Cast:

Park Chanyeol (m/27)

Byun Baekhyun (f/25)

Byun Hangeng (m/53 – Baekhyun's Father)

Kim Heechul (f/48 – Baekhyun's Mother)

Park Kyuhyun (m/60 – Chanyeol's Father)

Lee Sungmin (f/55 – Chanyeol's Mother)

Park Yi Fan/Kris (m/30 - Chanyeol's Hyung)

Huang Zi Tao (f/26 - Yi Fan's Wife)

Oh Sehun (m/23)

Xiao Lu Han (f/25)

Kim Jongin/Kim Kai (m/23)

Do Kyungsoo (f/24)

Kevin (m/10 Months - Yi Fan's Son)

Other EXO's member

Pairing:

Chanbaek

Hanchul

Kyumin

Hunhan

Kaisoo

TaoRis

Other pairing coming soon

Warning: typos; Genderswitch; EXO; marriage life; NC; Mature Content; DLDR; no bash.

*** Happy Reading ***


Sebenarnya, bulan-bulan awal kehamilan Baekhyun ini bukanlah hal yang berat bagi Chanyeol. Baekhyun tidak ngidam hal-hal yang aneh. Ia merasa segalanya masih dalam batas wajar. Baekhyun hanya menginginkan makanan-makanan yang disukainya sejak dulu, meminta eomma nya memasakkan beberapa makanan kesukaannya. Hanya saja, Baekhyun menjadi lebih pemalas, mood nya sangat cepat berubah. Tapi sepertinya Chanyeol lupa, kehamilan Baekhyun ini baru dimulai. Bahkan, masa trimester pertama saja belum mereka lewati.

Pagi ini Chanyeol bangun lebih dulu dibandingkan Baekhyun. Baekhyun sudah sepenuhnya ibu rumah tangga sekarang. Sepenuhnya istri Park Chanyeol. Ia memutuskan berhenti dari tempatnya bekerja, seperti apa yang sudah direncanakannya sebelumnya.

Setelah bangun dan mengumpulkan seluruh nyawanya, Chanyeol segera beranjak menyambar handuk nya dan mandi dengan cepat. Seperti biasa, ia akan memasak beberapa menu kesukaan Baekhyun pagi ini untuk sarapan, setelah itu ia berniat akan membangunkan Baekhyun.

Dengan penuh cinta, ia mengecup kening Baekhyun. Bukannya mendapat respon yang romantis, Baekhyun malah segera mendorong tubuh Chanyeol dan segera menuju wastafel di kamar mandi dan mengeluarkan semua isi perutnya yang bahkan belum ia isi sama sekali. Chanyeol berusaha mendekati Baekhyun, berniat membantu memijit tengkuk Baekhyun. Namun...

"stop! Berhenti disana! Jika kau belum mandi, baiknya untuk tidak mendekatiku!" cegah Baekhyun ganas. "bau badanmu benar-benar membuatku mual." Lanjutnya.

He? Bukankah Chanyeol sudah mandi pagi tadi? "tapi, sayang, aku sudah mandi. Apa karena tadi aku memasak? Baiklah aku akan mandi lagi." Chanyeol tidak berpikir dua kali dan segera meraih handuknya, lagi dan berjalan menuju kamar mandi.

"aku menunggumu di meja makan." Kata Baekhyun.

Chanyeol mandi dengan cepat dan menggunakan sabun yang banyak agar tak ada bau yang tersisa. Setelah mandi segera digunakannya pakaian kerja dan jas hitam yang kali ini tak disiapkan Baekhyun seperti biasanya. Tapi Chanyeol tak protes dan tidak ingin ambil pusing. Setelah siap dan menyemprotkan banyak parfum, Chanyeol hendak menghampiri Baekhyun di meja makan. Baru saja ia menuruni beberapa anak tangga, "kau tidak pergi mandi?" tanya Baekhyun tiba-tiba.

"aku bahkan sudah menggunakan parfum, sayang." Kata Chanyeol terkejut.

"tapi aku masih bisa mencium baumu, Yeolli! Bau mu sangat menggangguku." Kata Baekhyun sambil menutup hidungnya.

Aaaaahh Chanyeol mengerti sekarang. Sepertinya Baekhyun akan aneh mulai hari ini. "seperti apa aroma tubuhku, sayang?" tanya Chanyeol lembut.

"sudah ku katakan, aroma tubuhmu membuatku mual!" kata Baekhyun dan berdiri dari duduknya. "kau sarapanlah. Aku tidak bisa menemanimu. Aromamu sangat mengganggu!" kata Baekhyun.

Ah, sepertinya hari-hari sulit Chanyeol akan dimulai...

.

"eomma bilang ia akan datang nanti bersama Jung ahjumma. Jung ahjumma akan bekerja dan menemanimu disini mulai hari ini." Chanyeol masih duduk di meja makan dan menyeruput kopi hangatnya.

"lalu, siapa yang akan membantu eomma di rumah jika Jung ahjumma bekerja disini?" jawab Baekhyun dari ruang keluarga yang berada tidak begitu jauh dari ruang makan. Ia masih menjaga jaraknya dengan Chanyeol.

"eomma sudah mencari pendamping rumah tangga yang baru, ia juga akan menjadi nanny untuk Kevin." Chanyeol berdiri dari kursinya. Ia akan bersiap berangkat kerja.

"baiklah kalau begitu." Jawab Baekhyun singkat. Chanyeol berjalan mendekati Baekhyun, "STOP! Chagiya, mengertilah bahwa aku benar-benar mual mencium aroma tubuhmu. Bisakah kau berangkat tanpa ku antar?" kata Baekhyun memasang wajahnya yang memelas.

"baiklah. Kau jangan lupa sarapan. Aku berangkat." Ujar Chanyeol meraih tas kerjanya dan berjalan menuju pintu. Sebenarnya Chanyeol cukup sedih pagi ini. tapi sepertinya ia harus bersiap sampai Baekhyun kembali ke keadaan semula.

.

'Ring Ding Dong... Ring Ding Dong...'

"ah sepertinya itu eomma!" baekhyun segera bangkit dari duduknya. Ia sudah sarapan dan mandi pagi ini untuk menyambut tamunya.

"eomaaaa... omo ternyata pangeran kecil keluarga Park ini juga datang. Onty sangat merindukanmu." Baekhyun mencium dan mencubit pipi berisi milik Kevin. Sungmin tidak hanya berdua saja dengan Jung ahjumma, tapi juga mengajak serta Tao, Kevin dan Shin ahjumma, yang akan menjadi nanny untuk Kevin.

"mari masuk. Aku sudah menunggu kalian." Baekhyun mempersilahkan tamunya masuk.

"bagaimana menantu dan calon cucu eomma? Sehat?" Sungmin membuka pembicaraan.

"Sehat, eomma. Chanyeol menjaga kami dengan baik. Ia bahkan selalu menyempatkan diri untuk memasak untuk kami karena bayi kami sepertinya menyukai masakan appanya."

"baguslah kalau begitu. Eomma pikir si bungsu itu tidak bisa bertanggung jawab. Saat ia masih kecil, ia selalu berlindung dibalik tubuh eomma setiap ia bertengkar dengan kakaknya. Atau mengadu pada kakaknya setiap kali ia bertengkar dengan temannya di sekolah. Ah, Chanyeol ku sudah dewasa." Ujar Sungmin bangga pada anak bungsunya.

"oh ya, Baekhyun. Jung ahjumma akan membantumu mengerjakan pekerjaan rumah mulai hari ini. ia akan berada disini dari pagi hingga sore. Jika kau merasa kesepian saat Chanyeol lembur, kau bisa memintanya untuk menginap. Bukan begitu, ahjumma?" Sungmin menatap Jung ahjumma yang segera menjawab dengan anggukan.

"terimakasih, eomma, Jung ahjumma. Aku merasa senang pekerjaanku akan lebih ringan." Senyum di bibir Baekhyun mengembang. Kemudian Baekhyun beralih pada Kevin, "lalu, bagaimana kabar pangeran kecil keluarga Park ini? kau menyukai Korea?"

"Kevin sepertinya sangat menyukai Korea. tidurnya tidak terganggu, dan ia tidak pernah terlihat tidak nyaman berada disini. Ia juga sangat menyukai keluarga appanya." Tao menatap Baekhyun dan ibu mertuanya bergantian.

"saat jiejie mengandung Kevin, jiejie mengidam? Ngidam apa?" tanya Baekhyun.

"aku ingin ke Korea."

"lalu, oppa memenuhi keinginanmu?"

"tentu. Ia segera membawaku ke Korea. setelah beberapa bulan disini, kami baru berangkat ke Kanada untuk perjalanan bisnisnya hingga Kevin lahir."

"aaaaaahhh... lalu, dulu saat eomma hamil Chanyeol bagaimana?" tanya Baekhyun beralih pada ibu mertuanya.

"saat eomma hamil kedua, eomma tidak rewel. Eomma rewel hanya saat hamil pertama. Eomma merasa seperti tenaga eomma habis di serap oleh Kris. Eomma juga selalu minta berbagai hal lain pada appa. Kalau di ingat-ingat, eomma merasa kasihan. Tapi, mau bagaimana lagi. Bayi kami yang menginginkannya. Beruntung ketika lahir dan dewasa Kris dan Chanyeol tidak menyusahkan."

"apa Chanyeol mengizinkanmu keluar rumah?"

"untuk trimester pertama ini, Chanyeol melarangku keluar rumah kecuali bersamanya, Jie. Ia terlalu khawatir."

"tak heran. Kris juga seperti itu dulu. Mungkin Chanyeol sudah bertanya pada Kris apa yang dilakukannya pada masa kehamilanku dulu. Wajar saja, ini anak pertamanya. Jika perutmu sudah mulai terlihat berisi, ia pasti mengizinkanmu keluar rumah. Pergilah melihat-lihat perlengkapan bayi. Cicil perlengkapannya mulai dini agar kau membelinya tidak dengan terburu-buru."

"baik, Jie. Terimakasih Jie, eomma, untuk semua nasihat yang bermanfaat untukku."

Baekhyun belajar banyak dari kedua ibu ini hari ini. keluarga Park memang sangat hangat, tak kalah hangat dengan keluarga Byun. Baekhyun merasa ia benar-benar beruntung bisa berada di tengah dua keluarga ini.

.

"yeobo, sudahi makan es krim itu. Kau bisa flu." Kata Chanyeol memperingati istrinya. Pasalnya, istrinya ini mulai rakus dan mulai sulit diberitau. Ia sudah menghabiskan satu kotak es krim sendirian malam ini.

"tapi bayi kita menyukainya, Yeollie. Aku tidak bisa berhenti."

"aegya, mari berhenti dan tidur. Besok lagi, ne?" kata Chanyeol masih dari beberapa meter dari Baekhyun. Baekhyun masih tidak bisa mencium aroma tubuh Chanyeol yang katanya membuatnya mual.

"baiklah, sudah untuk malam ini, ya, aegya?" Baekhyun mengelus perutnya. "kita lanjutkan besok seperti kata appa." Ia menutup kotak es krimnya dan bangkit menyimpan es krim nya di lemari pendingin dan berjalan menuju kamarnya untuk tidur. Chanyeol membuntuti langkahnya.

Baekhyun membalikkan tubuhnya, Chanyeol menghentikan langkahnya segera, "Yeolli, aku akan tidur berdua dengan aegya malam ini. kau tidur di kamar bawah saja, ne? Sepertinya aegya cemburu jika kita tidur bersama."

"tapi-"

"di kamar bawah sudah ada bantal dan selimut. Tadi aku meminta Jung ahjumma untuk menyiapkannya. Selamat tidur, appa. lambaikan tanganmu pada appa, baby. Appa bye bye..." baekhyun melambaikan tangannya dan berlalu meninggalkan Chanyeol yang masih tidak percaya bahwa dirinya ditendang secara halus dari kamarnya sendiri.

Mengendap-endap Chanyeol menaiki anak tangga menuju ke kamar utama, berencana tidur di sebelah Baekhyun setelah Baekhyun terlelap. Chanyeol sampai di pintu kamarnya yang tidak tertutup rapat.

"aku tau kau mengendap-endap, Park Chanyeol. Aku bisa mencium aroma tubuhmu dari sini." Suara Baekhyun dari dalam kamar segera menghentikan langkah Chanyeol. "bukankah aku sudah memintamu untuk tidur di kamar bawah dengan cara yang lembut? Apa kau tidak mengerti perasaan bayi kita?" lanjutnya.

Tanpa menjawab kemudian Chanyeol membalikkan tubuhnya dan melangkah menuju lantai satu apartemennya untuk tidur di kamar tidur di lantai tersebut. Ah, malam-malam Chanyeol akan semakin dingin tanpa dekapan Baekhyun...

.

"Yeolli, aku ingin makan pisang." Suara Baekhyun pagi ini begitu segar. Sepertinya bayinya benar-benar menjaganya malam tadi. Chanyeol sedang memasak sarapan untuknya dan Baekhyun. Baekhyun tidak bisa makan makanan lain selain masakan Chanyeol, ibunya atau ibu mertuanya.

"bagaimana dengan pisang ku?" jawab Chanyeol sambil terkekeh.

"otakmu masih saja mesum bahkan setelah membuatku hamil!"

Chanyeol terkekeh mendengar jawaban istrinya. "tapi kau menyukainya, 'kan?" jawab Chanyeol masih menggoda Baekhyun. "kau tidak merindukannya? Sudah hampir 3 bulan aku menahannya."

"aku tidak akan melakukannya hingga aku melahirkan! Keputusanku tidak akan berubah!" jawab Baekhyun disertai dengan tatapan tajamnya ke arah Chanyeol.

"aku mengerti. Aku akan bersabar. Aku juga tidak ingin menyakiti istri dan anakku." Jawabnya, "lalu, pisang apa yang kau inginkan? Mengapa tak minta Jung ahjumma saja yang belikan? Ia bisa mampir di pasar saat perjalanan kemari."

"apa saja. aku ingin kau yang belikan."

"baiklah. Ku bawakan nanti sepulang kerja, ne? Sabar tunggu appa pulang, ne, aegya?" Chanyeol sudah selesai memasak, dan menata makanan di atas meja makan.

"ne, appa." jawab Baekhyun menirukan suara anak-anak.

Chanyeol menuju kamarnya, mengenakan pakaian kantor serta jas abu-abunya. Rambutnya di sisir rapi ke atas memperlihatkan keningnya. Kemudian ia turun untuk bersiap sarapan.

"mengapa kau tampan sekali hari ini?" celetuk Baekhyun menghentikan langkah Chanyeol.

"rasanya setiap hari aku seperti ini. tapi, bukankah suami mu ini memang tampan?" Chanyeol berpose di tempatnya berdiri.

"apa kau sengaja? Ada karyawan baru yang cantik di tempat kerjamu?"

Chanyeol terkejut. "tidak-"

"ganti!"

"tapi-"

"ganti kataku." Kata Baekhyun datar namun dingin.

"baiklah."

Chanyeol mengganti pakaiannya dengan pakaian lain, kemudian segera turun. Suara Baekhyun kembali menghentikan langkahnya.

"kau masih tampan. Ganti."

Ini sudah hampir jam 8 pagi, Chanyeol harus bekerja dan Baekhyun sudah 7 kali menyuruhnya mengganti pakaiannya. Chanyeol akan terlambat jika ia tidak segera berangkat. Hingga ini yang kedelapan kalinya Chanyeol mengganti pakaiannya.

"mmm ku rasa yang pertama saja, bagus." Kata Baekhyun santai. "segeralah ganti pakaianmu dan sarapan. Kau akan terlambat."

Chanyeol merasa kepalanya seperti terbakar. Demi eyeliner Baekhyun, setelah menuruhnya mengganti sebanyak 8 kali, Baekhyun malah menyuruhnya menggunakan pakaian yang pertama kali ia gunakan. Rasanya kepala Chanyeol akan segera meledak.

Ia berusaha untuk tidak berkomentar apapun agar amarahnya tidak meledak. Ia juga berusaha untuk menjaga perasaan Baekhyun. Mungkin ini alasan ibu mertua dan ibunya memintanya tetap bersabar.

Chanyeol menghela napasnya panjang, "aku akan segera berangkat. Aku sarapan di kantor saja." Chanyeol segera menyambar tas kerjanya.

"kau akan sakit jika tidak sarapan, yeobo." Kalimat Baekhyun kembali menghentikan langkahnya. "sarapanlah dulu meskipun sedikit. kau bahkan tidak menyentuh kopi mu pagi ini. jangan membuatku khawatir, kau bisa sakit." Ujar Baekhyun dengan mata yang berkaca-kaca.

'bukannya kau yang membuatku terlambat dan tidak sarapan' bathin Chanyeol. "tapi aku akan ter-" Chanyeol menatap wajah Baekhyun dengan mata yang semakin memerah. "baiklah aku akan sarapan dulu." Kata Chanyeol segera duduk di meja makan dan mengirim pesan ke sekertarisnya untuk memberitau bahwa ia akan terlambat hari ini. beruntung pria ini adalah pimpinan kantor. Jika tidak, mungkin ia akan mendapat potongan gaji yang besar karena terlambat yang disebabkan oleh hal sepele.

.

Jung ahjumma datang tepat setelah Chanyeol berangkat. Ia datang sendirian pagi ini. ia membawa banyak belanjaan. Sepertinya Jung ahjumma mampir ke pasar sebelum datang ke apartemen ini.

"terimakasih sudah datang, ahjumma. Ku tinggal mandi dulu, ya."

"ne, nyonya muda."

Baekhyun meninggalkan Jung ahjumma yang kemudian sibuk membereskan apartemen yang sebenarnya tidak berantakan itu. Tujuan sesungguhnya keluarga Park meminta Jung ahjumma bekerja di apartemen ini adalah untuk menemani Baekhyun saat Chanyeol tidak ada. Chanyeol khawatir untuk meninggalkan Baekhyun sendirian. Apalagi ia sedang mengandung. Baekhyun akan merasa sangat kesepian dan bosan karena ia tidak terbiasa berada di rumah pada pagi hari, mengingat sebelumnya ia adalah wanita karir.

Bukannya benar-benar pergi mandi, Baekhyun malah merebahkan tubuhnya ke atas ranjang empuknya. Ia merasa sangat malas pagi ini. ia meraih ponselnya, mengutak-atik isi ponselnya, membuka sosial media yang sudah lama tak di ceknya, kemudian membuka galeri yang berisi photo-photo dirinya, Chanyeol, Luhan, Kyungsoo, dan kedua orang tuanya. Ia memandangi gambar kerabatnya itu. Ia sangat merindukan menghabiskan waktu dengan kedua sahabatnya. Sayangnya, Chanyeol tidak mengizinkan Baekhyun keluar rumah tanpa Chanyeol. Ia ingin meminta Kyungsoo dan Luhan datang ke apartemennya, tapi, itu tidak akan semudah dulu. Kyungsoo sudah milik Jongin, apalagi mereka pengantin baru. Seharusnya Baekhyun tidak mengganggu mereka.

Baekhyun menghela napasnya panjang. Ini baru hari pertamanya tidak bekerja, tapi ia merasa akan mati bosan. Ia memutar video konyol yang Luhan dan Kyungsoo buat sebagai ucapan selamat saat Baekhyun menikah. Baekhyun tersenyum, ia beruntung memiliki dua orang wanita ini sebagai sahabat terbaiknya.

'Ring Ding Dong... Ring Ding Dong...'

Baekhyun terkesiap mendengar suara bel apartemennya berbunyi. Ia menebak-nebak siapa yang datang sepagi ini. ibunya? Atau ibu mertuanya?

Ia segera bangkit dari kasurnya dan berjalan keluar kamar untuk melihat siapa yang datang.

"LUUUUUUUU!" Baekhyun berteriak dan rusuh menuruni tangga.

"ya ya pelan-pelan. Ya!" Luhan khawatir melihat tingkah pecicilan sahabatnya ini. Ia sedang hamil dan berbahaya baginya berlarian menuruni tangga. Baekhyun segera menghambur ke dalam pelukan Luhan, memeluk Luhan erat. "aku merindukanmu, my deer."

"karena aku rusa maka kau menerkamku? Hei, tunggu, kau belum mandi ya? Lepaskan!" Luhan berusaha melepaskan pelukan Baekhyun dari tubuhnya. "biarpun aku tidak mandi setahun, aku masih tetap wangi kok." Baekhyun tidak ingin melepaskan pelukannya.

"lepaskan, Bacon! Ah, kau ini! mengandung bukannya semakin cantik malah semakin jorok begini. Pergi mandi sana!" akhirnya Baekhyun melepaskan pelukannya pada Luhan.

"baiklah. Kau tunggu disini. Duduklah. Minta Jung ahjumma membuatkan mu sesuatu." Baekhyun meninggalkan Luhan di ruang keluarga dan berlalu untuk benar-benar pergi mandi sekarang.

Setelah mandi, Baekhyun kembali menemani Luhan berbincang.

"jadi, bagaimana bisa sepagi ini kau ada disini?"

"aku merindukanmu, jadi aku menutup butikku hari ini. aku bosan. Butikku sepi sejak kalian menikah. Bukan sepi pengunjung, tapi sepi dari tawa melengking kalian."

"karena itu menikahlah, Lu."

"karena itu juga aku datang kemari, Baek."

"maksudmu?"

"apa kehidupan setelah menikah akan menyeramkan?"

"tentu saja tidak. Aku bahagia. Dan sepertinya Kyungsoo juga bahagia."

"Sehun mengajakku menikah."

Baekhyun membelalakkan matanya, terkejut. "sungguh? Lalu? Bagaimana jawabanmu? Kapan?"

"hmmm..."

"jangan bilang kau belum siap! Kau sudah memacarinya sejak di tahun pertama ia di universitas. Dan sepertinya ia tidak seperti anak-anak lainnya. Ia memacari wanita tua sepertimu dengan serius."

"ya! Apa maksudmu dengan wanita tua?!" sewot Luhan. "tentu saja aku menerimanya!"

"sungguh? Oh akhirnya. Lalu, kapan kalian akan menikah?"

"aku tidak ingin terburu-buru, Baek. kami berencana akan mempersiapkannya dengan matang. Jadi, mungkin kami akan menikah tahun depan. Kami belum menentukan tanggalnya, bahkan bulannya saja belum kami tentukan. Kami sepakat untuk menikah tahun depan. Lagipula, Sehun baru saja resmi menyandang gelar dokternya. Kami akan memulai persiapannya dengan sebuah pertunangan. kami akan melakukan pertunangannya bulan depan."

Baekhyun memeluk tubuh Luhan "oh, Lu, ini kabar yang sangat menggembirakan pagi ini. kau beruntung, Luhannie. Kau harus banyak-banyak bersyukur. Sehun pasti benar-benar mencintaimu. Persiapkan pernikahan kalian dengan matang, dan persiapkan diri kalian. kuatkan cinta kalian dan jangan pernah biarkan keraguan menyelinap di antara kalian."

"woah, Baekkie, kau benar-benar calon ibu sekarang! Kau sangat berbeda dengan kau beberapa tahun yang lalu!" ledek Luhan.

"ah, kau sudah memberitau Kyungsoo?"

"aku belum menemuinya. Ia sedang dalam perjalanan ke Jeju untuk berbulan madu."

"oh benarkah? Aku bahkan tidak punya waktu untuk berbulan madu."

"tapi kau menghabiskan seminggu mu bertempur di atas pulau kapuk bersama Chanyeol, kan?"

Pipi Baekhyun bersemu merah, "ya! Bicara apa kau ini!" Baekhyun memukul Luhan dengan bantal.

"jagalah janin dan dirimu, Baek. Kau sangat menantikannya."

"aku akan menjaganya, aku tidak ingin kehilangannya."

Hari Baekhyun diisi dengan canda tawanya bersama Luhan. Persahabatan mereka memang tak pernah pudar. Karena Baekhyun maupun Luhan tak memiliki saudara, keduanya menyayangi layaknya saudara.

.

Chanyeol pulang lebih cepat, tidak lupa membawa pisang seperti pesanan Baekhyun.

"oh kau sudah pulang? Kok cepat? Kau bolos?" ujar Baekhyun masih asik menonton drama dengan mata yang fokus ke arah televisi tanpa menoleh ke arah Chanyeol.

"sambutlah suami mu ini dulu, yeobo."

"aku sudah menyambutmu." Jawabnya singkat.

Chanyeol mendekati Baekhyun. "yeobo, kau belum mandi?" tanya Chanyeol terkejut melihat rambut Baekhyun yang acak-acakan dan wajah yang berminyak.

"aku sudah mandi pagi, kok. Tadi Luhan datang kemari. Lagipula ku rasa aku tidak bau badan jadi aku tak butuh mandi sore." Katanya sambil mencium tubuhnya. Ah, istri Park Chanyeol ini menjadi sangat jorok setelah beberapa bulan kehamilannya.

"mandilah sekarang. Ini sudah sore. Ini, pisang pesananmu sudah ku belikan. Mandi dulu, baru kemudian menyentuh pesananmu."

"tidak ada orang yang melihatku. Hanya kau. Apa kau tidak menyukai aku yang seperti ini?" sewot Baekhyun. Chanyeol kembali menghela napasnya panjang.

"mengapa kau menghela panjang napasmu? Kau lelah denganku?" Baekhyun semakin sewot. Mood Nyonya Park ini benar-benar seperti roller coaster yang bisa naik turun dengan cepat.

"bukannya begitu, chagiya." Chanyeol menggunakan suaranya yang paling lembut. "eomma dan aegya akan sakit jika tidak mandi karena banyak bakteri di tubuh eomma, dan mandi malam tidak baik juga untuk kesehatan eomma. Apa eomma tidak kasihan pada aegya? Sekarang mandi, ne? Sebelum petang." Kata Chanyeol lembut dan pelan. Dan jangan lupa, pada jarak yang cukup jauh dari tempat Baekhyun duduk.

"ne, appa." jawab Baekhyun tanpa protes. Chanyeol merasa istrinya itu benar-benar ajaib sekarang. Ia bisa segera marah, sedih, tertawa dalam jarak waktu yang sangat singkat. Ah, ia benar-benar merasakan kehamilan istrinya sekarang.

.

Setelah selesai mandi, Baekhyun duduk kembali di sofa ruang keluarga, menonton TV, dan mengambil satu buah pisang yang di bawa Chanyeol. Chanyeol tengah sibuk memasak makan malam mereka.

"pisangnya terlalu matang. Lembek. Aku tidak suka." Baekhyun meletakkan pisang yang baru saja ia gigit sekali itu.

Chanyeol segera mengambil pisang yang sudah di gigit Baekhyun, dan memakannya. "ku rasa sudah pas, tidak begitu lembek." Katanya.

"pokoknya aku tidak suka! Bukan ini yang aku inginkan!"

"baiklah, besok aku belikan yang lain. Bagaimana jika kita pergi membelinya bersama?"

"mengapa tidak sekarang?"

"sudah malam. Aku akan pulang cepat besok." Kata Chanyeol, kemudian kembali ke dapur menyelesaikan kegiatannya.

"tapi-"

'Ring Ding Dong... Ring Ding Dong...'

Bel apartemen mereka memotong perdebatan keluarga muda ini. beruntung Chanyeol diselamatkan oleh suara bel barusan. Baekhyun segera bangkit dan membukakan pintu.

"selamat malam." Seorang pria yang menggandeng anak perempuan dan seorang wanita yang menggendong seorang bayi laki-laki berdiri di depan pintu. "kami keluarga yang tinggal di pintu sebelah. Kami rasa, kami belum menyapa tetangga baru kami. Apa kami mengganggu?"

"oh tidak. Silahkan masuk." Kata Baekhyun mempersilahkan tamunya masuk.

"ini ada sedikit makanan yang kami bawa. Sohyun-ah, berikan kotak makannya pada ahjumma."

"ne, eomma." Kata si gadis sambil menyerahkan bungkusan berisi makanan pada Baekhyun. Baekhyun menerimanya dan mempersilahkan tamunya untuk duduk.

"siapa?" tanya Chanyeol saat Baekhyun meletakkan bungkusannya di atas meja makan. Chanyeol sudah selesai memasak, dan sedang mencuci peralatan dapur yang kotor.

"nanti saja makannya. Keluar saja dulu. Tetangga kita datang. Ganti bajumu. Mereka sekeluarga." Jelas Baekhyun.

"selamat malam, Tuan. Maaf mengganggu malam-malam." Kata tamu pria.

"oh, tidak masalah. Silahkan duduk." Chanyeol kemudian duduk di hadapan tamunya. "ku rasa kita pernah bertemu."

"ah, ku rasa kita bertemu di pernikahan adikku." Jelasnya.

"adik?"

"Kim Jongin. Bukankah nyonya yang jatuh pingsan?"

"ah, benar. Maaf, aku tidak begitu mengenal keluarga Jongin. Kami juga tidak sempat menyapa keluarganya karena insiden itu." Jelas Chanyeol.

"ah ya, aku Kim Jongdae. Kakak Kim Jongin. Ini istriku, Kim Minseok, putri sulungku, Sohyun, dan putra bungsuku, Jong Seok. Kami tinggal di pintu sebelah." Ia memperkenalkan dirinya dan keluarganya. "melihat photo keluarga anda, ku rasa aku juga mengenal pria yang berdiri di samping anda." Pria itu menatap photo keluarga di ruang tamu.

"dia kakak sulungku. Bagaimana anda bisa mengenalnya?"

"sebelumnya, bagaimana jika kita berbicara lebih santai? Kau bisa memanggilku Hyung karena aku bahkan lebih tua dari kakakmu." Katanya.

"tentu saja."

"adikku sedang melakukan bisnis dengannya."

"adik?"

"ya, kami Kim Bersaudara. Aku memiliki 2 orang adik, salah satunya Kim Jongin, dan satunya lagi, Kim Junmyeon, yang sedang melakukan bisnis dengan kakamu."

"aku merasa Korea benar-benar sempit sekarang. Aku sudah bertemu ketiganya. Kim Jongin, suami dari sahabat istriku. Kim Junmyeon, aku bertemu dengannya beberapa saat lalu saat ia dan kakakku rapat di kantor, dan Kim Jongdae, yang ternyata tetanggaku." Kata Chanyeol.

"oh kau hadir kemarin? Aku tak bisa ikut hadir. Jadi hanya Junmyeon yang datang. Jongin menemaniku rapat di tempat lain. Istri Junmyeon sedang mengandung anak keduanya. Ia ingin melahirkan di Korea. Karena itu kemudian adikku membawa istrinya kembali ke Korea." jelas Jongdae.

"wah, istriku juga sedang mengandung sekarang." Kata Chanyeol. "Mungkin ia bisa berbagi dengan adik iparmu lain kali, Hyung."

"silahkan diminum." Kata Baekhyun datang dengan minuman yang di tata di atas meja. "aigooo lucunya... siapa namamu?" tanya Baekhyun menyentuh pipi bayi di gendongan Minseok "berapa umurnya?" tatapannya beralih pada Minseok.

"namaku Jong Seok, Kim Jong Seok, umurku 6 bulan, ahjumma." Ujar Minseok sambil memegang tangan bayinya.

Chanyeol tersenyum melihat Baekhyun begitu bahagia melihat bayi. Hmm ia pasti akan lebih bahagia lagi saat bayinya lahir nanti.

"boleh aku menggendongnya?" izin Baekhyun.

"ah, bukannya aku tidak ingin mengizinkanmu. Tapi Jong Seok sangat berat dan sedang sangat aktif sekarang. Ku rasa akan berbahaya untuk kandunganmu jika kau menggendongnya."

"aaahh baiklah, tidak apa. Melihatnya saja aku sudah senang. Malaikat kecil titipan Tuhan memang sangat berharga." Ujar Baekhyun.

"oh, aku baru saja memasak. Bagaimana jika kita makan malam bersama?" ujar Chanyeol.

"sepertinya kami tidak bisa makan malam bersama kali ini." kata Minseok. "Jong Seok mulai rewel. Sepertinya ia mengantuk."

"ah, baiklah. Ku rasa lain kali kita harus makan malam bersama." Ujar Chanyeol.

"baiklah. Kami pamit dulu."

.

Setelah makan malam, dan duduk sebentar, Baekhyun bangkit dari sofa. "aku akan tidur. Aegya masih tidak ingin tidur bersamamu. Tak apa 'kan kau tidur di kamar bawah?"

Chanyeol mengangguk lemah.

Baekhyun sudah masuk ke kamar 30 menit yang lalu. Chanyeol melangkahkan kakinya pelan menuju kamar tempat Baekhyun tidur. Ia berhenti di depan kamar, kemudian mengetok pintunya.

"yeobo... aku merindukanmu, dan aegya..." lirih Chanyeol menyedihkan.

"tapi aegya tidak ingin tidur denganmu." Jawab Baekhyun dari kamarnya.

"aegya, kau tidak kasihan pada appa? kau tidur ditemani eomma sedang appa tidur sendirian di kamar bawah. Appa kesepian..." ujarnya semakin menyedihkan. Baekhyun terkikik mendengar suara lirih suaminya.

"appa akan tidur didepan pintu jika kalian tidak mengizinkan appa tidur di dalam." Lanjut Chanyeol. Ia menunggu jawaban Baekhyun, satu... dua... tiga... empat... lima... masih tidak ada jawaban, "appa serius. Appa akan tidur disini. Appa akan menjaga kamar kalian."

Baekhyun semakin terkikik mendengar ucapan suaminya. "masuklah." Kata Baekhyun melunak.

Chanyeol merasa seperti mendapatkan oasis di tengah padang pasir. Segera dibukanya pintu kamar Baekhyun. "appa datang..." katanya bersemangat.

"tidurlah di bawah. Ku rasa aku sudah lebih baik saat kita berjarak dekat tapi aku masih tidak bisa tidur di ranjang yang sama. Jha, sudah ku siapkan. Tidurlah. Aegya, kita tidur dengan di jaga appa malam ini." baekhyun mengelus perutnya.

Chanyeol merasa air di oasisnya segera mengering. Dengan wajah datar, ia merebahkan dirinya di kasur tipis di lantai yang telah Baekhyun siapkan.

"selamat tidur, appa. tidurlah yang nyenyak." Kata Baekhyun kemudian memejamkan matanya tanpa memperdulikan mulut Chanyeol yang sudah komat-kamit karena kesal.

"oh aegya, segera lah keluar dan berhenti menyiksa appa. selamat tidur, nak." Kata Chanyeol berbisik. Membuat Baekhyun yang masih bisa mendengarnya tersenyum menahan tawa.

'sabarlah, yeobo. Hanya sampai masa ngidamku berakhir. Terimakasih, Tuhan sudah mentakdirkan aku dengan pria ini. selamat tidur, yeobo.' ucap Baekhyun dalam hati.

.

.

END


alohaaa ketemu lagi deh kitanyaaaa... sebelumnya, aku memperkenalkan diri dulu aja kali ya. *udah sampe sini baru memperkenalkan diri* ya gapapa deh walaupun agak telat. kalian bisa panggil aku Chacha aja gapapa. biar lebih akrab *tsailah sok akrab banget sih gue* wkwkwkw


Jeongmal neomu neomu kamsahabnida buat semua reader yang sudah meluangkan waktunya buat baca FF amatirku ini dan juga meluangkan sedikit waktunya untuk meninggalkan review. jujur aja, setiap kali aku bosen, aku bakal buka FF ini. bukan buat baca FF nya tapi baca review nya hahahaha review kalian bisa buat semangat ku kepompa :D makasih juga buat para silent reader, yang udah follow dan fav meski tidak meninggalkan apapun di kotak review. makasih banyaaaakk *deep bow*

Seperti biasa, aku selalu meminta maaf dari lubuk hatiku yang paling dalam lewat FF ini. mungkin chapter ini lil bit bored. ah, mungkin gak cuma lil bit aja kali ya, tapi MBOSENI TENAN alias membosankan banget. Tapi aku gak bisa ngebiarin chapter ini di lompat :( aku butuh chapter ini buat menjelaskan beberapa hal. jujur aja, aku udah ngebaca dan nge-revisi chapter ini berkali-kali. aku khawatir chapter ini sangat mengecewakan. jadi ku baca berulang-ulang dan mencoba memilih kata yang terbaik. tapi yah, mungkin segini mampunya aku ya dimaklumi aja yaaa aku minta maaf beneran *deep bow*

semua tau kan kalo setiap penulis pasti butuh seorang editor. nah, aku ini gak punya seorang editor. karena itu aku butuh kalian banget buat memperbaiki dan mengevaluasi cara menulisku lewat review kalian semua. terimakasih banyak untuk yang sudah bisa sangat mengerti.

Sebagai permintaan maafku, aku mau bocorin sesuatu. kalo misalnya FF ini lanjut terus, sebenernya masa kehamilan Baekhyun akan aku bagi jadi 3, Trimester pertama, Trimester Kedua, dan Trimester Ketiga. kenapa dibagi tiga? karena akan aku selipkan cerita pairing lain nantinya. mungkin beberapa org akan mulai menebak-nebak apa yang akan aku selipkan nanti. bocoran ini mungkin juga bisa buat kalian kasi masukan ke aku bagaimana kelanjutannya jika memang FF ini akan di lanjut.


*reppview*

XOXO KimCloud || *sodorin metformin* hahahaha terimakasih banyaaaakk aku ngakak abis deh baca review kamu XD heeh udah gitu gak lupa juga buat bilang kalo dia sayang sama Baek. kyaaaaa . ah aku juga mau punya suami macam Chanyeol :| semoga chapter ini tidak mengecewakan ya :)

exindira || terimakasih :))) hihihi iya nih udah di update. semoga tidak mengecewakan yah :))

younlaycious88 || jempolnya sudah diterima! terimakasih :D hihi

ChanbaekShipper || iyaaaa Baek kemarin ulang tahun doongg.. hihihi iyah idaman para fangirl kekekeke makasi yaa :))

ruixi1 || aku juga mauu kekekeke makasi sudah review :))

Yulyul || iya makasi yaaa sudah review :) ini sudah di update :))

chanabek || ah apalagi aku. bahagianya gak ketulungan :'D

baekhyunina || ini 'kan masih hamil muda banget. ntar juga Baek nya jadi seterong lagi tenang ajah xD hehehe *bocoran* hmm aku udah bocorin yah di atas. semoga tidak mengecewakan :)) makasi sudah review :)

Rly. || gak tau mau bilang apa, aku mah sebagai Chanbaek shipper bantu amin-in aja deh :D hehehe

Park Ana || kamu gak sendiri kok. aku juga pengen jadi Baekhyun hihihi

Myllexotic || tau gak siiiihh? aku ngebaca reviewmu jadi senyum ear-to-ear seharian. sampe dikatain gila sama temenku gegara senyum senyum sendiri sambil ngeliatin layar hape :") ya ampun aku terharu banget tau gak sih hahahaha makasih banyak ya semoga chapter ini tidak mengecewakan kamu yg udah review :) makasi banyak...

kimna || eonniiiiieeeeee kekekekekekekeke Kai gak akan se sweet ini ke kamu :p wkwkwkw terimakasih semangatnya... sini cium dulu :* smoooccchhh kekeke

ParkByun || iya ini udah di lanjut :)) smg tidak mengecewakan yah :) makasih...

VAAirin || gak papaaa gak papaaa... kapanpun reviewnya mah boleeeehh... bebaaaasss :") gue juga nulisnya sambil cengenges cengenges sendiri. tapi rada ngenes juga sih gegara ngiri sama si Baek T_T kekeke anaknya cewek atau cowok yaaa hmmm enaknya gimana? :D aaaaahh makasi banyaaaakk :") gue juga bakal tetep nungguin review lo :D hehe makasih yah :))))

JonginDO || ini udah di lanjut :))

anoncikiciw || hahahahaha sayangnya kayaknya Tuhan cuma buat satu Chanyeol cuma buat Baekhyun deh :D hihihi iyah ini udah di update semoga tidak mengecewakan yah :))

nah, sudah disebut semua? terimakasih ya semuanya. sekali lagi aku minta maaf. semoga tidak mengecewakan :))

sampai jumpa jika ada yang review

*bbyeong*