Naruto © Masashi Kishimoto. AU, OOC, EYD, TYPO DAN SEJENISNYA.
.
.
.
Kushina membuka pintu kamar putranya. Wanita awal empat puluhan itu menghela napas pendek saat mendapati Naruto bertelanjang dada duduk bersandar di kepala ranjang dengan kedua tangan terlipat di belakang kepala sedang melamun sampai tidak menyadari kehadirannya. Kushina berdehem. Naruto tersadar dari lamunannya lalu menggaruk tengkuk sembari tersenyum kikuk saat melihat sang ibu memasuki kamarnya. "Ah, Kaa- chan." Dia membenarkan posisi duduknya, bersila di atas tempat tidur.
Kushina mendekati samping kiri tempat tidur Naruto mengambil remote AC yang di taruh di tempat khusus meletakan remote AC yang menempel di dinding lalu mematikan AC. "Menghidupkan AC, tidak pakai baju. Kau bisa masuk angin, Naruto." Omel Kushina dengan nada halus. Wanita cantik berambut merah itu mendekati Naruto di atas tempat tidur lalu duduk di sampingnya. "Kaa- chan perhatikan kau lebih banyak melamun akhir-akhir ini." Ucapnya dengan nada khawatir. Ini bukan pertama kali Kushina melihat Naruto melamun. Naruto menggaruk kepalanya lalu tersenyum canggung. "Ada apa?" Tanya Khusina lagi. Tangannya tak tinggal diam, mengusap rambut pirang jabrik Naruto lembut.
"Tidak ada apa-apa, Kaa- chan. Sungguh."
"Ada masalah di sekolah?"
"Akukan sudah bilang tidak ada apa-apa."
"Baik. Kalau Naruto tidak mau bercerita ..." Kushina mencubit pipi kiri Naruto. Pemuda itu meringis seraya mengusap pipinya. Ditatapnya Kushina dengan wajah merajuk. Dasar manja. "Kaa- chan akan cari tahu sendiri."
Naruto mengangkat bahu. "Aku memang sedang tidak ada masalah apapun, bukannya tidak mau bercerita."
Kushina menatap Naruto menyelidik lalu menghela napas. Wanita itu berdiri dari duduknya sembari mengusap rambut Naruto lalu melangkah mendekati pintu meninggalkan Naruto yang kini memeluk guling di atas tempat tidur.
Siapa yang menyangka pemuda tengil, urakan dan menyebalkan ini begitu dekat dengan ibunya, seperti anak mami. Tapi Naruto bukan anak mami.
Kushina membantu Minato melepas dasi, jas dan kancing-kancing kemejanya. Belum lama Kushina keluar dari kamar Naruto Minato pulang. Pria empat puluh lima tahun yang masih terlihat menawan itu merentangkan tangan seraya tersenyum sembari berjalan melewati pintu ganda pintu utama mendekati Kushina. Menyapa, memeluk dan mencium kening wanita itu membuat beberapa maid yang sedang kebetulan lewat dan asisten pribadi yang mengikutinya di belakang merona. Dan di sini lah Kushina dan Minato sekarang, di dalam kamar berdiri saling berhadapan.
Selesai mambantu Minato membuka jas dan kemejanya Kushina membawa jas dan kemeja kotor itu ke keranjang cuci yang ada di dekat pintu kamar mandi. Wanita berambut merah itu mendengus menahan senyum saat kedua lengan kekar Minato memeluknya dari belakang serta menghirup wangi di perpotongan lehernya, ayah dan anak sama manjanya. "Akhir-akhir ini sikap Naruto sedikit aneh, Minato- kun. Aku khawatir." Dia berucap seraya mengelus lengan Minato yang melingkari perutnya.
Minato melirik Kushina. "Aneh kenapa? Dia minta adik?"
Kushina mencubit kesal lengan Minato, kesal karena pria itu malah menggodanya. "Aku serius, Minato."
"Aku juga serius, Anata."
"Terserah kau sajalah, aku tidak sedang bercanda." Kesal Kushina. Wanita itu melepas lengan yang melingkari perutnya lalu berniat pergi meninggalkan Minato namun pria tampan berambut pirang itu menahan satu tangannya, menariknya kuat sampai jatuh dalam pelukkan Minato. Pantas saja Naruto seperti itu, buah jatuh tidak jauh dari pohon, kan? "Aneh kenapa?" Kali ini Minato lebih serius.
"Dia lebih banyak melamun dan lebih sering di rumah. Kau taukan dia seperti apa. Aku khawatir ada sesuatu."
"Kau seperti tidak pernah remaja saja, anata."
"Maksudmu?" Kushina mendelik tajam.
Minato menggaruk kepalanya seraya tersenyum. "Ah, sudahlah. Kenapa kau sensitif sekali sih."
Kedua tangan Kushina terlipat di bawah dada. "Aku sensitif? Kau yang tidak bisa serius. Ini Naruto. Putra kita satu-satunya. Sangat wajar kalau aku mengkhawatirkannya."
"Setidaknya dia masih mau menghabiskan makanannya, kan?"
"Kalau makanan tidak berubah, bahkan jadi jauh lebih rakus."
"Rakus?"
"Hm." Kepala Kushina mengangguk mantap. "Dia selalu membawa bekal dengan porsi extra banyak."
Minato memasang wajah berpikir. Jari telunjuknya dia letakkan di bawah dagu lalu melirik Kushina kemudian menatapnya serius. "Jangan-jangan ..."
"Jangan-jangan, apa?" Tanya Kushina sangat penasaran.
"Jangan-jangan Naruto cacingan."
Dengan berapi-api Kushina mendekati tempat tidur lalu mengambil salah satu bantal yang tergeletak di atasnya. Dipukulkannya bantal itu pada tubuh tinggi tegap Minato kesal. "Minato. Aku serius!"
Minato tertawa menanggapi pukulan-pukulan Kushina. "Dasar menyebalkan!"
.
.
.
.
Naruto memeluk guling dengan kedua mata terpejam erat. Dia tidak benar-benar tidur, hanya memejamkan mata karena terlalu pusing dengan semua yang ada dalam pikirannya.
Drrtt... Drrtt... Drrt..
Naruto membuka mata malas, dia melirik hpnya yang bergetar dengan layar menyala yang tergeletak di samping kepalanya. Pemuda tampan berkulit tan itu mengambil hpnya malas lalu membuka pesan yang baru masuk.
Dari Sasori.
Membaca pesan Sasori Naruto cepat-cepat mengambil kaus yang tergantung di balik pintu kamarnya. Menyambar kunci motor di meja belajar dia berjalan cepat keluar kamar. Sembari menuruni anak tangga Naruto memakai kaus putih bertulis London di punggung. Sampainya di garasi dia mamakai jaket kulit yang tersampir di motor, memakai helem lalu pergi.
Kushina mengetuk pintu kamar Naruto, di sampingnya berdiri Minato mengenakan kaus putih polos di padu dengan jeans pendek.
"Naruto, sudah waktunya makan malam." Dia kembali mengetuk pintu.
Seorang pria paruh baya berpakain formal mendekati Kushina. Kepala pelayan itu menunduk sebentar sebelum berkata. "Maaf Uzumaki- sama. Tuan muda sedang keluar."
"Eh. Yang benar? Sejak kapan?"
"Lima menit yang lalu."
Kushina menyikut Minato. "Kau dengar? Dia pergi tidak izin lebih dulu."
Minato diam, dia sedang berpikir. Pria itu menatap Kushina. "Nanti aku bicara dengannya."
.
.
.
.
.
Naruto menghentikan motornya saat sampai di jalan yang ada di depan sebuah taman. Dia melepas helem lalu mendekati Sasori yang bersandar di body mobil merah miliknya. Dia biarkan motornya terparkir asal dan terus melangkah medekati Sasori, pria itu meliriknya sekilas lalu kembali memainkan HP yang dia genggam.
"Aku datang seperti yang kau minta, Sasori. Apa yang ingin kau lakukan, sekarang?"
Sasori menyeringai. Pemuda berambut merah itu melempar tangkap HPnya lalu memasukannya dalam saku celana jeans. "Yang inginku lakukan, menghajarmu. Kau sudah lama ingin berkelahi denganku, kan Naruto?"
"Ya. Dulu seperti itu." Sasori mendekat. Naruto tetap berdiri di tempatnya. "Karena kau mengambil dua temanku." Tidak peduli Sasori mendengus remeh mendengar kata-katanya Naruto kembali berkata. "Aku sangat membencimu. Apa lagi saat tau kau dekat dengannya, aku semakin membencimu. Aku baru menyadari kalau aku salah membencimu. Aku membenci orang yang salah. Kau kakaknya, sangat wajar kakak adik dekat."
"Aku tidak peduli, Naruto! Aku tidak peduli dengan semua omong kosongmu!"
Buagh!
Kushina dan Minato duduk di sofa ruang TV dekat tangga, saling memeluk satu sama lain, berbisik-bisik layaknya remaja yang sedang kencan. Minato tidak henti-hentinya menggoda Kushina, membisikan kata-kata manja dan memeluk pinggang ramping wanita itu. "Sudah lama kita tidak seperti ini, kan?" Bisiknya lalu mencium pipi Kushina membuat pipi putih wanita itu merona karena ciumannya.
Naruto melangkah cepat tanpa menghiraukan ayah dan ibunya yang sedang bermesraan. Minato dan Kushina menatap Naruto yang melangkahkan kaki cepat menaiki anak tangga. Wanita berambut merah itu menutup mulutnya yang sedikit menganga melihat wajah Naruto babak belur. "Minato!"
Minato mendesah, dengan ogah-ogahan dia bangun dari singgasananya mengikuti Naruto. Sampainya di depan kamar Naruto pria tampan itu mengetuk pintu kamar Naruto berulang-ulang. Tidak ada jawaban. Membuka pintu kamar Naruto perlahan Minato tersenyum saat mendapati Naruto sedang melepas kaus putih polos yang sedikit ternoda darah dari tubuh tegapnya. "Berkelahi, lagi?" Dia berjalan masuk kamar.
Naruto melirik Minato sekilas lalu mendekati lemari, mengambil kaus abu-abu lengan panjang lalu memakainya.
"Ada masalah apa, hm?" Dia mendekati tempat tidur lalu menidurkan tubuhnya di sana. Naruto ikut tiduran di samping Minato, menutup mata dengan satu lengan. "Apa ada hubungannya dengan seorang gadis?" Sebagai sesama lelaki Minato tentu mengerti dengan tingkah aneh Naruto saat ini karena dia pun dulu seperti itu. Terdengar helaan napas dari Naruto, Minato menoleh menatap Naruto yang kini menatap kosong langit-langit kamar. "Ini akan sulit Too- chan. Sangat sulit, Too- chan tidak akan mengerti."
"Dan kau menyerah? Payah sekali."
Naruto menatap Minato tak terima. "Selama dua tahun, dua tahun aku terus berusaha. Aku lelah."
Minato terkekeh. Pria itu bangun dari tidurannya, mengacak gemas rambut kuning Naruto membuat sang empunya semakin cemberut. "Baru dua tahun. Too- chan yakin kau tahu apa yang harus kau lakukan, Naruto. Jangan menyerah kalau kau yakin dia memiliki rasa yang sama denganmu, wanita memang rumit." Minato tersenyum. "Aku memang bukan seorang ayah yang bijaksana yang pandai berkata-berkata, tapi aku ingin mengatakan sesuatu yang baik untuk putraku."
Kata-kata Minato memang tidak ada bijak-bijaknya dan sedikit absurt tapi cukup bisa membuat Naruto merenung. "Obati lukamu, jangan sampai Kaa- chan mengomel, ok?" Nasihat Minato. Naruto merespon malas. "Hm."
...
Mobil yang mengantar Naruto pergi sekolah berhenti tidak jauh dari gerbang KHS. Pemuda pirang itu keluar dari mobil yang mengantarnya dengan wajah penuh memar yang merengut, tidak cerah seperti biasanya. Naruto menghela napas, disampirkannya tas punggungnya di bahu lalu berjalan malas melewati gerbang. Langkah Naruto terhenti saat melihat Sakura yang sedang melamun, entah Karena apa, di taman yang ada di halaman sekolah. Dia melangkah cepat, berniat mendekati Sakuta, tapi langkah kakinya terhenti saat ingat kejadian tadi malam. Haahh... Sasori melarang Naruto mendekati/mengganggu Sakura, dan mengancam akan memindahkan Sakura dari sekolah ini kalo dia masih nekat mendekati adiknya. Bibir Naruto mengerucut Naruto kembali menghela napas, dengan langkah malas dan diseret seret Naruto berjalan menuju kelasnya. Duduk diam di kursi dengan kepala di atas lipatan tangan. Dia tidak pernah segalau dan sekacau ini sebelumnya, tidak pernah.
Sakura merengut di taman sekolah yang sepi, ini tentang Sasori dan juga tentang tugasnya sebagai ketua osis. Dia heran sekaligus kesal pada Sasori yang akhir-akhir ini bersikap acuh tak acuh, tidak hangat seperti biasa. Bahkan Sasori tidak pernah lagi mengantar dan menjemputnya sekolah setelah kejadian itu. Sasori juga jarang di rumah, lebih senang menghabiskan waktu dengan Pain dan Nagato, temannya. Sakura juga kesal lantaran tidak ada lagi siswa-siswi bandel yang melanggar aturan, kalo seperti ini kan dia tidak punya pekerjaan, hanya mengerjakan tugas osis biasa. Kenapa pula Naruto tidak membuat ulah, pedahal kalo diingat Naruto yang paling sering cari masalah. Entah Naruto kesambar apa sampai bisa jadi seperti ini, jadi murid teladan yang tidak melanggar aturan. Kalo seperti ini, Sakura kan jadi rindu pada si pirang pecicilan itu. Tidak ada lagi Naruto yang menyebalkan, tidak ada lagi Naruto yang pecicilan, tidak ada lagi Naruto yang seenaknya. Sakura menampar pelan pipinya. "Baka! Dia tidak buat masalah itu bagus! Aku tidak perlu melihat wajah menyebalkan si baka satu itu! Itu bagus. Itu bagus Sakura. Ah, kenapa kau bodoh sekali si... Merindukan si bodoh itu." Sakura menutup mulut dengan kedua tangan. Manik hijau emeraldnya melirik kanan-kiri gelisah, takut ada yang mendengar ucapannya. Benar saja ada yang dengar. Sakura mengerang, mengerucutkan bibir kesal saat kepala Tenten melongok dari bahu kiri dan kepala Mei melengok dari bahu kanan. Kedua gadis itu tersenyum aneh sambil mengedip-edipkan mata seperti kucing kelilipan. "Rindu pada siapaaaa ..." Goda mereka. Sakura mendengus, sebisa mungkin dia mengendalikan detak jantungnya, berharap Mei dan Tenten tidak mendengar.
Sakura berdiri, menatap Mei dan Tenten bergantian. "Tidak rindu pada siapa-siapa." Dustanya memasang wajah meyakinkan kedua gadis itu.
Tenten dan Mei saling menatap lalu kembali menatap Sakura. "Tidak rindu pada siapa-siapa Tenten, kau tidak dengar." Sindir Mei lalu mengedipkan sebelah matanya. Sakura melipat tangan di bawah dada dan membuang muka.
Tenten terkikik lalu berdehem pelan. "Ouuhhh... tidak rindu sama siapa-siapa. Eh, itu NARUTO JALAN SAMA HINATA!" Tenten menunjukan jarinya asal. Sakura menoleh cepat mengikuti arah telunjuk Tenten. Gadis merah muda itu menatap kesal Tenten dan Mei yang terkikik geli. "KALIAN BERDUA CEPAT KEMARI! DASAR MENYEBALKAN!" Sakura berteriak, mengejar Tenten dan Mei yang berlari sambil tertawa.
"NARUTOOO TOLONG KAMI!" Teriak keduanya, berniat mengejek Sakura. Sakura semakin kesal, dia berlari mengejar Tenten dan Mei yang masih saja tertawa. "Tidak lucu!"
"Tapi kau lucu, Saku!" Teriak Tenten dan mendapat lemparan sepatu dari Sakura.
Mereka berlari di halaman sekolah, menjadi pusat perhatian satu sekolah, ter masuk Naruto yang mengintip dari jendela. Naruto tersenyum kecil melihat tingkah kekanak-kanakan Sakura dan dua temannya.
Naruto menghentikan langkah kakinya saat melihat Sakura bersembunyi di balik dinding dekat koridor yang letaknya tidak jauh dari ruang OSIS. Naruto melangkah pelan mendekati Sakura, ikut berjongkok di samping Sakura yang sedang memperhatikan sesuatu. Apa mungkin Sakura sedang main peta umpet dengan tiga sahabatnya? Tanya Naruto dalam hati. Naruto mendekati Sakura, wajahnya persis di samping wajah gadis itu. Hanya tinggal beberapa senti lagi pipi mereka menempel. Sakura yang terlalu serius, dengan entah apa, tidak menyadari Naruto yang sangat dekat dengannya. Gadis itu begitu serius memperhatikan pintu ruang OSIS yang sengaja dia buka. Naruto yang sangat penasaran tidak bisa menahan diri lebih lama lagi untuk bertanya. "Apa yang kau lihat?" Bisiknya pelan.
Sakura cuek, tidak menyadari kalau itu Naruto. Manik emeraldnya mengerjap-erjap lalu menjawab. "Tidak lihat apa-apa." Balas gadis Itu dengan bisikan.
Alis pirang Naruto naik. "Lalu apa yang kau lakukan?"
Sakura tersenyum. "Sedang mencari tahu."
"Mencari tahu apa?"
Senyum Sakura belum hilang, bahkan kini semakin lebar. Gadis itu tersenyum manis, sangat manis sampai hampir membuat Naruto yang melihatnya terkena penyakit gula. Sakura memeluk kedua tangannya dengan kedua mata terpejam, dia terlihat bahagia sekali. Naruto tersenyum. "Orang yang menaruh bekal di meja OSIS. Makanannya enak sekali sampai aku ingin memeluk dan mencium orang itu," Naruto terkekeh. Sebisa mungkin dia menahan tawanya yang siap meledak sangking senangnya mau dicium Sakura. "Masakannya seperti masa Kaa- chan." Raut wajah Sakura berubah sedih. "Aku jadi rindu Kaa- chan."
Masih dengan senyumnya Naruto mengeluarkan bekal dari ranselnya hati-hati lalu memberikannya pada Sakura. "Untukmu."
Sakura yang tiba-tiba mendapat kotak bekal terkejut. Reflek dia menolehkan kepalanya ke samping di mana ada kepala Naruto di sana. Mereka sama-sama menoleh, bibir keduanya bertemu, hanya saling menempel, tidak lebih. Tapi efeknya sangat berlebihan. Ya, sangat berlebihan karena membuat mereka diam selama lima menit seperti patung. Sakura mengerjap, Naruto tersenyum. Sakura diam terpaku, senyum Naruto semakin lebar. Sakura gugup, Naruto membuka mulut, mau mengulum bibir merah muda Sakura yang menempel dengan bibirnya. Bibir Naruto mengecup lembut bibir atas Sakura kemudian beralih pada bibir bawahnya, sekitar dua puluh detik dia mengulum bibir bawah Sakura lalu menghisapnya. Sakura terbuai ciuman dan hisapan lembut Naruto, dia memejamkan mata. Tangannya naik mencengkram kemeja seragam Naruto. "Enghhh ..." Dia mengerang. "Narutoohhh ..." 'Eh, Naruto?' Seperti tersambar petir disiang bolong Sakura membuka mata, manik emeraldnya membulat melihat wajah Naruto tepat di depan wajahnya. Kedua mata Naruto terpejam erat, sangat menikmati cumbuan tidak resminya. Peduli amat pada Sasori dan ancamanannya. Lagi pula Sasori juga tidak tahu, kan?
"Apa yang kau lakukan!" Teriak Sakura. Dia mendorong dada Naruto.
"Berciuman." Jawab Naruto cuek lalu kembali menarik Sakura, mau mencium gadis itu lagi.
Wajah merah Sakura menatap Naruto ngeri dan ... mau? Eh, mau? "Kyaaahhh... mesum! Pergi!"
TBC
Kalo Naruto dan Sakura jadian, tamat dong ceritanya. Ini hanya fic ringan pelepas lelah :) jadi, tidak ada konflik yang berat, hanya konflik ringan. Ini dibuat untuk membuat tersenyum. No cinta segi banyak.
Kalo ingin fic sedih tunggu Masochist Love, Insyallah... ficnya sedih dan bisa bikin nangis.
Special thanks to ...
yuri rahma :) , michele chen :) , chitay narusaku :) , nona fergie kennedy :) , Saikari Nafiel :), Blossom-Hime :), Gray Areader :), GnB Lucky22 :), Lullaby Cherry :), Aizen L sousuke :) , SR not AUTHOR :), Hikari Shannaroo :), febriano :), OhhunnyEKA :), lutfisyahrizal:), Ndah D. Amay :), Sakurazawa Ai:), cahayapuji22 :), Awim Saluja :), anto borok :), Azure Shine :), Clare Sakiness :), Kei Deiken :), Ae Hatake :) afung. fama 1 :)
