akhirnya ini saya jadikan kumpulan drabble/ficlet midofem!aka, daripada saya harus bikin new story yang isinya cuma 500-1000 kata. masih sama seperti chapter lalu; domestic au, genderbend, plotless, dan random. sarana untuk meng-OOC-kan karakter. yaiy!
knb © fujimaki tadatoshi
i (don't) love you
"Shin."
Seijuurou memanggilnya, ketika Shintarou mengira perempuan itu sudah tidur. Shintarou, secara literal, sudah berbaring dalam diam selama satu jam, tanpa merasakan kantuk sedikit pun. Seijuurou sudah meringkuk di balik selimut sejak tadi. Tidur, Shintarou kira.
"Ya?" Shintarou menoleh ke sisi kirinya. Sepasang mata merah milik Seijuurou menatapnya. Dia tidak memakai kacamata, tetapi dia masih bisa melihat wajah Seijuurou dengan jelas. Wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter darinya. Di samping gurat-gurat lelah di wajahnya, matanya masih terbuka lebar. Tidak menunjukkan tanda-tanda kantuk.
"Kukira kau sudah tidur," Seijuurou berkata lagi.
"Harusnya aku yang bilang begitu."
"Kau diam saja sejak tadi. Bergerak pun tidak. Kukira kau pingsan karena kelelahan." Seijuurou mengalihkan arah pandangnya ke langit-langit bercat putih, menyingkirkan rambut yang menjuntai menghalangi pandangannya. Matanya mengerjap beberapa kali. Shintarou dapat mengamati fitur wajahnya dari arah samping dengan jelas, sekarang.
"Kupikir kau tidur. Aku tidak mau mengusikmu," Shintarou beralasan. Seijuurou mengabaikannya. Asyik dengan langit-langit putih tanpa cela. Seolah-olah lapisan triplek itu tiba-tiba menampilkan tayangan yang sangat menarik. Atau, mungkin Seijuurou memang sedang mengimajinasikan entah apa yang terlintas di benaknya. Keheningan tidak pernah mengganggu Shintarou, tetapi dia benci diabaikan. "Apa yang kau pikirkan?"
"Banyak," Seijuurou menjawab pendek. Masih belum mau menatap lawan bicaranya.
Shintarou mengikuti arah pandang Seijuurou. Siapa tahu langit-langit kamarnya memang menarik untuk diamati. "Beri tahu aku."
"Kau sungguh ingin tahu?" bola mata Seijuurou melirik ke arahnya, beberapa jenak. Lalu kembali lagi ke langit-langit.
Jeda beberapa detik. Shintarou sedikit kecewa, tidak ada yang menarik di langit-langit kamarnya. Kemudian menjawab, "ya."
"Kau yakin?"
Shintarou merasa Seijuurou terlalu berputar-putar. Tinggal memberitahunya, apa susahnya? Biasanya, perempuan berambut merah itu mengatakan apa pun yang ada dipikirannya tanpa sensor. Jika ada yang tersinggung, itu urusan belakangan. "Katakan saja."
Seijuurou tidak langsung menjawab. Hanya derak napasnya yang terdengar, selama jeda kosong di antara mereka. Beriringan dengan tarikan napas Shintarou. Rona wajah Seijuurou masih sama tenangnya seperti biasa. Tidak ada gurat-gurat ekspresi di wajahnya, yang bisa dijadikan petunjuk untuk menebak apa kira-kira yang dia pikirkan. Hanya ada raut dingin yang sempurna.
"Sei?"
Shintarou menoleh ke arah gadisnya. Seijuurou tidak balas memandangnya. Melirik pun tidak. Langit-langit kamar masih menjadi pusat atensinya. Satu helaan napas, dan Seijuurou mulai membuka mulut.
"Apa kau menyayangiku, Shintarou?" kali, Seijuurou menolehkan kepalanya, balas memandang Shintarou. Ekspresi wajahnya tidak berubah. Nada suaranya juga tidak menyatakan apa-apa. Kecuali bertanya.
"Kau mau aku menjawab apa?" Shintarou balas bertanya. Sambil menerka-nerka ke mana Seijuurou akan mengarahkan pembicaraan ini.
"Kuanggap itu sebagai ya."
"J-jangan seenaknya menyimpulkan," Shintarou membantah.
"Oh." Sepasang mata merah milik Seijuurou melebar. Alisnya terangkat sebelah. "Jadi, kau tidak sayang padaku?"
Shintarou tidak mengerti bagaimana perempuan itu tetap menjaga nada suaranya agar biasa-biasa saja. Tanpa emosi. Bahkan, tergagap karena gugup pun tidak. Padahal, biasanya perempuan bisa sangat sensitif membicarakan hal semacam ini.
"Bu-bukan begitu," Shintarou menolak membalas tatapan mata Seijuurou yang begitu intens. Iris serona delima itu seakan sedang menelanjanginya. Dia ingin menarik selimut dan meringkuk membelakangi Seijuurou untuk menghindar. Tetapi dia masih sadar itu bukan hal yang patut dilakukan. Demi entitas apa pun yang menguasai jagad raya, dia laki-laki. Kenapa seolah-olah dialah yang tampak seperti anak gadis, di sini? Menggelikan. "A-a-aku menyayangimu, kok." Wajahnya pasti sudah berubah warna, sekarang. Shintarou berusaha untuk tidak bertemu pandang dengan Seijuurou. Perempuan itu pasti sudah menyeringai bahagia, seolah-olah dia baru saja memenangkan lotre.
"Sungguh?" Seijuurou bertanya seolah mengujinya. "Kalau memang benar, kenapa tadi mengelak?"
"Aku tidak mengelak. Aku cuma bilang jangan menyimpulkan sembarangan."
"Tapi kesimpulanku benar, kan?"
"Terserah." Lagi-lagi Shintarou kalah berdebat.
Shintarou mendengar tawa pelan Seijuurou, sebelum dia bertanya lagi. "Kau mencintaiku?"
"Sei, kau harus istirahat. Kau pasti lelah." Shintarou menarik kesimpulan bahwa Seijuurou mungkin kelelahan, atau kurang sehat, atau salah makan. Maka dari itu dia mulai bertanya hal-hal aneh yang biasanya tidak pernah dia tanyakan. Rasanya tidak ada bahan makanan aneh dalam menu makan malam mereka. Atau, kepala Seijuurou mungkin terbentur di kantor, tadi.
"Ck! Jawab saja. Aku memaksa."
Awalnya Shintarou ingin mendiamkannya sampai Seijuurou bosan sendiri. Atau berpura-pura sudah terlelap. Tetapi, itu jelas bukan pilihan yang bagus. Seijuurou bisa menjadi sangat pemaksa jika dia mau. Konyol sekali jika mereka tidak tidur nyenyak hanya karena hal semacam ini. Sambil berharap semoga Seijuurou akan tutup mulut dan segera tidur setelah ini, Shintarou memutuskan untuk menjawab pertanyaannya. Apa adanya. "Aku ... aku tidak tahu."
"Jawaban macam apa itu?"
"Jawaban yang jujur. Aku sungguh tidak tahu." Shintarou mereguk ludah. Melirik Seijuurou melalui sudut matanya. "Apa bedanya menyayangi dan mencintai?
"Aku juga tidak tahu."
Shintarou tercengang. Setelah bertanya macam-macam, Seijuurou menyatakan kalau sebenarnya dia juga tidak tahu. Perempuan kadang-kadang bisa menjadi demikian sulit dipahami. Well, Shintarou tidak mau menggeneralisasi. Barangkali hanya Seijuurou-lah yang agak sulit dipahami. Memangnya, siapa lagi perempuan yang dia kenal baik selain Seijuurou, ibunya, dan adik perempuannya? Shintarou tidak bisa membuat pernyataan secara umum tentang wanita tanpa mengenal, setidaknya, dua tiga wanita lain.
"Tapi, sepertinya aku tidak mencintaimu, Shin."
Jika ucapan semacam ini terlontar dari mulut kekasihmu, siapa pun bisa kena serangan jantung mendadak. Apa lagi Seijuurou mengucapkannya dengan nada suaranya yang biasa. Dengan pandangan mata lurus, mengarah ke langit-langit kamar, alih-alih menatap wajah Shintarou. Bahkan ekspresi wajahnya nyaris tidak berubah.
Lucunya, Shintarou tidak terkejut. Setidaknya, tidak merasa terlalu terkejut. Dia memang tidak memprediksi Seijuurou akan berkata seperti ini—siapa yang bisa memperkirakan hal semacam ini, memangnya? Tetapi, setelah semua kejutan demi kejutan dialaminya sejak dia memutuskan untuk bersama Seijuurou, Shintarou mengira sudah tidak akan terkejut lagi dengan apa saja yang bisa dikatakan Seijuurou. Yang jelas, hidup bersama Seijuurou tidak pernah membosankan.
"Lalu, kenapa kau mau bersamaku?"
"Karena aku menyukaimu, mungkin."
Shintarou semakin tidak mengerti. "Kau bilang, kau tidak mencintaiku."
"Tapi aku menyukaimu," Seijuurou merespon dengan cepat. Dia masih tidak memandang Shintarou. Namun Shintarou bisa merasakan jemari Seijuurou meraih telapak tangannya. Meremasnya lembut. "Aku barangkali tidak mencintaimu, tetapi aku menyukaimu. Tahu bedanya, kan?"
Setidaknya perbedaan antara menyukai dan mencintai tidak serancu perbedaan antara menyayangi dan mencintai.
"Kenapakaumenyukaiku?" Shintarou bertanya tanpa jeda, membalas genggaman tangan Seijuurou. Sedikit bersyukur Seijuurou tidak memandang ke arahnya. Wajahnya pasti sudah merona (lagi) kini.
"Mmm," Seijuurou berpura-pura sedang berpikir. Itu bukan pertanyaan sulit, padahal. (Yah, mungkin sedikit sulit.) "Karena kau tampan, cerdas, dan ... yaa, kau sepenuhnya tipeku." Seijuurou mengerlingkan matanya ke arah kanannya, ke arah Shintarou. Sudut bibirnya berkedut menahan senyum. Tidak perlu dijelaskan lagi bagaimana ekspresi wajah Shintarou. "Apa kau menyukaiku juga?"
Shintarou tidak langsung menjawab. Perlu tiga tarikan dan helaan napas sebelum dia bisa berujar. "Entahlah ... sepertinya tidak. Kau bahkan bukan tipeku."
Mau tidak mau Seijuurou tergelak. Shintarou—katanya—menyukai perempuan yang lebih tua. Itu jelas bukan Seijuurou, karena nyatanya dia lima bulan dan tiga belas hari lebih muda dari Shintarou. "Tapi kau menyayangiku."
"Ya." Suara Shintarou terdengar seperti bisikan.
Seijuurou bangkit dari posisi berbaringnya. Mencondongkan tubuhnya ke arah Shintarou, yang masih betah memandang langit-langit putih tak bernoda. Helai-helai rambut merahnya berjatuhan, menyapu pipi Shintarou. Dia bahkan bisa mencium aroma Seijuurou—campuran apel dan mint, yang entah kenapa membuat otaknya sedikit berkabut, tidak dapat berpikir dengan benar.
"Dengar, Shin. Aku mungkin tidak mencintaimu. Tapi aku menyukaimu, dan menyayangimu juga. Kuharap itu cukup." Napas Seijuurou membelai wajahnya. Juga jari-jari Seijuurou. Merayap dengan hati-hati di tulang pipinya, mengikuti kontur wajahnya. "Dan, aku juga peduli padamu. Sedikit lebih banyak dibandingkan aku peduli pada diriku sendiri. Kau tahu benar tidak banyak orang yang kupedulikan. Jadi, ini seharusnya menjadikanmu spesial."
"A-aku juga mungkin tidak mencintaimu, Sei. Aku juga tidak menyukaimu. Tetapi, aku menyayangimu. Kau tahu, kau juga spesial." Perlu keberanian lebih untuk mengungkapkan ini. Dengan tambahan wajah Seijuurou yang hanya berjarak setipis kertas. Juga aroma apel dan mint yang semakin mengganggu penciumannya—dalam artian baik.
"Terima kasih."
Seijuurou menciumnya.
"Aku menyayangimu."
terima kasih sudah membaca :)
