Disclaimer : masashi kishimoto

Warning : gaje, typo, craikpair, newbie

"Aku dengar ada sedikit keributan di Kafetaria." Gaara mulai menyalakan kontak mobilnya −hari ini dia membawa mobil.

Aku mencoba menenangkan diri dan menjelaskan −mungkin lebih tepatnya sedikit berbohong.

"Aku tidak tahu."

"Tidak mungkin."

"Aku tidak melakukannya."

"Apa itu benar?" ia melirik sebentar seperti memastikan apa aku sedang berbohong atau tidak.

"Aku tidak melakukannya." aku mengulang dengan nada pelan.

Gaara memijit keningnya "Aku tidak mau kau melakukan yang lebih jauh."

ah...percuma saja, dia seperti tidak mempercayai ku, dan sejak kapan itu terjadi? Apa dia sudah mulai tertarik dengan Sakura? −persetan. Aku menutup pintu mobilnya dengan keras ketika aku sudah menginjakkan kaki di depan gerbang rumah ku. Tanpa mengucapkan 'sampai jumpa kembali' Gaara langsung meninggalkan ku.

Kamarku tampak sangat berantakan dengan buku yang berserakan di atas meja belajar dan benang wol berwarna merah padam dengan sulaman yang baru dikerjakan sedikit. Aku membereskan buku dan berpikir 'mungkin aku harus menyelesaikan sulaman nya.'

setelah membersihkan diri, aku mengambil posisi enak di atas kasur, memulai untuk sulaman selanjutnya −aku ingin membuat sweater hangat karena sebentar lagi musim dingin.

Aku tersenyum membayangkan seseorang yang akan memakai sweater buatan ku −tentu saja Gaara, siapa lagi? Aku sangat sibuk mencintainya sehingga tidak ada waktu untuk memikirkan cowok lain.

.

.

|Girlfriend|

.

.

Hari-hari terasa semakin cepat. Aku sudah bersama cewek satelit lagi dan lagi-lagi di Kafetaria. Setelah kejadian kemarin, aku tidak melihat Sakura lagi di sini, malangnya gadis itu.

"Hei Mistress. Aku ada janji dengan Sasuke-kun. Jadi sorry ya aku tidak bisa haha-hihi di sini."

"Haah...gak asik kau Ino." Karin kesal "Kalau begitu. Aku juga mau makan siang dengan Suigetsu saja ah."

"Curang." seru Tenten "Ya sudah. Aku ke perpustakaan saja."

"Mungkin aku juga akan menemui Gaara-kun."

dan setelah itu kami berpencar.

Sebenarnya aku tidak yakin untuk menemui Gaara −mengingat kejadian kemarin. Mungkin dia marah pada ku. Dan untuk alasan tertentu aku tidak bersalah, aku hanya menyaksikan dan tidak ikut mengata-ngatai Sakura −walaupun aku ikut tertawa sih. Dan oke mungkin disini letak rasa bersalahku.

Aku melihat Gaara yang muncul dari belokan di depan ku. Aku pikir ini hanya halusinasi karena aku sedang memikirkannya. Dia tidak sendiri, karena selang beberapa detik kemudian ada seorang gadis yang membuntutinya −gadis yang ku kenal.

Untuk beberapa saat aku tak tahu harus mengatakan apa, ditambah tatapan tajam dari Gaara membuat nyali ku menciut.

"Gaara-kun?" aku melirik gadis dibelakangnya. Gadis itu basah kuyup seperti habis tercebur di kolam atau semacamnya, aku mengamati lebih detail lagi, air yang membasahinya bahkan lebih kotor dari air kolam ikan di belakang sekolah, bisa jadi itu air yang sudah di campur lumpur dan mungkin telur −mengapa aku berpikir telur? Itu karena baunya amis.

Aku menelan ludah, menyingkirkan pikiran apakah aku pantas jika aku mengatakan ini "Sakura-san, apa yang terjadi?" saat itu aku berharap semoga Ino dan yang lainnya tidak tahu.

"Hentikan semua ini Hinata. Cukup." suara Gaara bahkan terdengar tidak bersahabat −apa hanya perasaan ku saja?.

Saat aku melirik sang gadis kembali, dia sudah tertunduk meneteskan air mata.

"Hentikan apa Gaara-kun? Apa maksud Gaara-kun?"

aku melihat secara langsung dan hampir tidak percaya, kekasih ku menggamit tangan gadis itu dan pergi begitu saja seolah aku tak pernah ada.

Mereka mulai menjauh dan menghilang dari pandangan ku..

.

|Girlfriend|

.

.

"Aku tidak melakukannya." aku berbicara pada saluran telepon.

"..."

"Aku bersumpah, aku tidak melakukannya." kata ku pasrah, ini sudah kesekian kalinya aku mengulang kalimat yang sama, tapi nampaknya lawan bicara ku tak mau mempercayai bahkan hanya sekedar menanggapi pun tidak.

"Tapi mereka bilang bahwa kau yang menyuruh mereka untuk mengerjai Sakura."

Siapa lagi itu? Mereka siapa? Aku bahkan tidak bertemu secara khusus dengan siapapun, aku terlalu sibuk menjadi satelit yang mengorbit pada planet Ino.

"Mereka siapa? Aku tidak tahu. Aku tidak melakukannya."

tuut...salurannya terputus −lebih tepatnya, Gaara menutup teleponnya.

Aaarrggh...aku mencengkeram erat kepala ku yang mulai terasa berat. Air mata ku membuncah keluar dari sudut mata. Apapun itu asal jangan mengambil Gaara dari ku. Aku benar-benar mencintai cowok itu bahkan lebih dari hanya sekedar mencintai. Tolong jangan ambil dia dari ku. Aku mohon. Aku mohon.

.

.

|Girlfriend|

.

.

Hari-hari berlalu, dan aku semakin jauh dengan Gaara. Dia sudah tidak pernah muncul di hadapanku apalagi menunggu ku di loker sepulang sekolah. Yang lebih menjengkelkan lagi, kabar bohong tentang putusnya hubungan kami sudah tersebar luas. Dan karena kabar itu aku berada di sini, di kafetaria meja populer.

"Siapa yang berani melakukan cara memuakkan itu?" wajah Ino mengeras.

Harus ku akui, walaupun kadang cewek satelit itu terasa menyebalkan, tapi mereka benar-benar setia kawan.

"Aku teringat pada 'dia'." tenten memberi penekanan "Rival mu sewaktu SMP itu Ino."

"Ayolah Mistress. Kita beri pelajaran." Karin sudah tak sabar

"Apa mungkin itu 'Shion'?" Ino mengedarkan pandangan pada kami "Tapi mengapa Hinata yang dia incar?"

"Sederhana saja. Shion membenci segala yang berhubungan dengan mu. Dan Hinata teman kita. Dia akan tetap senang jika siapapun di antara kita berempat akan terkena sial. Karena kita teman mu, Ino." papar Tenten.

"Sial." dahi Ino berkerut. Ia bangkit dan memerintahkan "Ayo Mistress. Kita beri dia pelajaran."

dan untuk hal semacam ini, Karin adalah orang yang paling bersemangat.

Tak butuh waktu lama untuk mencari Shion dan para satelitnya. Seperti musuh alami, Ino dan Shion saling memberikan tatapan tajam.

"Jadi kau yang mengacau?" Ino berkacak pinggang.

Pandangan Shion meredup, seketika ekspresi wajahnya berubah tak berdosa. Wajah imut yang di buatnya membuat ku tidak tahan untuk menghajar dia yang telah memakai namaku untuk kepentingan pribadi.

"Ino-chan, mengapa kau sangat kasar. Aku takut." katanya dengan nada lembut yang di buat-buat.

Ino mendengus kesal "Berhenti mengacau dengan ku Shion. Atau kau akan menyesal."

"Oh...baiklah Yamanaka-sama. Kalau begitu, mungkin kau juga akan menyesal jika kau mengacau dengan ku." Shion menunjukkan layar ponselnya yang menampakkan gambar Ino dan Sasuke yang berpose 'tak biasa'. Seketika mata Ino terbelalak, wajahnya memucat.

"Menyedihkan Shion!" Seru ku kesal dan tidak biasanya "Cara mu klise sekali ha?!"

Shion tertawa puas di ikuti para satelitnya.

"Ini bukan era kuno! Tidak usah menggunakan cara klise!" Karin menimpali.

Aku berhenti ketika Ino mengangkat tangannya −mengisyaratkan berhenti. Ia masih terdiam. Dengan ekspresi poker face ia berbalik meninggalkan Shion dan satelitnya. Tentu saja kami dapat mendengar tawa kemenangan Shion.

.

.

|Girlfriend|

.

.

Aku tidak pulang bersama Gaara, dan sepertinya Ino juga tidak pulang bersama Sasuke. Akhirnya kami malah pulang bersama. Ino menjadi lebih diam dari yang biasanya. Sejujurnya aku merasa bersalah, semua ini karena Ino membelaku, pada akhirnya Ino mendapat masalah baru.

"Gomen ne,Ino-san."

"Ini salah ku. Bodohnya aku." Ino meruntuki diri sendiri. Kakinya menendang-nendang kerikil.

"Memangnya mengapa bisa foto itu sampai pada Shion?"

"Aku tidak tahu. Ini gara-gara Sasuke baka yang selalu mempunyai ide gila untuk memotret hal pribadi." Ia menyalahkn pacarnya.

Aku berheti, langkahku secara otomatis terhenti ketika melihat Gaara pulang bersama Sakura. Mereka terlihat sangat akrab dan dekat. Secepat itukah Gaara?

Ino menepuk pundak ku. "Sepertinya kau harus mulai memikirkan untuk membuka buku baru."

kalau itu berarti 'ganti pacar' maka jawaban ku 'tidak'.

"Cepat sekali ya? Dasar laki-laki." Cibir Ino.

aku mengangguk pelan menyetujui.

"Lagipula, aku kira si Sakura itu tidak akan mengganggu. Ternyata..."

"Tidak ada yang bisa lolos dari pesona Gaara-kun." kata ku lemas. Dan itu fakta.

"Yeah...putra walikota itu memang mempesona sih." Ino menyetujui.

"Wah...tadinya aku rekam saja perkataan mu tadi. Ku tunjukkan pada Sasuke biar dia tahu." aku mencoba untuk menghibur Ino.

Ia tertawa "Kau tidak tahu bagaimana dia cemburu. Lucu sekali." Ino menutupi mulutnya yang tertawa lepas..

.

|Girlfriend|

.

.

Semua siswa di Konoha Gakuen sudah menyangka bahwa aku memang benar-benar di putuskan Gaara. Dan Sakura itu sangat beruntung bisa menarik perhatian laki-laki ku.

"Gaara-kun,tunggu. Aku mau bicara." aku menarik lengan Gaara.

Gaara menanggapi dengan enggan.

"Mengapa kita menjadi jauh?"

"Karena kau yang memintanya."

"Aku tidak melakukannya." aku bersikeras untuk membela diri.

"Aku dengar geng mu itu pandai bersandiwara."

setelah melancarkan sindiran itu, ia pergi tanpa beban meninggalkan ku. Gaara benar-benar sudah membenci ku. Aku rasa wajar saja jika aku mulai membenci Sakura.

Aku berani bertaruh, siswa Konoha Gakuen yang mengamati ku sekarang tidak lagi menyiratkan tatapan 'wah...itu Hinata, beruntung sekali berteman dengan Ino dan menjadi populer', jika di artikan, tatapan mereka mungkin menjadi 'wah...itu Hinata, malang sekali pacarnya di rebut oleh orang tidak populer'

Ini kekalahan −ku rasa. Aku harus segera kembali ke kelas dan melupakan masalah percintaan yang sudah retak. Gaya berjalanku sudah tidak menggambarkan cewek satelit lagi −mungkin lebih tepatnya gaya berjalan kekalahan. Di tengah lamunan ku seseorang menabrak ku −atau aku yang menabrak? Aku tidak tahu, yang aku tahu bahwa dia Sakura, gadis itu sudah berada di dekat ku.

Lonjakan rasa kesal tiba-tiba bermunculan tak beraturan, banyak yang ingin aku katakan pada gadis itu, apapun itu yang intinya 'Jauhi Gaara!'.

"Sakura." kata ku tajam.

"Gomen Hinata-san."

Gomen? gomen untuk apa? gomen untuk menabrak ku? Atau gomen untuk mengambil Gaara?

Hampir saja kalimat itu keluar kalau aku tidak buru-buru menelannya kembali.

Ahh...tidak ada gunanya mengata-ngatai dia, toh nanti akan membuat hubunganku tambah retak saja dengan Gaara. Aku melewatinya, membuang kesempatan emas untuk memaki-maki gadis yang merebut lelaki ku.

Sepertinya kontak batin antara cewek satu geng sangat kuat layaknya saudara kandung, atau memang karena jaringan informasi Karin yang luasnya keterlaluan. Dalam waktu sesingkat ini mereka dapat menyimpulkan bahwa 'Gaara perhatian pada Sakura.' 'Aku tidak di percaya lagi.' 'Dan kemungkinan besar hubungan akan berakhir.'

Saat aku membuka ponsel ku, 3 email berhasil masuk dengan pertanyaan yang sama.

Ino, Tenten, Karin :

'Mistress Hyuuga...Jadi berita itu benar ya? (OAO)'

Aku membalas seadanya.

'Jawabannya ada dua, bisa iya dan bisa tidak. Iya karena aku dan Gaara sudah semakin menjauh. Dan tidak karena kami tidak putus.'

aku tidak mengerti ada kekuatan apa di balik 'bercerita', hanya saja setelah menceritakan sedikit saja efeknya lumayan juga, aku merasa beban ku agak ringan. Ino, Tenten, Karin...kalian memang teman.

Ino

'Mistress. Kafetaria. Pulang sekolah. Oke?'

Senyumanku muncul kembali membaca email dari Ino. Hari ini tidak terlalu buruk kan?

TBC..

Gemini sayang : aku belum pernah publish ini di ffn kalo publish di fb pernah, ini ori ku sendiri kok :) dan makasih udah reviewnya silahkan jadiin favorit :) arigatou