My Love In Japan

Disclaimer : Tadatoshi Fujimaki

Chapter 3

"Akhirnya kita sampai juga." Akashi berkata sambil mematikan mesin mobilnya, dan dia pun keluar dari mobilnya.

Setelah keluar dari mobil, Akashi membukakan pintu mobil untuk Momoi dan mengulurkan tangannya kearahnya, "silahkan tuan putri."

Wajah Momoi yang memerah kini makin merah lagi, dengan cepat dia langsung menepis tangan Akashi dan langsung turun dari mobil supaya tidak ketahuan oleh Akashi, " aku bisa turun sendiri." Elaknya.

"baiklah baiklah, kau masih marah rupanya." Kata Akashi mengalah.

Mereka berjalan ke arah salah satu pohon sakura, dan duduk dibawahnya,menikmati angin yang berhembus ringan.

"tunggu di sini ya." Kata Akashi dan beranjak pergi entah kemana.

Momoi hanya memandang bingung kearah Akashi, dan membatin, "mau kemana dia."

Sembari menunggu Akashi, Momoi mendengarkan lagu dari ponselnya menggunakan headshet.

Rasa dingin menerpa pipi kanan Momoi, padahal ini tidak musim dingin, Momoi menyentuh pipi kanannya, ada sesuatu yang menempel di pipinya.

Momoi melirik kearah pipinya, dilihatnya ada sebuah wadah untuk minuman.

Momoi memutar kepalanya ke belakang, Akashi sedang duduk dibelakangnya sambil menempelkan strawberry shake yang baru saja dia beli barusan.

"nih minum, biar wajahmu jadi dingin, kau tau wajahmu sudah mirip kepiting rebus." Akashi tertawa kecil.

Sudah tidak bisa di pungkiri lagi, wajah Momoi dari tadi sudah memerah tak ada habis habisnya.

"terima kasih, kebetulan aku haus." Kata Momoi sambil memalingkan wajahnya ke arah lain dan langsung menghirup habis stawberry shakenya.

Akashi hanya memandang Momoi sembari tersenyum kecil, sesekali dia meminum chocolate shakenya.

Akashi membaca novel yang dibawanya. Duduk di bawah pohon sakura berguguran sambil membaca novel, itu hal yang disukainya. Saat Akashi sedang asyik asyiknya membaca, salah satu bunga sakura jatuh di halaman buku yang sedang dibacanya.

Kini Akashi mengalihkan tatapannya dari novel kearah Momoi yang sedang asyik menatap bunga sakura sambil tersenyum sendiri.

Akashi diam-diam menyelipkan bunga sakura yang tadi jatuh dari bukunya ke salah satu telinga Momoi.

"Kenapa Akashi?" Momoi memandang Akashi, dia tidak merasakan ada sesuatu di telinganya.

Akashi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum.

"Kau kenapa sih?" Momoi bingung.

XXX

Setelah beberapa lama berada di sana, mereka memutuskan untuk pulang, kini mereka sudah berada di parkiran.

"Senangnya bisa lihat bunga sakura secara langsung, makasih udah ngajakin aku kesini ya." Kata Momoi sambil tersenyum lebar.

"Sama-sama."

Mereka berdua masuk ke dalam mobil, tanpa di sengaja Momoi melihat pantulan dirinya dari kaca spion depan mobil, dia melihat ada bunga sakura di telinganya.

"Kenapa bisa ada bunga sakura ditelingaku?" Momoi bertanya sambil mengambil bunga sakura itu.

"Bunga itu tumbuh di telingamu tau." Kata Akashi.

"Gak mungkin, mana ada bunga sakura tumbuh dari telinga." Jawab Momoi.

"Yasudah kalau kau gak percaya." Kata Akashi sambil menyalakan mesin mobilnya dan menjalankan mobilnya.

Momoi masih penasaran, bagaimana bisa mendadak ada bunga sakura di telinga, Momoi memikirkannya.

Akashi yang tau Momoi memikirkannya, hanya tertawa kecil, akhirnya di menjawab, "aku yang menyelipkannya."

"Buat apa kau menyelipkan bunga sakura di telingaku?" Momoi menatap Akashi dengan tatapan bingung.

"Yah, sayang aja kalau bunga sakuranya jatuh sia-sia, anggap saja itu oleh-oleh dariku." Akashi berkata sambil menatap lurus ke depan.

"Terima kasih, aku akan menyimpannya." Momoi mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna pink dan menyimpannya didalamnya.

Akashi hanya membalasnya dengan senyuman.

XXX

Setelah berpisah dengan Akashi di pekarangan rumahnya, Momoi masuk ke dalam rumahnya dengan wajah berseri-seri.

"Kau sudah pulang, bagaimana kencannya?" Alex berkata sambil duduk santai dan memakan kripik dari lemari dapur Momoi.

"Alex, kau kenapa masih ada di sini?" Momoi agak kaget melihat Alex yang masih ada di rumahnya.

"Bagaimana aku bisa pulang ke rumahku, jika ada orang yang saking senangnya kencan sampai lupa mengunci rumahnya sendiri." Alex menggeleng-gelengkan kepalanya.

Momoi tau orang yang di maksud Alex adalah dirinya sendiri, Momoi tersenyum, "hehehe, gomen Alex, makasih udah menjaga rumahku."

"Yah, sama sama, Momoi jadi bagaimana kencanmu?" selidik Alex.

Momoi tersenyum sendiri, wajahnya sedikit memerah mengingat kejadian-kejadian barusan.

"Hei, jangan senyum-senyum sendiri dong, bagi-bagi dong aku kan juga pingin tau." Alex tersenyum melihat temannya bahagia.

"Ceritanya panjang nanti saja ya, aku mau tidur ngantuk." Momoi langsung bergegas masuk ke dalam kamarnya.

"Hei, ayo cerita, jangan menghindar kau." Alex mengejar Momoi ke kamaranya.

"Nanti saja, aku ngantuk Alex, huaamm." Momoi menguap.

"Ah sudahlah, aku pulang saja, ingat kau harus cerita kepadaku ya." Alex meninggalkan rumah Momoi.

XXX

Momoi mengantuk didalam kelas, jam pelajaran ketiga dan keempat hari ini kosong tanpa guru, dikarenakan guru yang mengajar terkena flu. Sekarang Momoi sedang menatap kosong kearah papan tulis putih tanpa tulisan didepannya, sambil menahan kantuk yang terus menyerang, dan Akashi pun menghilang dari kelas, membuat Momoi makin bosan, karena tak ada yang dia bisa ajak bicara.

Brak. Pintukelas di dobrak, membuat Momoi tersadar dari lamunannya, dan kantuk perlahan lahan menghilang.

"Hei, duduk di tempat duduk masing-masing, wali kelas kita akan kesini beberapa menit lagi." Kata seseorang yang tadi mendobrak pintu kelas.

Murid-murid yang sedang rusuh didalam kelas kini langsung berlari ketempat duduk mereka.

Beberapa menit kemudian, sang wali kelas datang ke kelas mereka diikuti oleh Akashi di belakangnya.

Akashi pun langsung duduk di tempat duduknya.

"Hei, abis dari mana kau?" Kata Momoi.

"Aku dari ruang guru, tadi aku dipanggil." Kata Akashi.

Momoi mengangguk tanda mengerti.

"Nah perhatian semuanya, saya punya pengumuman bagus untuk kalian." Kata sang wali kelas.

"Apa pak, cepat beritahu kami." Kata seseorang siswa.

"Ya, pengumumannya, sekolah akan mengadakan lomba antar kelas dan salah satu lombanya adalah prince and princess."

"Prince and princess?" Tanya salah seorang siswi.

"Yah, lomba itu adalah lomba berpasangan, satu kelas hanya di perbolehkan satu pasangan saja tidak boleh lebih." Jelas wali kelas.

Murid-murid menganggukkan kepalanya tanda mereka sudah paham dengan maksud lomba itu.

"Nah kalian sudah mengerti kan, jadi kita akan memilih dulu princenya, nah siapa yang akan jadi prince untuk mewakili kelas kita?" Tanya sang wali kelas.

"Akashi."

"Akashi saja."

"Kyaak, aku setuju Akashi saja."

Semua siswi di kelas itu meneriakan nama Akashi minus Momoi, baginya itu tidak terlalu penting.

"Baiklah-baiklah, bagaimana Akashi kau bersedia?" Tanya sang wali kelas kepada Akashi.

Akashi hanya tersenyum dan beranjak dari tempat duduknya, lalu dia berdiri di samping sang wali kelas.

"Lalu princessku siapa?" Tanya Akashi kepada semua siswi yang ada di sana.

"Aku."

"Aku saja Akashi."

"Tidak aku."

"Aku saja."

Semua murid sama sama mencalonkan diri mereka minus Momoi untuk menjadi putri dari sang pangeran, Akashi.

"Hei, tenang tenang, jangan berisik." Kata sang wali kelas menenangkan, tapi keributan terus terjadi.

"Bagaimana jika aku yang memilih langsung princessku?" Kata Akashi, semua siswi langsung terdiam.

Akashi memandang ke arah semua siswi di kelas itu. Mereka berharap Akashi memilih mereka, ada juga dari mereka yang mulutnya komat kamit berdoa supaya di pilih Akashi.

Akashi menghampiri salah satu siswi, "kau mau jadi princessku, Momoi Satsuki?" Tanya Akashi sambil mengulurkan tangannya ke arah Momoi.

Momoi kaget dengan perkataan Akashi, dia pun langsung berkata dengan gugup, "e-eh ke-kenapa a-aku?"

Akashi hanya tersenyum, lalu berkata, "kau pantas Momoi."

"Ta-tapi, ke-kenapa tidak yang lain saja Akashi?" Momoi takut melihat wajah siswi ada di kelasnya, penuh dengan tatapan murka.

"Sudah jangan banyak tanya." Akashi langsung menarik tangan Momoi ke depan kelas.

"Baiklah, wakil kelas kita sudah di tentukan, lomba akan di laksanakan 1 minggu lagi, semoga kalian menang Akashi Momoi." Sang wali kelas tersenyum kepada mereka berdua dan meninggalkan kelas.

Momoi dan Akashi duduk di tempat masing-masing setelah kepergian wali kelas mereka.

"Hei, kau gila ya, memilih aku jadi princess." Kata Momoi sambil melirik para siswi di kelasnya yang masih geram dengannya.

"Memangnya kenapa?" Tanya Akashi.

"Kau tidak lihat apa wajah para murid dikelas kita setelah kau memilihku." Kata Momoi sambil bisik bisik.

"Sudah tidak usah di pedulikan, mereka itu iri padamu, harusnya kau bersyukur aku memilihmu." Kata Akashi sambil membolak balikkan buku pelajaran di mejanya.

"Yah aku bersyukur karena kau, aku akan terkena serangan massal dari mereka semua." Momoi pasrah.

"Tenang saja, kau terlalu takut Momoi." Akashi tertawa melihat Momoi ketakutan.

"Ah sudahlah." Momoi menundukkan kepalanya di atas meja.

"Hei pulang sekolah nanti, kita latihan ya, di rumahku." Ajak Akashi.

"Buat apa latihan." Tanya Momoi malas.

"Kau ini gimana sih, kita kan harus kompak dan kita harus menunjukkan kesan romantis, biar kelas kita menang." Jelas Akashi.

"Yasudah, kau atur saja, aku ikut aja deh." Kata Momoi masih dengan nada malas.

XXX

"Nah kita akhiri pelajran hari ini, kita sambung minggu depan, kalian boleh pulang." Kata guru kesenian mereka.

"Ayo Momoi, latihan." Ajak Akashi.

"Iya iya." Kata Momoi sambil menenteng tasnya.

Mereka berjalan ke parkiran sekolah, dan meninggalkan area sekolah dengan mobil Akashi.

Selama perjalanan Momoi hanya diam saja, dia hanya memandang kearah luar dari kaca mobil.

"Kau kenapa hari ini? Ada masalah apa?" Tanya Akashi sambil menyetir.

Momoi hanya menggeleng gelengkan kepalanya.

"Kau tidak mau ikut lomba?" Tanya Akashi.

Momoi lagi lagi hanya menggelengkan kepalanya.

"Ceritalah, aku akan mendengarkannya." Akashi menatap sejenak kearah Momoi sambil tetap fokus ke arah depan.

Momoi menghela napas panjang, "kita kan ikut lomba prince and princess, otomatis kita harus memakai baju ala orang kerajaan kan, jadi masalahnya aku..." Momoi belum sempat melanjutkan perkataan, ucapannya langsung di potong oleh Akashi.

"Kau tidak perlu mempermasalahkan soal kostum, soal itu kau tenang saja, biar aku yang urus." Akashi berkata sambil mengulas senyuman.

"Aku tidak mau merepotkan mu Akashi." Sela Momoi.

"Sudah kau tenang saja, tidak perlu sungkan, para maid ku bisa membuatkan gaunmu, mereka itu ahli loh." Akashi berkata dengan santai.

"Kalau begitu, aku akan membayar setengahnya dari hasil buatan gaun maidmu." Ucap Momoi.

"Hahaha, tidak perlu sampai segitunya Momoi." Akashi tertawa.

"Aku tidak bercanda Akashi." Momoi agak meninggikan nada bicaranya.

Akashi meminggirkan mobilnya sejenak, lalu dia menatap Momoi sambil tersenyum, "aku ini temanmu, kau tidak perlu sampai segitunya, anggap saja ini hadiah dariku."

Momoi hanya tersenyum, "Terima kasih Akashi."

"Nah kau sudah mengerti kan?" Tanya Akashi.

Momoi menganggukkan kepalanya, tanda mengerti.

"Bagus." Akashi menjalankan mobilnya kembali.

XXX

Mobil Akashi memasuki gerbang sebuah rumah dengan gaya mirip istana dalam dongeng dan berhenti di sana. Rumah yang luas dengan air mancur yang besar di tengahnya, dan taman yang di penuhi pepohonan yang sudah dibentuk dengan berbagai macam model yang indah.

Seorang butler membukakan pintu mobil untuk Akashi dan Momoi.

"Te-terima kasih." Ucap Momoi dengan gugup kepada butler tersebut.

Sang butler hanya tersenyum dan membungkukkan badannya.

"Anda bawa teman tuan muda?" Tanya butler yang membukakan pintu mobil Akashi.

"Ya." Kata Akashi sambil menganggukkan kepalanya sedikit.

"Ayo masuk." Ajak Akashi.

Momoi hanya mengangguk gugup, baru kali ini dia masuk ke rumah mewah seperti ini.

Para maid dan butler dari seluruh penjuru ruangan sudah berkumpul di satu titik.

Dan saat pintu terbuka, para maid dan butler langsung membungkukan badan, dan mengucapkan salam,

"Selamat datang tuan muda."

Momoi makin gugup saat melihat itu semua, dia melirik sedikit ke arah Akashi yang berdiri di sebelahnya, Akashi tersenyum sedikit kepada para maid dan butler tersebut.

"Dia keluarga yang sangat terpandang, hebat sekali." Gumam Momoi dalam hati.

"Ayo kita latihan." Ajak Akashi.

Akashi memposisikan dirinya di sebelah Momoi.

Mereka bergandengan tangan dan belajar berjalan bersama. Para maid yang melihat itu hanya tersenyum senyum.

Momoi merasa dirinya menjadi pusat perhatian langsung melepas gandengan tangan Akashi.

"Kenapa dilepas?" Tanya Akashi.

Momoi berbisik, "kau tidak lihat apa kita berdua jadi tontonan para pelayanmu."

Akashi melirik kearah para maidnya yang sedang tersenyum senyum sendiri.

Lalu dia merangkul Momoi sambil berkata kepada para maid, "apa kami pasangan yang cocok?"

Para maid yang ditanya begitu langsung menaikkan kedua jempol mereka.

Momoi langsung menipis rangkulan Akashi, "Ish apaan sih."

"Aku kan hanya bertanya, kalau orang lain bilang kita pasangan yang cocok berati kita akan menang." Jelas Akashi.

Momoi menghela napas, "terserah deh."

XXX

Tak terasa lomba sudah tinggal sehari lagi, hari ini adalah hari terakhir latihan, tapi ada yang tidak beres dengan Momoi.

"Kau kenapa Momoi?" Tanya Akashi sambil melihat Momoi yang ada disebelahnya.

Momoi hanya menggelengkan kepala.

"Hei jawab pertanyaanku." Akashi menekankan sedikit nada bicara.

Momoi hanya menghela napas panjang, "aku tidak bisa menimbulkan kesan romantis."

"Kenapa gak bisa?" Tanya Akashi lagi.

Momoi menghela napasnya lagi, "bagaimana aku bisa menimbulkan kesan romantis, kau kan hanya temanku."

Akashi terdiam.

1 detik.

5 detik.

10 detik.

"Kalau gitu anggap saja aku pacarmu." Kata Akashi.

Momoi yang tadinya terdiam langsung mendadak bingung.

"E-eh apa?"

Akashi mengangguk kepalanya, "iya anggap saja aku pacarmu, asalkan kau bisa menimbulkan kesan romantis bagiku itu tidak masalah."

"Ta-tapi." Perkataan Momoi tak bisa dilanjutkan Akashi memotong pembicaraannya.

"Tidak ada tapi- tapian, sekarang kita mulai latihannya." Ucap Akashi.

Momoi menggandeng tangan Akashi, dia berusaha mengeluarkan kesan romantis, dia menghela napasnya.

"Ayo kau harus bisa, aku membutuhkanmu." Akashi melebarkan senyumannya.

Momoi hanya memandang ke arah Akashi sampai beberapa saat.

"Hmm." Momoi menganggukkan kepalanya.

Mereka berjalan mengelilingi rumah tersebut dan kembali lagi ke ruang tamu.

"Bagus jalan kita sudah bersamaan, kau juga keliatannya sudah bisa mengeluarkan kesan romantis." Kata Akashi.

"Tentu saja." Jawab Momoi bersemangat.

"Aku senang kau sudah bisa." Akashi tersenyum.

Momoi membalas senyumannya dan mengangguk.

"Oh iya, nih gaunmu sudah jadi, dandan yang cantik ya." Akashi menyerahkan gaunnya.

"Wah gaun yang indah." Momoi terkagum kagum melihat gaun tersebut.

Gaun itu berwarna pink dengan pita besar di belakangnya dan berlengan pendek.

Akashi menatap gaun itu, lalu dia berkata, "gaun ini pasti cocok untukmu."

"Terima kasih aku suka gaun ini."

XXX

Lomba pun akan dimulai beberapa menit lagi, kini mereka sedang jam istirahat.

"Ayo cepat kita makan dulu." Akashi langsung menarik tangan Momoi.

"Iya iya ayo."

Saat Akashi dan Momoi sedang ke kantin ada beberapa orang yang masih berada di dalam kelas.

"Ih aku gak suka deh kalau princessnya Momoi gak cocok tau." Kata seseorang siswi kepada yang lainnya.

"Iya aku juga gak suka." Timpal yang lain.

"Kalau gitu kita rusak saja gaunnya." Usul yang lainnya.

"Tapi kalau kita rusak nanti kita gak ada princessnya dong." Salah seorang dari mereka khawatir.

"Tenang saja aku bawa gaun kok."

"Yaudah kamu aja yang jadi princessnya lebih cocok lagi." Yang lain setuju.

Mereka langsung bergegas ke tempat duduk Momoi dan mengeluarkan gaunnya dari tas Momoi, lalu mereka langsung menggunting gaun itu sampai robek.

"Yeey Momoi akhirnya gak jadi pasangannya Akashi."

"Yah aku senang banget." Mereka langsung tertawa tawa.

Mereka bergegas keluar dari kelas sebelum ketahuan oleh Momoi dan Akashi.

Tak beberapa lama, Akashi dan Momoi kembali ke kelas mereka.

Kita harus siap-siap." Akashi langsung mengeluarkan kostum ala pangeran dari tas.

"Iya aku juga nih." Momoi merogoh ke dalam tasnya untuk mengambil gaunnya.

Momoi mengeluarkan gaunnya, matanya terbelak saat melihat gaunnya sudah berupa potongan tidak utuh lagi.

"Hiks hiks ."Momoi menangis.

"Eh kau kenapa Momoi?" Akashi langsung mengahampirinya.

"Ga-gaunku ro-robek." Dia menangis sambil memperlihatkan potongan dari gaunnya.

"Gak mungkin." Akashi hampir tak percaya.

"Ada apa nih kok Momoi menangis." Salah seorang dari yang menggunting gaun Momoi mari kita panggil dengan nama Haruka masuk ke dalam kelas lagi.

"Gaunnya di robek, kurang ajar jika aku tau siapa yang melakukannya akan ku remukkan orang itu." Kata Akashi geram.

Haruka yang mendengar itu langsung menelan ludahnya.

"Ehm Akashi, aku punya gaun-" Ucapannya langsung terputus karena Akashi mengambil gaunnya secara paksa.

"Ta-tapi gaun itu hanya muat di tubuhku saja." Tambah Haruka.

Akashi terdiam selama beberapa saat.

"Kau berpasangan saja dengannya saja." Momoi menepuk pundak Akashi yang sedang melamun.

Akashi hanya terdiam, sedangkan Haruka sudah tersenyum penuh kemenangan.

"Tidak, tidak aku tidak akan berpasangan dengan orang selain kau Momoi." Tegas Akashi.

"Ta-tapi aku tidak punya gaun Akashi." Momoi bingung.

"Tak jadi masalah." Akashi mengambil ponselnya dan menelepon salah satu maidnya.

"Segera antarkan gaun yang baru untuk Momoi temanku, kutunggu di sekolah dalam waktu 10 menit." Titah Akashi.

Klik. Ponsel Akashi dimatikan.

Haruka yang melihat itu langsung pergi dari kelasnya dengan wajah kesal bukan main.

"Tenang saja, jika pelayanku datang dan mencariku ambil saja gaunnya, aku mau memakai kostumku dulu." Akashi meninggalkan kelas.

Momoi menunggu di kelas sendirian panik terus melandanya.

"Aduh gimana nih kalau gaunnya gak datang." Momoi menundukkan kepalanya di meja.

Beberapa lama kemudian, seseorang mengetuk pintu kelas dan melongokkan kepalanya ke dalam kelas.

"Permisi saya mencari Akashi Seijuro." Kata seseorang.

"Sini berikan saja kepadaku." Momoi langsung mengambil bungkusan itu yang pasti dalamnya adalah gaun.

"Tuan muda kemana?" Sang maid celingak celinguk mencari tuannya.

"Dia sedang bersiap siap, lagipula ini gaunku kan biar aku saja yang terima." Kata Momoi.

"Ah iya itu gaunnya, semoga anda suka." Sang maid membungkukkan badanya dan pergi meninggalkan kelas itu.

Momoi melirik jam dinding, lalu dia tersenyum.

"Tepat 10 menit, kau hebat Akashi." Gumamnya dalam hati.

Momoi pun bergegas ke toliet untuk mengganti bajunya.

Akashi sudah selesai mengenakan kostum pangerannya, kini dia sedang menunggu Momoi di kelas.

Krek. Pintu kelas di buka oleh seseorang.

Mata Akashi terbelak melihat Momoi memakai gaun berwarna merah cerah yang berwarna sama seperti kostum pangeran ala Akashi dengan pita kecil mengelilingi bagian pinggannya.

Akashi tersenyum, "wah gaun ini lebih cocok dari yang sebelumnya."

"Kau juga terlihat keren dengan kostum itu." Momoi mengulas senyum.

"Baiklah kita sudah siap, ayo sebaiknya kita turun ke bawah." Akashi menarik tangan Momoi dan menggenggamnya.

"Kita sambut penampilan dari kelas 11 A ." Suara sang pembawa terdengar menggema di seluruh sekolah.

"Sebentar lagi giliran kita Momoi, ayo siapkan dirimu." Akashi menyemangati.

"Tapi aku agak gugup." Momoi menundukkan kepalanya.

"Tenang saja, kita berusaha ya." Akashi menaruh tangannya di atas kepala Momoi dan menepuk nepuknya.

"Iya ayo kita berusaha." Momoi mengepalkan tangannya tanda semangat.

"Nah sekarang kita sambut penampilan kelas 11B."

"Ayo." Akashi langsung memberi aba-aba kepada Momoi.

"Tentu saja." Momoi langsung menggandeng tangan Akashi.

Mereka pun berjalan di red carpet yang sudah di sediakan sekolah khusus untuk lomba ini.

"Kyaak Akashi keren." Para siswi terus meneriakkan nama Akashi tanpa lelah.

Setelah mereka berjalan di atas red carpet, sekarang mereka akan uji kemampuan.

"Kita kan tidak latihan uji kemampuan gimana nih." Bisik Momoi resah.

"Tenang saja." Akashi berkata santai.

Akashi mengambil sebuah gitar dan satu tempat duduk.

Momoi memandang bingung ke arah Akashi, "apa sih yang dia rencanakan."

"Saya akan menyanyikan salah satu lagu dari 'One Ok Rock' yang berjudul Wherever You Are."

Teriakkan para siswi pun terhenti, mereka terdiam untuk mendengar nyanyian sang pangeran, Akashi.

Petikkan gitar mulai terdengar menciptakan suatu melodi yang indah, Akashi menatap kearah Momoi dan mulai bernyanyi.

I'm telling you o yeah...

I'm softly whisper.

Tonight... tonight...

You are my angel.

Aishiteru yo o yeah...

Futari wa hitotsu ni.

Tonight... tonight...

I'm just to say...

Wherever you are i always make you smile.

Wherever you are i always by your side.

Wherever you say kimi wo omou kimochi.

I promise you forever right now.

Lagu tersebut terus di nyanyikan oleh Akashi sampai selesai, membuat para penonton terhipnotis.

Setelah selesai, Akashi langsung menyerahkan bunga mawar kepada Momoi.

Wajah Momoi memerah seketika melihat itu semua.

"Kyaak Akashi!" Para siswi meneriakkan kembali nama Akashi.

Mereka menundukkan badan mereka tanda sudah selesai menunjukkan bakat.

Prok prok prok. Tepuk tangan terus di berikan untuk mereka berdua.

"Kita berhasil." Akashi tersenyum.

"Iya." Momoi juga tersenyum.

XXX

"Nah sekarang kita akan umumkan pemenangnya!" Kata sang pembawa acara.

"Pemenangnya adalah..."

Mereka semua tegang menunggu siala pemenangnya.

"Bagaiman jika kita tidak menang." Momoi khawatir.

"Tenang saja." Akashi santai.

"Pemenangnya dari kelas 11B pasangan Momoi dan Akashi silahkam maju kedepan." Sang pembawa acara berseru.

"Yeeey kita menang." Momoi bersorak ria, Akashi hanya tersenyum melihatnya.

XXX

Nah yang ke 3 telah jadi, gomen kalau banyak salah soalnya saya ngetiknya ngebut hehehe ^^

Oh iya cuma mau ngasih tau kalau lagu yang dinyanyiin Akashi itu emang ada beneran dan artinya bagus banget ^^ silahkan review...