Moshi-moshi~
Kembali lagi dengan saya MC Shirayuki ^^
Setelah hiatus setahun penuh yang membosankan tentunya karena saya tidak bisa mem-publish FFN X(
Data saya hilang 2 kali, dan itu semuanya hilang… *guling-guling*
Nah, kenapa cerita ini memiliki chapter 2 padahal jelas tulisan OWARI di chapter pertama?
Author sendiri tidak tahu…#PLAKK
Sebenarnya saya berencana membuat one-shoot di cerita ini, dan berhubung character yang akan ternistakan masih sama yaitu Itachi *Amaterasu* jadilah one-shoot lanjutan. XD
Well, Happy Reading ~
Fandom :
Naruto
Disclaimer :
Masashi Kishimoto
Author :
MC Shirayuki
Story :
MC Shirayuki
Genre :
Humor(?)
Rating :
T
Pairing :
None
Main Character :
Uchiha Itachi
Warning :
AU, Typo, OOC, Gaje, Humor Garing
DON'T LIKE ? DON'T READ !
Uchiha Itachi : 16 tahun
Akasuna Sasori : 16 tahun
Kakuzu : 17 tahun
Hidan : 24 tahun
Anko : 24 tahun
Kakashi : 26 tahun
TENG, TENG
Bunyi bel tanda pergantian pelajaran sudah terdengar di RoseShield International High School. Namun sepertinya kelas XI A belum ada tanda-tanda sang guru yang jam pelajarannya sudah habis tersebut akan keluar. Pasalnya sang guru aka Hidan sedang pundung di pojokan kelas yang entah kenapa cat dindingnya berwarna ungu kehitam-hitaman. Usut ketemu usut, ternyata beberapa murid yang mengecatnya. "Untuk Hidan sensei" kata mereka yang ternyata sangat perhatian dengan guru mereka itu sampai-sampai dibuatkan tempat suram untuk pundung. Pein dan Deidara menghampiri Hidan dan melempar-lempar kapas kecil kearahnya. Sekarang Hidan tampak seperti anak buangan di tengah salju yang akan tewas sebentar lagi.
Satu jam telah berlalu.
Tak ada tanda-tanda sang guru killer aka Anko akan masuk ataupun sang guru Hidan akan bangkit dari keterpurukannya yang kesekian ribu kali.
Itachi akhirnya bangkit dari kuburnya-eh ralat-kursinya dan berjalan kearah Hidan.
"Ayolah Hidan sensei! Mau sampai kapan Anda disana?"
"…" Tak ada jawaban.
Itachi menghela nafas. Kalau sudah begini akan sulit jadinya. Maka dari itu Itachi putuskan untuk menggunakan cara terakhir yang paling ampuh yang akan membuat Hidan bertekuk lutut di hadapannya dan memujanya-ehem-maksudnya tidak pundung lagi. Itachi berjongkok dan mengelus pundak Hidan dengan catatan ia akan cuci tangan sepuluh kali saat istirahat tiba nanti.
"Sudah, sudah jangan sedih lagi, nanti saya belikan permen ya."
Hidan menoleh dengan air mata sembab dan ingus yang entah sudah mencapai bajunya.
'Ugh, membunuh itu dosa gak ya…?' batin Itachi antara polos dan psikopat.
"Be-benarkah?" Hidan mulai tersenyum.
"Iya."
"Benarkah?" Bunga-bunga mulai tampak menghiasi kuburan Hidan-eh-maksudnya background suramnya.
"Iya, benar."
"Benar…kah?" Kini matanya Hidan mulai copot-eh-maksudnya berbinar.
'Kok rasanya aku pernah mendengar percakapan ini di film kartun adegan percakapan antara sebuah spons kuning dan cumi-cumi' Batin Itachi mencoba menerka-nerka.
"Iya, iya, sekarang sebaiknya Anda keluar dari kelas ini atau akan ada kejadian kriminalitas." Itachi menoleh menghadap kanan tak mau melihat wajah Hidan sambil mendorong Hidan keluar kelas. Pasalnya Itachi merasa jijik melihat ingus Hidan yang sudah mengalir kearah bibir.
Itachi akhirnya duduk kembali di singgasananya.
"Lihatlah lingkaran merah…"
Dan itu adalah tandanya. Ia dan seluruh murid langsung duduk rapih di tempat masing-masing.
"Bunyi gong tanda di mulai."
"Saya merasakan ada hawa panas ya di depan pintu."
"Jika Anda menyerah, segera lambaikan tangan dan minta izin ke toilet untuk gejala trauma dan ke UKS untuk rehabilitas otak."
Pintu kelas terbuka, asap putih menguar masuk ruangan dan sesosok hitam masuk ke dalam kelas dan duduk di meja guru.
Semilir angin sepoi-sepoi -yang entah berasal dari mana padahal jendela dan pintu sedang tertutup- melewati penjuru kelas. Suara burung hantu, burung setan, dan burung iblis menambah cekam suasana horror tersebut.
"Selamat pagi murid-murid…" ucap Anko tenang tidak horror seperti biasanya.
"…" Para murid terdiam sebelum hendak menjawab.
Suasana kelas XI A mendadak berubah. Dari background kuburan tempat uji nyali menjadi taman bunga yang luas di pegunungan.
"Hari ini kita akan belajar apa ya?" Tanya Anko sambil tersenyum dengan bunga-bunga dan serbuk kilau di sekitarnya.
Oke, ini tidak normal.
"Apa Biologi? Kimia? Fisika? Sejarah? PKN? Ekonomi? Olahraga? Geografi? Inggris? Seni? Komputer? Agama? Sosiologi? Apa yaaaa? Hayo kalian tebak kita akan belajar apa…?" sekarang Anko mulai menari dan berputar.
Itachi sebagai anak kesayangan semua guru karena jenius, tampan, rajin menabung, tidak sombong, baik hati, ramah, rendah hati, suka menolong, banyak keriput*Itachi melenyapkan pernyataan terakhir* mengangkat tangannya.
"Err… Sensei… Mat?"
Anko menepuk kedua tangannya sekali dan memasang mulut berbentuk 'o'. "Ah, kamu betul Itachi! Tidak heran kamu memiliki otak jenius." Puji Anko yang sebenarnya hal itu bukan pujian karena memang Anko hanya mengajar pelajaran mat saja di sekolah itu.
"Baiklah, kita langsung saja mulai pelajaran kita hari ini." Anko menulis di papan tulis dengan memakai spidol warna hitam. Setelah selesai ia duduk dan seperti biasa ia akan memanggil nama-nama calon korban tumbalnya.
"Pein, coba kamu kerjakan soal nomor satu."
Jantung Pein sempat terhenti sejenak begitu tahu ia yang akan jadi korban pertama. Dengan takut dan gelisah mau pergi ke toilet ia maju dan berdiri tepat dihadapan soal nomor satu. Ia membaca soal itu dengan seksama.
Diketahui :
Jarak lintasan sebuah bus transportasi adalah 125 KM. Sebuah bis awalnya mengangkut 40 penumpang di stasiun pertama dengan kecepatan 55KM/jam. Di stasiun kedua 50 orang naik dan 30 orang turun dan bis berjalan dengan kecepatan 60KM/jam. Di stasiun ketiga 20 orang naik dan 40 orang turun dan bis berjalan dengan kecepatan 40KM/jam. Bis sempat terhenti selama 30 menit karena salah satu ban bocor.
Pein tersenyum bahagia.
'Soalnya tumben mudah sekali, biasanya akan seperti soal anak kuliah S2.'
APA!? Pein pintar?!
Noooooo…! Ini tanda-tanda kiamat!#Rinnengan
Lalu ia melanjutkan membaca.
Di stasiun keempat seorang pengamen, 7 orang penjual makanan, 2 penjual Koran, dan 5 orang banci masuk, sang supir langsung mengusir mereka kecuali para banci. Lalu bis kembali berjalan dengan kecepatan 45 KM/jam di atas bumi dan di bawah langit dengan ketinggian 400 M di atas laut dan samudera.
Pein sweatdrop. Kok rasanya aneh? Tapi ia mengabaikannya dan lanjut membaca.
Ditanya :
Siapa nama bapak sang supir?
Dimana rumah sang pengamen?
Bahan bakar apa yang digunakan?
Apa sang supir menyukai banci?
Kenapa bis tidak sampai tujuan?
Jam berapa hujan turun?
Kenapa hanya diam?
Kenapa tidak dijawab?
Dan… Pein tewas seketika karena epilepsy, gegar otak, kanker, serangan jantung mendadak, asma dan bronchitis-oke lupakan yang terakhir.
TENG, TENG
Jam pelajaran Anko pun selesai seperti biasanya dengan banyaknya korban berjatuhan. Jika biasanya korban karena soal tingkat akut extreme super duper kuper lemper, maka sekarang karena soal yang tidak logis. Sasori dan Itachi? Mereka juga kena, hanya saja bedanya Sasori harus dilarikan segera ke kamar mayat-maksudnya UKS, sementara Itachi masih sehat sentosa. Mau tahu kenapa? Kita akan kembali setelah iklan selama 1000 tahun.
Oke, oke taruh permen itu, jangan dibuang, akan saya ceritakan.
Flashback
"Itachi, coba kamu gantikan Pein mengerjakan soal nomor satu."
Itachi dengan tenangnya maju ke depan. Wajahnya menebarkan charming. Ia berdiri tepat di tempat Pein tadi berdiri. Ia membaca soal dengan seksama. Dan… reaksinya akan soal masih sama dengan Pein, yaitu sweatdrop.
Siapa nama bapak sang supir?
Mau tahu aja atau mau tahu banget?
Dimana rumah sang pengamen?
Di mana yaaa? Kasih tahu gak yaaa?
Bahan bakar apa yang digunakan?
Apa aja boleh…
Apa sang supir menyukai banci?
Ciyus? Enelan? Miapah?
Dan dengan demikian, Itachi sudah tercemar virus alay atau memang bawaan lahir?#Amaterasu
Kenapa bis tidak sampai tujuan?
Karena tanpa bis pun aku bisa sampai dihatimu.
Bahkan virus gombal juga. Ckckckck, kasihan ya, sudah tua punya banyak penyakit pula.#Susano'o
Jam berapa hujan turun?
Ketika partikel-partikel di udara dengan tingkat kelembapan sekitar 12-15% dan arus angin sedang bereaksi dengan satuan atom yang membentuk senyaawa aktif yang menyatu dengan zat-zat di sekitar yang merupakan gabungan dari Nitrogen, Sulfur, dan beberapa senyawa lainnya di bumi yang mengakibatkan terjadinya perputaran-oke ini tidak benar, jangan ditiru demi kebenaran dan keadilan.
Kenapa hanya diam?
Eheheheh,
Kenapa tertawa? Entahlah itu masih menjadi rahasia alamnya Itachi, karena berbeda alam jadi kita tidak akan membahasnya. (O.o)
Kenapa tidak dijawab?
Sudah kok. Apasih yang enggak demi kamu? 3 Bahkan aku akan menerjang badai, halilintar, gempa bumi, gunung meletus dan tsunami untukmu, 'kecuali ibuku.' Tambah Itachi dalam hati. Ternyata readers, setelah penyelidikan lebih lanjut dengan melibatkan TIM SAR, polisi, AU, AD, AL, FBI, CIA, doi takut jadi maling-eh-malin kundang versi kedua. Katanya sih, "Gak kece ah kalau jadi batu."
Dan sejak para murid melihat hasil jawaban Itachi, saat itu pula Itachi menjadi siswa ter-alay dan ter-gombal sepanjang sejarah RoseShield.
*-+-OWARI-+-*
HUWAAAA…. Kayaknya aneh ya?
Yah, walaupun ini juga sudah OWARI, tapi akan ada one-shoot berikutnya yang merupakan chapter cerita pertemuan Itachi dan Sasori. Tapi akan di-publish jika peminat cerita ini banyak, ^^
Thanks for read.
Mind to Review ?
