Cast:
Park Chanyeol (m/27)
Byun Baekhyun (f/25)
Byun Hangeng (m/53 – Baekhyun's Father)
Kim Heechul (f/48 – Baekhyun's Mother)
Park Kyuhyun (m/60 – Chanyeol's Father)
Lee Sungmin (f/55 – Chanyeol's Mother)
Oh Sehun (m/23)
Xiao Lu Han (f/25)
Kim Jongin/Kim Kai (m/23)
Do Kyungsoo (f/24)
Other EXO's member
Pairing:
Chanbaek; Hanchul; Kyumin; Hunhan; Kaisoo
Warning: MATURE CONTENT! NC scene inside. Jadi, buat adik-adik yang merasa masih polos dan masih di bawah umur, silahkan close page nya sampai di scene di airport. Silahkan untuk SKIP bagian Chanbaek. tapi jika kalian tetap terus membaca, aku tidak ikut campur dalam meracuni pikiran kalian yaa ^^
Berdiri di hadapan kita seorang gadis dengan gaun putih yang terbuka di bagian pundaknya, memperlihatkan indah tulang selangka dan putih mulus kulitnya tanpa cela. Rambut cokelatnya di gelung ke atas dengan hiasan mutiara, tidak perlu make-up tebal untuk membuatnya cantik. Mata dan bibirnya benar-benar sempurna, bagian khas dari dirinya. Kalian sudah bisa menebaknya? Ya, gadis ini Xiao Luhan.
Malam ini ia akan melaksanakan pertunangannya dengan Oh Sehun, seorang dokter muda yang dipacarinya sejak pria itu ada di tahun pertama perkuliahan. Terhitung sudah kurang lebih 6 tahun berpacaran, akhirnya Luhan dan Sehun memutuskan untuk bertunangan sebagai langkah awal menuju jenjang yang lebih jauh. Yah, seperti menemukan kunci yang tepat untuk gembok sebelum membuka lebar pintu didepan mereka.
Luhan berjalan mondar-mandir di kamarnya. Ia merasa begitu gelisah. Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya, seakan-akan ia bisa merasakan bagaimana darah mengalir dalam tubuhnya.
"oh ayolah, Lu. Ini hanya pertunangan. Tidak bisakah kau tenang?" Baekhyun, ibu hamil yang perutnya mulai membuncit itu ikut pusing melihat Luhan terus mondar-mandir di hadapannya. "kau sudah cantik. Sehun akan semakin jatuh cinta padamu. Jangan khawatir."
Luhan kemudian duduk di antara kedua sahabatnya –Baekhyun dan Kyungsoo-, "aku tidak salah mengambil keputusan, 'kan?" Luhan memandang mereka bergantian.
"tentu saja tidak, Lu. Ini keputusan terbaik yang kau ambil setelah pemikiranmu yang begitu panjang. Jangan buat dirimu ragu. Semua akan berjalan lancar hingga hari H." Kyungsoo berusaha menenangkan Luhan.
"sepertinya Sehun dan keluarganya sudah datang. Ayo turun dan sambut mereka. Kau akan mempesona semua orang malam ini." baekhyun berdiri dari duduknya diikuti Luhan dan Kyungsoo yang membantu merapikan gaun yang dikenakan Luhan.
Pertunangan itu di adakan kecil-kecilan di kediaman keluarga Xiao. Luhan menuruni tangga dengan anggun, diiringi oleh Baekhyun dan Kyungsoo. Sehun sudah menunggunya di ujung tangga. Langkah demi langkah Luhan diiringinya dengan do'a yang terus ia panjatkan agar langkah ini penuh berkah dari Tuhan, agar seluruh rencananya kedepan bersama Sehun akan diperlancar dan dipermudah, agar kekuatan cinta mereka semakin kuat dan tidak terpisahkan.
Di anak tangga terakhir, Luhan menghentikan langkahnya. Sehun membungkukkan tubuh tinggi dan tegapnya memberi hormat pada sang putri semalam. Oh, hati Oh Sehun benar-benar bergetar melihat calon pendamping hidupnya begitu cantik dan mempesona. Ia pun mendengar para keluarga dan kerabat dekat yang hadir sebagai tamu berdecak mengagumi kecantikan Luhan.
Sehun mengulurkan tangannya, menengadahkan sebelah telapak tangannya menawarkan sebuah gandengan pada Luhan. Luhan menyambut uluran tangan Sehun dan sejurus kemudian melingkarkan lengannya pada lengan Sehun. Tak bisa digambarkan bagaimana bergejolak rasa haru bercampur bahagia dalam diri Luhan. Senyum di wajahnya terus terukir, menambahkan kesan cantiknya yang begitu alami.
Kini Sehun dan Luhan berdiri saling berhadapan di depan para tamu, "maukah kau mendampingiku di akhir sisa usiaku, Xiao Luhan? Jadilah bagian dari hidupku, menikahlah denganku." suara Sehun memecah keheningan.
"dengan senang hati, Oh Sehun." Jawab Luhan singkat namun penuh makna yang kemudian di sambut dengan tepuk tangan dan sorak sorai dari para tamu.
Keduanya kemudian bertukar cincin sebagai tanda pengikat bahwa mereka saling memiliki satu sama lain. Sehun mengecup dahi Luhan lembut, "aku mencintaimu dari ujung kaki hingga ujung kepala, dari dalam hingga luar, tak terbatas." Bisik Sehun di telinga Luhan yang membuat pipinya semakin merona merah muda.
Satu langkah maju yang Luhan dan Sehun, merupakan keputusan luar biasa untuk masa depan mereka.
.
.
Perut Baekhyun sudah mulai terlihat buncit, morning sickness nya pun sudah menghilang. Ia sudah kembali bisa tidur bersama suaminya tercinta. Ya, trimester kedua ini Baekhyun sudah kembali menjadi Baekhyun yang sebelumnya. Ia kembali cerewet dan manja pada suaminya.
"aku akan ke rumah Kyungsoo hari ini. boleh, 'kan?" izin Baekhyun pada Chanyeol yang sedang menikmati sarapannya.
"apa tidak apa-apa?"
"oh ayolah. Aku hanya pergi ke rumah Kyungsoo. Aku bosan terus berada di rumah."
"dengan siapa?"
"sebenarnya Luhan menawarkan diri untuk menjemputku. Tapi semalam Minseok eonnie menawarkanku tumpangan. Katanya ia akan mengunjungi Kyungsoo dan mengajakku pergi bersamanya. Kebetulan aku juga berencana kesana."
"ada apa ramai-ramai mengunjungi Kyungsoo?"
"Kyungsoo hamil."
"oh benarkah?"
"uhm. Kemarin siang dia meneleponku memberi kabar. Suaranya terdengar begitu bahagia. Aku boleh pergi ya?"
"tentu saja dia bahagia. Memangnya kau tak bahagia? Pergilah, hati-hati. Sampaikan salamku pada Minseok noona dan yang lain."
"siap Tuan!"
Setelah Chanyeol berangkat ke kantor pagi ini, Baekhyun segera bersiap-siap. Ia berencana menunggu Jung ahjumma datang, baru kemudian pergi meninggalkan rumah.
Baekhyun sudah cantik pagi ini, dengan dress bunga-bunga dominan biru, dilengkapi dengan cardigan putih jatuh membalut tubuhnya. Rambut panjangnya diikat ekor kuda, agar tidak mengganggu geraknya.
'Ring Ding Dong... Ring Ding Dong...'
Sepertinya Jung ahjumma sudah datang, Baekhyun segera membukakan pintu. Pagi ini Jung ahjumma tidak datang sendirian, Tao dan Kevin datang bersamanya.
"Jiejie?"
"kau cantik sekali pagi ini? apa kau berencana keluar rumah?"
"sebenarnya iya. Aku berencana pergi mengunjungi Kyungsoo."
"ah temanmu itu?"
"iya. Oh, bagaimana jika jiejie ikut saja dengan kami? Aku akan pergi dengan Minseok eonnie. Kau akan punya kesempatan mengenal keluarga Kim. Bukankah itu baik?"
"keluarga Kim? Keluarga rekan kerja Kris? Kau mengenal mereka semua?"
"sepertinya aku akan mengenal mereka semua hari ini. kudengar Kyungsoo tinggal di rumah orang tua Jongin, rumah besar keluarga Kim. Kudengar rekan kerja Kris oppa dan keluarganya tinggal di rumah yang sama selama di Korea."
"kedengarannya bagus."
.
Setelah memperkenalkan Tao dan Minseok, keduanya serta Baekhyun dan anak-anak mereka segera melaju ke rumah besar keluarga Kim, tempat Kyungsoo dan Jongin tinggal.
"eonnie, putramu sangat menggemaskan. Kau beruntung bisa menyetir sendiri dan diberi izin oleh suamimu." Tao membuka pembicaraan.
"itu karena suamiku sering keluar kota. Awalnya ia sangat menentang aku membawa kendaraan sendiri. Tapi jika ia keluar kota, tidak ada yang mengantar jemput Sohyun yang sudah mulai sekolah. Terkadang supir telat menjemputnya. Lagipula begini akan lebih praktis, sepulang aku mengantarnya ke sekolah, aku bisa mampir ke pasar tradisional untuk membeli bahan makanan. Wajar jika suami kalian melarang kalian berkendara. Mereka akan lebih berpikir ketika anak-anak mulai bersekolah. Kevin sedang belajar apa sekarang?"
"Kevin sedang belajar berjalan. Dia mulai melangkahkan kakinya saat berhasil berdiri."
"wah, Kevin belajar dengan cepat."
"begitulah."
"ah, ku rasa anakku bisa sepintar kakak-kakak nya nanti." Ujar Baekhyun sambil mengelus lembut perut nya.
Ketiga ibu ini bisa segera menjadi akrab. Ah, ketika menjadi atau akan menjadi ibu, akan ada banyak hal yang dibicarakan dengan ibu lainnya.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit, mereka sampai di kediaman keluarga Kim. Seorang wanita dengan perut yang sudah sangat besar tersenyum manis memperlihatkan lesung pipi nya muncul dari balik pintu, "oh eonnie..." ujarnya kemudian memeluk erat Minseok.
"kau sehat? Bayimu sehat? Aku datang bersama menantu dari keluarga Park." Ujar Minseok sambil mengelus perut besar wanita itu.
"aku sehat, bayiku juga sehat." Jawabnya "keluarga Park siapa?" ia mengecilkan suaranya.
"Park Yi Fan, rekan kerja suamimu."
Setelah sekitar beberapa detik disapa keheningan, sepertinya wanita itu sudah memahami dan mengingat siapa yang kakak iparnya maksud. "ah, istri Park Yi Fan?" ujarnya menatap Baekhyun.
"oh, bukan. Aku istri Park Chanyeol. dia kakak iparku, dia istri Park Yi Fan dan anaknya, Kevin." Baekhyun memperkenalkan Tao.
"oh salam kenal. Maaf aku belum pernah bertemu jadi aku sedikit lupa jika hanya mendengar cerita suamiku. Aku Yixing, istri Kim Junmyeon." Wanita itu membungkuk dan tersenyum manis saat memperkenalkan dirinya.
"salam kenal" Tao membungkukkan tubuhnya. "ku dengar kau dari China? Aku juga."
"oh benarkah? Senang bertemu denganmu." Ah, senyum manis Yixing benar-benar tidak pernah pudar dari wajahnya. "mari silahkan masuk."
"mama!" seorang anak lelaki datang memeluk kaki Yixing.
"jangan nakal, Joonie. Ada tamu." Yixing menarik lengan putranya, "dia putra pertamaku, Kim Joon."
"wah aku baru sadar anak lelaki semua disini. Hanya aku yang punya anak perempuan. Ku harap salah satu dari bayi Kyungsoo, Yixing atau Baekhyun adalah bayi perempuan. Atau ketiganya mungkin? Jadi Sohyunku bisa punya adik perempuan." Ujar Minseok.
"dokter bilang bayiku perempuan." Ujar Yixing. "karena anak pertama kami laki-laki, jadi aku sangat menginginkan bayi perempuan di kehamilan keduaku. Jadi aku ingin segera tau jenis kelaminnya. Kami menanyakannya pada dokter, dokter bilang bayi kami perempuan." Lanjutnya. Yixing adalah istri Kim Junmyeon, ia sedang hamil kedua yang sedang menghitung hari untuk menyambut kelahiran putra keduanya.
"ah begitu? Keluargamu akan semakin lengkap. Aku jadi ingin punya bayi lagi. Tapi Kevin saja belum bisa bicara. Aku tidak tega jika membiarkannya punya adik di usia yang masih sangat kecil."
"oh ya, apa kalian kemari untuk menemui Kyungsoo? Sepertinya dia sudah selesai mandi. Akan ku panggilkan."
Kyungsoo menuju ruang tamu, tamunya sudah menunggu untuk melihat keadaan Kyungsoo. Bertepatan dengan itu, terdengar suara seseorang dari ambang pintu.
"permisi... ah, aku menemukannya! Maafkan aku terlambat, aku belum pernah kemari sebelumnya jadi aku sempat tersesat."
Luhan datang sendirian.
"masuklah. kau tidak bersama Sehun?"
"Sehun sedang tugas di UGD sekarang. Karena itu aku tidak bisa mengganggunya. Wah sepertinya hanya aku yang belum menikah disini. Seharusnya aku melangsungkan pernikahan saja kemarin. Ah... aku mulai merasakan menyedihkannya belum menikah di usia setua ini." ujarnya random. "bagaimana kandunganmu, Soo?"
"baik. Aku sudah memeriksakannya kemarin. Dokter bilang aku sudah mengandung 2 minggu."
"kau tidak mengalami morning sick?" tanya Baekhyun.
"tentu, tapi frekuensinya tidak sering. Juga tidak separah kau. Ku rasa aku baik-baik saja."
Perbincangan ini terus berlanjut hingga matahari tepat di atas kepala. Semoga ibu-ibu ini tidak lupa bahwa suami mereka nanti akan pulang dan berharap mereka sudah menyiapkan makan malam di rumah.
.
Malam hari di kediaman Jongin dan Kyungsoo, yang saat ini juga di tempati oleh kakak nya, Kim Junmyeon beserta istri dan anak pertamanya, Zhang Yixing dan Kim Joon sangat tenang. Namun, sepasang suami istri di salah satu kamar di rumah itu belum terlelap.
Yixing terus tidak nyaman dengan posisi tidurnya. Sesekali ia memegang perutnya yang sudah sangat besar. Junmyeon tau istrinya belum terlelap, hanya saja ia pura-pura tidur dengan memejamkan matanya sambil terus menyimak desisan yang keluar dari bibir istrinya. Yixing terus meringis sejak jam 6 malam tadi setelah makan malam.
"Yeobo..." sepertinya ibu hamil ini sudah menyerah dengan frekuensi kontraksi yang semakin sering ia rasakan di perutnya. "yeobo bangunlah..."
Junmyeon membuka matanya, "wae?" ia segera mendudukkan dirinya di atas ranjang.
"sepertinya aku akan melahirkan sekarang. Bisakah kau menyiapkan kendaraan dan perlengkapan bayi kita? Segeralah bawa aku ke rumah sakit." Ujarnya sambil terus menahan sakit.
Junmyeon segera bangkit dari duduknya menuju kamar Jongin. Ia mengetuk pintu kamar adiknya. Muncul kepala Jongin dari balik pintu dengan rambut yang acak-acakan khas orang baru bangun tidur.
"istriku akan melahirkan. Bisakah kau menyetir untuk kami? Aku akan menjaganya di bangku penumpang. Ku rasa aku tidak bisa menyetir dengan baik dengan keadaan istriku seperti ini."
Junmyeon memang sedikit kapok dengan menyetir saat istrinya hendak melahirkan. Saat itu ia menyetir sendiri, pikirannya terpecah antara khawatir dan fokus pada jalanan di hadapannya. Ia bahkan nyaris mengabaikan lampu merah yang menyala.
"baiklah aku cuci muka dan mengganti bajuku dulu, Hyung."
"ada apa?" Kyungsoo ikut terbangun mendengar suara ketukan di pintu kamarnya.
"Yixing Jie akan melahirkan. Aku akan mengantar mereka ke rumah sakit. Kau tidak apa di rumah sendirian? Bisa kau jaga Joon?"
"tentu. Hati-hatilah. Meski ini sudah malam dan jalanan sudah cukup lenagng, tetaplah tenang dan hati-hati. Aku akan menyiapkan bajumu. Cuci mukamu."
Sedang Junmyeon yang sudah kembali ke kamarnya mengemas beberapa pakaian Yixing dan membawa tas bayi yang sudah mereka kemas beberapa hari yang lalu menuju mobil. Ia kembali ke kamar dan membantu Yixing mengenakan mantelnya, kemudian menggendong istrinya itu ke mobil.
Jongin sudah siap di belakang kemudi. "sudah semua, Hyung? Tidak ada yang tertinggal?"
"tidak ada."
Jongin melajukan mobilnya melalui jalanan paling dekat menuju rumah sakit. Ia mendengar bagaimana kakak iparnya merintih kesakitan karena kontraksi yang semakin sering.
Saat sampai di rumah sakit, Junmyeon segera menggendong istrinya dan memindahkannya ke kursi roda. Jongin membantu kakaknya membawa barang-barang yang mereka bawa untuk perlengkapan Yixing dan bayinya selama di rumah sakit.
Jongin bisa merasakan bagaimana tegangnya suasana di rumah sakit menanti kelahiran malaikat titipan Tuhan. Ia terus mondar mandir di depan ruang bersalin sedang Junmyeon menemani istrinya melahirkan didalam sana.
Ponselnya berbunyi, Soo memanggil...
"hallo..."
"Jongin-ah... Joon terbangun dan menangis mencari mamanya."
"buatkan saja susu dan suruh tidur kembali. Jangan menggendongnya."
"sudah. Ia tidak mau meminumnya dan terus menangis."
"Joonie-ah, bicara pada Jongin Samchoon, ne?" terdengar suara Kyungsoo berbicara pada bocah didekatnya yang sedang menangis.
"bicaralah padanya. Aku menggunakan Loudspeaker."
"Joonie-ah, mama sedang menjemput adik di rumah sakit. Nanti akan samchoon jemput kau dan Gomo untuk datang ke rumah sakit. Sekarang tidurlah dulu bersama Gomo. Jika kau tak tenang, uncle tidak akan menjemputmu."
Tangisan bocah itu semakin kencang, "Joonie mau mama..."
"karena itu berhentilah menangis, sayang. Samchoon akan datang. Berhentilah menangis. Arasseo?"
Bocah itu menghentikan tangisannya, "benarkah samchoon akan menjemput Joon?"
"tentu. Asal kau tenang dan berhenti menangis. Minum susumu dan tunggu bersama Gomo. Okay?"
"hmm" ujarnya sambil mengangguk yang tentu tidak bisa dilihat oleh Jongin.
Kyungsoo mengambil alih pembicaraan, "kabari aku jika bayinya sudah lahir. Joon sudah naik ke kasur. Ia tidur di kamar kita malam ini denganku."
"hmm... hati-hati. Jangan sampai Joon menendang adiknya."
"ya. Kau juga hati-hati. Pulanglah jika bayinya sudah lahir agar kau bisa istirahat di rumah."
Sambungan telepon terputus, Jongin menanti dengan harap-harap cemas. Ini sudah setengah jam berlalu setelah Yixing masuk ruang bersalin. Bahkan satu jam sebelum masuk ruang bersalin, Jongin masih melihat kakak iparnya itu diminta mondar mandir di dekat ranjang rumah sakit oleh perawat.
Jongin melirik jam tangannya, jarum jam sudah menunjukkan pukul 2 tengah malam. Jongin mulai lelah menanti. Mengingat ia hanya sendirian di lorong itu. Ia terus menguap dan mengusap kasar wajahnya menghilangkan rasa kantuk.
Seketika rasa kantuknya lenyap mendengar suara tangisan bayi dari ruang bersalin. Jongin menghela napasnya panjang, "sudah lahir. Begini kah bahagia nya mendengar suara tangisan pertama kali seorang bayi?" ia mengelus dadanya. Dada Jongin bergemuruh. Bahagia. Bahkan ini bukan anaknya. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana bahagianya ia mendengar suara tangis pertama bayinya nanti.
Junmyeon keluar dari ruang bersalin, "kau ingin melihat keponakanmu?"
"ya, Hyung."
"dia dibawa menuju ruang bayi. Ikutlah denganku." Jongin mengiringi langkah kakaknya. Ia melihat ketenangan di wajah kakaknya. Jongin bangga pada kakaknya. Ia telah menjadi ayah dan suami yang baik untuk keluarganya. Wajahnya begitu tenang namun tidak menyembunyikan gurat kebahagiaan atas kelahiran anak keduanya.
"dia yang nomor 1 baris pertama. Dengan kain pink motif rillakuma."
"bayimu perempuan?"
"hmm... prediksi dokter benar. Bayinya perempuan. Ia lahir tanpa cela dengan berat 3.2 kg dan panjang 48 cm. Sehat, bukan?"
"aku ikut senang, Hyung. Bagaimana keadaan kakak ipar?"
"ia juga sehat. Setelah dibersihkan ia dipindahkan ke ruang perawatan. Kau bisa pulang. Datanglah kembali besok bersama istrimu, dan aku titip Joon untuk malam ini. aku akan menemani istriku disini."
"ne, Hyung. Aku pulang dulu. Sampaikan salamku pada kakak ipar."
"akan ku sampaikan nanti. Kurasa ia sudah tidur. Sampaikan juga permohonan maafku pada Kyungsoo. Aku merasa bersalah telah mengganggu kalian malam-malam begini, ditambah menitipkan Joon pada kalian."
"hei kau seperti dengan siapa saja. Istirahatlah, Hyung. Bye"
Jongin meninggalkan kakaknya di rumah sakit dan mengendarai mobilnya pulang. Ia berusaha tidak terserang kantuk selama berkendara. Ia juga tidak menelepon Kyungsoo. Segera saja sampai di rumah, pikirnya.
Sesampainya di rumah, ia melihat istrinya sudah tertidur sambil memeluk keponakan kecilnya. Bibirnya melengkung keatas melihat betapa damai kedua orang ini tidur.
Kyungsoo membuka matanya, "oh kau sudah pulang? Bagaimana keadaan kakak ipar dan bayinya?"
"semuanya sehat. Bayinya perempuan."
"bersabarlah hingga harimu menjadi ayah datang. Kau akan sebahagia mereka. Segera ganti pakaianmu, cuci tangan dan kakimu dan naik tidur. Jangan berisik agar tidak membangunkan Joon."
Jongin menurut pada perintah istrinya. Ia selalu melakukan segala hal baik yang istrinya perintahkan. Ia yakin tidak ada hal jelek yang istrinya ingin ia lakukan. Ia naik ke atas ranjang dengan posisinya berada di tepi. Membiarkan Joon tidur di dekat tembok agar tidak jatuh dan Kyungsoo di antara mereka.
.
Pagi hari di rumah Kyungsoo dan Jongin mulai di warnai dengan suara Kyungsoo dari kamar mandi yang mengalami morning sickness. Kehamilan Kyungsoo di bulan ini sama sekali tidak merepotkan. Sejauh ini ia tidak mengalami masa ngidam, ia tetap bisa beraktivitas seperti biasanya, ia juga tidak manja. Sangat berbeda dengan kehamilan yang dialami Baekhyun. Ia hanya mengalami morning sickness yang itupun tidak parah. Sewajarnya.
Jongin bersyukur kehamilan Kyungsoo tidak merepotkan. Mengingat ia pun sibuk di kantor dengan proyek barunya. Jongin baru saja bergabung di perusahaan sekitar 3 tahun. Jadi masih banyak hal yang perlu ia pelajari mengenai perusahaan. Tak jarang ia masih menatap laptopnya saat malam menjelang tidur. Ia sangat bersyukur Kyungsoo dan calon bayinya bisa sangat memahaminya.
Jongin membantu Kyungsoo memijit tengkuknya. Kemudian merangkul tubuh Kyungsoo yang mulai semakin berisi keluar dari kamar mandi menuju kamar dan duduk di tepian ranjang.
"Kim Jongin..." suara Kyungsoo lembut memanggil suaminya.
"hmm..?"
"terimakasih sudah mencintaiku."
Kyungsoo tipe istri yang sangat tenang. Karena itu Jongin juga menjadi suami yang sangat tenang. Mereka menanti kehadiran garis dua di testpack lebih lama dibandingkan dengan Baekhyun. Tapi Kyungsoo tetap tenang dan tidak pernah mengeluh.
Kalender yang menggantung di dinding sudah penuh dengan coretan spidol merah milik Kyungsoo. Ia selalu mencatat kapan terakhir dirinya datang bulan. bukankah tidak aneh seorang istri menanti dirinya memberikan keturunan untuk suaminya? Setelah di nanti begitu lama, akhirnya titipan Tuhan itu datang. Kebahagiaan Kyungsoo tidak bisa ia jelaskan, tapi ekspressinya tidak bisa berbohong. Ia lebih banyak tersenyum dan bersenandung setelah mendapatkan 2 garis merah di testpack nya.
"jika orang tuaku masih hidup, mereka akan sangat bahagia memiliki menantu baik dan cantik sepertimu. Ia akan sangat menyayangimu."
"kupikir mereka selalu mengawasi kita dari surga. Mereka menjaga bayi kita dari kejauhan. Meski mereka tidak disini, mereka mencintai kau, aku dan anak kita dengan cinta yang sangat besar. Aku juga yakin, mereka juga bahagia melihat kita bahagia dari surga."
"aku bersyukur memilikimu, Do Kyungsoo. Aku harap kau dan si kecil di dalam sini terus sehat sampai hari kelahirannya." Jongin mengelus perut Kyungsoo. "aku akan menjaga kalian sebaik mungkin. Aku tidak bisa semanis pria-pria calon ayah diluar sana, tapi aku ingin kalian tau, aku sangat mencintai kalian." Jongin mengecup manis pucuk kepala Kyungsoo.
"aku juga sangat mencintaimu."
"gom " Suara serak seorang anak lelaki itu menyadarkan Jongin dan Kyungsoo bahwa tidak hanya mereka yang ada di kamar itu saat ini. "Joon mau mama." Bibirnya melengkung kebawah, bersiap meledakkan tangisannya.
"ayo kita jenguk mama dan adik. Joon mandi dulu ya."
"shirreo... Joon mau mandi sama mama..." rengeknya yang kemudian disusul dengan tangisnya yang pecah.
Kyungsoo mendekatkan tubuhnya pada tubuh keponakannya yang masik duduk di tengah ranjang, "kalau Joon tidak mandi, Joon tidak boleh menjenguk mama dan adik. Dokter akan melarang Joon menemui mama jika Joon tidak mandi."
"benarkah?" tanyanya masih dengan air mata yang berlinang di pipi gembulnya.
"hmm.. karena itu, Joon mandi, ne?" Kyungsoo menghapus air mata Joon.
"ne." ujarnya sambil mengangguk.
"sini biar samchoon mandikan. Biar saat mama mencium Joon, Joon sudah wangi." Jongin menggendong keponakannya menuju kamar mandi. Ah, sepertinya Jongin sudah siap menjadi ayah.
.
.
.
Siang hari di hari minggu ini Luhan masih tetap cantik di bawah sinar matahari. Rambut panjang cokelat bergelombangnya diikat ekor kuda menambah kecantikan Luhan. Sebuah tangan besar menghalangi sinar matahari menghalangi sinar matahari agar tidak menyentuh wajah tanpa cela milik Luhan.
"kau lelah?"
"tidak. Kurasa kita akan menemukan bahan yang tepat di toko itu. Kau lelah?"
"tidak. Aku tidak pernah lelah untuk berada di sampingmu."
Luhan mencubit kecil perut Sehun. "gombal!" ujarnya.
Luhan dan Sehun sedang berburu bahan untuk gaun pengantin mereka. Luhan mendesainnya dengan tangannya sendiri. Luhan ingin turun tangan sendiri untuk segala sesuatu yang diperlukan untuk pernikahannya. Karena itu sekarang mereka menjelajah kota Seoul mencari bahan yang tepat yang Luhan inginkan untuk gaun pernikahannya. Sebelumnya mereka juga telah melihat gedung yang akan mereka sewa untuk pernikahan mereka. Ini salah satu alasan Luhan dan Sehun memilih tahun depan sebagai tahun pernikahan mereka. Agar sesuatunya bisa mereka kontrol dengan baik dan terencana dengan matang.
Setelah berputar-putar kota Seoul kurang lebih dua jam, akhirnya Luhan menemukan bahan yang tepat. Kemudian mereka duduk di salah satu cafe di dekat toko tersebut.
"kau tumbuh dewasa. Kau bahkan sudah bisa melamarku, Sehunie." Luhan mengelus pundak Sehun.
"apa aku sekecil itu dulu?"
"ah, sudah sekitar 6 tahun. Kau banyak berubah. Sehun yang banyak merajuk, malah sekarang membuatku merajuk padanya. Sehun yang selalu rewel menanyakan aku ada dimana, sekarang sibuk dengan stetoskopnya untuk memperhatikan orang lain. Dulu Sehun hanya menanyakan kabar padaku, tapi sekarang ia juga menanyakan kabar orang lain. Aku bangga padamu. Banyak hal yang kau raih sampai saat ini. dan aku bangga pada diriku sendiri, aku bisa ada di sampingmu melihatmu berkembang dengan baik."
"aku banyak belajar darimu, Lu. Kau mengajarkanku banyak hal. Bersabar dan tidak egois. Aku belajar darimu. Setiap kali aku gagal, kau ada di sampingku untuk sekedar menyemangati. Tapi hal itu benar-benar membuatku lebih baik."
"hmm aku ingat Sehun 6 tahun yang lalu. Anak itu benar-benar berusaha mendapatkan hatiku."
"aku juga ingat, bagaimana gadis bernama Luhan itu benar-benar mengacuhkanku. Bahkan ia meninggalkanku saat aku sedang bicara. Ia me-reject semua panggilan teleponku. Ia mengganti nomor ponselnya agar aku berhenti menghubunginya."
"apa aku sejahat itu?"
"gadis itu bahkan membuang bunga pemberianku di hari Valentine tepat di hadapanku. Ku pikir ia mengambil cokelat pemberianku karena ia suka, tapi ia malah memberikan cokelat itu pada anak penjaga kantin."
"mengapa kau tidak menyerah saja waktu itu? Lagipula banyak gadis yang mengejarmu."
"sebenarnya aku bukan tipe pria yang akan berjuang untuk hal-hal seperti itu. Aku selalu mendapatkan apa yang aku inginkan. Tapi saat melihat bungaku hanya berakhir di tempat sampah, ku rasa kau gadis berbeda, dan hatiku menginginkanmu. Ku rasa itulah yang membuatku kemudian jatuh cinta pada Xiao Luhan."
"berhenti menggombal!" Luhan memukul pelan lengan Sehun.
"aku tidak menggombal. Aku benar-benar jatuh cinta padamu." Sehun menangkap Luhan kedalam pelukannya.
"aku tidak pernah bermimpi mendapatkan pria seperti di negeri dongeng. Jujur saja, kau bukanlah tipeku. Aku tidak menyukai pria yang lebih muda, aku tidak menyukai pria sombong, aku tidak menyukai pria sok tampan, karena itu aku selalu mengacuhkanmu." Luhan menyeruput ice mocchachino nya. "tapi hari itu aku melihatmu menolong seorang anak yang terjatuh dari sepedanya saat aku dalam perjalanan pulang. Aku juga beberapa kali melihatmu membantu nenek kakek yang akan menyebrang. Ku pikir, sesungguhnya kau memang pria yang baik. Ku rasa saat itu aku mulai menyukaimu. Melihatmu begitu akrab dengan kedua sahabatku, membuat Kyungsoo yang sangat pendiam ikut tertawa, aku semakin tidak ingin kehilanganmu." Luhan melingkarkan lengannya di perut Sehun.
"aku tidak tau kau melihatnya. Aku bersyukur Tuhan memperlihatkannya padamu, jadi aku bisa memiliki salah satu malaikatnya."
"hei, darimana kau belajar menggombal? Eoh? Katakan padaku!" Luhan mencubit kecil perut Sehun.
"aw! Kau ini hobby sekali mencubit perutku!"
"ada cinta untukmu di setiap cubitanku!" ujar Luhan sambil mengedipkan sebelah matanya, membuat Sehun tersenyum gemas pada tunangannya ini.
"ku pikir aku akan menghabiskan waktuku dengan menjadi perawan tua." Luhan kembali melingkarkan lengannya di perut Sehun.
"tidak taukah kau bahwa aku lebih khawatir dibandingkan denganmu? Aku merasa seperti di sambar petir ketika kau bilang tidak ingin menikah saat aku melamarmu beberapa bulan yang lalu."
"sesungguhnya aku hanya khawatir."
"apa yang kau khawatirkan?"
"aku tidak ingin menjadi tua. Aku takut tidak lagi bisa mengurus butikku jika aku menikah dan memiliki anak. Aku takut tak bisa lagi berkumpul dan menghabiskan waktu dengan para sahabatku. Aku juga takut, cintamu akan luntur karena bosan padaku." Luhan meletakkan kepalanya di dada bidang Sehun, "tapi kenyataannya, menikah ataupun tidak, aku akan tetap menjadi tua. Aku mulai berpikir aku butuh seseorang tempatku berbagi mengenai butik. Kedua sahabatku menikah lebih dulu, dan aku mulai merasa kesepian sedang mereka bahagia bisa berbagi dengan pria pilihan mereka. Dan ku rasa aku lebih khawatir kau menikah dengan wanita lain."
"satu hal yang perlu kau tau, saat itu aku bertekad, meski kau terus menolakku, aku akan terus berusaha memintamu. Bukankah karangpun akan terkikis oleh air sedikit demi sedikit? dan lihat, sekarang aku akan menikah denganmu."
"kau bahagia?"
"haruskah aku berteriak untuk memperlihatkan padamu betapa aku bahagia? Setelah berkali-kali memintamu untuk menikah denganku, dan berkali-kali mendapat penolakan, akhirnya kau menerimaku. Aku pikir aku bermimpi, aku tidak bisa tidur di malam pertunangan kita. Aku takut jika aku tidur, semuanya akan menjadi mimpi. Aku benar-benar tidak ingin kehilanganmu."
"kau benar-benar sudah dewasa. Aku mencintaimu, Oh Sehun." Luhan mempererat pelukannya pada Sehun.
"aku juga sangat mencintaimu, Lu." Sehun mendaratkan kecupannya di pucuk kepala Luhan.
.
.
.
Incheon International Airport
"Hyung, kita belum menghabiskan waktu bersama, dan kau sudah akan kembali ke China. Kau terlalu sibuk bekerja."
"aku akan datang lagi saat libur panjang. Jangan merengek." Kris menggoda adiknya.
"anakku, datanglah kembali bulan depan dan menetaplah lebih lama. Eomma akan sangat merindukan kau dan keluargamu." Sungmin membelai wajah anaknya.
"kami akan kembali jika ada kesempatan bulan depan, eomonim. Kevin sangat menyukai keluarganya di Korea. sepertinya ia tahu ia akan meninggalkan Korea. semalam ia tidak bisa tidur dan terus gelisah sepanjang malam." Ujar Tao.
"aigoo cucu tampan halmeoni. Sehat-sehat lahdan tumbuh dengan baik." Sungmin mengecup kening cucunya yang tertidur dalam gendongan ibunya.
Hari ini Tao dan Kris beserta anak mereka harus kembali ke China, karena urusan Kris di China sudah selesai. Sesungguhnya ia ingin berada lebih lama di negara tempatnya dibesarkan ini. tapi banyak kerjaannya yang lain sudah menunggu di China. Ia bahkan belum sempat mengajak keluarganya berjalan-jalan menikmati Korea.
"segeralah check in. Pesawatmu berangkat 30 menit lagi."
"ne, appa."
"baik-baiklah disana. Tetap jadi pemimpin yang hebat." Kyuhyun menepuk pundak tegap anaknya.
"ne, appa. aku akan selalu melakukan yang terbaik untukmu." Kris memeluk ayahnya.
"jadilah suami dan boss yang baik, brother!" Kris memeluk adiknya.
"kami pergi dulu. Sampai jumpa." Kris dan Tao membungkukkan tubuhnya dan masuk ke waiting room.
Chanyeol akan merindukan kakak satu-satunya itu.
.
Baekhyun mengangkat bajunya hingga sebatas dada, kemudian berputar putar memperhatikan bayangan dirinya di depan cermin besar di kamarnya. Chanyeol memeluknya dari belakang.
"aku gendut."
"kau tidak gendut. Bayinya yang gendut."
"ish kalo bayinya gendut berarti aku juga gendut, 'kan?"
"lalu bagaimana? Kau ingin hanya perutmu yang membesar?"
"apa kau masih mencintaiku?"
"kau bercanda? Cintaku malah bertambah 10 kali lipat. Untuk si kecil dan ibunya."
"kau lebih mencintai bayinya?"
"aku mencintai keduanya."
"ssshhh" Chanyeol menempatkan telunjuknya didepan bibir Baekhyun sesaat sebelum ia mengucapkan kalimat-kalimat aneh lainnya. "aku tetap mencintaimu bagaimanapun keadaanmu. Aku mencintaimu sepenuh hatiku. Lagipula, meski kau semakin gendut, kau semakin cantik."
"benarkah?"
"hmm..." Chanyeol mengangguk.
"Yeollie..."
"hmm?" Chanyeol masih mendekap tubuh Baekhyun dari belakang dan menopang dagunya dengan pundak Baekhyun.
"aku menginginkanmu."
"apa?!"
"aku menginginkanmu, Yeol."
"menginginkan?"
"sudah lama kita tidak melakukannya." Baekhyun membalikkan tubuhnya menghadap Chanyeol, melingkarkan lengannya di leher Chanyeol.
"aku khawatir."
"kita sudah menanyakannya pada dokter, 'kan? Dokter bilang tidak masalah asalkan hati hati dan dengan posisi yang tepat."
"aku khawatir akan lepas kendali."
"biar aku yang menuntunmu."
"tunggu. Bukannya kau tidak ingin melakukannya sampai kau melahirkan?"
"aku tiba-tiba menginginkannya." Baekhyun memandang Chanyeol dengan puppy eyes nya. Kemudian perlahan-lahan di dorongnya Chanyeol ke atas kasur.
"baiklah mari lakukan. Tapi biar aku yang mengendalikan diriku dan permainan ini." Chanyeol mengangkat baju yang menutupi tubuh Baekhyun sebatas dada, mengelus perut Baekhyun yang membuncit, "baby, maafkan apa, ne? eomma menggoda appa padahal appa sudah menahan diri sejauh ini. tapi appa benar-benar tidak tahan melihat eommamu malam ini. tutup saja telinga dan matamu, agar kau tidak mendengar dan melihat kegiatan kami. Arasseo?!" Chanyeol mengecup perut Baekhyun lembut.
Chanyeol menaikkan baju Baekhyun lebih tinggi. "ku rasa ukurannya membesar?" ia memperhatikan payudara Baekhyun yang memang semakin besar meningat ia sedang mengandung.
"tentu saja! Aku sedang mengandung sekarang." Ujar Baekhyun.
"haruskah kita membeli bra baru?"
"sepertinya iya. Rasanya mulai sesak."
"baiklah. Besok kita akan belanja untuk ibu hamil ini. agar kau tak sesak, biar ku buka saja." Chanyeol membuka kait bra di punggung Baekhyun, melucuti pakaiannya beserta bra yang menggantung di pundaknya. Baekhyun sudah topless sekarang. Chanyeol melumat bibir Baekhyun lembut, ciumannya terus turun ke leher, bahu, dan dada Baekhyun.
"berlatihlah menyusui." Ujarnya sambil mengedipkan matanya ke arah Baekhyun. Kemudian mulai melumat nipple Baekhyun.
Baekhyun menekan kepala Chanyeol agar semakin dalam melumat nipple nya. Baik Chanyeol maupun Baekhyun merasa pergumulan kali ini terasa sedikit berbeda, entah karena tubuh Baekhyun yang mulai berubah atau memang karena sudah 3 bulan sejak mereka melakukannya terakhir kali.
Chanyeol melepaskan lumatannya, menatap mata Baekhyun yang sayu dengan tatapan penuh napsu. Ah, Chanyeol benar-benar membara sekarang. Akhirnya ia bisa menyentuh Baekhyun kembali setelah beberapa bulan kemarin tidur di lantai.
"omo sudah keras sekali." Baekhyun menggoda Chanyeol dengan meremas kejantanan suaminya itu dari luar celana pendek yang dikenakannya. "kau sebegitu merindukan kita di atas kasur, eoh? Mengapa kau menahannya?" Baekhyun mengeraskan remasannya pada kejantanan Chanyeol.
"eeeeuuungghh berhentilah menggodaku, Baekkie..." Chanyeol memejamkan matanya menikmati remasan Baekhyun. "jika kau benar-benar ingin melakukannya, segera lepaskan celanaku. Berhenti meremasnya dari luar celana."
Baekhyun segera menurunkan celana Chanyeol dengan mudah karena pinggang celana yang Chanyeol gunakan terbuat dari karet. Kejantanan Chanyeol yang sudah menegang itu segera mengacung ke arah Baekhyun "kau masih tetap tidak menggunakan celana dalam?"
"sudah kubilang begini lebih nyaman. Lagipula ini rumah kita. Hanya ada kita berdua. Tidak akan ada yang memperhatikan adik kecil ku."
"dasar mesum! Lihat bagaimana tegangnya adik mu ini."
"kau yang membangunkan- eeeuunngghhh..." Chanyeol belum menyelesaikan kalimatnya, Baekhyun segera mengurut kejantanan Chanyeol. chanyeol menikmati setiap centi dari adik kecil nya yang disentuh oleh jemari lembut milik Baekhyun. Matanya terpejam sedang bibirnya terus terbuka dengan napas yang tidak teratur.
Baekhyun menghentikan kegiatannya, Chanyeol membuka matanya dan mendapati Baekhyun telah membuka mulutnya siap mengulum kejantanan Chanyeol. "stop!" Baekhyun segera berhenti, "mari lompati bagian itu. Aku tidak tega melihatmu mengulum adik ku sekarang. Rasanya kejam menyetubuhi bibir manismu saat kau sedang hamil."
Chanyeol duduk di ranjang di sebelah Baekhyun, "berbaringlah menyamping. Aku akan melakukannya begitu." Sebelumnya mereka sudah menanyakan apakah berhubungan intim saat kehamilan berbahaya atau tidak, dan dokter menjelaskan bahwa posisi seperti ini adalah posisi yang aman untuk ibu hamil.
Baekhyun menurut dan merebahkan dirinya ke samping kiri sebelumnya Chanyeol membantunya melepas semua helai pakaian yang melekat di tubuhnya. Chanyeol membaringkan tubuhnya di belakang tubuh Baekhyun. Memegang kejantanannya yang sudah mengeras, kemudian mengarahkannya ke lubang Baekhyun.
"sudah sangat basah, eoh?"
"oh ayolah Yeollie cepat. Aku sudah tidak tahan."
"pastikan bayi kita menutup telinganya agar ia tidak mendengar kau berteriak kenikmatan." Bisik Chanyeol di telinga Baekhyun.
"segeralah masukkan!"
Chanyeol memasukkan kejantanannya perlahan ke lubang Baekhyun. "mmhh..." Baekhyun sepertinya menikmati setiap centi dari kejantanan Chanyeol yang masuk. Oh jangan lupakan Chanyeol yang sudah memejamkan matanya menikmati hangat lubang Baekhyun memeluk kejantanannya.
Chanyeol menanam kejantanannya di dalam tubuh Baekhyun, baru kemudian di mulainya kegiatan maju mundur yang diwarnai dengan suara desahan dari bibir mereka. Keringat mengucur dari pelipis Baekhyun maupun Chanyeol, menikmati pergumulan yang sudah cukup lama mereka tidak lakukan.
Chanyeol mempercapat gerakannya saat ia merasakan klimaksnya akan segera datang. Ia juga merasakan kejantanannya di jepit oleh Baekhyun. Sepertinya Baekhyun juga akan segera mendapatkan klimaksnya.
Kegiatan itu berakhir dengan Chanyeol yang menyemburkan cairan cinta nya hingga di semburan terakhir bersamaan dengan keluarnya cairan cinta milik Baekhyun.
"sepertinya yang orang-orang katakan benar. Bercinta dengan wanita hamil terasa lebih nikmat." Chanyeol mengecup dahi Baekhyun yang matanya sudah setengah menutup. "tidurlah. Sehat sehatlah kau, dan sehat-sehatlah baby didalam sana. Aku mencintai kalian." ujar Chanyeol menyelimuti tubuh polos Baekhyun.
.
.
END
.
.
Sejauh ini, ini chapter terpanjang yang pernah aku tulis. Bagaimana? Aku sudah berusaha memunculkan semua cast nya. Aku gak tau mau komentar apa, silahkan readersdeul saja yang menilai yah.
*reppview*
baekhyunina || aku berusaha gak buat si Chanyeol terlalu tersiksa. untung aja aku gak buat si Baekhyun ngidam lebih aneh lagi :") makasi sudah review...
clouds || FF ini chaptered kok, dear :)) silahkan membaca...
|| aku mencoba mencampur semua pairing di chapter ini. bagaimana?
younlaycious88 || thank you dear :* kasian si Chanyeol kalo harus ngehadapin ibu hamil yang lebih ekstrim lagi ngidamnya :") bisa-bisa KO ntar hohoho untuk anaknya, kita lihat nanti yah :D tapi untuk bocorannya, aku gak berniat untuk menggunakan nama Taehyung, Jesper, Chelsea ataupun Jackson. aku gak punya kontrak buat pake nama mereka *eh :D makasi sudah review :))
ChanbaekShipper || sudah di selipkan :") bagaimana? makasih ya review nya :)
guest || siapapun guest ini, aku yakin kamu baca dari chapter satu sampai terakhir. terimakasih untuk masukannya. aku sudah berusaha membuat masa ngidamnya biasa-biasa saja. dengan berusaha bertanya pada beberapa ibu hamil tentang apa yang terjadi saat mereka hamil. jadi aku menyelipkannya di FF ku. jadi meski chapter lalu lebay, masa ngidam dalam chapter lalu memang pernah terjadi di dunia nyata. terimakasih review nya yah :))
ruixi1 || sayangnya cuma ada satu nih cuma buat Baekhyun laki begini hehehehe :") makasih sudah membaca :))
Myllexotic || aku gak tau km juga baca kotak review apa ngga, tapi makasih :D hehehe review kamu bikin aku cooling down dan selalu berpikir positif. makasih :")
Dindacrln08 || sudah di tambahin :") makasih...
1004baekie || sudah di update yah :)
narsih556 || hehehe :D terus baca aja sampe terakhir ;) makasih ya sudah mampir...
amaliadevi18 || smg moment yang lain juga bisa melelehkan hati kamu yah :D hehe
kiway91SL || kumpul bareng yah. hmm next time mungkin. sekarang ibu-ibunya dulu yah :D
exindira || thank you dear :)
VAAirin || awas ntar di keplak Baekhyun :D hahaha wah rupanya km sadar yah kalo para pairing bakal keluar :"D kekekeke pokoknya mah jadi keluarga Park gitu yah xD makasih yaaa :)) gak gue tolak sini gue bales /ketjup basah/ xD xD
parkbaekyoda92 || kalo kata Baek sih yg kejam bukan dia, tapi baby nya heheheh :D makasi yah :))
anoncikiciw || makasih ya udah review :D ini udah di update hehe
kimna || Kim Jongin cuma milik Kyungsoo seorang :p
terimakasih untuk yang sudah mengingatkan ada kesalahan. ga sengaja Ctrl+V T_T kebanyakan mandangin V sih *eh
Sampai jumpa kalau ada yang review
*bbyeong*
