BoBoiBoy © Animonsta Studios
Bersamamu, Inginku
.
.
.
[Kau adalah sosok yang begitu berharga. Mengarungi kehidupan kelam, mengabaikan tetes keringat dan air mata. Asalkan bersamamu aku kuat menghadapi hidup. Aku bersyukur untuk mengenalmu.]
Hope you enjoy mine!
.
.
.
{3/3} – Selamat Tinggal
Kebiasaan Boboiboy yang sering kulihat adalah dia yang hobi memakan lauk yang dibakar. Kadang ikan laut seperti salmon dia menyuruhku membakarnya. Ayam bakar juga tidak lepas dari menu favoritnya. Sate apalagi. Tapi, makanan yang paling digemarinya adalah ikan air tawar yang dibakar bersama bumbu-bumbu rempah yang komposisinya mirip dengan membuat bumbu kari.
Juga, sekarang suamiku hobi merokok. Dari pandanganku, dia mulai menekuni kebiasaan tidak sehat itu semenjak kami sudah tiga bulan aku keguguran. Pokoknya tidak ada satu hari dia melepaskan hobinya, sekalipun hanya satu batang per hari.
"Coba kebiasaan merokok itu dihentikan," omelku di suatu hari. Dia kembali menghisap batang rokok, kemudian menghembuskannya ke udara.
"Stress ma. Tidak bisa semudah itu aku tinggalkan."
Jawaban yang sama, dan ini sudah ketiga kalinya dalam umur kami bersama tidak ada kata yang berbeda.
"Apa karena aku tidak bisa buat keturunan?" tanyaku.
Jawabannya hanya menggelengkan kepala pelan.
"Aku akan pergi ke panti asuhan untuk mencari anak yang akan kita adopsi."
"Tidak perlu serepot itu, Yaya. Apakah aku terlihat ingin memiliki anak yang bukan sedarah?"
Sedih ketika mendengar dia tidak memanggilku 'sayang' seperti dulu. Biasanya jika mendapat respon kata pesimis dariku maka ia akan bercanda dengan melawak. Dia benar-benar sedang dalam bad mood, kurasa.
"Kopi sebelum kerja? Kurasa kopi instan bisa membuat seseorang lebih baik," tawarku tidak henti mengajaknya bicara. Ini kewajiban seorang istri untuk melayani apa yang diinginkan pemimpin keluarga bukan?
"Mungkin aku perlu. Tapi dua menit lagi aku harus berangkat, jika tidak ingin telat," Boboiboy menghembus napas. Ia bangkit dari kursi begitu berat. Rokok yang diapit kedua jarinya dibuang dengan sebelumnya dimatikannya ujung api dalam asbak.
"Selamat bekerja, Boboiboy."
Kebahagiaan tidak ada yang abadi. Suatu saat manusia bisa muak dengan kita. Seberapa dia manis dengan kita, ada waktu dimana dia akan bersikap dingin.
Manusia kadang perlu waktu untuk menyendiri.
Waktu tidak akan membiarkan seseorang untuk bersenang-senang selamanya di dunia. Ada kalanya, kebahagiaan itu direngut paksa. Harapan menjadi tumbal. Senyuman luntur.
Rumah yang kami bangun berlubang. Disitulah, aku akan berusaha menambal lubang-lubang itu. Sebelum memang kita tidak bisa lagi membeli semen untuk menutupinya.
=oOo=
Seperti biasa aku menunggu kepulangan Boboiboy dengan menunggu pelanggan yang lapar. Rutinitas yang sudah sering kulakukan dua tahun terakhir dari pernikahan kami. Menambah penghasilan tanpa perlu keluar rumah. Hanya ini yang bisa kulakukan untuk menambah pasokan keuangan.
Hutang dari rumah sakit memang tidak main-main. Sudah terbebani dengan hutang rumah yang belum selesai diangsur, kini pihak rumah sakit menuntut agar hutang biaya operasi kami dilunasi. Kami meminjam uang dengan menyita harta berharga orang tuaku. Aku berprinsip untuk menarik kembali barang berharga bunda secara mencicil dari usaha menjadi pedagang bergerobak.
Aku membaringkan kepalaku di atas ranjang. Begitu panasnya hari ini, yang memyebabkan lumayan banyak pelanggan berkunjung. Alhamdulillah, dalam wadah berisi kumpulan uang itu agak menggunung.
Kedua irisku menatap jam dinding terdekat. Jam tiga siang. Biasanya Boboiboy akan pulang di jam segini. Ponsel kurogoh dari saku dan mulai membuka forum sms. Sebelumnya aku mengecek pulsa. Siapa tahu habis.
[Ying, bagaimana kabarmu?]
Terkirim, karena stok persediaan tarif pengiriman pesan elektronik masih banyak. Dua menit kemudian sahabat yang kutujukan membalasnya.
[Baik. Aku dan Fang sedang makan bersama di luar. Yaya sendiri?]
Enaknya. Ying dan Fang sama-sama keras kepala sih. Saking sering adu mulut, tercipta juga hubungan romantis diantara mereka. Tidak seperti rumah tanggaku yang mulai canggung.
[Seperti biasa, menunggu suami pulang. Itu membuatku bete.]
[Yaya, mungkin Boboiboy punya alasan sendiri kenapa pulang telat.]
[Kuharap kau benar. Sudah dua tahun dan aku benar-benar tidak tahu apa jalan pikirannya. Dia pergi kadang sampai lupa mengucap salam. Pulang pun kadang tengah malam.]
Lima menit tanpa balasan. Aku rasa Ying tengah berpikir. Lelah untuk menunggu jawaban dan aku memilih untuk mematikan ponselku. Kembali aku mengadahkan kepalaku.
Apa yang membuatnya begitu tidak enak denganku? Aku ingat rumah tangga kami sangat harmonis untuk ukuran satu tahun setelah pernikahan. Dia selalu melawak. Dia yang begitu bahagia aku masih menemani hidupnya.
Tapi dua tahun ini dia mulai bersikap aneh. Rokok lah, makanan favorit tidak sehat lah, dan sekarang waktu jam kerja yang sengaja dilambatkan. Hanya karena aku gagal menjadi seorang ibu kah, dia jadi se-konservatif itu?
"Masih kah aku pantas untukmu, Boboiboy?" lirihku dengan masih membaringkan tubuh. Kewajiban sebagai seorang istri adalah membahagiakan suaminya. Kalau aku gagal, hei aku berarti bukan istri yang baik selama ini.
"Assalamu'alaikum ..."
Aku gelagapan untuk bangkit tiba-tiba. Biasanya dia pulang jam lima sore, tapi kali ini ia kembali hadir seperti waktu pertama kali kami memulai rumah tangga. "W—wa'alaikum salam. Oh sudah pulang?"
Senyuman kecil sebagai jawaban. Mungkin sementara aku bisa lega karena dia masih mau bersikap baik padaku.
"Yaya, ganti bajumu dan berbusana lah yang baik. Oh—astaga ini sudah jam tiga!" serunya. Kelihatan panik, mungkin?
"Biasanya kamu selalu pulang dua bahkan tiga jam dari biasanya," desisku.
"Hari ini aku ada waktu bebas, shift kerjaku dikurangi bos. Entah~ aku tidak tahu apa alasannya~" suara Boboiboy ia senandungkan saat melihat wajahku. "Jangan tanya apa yang akan kita lakukan, karena aku memang benar-benar ingin jalan-jalan dengan istriku. Aku kangen saja."
"Aku bahkan belum bertanya alasanmu mengajakku mengapa, kenapa kau seakan-akan sudah tahu pertanyaanku?" aku geli melihat wajah suamiku yang percaya diri habis.
"Tidak boleh kah?"
Aku menggeleng kecil. Boboiboy merangkulku dengan cetakan senyum dari wajahnya.
"Aku senang melihat istriku bisa tersenyum hari ini."
Bukannya seharusnya aku, yang bilang begitu?
Kami bersama-sama keluar dari rumah dan menyempatkan diri mengunci pintu. Tanpa menggunakan motor sebagai alat transportasi, kami berdua berjalan beriringan melewati jalan. Aku bersyukur untuk ditempatkan pada suatu wilayah dengan penduduk lalu lalang sepi pada jam tidur anak-anak. Tapi tidak menutup kemungkinan aku juga takut dengan suasana begitu.
Masih jam tiga sore, keadaan jalanan memang masih ramainya.
"Aku lega karena semua hutang kita sudah lunas. Yaya, ibumu ada komentar ketika barangnya kita kembalikan agak lama?"
"Beliau hanya bilang tentang kalungnya yang memang bukan sembarangan dibeli asal negaranya, mengatakan itu murni 24 karat. Setelah itu, ibu juga bilang tidak perlu menggantinya. Dia menyuruhku menyimpannya, karena aku anak tunggal wanita," jawabku.
"Kau menerimanya?"
"Tidak. Aku tahu kalung itu sangat berarti bagi ibuku. Lambang pernikahan nenek ibu karena dahulu keluarga mereka bisa dibilang sedikit berdarah bangsawan saat itu."
"Istri yang baik. Tidak heran aku mencintaimu."
Aku memalingkan pandanganku. "Gombal!"
"Hei jangan marah seperti itu. Tapi wajahmu memang lucu kalau sedang marah. Ingin kucubit rasanya, hehe."
"Boboiboy!"
Kurasakan rangkulan menarik tubuhku mendekati suatu mobil mewah pada tepi jalan. Bernuansa merah mengkilap. Aku memanjangkan leherku melihat orang dari balik kaca depan. Dari pihak kanan ada gadis yang melambaikan tangannya riang. Sedangkan pengemudinya memakai kacamata dengan rambut acak.
"Fang! Ying!" seruku memanggil nama mereka berdua. "Ferrari yang bagus! Kapan kalian membelinya?"
Kedua insan itu saling bertatap sementara.
"Emm ... kemarin?" ucap Fang. "Sedikit lecet karena baru dicoba kemarin. Kau takkan percaya siapa yang mengeret mobil ini menabrak tiang listrik—"
"Ayo naik. Kita nanti telat," Boboiboy sudah membuka pintu belakang. Mempersilakan aku untuk masuk ke dalamnya.
=oOo=
Jam lima sore, mobil mewah dari Italia itu diparkirkan pada suatu bukit yang jauh dari tempat tinggalku. Aku membuka pintu belakang berbarengan dengan ketiga sahabatku ini untuk keluar.
Matahari yang terlihat dari ujung bukit dengan cahayanya yang dipantulkan laut. Membentuk suatu garis dengan kilauan-kilauan indah diantara batasan itu. Pemandangan yang tidak pernah kulihat lagi entah sejak kapan.
"Kita hari ini mau makan bersama. Seperti kemping sekolah," Boboiboy merangkul Fang tiba-tiba. Terkekeh kecil melupakan umur sejenak.
"Kemping dengan minum kopi sachet?"
"Fang!" tegur kami serempak. Dari tadi dia tidak pernah untuk sekali saja tidak mengungkit kopi dan kopi. Apa anak ini sudah maniak oplosan?
"Apa? Mau white koffe atau cappuccino?"
"Tidak keduanya," balas Ying judes. "Aku ingin jus alpukat."
"Ying!" tegurku gregetan.
"Ups! Maaf. Sudah lama sih kita tidak reunian."
"Iya. Dan juga sudah lama tidak membuat marah kawanku yang mudah iri ini~" Boboiboy menyentil hidung Fang genit.
"Boboiboy! Kau hina!" ketus Fang. "Sana sama istrimu!" tanpa perasaan Fang mendorong tubuh laki-laki yang dulu hobi memakai topi itu menuju tubuhku. Napasnya memburu kesal.
"Aduh ngomong-ngomong sayang sudah beli makanan?" Ying menatap kekasihnya gelisah. "Aku lupa untuk menyediakannya."
"Sama aku juga. Bukannya kita berdua setelah menelepon Boboiboy langsung berangkat? Katanya untuk menghibur Yaya saja—jadi aku tidak kepikiran untuk membeli cemilan."
"Menghiburku?" sambungku di tengah obrolan mereka.
"Iya menghiburmu. Karena kamu beberapa hari ini sering sms aku sih," Ying dengan tidak berdosanya jujur di depan kami berdua.
"Boboiboy memang begitu, selalu buruk dalam urusan peka. Gak heran aku yang lebih baik dari Boboiboy."
"Apa kau bilang? Aku kan sudah bilang alasannya jauh hari padamu, Fang!" sembur Boboiboy. "Begitu ya sahabat? Mending waktu itu aku curhat sama Gopal saja! Huh!"
"Pret. Gopal saja sekarang tidak diketahui kabarnya. Kau harusnya berhutang padaku karena menjadi wadah rancangan gilamu hari ini."
Aku hanya mendengarkan disini. Aku tidak punya pikiran untuk setidaknya penasaran apa yang mereka rencanakan. Aku tahu pasti lambat laun aku mengetahuinya juga. Firasat.
Kedua telapak tanganku ditarik pada genggaman suamiku. Aku memerhatikan wajahnya yang menunduk malu-malu.
"Sepertinya makan-makan ditunda dulu," ucap Ying kecil. Aku melirik wajah Fang yang ikut melihat kami berdua dengan memeluk leher istrinya.
"Yaya, ingat hari ini tanggal apa?" kedua iris Boboiboy tampak berbinar-binar dengan sebelumnya mendongak.
"Tanggal ... 25 Juni."
"Apa yang kau ingat dari tanggal itu?"
"Aku hanya ingat hari itu adalah tanggal resepsi kita."
"Tepat. Sebenarnya aku ingin memberikannya di tanggal aku meminangmu. Tapi hss, aku baru mendapat rezeki sekarang."
Selembar berbentuk persegi panjang diletakkannya di atas telapak tanganku. Dia membiarkan genggamannya dilonggarkan. Aku langsung mengerti dan menarik kertas itu untuk kuamati. Belum sempat aku membaca tulisan yang terukir dari sana, dia sudah seperti membacakan apa yang tertuang di dalamnya.
"Tiket untuk naik haji. Ini sudah bulan rajab bukan?" Boboiboy terkekeh kecil mendapati ekspresi kaget dari wajahku. "Aku ingin sekali menunaikan ibadah terakhir ini bersama istri yang wajib kutuntun pada surga Allah. Mau 'kan, istriku yang sholehah?"
Jantungku berderup keras ketika kata demi kata dirangkainya sedemikian rapi. Terdengar indah. Sangat ... istimewa.
"Itu alasan kenapa Boboiboy sering pulang telat, Yaya," timpal Ying dari kejauhan. "Dia lembur."
"Boboiboy bahkan sempat ingin meminjam uang padaku. Tapi aku bilang bahwa kado terindah itu kado yang benar-benar dari hasil kerja keras. Aku tidak tahu bahwa kawanku juga ternyata bisa jadi pekerja keras seperti kakeknya." Fang hanya tersenyum kemudian saat aku menengoki wajahnya.
"Aku kira karena aku keguguran. Aku nyaris benci padamu, Boboiboy," aku menggenggam kertas tersebut erat. Tidak ... aku nyaris akan menangis saking terharunya. Padahal baru saja aku akan salah paham tapi apa? Dia hanya berusaha keras. Istri macam apa aku ini?
"Tapi aku kira kerja kerasmu itu hanya untuk bekal operasi penyakitmu nanti, Boboiboy."
Penyakit?
"Apa?" lagi-lagi aku memandang wajah Fang, mencari jawaban pasti akan perkataannya barusan. Untuk kali ini aku benar-benar penasaran.
"Naik haji untuk tahun ini pun aku prediksikan mustahil."
"Fang!"
"Aku hanya mengatakan hal yang benar, istriku."
BRUKH!
Aku nyaris jatuh ketika kedua tangan memberikan beban pada kedua pundakku. Ketika aku ingin memalingkan pandangan kepada Boboiboy, suamiku sudah akan tersungkur ke tanah. Wajahnya langsung kelihatan pucat pasi.
Beberapa kali aku mengguncang tubuh suamiku. Panik, tentu saja. Kedua sahabatku yang tadi berdiri pun lekas membopong Boboiboy menuju mobil mereka.
"Iya 'kan? Aku sudah katakan penyakit kankernya pasti akan muncul lagi."
Boboiboy terbatuk-batuk hebat. Aku seperti mendengar ada 'benda' yang mengiringi suara batuknya, juga aroma yang sangat kukenal. Merasakan basah dari jaket yang dikenakannya, aku melihat cairan hemoglobin begitu melimpah menodai pakaiannya.
"Fang, tolong ceritakan semua hal tentang suamiku!"
=oOo=
"Boboiboy pernah cerita kalau dia positif menderita kanker lambung."
Reaksiku sementara adalah kaget. Aku tidak berani menjerit kesal karena kami duduk pada kursi tunggu dai luar ruangan kamar suamiku berbaring. Ketika Boboiboy pingsan, Fang dan Ying hanya membisu ketika beberapa kali aku meminta jawaban atas apa yang ditimpa kekasihku. Tapi sekarang, Fang mau menceritakannya kepadaku.
Raut wajahnya tampak bersalah untuk kali ini. Aku bisa melihat perasaannya dari paparan paras dia sendiri.
"Aku kira Boboiboy sudah menceritakannya padamu. Dia bahkan bilang padaku dua tahun ini. Aku yakin, dan aku tidak salah hitung dari dia pingsan ketika masuk ke ruangan kantorku."
"Kenapa?! Kalau sudah lama, aku bisa saja meminjam barang ibuku untuk jaminan hutang kembali!"
"KALAU SAJA AKU TAHU DIA TIDAK MAU MEREPOTKAN MERTUA DAN ISTRINYA, DARI DULU AKU SUDAH MEMINJAM UANGKU UNTUKNYA!" Fang tidak kalah menjerit. "Bukan—akan aku biayai seluruh jaminan kesehatannya!"
"Stadium 4 ... itu sudah tingkat paling parah," Ying memeluk tubuhnya. "Sampai batuk darah. Aku takut dia pergi, sungguh—hiks!"
Fang meregap tubuh istrinya segera. Di saat itu juga, pintu ruangan Boboiboy terbuka pelan. Sosok berjas putih dengan kacamata kotak keluar dari sana. Pandangannya ia tuju kepada kami.
"Yang keluarga pasien Boboiboy siapa?" tanya pria itu lembut.
"Saya, istrinya," ungkapku.
"Beliau sudah membaik. Kalian boleh menjenguknya."
Serempak kami bertiga berterima kasih dan rombong-rombong masuk ke dalam ruangan. Aku mendekati seseorang yang terbaring lemah dengan kantong infus menggantung di samping kiri tubuhnya.
"Wajah kalian ... buruk semua ...," kata Boboiboy kecil. "Lucu lihatnya ..."
Kami tahu dia bermaksud untuk mengatakan jangan khawatir akan fisiknya. Tapi tetap saja kami—bahkan aku yang berstatus sebagai istrinya, tidak dapat menahan rasa gelisah. Seandainya keadaan fisiknya tidak tertolong. Aku takut.
"Boboiboy, kau melakukan kesalahan besar. Aku semakin membencimu," ketus Fang. Wajahnya memang sudah terlihat membenci orang yang ia pandangi sekarang.
"Hmm ...?" Boboiboy berusaha membalas. Fang menggertakkan giginya sebagai respon sikap Boboiboy yang kelihatan mengejeknya.
"KENAPA TIDAK BILANG KAU TIDAK MAU DIOBATI?! KARENA OPERASI ITU MAHAL? KAU MALAH MEMPERPARAH KEADAAN, KAU GILA!"
"Stt! Jangan berteriak kalau kau tidak mau dikeluarkan kasar di sini!" bisik Ying. Derai air mata yang sudah menghiasi wajah Fang ia sapukan.
"Aku tidak tahu pikiranmu apa, tapi kau adalah orang tertolol yang pernah kutemui! Menyesal aku sebagai sahabatmu!" tanpa lelah Fang masih mengomeli Boboiboy. Beberapa tetes air mata sudah keluar cukup banyak dari pelupuknya. Fang benar-benar menderita.
"Fang! Sudah!" bentak Ying. "Kau hanya memperburuk keadaan ..."
"Aku selalu ada! Aku sukarela untuk memberi uangku kapan saja! Aku bahkan meminjamkan waktuku hanya untuk kau bisa menyenangi hati istrimu. Aku kira kau memberi hadiah karena tidak mau membuat Yaya menangis akan kepergianmu yang tidak mau diobati—sial, kau memang brengsek!"
"Yaya, maaf. Kurasa kami harus pergi. Kami tunggu dari luar."
Tanpa menunggu jawabanku Ying segera menarik tubuh suaminya keluar dari ruangan. Kupandang wajah Fang sebentar. Dia benar-benar murka sekarang, terbukti dari wajahnya yang benar-benar hancur penuh dengan liquid dari mana saja.
Pintu pun ditutup. Aku mendekati suamiku yang hanya bisa menerawang langit-langit ruangan. Aliram air mata membekas dari ujung matanya. Dia pun juga ikut menangis.
"Tidak Boboiboy ... aku tidak akan marah. Aku ikhlas dengan pilihanmu."
"Aku sungguh mencintaimu, Yaya ..."
Kubelai dari dahi menuju rambut pendeknya lembut. Aku tahu mengetahui penyakitnya saja sudah menyakitkan untuk diingat. Aku tidak mau menambah rasa tertekannya dengan melontarkan kata-kata kejam seperti yang dilakukan Fang tadi. Walau sebenarnya aku ingin sekali, haha.
"Stadium 4 eh? Kau benar-benar berakting dengan baik," ucapku kecil.
"Seharusnya aku mendengarkanmu ... untuk tidak merokok ... Bahkan kalau aku tahu akan tumbang ... seharusnya aku menjadi imam shalatmu ... saat ashar tadi ..."
"Rokok memang pelaku penyakit parah."
Suasana senyap sementara.
"Aku bukan menyembunyikannya ... tapi aku berpikir, suatu saat manusia akan mati ... Tapi kini aku tahu aku memang salah ... untuk mencemaskan istriku sendiri ..."
"Aku masih menyimpan hadiahmu tadi sore," masih membelai rambutnya, beberapa kali aku harus menghisap liquid yang berusaha keluar dari kedua lubang respirasiku. "Maaf aku belum sempat membahagiakan suamiku untuk punya anak ..."
"Aku cemas anak kita akan menderita sepertiku," dan aku mengerti alasan mengapa ketika kuajak dia berusaha menolak. Kanker memang akan menular kepada keturunannya.
.
.
Kau adalah sosok yang begitu berharga. Mengarungi kehidupan kelam, mengabaikan tetes keringat dan air mata. Asalkan bersamamu aku kuat menghadapi hidup. Aku bersyukur untuk mengenalmu.
.
.
Tapi sekarang apakah kita akan terus bersama? Aku ingin egois untuk marah kepada Tuhan. Aku ingin memilikimu selama aku masih belum juga dipanggil.
Namun cinta tidak harus memiliki. Boboiboy memang milik Tuhan, bukan milikku sepenuhnya.
Aku menyembunyikan wajahku pada selimut yang menutupi tubuhnya. Aku takut, untuk melihat senyumnya. Maksud memang untuk menenangkanku, tapi itulah yang paling membuat hatiku sesak.
"Jarang ... seorang kekasih akan bisa menutup mata ... di samping orang ... yang dicintainya ..."
Suara batuk menahan tuturan menyakitkan itu sementara. Dadaku semakin sesak memang, namun di waktu kami masih bisa berkomunikasi harusnya aku memberi sambutan yang akan dia kenang di dunia lain bukan?
Aku mendongakkan kepalaku dan mengenggam tangan kanannya yang lepas dari selang infus.
"Wajahmu ... seperti anak kecil ... hehehe ..."
Bahkan dia tidak bisa tertawa, di ujung kalimat yang seharusnya memakai intonasi tersebut.
"Aku—tidak mungkin bisa meninggalkanmu. Kau suami yang paling kucintai—hiks!"
Bibirku terbuka untuk dapat menarik oksigen. Kedua hidungku benar-benar ditutup jalannya sekarang.
Dia berusaha untuk bangkit. Aku mendudukkan pantatku di samping perebahannya, dan kepalanya ia coba sandarkan pada bahuku. Aku mengelus rambutnya begitu lembut sebisa mungkin.
Dia tersenyum. Kedua matanya perlahan menutup.
"Kau ... adalah istri yang paling 'cantik' ..."
Bukan hanya cantik fisik, namun hati juga. Aku sering mendengar Boboiboy mengatakan ini bila kami akan tidur di sampingku ketika aku berjaga namun pura-pura tidur.
"Aku ... sungguh senang ..."
Alunan suara alat pendeteksi jantung berbunyi datar tidak berhenti. Denyut jantungnya tidak lagi kurasakan dari dadanya. Aku tersenyum kecil.
'Aku juga ... senang memilikimu, Boboiboy.'
Aku membiarkan diriku terisak sementara. Aku tidak ingin menangis kuat, karena aku tidak akan meratapi kepergianmu. Meratapi sama saja dengan tidak mengikhlaskan kau untuk hadir di sisi Pencipta.
=End?=
A/N: Adoh baju basah kuyup. Makasih buat video Gumi-Wrinkle dan lagu Fatin Shiddiq – Dia Dia Dia. Benar-benar masoin hari-hari saya di detik-detik kembali berpuasa.
Waktu itu rating berubah, sekarang kayaknya genre berubah. Sampai lupa mau berpesan kalau di bulan puasa saya memang lagi berpantangan menullis genre sho-ai. Itu dapat meracuni otak saya, beneran.
aries queenzha: uff kan saya ketceh pake kilat www aku doakan semoga mama (hah ganti?!) lancar uasnya~ tadinya mau barengan aplod sekuelnya tapi takut mogok, kan udah tanggal 30. Makasih reviewnya 3
Eka Febi A, DianYayawesome: ini chapter selanjutnya!
Seperti kata aries queenzha, aku juga baru kepikiran takutnya ada anak SD baca ginian. Lain kali saya bakal amankan ratingnya bila sekuelnya jadi dibuat ^^
