bulir-bulir keringat sebesar biji jagung Shino semakin banyak. "Aku juga terlambat-" Menggantungkan kalimatnya Naruto merangkul bahu Shino yang gemetaran. "Bagaimana kalau kita berangkat sama-sama, tapi temani aku makan ramen dulu, bagaimana? Kau mau?" Naruto menarik paksa Shino dalam rangkulannya ke kedai ramen, meninggalkan motornya di tengah jalan. "Oh, kau berkeringat." Kekehnya.
Shino tersenyum kaku. "Bagaimana dengan motor Senpai-" Ucapnya dengan nada bergetar.
"Haha... Biarkan saja, nanti aku suruh orang mengambilnya." Tawa Naruto sambil mengacak rambut klimis Shino. Yang di perlakukan seperti itu semakin gemetaran. 'Kami-Sama.'
OoO
Temari membuka pintu ruang Osis kasar dan langsung mendekati Sakura yang sibuk dengan pekerjaannya. Dia menggebrak meja Osis membuat Sakura yang serius membaca kini menatapnya. "Kiba pingsan, sekarang dia ada di UKS-"
Satu alis Sakura naik. "Lalu?"
"Dia pingsan karena kau hukum." Menurut Temari ini sudah kelewatan. Menghukum orang sampai pingsan, yang benar saja. Lebih dari itu wajah Kiba penuh memar, apa Sakura menghajar pemuda itu. Kalo seperti ini Sakura sudah kelewatan.
Sakura kembali dengan bacaannya- yang entah apa. "Aku hanya menyuruhnya membersihkan toilet." Ucapnya enteng.
"Saku... Menghukum orang sampai pingsan, itu sudah sangat keterlaluan." Ucap kesal Temari.
Sakura tidak memperdulikan Temari yang mengoceh di depan.
Kriet.
Karin, Tenten, dan Mei masuk. Mereka menatap Temari dan Sakura bergantian. "Ada apa ini?" Tanya Karin mendekati Sakura dan Temari yang sepertinya sedang berdebat, di belakangnya Tenten dan Mei mengikuti.
"Sakura, dia menghukum orang sampai-"
Belum sempat Temari menyelesaikan ucapannya Sakura berdiri, "Aku akan menemuinya." lalu pergi begitu saja meninggalkan mereka. Sempat berpikir beberapa saat akhirnya mereka memutuskan mengikuti Sakura.
OoO
Sakura berdiri di samping ranjang Kiba yang sudah sadarkan diri dan kini sedang memegang kantung coklat, yang biasa di sebut kantung muntahan. Keadaan pemuda itu kacau, dia terus muntah-muntah sekalipun Hinata sudah memberinya air hangat. Menyeka ingusnya Kiba menatap Sakura memelas. "Haruno-san," Panggilnya denga nada lirih. "Aku sudah tidak sanggup, sungguh. Aku janji tidak akan menjahili orang lagi, aku janji. Tapi tolong Haruno-san, cabut hukuman ini. Aku sudah sangat tidak tahan melihat bentuk dan mencium baunya." Kiba berkata dengan lelehan air mata di pipinya. Dengan setia Hinata yang duduk di samping Kiba mengelap air mata Kiba dengan tisu.
Wajah Sakura biasa saja tapi dalam hati gadis itu tertawa. "Kau janji?" Tanya Sakura memastikan. Kiba mengangguk. Tersenyum kecil. "Baiklah. Tapi kalau kau melanggar janji, aku tidak segan-segan menghukummu selama satu bulan. Kali ini kau bebas, jangan di ulangi." Pesan Sakura sebelum pergi dari ruang UKS.
OoO
"Memangnya apa yang kau lakukan?" Tanya Mei sedikit berlari menyamai Sakura yang berjalan cepat di depan di dukung anggukan kepala ketiga temannya.
Sakura tersenyum ganjil. "Kalau kalian tidak mau bernasib sama seperti Kiba, jangan pergi ke toilet laki-laki."
Mei, Temari, Karin dan Tenten Saling menatap satu sama lain. "Emang ada apa dengan toilet laki-laki?"
OoO
Sakura menatap tajam dan tidak suka Naruto dan Shino yang berdiri di luar gerbang sekolah. "Apa sulit bagimu untuk tidak terlambat, satu kali saja." Ucap Sakura kesal.
"Mungkin tidak-"
Sakura terus menatap malas Naruto. "Kalau kau mau mengingatkanku bangun pagi melalui pesan singkat atau telfon, mungkin?" Senyum Naruto mengembang melihat Sakura memijat kening sambil menghela napas.
TBC...
Terimakasih yang sudah menyempatkan diri di kotak Review :)
Cindy elhy
The KidSNo OppAi
Litle asahina harusa
lutfi
Ares
Eysha CherryBlossom
Finn Uzumaki Belpois
Ndah D. Amay
Jehan-Namikaze
yuri rahma
Ae Hatake
Gray Areader
Lalaki224
jennifer
Mchsyafii
Riela nacan
anto borok
NaMiKaZe Rendhy
Asthi Octha Via
Hikari NamiHaru NaruSaku
ohSehunnieKA
Namikaze Sholkhan
Akhir kata Keep Calm And Love NaruSaku :)
