Cast:

Park Chanyeol (m/27)

Byun Baekhyun (f/25)

Byun Hangeng (m/53 – Baekhyun's Father)

Kim Heechul (f/48 – Baekhyun's Mother)

Park Kyuhyun (m/60 – Chanyeol's Father)

Lee Sungmin (f/55 – Chanyeol's Mother)

Oh Sehun (m/23)

Xiao Lu Han (f/25)

Kim Jongin/Kim Kai (m/23)

Do Kyungsoo (f/24)

Other EXO's member

Pairing:

Chanbaek; Hanchul; Kyumin; Hunhan; Kaisoo

*** Happy Reading ***


Saat ini kandungan Baekhyun sudah masuk bulan ketujuh. Perutnya sudah semakin membesar dengan tubuh yang semakin tambun. Bayangkan saja, berat badannya naik hingga 16 kg. Rasanya ia seperti ia saja tak sanggup membawa dirinya berjalan jauh. Janinnya begitu aktif bergerak, Baekhyun juga sering mengajaknya berbincang. Baik pagi saat baru bangun tidur, siang saat hendak istirahat, sore saat sedang berjalan santai di taman dekat apartemen, atau malam sebelum tidur. Baekhyun rajin pula mengajak janinnya berjalan-jalan santai di sore hari, kata dokter, baik untuk memperlancar persalinannya nanti. Heechul sering menemaninya di sore hari, atau Chanyeol akan ikut di hari Sabtu atau Minggu.

Rencananya hari ini Baekhyun akan mengunjungi dokter untuk melakukan USG pada kandungannya. Mengingat ini sudah bulan ketujuh, Baekhyun perlu tau bagaimana posisi janin dalam perutnya demi mengetahui cara paling aman untuk persalinan serta kelancaran persalinan nanti. Baekhyun juga perlu memantau berat janinnya bulan ini, dan menerima beberapa nasihat yang baik dari dokter yang menanganinya.

Setelah itu, ia berencana mengajak Chanyeol membeli perlengkapan bayi, baik untuk kamar bayinya, juga untuk pakaian-pakaian lucu yang akan digunakan oleh bayinya. Sebelumnya, beberapa minggu yang lalu Chanyeol baru saja menjebol sebuah ruangan yang ada di sebelah kamar utama dan diberikan pintu diantaranya. Rencananya, kamar itu akan jadi kamar bagi calon bayi mereka. Karena menurut Chanyeol, akan lebih baik jika anaknya punya kamar sendiri sejak kecil, jadi kamar bayi dan kamar utama hanya tersekat pintu.

"Jam berapa janji dengan dokter hari ini?" Chanyeol sudah ada di dapur, menyiapkan sarapan untuk istrinya tercinta. Makanan sudah tertata 80% di meja makan, Chanyeol hanya perlu menyiapkan susu untuk Baekhyun dan kopi untuknya, dan mereka siap untuk sarapan. Meski Chanyeol hanya chef rumahan yang memasak tanpa pakaian putih-putih, melainkan kaos putih dan celana pendek saja, tetap saja, masakannya adalah yang paling enak di lidah Baekhyun. Hmmm atau mungkin yang nomor dua, setelah Heechul, ibunya.

"Hmm... jam 11. Karena ini hari Sabtu, ku rasa praktek dokter hanya sampai jam 2 siang. Tapi aku sudah menelepon kemarin jadi kita bisa datang sebelum jam 11." Baekhyun berjalan menuju Chanyeol, mengecup pipi suaminya sebagai ucapan selamat pagi hari ini.

Chanyeol memperhatikan istrinya lekat dari ujung kepala hingga ujung kaki, "Berhentilah memakai bajuku. Bukankah kemarin eomma sudah membelikan banyak baju hamil yang bagus untukmu? Bajuku sudah lusuh begitu masih saja kau pakai. Seharusnya baju itu sudah berakhir jadi lap kompor."

Baekhyun memang suka sekali mengenakan baju Chanyeol akhir-akhir ini, dari baju yang paling bagus sampai baju yang paling jelek sudah keluar dari lemari Chanyeol. Baekhyun pernah mengenakan baju milik Chanyeol yang ia beli dengan harga selangit, kemudian menumpahkan saus di baju itu, yang pastinya meninggalkan noda dan bagusnya, noda itu tidak bisa hilang. Chanyeol ingin marah, tapi bagaimana mau marah jika Chanyeol melotot saja, air mata Baekhyun akan menganak sungai di pipinya. Beda dengan hari ini, entah darimana Baekhyun dapatkan kaos Chanyeol yang sudah lusuh, dengan warna yang sudah pudar, bahkan ada bolong di bagian perut dan bahunya. Chanyeol saja sudah lupa kapan ia membeli baju itu dan mengapa ia masih memilikinya. Baekhyun terlihat seperti istri yang tidak pernah dibelikan baju oleh suaminya.

"Memangnya kenapa? Untuk tidur saja kok. Kenapa harus pakai baju bagus jika hanya untuk tidur, tidak ada yang melihatku tidur kecuali kau. Lagipula ini nyaman, dingin dingin sejuk." Ujarnya cuek.

"Ya sudah terserah kau saja lah. Duduklah, mari sarapan." Chanyeol menarik kursi dan mempersilahkan Baekhyun duduk, kemudian ia duduk di sebrang meja, di hadapan Baekhyun.

"Kenapa tidak duduk disini saja?" Baekhyun menarik kursi yang ada di sebelahnya, menepuk-nepuk kursi mengalihkan pandangan Chanyeol. "Aku ingin duduk bersebelahan denganmu."

"Duduk berhadapan akan membuatku lebih leluasa memandang wajahmu."

"Tapi aku ingin duduk di sebelahmu hari ini..." suaranya dibuat imut oleh Baekhyun, tidak lupa mengerucutkan bibirnya merajuk dan mengerjap-ngerjapkan matanya.

"Baiklah-baiklah." Lihat, kapan Chanyeol tidak menuruti apa kata istrinya ini. untung saja yang diinginkan Baekhyun tidak pernah aneh-aneh. Dan, manjanya ini bahkan membuat Chanyeol tidak pernah bisa tidak menurutinya.

Chanyeol kemudian mendudukkan pantatnya di kursi di sebelah Baekhyun. Baekhyun menggeser kursinya mendekat pada kursi tempat Chanyeol duduk, "Kenapa?" Chanyeol tidak diam saja melihat tingkah istrinya yang memang sudah dari sananya aneh. "Aku ingin bersandar di pundakmu." Ujarnya manja. "Kita harus sarapan. Bagaimana kita sarapan jika kau bersandar di pundakku?" Chanyeol menghadapkan tubuhnya ke arah Baekhyun. "Kalau begitu suapi saja. Aku ingin di suapi." Ujar Baekhyun masih tetap manja. "Hhhh... ku rasa aku sedang membesarkan bayi besar sekarang. Baiklah nyonya Park." Chanyeol seperti tak punya pilihan lain selain menuruti keinginan Bakehyun.

Jam dinding menunjukkan pukul 8.30 pagi, Chanyeol dan Baekhyun sudah selesai sarapan –yang memakan waktu begitu panjang karena Chanyeol hanya punya 2 tangan untuk menyuapi 2 mulut-. Chanyeol menyuruh Baekhyun untuk mandi lebih dulu, mengingat istrinya itu memakan waktu begitu lama untuk berada di kamar mandi. Sedang Chanyeol segera menyiapkan pakaian untuk Baekhyun, agar nanti ia segera memakai pakaian yang Chanyeol siapkan, bukan pakaian yang ia ambil dari lemari Chanyeol.

Baekhyun keluar dari kamar mandi, wangi mawar menyeruak dari kamar mandi. Entah Baekhyun menyabuni tubuhnya saja, atau juga menyabuni dinding-dinding serta lantai kamar mandi, yang pasti wangi ini benar-benar memabukkan Chanyeol setiap kali Baekhyun selesai mandi.

"Sudah ku siapkan bajumu. Pakai yang di atas kasur, jangan ambil baju yang lain." Chanyeol segera memberi instruksi pada Baekhyun mencegah ia membuka lemari milik Chanyeol.

"aaaah, tapi aku ingin pakai kemejamu, Yeol..." Baekhyun memulai aksi manjanya.

"Akan sayang bajunya sudah dibeli tapi tidak digunakan. Eomma juga akan sedih jika tau baju yang diberikannya pada anaknya satu-satunya tidak digunakan sama sekali." Chanyeol beralasan.

"Hmm baiklah. Aku akan memakainya." Ujar Baekhyun, "kau mandi lah sana, ini sudah jam 9."

"hmm..." Chanyeol menahan senyumnya, akhirnya ia bisa menguasai istrinya ini, bahkan meski hanya sekali ini. Tapi ia bisa menggunakan cara ini lain kali.

Chanyeol sudah menunggu Baekhyun di mobil sejak tadi. Chanyeol mandi dengan cepat, Chanyeol bahkan sempat memanaskan mobilnya, tapi Baekhyun masih saja belum siap. Chanyeol keluar dari mobilnya, menyusul Baekhyun ke kamar. Kepalanya menyeruak dari pintu kamar, "Ayo, nanti ramai."

"Sebentar. Aku merasa seperti ada yang kurang." Baekhyun masih saja mematut dirinya didepan cermin. Chanyeol menghela napasnya melihat kelakuan istinya ini, yang benar saja, ia sudah mematut dirinya didepan cermin selama kurang lebih 1 jam, tapi make up yang digunakan begitu tipis. Lebih tepatnya, ia terus menggunakan, kemudian menghapus, menggunakan, menghapus make up nya dan begitu terus. Chanyeol tidak mengerti apa yang Baekhyun pikirkan.

"Tanpa make-up pun wajahmu sudah cantik, yeobo." Chanyeol masih berdiri di pintu, "ayolah nanti ramai dan antrianmu terus mundur. Kita tidak bisa ke dokter besok, dan aku tidak bisa menemanimu di hari kerja. Aku sudah anyak melewatkan jadwal ke doktermu dan aku mau menemanimu untuk USG." Chanyeol melipat tangannya didepan dada.

"Mataku masih terlihat kecil." Ujarnya sambil menatap ke arah Chanyeol. oh astagaa, bukankah mata Baekhyun memang kecil? "Eyeliner nya tidak berfungsi. Pipiku yang semakin tembam membuat mataku semakin kecil." Rengeknya.

"Sayang," Chanyeol berjalan ke arah Baekhyun, berdiri di belakangnya kemudian memegang pundaknya, menatap pantulan bayangan Baekhyun di cermin, "mata kecilmu itu sangat cantik. Taukah kau bahwa apapun perubahan pada ibu hamil, tidak pernah membuatnya menjadi jelek, bahkan sebaliknya. Kau cantik, semakin cantik." Chanyeol mengecup puncak kepala Baekhyun.

"Benarkah? Kau tidak bohong, 'kan?"

"Tidak ada untungnya bagiku untuk berbohong." Ujar Chanyeol. chanyeol memang tidak pernah bohong tentang cantiknya Baekhyun di matanya. Baekhyun memang selalu cantik, sejak pertama Chanyeol melihatnya, Baekhyun memang sudah cantik. "Jadi, ayo kita berangkat?"

Baekhyun segera berdiri dari duduknya, "ayo!"

Chanyeol memang benar, bahkan di saat perutnya yang semakin membesar, baju apapun selalu jatuh cantik di tubuh Baekhyun. Dress selutut lengan pendek berbahan kaos berwarna biru langit dengan renda-renda putih lucu di perpotongan dada dan perut, serta dipadukan dengan sepatu sandal berwarna putih, jatuh begitu cantik di tubuh Baekhyun dengan warna kulitnya yang cerah. Wajahnya dipoles make up tipis dengan eyeliner yang menghiasi mata kecilnya.

.

"oh Kyungsoo-ah!" Baekhyun menyapa Kyungsoo yang juga duduk di ruang tunggu. "Kau melakukan pemeriksaan rutin di dokter Choi juga?"

"eonnie, bukankah kau yang menyarankanku kemari?" Sepertinya Baekhyun lupa, beberapa waktu lalu ketika Kyungsoo bingung menentukan dokter mana yang akan menjadi dokter kandungannya, ia menyarankan untuk datang ke dokter Choi. "Kau yang bilang dokter Choi sangat bagus. Ya aku datang saja kemari. Tapi memang benar, aku selalu puas dengan pemeriksaan yang dilakukannya. Kau sehat?" lanjut Kyungsoo.

"Aku sehat. Waaaahh perutmu sudah terlihat sekarang. Bagaimana rasanya jadi ibu hamil?" baekhyun duduk di sebelah Kyungsoo, sedang Chanyeol sudah asik berbincang dengan Jongin entah apa yang mereka bicarakan.

"Menyenangkan." Kyungsoo mendekatkan wajahnya pada Baekhyun, "dan Jongin semakin memanjakanku." Bisiknya.

"Tentu saja! Bagaimanapun, ada 2 nyawa yang harus terus dijaganya dan diberinya limpahan kasih sayang." Baekhyun mengelus perut Kyungsoo yang mulai membuncit.

"eonnie, kau sudah daftar?"

"Sudah. Sebenarnya aku mau cek semalam, tapi ramai jadi aku mundur ke pagi ini." jelas Baekhyun.

"aku baru mendaftar pagi ini. sepertinya aku akan lama menunggu. Dokter ini begitu ramai."

"Nyonya Baekhyun..." panggil perawat meminta Baekhyun masuk ke ruang praktek dokter.

"aku duluan ya." Baekhyun berdiri meninggalkan Kyungsoo.

Chanyeol menemani Baekhyun masuk ke ruang praktek, dokter obgyn wanita yang menangani Baekhyun selama kehamilannya sangat cantik, juga ramah.

"Silahkan masuk. Ah, dedek ditemani appa hari ini ya..." Dokter Choi menyapa Baekhyun dan Chanyeol dengan suaranya yang begitu lembut. "Silahkan duduk tuan, nyonya." Katanya mempersilahkan keduanya duduk.

Setelah menimbang berat badan Baekhyun, dokter Choi meminta Baekhyun berbaring di tempat tidur yang ada di ruangan itu. Dokter Choi mengoleskan gel di perut Baekhyun.

"Hmm jadi informasi apa saja yang kedua orang tua inginkan?" dokter Choi menatap Chanyeol dan Baekhyun bergantian.

"Aku hanya ingin tau dia sehat atau tidak, lalu apa aku bisa melahirkan normal atau tidak, posisinya di dalam baik atau tidak, hmm mungkin itu saja." Baekhyun memperinci.

"Aku akan mengikuti apa yang istriku inginkan. Ku rasa kami sudah sepakat dan mempertimbangkannya." Ujar Chanyeol.

"Kalian tidak ingin tau jenis kelaminnya?"

"Sepertinya biarkan itu jadi rahasia saja, dok. Biarkan jadi sureprise di hari kelahirannya saja." Ujar Baekhyun yakin.

"Baiklaaah..." dokter mulai memutar-mutar alatnya di atas perut besar Baekhyun. "Hmm hanya ada satu bayi dan bayinya sehat. Aigoooo dia tersenyum... hmm Posisinya baik. Bayinya aktif, dan sampai saat ini, kemungkinan untuk lahir normal sangat besar. Jadi appa dan terutama eomma tidak perlu khawatir." Dokter menjelaskan, kemudian menunjukkan gambar bayinya di dalam perut. "Aku akan mencetaknya, tuan dan nyonya bisa kembali bulan depan. Semoga bayinya selalu sehat."

.

Baekhyun tidak henti-hentinya menatap photo hasil USG bayinya. Baekhyun merasa sangat bahagia ada sebuah kehidupan di dalam tubuhnya, yang dijaganya. Dengan detak jantung yang beriringan. Chanyeol tak kalah bahagia dengan Baekhyun. Memiliki Baekhyun saja sudah sangat membahagiakan, ditambah sebentar lagi akan ada buah cintanya bersama Baekhyun, separuh dirinya dan separuh Baekhyun akan lahir hadir ke dunia dan berada di tengah-tengah mereka.

"Kita beli box bayi dulu, ya?" Chanyeol memecah keheningan. Baekhyun mengangguk. "Ingin box warna apa? Jangan warna pink, karena kita tidak tau dia laki-laki atau perempuan."

"Cokelat saja, atau cream." Jawab Baekhyun. "Aku ingin tema kamar anak kita Rillakuma. Bukankah kita berdua menyukainya? Lagipula, Rillakuma berarti banyak untukku, mengingat aku menerimanya darimu di hari jadi kita yang ke 100 dulu." Lanjutnya.

"Baiklah. Akan ku tambahkan sticker-sticker rillakuma di dinding kamarnya nanti. Aku akan mengecatnya ulang."

Chanyeol memarkir mobilnya di pinggir jalan di daerah pertokoan. Chanyeol dan Baekhyun masuk ke sebuah toko furniture untuk memilih-milih box yang cocok dan aman untuk bayi mereka. Mata Baekhyun tertuju pada sebuah box yang tidak terlalu tinggi, dan tidak terlalu kecil di sudut ruangan. box warna cokelat kayu, sesuai dengan apa yang diinginkannya.

"Yeol-ah, yang itu saja." Tunjukknya. Baekhyun tipe orang yang jika sudah memilih, ia tidak akan jatuh hati pada yang lain. Karena itu juga ia tidak pernah jatuh hati pada orang lain selain Chanyeol.

"yang mana?" Chanyeol mengikuti arah telunjuk Baekhyun. "Oh," Chanyeol mengecek barang yang diinginkan Baekhyun, kondisinya baik, dan kayunya juga kokoh. "aku ambil yang ini saja. Bisa di kirim, 'kan?" Chanyeol segera melakukan pembayaran tanpa berpikir berulang kali.

"Lalu pakaian? Di seberang sana sepertinya ada toko baju bayi. Lihat-lihat disana saja, ya? Agar kau tak jalan jauh." Chanyeol memberikan tangannya untuk di gandeng oleh Baekhyun. "Jika kau lelah, bilang saja. Biar kita istirahat." Chanyeol mengusap peluh di kening Baekhyun. Ia ingat kalau saat ini kaki Baekhyun seringkali bengkak jika terlalu banyak berjalan.

"Tidak apa, aku berkeringat karena panas saja." Ujar Baekhyun sambil menggandeng dan mengikuti langkah Chanyeol.

Baekhyun melihat-lihat semua pernak-pernik bayi. Baginya, semua terlihat lucu. Kalau bisa, semuanya akan dibawanya pulang. Tapi tidak mungkin, 'kan? Bisa bisa, Chanyeol akan mengamuk seperti orang kebakaran jenggot. Mulai dari baju, celana, sepatu, sarung tangan, kain bayi, semua yang Baekhyun pilih bertema Rillakuma, sesuai keinginannya.

"Sudah?" tanya Chanyeol. chanyeol melihat Baekhyun mulai kelelahan, ia melihat Baekhyun mulai mengambil posisi duduk di salah satu kursi yang tersedia di sisi toko.

"Ku rasa sudah semua. Pelan-pelan saja di cicil. Ku rasa yang penting sudah semua. Untuk yang lainnya, menyusul saja." Jawab Baekhyun.

"Aku punya sesuatu. Kau pasti suka," Chanyeol menyembunyikan tangannya di balik tubuhnya. "Ta-daaaaa..." Chanyeol menunjukkan sebuah jump-suit yang menyerupai rillakuma, yang pas untuk bayi.

"Waaaahh lucunyaaa... dimana kau temukan?" mata Baekhyun terlihat berbinar melihat barang yang Chanyeol tunjukkan.

"disana. Bagaimana? Suka? Akan ku belikan jika kau suka."

"Aku suka!" jawab Baekhyun tanpa pikir panjang.

"Akan ku bayar dulu, lalu kita pulang."

.

.

.

Memasuki bulan kedelapan, Baekhyun merasa tubuhnya semakin berat. Sejak kehamilannya menginjak usia 5 bulan, Baekhyun selalu tidur miring ke arah kiri, sesuai dengan yang di sarankan oleh dokter. Di bulan ke delapan ini, tak mudah untuknya berbaring, berbalik, atau bangkit secara cepat. Ia perlu beberapa detik agar bayinya tidak kaget dengan pergerakan tubuhnya. Dan tidak lupa, ia butuh Chanyeol untuk membantunya berbalik, atau bangun.

Di usia kandungan yang sudah delapan bulan ini juga, Chanyeol melarang Baekhyun mengunci kamar mandi saat setiap kali ia mandi. Takut-takut terjadi sesuatu nantinya. Tidak salah, 'kan untuk siaga?

Saat ini juga Baekhyun sering kali mengalami masalah. Ya sembelit, lah, ya ambeien, lah. Dokter bilang itu biasa, tapi tetap saja bagi Baekhyun hal itu menyiksa. Untungnya Baekhyun punya Chanyeol, suami berhati peri yang selalu siap siaga merawatnya di rumah. Chanyeol juga seringkali membantunya memijat payudaranya yang mulai membengkak, yang bagi Baekhyun, rasanya seperti mau meledak. Dokter menyarankan untuk sering memijat payudaranya agar puting susunya tidak tenggalam. Tenggelam dalam artian tidak masuk sehingga nantinya akan memudahkan bayi untuk menyusu. Juga Heechul, malaikat tanpa sayapnya yang selalu datang di saat yang tepat.

Chanyeol dan Baekhyun sedang menata tas bayi yang rencananya akan mereka bawa ke rumah sakit saat bayi mereka akan lahir. Karena tidak mungkin, 'kan menyiapkannya saat Baekhyun mengerang kesakitan. Mana sempat. Chanyeol memilah milah beberapa potong kain dan pakaian, menghitung jumlah yang akan mereka butuhkan. Juga menyiapkan baju untuk Baekhyun. Baju yang sekiranya nyaman untuk Baekhyun kenakan. Ah, jangan lupa, bulan lalu, Heechul juga sudah membelikan beberapa potong baju untuk ibu menyusui untuk Baekhyun. Lihat, betapa ibu ini menyayangi anak semata wayangnya.

'Ring Ding Dong... Ring Ding Dong...'

Chanyeol segera turun dari kamarnya untuk membukakan pintu. "Eomma? Kenapa tak berkabar jika mau kesini? Aku bisa menjemput eomma." Chanyeol menyambut dan memeluk ibu mertuanya.

"Lalu akan kau tinggal anak eomma sendiri di rumah?"

"Tentu aku akan mengajaknya bersamaku, eomma."

"Kau pikir eomma sudah lansia, jadi harus kau jemput? Eomma masih bisa memesan taksi dan masih menginat dengan baik alamat rumah kalian, menantuku yang tampan." Heechul membelai wajah Chanyeol. "Mana Baekhyun?"

"Baekhyun di atas. Sedang menata tas bayi."

"Hmm Kalian melakukan persiapan dengan baik." Katanya sambil melepas mantel dan berjalan menuju kamar Baekhyun.

"Eomma?! Kenapa eomma kemari tanpa kabar? Bagaimana kabar appa?" Baekhyun memeluk ibunya.

"eomma akan berusaha sering datang kemari, mengingat hari kelahiran bayimu sudah dekat. Appa juga mendukung. Appa mu semakin hari semakin sehat. Ia rajin berolahraga sekarang."

Sepertinya, 'sering' dalam kamus Heechul berarti 'setiap hari'. Maka setiap hari akan ada suara Heechul yang menambah sedikit keramaian di apartemen Chanyeol dan Baekhyun.

.

.

.

Jam dinding menujukkan pukul 08.00 malam. Chanyeol, Baekhyun dan Heechul sedang duduk di ruang tengah. Ya, sering yang dimaksud Heechul bukan hanya setiap hari, ternyata. Setelah masuk bulan kesembilan, Heechul bahkan menetap di apartemen Chanyeol dan Baekhyun, dan pulang hanya pada hari Sabtu dan Minggu untuk menengok keadaan rumah dan suaminya.

Baekhyun terus duduk dengan tidak tenang di atas sofa. Chanyeol yang duduk di lantai dengan kepala yang di rebahkan ke paha Baekhyun merasakan bahwa Baekhyun sangat tidak nyaman dan beberapa kali meringis. Chanyeol bisa mendengarnya.

Meski wajahnya terus ke arah televisi, mata Chanyeol terus melirik jam dinding, menghitung setiap berapa menit Baekhyun meringis. Chanyeol berpikir bahwa setiap kali Baekhyun meringis, saat itulah kontraksinya terasa. Awalnya, Baekhyun meringis setiap satu jam sekali, kemudian 30 menit sekali. Chanyeol menggenggam tangan Baekhyun, tangan Baekhyun terasa sangat dingin. Sepertinya ia benar-benar merasa sakit yang luar biasa, tapi belum mau mengatakannya. Setiap kali ia meringis, Baekhyun akan menggenggam tangan Chanyeol lebih kuat. Frekuensinya kini sudah semakin sering.

"Yeol, bisakah kau bangun? Aku merasa ada yang basah di tempat dudukku." Ujar Baekhyun.

Chanyeol membalikkan wajahnya, menatap Baekhyun yang sudah penuh peluh di wajah cantiknya. "Kau bisa berdiri?" Tanya Chanyeol.

"Bantu aku." Baekhyun masih tidak melepas genggamannya. Dan berdiri dengan bantuan Chanyeol.

"Omoo, darah! Istrimu akan melahirkan, Chanyeol!"

.

.

.

TBC

.

.

.


Pertama, aku minta maaf yang sebesar besarnya untuk chapter lalu yang sangat mengecewakan. aku sedang galau berat dan capek banget jadi kata-kata yang terlintas tidak sebaik yang aku inginkan. dan jemari yang menari di atas keyboard tidak selincah yang aku bayangkan padahal banyak banget yang kepengen aku tulis. aku minta maaf banget :(

kedua, aku minta maaf yang sebesar-besarnya karena keterlambatan update chapter ini karena Sabtu yang lalu aku ada visit ke Rumah Sakit sampai malam dan hari minggu nya capek banget jadi aku males buat duduk didepan laptop. jadi aku minta maaf sekali lagi :(

aduh aku jadi merasa bersalah. author apaan coba minta maaf mulu aku nih T_T

aku juga mau bilang makasi banyak buat yang setia membaca dan review. huaaaaaa aku terharuuu *lap ingus*

buat yang mau ngobrol, bisa follow aku di twitter atau Instagram aja ya: happinessd_61 (IG maupun twitter) tapi aku gak open follow back yah :( mianhae... soalnya keduanya aku pake buat ngecek update terbaru dari EXO. buat yang mau aja kok :))

nah, segitu aja deh cuap cuapnya ntar malah jd kepanjangan...


special thanks to:

cbthirdperson || ruixi1 || exindira || fzalle || ParkByun || rohmatulfirda1 || edifa || younlaycious88 (Youn makasih ya sarannya untuk mengubah titik di username reviewer^_^) || narsih556 || Dindacrln08 || Yulyul || parkbaekyoda92 || kiway91SL || kimna || VAAirin (makasih selalu nunggu, baca dan review :* /ketjuppp)

aku baca semua kok. gak ku balas satu2 yaaa makasih banyak :")

see yaa next chapter

Love,

Chacha

*bbyeong*