BoBoiBoy © Animonsta Studios

Bersamamu, Inginku

.

.

.

[Kau adalah sosok yang begitu berharga. Mengarungi kehidupan kelam, mengabaikan tetes keringat dan air mata. Asalkan bersamamu aku kuat menghadapi hidup. Aku bersyukur untuk mengenalmu.]

Hope you enjoy mine!

.

.

.

{2/3} – Berjuang Demimu

Aku takut jika menyusahkan orang yang berbuat baik padaku. Ketika dia berjuang dengan tetes keringat yang mengucur bukan main-main, aku malah semakin menjatuhkan orang tersebut dengan bentakan. Tidak, aku bisa mengerti setiap kata orang yang selalu bilang, "Mau apa kau, dirimu tetap lah dirimu yang kusuka" terhadap kekasihnya.

Membuat orang sakit hati karena keegoisanku tanpa alasan itu pantanganku, yang selalu berprinsip untuk 'memanusiakan manusia'.

Seharusnya kau tidak usah mengenalku.

Kata-kata yang terulang sama dalam benakku. Aku benci sifat pesimisku. Yang membuat setiap kaum adam yang mencoba melamarku menjadi takut bersamaku. Alasan mengapa di umur 20 aku masih berstatus tidak punya pacar.

Sampai dia datang, dengan membawa cincin. Memasangkannya dengan lembut meski aku sempat menepisnya. Senyuman lembut yang menyiratkan mengerti tindakanku.

"Yaya memang polos. Pria manapun, tidak mungkin melepasmu dengan gampang," dengan masih belepotan lumpur kau berjuang memasangkan cincin itu kembali saat sempat tertunda. Senyuman lega, membuat hatiku sejuk memandangnya setiap kali.

"Kau berlebihan, Boboiboy."

"Tidak, Yaya. Aku sangat beruntung memiliki. Aku beruntung mengenalmu." Boboiboy mencoba mendirikanku pelan. "Ayo kita tagih pajak dari Fang dan Ying. Mereka berjanji akan mentraktir kita jika kita jadian. Fang sudah berjanji setelah mereka bersumpah di depan kapel tadi. Lalu, kita tandingi rumah tangga mereka."

Aku terlalu ragu, untuk rumah tangga yang akan kita capai nanti.

=oOo=

"Yaya, tidak terasa dua tahun pertunangan kalian. Akhirnya kau benar-benar menyusulku," gadis berkacamata bundar dengan tata rambut sama—kuncir dua—menyisir rambutku. "Waktu itu sungguh aku tidak menyangka kalian takkan bertunangan. Kukira kau menolaknya."

"Maaf ya, Ying. Aku salah membentakmu saat itu," yang bisa kulakukan kini hanya duduk kaku. Mengingat betapa kejamnya aku mengusir kedua mempelai nonmuslim yang justru menyambutku hangat ketika kami berdua berbalik.

Dua tahun lalu, Boboiboy mengantarku ke rumah Ying untuk berganti baju. Calon suami mengatakan malu bila tidak menepati amanat terhadap mertuanya, untuk menjagaku. Memang manis alasannya.

Kami malah diajak ke butik dan makan di restoran. Semua yang menanggung adalah Fang sendiri, mulai dari transportasi sampai biaya. Supervisor di suatu mall sih, wajar uangnya banyak. Walau latihannya memang tidak main-main, apalagi untuk mendapat predikatnya juga butuh usaha keras dengan kehadiran maksimal.

"Hei, Ying!" bisik laki-laki dari luar ruang tata rias. Suaranya dia kecilkan. "Penata rias datang! Nanti kena hardik tante-tante cerewet baru tau!"

"Kenapa kalau bilang tidak pernah manis, Fang?" gerutu Ying tidak rela. "Huh. Yaya, aku keluar dulu ya? Buat Boboiboy bahagia."

Aku terkekeh ragu. Ying sepertinya terobsesi dengan sifat Boboiboy yang selalu baik denganku, jadi dia tidak mau membuat kawannya itu sedih. Dia protektif sekali.

Selama dua jam, akhirnya sang penata rias memperbolehkan aku keluar dari udara pengap penuh aroma melati. Salah satu anggota bagian dekorasi membantu menenteng bawah gaun yang begitu besar. Senyum sumringah ditunjukkan tunanganku ketika aku lelah melangkah menuju pelaminan. High hells tidak semudah yang kukira, meski aku dicap feminim tetap saja susah.

Desisan kecil kudengar sesampainya dapat melekukkan lututku lalu mendaratkan pantat di atas kursi pelaminan. Aku hanya bisa menunduk dengan berfokus menatap buket bunga yang kini kugenggam. Oh ekor mataku tidak sampai melirik wajahnya ketika rasa penasaran melambung di hati. Kerudung tinggi dari penata rias benar-benar menghalangi.

"Hai Yaya, kau terlihat menawan. Aku bersyukur memilikimu."

Kadang aku takut harapan indahnya kandas. Tapi dia memang menyukaiku apa adanya, bukan?

=oOo=

Hidup kami cukup nyaman. Boboiboy memiliki pekerjaan tetap sebagai pegawai kantoran yang melayani pemasaran tiket pesawat terbang. Aku juga punya pekerjaan tetap dalam hubungan rumah tangga. Hanya sebagai penjual makanan nasi lemak. Rekomendasi atas suami sendiri yang mengatakan masakanku enak.

Setiap jam istirahat, dia akan mendatangi rumah kami dengan membawa satu kotak makan. Pelit, memang. Tapi aku jadi mengerti maksud 'sepiring berdua'.

Apakah terdengar konyol ketika kami lebih puas makan bersama dibanding masing-masing menyediakan jatah makan sendiri? Menurutku sendiri memang agak geli. Itu kenyataan. Aku tidak pernah menghabiskan isi piringku ketika siang sekalipun aku hanya mengaut nasi dengan dua sendok makan perak.

Alasannya; karena ketika aku makan sendiri selalu saja ada pembeli. Bisa dibilang, kami bergantian berjaga.

Tempat tinggal juga didapat dari warisan ibuku yang punya tanah di lain jalan. Kami membangun rumah dengan meminjam uang di bank. Meski kami masih punya hutang banyak, itulah pacuan kami agar selalu bergerak untuk bekerja.

Bergerak, berarti uang akan menghampiri kami. Aku bahkan sampai teganya membangunkan suamiku yang begadang semalam hanya karena takut rezeki tidak terbuka lebar kepadanya. Juga, rasanya sepi bila salah satu shalat wajib tidak ada imam.

Rumah ada. Usaha ada. Hanya tinggal memiliki keturunan.

"Yaya, kamu sudah coba test pack?" bisik Boboiboy suatu hari. "Aku gelisah kita tidak punya anak dari tiga bulan kita menikah. Hei, aku juga ingin punya anak secantik ibunya!"

"Aku belum membelinya, tidak ada waktu untuk itu. Jangan khawatir, anugerah anak bukannya hanya titipan?" aku mengelus pundak suamiku. "Bila belum, aku akan coba cari anak yatim untuk diadopsi."

"Tidak seru kalau bukan dari darah asli," suara Boboiboy terdengar kecewa. "Sepulang kerja aku akan carikan test pack. Setidaknya, apa sayang pernah mual? Atau apalah yang katanya adalah tanda-tanda kehamilan—"

"Tenanglah, Boboiboy," aku tahu Boboiboy selalu menantikan satu hal bahagia keluarga. Pada usianya yang ke 23, memang seharusnya dia mendapatkan anak. Usia itu juga adalah usiaku yang matang untuk memiliki 'bayi' dalam rahim.

"Belum dengar kabar Ying hamil?"

Aku menggeleng. Helaan lega keluar dari mulut sang suami.

"Aku berangkat dulu ya? Sudah mau jam kerja," Boboiboy bangkit dari kursi duduknya. "Telpon saja kalau kangen. Aku selalu sedia menerima panggilanmu, sayang."

"Hss! Jangan menggombal!"

"Aku terlalu senang pada akhirnya, Yaya si ketua kelas ini mau menerimaku yang payah. Bahkan sampai mengundurkan diri jadi notaris hanya untuk menjaga amanatku. Aku, beruntung mengenalmu."

Kata yang sama, ketika kami di pelaminan.

"Assalamu'alaikum. Jaga rumah ya?"

Hanya berdiri dari tepi pagar, aku menatap kepergian Boboiboy yang mengeret motor bebek. Jemari manis aku angkat, menampilkan suatu benda perak yang melingkar manis diantaranya. Lambang ikatan saling memiliki ini tentu masih kujaga baik-baik keberadaanya.

"Wa'alaikum ... salam ..."

=oOo=

Dagangan laris seperti biasa. Berjalan lunglai, aku terbaring di sofa secara tewas. Oh Tuhan hari ini memang sangat panas.

"Assalamu'alaikum. Yaya?" suara laki-laki memanggil namaku. Segera aku yang baru saja menikmati pembaringanku langsung bangkit menyambut.

"Wa'alaikum salam ...," aku menyalimi kedua tangan laki-laki itu. Yah, Boboiboy yang kini masih berpakaian dengan jas dan kemeja putih di dalamnya merangkul sebuah helm. Senyuman cengegesannya sempat membuatku curiga.

"Yaya, aku udah beli test packnya. Beli dua nih," Boboiboy memberiku sebuah bungkus. "Tahu cara pakainya kan?"

"Jangan remehkan aku! Aku pintar di segala bidang kedokteran! Huh!" ketusku lalu mendengus sebal. "Sebelumnya, makasih."

"Makanya daerahmu suburin dikit biar kecebong tahan mendem dong," Boboiboy secara tidak berdosa memberi kalimat ambigu kepada istrinya. Syukur tidak blak-blakkan di depan umum.

"Kecebongmu aja gak tahan asam—dah," aku berlalu menuju kamar mandi. "Oh ya, jangan. Intip. Ya. Abang?" aku mengunci pintu toilet. Berjaga-jaga, takut pikiran mesum menghampirinya. Aku pernah dengar laki-laki suka penasaran untuk masalah tubuh wanita.

Meski kami berstatus suami istri, aku bukannya makin melarang hubungan kami. Aku membebaskan dia menjamah area tubuhku! Menyentil bahuku bahkan dia sering lakukan jika waktu tidur bersama tiba. Hanya ... kalau menampakkan, aku tidak pernah melakukannya—

"Yaya, sudah?"

"B—bentar lagi!" teriakku dari luar. Aku pun mencarik dan mengeluarkan isi darinya. Pertama kali menggunakan test pack, aku membaca instruksinya agar tidak mendapat hasil gagal.

"AAAAAAAAAAA!"

"YAYAAA?! KENAPA?! BUKA PINTUNYA! BUKA!" suara gedoran pintu tidak kalah panik dari jeritan kami berdua. Aku dengan masih panik membuka pintu, mengulurkan hasil test pack langsung pada Boboiboy.

" ... positif ...," lirih Boboiboy. "Kita cek ke dokter ya, Yaya?"

Kami segera beranjak pergi menuju puskesmas yang kebetulan dekat dengan tempat tinggal kami. Jaga-jaga, Boboiboy memapahku agar aku tidak kenapa-napa. Padahal sebelum tahu juga biasanya aku selalu bertindak senonoh bahkan pernah tersandung hingga roboh dari lantai.

"Positif hamil. Selamat ya," sang dokter menyalamiku dengan sumringah senyum. "Baru menikah ya? Rahimmu masih rentan kulihat. Cobalah untuk selalu merawatnya dengan obat penguat rahim."

"Iya dokter. Terima kasih," aku beranjak dari kursi dengan Boboiboy yang waspada membopongku. Kami berpamitan dengan dokter dari ruangan sana. Boboiboy mendatangi toko farmasi untuk membeli obat yang dianjurkan sang dokter juga langsung membayarnya di sana. Setelahnya, kami berdua keluar.

"Oh Yaya, aku sudah benar-benar jadi seorang bapak!" seru Boboiboy. "Apa aku akan minta waktu cuti, ya? Eh bagaimana kalau kita membeli susu untuk calon ibu ini?"

"Boboiboy, hentikan," desisku. Aku malu yang terlalu overproaktif malahan suamiku sendiri dibanding aku yang mengalaminya sendiri. Aku juga senang, padahal. Aku wanita, bisa menahan perasaan begitu gampang. Bukannya aku dingin karena sedih dan berharap tidak mau memiliki anak.

"Aku usahakan akan pulang cepat untuk hari ke depannya. Oh, bagaimana kalau malam ini kita makan bersama? Aku tidak pernah lagi berkencan dengan Yaya loh. Lagian aku juga habis gajian."

"Daripada merayakan, kenapa uangnya tidak ditabung saja?" solusiku. Aku sedikit gugup, jujur. Dengan semua sikap ramah tamahnya apalagi mendengar bahwa calon anak sedang kukandung dua bulan. "Rumah masih ngutang. Celana dalam saja banyak yang bolong-bolong."

"Tolong jangan ungkit celana dalam." Boboiboy memang sedikit minder untuk membahasnya. "Dokter menyarankan agar kamu selalu istirahat tidur. Rahimmu rentan dan aku takut kamu keguguran."

"Dokter hanya menyuruh untuk jangan sering berjalan."

"Tapi aku tetap saja khawatir, istriku."

Wajahnya ia dekatkan padaku. Begitu gemasnya ia menempelkan bibirnya mengecup dahiku kembali. Kami tertawa bersama setelahnya.

=oOo=

Ying dan Fang menunggu di luar rumah kami. Tidak lagi menunggu tuan rumah untuk mempersilakan duduk, mereka dari tadi sudah menempelkan maisng-masing pantat pada kursi luar.

"Kudengar dari Boboiboy kalau kamu mengandung, Yaya. Selamat ya!" Ying mengucapkan selamat padaku. "Baru tiga bulan loh, sudah ada hasilnya."

"Boboiboy memang berbakat untuk menyerang," ejek Fang. "Tidak cuma tangkas melawan musuh alien, dalam hal cinta-cintaan saja tidak bisa ditandingi."

"Subhanallah, demi biskuit Yaya aku tidak begitu!" tukas Boboiboy. "Kalian sendiri bagaimana? Aku belum dengar satu pun kemajuan dari hubungan kalian setelah menikah."

"Karena buket bunga yang kulempar dulu di dapat Iwan, sekarang dia menikah loh—"

"Ying, jangan mengabaikanku!" jerit Boboiboy.

"Kalian mau tahu aja urusan kami," Ying membuang wajahnya. Sepertinya memang ada sesuatu yag disembunyikan mereka.

"Kasih tahu saja," Fang angkat bicara kali ini. "Aku dan Ying, tidak diperbolehkan untuk memiliki anak terlebih dahulu. Peraturan negara kami untuk membatasi anak-anak yang lahir."

"Kalian tinggal di Malaysia bukan? Kenapa harus mengikuti aturan sana?"

"Ingat pelajaran kewarganegaraan tentang ios soli dan ios sanguinis? Cina tetap mengakui kami warga negara sana sekalipun kami tinggal di Malaysia, karena keturunan kami negara itu sendiri."

"Cina itu negara dengan penduduk terbesar di dunia, dan kami harus mengikuti peraturan orang tuaku untuk tidak dulu mengandung di umur 21 ..."

Sepertinya memang berat ya untuk tinggal di negara dengan penduduk yang meledak setiap tahunnya? Kasihan saja melihat Ying yang harus menunda kehamilannya dulu dari Fang.

"Oh kami membawa kopi instan loh," Fang memamerkan satu kantong plastik berisi beberapa sachet kopi. "Ada yang mau membeli pizza?"

Kami serempak melotot kepada Fang.

"MANA ADA YANG MINUM KOPI MURAHAN MAKANNYA PIZZA!"

=oOo=

Sembilan bulan berlalu. Masih harus menunggu hari-hari sebelum sang bayi keluar dari kandungan. Aku tidak sabar untuk bertemu wajah dengan bayi dalam kandunganku.

Boboiboy tidak kalah khawatir. Setiap hari tidak lupa dia mengelus perut besarku sekedar menyapa orang dari dalam.. oh kau tidak tahu setiap hari dia rela membelikan apa yang aku idamkan. Dari buah-buahan sampai pakaian pun ia belikan. Berapa uang gajiya terkuras ya?

"Halo adik manis! Abang sudah disini, gak usah malu-malu disana ya? Abang gak gigit. Eh mama Yaya tidak galak sama kamu bukan?"

Aku hanya bisa tertawa setiap kali sang calon ayah mencoba berkomunikasi dengan bayi yang masih dalam kandungan. Dan hari ini juga seperti biasa sebelum kerja, Boboiboy menasihatiku kemudian.

"Kalau ada apa-apa telepon saja Fang. Aku akan menyusul kemudian," desis Boboiboy.

"Uhh—aku sudah merasa mual—"

"Trik murahan. Jangan bohong lagi, Yaya. Sekarang tidak lucu."

Oh ya tentu saja ketahuan. Aku dari sembilan bulan mengandung terakhir memang suka mengejek akan diriku yang tiba-tiba mulas. Boboiboy sebenarnya memang marah, dan karena itu aku tidak akan bercanda dengan kelewatan. Hanya saja namanya iseng aku tidak tahu bagaimana mengendalikannya.

Kini aku benar-benar merasa mulas.

"Yaya? Tidak lucu, Yaya! Bangkit!"

"ARGHH!" aku memegangi perutku. Kurasakan pelipisku mulai berkeringat. "Boboiboy—ughh—"

Dia mengerti aku tidak bercanda kali ini, dengan membuka ponselnya dan menghubungi orang terdekatnya.

"Fang, istriku akan melahirkan."

=oOo=

Sungguh hebat keras hati dari suamiku ini. Boboiboy kini di sebelah pembaringanku, membiarkan lengannya diremas habis-habisan oleh jemari-jemariku. Para dokter sudah mencoba mengusirnya namun Boboiboy menolak. Dia membiarkan kedua matanya menjagaku. Tidak akan jauh dariku. Memakai pakaian ala perawat disana.

"Pisau!" aku kelelahan dan melihat jelas alat-alat tajam berlumuran darah dari tangan-tangan perawat disana. Aku nyaris takut melihatnya. Sungguh tubuhku terasa mengguncang kuat melihatnya.

"Yaya! Jangan lihat mereka! Lihat saja wajahku!" seru Boboiboy dari balik maskernya. Aku mengikutinya dengan erangan kecil. Oh kurasa ada yang menyentuh areaku!

"Dia terlilit tali pusarnya sendiri! Ada kontraksi rahim! Lehernya kelilit!"

Aku mencengkeram lengan suami ketakutan. Sepasang mata pria yang kugenggam terlihat sedih.

"Dokter! Ikatannya terlalu kuat! Detak jantung janin melemah!"

"J—jadi bagaimana ini?!" Boboiboy ikutan panik.

"Operasi caesar. Atau mereka berdua akan mati bersama."

Ketika mendengar kata 'mati', aku hanya bisa memejam mataku. Membiarkan jarum suntik mengkakukan sarafku. Meski masih sadar, namun aku tidak kuat untuk melihat bagaimana mereka memerlakukan tubuhku dengan tidak biadab.

=oOo=

Rasanya sewaktu kami berada di rumah sakit itu hanyalah mimpi. Kurasakan bagian bawah memang agak ngilu, dan segala kepanikan itu terdengar nyata membekas. Bagaimana mereka menyentuh tubuhku yang tidak pernah kuizinkan menyentuhnya, mereka pegang dengan senonoh. Mungkin memang itu alasan mengapa Boboiboy keras hati mendampingiku hari itu.

"Rasanya kita waktu itu baru bahagia bersama. Tes mengatakan kau positif melahirkan," suara adukan sendok dalam cangkir menemani awal percakapan kami.

"Maaf ya Boboiboy. Aku tidak bisa mewujudkan keinginanmu memiliki anak."

Janin yang kulahirkan dikabarkan berhenti berdetak jantungnya. Boboiboy bersama Ying dan Fang hanya bisa menatap sedih aku yang ketika itu mencoba menggendong sang bayi terakhir kalinya. Entah, aku seperti bisa mendengar suaranya yang ingin digendong olehku.

"Tidurlah sayang ... hati-hati jangan sampai digigit nyamuk ..."

"Aku justru mengkhawatirkanmu. Kau masih menganggap bayi kita bernyawa saat itu," Boboiboy meringkuk di atas tikar. "Tapi aku masih bersyukur dia dijamin akan masuk surga."

"Bagaimana kabar dia di sana sekarang ya? Kuharap dia mengenai ibunya," aku menyandarkan kepalaku pada bahu sang suami.

"Dia pasti bahagia karena ayahnya tidak perlu menangis karena ditinggal sendirian," Boboiboy terkekeh. "Aku sangat bersyukur Allah belum merengut nyawamu. Kalau aku sendiri, ada kah yang mau sama duda jalang ini?"

"Duda jalang? Mimpi. Pasti ada yang mau lah."

"Setidaknya, sekarang kau masih hidup. Kau masih banyak hutang denganku," rangkulan hangat mengelilingi leherku. "Dia benar-benar mengisi kehidupan kita."

"Ingat tidak ketika kamu bilang dia menendang wajahmu ketika kamu mencoba nempel sama perutku?"

"Ingat. Juga aku ingat dengan suara kecilnya ketika pemeriksaan USG saat itu."

Kepalaku yang terbungkus kain ia elus dengan manja.

"Aku setidaknya masih memilikimu. Kalau tidak ada kamu, aku tidak percaya bisa tegar menghadapi kehidupan kelak. Aku bersyukur meminangmu."

"Aku juga bersyukur mengenal dekat kamu, Boboiboy."

Bersyukur memiliki suami yang tidak menuntut ketidak bergunaan aku menjadi pendampingmu. Kau mengikhlaskan anak kita pergi tanpa tangisan, dan lebih memelukku untuk menenangkanku saat itu.

Perjuanganku tidak dipandang sebelah mata saja aku sudah senang.

=To be Continued=

A/N: Mengetik dengan penuh perjuangan. Tengah malam dan lampu dimatiin karena gak ada listrik, bermodalkan cahaya laptop saya mencari referensi bayi. Owala! Di google web malah ditunjukkan tuyul habis kena gosong. Tiga biji. Untung matanya gak kebuka. Dan itu sempat buat teman BBm yang masih bangun jam malam jerit. Cowok lagi.

Kemungkinan ini apdetan tercepat saya yang terakhir karena tanggal 1 gak diliburin lagi. Huft, cepat sekali liburannya. Tapi saya jamin ini akan saya selesaikan secepat mungkin sebelum tanggal 12 Juli, karena setelah itu saya embali fokus menggambar. Banyak commish dan rekues hahaha.

Saya balas review dulu karena lewat PM berhalangan.

Riana Aura, Vanilla Latte Avocado: Terima kasih!

DianYayaAwesome, Monica, Chikita466, Ichavivers Halisistible: Ini sudah apdet ^^

Viierra273: Yaya itu bukan polos, hanya belum mengenal /plak

Aries queenzha: Halo kakak :* makasih buat fangirlingannya. Maaf memang targetnya 3 shot. Tapi kalau tidak berhalangan, sekuelnya akan dibuat panjang. Juga cacing itu kebetulan nempil aja. Iya ini udah nikah trus punya anak jadi-jadian /hus . makasih reviewnya kakak!

Ana cii Bunny: Kita sama-sama punya scene best 3 maafkan untuk typo, lain kali akan saya perbaiki bila punya waktu buka lappy saat kerja

Habis ini saya kayaknya gak niat begadang sambil search hal ambigu.