Naruto dengan sekantung plastik belanjaan yang berisi makanan ringan berjalan tenang mendekati Aston Martin Vanquish kuningnya, ia baru saja keluar dari minimarket membeli cemilan malam. Sambil bersiul ringan Naruto membuka pintu belakang mobil kemudian memasukkan belanjaannya di sana. Yang dia terkejut adalah saat tiba-tiba seseorang mendorongnya paksa, menekan kuat tubuhnya ke body mobil. Pemuda tan itu mendengus dan sedikit meringis merasakan tubuhnya yang sedikit sakit karena beradu dengan body mobil yang keras. Melalui ekor matanya Naruto melirik kaca mobil melihat siapa yang menekannya dari belakang. 'Haahh... Sasori.' Naruto menghela napas dan menahan diri agar tidak menghajar 'calon kakak iparnya itu'. "Ada apa lagi? Lebam di wajahku belum sembuh dan kau akan menambahnya lagi?" Tanyanya dengan nada malas dibuat-buat.

Sasori menggeram lalu membalik tubuh Naruto menghadap dirinya. Ditekannya kuat tubuh Naruto ke body mobil. "Sudah aku peringatkan padamu! Jauhi adikku!" Teriaknya marah, mata hazelnya berkilat marah.

Naruto meringis merasakan cengkraman pada kerah kemeja yang semakin mengerat, rasanya seperti dicekik, ia menahan tangan Sasori di kerah kemejanya. "Apa maksudmu? Kau salah paham. Aku tidak mendekati Sakura seperti yang kau mau." Ucap Naruto dengan napas terengah-engah. Sasori mencengkram kerah kemejanya membuat ia kesulitan bernapas.

Sasori mendengus. Ditatapnya Naruto remeh. "Tidak mendekatinya, tapi menciumnya, itu yang kau maksud salah paham, heh?"

Kedua mata Naruto sedikit membulat tak percaya, bagaimana Sasori tahu? Pikirnya penuh tanya.

"Kau tidak perlu tahu aku mengetahuinya dari siapa. Yang harus kau tau, aku memiliki bukti nyata, Naruto. Dan kali ini aku tidak akan melepaskanmu."

Belum sempat Sasori membanting tubuh Naruto ke tanah Naruto lebih dulu mencengkram tangan Sasori yang mencengkram kerah kemejanya lalu membalik keadaan, menekan tubuh Sasori ke body mobil, satu tangan Naruto yang bebas mengunci tangan Sasori yang satunya membuat Sasori tidak bisa bergerak. Sasori mendengus dan berusaha melepaskan diri dari kuncian Naruto.

"Sebenarnya aku tidak mau melakukan ini pada calon kakak iparku, tapi..."

"Cih!" Sasori mendecih tidak suka.

Naruto terkekeh, apa ia semenyebalkan itu? Naruto membawa Sasori mendekati mobil milik Sasori seperti seorang Polisi mambawa seorang pencopet, satu tangan Naruto memegang kerah belakang kemeja Sasori sementara tangan satunya mencengkram kedua tangan pemuda berambut merah itu. Sasori tidak henti-henti bergerak liar berusaha melepaskan diri mambuat Naruto sedikit kesulitan, dan mendengus serta menyumpahi Naruto. Sampainya di dekat mobil merah metalik milik pemuda merah itu tangan Naruto yang tadi memegang kerah belakang Sasori membuka pintu kemudi lalu mendorong Sasori masuk.

Sasori menatap tajam dan penuh ancaman, ingin rasanya ia menonjok wajah rubah sok polos Naruto.

"Jangan menatapku seperti itu, aku hanya pinjam ponselmu." Kata Naruto dengan seringai tengilnya. Naruto mengedipkan sebelah mata pada Sasori yang tampak syok kemudian berlari mendekati mobilnya dan melaju dengan kecepan tinggi.

Sasori meraba saku kemeja dan saku celananya, tidak ada! 'Sialan! Naruto benar-benar mengambil ponselnya.' Laki-laki berambut merah itu memukul stir mobilnya kesal. "Berengsek!"

.

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto. AU, OOC, EYD, TYPO DAN SEJENISNYA.

.

.

.

.

Semua siswa-siswi menatap takjub Shino Aburame yang berjalan santai di lorong sekolah. Bahkan beberapa siswi menatap pemuda yang biasa berpenampilan culun itu tanpa berkedip dan mulut mereka menganga dengan lelehan liur di sudut bibir. Sementara para siswa mendecih tidak suka, mereka menatap tidak suka Shino yang berjalan santai sambil senyam-senyum.

Mei Terumi dan Tenten yang kebetulan lewat kolidor bersama Sakura membulatkan mata terkejut melihat Shino dengan penampilan barunya. Mei menarik satu lengan Sakura yang sedang serius berkutat dengan berkas di tangannya membuat Sakura risih dan mendengus. "Saku, lihat!" Bisik Mei dengan nada penuh kekaguman.

Sakura menghentak lengan Mei yang mengait lengannya dan mengganggu acara membaca berkasnya. Gadis pink itu mendengus tidak peduli kemudian kembali membaca kertas penting di tangannya. Ia berjalan santai yang kemudian ditahan Mei dan Tenten. "Ish! Apasih!" Sakura mulai kesal. Diplototinya Tenten dan Mei bergantian.

Mei dan Tenten tampak sedang menatap kagum sesuatu, satu alis Sakura naik melihat wajah mesum kedua sahabatnya. Tenten menangkup kedua sisi wajah Sakura dari belakang dan memaksa gadis pink itu menatap lurus ke depan. Sakura terdiam. Kedua matanya berkedip beberapa kali melihat pemuda yang berdiri tidak jauh darinya sambil senyam-senyum.

Shino Aburame, pemuda terculun satu sekolah. Ia selalu memakai dasi kupu-kupu yang terlihat mencekik lehernya, pakaiannya selalu rapih, selalu datang lebih awal dari murid lainnya, murid paling teladan yang selalu memakai kaca mata bulat tebal, yang membuatnya terlihat seperti pemuda bodoh dari tiongkok. Dia berdiri tidak jauh dari Sakura, rambut hitamnya yang biasa disisir klimis kini terlihat jabrik seperti sapu lidi. Seragamnya yang biasa terlihat 'terlalu' rapih dengan dasi kupu-kupu yang selalu menghiasi lehernya kini terlihat normal, tidak ada dasi kupu-kupu dan dua kancing atasnya terbuka. Wow. Dan kacamata bulatnya juga sudah tidak ada digantikan kacamata kotak keren. Shino terlihat tampan. Sakura berkedip, Mei dan Tenten cekikikan saat melihat Shino berjalan mendekati mereka.

Setelah berkedip beberapa kali Sakura kembali cuek dengan perubahan Shino saat ini, gadis berambut merah muda itu kembali membaca berkas OSISnya sebelum terhuyung ke depan karena seseorang yang mendorongnya dari belakang. Sakura mendengus kemudian menajamkan penglihatan, bersiap memberi tatapan tajam penuh ancaman pada siapa saja yang mendorongnya dari belakang. Sama halnya dengan Sakura, Tenten dan Mei juga mendengus sebal pada orang yang seenaknya mendorong mereka dari belakang.

Naruto menatap malas Sakura, sekitar sepuluh detik, kemudian berjalan melewatinya begitu saja. Tenten tampak mengepalkan tinjunya kesal. Sementara Mei menatap tajam dan mengomeli Naruto. Naruto mengangkat bahu tidak peduli kemudian berjalan mendekati Shino. Shino gemetaran saat tanpa sengaja matanya bertemu pandang dengan mata biru Naruto. Pemuda pirang itu sedikit merapatkan tubuhnya dengan tubuh kaku Shino, kemudian berbisik tajam. "Kalau kau tidak ingin sepeda motormu kehilangan kedua rodanya, temui aku di atap sekolah jam istrirahat pertama." Naruto melewati Shino yang menegang kaku. Pemuda tan itu menyeringai kemudian berlalu pergi membuat para siswa siswi menatapnya penasaran. 'Apa yang Naruto bisikkan pada Shino?'

"Kau lihat itu?" Tanya Mei tiba-tiba. Sakura mengangkat bahu, Tenten menggeleng. "Mereka berdua,"

"Ya. Lalu?" Tanya Tenten acuh tak acuh.

Mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka yang sempat terhenti. "Seperti ada yang aneh." Gumam Mei yang kemudian tidak disahuti kedua temannya.

...

Naruto berdiri bersandar pada kawat pembatas atap gedung sekolah. Pemuda tan itu tampak santai dengan ponsel layar datar berwarna hitam di tangannya. Ia memainkan jemarinya di layar ponsel kemudian tersenyum saat melihat foto dirinya dan Sakura berciuman yang membuat Sasori murka. Naruto menatap foto di layar ponsel Sasori lama, sekitar lima menit, ia sedang memikirkan sesuatu. Kalau tidak salah ini foto saat ia mencium Sakura di dekat ruang OSIS, saat ia memberi Sakura sekotak bento, tapi siapa yang memotretnya?

Naruto memeriksa kotak pesan Sasori, mulai dari pesan biasa, multimedia sampai pesan email pun ia periksa. Naruto mendengus saat tahu siapa yang memotret dan megirim foto ini pada Sasori, Aburame Shino. Si culun itu ternyata tidak seculun penampilannya. Sesuai dugaannya, sejak awal Naruto memang sudah menaru curiga pada si kacamata bulat Shino Aburame. Yah, mengingat saat ia akan menemui Sakura di ruang OSIS ia berpapasan dengan Shino.

Naruto mendengus. "Hahh... orang itu," ia memasukkan ponsel Sasori ke saku blazernya. "Dia benar-benar minta diberi pelajaran." Gumamnya kesal. Naruto menyeringai saat ingat ia sudah berpesan pada Shino untuk menemuinya di tempat ini. 'Kalau si culun itu tidak datang, awas saja nanti.' Batinnya picik.

...

Naruto tidur di atap sekolah dengan kedua lengan yang dijadikan bantal melewatkan pelajar pertama.

Kriet.

Naruto sedikit membuka mata mengerling ke arah pintu melihat siapa yang baru saja masuk. Awalnya Naruto pikir itu Shino tapi setelah melihat siapa yang berdiri di ambang pintu sambil melipat tangan di bawah dada Naruto menyeringai.

"Kau! Apa yang kau lakukan di sini!"

Naruto bangun dari tidurnya kemudian bersandar pada dinding kawat pembatas. "Istirahat." Jawab Naruto sambil pura-pura menguap.

Sakura berjalan mendekat kemudian menjewer telinga pemuda pirang menyebalkan itu. "Ini belum jam istirahat. Cepat kembali ke kelas."

"Malas, Sakurah. Ah- ah ah! Hey, sakit." Naruto meringis sambil memegangi telinganya yang ditarik gadis pink pantat sexy itu.

Sakura semakin keras menarik telinga Naruto, memaksa rubah menyebalkan itu untuk berdiri. "Aku tidak peduli. Kau harus kembali ke kelas."

"Iya-iyah! Aku akan kembali ke kelas, tapi lepaskan telingaku dulu."

Sakura melepaskan jepitan mautnya dari telinga Naruto dan kembali melipat tangan. Ditatapnya Naruto tajam.

Naruto meringis sambil mengusap telinga yang tadi dijewer Sakura kemudian melirik gadis itu yang dibalas sipitan mata waspada. "Apa?!" Tanya Sakura galak dengan kedua mata menyipit waspada.

Naruto nyengir sambil mengacak rambut bagian belakangnya. "Tidak ada. Aku kembali ke kelas..." kemudian berjalan melewati Sakura dan ketika gadis itu lengah dengan cepat ia mengecup pipi putihnya kemudian berlari cepat meninggalkan Sakura yang kini wajahnya memerah. "Byee... Sakura- chan!" Teriak Naruto dari balik pintu atap yang sudah tertutup.

"Baka Naruto!"

...

Naruto tidak henti-hentinya mendengus bosan, pemuda berkulit tan itu duduk bersandar pada dinding atap. Sudah hampir lima belas menit ia menunggu Shino, tapi si culun kaca mata tebal itu belum juga menunjukan batang hidungnya. Di mana Shino? Jam istirahat sebentar lagi berakhir, apa si culun pengecut itu tidak berani menemuinya di sini. "Haahhh... dia benar-benar minta diberi pelajaran."

Naruto berjalan cepat menuruni anak tangga meninggalkan atap berniat mencari Shino. Ia menyusuri depan kelas yang ada di lantai tiga dan menghentikan langkahnya saat melihat sekumpulan siswa-siswi yang berdiri berdesakkan melihat ke bawah dan suara riuh siswa-siswi yang berteriak 'terima' 'jangan terima!' Naruto mengikuti arah pendangan mereka, sebuah lapangan basket outdoor dan Shino Aburame yang kini tampan dengan bunga di tangan yang sedang berlutut di depan Haruno Sakura. Naruto mendecih, ditatapnya tidak suka Shino yang sok romantis di bawah sana. Apa-apaan itu.

...

Sakura merenggangkan otot-ototnya yang kaku, dia baru kembali dari ruang guru untuk melaporkan sesuatu sementara teman-temannya sudah lebih dulu pulang. Gadis berambut pink itu menautkan kedua alisnya saat melihat Naruto duduk manis di depan meja OSIS, mejanya. "Apa yang kau lakukan di sini?" Sakura menatap waspada, Uzumaki Naruto terlalu berbahaya.

"Jangan menatapku seperti itu, kau membuatku tak nyaman." Sakura merengut mendengar ucapan Naruto. "Nah. Itu lebih baik." Ucap Naruto lagi sambil berdiri dari kursi. Pemuda tan itu kemudian meletakkan ponsel hitam layar datar Sasori di atas meja. "Aku hanya mau mengembalikan ini." Sakura menatap Naruto bingung dan mengerjap beberapa kali. Naruto mengerling ke arah Sakura kemudian mengambil ransel hitam miliknya yang tergeletak di lantai. "Katakan pada Sasori terimakasih. Aku pulang duluan, ada urusan mendadak." Katanya lagi sambil menyampirkan ranselnya di bahu saat mendapat tatapan bingung dari gadis itu.

Sakura mendengus setelah Naruto keluar dari ruang OSIS. "Dasar aneh. Siapa juga yang mau tau dia ada urusan atau tidak." Kemudian mendekati mejanya mengambil ponsel hitam yang tadi Naruto taruh di sana. Dahi Sakura mengernyit melihat ponsel Sasori, tidak ada yang aneh sebenarnya pada ponsel Sasori, dia hanya sedikit bingung. Bagaimana bisa ponsel Sasori ada pada Naruto?

...

...

Pagar rumah tingkat dua minimalis di sebrang jalan terbuka otomatis dan tak lama setelahnya seorang pemuda berambut hitam acak-acakkan mengendarai motor Honda Tiger hitam keluar dari dalam rumah itu.

Naruto di atas motor ducati merah meniup permen karet kemudian memakai helem merah dengan garis hitam dan mengikuti pemuda berambut hitam tadi. Pemuda blonde itu mengikuti motor tiger di depanya dan saat tahu tujuan motor itu ia berbelok tajam mengambil jalan pintas.

Setelah melewati gang- gang sempit demi memotong jalan pemuda berambut hitam jabrik itu akhirnya Naruto sampai di jalan aspal. Dengan sengaja ia memarkir motornya di tengah jalan. Naruto menyeringai ketika melihat motor tiger yang menuju ke arahnya, ia lepas helemnya kemudian duduk gagah di motor ducati kesayangannya. "Aburame Shino." Ucapnya disertai seringai picik.

...

Shino mengendarai santai sepeda motornya, bersiul-siul dan sesekali melihat pinggiran jalan di mana banyak pejalan kaki di sana. Putra tunggal Aburame itu tersenyum melihat anak-anak kecil yang berlari dan tertawa di stand-stand makanan yang ada di pinggiran jalan, ada stand es krim, gula kapas, dango dan masih banyak lagi. Perlahan keramaian itu terlewati dan Shino memasuki kawasan sepi. Awalnya semua baik-baik saja, Shino tetap santai mengendarai sepeda motornya tapi tidak setelah ia melihat siapa yang duduk di motor besar yang terparkir di tengah jalan.

Shino mengerem sepeda motornya sampai terdengar decitan ban yang beradu keras dengan aspal. Detak jantung Shino berpacu dengan cepat. Keringat dingin menetes dari pelipisnya. Tubuhnya mendadak kaku melihat Naruto yang berjalan mendekat. "Hai." Sapaan dan cengiran Naruto tidak membuatnya merasa lebih baik.

...

Kushina membuka pintu kamar Naruto kemudian menutupnya pelan-pelan. Wanita cantik berambut merah itu menghela napas saat dilihat kemeja seragam Naruto tergeletak di atas tempat tidur dan sepatu serta kaus kaki yang berserakan di dekat ranjang. Kushina memunguti sepatu, kaus dan baju yang tergeletak itu kemudian ia menoleh saat mendengar getaran ponsel di nakas samping tempat tidur. "Naruto ponselmu!"

"Ya. Sebentar Kaa- chan!" Sahut Naruto dari dalam kamar mandi.

"Haahh..." Kushina menghela napas, "anak satu itu, sudah pulang terlambat seenaknya pula." Sambil mengomel Kushina mengambil ponsel Naruto yang tadi bergetar. Dahi wanita itu mengernyit melihat wallpaper layar depan ponsel Naruto, gambar dua orang remaja yang sedang berciuman dengan lelaki remaja yang terkesan memaksa, bukan masalah ciumananya yang membuat Kushina mengernyit melainkan model dalam foto yang membuatnya mengernyit.

Kriet.

Naruto keluar dari kamar mandi sambil mengusap permukaan wajahnya dengan handuk. "Kaa- chan. Ada apa?" Tanya Naruto sembari mendekat saat mendapat sipitan mata dari Kushina.

"Ini." Kushina menunjuk foto di ponsel Naruto.

"Err..." Naruto menggaruk belakang kepala dan tersenyum kikuk. "Aku bisa jelaskan."

"Siapa dia?" Kushina bertanya dengan nada yang kelewat riang.

Naruto mengejap.

"Kapan kau akan mengenalkannya pada Kaa- chan?" Dia seperti anak kecil yang tak sabar mendapat hadiah besar dihari natal.

Mulut Naruto terbuka ingin mengatakan sesuatu...

"Apa gadis ini yang membuatmu aneh akhir-akhir ini?" Dan dia penggoda yang sangat baik.

... kemudian menggaruk pipinya malu.

"Ah!" Kushina meletakkan jari telunjuknya di depan dagu. "Ajak dia kemari malam ini. Aku akan masak sangat banyak dan enak." Kata wanita itu dengan penuh semangat dan terkesan memaksa kemudian pergi meninggalkan Naruto yang belum sempat berkata apa-apa.

Naruto menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur saat pintu kamar tertutup. Satu tangannya menutup wajah sementara satunya ia letakkan di atas perut, dibalik telapak tangan lebar yang menutupi wajahnya Naruto tersenyum.

Belum lama pintu tertutup pintu itu kembali terbuka. Kepala merah Kushina menyembul dari balik pintu. "Cepat Naruto! Jemput dia!" Teriak wanita cantik itu.

"Apa?!"

"Malam ini kita makan malam bersama."

"Tapi Kaa- chan Sakura- chan buka... "

"Jadi namanya Sakura. Hah kalo begitu cepat ganti bajumu dan jemput dia."

Naruto mengerang frustasi di kasur. Bagaimana caranya membawa Sakura kemari?

...

Sakura memasukkan buku-buku yang tergeletak di meja OSIS dalam tasnya. Gadis manis berambut unik itu menoleh ke arah ponselnya tergeletak di meja samping kiri saat ponselnya berdering. Kedua alis merah mudanya bertaut melihat nomor baru yang menelponnya. Nomor siapa ini? Sekitar dua puluh detik Sakura menimbang-nimbang, angkat atau tidak, akhirnya gadis iti memutuskan mengangkat telfon dari nomor yang tidak dikenalnya itu. Sakura tersenyum mendengar suara sapaan di sebrang telfon sana. "Sakura?"

"Halo Sasori- nii,"

"Kau sudah selesai?"

Sembari mendengarkan Sasori yang berbicara di sebrang telfon Sakura merapikan meja OSISnya. "Aku sudah selesai." Ia tersenyum sambil memakai tas selempang miliknya.

"Aku segera menjemputmu,"

"Aku tunggu di depan gerbang seperti biasa Nii- chan," kepala merah muda Sakura menatap jendela, melihat langit yang mulai menggelap di luar sana, "tapi jangan lama-lama,"

"Tidak akan lama."

"Uhm. Hati-hati Nii- chan, sepertinya akan hujan badai." Setelah Sasori mengatakan salam seperti 'sampai nanti' Sakura menutup telfonnya. Dengan cepat gadis itu merapikan kertas-kertas polio berisi catatan penting miliknya kemudian berjalan cepat keluar ruang OSIS menuju pagar depan.

Sakura berdiri di depan gerbang sekolah yang sudah tertutup dan terkunci tanpa memperdulikan hujan yang semakin deras disertai angin kencang. Sesekali gadis berambut merah muda itu menoleh ke samping kanan berharap ada mobil Sasori mendekatinya tanpa menyadari mobil sedan merzedes benz hitam yang berhenti tidak jauh darinya di arah kiri. Sakura melihat jam tangan di pergelangan tangan kanannya kemudian menghela napas. Di mana Sasori? Kenapa lama sekali. Sudah hampir satu jam Sakura menunggu Sasori di sini, gadis itu juga sudah mulai kedinginan karena bajunya basah terkena siraman air hujan yang tertiup angin, dan sekitarnya juga sudah mulai gelap. Sakura kembali mencoba menghubungi Sasori namun nomornya tidak aktif. Entah sudah berapa kali ia mencoba menelfon kakaknya tapi selalu saja tidak aktif. Sakura mulai cemas, ia memeluk tasnya seraya berusaha menghubungi Sasori dan merapatkan tubuhnya ke pagar sekolah mencari perlindungan dari derasnya air hujan yang semakin menjadi.

Sakura sedikit memekik ketika ada kilatan petir disusul suara gemuruh yang memekakan telinga. Gadis itu duduk jongkok dengan kedua tangan menutupi telinganya. "Nii- chan ..." lirih Sakura seraya menenggelamkan kepala di lipatan lututnya. "Nii- chan, kau di mana?" Sakura menangis. Bukan. Bukan karena ia takut sendirian di tengah hujan badai seperti ini, melainkan karena perasaan yang tidak enak. Entah karena apa dia ingin menangis. Ada perasaan sedih yang tidak ia mengerti.

Sakura menghapus air matanya kemudian melihat ponselnya yang berbunyi dan bergetar menandakan adanya panggilan. Tanpa melihat siapa sipenelpon Sakura dengan cepat menjawab panggilan itu. "Halo?"

"Sakura, kau di mana?"

Sakura mengejap beberapa saat mendengar suara khas Nagato yang terdengar serak di sebrang telfon. "Nagato- nii?" Tanyanya, memastikan kalau ia tidak salah mengenali orang. Nagato tampak menarik napas panjang di sana membuat Sakura mengernyit dan bertanya-tanya, ada apa?

"Ya Sakura ... ini aku. Kau di mana sekarang?"

Sakura menggigit bibir bawahnya mendengar suara Nagato yang semakin aneh. Perasaannya semakin tidak enak. "Di depan pagar sekolah, menunggu Sasori- nii..." bisiknya lirih. Sakura tidak mengerti, sangat-sangat tidak mengerti saat air matanya menitik tanpa sebab.

"Astagaa... kenapa kau tidak menelfonku,"

"Nagato- nii, apa Nii-chan di sana?" Suara Sakura bergetar, ia mulai mengisak memikirkan di mana Nii- chan sekarang. Ini pertama kalinya Sasori menelantarkan Sakura, bahkan saat lelaki itu mendiamkan Sakura beberapa hari lalu Sasori tetap menjemput Sakura seperti biasa. Terdengar helaan putus asa dari sana.

"Tunggu aku. Aku akan menjemputmu.

"Dimana Nii- chan? Apa dia baik-baik saja?" Tidak ada jawaban. "Nagato- nii," Sakura mencengkram tasnya saat mendengar Nagato menghela napas.

"Jangan menangis, Sasori baik-baik saja. Aku janji Sasori akan baik-baik saja."

"Di mana Sasori- nii?"

"Ruang UGD. Dengar Sakura ... tetap di sana sampai aku datang. Bibi Mebuki dan paman Kizashi sudah aku beri kabar tentang Sasori, dan mereka berjanji akan segera pulang. Aku akan menjemputmu, jangan ke mana-mana."

Sakura tidak bisa menahannya lagi, ia mengisak keras. Tidak Sakura pedulikan hujan disertai angin yang semakin menjadi dan mambasahi tubuhnya yang kini duduk lemas di lantai yang digenangi air kotor. Gadis itu menangis sejadi-jadinya.

...

"Berhenti paman." Perintah Naruto ketika manik birunya melihat Sakura berdiri di depan pagar sekolah. Supir paruh baya itu memberhentikan mobilnya sesuai permintaan Tuan mudanya yang duduk manis di kursi belakang. Pemuda tampan berpakaian kasual, kaus longgar berdada rendah berwarna merah di padu secara pas dengan blazer coklat dan celana jeans hitam, itu memperhatikan Sakura dalam diam. Ketika gadis itu menatap samping kanan, melihat jam tangan, memeluk tas, memekik sambil menutupi kedua telinga, bahkan ketika gadis itu menerima telepon dari seseorang kemudian menangis sedih Naruto masih memperhatikannya.

Melihat Sakura duduk di lantai yang digenangi air Naruto langsung keluar dari mobilnya, berlari menerobos hujan mendekati Sakura yang menangis dengan keadaan basah kuyup. "Sakura- chan," tanpa pikir panjang Naruto mendekap tubuh Sakura, memeluk tubuh basah gadis itu erat.

Thanks too...

Stanlic, Guest Nagasakti, MysteriOues Girl, uzu otom 3x, Vii Violetta Anais, Tamma, o.O rambu no baka, anto borok, Guest, firdaus minato, yuri rahma, Aizen L sousuke, The KidSNo OppAi, VeeQueenAir, katsumi, Ndah D Amay, OhhunnyEKA, Galura no Baka Lucky22, Nagasaki, Saikari Ara Nafiel.

For review... :)