PERHATIAN!
JIKA KAMU TIDAK MENYUKAI PAIRING YANG AKU BUAT, CERITA GAY, YAOI, ATAU KAMU MENGANGGAP FF INI BODOH DAN MENJIJIKKAN, SEGERA CLOSE DAN JANGAN PAKSA DIRIMU MELANJUTKAN MEMBACA KARENA AKU TIDAK AKAN MEMAKSA! DARIPADA KAMU MENINGGALKAN REVIEW YANG TIDAK MENYENANGKAN, LEBIH BAIK KAMU MENINGGALKAN PAGE SEBELUM KAMU SELESAI MEMBACA! AKU HANYA MEMINJAM NAMA! SEKALI LAGI, HANYA MEMINJAM NAMA PEMERAN DAN MEMBERI BAYANGAN HUBUNGAN LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN! SEMUA JALAN DAN ISI CERITA, MILIKKU! TIDAK BERDASARKAN APA YANG ADA DI KENYATAAN! JADI TOLONG INDAHKAN PERHATIAN INI! TERIMAKASIH.
aku me-repost part ini karena banyaknya typo setelah membaca review T_T terimakasih sudah mengingatkan.
SELAMAT MEMBACA!
Cast:
Park Chanyeol (m)
Byun Baekhyun (f)
Oh Sehun (m)
Xiao Lu Han (f)
Kim Jongin/Kim Kai (m)
Do Kyungsoo (f)
other EXO's member
Park Han Byeol (6 y.o)
Kim In Kyung (6 y.o)
Kim Yeon Yi (6 y.o)
Kevin Park (9 y.o)
Oh Ha Na (4 y.o)
Pairing:
Chanbaek; Hunhan; Kaisoo
Warning: typos; Genderswitch; EXO; marriage life; story about the childs; DLDR; no bash.
***Happy Reading***
"Eomma! Appa!" suara gadis kecil yang berteriak sambil mengetuk pintu dengan brutal dari balik pintu kamar memecah keheningan pagi di rumah keluarga Park.
"Sebentar, Byeol." Baekhyun yang buru-buru keluar dari kamar mandi melempar Chanyeol yang masih bergelung dengan selimut tebalnya dengan celana pendek, "Cepat pakai celanamu. Byeol sudah bangun."
Baekhyun berjalan menuju pintu kamar, membukanya perlahan yang kemudian di dorong keras oleh Byeol yang menyeruak memaksa masuk. Byeol langsung menghambur ke pelukan ibunya yang berjongkok menyamakan tinggi dengannya, mencium pipi ibunya sebagai ucapan selamat pagi.
"Appa masih tidur?" Ujarnya melirik ke ranjang dengan ayahnya yang masih bergelung disana.
"Hmm. Lihat saja Appa masih memeluk guling." Baekhyun menunjuk Chanyeol dengan matanya.
"Eomma wangi." Ujar Byeol kembali mencium ibunya, dengan rambut yang masih basah, Baekhyun terlihat segar pagi ini. "Gendong." Kata Byeol manja sambil mengulurkan kedua tangannya pada Baekhyun.
"Kau tidak ingin bangunkan Appa?" tanya Baekhyun pada Byeol.
"Byeol akan bangunkan. Gendong ke sana, eomma." Ujar Byeol menunjuk arah ranjang tempat ayahnya masih tertidur pulas.
"Appa..." Byeol berbisik di telinga ayahnya, "Appa bangun sudah pagi." Lanjutnya. Tidak ada respon berarti dari Chanyeol, ia masih memejamkan matanya.
"Eomma turunkan." Baekhyun menurunkan Byeol dan mendudukkannya di sisi tempat tidur di sebelah Chanyeol, Byeol mendekatkan bibirnya ke telinga Chanyeol, dan "APPA BANGUN SUDAH PAGI NANTI KITA TERLAMBAT!" teriak Byeol tepat di telinga Chanyeol yang tidak hanya mengagetkan Chanyeol, tapi juga Baekhyun. Chanyeol segera tersentak bangun dan merasa telinganya berdengung karena suara cempreng Byeol menusuk telinganya.
Chanyeol duduk di ranjangnya, kemudian menggelitik pinggang Byeol yang di sambut ledakan tawa dari bibir mungil Byeol, "ahahahaha Appa ahahahaha geli Appa berhenti..." ujarnya terpingkal.
"Kenapa kau teriak di telinga Appa, hmm? Hmm? Ini hukuman untuk putri kecil Appa yang sudah berteriak di telinga Appa." ujar Chanyeol sambil terus menggelitik Byeol.
"Appa, sudah sudah. Ampun Appa ahahaha" gadis kecil itu masih terpingkal sambil memegang tangan ayahnya yang terus menggelitik pinggangnya. Chanyeol menghentikan 'hukuman' nya pada pinggang Byeol, kemudian mencubit pipi Byeol. "Kau pikir Appa tuli sampai kau harus berteriak di telinga Appa, hmm?"
"Appa sih tidak bangun. Ini sudah pagi nanti Appa," jemarinya menunjuk dada Chanyeol, "terlambat ke kantor, dan Byeol," kemudian menunjuk dirinya sendiri, "terlambat ke sekolah. Byeol tidak mau terlambat sampai di sekolah di hari pertama masuk." Ujarnya dengan cara yang menggemaskan.
Chanyeol menciumi pipi Byeol yang merona merah secara alami itu dengan brutal. Menggosok-gosokkan wajahnya di pipi gembil Byeol. "Appa!" Byeol mendorong tubuh Chanyeol. "cepat mandi..." lanjutnya.
"Memangnya Byeol sudah mandi?" tanya Chanyeol.
"Belum. Hihihi" cengirnya menunjukkan giginya yang putih dan rata. Sekarang gigi itu sudah tumbuh dengan rapi, tidak lepas dari ketelatenan Baekhyun dan Chanyeol untuk menyikat gigi Byeol saat Byeol masih balita. Chanyeol masih ingat bagaimana Baekhyun akan meringis karena Byeol menggigit puting susunya saat gigi pertama Byeol tumbuh. Byeol juga menggigit apapun yang di pegangnya, termasuk jemari Chanyeol. Gigi-gigi milik Byeol persis seperti gigi yang dimiliki Chanyeol, besar, rapi dan rata. Byeol memang seperti photocopy Chanyeol. hanya telinganya saja yang mirip Baekhyun, selebihnya, ia adalah refleksi Chanyeol.
"Mau mandi dengan Appa?" tawar Chanyeol.
"Shirreo!"
"Wae?" mandi bersama yang Chanyeol maksud adalah dia yang memandikan Byeol. Meski usianya sudah sekitar 6 tahun, Byeol masih saja dimandikan oleh Chanyeol. dan tumben pagi ini Byeol menolak Chanyeol dengan terang-terangan.
"Appa bau dan lengket!" ujarnya kemudian berbalik menghadap Baekhyun yang sedang membuka jendela kamar, "Eomma gendong. Byeol mau mandi sama eomma saja." Ujarnya.
"Hei, memangnya Byeol sudah wangi?" Chanyeol mencubit hidung Byeol.
"Paling tidak, Byeol tidak lengket!" Byeol sudah naik ke dalam gendongan Baekhyun. "Appa mandi saja cepat sana!" Ujarnya. Chanyeol memang merasakan tubuhnya sedikit lengket. Ah, mungkin memang lengket. Akibat 'pertempuran' nya dengan Baekhyun semalam.
Byeol memang sangat cerewet, mengingat kedua orang tuanya juga cerewet. Saat Byeol belum bisa bicara, Chanyeol dan Baekhyun menanti-nanti saat dimana Byeol mengungkapkan kata pertamanya. Setelah Byeol bisa bicara, Chanyeol dan Baekhyun bahkan sampai kewalahan meladeninya bicara. Tak jarang kalimat yang keluar dari bibir Byeol adalah kalimat-kalimat yang mengejutkan. Selain itu, Byeol juga masih tetap aktif bicara bahkan saat dirinya sudah sangat mengantuk.
Hari ini adalah hari pertama Byeol masuk sekolah dasar, Chanyeol dan Baekhyun sepakat untuk menyekolahkannya di yayasan yang sama dengan tempat Byeol saat taman kanak-kanak. Begitu akan lebih mudah mengurusnya. Lagipula, yayasan ini yang paling dekat dengan apartemen tempat mereka tinggal.
Langkah kaki mungil berlari kecil menuruni tangga. Byeol sudah bisa mengenakan pakaiannya sendiri, meski masih berantakan dan Baekhyun akan membantunya merapikan bajunya. Yah, paling tidak Byeol sudah mau mengenakan pakaiannya sendiri, tidak terus merengek pada Baekhyun untuk dipakaikan seragam. Jadi, pekerjaan Baekhyun di pagi hari bisa lebih ringan.
"Eomma, pasangkan." Byeol mengulurkan tangannya yang menggenggam stocking putih dan dasinya. "Byeol tidak bisa pakai yang ini." ujarnya.
"Kemari." Baekhyun memasangkan dasi Byeol terlebih dahulu, kemudian berjongkok untuk memasangkan stocking Byeol. "Masukkan kakinya." Byeol memegang pundak Baekhyun agar tidak jatuh, kemudian Baekhyun membantunya menaikkan stocking putihnya. "Jha, sudah. Mana jas nya? Rambutnya belum di sisir, ya?"
"Tas nya masih ada di kamar. Byeol sudah menyisirnya tapi masih begini." Ujarnya.
"Cepat ambil jasnya, jangan lupa bawa tasmu turun. Bawa juga turun sisir dan ikat rambutnya biar eomma rapikan rambutnya dan panggil Appa untuk sarapan."
"Ne!" Byeol menuruti setiap kata yang keluar dari bibir ibunya itu, kemudian berlari kecil menuju lantai 2, tempat kamarnya berada.
Setelah mengambil tas dan jasnya, Byeol mengintip ke kamar orang tuanya, mencari-cari sosok ayahnya. Ia melihat sosok tinggi kurus yang dikenali sebagai ayahnya itu sedang berdiri didepan cermin dan menyemprotkan minyak wangi ke tubuhnya. "Uhuk... Uhuk..." Byeol yang mencium wangi parfum yang kuat terbatuk-batuk.
Chanyeol memutar tubuhnya, "Byeol? Ngapain disana?" ujarnya melihat kepala Byeol menyembul dibalik pintu.
"Mencari Appa. eomma menyuruh appa cepat turun untuk sarapan." Jelasnya.
"Oh ya, sebentar lagi. Kau turun saja duluan."
"Ne!" ujarnya kemudian berlari kecil ke ruang makan.
"Appa mana?" tanya Baekhyun.
"kata Appa sebentar lagi."
"Yasudah tunggu Appa dulu, ne? kita sarapan bersama." Ujar Baekhyun.
Baekhyun dan Chanyeol memang mengajarkan Byeol untuk bersabar. Mereka juga mengajarkan Byeol untuk makan setelah orang dewasa makan lebih dulu. Jadi, Byeol sudah terbiasa untuk menunggu, dan Chanyeol akan mempercepat kegiatannya agar tidak membiarkan Byeol menunggu lama.
"Ne, Eomma. Sisirkan Byeol saja dulu. Byeol pakai bando saja. Jangan diikat." Byeol menyerahkan sisir dan bando berwarna cokelat pada Baekhyun. Rambut Byeol tidak pernah dibiarkan panjang oleh Baekhyun. Mengingat putrinya ini masih kecil dan sangat aktif, Baekhyun memutuskan untuk tidak membiarkan rambut Byeol melebihi bahu sampai nanti Byeol bisa lebih anggun.
Chanyeol sudah duduk di meja makan dengan keluarganya. Tugasnya untuk memasak sudah berakhir sejak Byeol sudah berusia satu tahun. Sekarang Baekhyun yang memasak untuknya. Ia akan sesekali memasak di hari libur atau jika Byeol memintanya. Karena bahkan setelah lahir, masakan Chanyeol adalah favorit Byeol.
Setelah sarapan, Baekhyun berdiri untuk memasangkan dasi Chanyeol, dan merapikan jas kerjanya. Byeol turun dari kursi dan mengambil sepatu pantofel hitam miliknya. Byeol sangat menyukai sepatu hitam mengkilap yang dipilihnya sendiri itu. Byeol sangat menyukai benda-benda berkilap, persis seperti namanya, Byeol, yang berarti bintang yang selalu berkelap kelip di langit kala langit sudah gelap. Byeol bisa memasang sepatunya sendiri sekarang. Baekhyun dan Chanyeol terlihat bangga pada putrinya yang begitu cepat tumbuh ini.
"Eomma, apa Byeol sudah cantik?" ujarnya segera berdiri dan berputar setelah selesai memasang sepatunya.
"Sudah. Anak eomma selalu cantik, kok." Ujar Baekhyun sambil menyisir dan merapikan rambut seleher Byeol dengan jemari lentiknya.
"Appa, gendong." Ujarnya sambil mengulurkan tangannya. Byeol memang kebiasaan di gendong jika bersama Chanyeol. Karena itu Baekhyun tidak suka. Menurut Baekhyun, Byeol sudah cukup besar untuk berjalan dengan kakinya sendiri, bukan terus di gendong oleh ayahnya.
"Byeol, kau kan sudah besar. Jalan saja." Ujar Baekhyun.
"Tapi nanti sepatunya kotor." Jawab Byeol polos.
"Memangnya kalau jalan di sekolah tidak kotor? Memangnya Appa ikut sekolah dengan Byeol hanya agar sepatu Byeol tidak kotor?" sahut Chanyeol.
"Ayolah Appa gendong..." Byeol merajuk dan memeluk paha Chanyeol. Chanyeol paling tidak bisa dengan tingkah Byeol yang seperti ini. Jika sudah merajuk, Byeol persis sekali dengan Baekhyun.
"Arasseo arasseo..." Chanyeol kemudian mengangkat tubuh Byeol kedalam gendongannya.
"Kau menurutinya." Ketus Baekhyun.
"Hari ini saja. ne, Byeollie?"
"Ehm." Angguk Byeol. "Besok Byeol tidak akan meminta di gendong, eomma. Hari ini saja." ujarnya.
"Baiklah baiklah..." Ujar Baekhyun malas.
"Appa ayo berangkat!" Byeol memandang ayahnya, kemudian ibunya, "Eomma kemarikan tas kerja Appa. biar Byeol yang bawa." Baekhyun menyerahkan tas kerja Chanyeol pada Byeol, "uuuhh berat sekali. Eomma, tidak jadi. eomma saja yang bawa." Byeol menyerahkan kembali tas milik Chanyeol yang memang cukup berat bagi Byeol itu kepada ibunya. "Huuuh tadi mau bawa, sekarang suruh eomma." Baekhyun mencubit pipi tembam Byeol.
Sesampainya di pintu, Baekhyun menyerahkan tas kerja Chanyeol padanya. Chanyeol tidak pernah lupa mengecup kening Baekhyun. "Byeol eomma ppoppo." Ujar Baekhyun mencondongkan wajahnya ke wajah Byeol. 'cup!' bibir Byeol mengecup singkat bibir ibunya. "Jangan cengeng di sekolah. Dengar kata gurumu di sekolah, ne?" Baekhyun mengelus lembut kepala Byeol.
"Hati hati yaaa~" lambai Baekhyun dari pintu.
.
.
.
Sudah banyak mobil terparkir rapi di parkiran yayasan tempat Byeol bersekolah. Karena yayasan ini punya sekolah dari taman kanak-kanak hingga sekolah menengah, jadi yayasan ini juga punya tempat parkir sendiri untuk anak-anak sekolah menengah yang membawa kendaraan atau para orang tua yang datang untuk menjemput anak mereka.
Byeol turun dari mobil, kemudian menggandeng tangan ayahnya. Tas berbentuk kepala Rillakuma tergantung di pundaknya. Banyak anak sebaya dengan Byeol datang bersama orang tuanya. Ada juga yang sepertinya berusia lebih muda dan memakai seragam taman kanak-kanak. Beberapa di antaranya menyapa Byeol sepanjang perjalanan Byeol sampai di sekolahnya. Sepertinya Byeol punya cukup banyak teman, mengingat putri kecil keluarga Park ini aktif dan ramah.
"Appa! ada Kevin Oppa!" Byeol menunjuk kakak sepupunya yang baru turun dari mobil. Mata tajam Kevin bertemu dengan mata bundar milik Byeol. "Oppaaaaaaaaaaaaaaaa!" teriak Byeol memanggil kakak sepupunya.
Kris menurunkan kaca mobilnya, kemudian melambai pada Chanyeol. chanyeol berjalan mendekati mobil Kris yang tidak masuk ke dalam parkiran, melainkan hanya menurunkan Kevin didepan sekolah. "Hyung, kau tidak masuk?" sapa Chanyeol pada kakaknya. "Kevin sudah kelas 3, dia sudah tidak butuh aku untuk mengantarnya di hari pertama. Oh Byeollie annyeong!" Kris meambaikan tangannya pada Byeol.
"Annyeonghaseyo, uncle." Ia membungkukkan tubuhnya pada paman bule nya itu.
"Ah, aku akan terlambat. Aku ada rapat pagi ini. Aku berangkat lebih dulu, brother!"Kris menatap Chanyeol, "ah ne, Hyung. Hati-hati."
"Kevin, jangan nakal! Jaga Byeol. Dia adikmu." Ujar Kris pada Kevin yang mendapat anggukan dari Kevin. Kevin benar-benar mirip dengan Kris, tidak banyak bicara dan memiliki wajah dingin. Kris tidak mengerti mengapa tidak ada satu bagianpun dari Zitao yang turun padanya. Bahkan pada Zitao pun, Kevin tak banyak bicara. Padahal ibunya itu setiap hari mengajaknya bicara. Mungkin, jika orang lain tidak melihat Zitao sedang berbicara dengan siapa, orang lain akan berpikir kalau Zitao sedang berbicara sendiri.
Mobil Kris melaju menjauh dari sekolah, Kevin masih berdiri di samping Chanyeol, diam. "Kevin, ayo menyebrang bersama." Chanyeol mencoba menggandeng tangan Kevin, yang segera di tolak oleh Kevin, "tidak usah, Samchoon." Ujarnya tidak ingin di gandeng. Chanyeol merasa sedikit kaget dengan penolakan Kevin. Diluar perkiraan Chanyeol, Kevin malah menggandeng tangan Byeol. Ah, Chanyeol mengerti. Sepertinya, maksud Kevin adalah sebaiknya dia menggandeng Byeol, untuk menjaganya. Ya, meskipun bocah ini dingin dan irit bicara, ia selalu menjaga Byeol dengan baik. Sungmin selalu menceritakan bagaimana Kevin menjaga Byeol setiap kali Byeol dan Kevin bermain di rumah kakek dan neneknya.
"Samchoon, Kevin ke kelas dulu ya. Bye~" Kevin melambaikan tangannya pada Chanyeol. Selain dingin dan pendiam, gaya Kevin juga sangat kebarat-baratan. Benar-benar Kris!
"Appa, In Kyung juga sekolah disini. Itu dia kemari bersama appanya." Arah pandang Chanyeol mengikuti arah yang di tunjuk Byeol. "In Kyuuung!" lambainya pada In Kyung, gadis kecil dengan poni depan rata alis dan surai hitam legamnya yang diikat ekor kuda. Byeol dan Kyung berteman sejak kecil, karena persahabatan ibu mereka yang dekat dan seringkali saling mengunjungi. Selain itu, mereka berada di usia yang sama dan dulu berada di kelas yang sama saat masih taman kanak-kanak.
"Hyung!" Jongin menepuk pundak Chanyeol. "Hai Jongin. Hai Kyungie... Oh, siapa gadis mungil ini? kau manis sekali." Chanyeol mengelus kepala gadis kecil itu. "Ini Yeon Yi, Hyung. Anak Hyungku, yang rekan bisnis Hyungmu itu." Jelas Jongin. Yeon Yi membungkukkan tubuhnya, tersenyum, "Annyeonghaseyo, Kim Yeon Yi imnida." Sapanya pada Chanyeol dan Byeol.
"Wah dia tumbuh dengan baik. Dia cantik." Yeon Yi memang cantik, wajahnya persis seperti Junmyeon, ayahnya, rambutnya yang panjang diikat satu ekor kuda dan saat tersenyum kadar manis di wajahnya akan bertambah dengan munculnya lesung pipi yang diwariskannya dari ibunya. Lesung pipinya bahkan bukan cuma satu, tapi di kedua pipinya.
"Bukankah seharusnya dia lebih tua setahun dibanding Kyungie? Seharusnya 'kan dia kelas 2? Dan mana ayahnya?" tanya Chanyeol pada Jongin. "Setahun lalu kakak ku dan keluarganya pindah ke Australia. Karena sibuk, kakakku memutuskan agar Yeon Yi dan kakaknya, Joon home schooling saja. Tapi saat pindah kemari, mengurus surat kepindahan Home Schooling sedikit rumit. Jadi Yeon Yi terpaksa mengulang dari kelas 1 dan Joon akan melanjutkan sekolahnya yang sempat terputus, jadi dia akan memulai dari kelas 3. Kakak ku sedang mengurusnya sekarang." Jelas Jongin panjang lebar.
"Oh, kebetulan Kevin, anak kakak ku juga ada di kelas 3 sekarang. Mungkin mereka bisa sekelas." Chanyeol teringat pada Kevin.
"Aku tidak tau, tapi Jeong Seok anak dari kakak sulungku juga kelas 3 di sekolah ini. jadi mungkin Junmyeon Hyung akan mengusahakan mereka sekelas, karena Joon masih sulit menggunakan bahasa Korea."
"Oh ya, aku lupa soal itu." Ujar Chanyeol.
"Wah semua bersekolah disini rupanya." Suara berat seseorang mengalihkan pandangan Jongin dan Chanyeol. Sehun datang dengan seorang anak perempuan di gendongannya, yang menyembunyikan wajahnya di cengkruk leher Sehun.
"Hana akan mulai sekolah tahun ini, ya?" tanya Jongin.
"Ya, Hana akan masuk TK A tahun ini." Hana, buah cinta Sehun dan Luhan ini adalah yang paling muda di antara anak-anak mereka. masih ingat, 'kan? bayi yang Luhan beri nama Hana karena Hana akan menjadi anak Luhan dan Sehun satu-satunya. Luhan tidak ingin memiliki anak lagi sejak trauma melahirkan Hana.
"hana-ah, annyeong." Chanyeol berusaha menemukan wajah Hana, bukannya melihat Chanyeol, Hana malah semakin menyembunyikan wajahnya. "Hana-ah, ini Chanyeol ahjussi." Chanyeol mengelus punggung Hana, yang segera di tepis oleh Hana.
"Mianhaeyo, Hyung. Hana memang begini." Ujar Sehun. Ya, Hana memang sangat pendiam dan pemalu. Sehun terkadang merasa bersalah, mungkin ini salahnya yang punya sikap cuek pada orang lain. Selain itu, Hana mewarisi sifat pemalu ibunya. Hana tidak suka orang asing dekat dengannya. Jika orang asing mendekat, Hana akan mulai merajuk dan minta digendong. Sehun khawatir dengan keadaan Hana ini, ia takut Hana tidak bisa punya teman.
"Wah padahal aku ingin menatap wajahnya. Sudah lama aku tidak melihat wajahnya sejak terakhir kali kita bertemu." Ujar Chanyeol. Chanyeol memang tidak pernah bertemu dengan Hana karena setiap kali Luhan berkunjung bersama Hana ke rumahnya, Chanyeol sedang tidak ada di rumah.
"Hana-ah, ini Byeol eonnie. Kau tidak ingin turun?" Byeol mencoba membujuk Hana.
"Shilleo..." ujar Hana masih menenggelamkan wajahnya di leher Sehun. Chanyeol menatap Sehun, seperti mengerti, Sehun mengangguk. "Ya, Hyung. Hana cadel." Kemudian Sehun terkikik.
"Appa!" Hana memukul pundak Sehun dengan kepalan tangan mungilnya, malu karena Sehun mengungkapkan 'rahasia' nya.
"Makanya, ayo turun sebentar. Hana bahkan belum melihat sekolah Hana karena terus menyembunyikan wajah Hana begini. Disini ada Byeol dan Kyung eonnie, dan satu eonnie baru. Hana tidak ingin kenalan? Mereka cantik-cantik." Sehun membujuk Hana, yang kemudian mengangkat wajahnya.
Hana memang benar-benar cantik. Matanya persis seperti mata Luhan, tapi wajahnya dominan pada wajah Sehun. Bibirnya mungil dan dagunya tajam, persis seperti Sehun. Rambutnya cokelat, bergelombang. "Turun, ya?" tawar Sehun. Hana melihat ke sekitarnya, kemudian mengangguk.
Sehun menurunkan Hana dari gendongannya. Mata Hana beredar melihat bermacam-macam motif tas yang digunakan anak perempuan di hadapannya. Byeol dengan tas Rillakumanya, Kyung dengan tas Pororonya, dan Yeon Yi dengan tas berbentuk dombanya. Hana memegang tasnya yang berwarna pink polos tanpa gambar, Hana memeluk kaki Sehun, kemudian menatap Sehun. "Hana juga mau tas seperti eonnie?" tanya Sehun pada putrinya dan mendapat anggukan dari Hana.
"Kalau Hana baik dan tidak menangis hari ini, akan Appa belikan." Tawar Sehun. Beginilah cara Sehun membujuk Hana.
Bel berbunyi, para anak masuk ke kelasnya masing-masing. Byeol, Yeon Yi dan Kyung berjalan bersama mencari kelas mereka. Jongin dan Chanyeol merasa lega sepertinya mereka sekelas lagi. Para ayah sudah siap meninggalkan putrinya, kecuali Sehun, dengan Hana yang kembali merajuk dan naik ke dalam gendongannya.
"Eonnie saja sudah masuk ke kelasnya. Hana tidak mau masuk ke kelas?"
"Sama Appa." ujarnya mulai berkaca-kaca. Hana memang sangat dekat dengan Sehun. Hana lebih manja pada Sehun dibanding dengan Luhan. Mungkin karena mereka jarang bertemu. Hana menghabiskan sebagian besar waktunya bersama Luhan. Sehun juga memang memanjakan Hana, karena itu Hana terbawa dengan kebiasaannya dengan Sehun. Sehun terlalu merasa bersalah karena sibuknya ia dengan pekerjaannya. Ia sering jaga malam di UGD, atau menginap di rumah sakit jika ada operasi. Karena itu ia jarang bertemu dengan Hana, dan sekalinya menghabiskan waktu dengan Hana, Sehun akan memenuhi segala yang diinginkan Hana. Seperti pagi tadi, Hana menangis sepanjang pagi sebelum berangkat sekolah agar Sehun yang mengantarnya, bukan Luhan. Ia tidak mau sekolah jika bukan Sehun yang mengantar, begitulah ancam Hana sambil terus menangis dan tidak mau mandi kecuali Sehun yang memandikannya. Sehingga Sehun terpaksa menurutinya dan menukar shift jaga nya dengan dokter lain pagi ini di Rumah Sakit agar bisa menemani Hana ke sekolah barunya.
Sehun mengalah, ini hari pertama Hana, jadi setelah ayah lain meninggalkan sekolah, Sehun mengantar Hana ke kelas Bulan. disana guru Hana sudah hadir. "Hana, sapa ibu guru dulu. Turun, ya?" tawar Sehun. Hana menggeleng dan kembali menyembunyikan wajahnya di cengkruk leher Sehun.
"Oh Hana, ayo turun dan bergabung dengan teman teman yang lain." Ibu guru yang bertanggung jawab pada kelas Hana mencoba merayu Hana. Hana menghentak-hentakkan kakinya di udara, ia menolak.
"Hana, jika Hana tidak turun, Appa tidak akan turuti keinginan Hana. Bukankah tadi pagi Hana sudah berjanji?" bujuk Sehun lagi. Hana akhirnya melunak, ia turun dari gendongan Sehun dan menatap guru dan teman-temannya. Ibu gurunya sempat kagum dengan wajah Hana yang cantik. Hana mungil dan sedikit gembul. Sedang ayahnya tinggi kurus, terlihat seperti Hana semakin mungil dibawah Sehun.
Setelah bernegosiasi yang panjang dan alot, akhirnya Hana mau duduk bersama teman-temannya di kelas, dengan syarat Sehun tidak pulang dan menunggunya didepan kelas. Memang, sih, banyak orang tua lain yang menunggu, tapi semuanya ibu-ibu dan Sehun adalah satu-satunya ayah yang menunggu putrinya. Beberapa orang ibu juga mengenali Sehun, yah, orang yang pernah datang ke rumah sakit tempat Sehun bekerja pasti mengenal dokter Oh. Sesekali, atau mungkin sering, Hana memandang keluar, memastikan Sehun masih duduk disana menunggunya. Begitu terus sampai jam istirahat berbunyi.
Begitu bel istirahat berbunyi, Hana berlari keluar kelas menemui ayahnya. Sehun tidak bisa begini. Niatnya menyekolahkan Hana agar Hana punya teman, tapi kenyataannya, kalau begini, Hana tidak akan punya teman.
Byeol melihat Sehun duduk didepan kelas Hana, kemudian menghampirinya. "Ahjussi, kenapa Ahjussi masih disini?" tanya Byeol polos.
"Hana tidak ingin ditinggal, Byeol. Lihat ini." Hana menempelkan wajahnya di dada Sehun.
"Hana-ah, mau bermain dengan eonnie?" tawar Byeol sambil mengelus punggung Hana. Dibandingkan Byeol yang sudah mungil, Hana jauh lebih mungil lagi. Keduanya sepertinya tidak mengikuti gen ayahnya.
Hana memutar wajahnya, menatap Byeol dan Sehun bergantian. "Appa tidak meninggalkan Hana, 'kan?" ujarnya pada Sehun.
"Tidak, Appa disini mengawasi Hana." Jawab Sehun sambil mengelus surai cokelat Hana. Sepertinya Hana ingin pergi bermain, tapi ia malu. Dan Byeol datang tepat pada waktunya.
"Ayo!" Byeol menggandeng tangan Hana, mengajaknya bermain di area bermain didepan kelas Hana. Yeon Yi dan In Kyung juga terlihat bergabung dengan mereka. Hana yang tadinya terus mengecek keberadaan Sehun, lama-lama sibuk bermain dengan para kakaknya. Sehun juga melihat Hana mulai berkomunikasi dengan anak lain di sekitarnya dengan bantuan para kakak perempuannya. Sekarang Hana sudah bisa bermain, dan Sehun merasa sangat lega.
Jam sekolah Hana sudah berakhir, dan hari ini Hana sudah bisa sedikit berbaur dengan teman-teman sekelasnya. Beberapa sudah bisa mengajaknya berbincang khas anak kecil. Sehun juga melihat kaki Hana yang bergantung bergoyang-goyang saat duduk di atas kursi menandakan ia senang berada disana.
.
.
Hari ini Byeol pulang bersama Zitao dan Kevin, karena supir pribadi Baekhyun sedang tidak bisa menjemput karena sakit. Sesampainya di rumah, Byeol dengan bersemangat menceritakan hari pertamanya di sekolah pada Baekhyun. Ia menceritakan bagaimana ibu gurunya kebingungan membaca tulisan Yeon Yi yang menggunakan tulisan dengan karakter China bukannya hangul saat ibu gurunya meminta mereka menulis dan menceritakan kembali apa yang mereka lakukan sebelum masuk sekolah. Byeol juga bercerita ia berkenalan dengan beberapa siswa baru yang baru masuk ke yayasan itu.
Baekhyun mendengarkan cerita Byeol sambil memeriksa buku pelajaran Byeol hari ini. Baekhyun senang mendengar Byeol bersemangat pergi ke sekolah. Ia bersyukur Byeol bisa mengikuti pelajaran di sekolahnya dan cepat berbaur dengan anak lainnya. Beginilah Baekhyun, ia selalu menunggu cerita Byeol sepulangnya dari sekolah. Karena Byeol selalu bercerita dengan penuh semangat.
Byeol sudah mengganti seragamnya, dan duduk di meja makan untuk makan siang. "Appa tidak pulang untuk makan siang, eomma?" tanyanya.
"Tidak. Appa sedang ada rapat, jadi mungkin Appa makan diluar dengan rekan kerjanya." Jelas Baekhyun kemudian duduk di hadapan Byeol untuk makan siang bersama. "Jha, makanlah. Lalu tidur siang, ne?" ujarnya yang dibalas anggukan oleh Byeol.
Byeol memang penurut, setelah makan siang, menghabiskan buah yang Baekhyun kupas untuknya, dan duduk sebentar menurunkan isi perutnya, Byeol naik ke kamarnya untuk tidur siang. Byeol memang terbiasa tidur siang sejak bayi. Tidak sia-sia Chanyeol dan Baekhyun memaksanya tidur siang saat masih bayi dulu.
.
.
Chanyeol pulang lebih awal, sore ini dia sudah ada di rumah. Ia segera mencari-cari Byeol.
"Byeol masih tidur di kamarnya. Bangunkan saja, ini sudah sore."
Chanyeol segera naik dan masuk ke kamar Byeol. Kamar itu tidak pernah berubah sejak Byeol lahir. Masih dengan nuansa Rillakuma. Hanya kasurnya saja yang terus berganti mengikuti ukuran tubuh Byeol yang terus tumbuh.
Chanyeol mencium kening Byeol, "Parh Han Byeol... ayo bangun. Sudah sore." Bisik Chanyeol ditelinga Byeol.
"eeeengghhh..." lenguhnya. "Appa, sudah pulang?" suaranya berat, khas baru bangun tidur.
"Appa rindu padamu jadi Appa cepat pulang." Goda Chanyeol. "Ayo turun. Appa gendong. Appa punya sesuatu untukmu." Chanyeol mengangkat tubuh mungil Byeol, membawanya ke ruang tengah.
Sesampainya di ruang tengah, Chanyeol menurunkan Byeol dari gendongannya. Mata Byeol seperti bintang yang berkelip di malam hari, berbinar. Matanya tertuju pada sepeda cokelat yang diparkir di ruang tengah rumahnya. Masih baru. Byeol menatap Chanyeol, "Untuk Byeol, Appa?" tanyanya memastikan.
"Tentu."
Byeol segera menghampiri sepeda barunya, "waaah bagus sekali Appa..." sepedanya memang bagus. Masih dengan karakter khas Byeol, Rillakuma, dan berwarna cokelat. "Tapi Byeol tidak bisa naik sepeda." Ujarnya sedih.
"Kita akan belajar lain kali. Tidak hari ini. sekarang mandi dulu sana. Ini sudah sore." Baekhyun yang mondar mandir di dapur menengahi. "Setelah itu makan malam."
"Arasseo, eomma!" Byeol segera melesat ke kamar mandi.
"Kau juga, Chanyeol. agar Byeol tidak lama menunggumu di meja makan." Titah Baekhyun yang diindahkan oleh Chanyeol yang segera pergi mandi.
.
.
Setelah makan malam, Byeol dan keluarganya duduk di ruang TV, menonton berita. Karena Chanyeol tidak suka Byeol menonton acara hiburan di malam hari. Waktu menonton Byeol adalah pada sore hari, jadi malam hari adalah bagian Chanyeol.
'Ring.. Ding.. Dong... Ring.. Ding.. Dong...'
Bel rumah berbunyi, Byeol bangkit dari duduknya, "Biar Byeol yang buka! Siapa tau Halameoni dan Halabeoji!" ujarnya bersemangat. Padahal, tidak mungkin kakek dan neneknya akan datang semalam ini.
Byeol membuka pintu, "Eommaaaaaa, Appaaaaa, Luhan ahjumma dan Sehun Ahjussi juga Hana yang datang!" ia berteriak sambil berjalan masuk mencari kedua orang tuanya.
Baekhyun dan Chanyeol segera keluar dan menyambut keluarga Oh.
"Wah tumben datang malam-malam. Duduk, duduk. Hana annyeong." Baekhyun mempersilahkan tamunya duduk dan mengelus surai Hana yang ada dalam gendongan Sehun.
"Iya, Sehun baru pulang dari rumah sakit. Kami juga baru membelikan tas untuk Hana, karena lewat, kami mampir kemari." Jelas Luhan.
"Sebentar ya. Ah, Byeollie, ajak Hana main." Baekhyun menuju dapur untuk membuatkan minuman untuk tamunya.
"Hana ayo main bersama eonnie. Eonnie punya banyak boneka." Ajak Byeol. Hana yang mengenal suara Byeol tidak lagi berpikir untuk bermain dengannya. Hana langsung mengikuti Byeol menuju kamarnya.
Baekhyun sudah kembali ke ruang tamu dengan nampan berisi teh untuk tamunya. Kemudian ikut duduk untuk berbincang dengan yang lain.
"Byeol tidak menceritakan ia menjadi kakak yang baik di sekolah hari ini?" Sehun membuka pembicaraan.
"Byeol hanya cerita bagaimana ia di sekolah hari ini. memangnya Byeol kenapa?" Baekhyun penasaran.
"Byeol mampu membujuk Hana agar mau main dan berbaur di sekolah. Ia juga membantu dan menemani Hana untuk berbaur. Aku bersyukur Hana ada di sekolah yang sama dengan Byeol, dan bertemu dengan Byeol. Byeol memang cerdas. Dia juga mampu menarik hati dan membuat nyaman siapa saja yang ada didekatnya. Aku tidak tau bagaimana jadinya jika tidak ada Byeol kemarin." Jelas Sehun.
"Oh benarkah?" Chanyeol tak percaya, "Byeol bahkan menepis tanganku saat aku menyapanya." Tambahnya.
"Ya lihat saja sekarang, mereka sudah akrab bermain berdua. Hana tidak biasanya begitu. Sepertinya Byeol jadi teman dekat untuk Hana." Tambah Luhan.
"Sepertinya karena usia mereka tidak jauh berbeda, Byeol bisa lebih cepat akrab dengan Hana. Hana bisa merasa lebih nyaman berada dengan Byeol. Dan mungkin saja Hana tipe anak pasif, yang harus dimulai dari orang lain untuk dekat dengannya." Ujar Baekhyun. Tapi, dalam hatinya ada sedikit rasa bangga pada Byeol. Ia tak menyangka Byeol bisa melakukan hal seperti itu pada anak yang lebih muda darinya.
"Sepertinya Byeol sudah bisa punya adik." Goda Sehun.
"Ahjumma, sepertinya Hana mengantuk." Suara Byeol memusatkan perhatian padanya.
"Oh benarkah? Apa dia sudah tidur?"
"Huuuuuaaaaaaaa..." suara tangis yang pasti adalah suara tangis Hana segera menjawab pertanyaan Luhan.
"Hana harus minum susu sebelum tidur, karena itu dia menangis." Luhan mengeluarkan dot dari tas yang di bawanya.
"Hana masih minum susu menggunakan dot?" Baekhyun tak percaya.
"Biar aku yang buatkan." Sehun mengambil dot dan susu serta air panas dari termos di tangan Luhan.
"Dia tidak bisa tidur jika tidak minum susu dengan dot nya. Aku sudah berusaha menghentikannya, tapi yang ada Hana mengamuk sepanjang malam." Keluh Luhan.
"Kau tidak mencoba mengganti botolnya?"
"Sudah, Baek. Tapi Hana membuang nya dan menangis sejadi-jadinya. Dibiarkan bukannya diam malah menangis semakin keras. Aku dan Sehun tidak bisa tidur dibuatnya. Apalagi dia tidur bersama kami." Jelas Luhan.
"Kalian bahkan masih membiarkannya tidur dengan kalian?!" mata Baekhyun membulat.
"Kami sudah menyiapkan kamar untuknya, tapi dia hanya tidur disana saat tidur siang. Itu saja harus ditemani, baik denganku ataupun dengan Sehun jika siang hari Sehun sudah ada di rumah."
"Agak sulit, memang. Tapi ia akan semakin malu jika temannya tau dia masih minum susu dengan dot. Byeol dulu berhenti minum menggunakan dot karena Kyung yang sudah lebih dulu berhenti. Kau juga harus mulai keras untuk membiarkannya tidur sendirian, Lu."
"Itulah masalahnya, Baek. Aku takut Hana di ejek temannya. Ia juga tidak bisa minum menggunakan sedotan. Belum lagi lidahnya yang cadel. Mungkin karena itu juga Hana malu bergaul dengan teman sebayanya."
"Kau dan Sehun kelewat memanjakannya." Baekhyun menggeleng.
"Sepertinya kau benar. Ah! Mungkin Byeol bisa membujuknya pelan-pelan untuk berhenti menggunakan dot. Mungkin Hana akan mengikuti apa yang Byeol lakukan. Biasanya anak-anak akan mengikuti apa yang dilakukan oleh teman terdekatnya."
"Kita coba saja nanti." Baekhyun setuju. Karena Baekhyun memang tidak setuju dengan Luhan dan Sehun yang memanjakan Hana kelewat batas.
"Lu, Hana sudah tidur. Ayo kita pulang." Ajak Sehun yang sudah menggendong Hana.
"Oh, ya, Baek, Chanyeol, terimakasih jamuannya. Kami pulang dulu. Kasihan Hana dia harus sekolah besok." Pamit Sehun dan Luhan.
.
.
Byeol sudah tidur di kamarnya. Byeol sudah besar sekarang, ia akan naik ke tempat tidurnya dan segera tidur tanpa ditemani jika mengantuk. Chanyeol dan Baekhyun merasa beban mereka mulai berkurang seiring terus tumbuhnya Byeol.
Chanyeol sudahmengganti pakaiannya hanya dengan celana pendek. Baekhyun juga sudah mengganti pakaiannya dengan daster selutut. Baekhyun duduk didepan meja riasnya, membersihkan wajahnya sebelum tidur. Chanyeol memeluk Baekhyun dari belakang, "Baek..."
"Hmm.." Jawab Baekhyun singkat.
"Byeol 'kan sudah besar sekarang, mungkin Sehun benar, Byeol sudah bisa punya adik." Rayu Chanyeol.
Baekhyun melepas pelukan Chanyeol, "tidak. Mungkin Byeol sudah siap, tapi aku belum. Sudah. Aku mau tidur." Baekhyun mematikan lampu dan naik ke atas tempat tidurnya.
"Ya mungkin lain kali." Ujar Chanyeol lemas dan mengalah untuk ikut Baekhyun tidur.
.
.
END
.
.
Hallo, Hai, Annyeong, ada yang nungguin? ada yang kangen mungkin? -GAK ADAAAA, CHACHAAAAAA-
maaf untuk update yang sangat terlambat. selain kuota internet yang sudah habis dan ini numpang update, aku juga sedang mempersiapkan ujian akhir, sidang dan test masuk pasca sarjana. jadi FF ini sedikit terbengkalai :( aku minta maaf dari lubuk hatiku yang paling dalam. jujur aja aku ngakak banget pas ada yang nanya "Berhenti kenapa? Mau nikah ya?" xD ahahahaha belum... aku belum mau menikah. doakan saja secepatnya ya biar aku gak terus-terusan ngayalin oppa xD ehehehehe
terimakasih sudah membaca FF ku sampai di chapter ini. banyak chapter yang sudah jadi 80% yang harusnya aku post sebelum chapter ini, tapi aku skip setelah pertimbangan yang begitu panjang. untuk yang minta adik buat Byeol, akan aku konsultasikan dlu sama Chanyeol & Baekhyun, ya :D untuk yang minta NC sebelum Ramadhan, sorry aku gak bisa. aku gak ngerti mau nyelipin NC nya dimana ehehehe setelah Ramadhan aja kali ya biar yang puasa gak ngelempar aku pake petasan xD
setelah ini aku akan sibuk untuk mempersiapkan hal-hal yang sudah aku sebutkan tadi, dan rencananya bulan Agustus atau September aku sudah mulai kuliah (lagi). dan karena aku akan sangat sibuk, aku gak janji buat terus update dengan waktu yang stabil seperti sejauh ini. aku gak bilang FF ini akan aku berhentikan, tapi aku mungkin akan update sesuai dengan waktu luang dan mood ku. yaaa kalau aku nulis, pasti aku update. kalo ngga, ya ngga. aku minta maaf dengan sangat.
aku akan segera mengakhiri "MY LOVE NEXT DOOR", segera. mohon maaf untuk keterlambatan updatenya.
aku mohon pengertian dan aku minta maaf yang sebesar-besarnya. terimakasih dukungan dan review nya selama ini. aku mencintai kalian semua. saranghaeee!
reppview:
younlaycious88 : terimakasih selalu setia untuk membaca FF ku yg absurd ini T_T maafkan untuk mempercepat waktunya. terimakasih yaa...
babogacha : iya, sih, unyu. tapi kalo anak anjing tetep aja aku merasa berdosa T_T hiks iya pasaran emang. tapi setiap Chacha atau Cacha atau Chaca yang lahir ke dunia pasti punya ciri khasnya masing-masing :D udah aku kasiin ya umurnya sekarang berapa :))
BaekhyunSaranghaeHeni || oh chaca || ruixi1 || ChanHunBaek || Taman Coklat || XOXO KimCloud || byunyeolliexo || edifa || NopwillineKaiSoo || Deeaahun || kimna || narsih556 : terimakasih banyak, gaes. aku baca semua review kalian dan terharu banget masih ada yang nulis "next!" padahal FF ini absurd banget :") makasih, gaes. FF nya sudah aku update, ya :D aku akan berusaha tetap menulis di tengah-tengah semi-hiatus. aku usahakan, tapi nggak janji, ya :))
panypany : aku usahakan untuk tidak menggantung jalan cerita FF ku dan menyelesaikan semuanya sebelum benar-benar berhenti :)) terimakasih ;))
exindira : hmm aku msh belum kepikiran mau buat adik untuk Byeol ahahaha
cbthirdperson : iya gapapa makasih ya masih tetep baca dan review :)) hmm momentnya? aku membuatnya begitu saja jadi maklumi deh kalo banyak kurangnya ya :D
parkbaekyoda92 : banyak ya yang minta adik untuk Byeol xD ntar deh aku rapatin dulu sama Chanyeol & Baekhyun kekekeke yah aku udah berusaha sebaik mungkin, dan mempertahankan ciri khasku dengan menetapkan beberapa hal sesuai kenyataan :D aku juga ga nyangka kalo kamu mengerti soal penerapan marga :D aku bersyukur masih ada beberapa reader yang mengerti soal itu :D terimakasih ya :D
Kala || jdcchan || Nanda yusri : ahahaha abis aku shock banget ternyata Byeol itu nama anjingnya Bang Suho ahahaha dan untungnya, aku baru tau kemarin, kalo ada artis yang emang namanya Park Han Byeol. istrinya Ha Ha (member running man) juga namanya Byeol xD jd aku merasa lebih tenang sekarang ahahaha soal jamu, aku sudah kehabisan ide dan itu muncul begitu saja. anggap aja gitu deh ya ya xD
windadinar96 : terimakasih banyak T_T aku jadi terharu baca review kamu T_T *elap ingus* makasih yaa.. sukses juga buat kamu :))
VAAirin : ahahahaha iya bener banget xD gak ada yang lebih mempesona di mata Chanyeol kecuali Baekhyun kkkk~ kayaknya mata Chanyeol udah di pakein kacamata kuda sama Baekhyun kkkk~ untuk adik Byeol, gue konsul dulu ya sama Baek & Chanyeol. udah siap apa belom ehehehehe gue pengennya ga berhenti nulis. hmm mungkin gue gak berhenti, cuma lebih jarang update aja :D makasi yaa! saranghaeee! :* smoch
exodusuho : duh :( semoga kedepannya nilai kamu lebih baik, ya :) semangat! gagal sekali, gak boleh buat putus asa. gagal berarti kamu harus bangkit dan lari lebih kencang! oke?! Fighting! ;)
akhir kata, (maybe it's too early but better than never) untuk yang akan menjalankan ibadah puasa, selamat menyambut bulan suci Ramadhan, Chacha mengucapkan mohon maaf jika pernah ada salah kata, atau kelewatan disebut di review. semoga ibadahnya lancar, dan pahala nya melimpah! amiin :))
sampai jumpa, ya! jangan lupa tinggalkan review.
Love,
ChaCha
