My Love In Japan
Discalimer : Tadatoshi Fujimaki
Chapter 2
"Nah, sudah sampai." Kata Momoi. Akashi melihat sebuah rumah kecil berwarna biru laut dengan taman kecil dan air mancur yang tak terlalu besar di samping taman.
"Wah, rumah yang nyaman." Akashi menyukai rumah sederhana itu, sangat berbanding terbalik dengan rumah Akashi yang luas bergaya jepang klasik dengan maid dan butler bertebaran dimana mana.
"Kau mau masuk untuk minum teh " Tanya Momoi.
"Hmm, boleh juga." Akashi setuju.
Mereka masuk ke dalam ruang tamu, Akashi menatap ruang tamu itu sejenak, ruang tamu itu tertata rapi di tengahnya terdapat sebuah sofa yang empuk, dan sebuah meja kecil, ditengah meja terdapat sebuah vas bunga sakura.
"Cantik sekali." Gumam Akashi dalam hati.
"Silahkan tehnya Akashi." Momoi menyodorkan teh yang tadi baru saja di buatnya.
Akashi menyesap tehnya dengan nikmat.
"Momoi, kau dapat dari mana bunga sakura itu." Kata Akashi sambil menunjuk vas yang berisi bunga sakura itu.
"Oh itu, aku buat sendiri, aku suka sekali bunga sakura." Kata Momoi sambil tersenyum, Akashi membalas senyumannya.
Akashi memandang ke sekeliling, sepi, tidak ada tanda tanda ada orang lain yang tinggal di sini selain Momoi.
"ehm, Momoi, kau tinggal sendiri ?"
Momoi menjawab santai, "yah, ibuku tinggal di indonesia lagipula aku cuma tinggal selama 3 bulan saja."
Akashi agak terkejut. " 3 bulan?"
Momoi mengangguk. Akashi hanya terdiam, sesekali dia menyesap tehnya lagi.
"Mungkin aku harus pulang sekarang." Kata Akashi sambil menghabiskan tehnya.
"Baiklah sampai ketemu besok di sekolah, Akashi." Momoi tersenyum.
"Bye." Kata Akashi sambil melambaikan tangan dan keluar dari pekarangan rumah Momoi.
XXX
Besoknya, seperti biasa, Momoi datang pagi pagi ke sekolah, saat hendak masuk kelas, ternyata di kelas sudah ada siswa yang datang lebih pagi darinya, dia tertidur di bangkunya. Momoi mendekatinya,
"Akashi bangun." Momoi menggerak gerakkan tubuhnya, tapi orang yang di gerakkan tak kunjung merespon.
Momoi mengamatinya sejenak, Akashi tertidur dengan wajah yang damai, kelopak matanya tertutup dengan rapat, cahaya matahari memasuki ruang kelas, membuat surai merahnya terlihat cerah dan berkilau.
"Aku tampan ya." Kata Akashi sambil membuka matanya sedikit.
Momoi terkejut lalu memukul lengan Akashi, "ish, apaan sih, aku kan hanya membangunkanmu."
Akashi tersenyum dan menegakkan kepalanya, " hahaha, tadi aku ketiduran ya, abis aku datangnya kepagian sih, huaamm."
Momoi hanya tersenyum.
"Momoi, kau mau keliling sekolah gak, dari pada di kelas bikin ngantuk ?" Tanya Akashi.
"Baiklah, aku mau." Momoi mengiyakan. Mereka berjalan jalan sambil menunggu waktu masuk, sekarang mereka ada di gedung olahraga dengan lapangan basket yang luas.
"Disini ada klub basket juga." Kata Momoi sambil memandang ke arah lapangan basket itu.
"Yah begitulah, mau coba bermain ?" Kata Akashi sambil mengambil bola basket yang tergeletak di lantai.
"Baiklah." Kata Momoi sambil mengambil posisi menyerang.
Momoi benar benar terpesona saat melihat Akashi mulai bermain. Dia mendrible bola, membawanya menuju ring dan melakukan lay up, lalu menyeka keringatan dari wajahnya dan mengibaskan rambutnya yang terkena sedikit keringat.
"Hei, ayo coba masukkan." Akashi melempar bola ke arah Momoi, membuatnya tersadar dari lamunannya.
"Ok, akan kucoba." Momoi mendrible bola itu, dan mencoba untuk memasukkannya.
Brak. Bolanya memantul ke luar dari ring
" Yah, gak masuk." Sesal Momoi.
"Tidak apa apa, kau harus mencobanya terus, ayo coba lagi." Akashi tersenyum dan melempar bola kepada Momoi.
"Hmmm." Momoi memfokuskan diri ke arah ring, lalu melempar bolanya, bolanya masuk ke dalam ring dengan sempurna.
" horee, aku berhasil, yee." Momoi kegirangan.
"Bagus, kau hebat." Akashi tersenyum perhatian.
"Arigato." Momoi tersenyum juga.
"Ayo kita ke ruangan lain." Akashi menyarankan.
Mereka meninggalkan lapangan basket.
"Kita mau kemana sekarang ?" Momoi bertanya.
"Kita mau ke ruang musik." Kata Akashi.
Mereka sampai di ruang musik, Akashi membuka pintunya, lalu mereka masuk ke dalamnya. Di dalamnya ada banyak kursi untuk penonoton dan sebuah panggung yang luas dengan berbagai macam alat musik mirip tempat untuk orcestra. Akashi mengambil sebuah tas yang di tidurkan di sudut panggung, lalu membukanya, didalamnya terdapat sebuah biola.
"Ini adalah ruangan kesukaanku." Akashi berkata sambil memandang luas ke seluruh ruangan, lalu dia menggesek gesekkan biolanya, terciptalah sebuah alunan nada nada yang merdu dan terdengar indah di telinga.
Momoi duduk di salah satu bangku penonton, dan memejamkan matanya, menikmati alunan musik dari biola Akashi, sampai musik itu selesai.
"Prok prok prok, bagus sekali." Momoi bertepuk tangan.
Akashi membungkukkan badannya, seperti seorang pemain biola profesional yang baru saja selesai tampil , Momoi tertawa kecil melihat tingkah Akashi.
"Ayo balik ke kelas, kurasa sekarang sudah hampir jam 7." Akashi menyarankan.
"Iya juga ya, aku sampai lupa, ayo kita ke kelas." Momoi setuju.
"Baiklah." Akashi merapikan biolanya, memasukkannya ke dalam tasnya dan menaruhnya di tempat yang sama dengan hati hati, lalu pergi meninggalkan ruangan.
Mereka sampai di kelas, masih tersisa waktu 10 menit lagi. Mereka duduk di bangku masing masing.
"Lain kali kita ke sana lagi ya." Momoi mengajak.
"Tentu saja, aku siap jadi tour leader mu." Akashi memasang senyum menawannya. Wajah Momoi sedikit memerah.
XXXX
Bel sekolah pun berbunyi seperti biasanya dan pelajaran pun di mulai, jam pelajaran pertama diisi dengan pelajaran matematika dengan ujian mendadak.
"Aduh, ini gimana ngitungnya,susah banget sih,." Momoi menopang kepalanya dengan tangan dan berpikir keras.
Waktu terus bergulir, tinggal 5 menit. Momoi melirik ke arah Akashi.
" pasti Akashi lagi kesusahan sekarang." Pikirnya. Tapi justru yang dilihatnya Akashi sedang memain mainkan pulpen hitamnya dan di mejanya tidak ada selembar kertas pun, berbeda dengan Momoi yang di mejanya terdapat 3 kertas soal ujian yang sama sekali belum diisi.
"Akashi, kertas ujianmu kemana ?" Momoi memikik kaget.
"Sudah ku kumpulkan dari setengah jam yang lalu." Kata Akashi sambil memainkan pulpennnya.
Momoi merasa setengah jam yang lalu itu baru saja soal di bagikan, tapi Akashi sudah selesai.
"Ayo kumpulkan kertas jawaban kalian, waktu sudah habis." Kata sang guru.
Kertas jawaban Momoi masih bersih,belum ada tulisan sama sekali.
"Wuuuah gawat, udah gak ada waktu lagi nih." Momoi langsung mengisi lembar jawaban dengan jawaban asal asalan dan di bawah jawabannya dia menulis "Saya menyerah, silahkan ibu hukum saya jika ibu mau, saya sudah pasrah."
Momoi langsung mengumpulkan kertas ulangan itu. Dia kembali duduk di kursinya dan menghela napas panjang.
"Aaaah, jelek sudah ulanganku." Kata Momoi.
"Jangan pesimis dulu, siapa tau tuhan memberikan keajaiban." Kata Akashi santai.
"Kau ini bodoh ya, mana mungkin tuhan memberikan keajaiban padaku, jawabanku saja asal asalan, kalau jawabanku ada yang pakai otak itu baru bisa terjadi." Kata Momoi dengan nada sedikit kesal.
Akashi hanya terdiam mendengar perkataan Momoi, dia memalingkan mukanya kearah lain, tanpa berkata apa apa kepada Momoi. Momoi bingung melihat perubahan wajah Akashi yang tak bisa di artikan dengan kata kata. "Apa dia marah kepadaku." Momoi membatin, dia jadi merasa bersalah kepada Akashi.
XXX
Seperti biasa, jam istirahat berbunyi, tapi ada tidak biasa dengan mereka berdua, biasanya Akashi selalu mengajak Momoi ke kantin, tapi tidak hari ini, setelah bel berbunyi Akashi langsung melesat keluar ruangan sendirian. Momoi yang melihat itu hanya bisa terdiam dan menundukkan kepalanya, dia tak punya keberanian untuk meminta maaf kepada Akashi. Momoi pergi ke kantin menuruni tangga, kalau kemarin dia bisa dengan mudahnya menuruni tangga karena ada Akashi, sekarang dia harus berdesak desakkan dengan orang orang, butuh waktu lama untuk sampai ke kantin.
Sesampainya di sana, dia langsung mengantri mengambil makanan, setelah lama mengantri, kini gilirannya mengambil makanan, koki yang melayani hanya menatap Momoi.
"Maaf ya, makanannya sudah habis." Kata sang koki.
"Hah?! Udah habis?! Tidak ada sisa sedikit pun ?" Kata Momoi kaget.
Sang koki hanya menggelengkan kepalanya.
Momoi merasa lemas, cacing cacing di dalam perutnya sudah menggelar konser massal. Daripada terus terusan berada di kantin dan membuatnya merasa makin lapar, sebaiknya dia kembali ke kelas, pikir Momoi. Sesampainya di kelas, Momoi melihat Akashi yang sedang duduk di kursinya sambil memegang sebuah kantung, entahlah apa isinya. Momoi menundukkan kepalanya, tak berani menatap Akashi, dia langsung duduk di kursinya dalam diam.
"Nih, buatmu." Kata Akashi sambil menyodorkan kantung yang sedari tadi di pegangnya.
"Ini apa ?" Momoi menatapnya bingung, Akashi tak menjawabnya, dia malah pergi dari kelas. Momoi membuka kantung itu, ada sebuah kotak di dalamnya, dan diatasnya terdapat tulisan " maaf, atas perkataanku." Momoi tersenyum melihat tulisan itu, setelah itu dia membuka kotak itu, isinya adalah menu makan siang yang ada di kantin.
"Horeee, aku bisa makan." Katanya senang, sekarang konser massal sang cacing akan segera digusur oleh makan ini, dia langsung cepat cepat melahap makananya sebelum jam istirahat berakhir, sembari makan, Momoi terkadang tersenyum sendiri, mengingat apa yang dilakukan Akashi.
"Dia manis sekali." Katanya dalam hati.
XXX
Jam pelajaran sudah di mulai lagi, Momoi mencoba untuk berbicara kepada Akashi, dia memghembuskan napas panjang, dan mulai berbicara.
"ehm, Akashi..." Akashi menengokkan kepalanya, menatapnya dengan tatapan dingin. Momoi berusaha memberanikan diri dengan tatapan itu.
"ehm... te- terima kasih untuk makanannya, ma- maafkan aku karena mengataimu bodoh tadi, aku tadi benar benar sedang merasa kesal gara gara ujianku, a-aku minta maaf."
Tatapan Akashi mulai menghangat, lalu dia memasang senyumannya lagi, "iya, aku paham kok, apa yang kau rasakan, justru aku yang harus minta maaf."
Momoi tersenyum mendengarnya dan dia menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Jangan lupa, hari minggu ya, nanti aku jemput." Kata Akashi sambil tersenyum.
"Tentu saja." Kata Momoi mantap.
XXX
Hari Minggu
Hari yang ditunggu tunggu telah datang, kini Momoi sedang bersiap siap di kamarnya, baju baju berserakan di kamarnya.
"Duh, aku mesti pakai baju apa nih." Momoi mengacak ngacak rambutnya. Tiba tiba seseorang masuk ke kamarnya.
"Momoi, apa yang sedang kau lakukan, berantakan sekali kamarmu." Kata sesorang bersurai kuning.
"Alex, sedang apa kau disini, tumben sekali kau mampir." Kata Momoi yang agak kaget melihat ada tamu tak diundang di kamarnya.
"Kebetulan aku lewat sini, jadi ya aku mampir saja." Kata Alex sambil duduk di tepi tempat tidur.
Momoi hanya mengangguk, dan masih fokus dengan lemari pakaiannya.
"Hei, kau sedang ngapain sih, baju di mana mana, kayak orang mau jualan." Kata Alex sambil menatap bingung Momoi.
"Aku lagi bingung nih, mau pakai baju apa." Kata Momoi.
"Emang kau mau kemana ? Tak biasanya kau bingung soal pakaian." Kata Alex.
"Aku- ehm mau lihat bunga sakura." Kata Momoi agak gugup.
"Yaelah, ngeliat bunga sakura aja pake dandan, kayak mau pergi sama siapa aja." Kata Alex agak sinis.
Tepat sasaran.
"Ehm- emang iya." Kata Momoi gugup.
"Eh, maksudnya ?" Alex mengerutkan kepalanya.
"Ehm- iya... aku mau pergi sama seseorang." Momoi makin gugup.
"Hah?! Seriusan nih." Alex tak percaya.
"Ta-tapi dia cuma temanku kok." Kata momoi menambahkan.
"Teman atau teman nih." Goda Alex.
"Ish, dia temanku kok." Momoi panik.
"Kau mau ketemuan dimana sama 'temanmu' itu ?" Kata Alex mulai menyelidiki.
"Dia mau menjemputku." Kata Momoi sambil memasukkan kembali baju bajunya.
"Kapan dia datang ?" Alex masih menyelidiki.
"Sebentar lagi." Momoi mengambil baju pink dan celana jeansnya.
"Eh, jangan pakai itu." Kata Alex mencegahnya.
"Memangnya kenapa, katamu aku tidak perlu memakai yang berlebihan." Momoi mengulang perkataan Alex.
"Pakai ini saja, kebetulan aku baru saja beli, tapi ukurannya kekecilan, jadi buatmu saja." Alex merogoh kantung belanjaannya dan mengeluarkan sebuah kimono berwarna pink, dengan hiasan bunga sakura berwarna putih kecil-kecil.
"Arigato, Alex." Momoi mengenakan kimononya.
Tok tok tok. Pintu rumah Momoi di ketuk oleh seseorang.
"Ah itu dia." Momoi berseru, Alex pun makin penasaran.
Mereka berjalan ke luar dari kamar Momoi. Momoi membuka pintunya, saat pintu dibuka, dia melihat Akashi memakai kemeja putih dengan lengan digulung sedikit danvest berwarna merah.
"Selamat pagi Momoi." Akashi memberi salam, plus senyum menawannya.
"Pagi juga Akashi." Momoi tersenyum.
"Jadi ini orangnya! " Alex berseru.
"Hmm." Momoi menjawab singkat.
"Salam kenal, nama saya Akashi Seijuro." Akashi membungkukan badannya.
"Ah iya iya, aku Alex, salam kenal." Alex melambaikan tangan.
"Sudah siap Momoi." Akashi bertanya.
"Iya, tentu saja." Kata Momoi riang.
Mereka berdua berjalan keluar pekarangan rumah Momoi.
"Bye Alex." Momoi melambaikan tangannya, sembari masuk ke dalam mobil Akashi, dan mereka meninggalkan rumah Momoi.
"Kau kelihatan berbeda ya." Kata Akashi sambil menyetir.
"Apa yang berbeda ?" Tanya Momoi.
"Beda saja, hari ini kau lebih manis." Akashi berkata sambil melirik Momoi yang wajahnya mulai memerah.
"Memang biasanya aku seperti apa ?" Tanya balik Momoi.
Akashi tidak menjawab, dia malah mengalihkan pembicaraan."hei sebentar lagi kita sampai."
Momoi masih penasaran dengan jawaban Akashi. "Memang biasanya aku gimana ?"
Akashi menghela napas. "Kenapa kau ingin tau sih."
"Yah, aku ingin tau saja bagaimana pendapat orang lain tentang diriku."
"Jadi kau benar benar ingin tau pendapatku ya." Momoi mengangguk.
"Baiklah, kau itu jelek." Kata Akashi singkat.
Jlep. Sepertinya gunting Akashi telah menusuk hati Momoi.
"Yasudah." Kata Momoi sebal.
"Hehehe, aku cuma bercanda kok, kau itu biasanya cantik, tapi sekarang kau tambah cantik." Puji Akashi.
"Oh gitu." Momoi berkata sambil memalingkan wajahnya yang sudah semerah rambut Akashi sekarang.
"Jangan marah dong, nanti perjalanan kita gak seru nih." Akashi membujuk.
"Sudah jalan saja." Kata Momoi singkat.
Akashi meminggirkan mobilnya. "Hei, jangan marah dong, kalau kau masih marah aku tak akan menjalankan mobil ini." Kata Akashi membujuk Momoi lagi.
"Aku tidak marah Akashi, memangnya kalau aku diam atau berkata sedikit itu harus berati aku marah." Kata Momoi sambil menatap wajah Akashi dengan kesal.
"Pfft pfft." Akashi menutup mulutnya dengan tangan, dan tertawa kecil.
"Kenapa kau tertawa,ada yang lucu." Tanya Momoi sebal.
"Hei, wajahmu itu kenapa sampai merah begitu, kau malu aku bilang cantik?" Akashi berkata dengan nada jahil.
"Tidak, biasa saja kok." Kata Momoi sambil mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Wajahmu sudah mirip rambutku sekarang, kalau kau tak percaya bandingkan saja sendiri." Kata Akashi sambil memegang rambutnya.
"Diam kau, kalau kau masih bicara juga, aku benar benar marah." Kata Momoi, membuat Akashi menutup mulutnya, dan hanya tersenyum pun berlanjut.
.
.
.
TBC
Nah, chapter ke 2 telah jadi, tadinya sih ini mau di jadiin chapter 1 tapi saya gak mau publish banyak banyak dulu, jadinya saya pisah deh ^^ semoga kalian suka, silahkan di review, favorite boleh juga. Saya akan mengusahakan update lagi yang ke 3 secepat mungkin ^^
