Disclaimer : masashi kishimoto

Warning : typo, gaje, abal, craikpair

"Lalu apanya yang gawat?" Ino semakin tidak sabar.

"Gawat karena anak baru itu mulai di sukai oleh para golongannya." jelas karin.

"Golongan tidak populer?" Ino berbicara dengan nada meremehkan.

Karin mengangguk "Tepat. Dan bukan hal itu saja, cewek itu punya wajah yang lumayan. Tidak sedikit cowok yang mulai menyukainya."

"Sepertinya ada yang mengajak perang." Ino memincingkan matanya.

"Jangan terburu-buru Ino-san." apa yang aku lakukan mengatakan ini? Ya ampun, aku hanya tidak ingin ada orang yang tidak bersalah akan menderita karena siksaan kami. "dia hanya cewek biasa dari kalangan tidak populer. Sebutir kerikil tidak akan begitu mengganggu."

"Benar juga Ino, selama dia santai, mengapa kita tidak santai juga?" kata Tenten.

Aku lega karena ada yang menyetujui ku.

"Hinata, apa kau tidak takut?" Karin menaikkan sudut bibirnya "cewek itu sekelas dengan Gaara lho."

ada sedikit kekhawatiran dalam hati ku −dan aku rasa ini normal. Aku mencoba meyakinkan diri, Gaara mencintaiku, tidak mungkin dia berpaling.

"Sudahlah Karin. Kita akan bertindak jika cewek itu macam-macam" perintah Ino.

aku menghembuskan napas lega mendengar kebijaksanaan Ino, aku tidak mau ada penderitaan lagi, aku tidak mau kalangan tidak populer di permainkan lagi.

"Tapi tidak ada salahnya kan jika kita menemuinya dan 'say hello' pada si anak baru itu." tersirat senyuman licik di bibir Ino.

Rasanya jantungku ingin melejit keluar tatkala mendengar karin dan Tenten menyetujui.

Tak lama kemudian mereka bangkit dan berjalan meninggalkan meja. Aku terbengong sebelum akhirnya Ino menyadarkan ku.

"Hinata. Ayo kita temui anak baru itu. Sepertinya akan menyenangkan."

"I-iya. Ayo." aku bangkit dan mengikuti mereka.

Kami para cewek satelit tidak akan mungkin terlepas dari pandangan para siswa yang lain ketika kami berjalan melewati depan kelas mereka.

Langkah kami perlahan mendekati kelas Gaara −dan sialnya sekarang menjadi kelas gadis itu juga. Aku merasa was-was, berharap semoga Gaara tidak ada di kelas, karena dia memang tidak suka dengan apapun yang berbau penyiksaan. Aku jadi teringat akan bagaimana pertamakalinya aku bertemu Gaara. Setelah selesai menangisi buku ku yang berakhir di closet toilet, aku meninggalkan toilet dengan lemas dan tidak fokus pada keadaan sekitar. Aku menabrak Gaara yang sedang membawa segelas cappucino dan berhasil mengotori bajunya. Untungnya di memaafkan ku. Setelah kejadian itu kami sedikit dekat. Singkat cerita kami jadian. Gaara menyatakan cinta dengan cukup baik pada malam musim gugur.

"Halo Sakura. Selamat siang. Sudah menikmati makan siang mu?" Ino menyapa Sakura dengan sangat manis dan berarti ambigu.

"Oh. Ternyata memang ada anak baru ya?" Karin berkacak pinggang.

"Sial ya kami baru tahu sekarang." Tenten mengangkat dagu gadis itu.

Aku mengigit bibir. Aku harus mengatakan sesuatu dengan gaya khas cewek satelit.

"Jadi siapa nama mu?" aku berkata dengan nada seangkuh mungkin yang aku bisa. Tanganku menyilang di bawah dada.

"Sa-sakura Haruno." jawab gadis itu.

"Nama yang bagus. Bersikap baiklah Sakura Haruno, kalau kau macam-macam, kau tahu kan? Kau akan−" Ino menyelesaikan kalimatnya dengan gerakan vertikal kipas lipatnya di leher.

Ledakan tawa Ino diperkuat oleh Tawa Karin dan tenten, sementara aku hanya bisa menampakkan senyum jahat.

.

.

|Girlfriend|

.

.

Setelah kejadian mengerikan itu, entah mengapa aku jadi merasa takut untuk bertemu Gaara −tepatnya merasa bersalah. Untung saja sore ini dia tidak ada di depan loker ku lagi, dan setelah aku cek layar ponsel ku −tidak ada email dari dia. Aku berhak bernapas lega untuk itu.

"Hinata."

Bahu ku menegang mendengar suara yang familiar dari balik bahu ku.

"Gaara-kun?"

"Apa kau yang melakukannya pada Sakura?" tanpa basa-basi Gaara langsung menanyaiku dengan aksen tuduhan.

"Sakura?" apa aku harus berpura-pura tidak tahu atau apa.

"Anak baru itu. Geng mu menakutinya?"

"A-aku tidak melakukannya." aku mengelak, dan ini memang benar, aku tidak menakut-nakuti Sakura, aku hanya menanyai namanya.

"Aku tidak yakin." kata Gaara dingin.

"Aku tidak melakukannya." suara ku memanja. Aku harap Gaara tidak akan mempermasalahkan ini.

"Kau yakin?" selidiknya.

"Gaara-kun tidak percaya pada ku ya?" aku cemberut.

Akhirnya pria di depan ku tersenyum tipis. Dia membawa ku kedalam rengkuhannya yang hangat. Aku merasakan Dia yang mencium kepalaku.

"Syukurlah kalau kau tidak melakukannya." katanya damai.

"Gaara-kun harus di denda."

"Ha? Denda apa?" Dia melepaskan pelukannya untuk berbicara pada ku.

"Denda karena sudah menuduhku. Pokoknya harus traktir roti madu."

ia mendengus menahan tawa "Kau ada-ada saja. As you wish your majesty." ia membuka telapak tangan layaknya sang pangeran yang menyambut sang putri.

Tangannya menggamit tanganku. Dan kami meninggalkan gedung sekolahan secepat mungkin.

.

.

|Girlfriend|

.

.

"Ada apa sih?" Gaara mengamatiku dari balik cangkir espresso yang di pegangnya.

Aku senyum-senyum misterius untuk membuatnya lebih penasaran.

"Kau kenapa?" tangannya menyentuh pipi penuh ku.

"Ini tanggal berapa?" aku memainkan garpu dan menusuk-nusukan pada permukaan roti yang mengembang. Aku ingin sedikit permainan tebakan.

Gaara memutar bola mata, mengingatnya. "Umm...tanggal 5, memangnya ada apa?"

"Gaara-kun lupa ya." untuk sesaat aku mendadak tida suka roti madu di hadapanku.

Dia tertawa, lalu berhenti dan memandangku dengan seringai khas nya "Aku ingat sayang. Tapi aniversary kita kan besok. Tanggal 6."

"Aku ingin pesta."

"Apa ini denda karena aku pura-pura lupa?"

Aku menggeleng "Ini lebih tepatnya perayaan. Aku ingin Ino-san dan yang lainnya hadir."

"Aku lebih setuju menyebutnya traktiran makan malam."

"Apapun itu Gaara-kun. Aku ingin merayakannya."

"As you wish your majesty."

.

.

|Girlfriend|

.

.

Aku mengedarkan pandangan ke meja-meja lain, kira-kira setengah jumlah meja terisi. Area prasmanan berada di sebuah ruangan kecil dekat lobi utama, yang membuka ke beranda lebar berdinding kasa yang menghadap danau. Kami memilih untuk duduk di beranda.

Ino yang mengenakan gaun sepanjang lutut, duduk manis di samping Sasuke yang samasekali tidak terlhat formal dengan kaos hitam dan kalung berliontin Uchiha.

Karin datang tanpa Suigetsu, ia memilih untuk duduk di dekat Tenten.

Aku dengan Gaara yang sama tidak formal, Gaara memakai sweater hitam yang menutupi kaos merahnya.

"Ini memang bukan party ya?" Karin melancarkan protes pada ku.

"Sudahlah Karin, lagipula Gaara sepertinya bukan tipe cowok party." Ino memainkan kipas lipatnya.

"Yeah...Gomen, aku harus menjaga sikap." balas Gaara.

Sasuke mulai menyalakan api, menghisap rokok yang tersemat di bibirnya. "Anak walikota harus bisa menjaga nama baik." tambah Sasuke, lalu menghembuskan asap rokoknya.

"Aku tidak punya pilihan lain." Gaara mengangkat bahu.

"Karin. Kalau kau mau party yang seru. Datang saja di perayaan aniversary ku." Sasuke merengkuh pundak Ino, mendekatkannya pada bahu Sasuke "Iya kan Sayang?" lalu pria Uchiha itu mengecup kekasihnya.

Di balik meja, tanganku meraih lengan Gaara yang hangat. Karena aku malu untuk terlalu terbuka begitu. Gaara tersenyum.

Gaara mendekatkan wajahnya pada ku. Dan aku merasakan sensasi gelombang lambat di dalam perutku.

"Aku mencintaimu. Selamat hari jadian kita yang ke 1 tahun." bisiknya.

.

.

|Girlfriend|

.

.

Aku merasa bahwa menjadi cewek satelit lebih tidak penting daripada menjadi cewek biasa. Maksud ku apa bisa di sebut hal penting jika pada setiap pertemuan makan siang di meja populer,yang kita bahas hanyalah kesialan cewek kurang populer ataupun gosip terbaru di sekolah −seperti berita tentang kebenaran rumor minggu lalu bahwa Sari jatuh miskin karena harta orangtuanya di sita oleh bank.

"Sepertinya si Haruno itu gadis baik." Ino seperti sangat tertarik untuk membahas anak baru itu. Wajah cantiknya menengadah angkuh.

"Itu karena kau mengancamnya." Karin mengingatkan.

Pandanganku teralihkan pada seorang yang mulai berjalan menuju kerumunan meja kurang populer. Gadis itu −Haruno Sakura. Dia sepertinya habis mendapat masalah. Bercak-bercak tanah mengotori baju seragamnya. Dia mulai mengambil tissue untuk membersihkannya.

"Hey Mistress, coba lihat itu!" Seru Tenten.

Ino dan Karin ternganga melihat gadis pink di meja kurang populer. Kalau saja menganga itu tidak melanggar kode etik hidupnya mungkin saja Ino akan terus begitu.

"Sepertinya ada yang mendahului kita." Karin merasa kesal.

"Biarlah. Syukur kalau ada yang memberinya pelajaran. Jadi kita tidak harus repot-repot mengotori tangan kita." Ino memandangi kuku tangannya yang di warnai merah muda.

Dan jujur saja aku lega mendengarnya. Karena aku tidak harus melihat penyiksaan itu lagi.

Ino mulai melahap roti sfogliatelle (Roti berbentuk kerang dengan banyak lapisan)nya.

"Ino, sepertinya aku ingin menyapa si pinky itu." Karin menyeringai.

"Jangan terlalu keras Karin-san." aku mengingatkan. Karena aku tidak mau mendapat masalah.

Karin yang tidak begitu mendengarkan ku akhirnya sudah berada di meja kurang populer. Semua siswa melihat ke arahnya.

"Wah...sepertinya kau habis bermain." Karin mengamati Sakura dari atas sampai bawah "bermain istana pasir bukan di sini tempatnya." Karin mengeluarkan tawa, memandang berkeliling untuk melihat apakah anak-anak lain ikut menyaksikan adegan komedi yang menakjubkan ini.

"Ya ampun, Mistress. Apa memang benar begitu?" suara prihatin Tenten yang palsu membahana di kafetaria. Ino tertawa −dan aku juga. Mungkin lebih tepatnya hanya mengikuti.

"Hei Sakura. Gadis permen. Sudah ku bilang kalau kau mau selamat jangan berulah."

kalimat Ino barusan menyiratkan seolah-olah kami lah yang melakukannya. Aku memilih untuk diam dan menjadi penonton acara pertunjukan yang di bintangi Karin.

Sementara Sakura hanya tertunduk, persis seperti yang pernah aku lakukan dulu saat cewek satelit memainkan dramanya pada diri ku.

.

.

|Girlfriend|