Naruto © Masashi Kishimoto. AU, OOC, EYD, TYPO DAN SEJENISNYA.

Sakura menatap tajam dan tidak suka Naruto dan Shino yang berdiri di luar gerbang sekolah. "Apa sulit bagimu untuk tidak terlambat, satu kali saja." Ucap Sakura kesal.

"Mungkin tidak-"

Sakura terus menatap malas Naruto. "Kalau kau mau mengingatkanku bangun pagi melalui pesan singkat atau telfon, mungkin?" Senyum Naruto mengembang melihat Sakura memijat kening sambil menghela napas.

"Bersihkan toilet laki-laki selama satu minggu, mulai kerjakan besok pagi." Ucapnya sebelum melangkah pergi meninggalkan Naruto.

Naruto yang tidak terima berkata. "Kenapa hanya aku, bagaimana dengan Shino?"

Mendengar protes dari Naruto, Sakura berbalik lalu menatap Naruto dan Shino secara bergantian. Dia mendengus malas. "Karena aku mencium bau kesalahan darimu, tidak dari Shino!"

Merasa dibela gadis pujaannya, pipi Shino merona. Dengan gugup dia membenarkan frame kaca mata kemudian menunduk saat sadar Naruto menatapnya penuh ancaman. Bibir Shino cemberut. Keringat kembali mengalir di keningnya karena tatapan Naruto.

Oh. Hari ini hari tersial dalam hidupnya. Baru tadi pagi dia memergoki Sakura memberi cairan aneh di toilet laki-laki, dan berharap tidak pernah mendapatkan hukuman aneh itu. Tapi besok pagi dia harus, harus, harus... Arghhhh! Sialan. Naruto meremas rambutnya kesal. Dia melotot kearah Shino di sebelahnya saat sadar pemuda itu memperhatikannya. "Apa lihat-lihat!" Ucapnya dingin dan tajam. Saat ini dia sedang benar-benar kesal. Naruto menatap punggung Sakura yang semakin menjauh sambil meremas tali ranselnya. Kalo saja dia tidak menyukai gadis itu, dia tidak akan mau menjalankan hukumannya. Malah sebaliknya dia akan mengerjainya seperti ketua Osis sebelumnya, sampai mengundurkan diri atau angkat kaki dari sekolah ini. Tapi Naruto tidak bisa melakukan itu. Gadis itu alasan dia tetap betah jadi anak SMA, yang seharusnya jadi mahasiswa. Naruto diam beberapa saat tidak menyauti Shino yang pamit pergi ke kelas lebih dulu, dia sedang berpikir. Tak lama kemudian seringai aneh mengembang di bibirnya, 'Ah, Sakura-chan. Lihat saja nanti.' Wajahnya berseri-seri membayangkan yang akan dia lakukan besok pagi.

OoO

Karin cemberut melihat kedekatan Sakura dan Suigetsu yang duduk bersebelahan di depannya. Mereka mengobrol, tertawa dan berbisik-bisik. Berkali-kali dia menghentakan kaki di bawah meja sambil menusuk-nusuk makanannya dengan penuh perasaan melihat Suigetsu yang memesankan minuman dan makanan untuk Sakura. Mereka terlihat sangat romantis Hiks. Karin mengusap sudut matanya. Dia tau ini hanya sandiwara untuk mengalihkan perhatian Naruto di sudut kantin yang sejak tadi memperhatikan dia dan teman-temannya, atau lebih tepatnya memperhatikan Sakura, selama Tenten menjalankan tugas mengikat tali sepatu Naruto. Susahnya pacaran diam-diam. Suigetsu yang memperhatikan karin dari sudut mata merasa bersalah pada kekasih rambut merahnya. Cepat-cepat Suigetsu mengirim pesan pada Sakura. Membaca pesan dari Suigetsu, cepat-cepat Sakura mengirim pesan pada Tenten yang sedang menjalankan misi penting darinya. "Bagaimana? Sudah selesai?"

"Minggir." Suigetsu berjengit kaget mendengar suara berat seseorang di belakangnya. Dia, diikuti temannya yang lain menoleh kebelakang punggungnya. Keringat dingin menetes dari pelipisnya melihat Sasori berdiri bersidekap dada menatapnya tajam.

Tanpa mengatakan sepatah katapun Suigetsu pindah dari tempat duduknya, dia mengambil tempat duduk di samping Karin. Karin membuang muka, masih kesal dengan Suigetsu. Suigetsu tersenyum pada Karin yang dicuekin gadis itu. Diam-diam dia menggenggam tangan Karin di bawah meja, meremasnya lembut seolah meminta maaf. Oh, ayolah. Tadi siapa yang menyuruhnya pura-pura dekat Sakura, Karin. Tapi kenapa Karin marah.

Sasori duduk di tempat yang tadi di duduki Suigetsu mengabaikan wajah cemberut Sakura yang kesal karena separu rencananya gagal. Tanpa peduli pada wajah kusut Sakura, Sasori mengambil jus melon Sakura yang tinggal separu lalu meminumnya sampai tandas, habis.

"Kenapa Nii-chan di sini?"

Dia melirik Sakura melalui ekor matanya lalu mengambil nasi goreng milik Sakura. "Tidak ada jam kuliah pagi, jadi aku kesini." ucapnya tanpa rasa bersalah sedikitpun. Sasori menyuapkan satu sendok penuh nasi goreng ke dalam mulutnya. "Mm.." Dia menggumam disela kegiatannya menikmati nasi goreng Sakura. "Kau tidak maukan Saku?" Tanyanya sambil menyodorkan satu sendok nasi pada Sakura. Setelah Sakura meresponnya dengan gelengan kepala Sasori kembali malahap nasi gorengnya. "Makanan di sini enak juga. Tau seperti itu aku makan di sini saja tiap hari." gumamnya.

Satu hal yang tidak Sakura sukai dari Sasori, mulutnya. Yah mulutnya bawel sekali, sekalipun dia laki-laki tapi dia bawel, ember. Suka membuka aib orang, apa lagi kalo orang itu adiknya. Sakura menekuk wajahnya mendengar Sasori yang terus bercerita tentang masa kecil pada teman-temannya, dan selalu mengatainya manja. Dasar kakak menyebalkan.

Temari tersenyum geli melihat wajah kusut Sakura yang terus-terusan digoda Sasori. Sementara Mei kini mengobrol dengan Sasori, Karin dan Suigetsu kini sudah saling melempar senyum. Sepertinya mereka sudah baikan. Hanya Sakura yang memasang wajah kusut saat ini.

OoO

Melihat Sakura dekat dengan Suigetsu tidak membuat Naruto terbakar api cemburu. Tapi melihat Si merah Sasori dekat-dekat Sakura, dan melihat Sakura yang cemberut melihat kedekatan Sasori dengan Mei, dadanya bergemuruh. Naruto tahu Suigetsu sudah menjalin hubungan diam-diam dengan Karin, dan kemungkinan itu akal-akal Sakura yang ingin mengalihkan perhatiannya. Tapi untuk apa? Merasa sesuatu yang aneh di kakinya Naruto melihat kebawah meja. Dia sedikit terkejut melihat Tenten yang dengan sangat hati-hati sedang saling mengikatkan tali sepatunya. Jadi ini rencana si pinky eh? Naruto tersenyum remeh sebelum memasang wajah datar, dan berdehem cukup keras.

Terkejut. Tenten berdiri dari jongkoknya, lupa kalau dia sedang ada di bawah meja sampai kepalanya terpantuk meja.

Duk.

"Aduuh." Gadis bercepol itu mengusap-usap kepalanya lalu tertawa kaku saat sadar wajah Naruto tepat di depan menatap dirinya tajam.

"Apa yang kau lakukan," Naruto tidak langsung menyambung kalimatnya. Pemuda itu menatap Tenten intens membuat yang ditatapnya gugup. "Di bawah meja." nada suaranya datar tapi terkesan mengejek di telinga Tenten.

Bingung mau menjawab apa Tenten melirik kanan-kiri gelisah. Dengan perlahan dia keluar dari kolong meja, berniat kabur tapi Naruto terus-terusan menatapnya. "Ee... Itu. Ee... Akuu... Ee.. Ah, ya. Tadi uang koin ku jatuh ke bawah meja, dan aku berniat mengambilnya. Hehe..."

Naruto tidak merespon. Dia melihat kakinya yang kini tali sepatunya saling mengikat. "Oh." di lihatnya lagi Tenten yang berdiri kaku di depannya. "Boleh aku minta tolong."

Tenten menatap Naruto bingung. "Apa."

"Sepertinya ada kecoa iseng mengikat tali sepatuku." Naruto mengangkat kedua kakinya keatas meja.

'Sialan! Dia menyamakan aku dengan kecoa.' Tenten meremas-meremas roknya gemas. Tangannya gatal ingin menonjok hidung mancung Naruto.

"Kau mau membantuku kan?" Tanya Naruto sambil menunjuk sepatu dengan dagunya.

'Argghh...! Sakura, kau benar. Dia benar-benar menyebalkan.'

Tenten, wakil Osis yang ditakuti, sedang menjadi pusat perhatian satu kantin. Bukan, bukan karena dia menggerai rambut coklatnya dan pernampilan seperti seorang gadis. Tapi... Karena dia mengikatkan tali sepatu Naruto di atas meja. Dia terlihat seperti kacung Naruto.

'Ini mimpi buruk! Kalau saja sipirang tidak memergokiku, aku tidak sudi mengikatkan tali sepatunya.'

Melihat Tenten jadi pusat perhatian, dan dipermalukan di depan orang satu kantin, Sakura menatap tajam Naruto yang tersenyum menang. Gadis itu menatap punggung Tenten prihatin, dia sangat merasa bersalah. Ini semua karena Sasori, kalau saja Sasori tidak datang mungkin semua rencananya berjalan lancar. Tapi, apa benar ini salah Sasori. Entahlah, Sakura tidak tahu. Yang jelas hari ini dia menyakiti perasaan dua sahabatnya hanya untuk membalas Naruto. Dia menyesal.

Sasori mendengus melihat Naruto yang masih suka berbuat ulah. "Kapan dia akan berubah sih." Dengusnya.

OoO

Terbayang dalam kepala Sakura Naruto yang jatuh dari kursi kantin karena kedua tali sepatunya saling terikat. Tapi sayang, itu hanya khyalan. Rencananya gagal. Naruto tidak jatuh dari kursi kantin, dan juga tidak di tertawakan anak satu katin. Pemuda tengil berambut pirang itu malah menatapnya dengan senyuman super menyebalkan dari ujung sana. Haah... Menyebalkan. Rencana yang sudah disusunnya matang-matang, ingin mempermalukan Naruto, gagal.

"Saku, maaf. Rencanamu gagal karena kelalaianku." Tenten berdiri disamping kursi Sakura dengan kepala menunduk. Kentara sekali kalau gadis itu menyesal karena ke gagalannya.

Sakura menatap Tenten yang kini saling meremas jemari tangannya, gadis berambut merah muda itu tersenyum. Tangannya yang halus menarik kursi disampingnya. "Itu bukan salahmu. Duduklah." Dia menepuk-nepuk kursi yang tadi di tariknya mempersilahkan Tenten duduk. Setelah Tenten duduk di kursi yang dia sediakan Sakura menatap Tenten dan Karin bergantian. "Tenten, Karin." Jeda sejenak. Sakura menyedot minuman yang baru dia pesan beberap menit yang lalu gugup, karena minuman miliknya di habiskan oleh Sasori. Menarik napas dalam sebelum menghembuskannya perlahan Sakura berucap. "Aku minta maaf. Karena keegoisanku Tenten di permalukan. Karena keegoisanku Karin dan Suigetsu saling mendiamkan. Sekali lagi maaf. Dan Suigetsu terimakasih banyak karna sudah mau membantuku."

Diam-diam Sasori tersenyum melihat adiknya mengakui kesalahannya dan mau meminta maaf.

"Yeah, tidak masalah. Teman Karin, temanku juga." Suigetsu merangkul bahu Karin mesra membuat si cantik berambut merah tersipu malu.

Temari dan Mei Terumi mencibir dan melempar Suigetsu dengan tisu bekas pakai kemudian tertawa melihat wajah pemuda bergigi hiu itu cemberut lalu balas melempar mereka dengan tisu. Sementara Sakura, Tenten, dan Karin berpelukan kemudian disusul Temari dan Mei Terumi memeluk mereka. Suigetsu membentangkan tangannya lebar-lebar bersiap memeluk keempat gadis itu. "Aku juga ingin berpelukan dengan gadis-gadis cantik." yang dibalas jeritan tidak sudi keempat gadis itu. Sasori menoyor kepala Suigetsu sampai bibir pemuda itu monyong gak jelas, Suigetsu misuh-misuh gak terima yang dicuekin anak-anak yang lain.

"Mereka tidak ingin di peluk olehmu Sui, mereka inginnya di peluk pemuda tampan sepertiku." Kata Sasori PD lalu memeluk keempat gadis itu yang sedang saling berpelukan, lebih tepatnya memeluk kepala merah muda Sakura dan menciumi pucuk kepalanya. Sakura adalah adiknya satu-satunya, gadis yang paling dia sayangi, yang sangat berarti dalam hidupnya. Tidak pernah satu kalipun Sasori kesal, marah, atau membentak Sakura. Tidak pernah. Dia bahkan tidak pernah mengenalkan adiknya pada teman-temannya, hampir semua temannya urakan dan pemabuk, terkecuali Nagato dan Pain.

Naruto membanting mangkuk ramennya diatas meja kesal melihat sekumpulan remaja yang tertawa-tawa bahagia di sudut kanting dekat dinding kaca transparan yang menghadap taman belakang sekolah yang di tanami macam-macam bunga. Kesal melihat Sasori yang memeluk dan mencium pucuk kepala Sakura dengan sorot mata penuh kasih sayang, dia cemburu. Menendang kaki meja Naruto mendorong kursinya kasar menimbulkan suara bising gesekan kaki kursi dengan lantai. Dia melangkah cepat dan lebar meninggalkan kantin.

OoO

Di tempat parkir khusus mobil dengan cahaya redup Naruto duduk diatas motor besar Ducati miliknya sambil menghisap rokok lalu mengepulkan asapnya. Dia melirik ke kanan mendengar suara pemuda yang mengobrol dan tertawa ringan. Pemuda berambut orange dan merah itu mendekati sedan hitam sambil sesekali melempar candaan kemudian tertawa, cowok-cewek kalau sudah bersama temannya memang berisik.

Naruto melempar rokoknya ke lantai lalu menginjaknya tidak berperasaan. Menghembuskan asap terakhirnya Naruto mendekati dua pemuda itu. Ditatapnya pemuda berambut orange dari atas kebawah seperti sedang menilai. Tinggi, tampan, kekar, dan memakai perinchi di hidungnya, seperti anak metal. Sudut bibir Naruto tertarik, Pein Yahiko, eh?

Pain balas menatap Naruto tidak suka, pemuda berambut orange itu menghentikan kegiatannya membuka pintu mobil. "Ada yang aneh denganku." Gumamnya dengan nada tidak suka. Naruto mendengus menahan tawa. Nagato yang berdiri di kiri badan mobil menatapnya tidak suka, merasa tersinggung dengan dengusan Naruto. Dulu mereka teman satu kelas, teman dekat. Membuat onar di kelas bersama, membully orang sama-sama, mengerjai guru sama-sama, selalu sama-sama. Sampai pengumam kelulusan Naruto yang seharusnya lulus tidak lulus, ayolah nilai mereka sangat bagus saat itu (hasil contekan.), sejak saat itu hubungan mereka tidak begitu baik. Menurut Pain dan Nagato, Naruto menghianati mereka, merusak persahabatan yang mereka jalin sejak SMP dengan alasan yang tidak jelas. Sejak saat itu Nagato dan Pain menjauhi Naruto lalu berteman dengan Sasori, anak paling pintar, ramah dan tegas di kelas mereka, sampai saat ini hubungan mereka semakin baik. Bahkan mereka lebih dari teman, melainkan sahabat.

Mendapat tatapan sinis dari mantan sahabatnya Naruto tertawa, kedua tangannya dia angkap ke atas kepala memberita tanda dia menyerah atau, entahlah. "Jangan sinis seperti itu." Dia berkata disela tawanya. Pain dan Nagato saling melirik satu sama lain lalu mendengus bersamaan.

"Jangan bertele-tele, Naruto. Apa maumu." Sinis Pain menyandarkan punggung ke body mobil dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Nagato mencibir tidak berkomentar apapun.

Tawa Naruto terhenti. Tatapannya berubah serius. "Aku mencari Sasori."

Nagato dan Pain saling melirik. "Untuk apa?" Tanya Pain malas.

"Mencari masalah." Cibir Nagato menyindir Naruto.

Naruto tersenyum aneh. "Urusan laki-laki."

Pain menggeram memukul body mobilnya. Urusan laki-laki Pain tau apa artinya, berkelahi. "Kau!" Pain mencengkram kerah kemeja Naruto, menatap pemuda pirang itu tajam. "Apa masalahmu?" Geram Pain.

Naruto menepis tangan Pain, menatap pemuda itu sama tajamnya. "Bukan urusanmu."

Dalam sekali gerak Pain meninju pipi Naruto sampai Naruto mundur tiga langkah. "Kau, berengsek Naruto!"

Naruto tidak meringis, dia hanya mengusap darah di sudut bibirnya kemudian mendongak menatap Pain dengan seringai lalu balas memukul wajah Pain dengan kepalan tangannya. Pain terhuyung kebelakang sampai menabrak body mobil. Naruto mendengus, hanya karena Sasori Pain memukul wajahnya. Rambut merah sialan! "Sama berengseknya denganmu." kata Naruto sinis.

Mereka saling adu tinju sampai jatuh di lantai kotor bastman, saling menindih tubuh lawan. Naruto membalikkan posisi, bila tadi Pain menindihnya kini dia yang menindih Pain. "Kau bodoh sama seperti hewan kedelai!" Maki Naruto lalu memukul wajah Pain.

"Sialan!" Pain mendorong tubuh Naruto sampai jatuh di sampingnya lalu menindih tubuh pemuda pirang itu. "Keledai! Bukan kedelai. Siapa yang bodoh, huh?" Pain balas memukul wajah Naruto.

Naruto tidak membalas melainkan menatap Pain mengejek. "Mengakuinya, eh!" Dia tertawa kecil, merasa menang karena Pain tertipu olehnya.

Pain berdiri tegap siap melayangkan tinju ke perut Naruto tapi lebih dulu di tahan Nagato. Nagato menahan kepalan tinju Pain. "Sudah hentikan." Bentak Nagato pada Pain yang berontak dalam tahanan tangannya.

"Lepaskan aku, biar aku beri pelajaran si berengsek ini."

Naruto tersenyum sinis. "Berengsek teriak berengsek."

Nagato menahan Pain yang terus berontak minta dilepaskan. "Sudah Naruto. Lebih baik kau pergi, tidak ada Sasori di sini. Kapan kau akan berubah, huh?"

Mangangkat bahu acuh, tidak peduli dengan penampilannya yang kacau, Naruto mendengus. "Kenapa tidak bilang dari tadi." Seolah seperti tidak terjadi apapun Naruto pergi begitu saja menaiki motor Ducati besar miliknya.

Pain mendorong dada Nagato kesal, dia mengacak rambut orangenya kasar. Napasnya berat dan memburu, masih kesal dan marah pada Naruto yang kini sudah pergi entah kemana.

OoO

Naruto menghentikan laju motornya saat sampai di atas bukit. Dia duduk dalam diam di atas motornya menatap hampa lautan langit malam. Sesekali dia meringis merasakan sakit yang amat dari sudut bibirnya.

Tiga pemuda berseragam berantakan menatap puas hasil karyanya. Mereka saling melirik lalu tertawa bersama. Pemuda berambut merah mengambil kain putih yang tadi di lilitkan di leher seorang pemuda berambut hitam yang duduk di kursi dengan keringat sebesar biji jagung di jidatnya. Pemuda lain berambut kuning menyodorkan cermin persegi empat tepat di depan wajah pemuda berambut hitam yang kini wajahnya pucat dan matanya memerah. "Bagaimana, bagus bukan?"

Dua pemuda lain berambut merah dan orange tertawa.

"Pergi ke salon pun tidak mungkin dapat hasil sebagus ini. Berterimakasihlah pada kami." Pemuda berambut kuning itu tersenyum membuat pemuda berambut hitam di depannya gemetaran.

"Terimakasih Senpai." Cicit pemuda berambut hitam itu dengan nada bergetar.

Mengangguk-anggukan kepala kuningnya Pemuda itu menjawab. "Sama-sama."

"Kau jahat sekali Naruto." Kata pemuda berambut orange seraya merunduk mensejajarkan wajahnya dengan wajah pemuda berambut hitam. "Membuatnya sangat sulit, kau tahu?"

Takut-takut pemuda itu menganganggukan kepalanya.

"Jadi kau harus bayar." Lanjut pemuda berambut kuning.

Lagi-lagi pemuda berambut hitam itu menurutinya. Pemuda itu merogoh Saku celananya takut-takut.

"Lama sekali." Gumam pemuda lain berambut merah lalu merogoh paksa saku celana pemuda berambut hitam itu, mengambil semua uangnya.

Mereka pergi setelah mengambil semua uang pemuda berambut hitam itu, sebelum benar-benar pergi pemuda berambut merah menepuk-nepukkan uangnya di pipi pemuda itu seraya tersenyum. "Lain kali, kalau ingin potong rambut beritahu kami, oke."

Pain dan Naruto yang saling merangkul bahu menunggu di ambang pintu gudang tertawa. "Cepatlah Nagato." panggil keduanya bersamaan.

Mereka pergi dengan saling memeluk bahu, sesekali memukul lengan satu sama lain lalu tertawa bersama.

Pemuda berambut hitam itu menatap pantulan dirinya sendiri di cermin prihatin dengan lelehan air mata dan umbel. "Rambutku..." Isaknya memelas sambil menyentuh bagian kepalanya yang tandus seperti hutan habis kebakaran hebat. Botak tapi tidak rata, benar-benar seperti hutan yang habis kebakaran, sementara sebelahnya lagi dibiarkan seperti semula, cepak. Menyadari penampilan tragisnya pemuda itu semakin menangis kencang seperti anak kecil yang menginginkan balon.

Mengingatnya membuat Naruto merasa kesepian. Dia merindukan dua sahabatnya. Naruto menyisir rambutnya kebelakang gelisah dengan kedua mata terpejam.

Ini hari pertamanya di KHS tapi baru sampai kolidor dia sudah melihat 'kegiatan' menyebalkan, bisa jadi ini alasan sang kakak melarang keras dirinya melanjutkan sekolah di sini. Dan lebih mengerikannya lagi tidak ada satu pun orang yang mau menolong siswa malang itu, mereka hanya menonton dan mentertawakannya. Mengumpat-umpat tidak jelas dengan sorot mata tajam dan kesal gadis berambut merah muda itu mendekati seorang siswa yang sedang beresperimen dengan tiga siswa lain yang duduk berjongkok di depannya, menyiram kepala tiga siswa itu dengan jus jeruk (sepertinya). Wajah puas siswa itu membuat gadis berambut merah muda itu semakin kesal. Gadis itu berdiri tepat di belakang punggung siswa berambut kuning. "Dasar seenaknya." Gumam kesal gadis itu lalu menendang selangkangannya.

"Akh!" Jerit kesakitan siswa yang ditendang Sakura, gadis berambut pink. Dalam sekali gerak siswa itu menoleh menatap tajam gadis berambut merah muda itu. "Kau!" Teriak si pirang dengan geraman tertahan. "Beraninya kau menendang 'juniorku.'" Gumamnya penuh penekanan dan menatap tajam gadis berambut merah muda itu.

Tanpa mengatakan sepatah katapun gadis itu berlari, menghindar dari masalah. Menahan diri agar tidak memukul wajah seniornya lagi, walau bagaimana pun dia anak baru. Tentu takut pada senior.

"Hei! Berhenti!" Siswa berambut pirang itu berlari tidak kalah cepat dengan gadis berambut merah muda itu. Tapi sayang dia kehilangan gadis itu di tikungan kolidor (?). Memelankan langkah kakinya, Naruto memeriksa setiap kelas mencari gadis merah muda kurang ajar itu. Sudut bibirnya tertarik begitu melihat warna merah muda dari celah pintu, dan saat dia membukanya seorang gadis yang sejak tadi dia cari duduk di pojok pintu. Naruto mendengus melihatnya. Gadis itu mendongak memamerkan cengiran tidak bersalahnya pada Naruto. "Hai, senpai."

Naruto mendengus menahan tawa mengingatnya. Sakura begitu polos saat itu, bila dulu ada sedikit rasa takut dalam diri gadis itu padanya, tapi tidak dengan sekarang. Apalagi setelah dia menjabat sebagai ketua Osis, gadis itu semakin berani dan galak.

OoO

Di sepanjang lorong tidak henti-hentinya Sakura menguap, pekerjaannya yang menumpuk membuat dia lembur semalam, dan berakhir seperti ini, mengantuk. Ini masih pagi buta, belum ada satu pun siswa/i yang datang ke sekolah. Hanya baru Sakura yang datang (mungkin.) Sakura membuka Pintu kamar mandi khusus laki-laki lalu masuk ke salah satu bilik sudut paling kiri. Dengan malas dan diselingi kuapan kecil Sakura mengeluar sesuatu seperti botol karbol pembersih lantai lalu melepas tutupnya. Saat dia akan menumpah isi dalam botol itu ke kloset tangan lain yang lebih besar dan kekar mengintrupsi kegiatannya, menggenggam tangannya yang memegang botol. Naruto memeluk Sakura dari belakang, pemuda berambut pirang itu sedikit merundukkan tubuhnya guna memenggenggam tangan kecil Sakura. Pelan-pelan diambilnya botol berbahaya di tangan Sakura, dia tidak mau masuk UKS dan tidak napsu makan.

Deru napas teratur Naruto menjadi melody indah tersendiri bagi Sakura, hembus napasnya, hangat genggam tangannya. Tanpa sadar Sakura memejamkan kedua matanya. Dada Naruto begitu bidang dan keras, hangat.

'Naruto?'

Dalam sekejap kedua mata Sakura terbuka. Wajah Naruto tepat berada di samping wajahnya. Sakura menjauh lalu mendengus kesal (malu) melihat evil smirk Naruto. "Apa?!" Tanyanya galak.

Naruto tersenyum menggoda. "Aku melihatnya." Goda Naruto disertai kedipan jail.

Sakura menutupi pipinya yang merona dengan rambutnya. "Apa sih!" Ucapnya galak pura-pura tidak mengerti lalu memukul perut Naruto.

"Akh!" Naruto mengusap perutnya, pura-pura sakit.

Sakura membuang muka, menyembunyikan raut wajah bersalahnya. Diam-diam Sakura melirik Naruto yang sedang melempar botol misterius miliknya ke keranjang sampah. Dan saat dia melihat memar di sudut bibir, pelipis dan setiap inci wajah Naruto dia tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya. "Kenapa wajahmu?" Tanya Sakura sok acuh.

Naruto melirik Sakura sekilas lalu melanjutkan pekerjaannya, menyikat lantai. "Berkelahi."

Kedua manik emerald Sakura membulat sesaat. "Sampai seperti itu."

Naruto membalas Sakura dengan gumaman, dan detik berikutnya Naruto mendongak. "Hei, mau mengobati memarku?" Melihat espresi ragu di wajah Sakura, Naruto menambahkan. "Hanya meniupnya, huuf! Seperti itu."

"Kau yakin, kenapa tidak ke UKS saja."

Melempar penyikat lantai asal Naruto berdiri dari jongkoknya. "Aku hanya butuh udara." Lalu memasang wajah meminta Sakura meniup sudut bibirnya yang membiru.

"Huff!" Dengan masih memasang jarak dari Naruto, Sakura meniup wajah Naruto.

"Lebih dekat. Udaranya tidak sampai." Komplain Naruto.

Sakura menurut. Ragu-ragu dia mendekatkan wajahnya dengan wajah Naruto. "Huff."

"Sedikit lagi." Tanpa Sakura ketahui satu tangan Naruto berpindah ke belakang lehernya.

Sakura kembali menuruti keinginan Naruto. "Huuuffff..."

Tidak mau kehilangan kesempatan Naruto menekan belakang leher/tengkuk Sakura sampai bibir gadis itu menempel di sudut bibirnya. Kedua manik seindah batu emerald Sakura membulat, Sakura memberontak mendorong dada keras nan bidang Naruto. Tidak menyia-nyiakan kesempatannya Naruto memiringkan wajahnya. Bibirnya meraih bibir manis Sakura.

.

.

.

.

.

.

.

TBC...

HalfStarAn :) nona fergie kennedy :) Mirai :) Ae Hatake :) Guest :) Fiin Uzumaki Belpois :) Yamigakure no Ryukage : aku gak ngerti kamu review apa, gak bisa bacanya hehe :). naumi megumi :) :) Eysha Cherryblossom :) :) SR not AUTHOR :) Nuruhime-chan19 :) megamiiko :) Kei Deiken :) Riyuzaki namikaze :) Saladin no jutsu :) ohSehunnieKA :) NamiMirushi :) galura lucky22 :) Lalaki224 :) yuri rahma :) NadiaAo-Chan :) lutfisyahrizal :) Ndah D. Amay :) anto borok :) Mademoisellenna :) asti. .7 :) AnimeAnimonstaR :) uzumaki :) Sakurazawa Ai :)

Guest :) The KidSNo OppAi :) Guest :) yuri rahmamalika :) Cindy elhy :) Eysha CherryBlossom :) Yamigakure no Ryukage :) Ae Hatake :) galura lucky22 :)

lutfisyahrizal :) Ndah D. Amay :) NadiaAo-Chan :) anto borok :) :) Mademoisellenna :)

Katsumi :) SR not AUTHOR :)

:) Hikari NamiHaru NaruSaku :) Asthi Octha Via :) Saladin no jutsu :)

ohSehunnieKA :) kirito :)

Kei Deiken :) Namikaze Sholkhan :)