Naruto © Masashi Kishimoto. AU, OOC, EYD, TYPO DAN SEJENISNYA.
Naruto membalas Sakura dengan gumaman, dan detik berikutnya Naruto mendongak. "Hei, mau mengobati memarku?" Melihat espresi ragu di wajah Sakura, Naruto menambahkan. "Hanya meniupnya, huuf! Seperti itu."
"Kau yakin, kenapa tidak ke UKS saja."
Melempar penyikat lantai asal Naruto berdiri dari jongkoknya. "Aku hanya butuh udara." Lalu memasang wajah meminta Sakura meniup sudut bibirnya yang membiru.
"Huff!" Dengan masih memasang jarak dari Naruto, Sakura meniup wajah Naruto.
"Lebih dekat. Udaranya tidak sampai." Komplain Naruto.
Sakura menurut. Ragu-ragu dia mendekatkan wajahnya dengan wajah Naruto. "Huff."
"Sedikit lagi." Tanpa Sakura ketahui satu tangan Naruto berpindah ke belakang lehernya.
Sakura kembali menuruti keinginan Naruto. "Huuuffff..."
Tidak mau kehilangan kesempatan Naruto menekan belakang leher/tengkuk Sakura sampai bibir gadis itu menempel di sudut bibirnya. Kedua manik seindah batu emerald Sakura membulat, Sakura memberontak mendorong dada keras nan bidang Naruto. Tidak menyia-nyiakan kesempatannya Naruto memiringkan kepalanya. Bibirnya meraih bibir manis Sakura, kedua matanya terpejam menikmati setiap stektur lembut bibir Sakura. Begitu kenyal, begitu nikmat ketika dia menghisapnya, begitu manis, sangat manis. Rasanya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, ini jauh lebih menyenangkan dari apa yang dia rasakan di dalam mimpi. Ini jauh memabukan. Naruto mengerang tertahan, tangannya naik menekan tengkuk Sakura memperdalam ciumannya, melumat rakus bibir gadis itu.
Emerald Sakura membulat, dia menahan napas, tangannya memukul punggung Naruto kesal. Naruto tersenyum, dia semakin merapatkan tubuhnya dengan tubuh mungil Sakura sampai dada mereka saling menekan. Memeluk paksa pinggul mungil Sakura serta menggiring gadis itu sampai pojok toilet. Sakura semakin melemas dalam lumatan Naruto, gadis itu hampir saja merosot jatuh kalau Naruto tidak memeluk erat pinggulnya. Sambil menghirup udara rakus Sakura menatap tajam dan sengit Naruto yang mengapitnya di sudut toilet. "Kau!" Teriaknya dengan napas terengah-engah menunjuk wajah Naruto.
Menatap sepasang manik emerald Sakura dalam Naruto menyingkirkan telunjuk Sakura lalu kembali melumat paksa bibir Sakura membuat gadis itu kembali membulatkan mata terkejut. Sesekali kepala Naruto miring ke kanan, lalu ke kiri, terus seperti itu. Bibir pemuda berambut pirang itu begitu antusias mendominasi bibir mungil nan tipis Sakura. Mata Naruto yang semula terpejam perlahan terbuka, detik berikutnya dia menyeringai. Dia mengurung Sakura di sudut toilet dengan satu tangannya, sementara tangannya yang lain menyusup dalam saku celana mengambil handphone layar datar miliknya. Naruto menghisap bibir bawah Sakura membuat gadis berambut merah muda itu memejamkan mata kuat dan melenguh kecil. Naruto menyeringai kecil di sertai kedipan mata menatap lurus handphone yang ia arahkan padanya dan Sakura. Melihat pantulannya dan Sakura sudah pas di layar depan hendphone miliknya...
Clik!
Naruto melepas bibir Sakura dari bibirnya, bibir merahnya merayapi pipi Sakura dengan senyum kecil lalu...
Clik!
Sakura yang lemas karena kehabisan napas tidak menyadari Naruto yang sejak tadi berselfi ria bersamanya, dia terlalu sibuk menghirup udara karena takut mati konyol. Mati kehabisan udara karena ciuman, tidak lucukan? Sakura bersandar lemas di dinding mengumpulkan tenaganya yang hilang entah karena apa, yang jelas seluruh tubuhnya lemas, kedua kakinya seperti jelly.
Naruto menyimpan kembali handphonenya ke dalam saku, kedua lengannya kembali mengurung Sakura yang kini membuka mata menatapnya sayu. Mengerjap-erjapkan matanya beberapa kali Sakura tersadar, dia langsung mendorong kuat dada Naruto sampai pemuda itu mundur satu langkah. "Kau! Apa yang kau lakukan!" Teriaknya kesal. Naruto mencuri ciuman pertamanya dua kali, dua kali! Bisa kalian bayangkan betapa kesalnya seorang Haruno Sakura karena dicium paksa dua kali.
Naruto tidak menjawab melainkan kembali mendekati Sakura lalu mengurung gadis itu dengan kedua lengannya. Tangannya membelai pipi halus Sakura yang tadi dia cium lalu tersenyum. "Di kelas kau bisa lolos dari ciumanku, tapi tidak di sini."
Sakura merinding mendengar suara berat Naruto yang terdengar sedikit berbeda, lebih berat dan serak. "Kau benar-benar menyebalkan!" Kesal Sakura memukuli dada bidang Naruto bertubi-tubi.
Naruto tertawa. "Oh." Responnya cuek. Sakura semakin kesal, dia menginjak kaki Naruto tapi Naruto lebih dulu mengelak. "Jangan marah seperti itu, kau bahkan lebih rakus." Goda Naruto kembali menarik pinggul Sakura dalam pelukkannya.
"Apa?!"
Tangan Naruto yang tadi memeluk pinggul Sakura menyentuh pucuk kepala gadis berambut merah muda itu lalu mensejajarkan wajahnya dengan wajah Sakura yang merona. Ditatapnya manik hijau indah Sakura seraya tersenyum lembut membuat Sakura semakin merona melihatnya. Naruto memoyong bibirnya, menunjukan pada Sakura bibirnya yang merah dan sedikit membengkak. "Kau menghisapnya sampai merah dan bengkak seperti ini." Bibir Sakura jauh lebih merah dan bengkak karena hisapannya, dasar Naruto.
Sakura terlihat bingung, jangankan menghisap membalas kecupan Naruto saja tidak. "Aku tida-"
"Mau mengakuinya, hm?"
Sakura cemberut. "Aku tidak-"
"Ya, kau yang membuatnya merah dan bengkak!"
"Tidak!"
"Iya!"
"Tidaaaakkkk!"
"Kau yang melakukannya."
"Melakukan apa, aku bahkan tidak tahu cara melakukannya."
Lengan Naruto menghalangi Sakura yang akan melarikan diri. "Yang benar kau tidak tahu caranya, hm?" Tanyanya mengejek.
"Minggir!" Sakura geli dengan pembicaraan ini, sungguh. Gadis berambut merah muda itu mendorong kuat lengan Naruto. Kenapa dia bisa ada di pojok seperti ini sih. Batinnya menjerit kesal.
Senyum Naruto mengembang. "Mau aku ajari." Pemuda berambut pirang itu kembali mendekatkan wajahnya dengan wajah Sakura.
Emerald Sakura kembali membulat saat wajah Naruto semakin dekat. Tidak mau hal yang sama terulang, gadis itu menggigit lengan Naruto yang menghalangi jalannya.
"Aarggghh- lepas!" Teriak Naruto kesakitan seraya mengibas-ibaskan tangannya.
Puas menggigit lengan pemuda menyebal itu Sakura menendang lutut Naruto dari belakang sampai pemuda pirang itu jatuh berlutut. "Rasakan!" Teriaknya sebelum berlari keluar.
Naruto berdiri dari jatuhnya lalu mengejar Sakura. "Hei!" Panggilnya. Sakura menoleh dengan tatapan tajam dan pipi merah merona. Naruto terkekeh geli melihatnya membuat Sakura tambah kesal. "Kenapa tidak bilang mau menggigitku." Sakura membuka pintu toilet kasar. "Lain kali kalau mau menggigit, gigit leher oke."
"Dasar gila!" Teriak Sakura dari luar.
Naruto bersandar di pintu toilet dengan lengan terlipat di depan dada. "Apa?! Jangan bersihkan toilet, baiklah." Dia balas berteriak pura-pura tidak dengar ucapan kasar Sakura.
"Namikaze Naruto gila!" Teriak Sakura lagi.
"Tenang saja Sakura-chan, aku tidak akan bersihkan toiletnya." Teriak Naruto membalas Sakura lalu terkekeh geli saat mendengar erangan kesal gadis itu.
"AARRGGGHHHHHHHHH- DASAR MENYEBALKAN!"
OoO
Ducati Naruto berhenti tepat di depan Sakura yang berdiri di depan gerbang sekolah sedang menghubungi seseorang. Sakura melirik Naruto waspada kemudian kembali memencet-mencet handphonenya terburu-buru. "Ayo... Nii-chan, angkat." Bisiknya was-was.
Naruto turun dari motor lalu melepas helmnya. Dalam beberapa langkah lebar dia sudah berdiri di depan Haruno Sakura, mengambal paksa handphone gadis itu dan menatap matanya dalam lalu tersenyum misterius. "Menghubungi seseorang?" Tanya Naruto sembari melepas jaket orange tebalnya.
Sakura berjalan cepat melewati Naruto, tidak peduli pemuda pirang itu menyita handponenya, dia harus pergi karena Naruto sangat berbahaya. "Apa maumu!?" Tanyanya kesal menatap tajam manik biru Naruto. Naruto menahan satu tangannya, tidak mengijinkan dia pergi. Dengan satu kali tarikan Sakura menabrak dada bidang Naruto, gadis itu memekik kaget yang di balas senyuman lima jari pemuda itu. "Kuantar kau pulang."
"Aku tidak mau!" Sakura berusaha menjauh tapi Naruto kembali menarik tangannya, membuat dia kembali jatuh dalam pelukan pemuda pirang menyebalkan itu. Sakura semakin kesal, dia merasa dipermainkan. "Apa sih maumu, kenapa jam segini kau masih ada di sini? Kenapa kau selalu mengangguku?" Sakura tidak berhenti meronta dalam pelukan kuat Naruto.
"Diamlah. Kau mau aku cium lagi!?" Ancam Naruto membuat nyali Sakura ciut seketika.
Sakura yang tingginya hanya sebahu Naruto mendongak menatap Naruto yang juga menatapnya. Perlahan, gadis itu menggigit bibir bawahnya lalu mencicit takut. "Tidak mau."
Sakura sudah berhenti memberontak. Naruto melepaskan pelukkannya lalu memakaikan jaketnya di tubuh Sakura. Gadis merah muda itu menurut dengan kepala menunduk menatap ujung sepatunya. "Hmm... Bagus. Sekarang cepat naik." Naruto menggiring Sakura seperti tahanan mendekati motornya.
"Tidak mau!" Dalam sekali hentakan keras Sakura melepas genggaman tangan Naruto pada tangannya, dan langsung berlari. Sempat-sempatnya Sakura memeletkan lidah mengejek. Naruto mendengus geli, mau melarikan diri eh? Tidak akan bisa. Batin Naruto percaya diri.
Tapi sialnya lari Naruto jauh lebih lebar dan cepat. Pemuda pirang itu berhasil menyusul Sakura dan menangkap tangan gadis itu. "Kau benar-benar minta dicium yah!"
Naruto memakaikan Sakura helem pikacu kuning miliknya lalu menepuk-nepuknya, Sakura melirik sinis dengan bibir mengerucut. Masih kesal. "Naik." Perintah Naruto sembari memakai helem. Setelah memastikan Sakura duduk Naruto menaiki motornya lalu melirik Sakura di belakang yang enggan memeluknya. "Tidak mau pegangan."
Sakura tidak menjawab melainkan buang muka kesal.
Mengangkat bahu tidak peduli Naruto melajukan sepeda motornya dengan kecepatan sedang. Sesekali diliriknya Sakura di belakang melalui kaca spion. Naruto tersenyum melihat wajah lucu Sakura yang mamakai helem pikacu yang sengaja dia beli untuk gadis itu beberapa minggu yang lalu. Naruto memelankan laju sepeda motornya saat sesuatu dalam saku celananya bergetar. Mengambil benda bergetar dalam sakunya Naruto mendengus saat melihat ID Card Sasori tertera di layar handphone Sakura. Dia mengangkat panggilan Sasori. "Urus saja diri sendiri. Dia bersamaku!" Triaknya tidak memberi kesempatan Sasori bicara lebih dulu lalu mematikan panggilan Sasori.
"Baka!" Sakura memikik tidak terima, tangan gadis itu tidak tinggal diam, mencubit pinggang Naruto. "Apa yang kau lakukan!" Gadis itu kembali mencubit Naruto.
"Sakit, Sakura."
Sakura tidak memperdulikan ringisan Naruto, kesempatan emas. Si pirang itu tidak mungkin membalasnya kan? Sakura kembali mencubiti Naruto. "Beraninya kau mengatakan itu padanya!" Sakura terus mengomel dan menganiyaya Naruto. Dia benar-benar gemas dengan pemuda pirang satu ini.
Kesal, Naruto melajukan motornya dengan kecepatan tinggi membuat Sakura memikik dan reflek memeluknya. Pemuda pirang itu tersenyum dan kembali menambah kecepatan.
Wussshhh!
"Kyaaahhh!"
OoO
Sasori menatap layar handphonenya dengan espresi kesal, detik berikutnya pemuda tampan berambut merah itu mendengus lalu menendang ban mobilnya. Bila dulu Sasori tidak punya alasan menghajar Naruto, kali ini dia memiliki dua alasan melakukannya. Pertama, pemuda pirang itu tlah manghajar temannnya. Kedua, pemuda pirang itu membawa lari adiknya. Memasukan handphone ke dalam saku celana jeans Sasori membuka pintu mobilnya kemudian pergi meninggal Pain dan Nagato yang baru kembali membeli minuman kaleng yang menatapnya bingung, mereka sedang ada di tempat parkir minimarket.
"Mau kemana?" Tanya Pain.
Kaca mobil Sasori terbuka. "jemput Sakura."
Naruto Namikaze, awas saja nanti!
Saat Naruto ingin membelok motor ducatinya ke kiri, mobil Audi RS4 menyalip motornya. Berhenti menghalangi jalannya. Naruto mendengus melihat mobil merah Sasori, sementara Sakura was-was dengan kedatangan Sasori. Gadis berambut merah muda itu mengigit bibir bawahnya gelisah melihat Sasori yang memakai pakaiian casual keluar dari dalam mobil. Naruto memutar mata malas melihat Sasori keluar dari dalam mobil dengan gaya yang sok 'yes'. Melihat Sasori mendekati motor Naruto dengan langkah tenang Sakura cepat-cepat turun lalu melepas helemnya membuat Naruto semakin kesal dibuatnya. Naruto menahan lengan Sakura yang akan berlari mendekati Sasori saat gadis itu melewatinya, ditatapnya Sakura tajam penuh ancaman. "Diam di sini." Ucap Naruto tegas tidak menerima penolakan.
Sakura menatap Naruto dan Sasori bergantian. Sasori memicing tajam, tidak suka melihat tangan Naruto menggenggam erat tangan adiknya, pemuda berambut merah itu mendengus remeh seraya menatap Naruto yang juga menatapnya. Tanpa melepas cekalan tangannya Naruto turun dari motor, satu tangannya melepas helem. Sudut bibirnya tertarik, menyeringai. "Sasori, eh?" Ucapnya dengan nada remeh.
Sasori melangkah tenang mendekati Naruto, begitupun Naruto. Sambil menyeret tangan Sakura pemuda pirang itu melangkah tenang mendekati Sasori. Sakura berusaha melepas genggaman tangan Naruto pada tangannya namun sulit, pemuda pirang itu mencengkram tangannya kuat. Ketika jarak mereka tinggal satu langkah mereka menghentikan langkahnya.
Sasori mengulurkan satu tangannya. "Berikan Sakura padaku." Ucapnya tanpa mengurangi ketajaman maniknya menatap Naruto.
Naruto memutar bola mata malas. "Kalau aku tidak mau, apa yang akan kau lakukan, hm?"
Mulut Sakura sedikit terbuka mendengarkan ucapan Naruto, dia berusaha melepas cengkraman tangan Naruto. "Naruto, apa yang kau lakukan." Ringis Sakura khawatir. Tatapan Sakura beralih pada Sasori yang sedang meremas kepalan tangannya.
"Oh, ya." Sasori tersenyum. "Sudah lama, kan? Kau ingin mencicipi kepalan tanganku." Senyum Sasori hilang digantikan mimik serius. Tanpa ba bi bu dia memukul wajah Naruto sampai pemuda pirang itu hampir tersungkur. Naruto yang belum siap mendapat pukulan tiba-tiba Sasori sedikit terhuyung ke samping, Sakura yang melihatnya menjerit. Naruto meringis merasakan ngilu di sudut bibirnya tapi tidak melepaskan cengkraman tangannya pada tangan Sakura.
"Sudah hentikan!" Teriak Sakura melihat Sasori akan meninju Naruto lagi. Gadis berambut merah muda itu menghentak kasar tangan Naruto sampai cengkramannya terlepas. Dia menahan tubuh Sasori yang siap meninju Naruto lagi. "Nii- chan, sudah. Ini salah paham."
Sasori menatap Sakura sekilas sebelum tatapannya ia alihkan pada Naruto yang meringis sakit dengan wajah terkejut. "Salah paham?" Sasori tertawa remeh. Ditatapnya Sakura yang menatapnya memohon. "Dia memang ingin mencicipi tinjuku Sakura, dia selalu cari gara-gara denganku. Kali ini aku tidak akan melepaskannya." Ucapnya dengan nada serius.
Naruto terpaku di tempatnya berdiri, tidak dia hiraukan sudut bibirnya yang berdarah. Dia diam mematung, mencerna panggilan Sakura pada Sasori. 'Selama ini dia cemburu pada orang yang salah. Sasori tidak memiliki hubungan special selain hubungan kakak adik. Sasori bukan saingannya, Sasori tidak bersalah. Tapi dia yang bodoh.' "Oh, ya Tuhan. Aku memusuhi calon kakak iparku, arrgghhh... ini pasti akan sulit." Naruto membatin. Ya, sulit. Sulit mendapat restu darinya. Naruto tidak melakukan perlawanan saat Sasori mencengkram kerah kemeja sekolahnya. Selama ini ia berfikir, Sasori selalu mengambil miliknya, teman dan gadis yang dia sukai. Tapi ternyata Sasori tidak mengambil Sakuranya, melainkan melindungi Sakura dari lelaki sepertinya. Bodoh! Kenapa dulu dia tidak mencari tahu tentang Sakura, mungkin tidak akan serumit ini. Dan mungkin dia tidak akan kehilangan dua sahabatnya.
"Nii- chan ..., aku mohon." Naruto mengalihkan tatapannya pada Sakura yang menahan kepalan tinju Sasori yang siap menghantam wajahnya, gadis merah muda itu terlihat begitu peduli dan khawatir padanya. Naruto suka espresi Sakura yang seperti ini. Diam-diam Naruto mengulum senyum tipis.
Sasori melepas kasar genggaman tangan Sakura pada lengannya. Dia hentak tangan gadis itu lalu melayangkan tinjunya pada wajah Naruto.
Buagh!
"Akh!"
Keduanya terdiam dengan mulut sedikit terbuka, syok melihat apa yang baru saja terjadi. Wajah Sasori dan Naruto tidak jauh berbeda, menampilkan raut wajah khawatir dan bersalah.
"Sakura- chan." Panggil Naruto dengan nada sarat akan rasa bersalah dan khawatir.
Sasori melepas kasar cengkramannya pada kerah kemeja sekolah Naruto, didekatinya Sakura yang tersungkur memegangi pipinya. "Sakura ...," panggilnya lirih. "Sakit? Maaf ... aku tidak sengaja." Disentuhnya pipi Sakura lembut, menuntun wajah gadis itu mendongak menatapnya, bibirnya berdarah sama seperti Naruto. Sasori menatap Sakura dengan tatapan bersalah, manik hazelnya menatap lembut Sakura yang tersenyum.
"Sakura- chan." Naruto ikut bersimpuh disamping Sakura. Dia baru akan mengusap darah di sudut bibir Sakura tapi Sasori mencengkram tangan serta menatapnya tajam penuh ancaman.
"Aku tidak apa-apa, sungguh!" Sakura coba meyakinkan keduanya kalau dia baik-baik saja. Gadis manis berambut merah muda itu menggenggam tangan Naruto dan Sasori yang saling mencengkram, ditatapnya Sasori seolah meminta melepaskan cengkraman tangannya pada tangan Naruto. Sasori memutar mata kesal, dengan ogah-ogahan dia melepas tangan Naruto dalam cengkraman. Naruto tersenyum, entah kenapa sakit di sudut bibirnya yang semakin membiru karena ditinju dua kali oleh dua orang berbeda menghilang. Hatinya menghangat, perutnya geli, dadanya sesak, dan itu semua karena gadis merah muda itu. Pembelaannya, senyumnya, ingin rasanya Naruto menarik Sakura dalam pelukkannya lalu mencium bibirnya.
Diusapnya rambut Sakura perlahan. "Jangan diulangi ... " Ucap Sasori lirih mengingatkan adiknya untuk tidak menjadi tameng untuk orang lain lagi. Dia abaikan Naruto lalu menarik tangan Sakura untuk ikut berdiri dengannya. "Kita pulang." Sasori memeluk bahu Sakura, menuntun Sakura mendekati mobilnya. Sakura melihat Naruto sebentar sebelum mengikuti langkah kaki Kakaknya, sementara Sasori melirik Naruto sinis seolah berkata 'Jangan dekati adikku lagi, berengsek!'
Mobil Sasori pergi membawa Sakura meninggalkan Naruto yang masih duduk bersimpuh, Naruto menatap mobil itu sampai mengecil lalu menghilang. Berdiri dari duduknya Naruto mengusap rambut pirang jabriknya lalu mendekati motor. Selesai memakai helem Naruto menghidupkan mesin motornya lalu membelok kekiri, melaju dengan kecepan tinggi. "Ah, Sial!"
.
.
.
Sasori menatap malas kedua sahabatnya yang sejak tadi asik bercanda di kamarnya, saling melempar makanan. Setengah jam yang lalu mereka membuat keributan di depan rumah, pedahal sudah tengah malam, Sasori berniat tidak membukakan pintu untuk mereka berdua karena mereka biang ribut yang hobi mengotori kamarnya. Sasori menyuruh penjaga rumahnya di pos jaga untuk tidak membukakan pagar untuk mereka berdua, tapi ternyata mereka cukup pintar dengan membuat keributan membunyikan klacson berkali-kali membuat kebisingan yang membuat Sasori tidak bisa tidur nyenyak. Sasori menghela napas sembari mengacak rambut merahnya.
"Mau kemana?" Tanya Nagato sembari meminum birnya. Pain melirik Sasori yang berdiri di depan pintu, menunggu jawaban. Sasori tidak menjawab melainkan memutar knop pintu perlahan. "Birnya habis, tolong ambilkan bir lagi yah." Pinta Nagato. Sasori hanya melirik mereka sekilas sebelum membuka pintu di depannya lalu menutupnya perlahan.
Pain tiduran di kasur Sasori yang empuk dengan kedua lengan yang di jadikan bantal. "Dia kenapa, sih?"
Nagato ikut menjatuhkan tubuhnya di kasur yang sama. "Seperti sedang memiliki masalah."
Mereka menatap langit-langit kamar lama, lalu saling menatap satu sama lain.
.
.
.
.
Sasori membuka pintu kamar Sakura perlahan, memastikan Sakura sudah tidur belum. Hazelnya menatap lembut Sakura yang tertidur di meja belajar, kedua tangan gadis itu terlipat rapih di atas meja dengan kepala yang bersandar di tangannya yang terlipat. Pelan-pelan Sasori mendekati Sakura, mengangkat tubuh gadis itu memindahkannya ke tempat tidur. Dia merapikan rambut merah muda gadis itu lalu menghela napas saat melihat sudut bibirnya yang membiru.
Sakura menggeliat sebentar sebelum membuka mata perlahan. "Nii- chan." Panggilnya dengan nada serendah mungkin.
Sasori tidak menjawab, melainkan menghidupkan lampu tidur berbentuk jamur tiram warna-warni di samping tempat tidur. Sebelum keluar kamar Sakura dia memamatikan lampu, tanpa mengatakan sepatah kata ataupun melirik Sakura dia keluar dari kamar gadis itu. Sakura meremas badcovernya, "Apa Nii- chan marah padaku?" Bisiknya pada diri sendiri.
.
.
.
Shikamaru dan Naruto berjalan bersama di lorong sekolah, di pundak keduanya tampak tas punggung yang tersampir di bahu. Naruto melihat kiri-kanan, depan-belakang, mencari Sakura tanpa memperdulikan tatapan-tatapan heran siswa-siswi yang melihatnya berangkat pagi. Shikamaru mengeluarkan sebatang rokok dari saku baju seragamnya lalu menghidupkan pematik api, belum juga api membakar ujung rokoknya Naruto sudah lebih dulu mengambil paksa rokok beserta pematik api miliknya. Shikamaru menatap Naruto. "Kau merokok?"
"Ya. Tapi tidak merokok di sekolah."
Shikamaru mendengus, pemuda berkuncir nanas itu berusaha mengambil kembali rokoknya. "Kalau begitu kenapa kau mengambil rokokku." Kesalnya karena Naruto mengelak saat ia mau mengambil rokoknya.
"Dilarang merokok di sekolah." Jawab Naruto acuh lalu melemparkan rokok dan pematik api milik Shikamaru ke tong sampah saat ia melewati tong sampah. Di sampingnya Shikamaru mengerang kesal. "Kau membuat pacarku marah-marah tiap hari karena melanggar peraturan."
Dahi Shikamaru berkerut, dia sudah merelakan rokoknya berakhir di tong sampah, ditatapnya Naruto serius. "Kau sudah jadian dengan Sakura?"
"Belum. Masih dalam proses. Aw! Hei!" Protes Naruto saat Shikamaru menjitak kepalanya. Shikamaru nyengir lalu berlari menuju atap sekolah. "Dasar." Kesal Naruto mengusap kepalanya.
Karena tidak menemukan Sakura dimanapun Naruto memutuskan mencarinya ke ruang Osis. Benar saja Sakura ada di sana, tidur di meja Osis dengan lipatan tangan yang dijadikan bantal. Pelan-pelan Naruto mengangkat kusri, meletakkan kursinya berhadapan dengan Sakura. Dia duduk di sana memperhatikan wajah polos Sakura yang lebam. Dilipatnya kedua tangannya di atas meja lalu menjatuhkan kepalanya, menatap dan memperhatikan Sakura dengan senyuman lembut. "Dia begitu manis dan polos saat tertidur." Gumamnya disertai tawa kecil. Mendengar lonceng tanda masuk berbunyi Naruto berdiri dari tempat duduknya. Dia membuka tas punggungnya mengeluarkan sekotak bento ukuran jumbo berisi sushi, sashimi, onigiri, tempura, takoyaki dan teriyaki buatan ibunya lalu meletakkan di samping lengan Sakura.
.
.
.
.
Terimakasih karena sudah menyempatkan mampir di kolom review, kalo ada nama yang belum tercatat komplain aja, aku siap edit :).
Sakurazawa Ai :), firdaus minato:), chitay narusaku :), nona fergie kennedy :), Ae Hatake :), nls :), Guest :), Saladin no jutsu :), Guest :), Mademoisellenna :), Hikari Haruno :), SR not AUTHOR :), The KidSNo OppAi II :), 7 :), Kei Deiken :), anto borok :), ohSehunnieKA :), Courrielyx :), Ndah D. Amay :), dearest :), lutfisyahrizal :), Motochika Chokosabe :), 1 :), Riela nacan :), yuri rahma :).
.
.
.
.
.
.
.
.
HalfStarAn :), Riela nacan :), Guest :), AnimeAnimonstaR :), Kei Deiken :), The KidSNo OppAi :), sarah :), Yamigakure no Ryukage :) Riyuzaki namikaze :), Erwin :), :), anto borok :), Lalaki224 :), Motochika Chokosabe :), yuri rahma :), Guest :), asti. :), lutfisyahrizal :), Saladin no jutsu Ae Hatake :), Aizawa Mizu :), ohSehunnieKA :), megamiiko :), Guest :), SR not AUTHOR :), nona fergie kennedy:), Eysha CherryBlossom:), Kimaru-Z :),
