Chapter 2: Something Odd in the Chamber of Secret
"Harry, antar aku ke tolet Moaning Myrtle, ya? Scabbers kabur ke sana lagi!"
"Tidak mau."
"Come on, mate..."
Harry mendengus jengah. Sudah beberapa langkah meninggalkan Ron, tetapi si laki-laki berambut membara itu malah menarik jubahnya dari belakang—menariknya paksa dan membawanya ke tempat yang di maksud.
Sungguh, Harry bingung mengapa sahabatnya ini khawatir sekali pada Scabbers. Padahal, peliharannya itu sering mesum—nyaris menggigit barang berharganya atau bersembunyi di balik sempak. Tapi, lihat, Ron malah mencarinya. Git.
"Bloody Scabbers! Kau di mana?" Ron berteriak sembari merangkak menjelajahi setiap closet untuk mencari tikus dekil yang—menurut Harry—wajahnya jelek sekali.
Sementara Harry bersandaran malas di ambang pintu toilet dengan tangan dilipat di depan dadanya. Hanya menyaksikan Ron galau yang kehilangan peliharaannya tanpa membantunya sama sekali. Duh. Sudah dibilang ... Harry sedang malas, ingin segera tidur, dan please untuk tidak mengganggunya karena detensi bersama Prefek Slyterin yang sialan itu melelahkan mentalnya, literally.
Oh, omong-omong tentang detensi yang Snape—oh, Professor Bloody Snape—berikan, sungguh sebuah detensi. Mengurutkan nama-nama bocah bengal yang pernah melanggar aturan di Hogwarts sihbukan masalah—oke, meski menulis dan mengurutkan ribuan nama yang pernah melanggar Hogwarts tanpa sihir itu memang sinting—tapi, yang jadi masalahnya pengawas yang diutus si Hidung Bengkok itu.
Tom Marvolo Ri—
"Psst! Ron!" Harry setengah berbisik, jelas sekali di raut wajahnya terlihat gelisah. "Ayo pulang!"
Ron dengan tampang bodoh menatap Harry heran. "Aku belum menemukan Scabbers, mate. Ada apa, sih?"
Rasanya Harry ingin menghantam kepalanya ke tembok sekarang juga karena memilki teman yang kurang peka itu merepotkan. Kedua mata emerald-nya melotot seram ke temannya yang, duh, idiot. "You git! Kita. Harus. Pergi. Dari. Sini!"
"Kenapa?"
"Ada Ridd—"
Shoo!
Merlin! Rasanya Harry ingin merapalkan Avada Kedavra sekarang juga. Kalimatnya terpotong karena tiba-tiba hantu culun menyedihkan keluar secara sontoloyo dari closet membuat Harry nyaris berteriak kaget. Tapi, si hantu itu, Moaning Myrtle, malah nyengir tak berdosa. Oh, iya, 'kan dia hantu. Buat apa Avada Kedavra, kalau begitu?
"Hei, kalian bocah bengal! Datang kemari mau mengintipku, ya?" Kata Moaning Myrtle seduktif. Badan transparannya menyenggol bahu Harry, membuat pemuda berambut hitam berantakan itu bergidik ngeri—jijik.
"Najis!" Gerutu Harry dalam hati. Yakin, kalau Myrtle bisa mendengar isi hati Harry akan menangis sejadi-jadinya. Tapi, yang keluar dari mulutnya malah—"Aku mohon jangan berisik, Myrtle."
Mata hijaunya mengintip seseorang yang berada beberapa meter di balik punggung transparan si hantu. Penasaran, Myrtle kepo—mengikuti arah pandang Harry.
Dengan senyum menyebalkan yang ingin sekali Harry hajar—kalau dia tidak transparan—Moaning Myrtle menggoda Harry. "Wow, dia tampan. Kausuka?"
What the—!
Pembuluh darah di wajah Harry membengkak seketika setelah mendengar pertanyaan iseng hantu sialanitu. Tidak perlu cermin—kalaupun ada Harry tidak akan menggunakannya—karena Harry yakin tanpa melihat cerminpun pipinya memerah mirip babi. Oh, iya, dan ingat memerah bukan karena salah tingkah atau apa.
"Oh, bloody hell!" Ron menyeringai lebar, menahan tawa. "Siapa yang dia maksud?"
"Shut your bloody mouth up, Ron!" Balas Harry keki.
Ron masih berusaha keras untuk tidak tertawa karena melihat wajah Harry yang, wow, memerah. Dan saking kesalnya, Harry hanya menggerlingkan mata sebal, lalu pergi tanpa berkata apapun meninggalkan toilet perempuan.
"Hei, Harry! Tunggu akuuuu!" Ron berteriak mengejar si rambut super berantakan itu. "Kau sialan! Scabbers belum ketemu!"
"Sorry to say, Scabbers hilang bukan urusanku."
"Merlin! Kau kenapa, sih?"
Harry berhenti berjalan, berbalik ke arah Ron. Tersenyum sarkastis, kemudian menjambak rambut merah sahabatnya. "Di sana ada si Riddle, twit!" Kata Harry pelan sembari curi pandang ke belakang Ron—takut kedengaran orang. "Kalau dia melihat kita, poin Gryffindor pasti dikurangi lagi."
"Ya ampun! Kau takut, eh?"
"Takut? Ha-ha. Jangan bercanda, Ron! Aku hanya tidak mau kalau besok saat detensi, dia menggodaku yang tidak-tidak lagi."
Alis merah Ron berkedut. "Menggoda?"
Ups!
Wajah Harry mendadak pucat. Dalam hatinya ia berteriak frustasi—Harry begoooooooo!—tapi, pemuda beriris emerald itu berusaha keras untuk terlihat kalem.
"Err ... ma-maksudku, yah ... be-begitu. Oh, bukan menggoda seperti yang kau pikirkan!"
Ron semakin menyunggingkan ujung bibirnya. "O, ya?"
"Shit!"
Harry berbalik, kembali melangkahkan kakinya menuju asrama Gryffindor dan mengabaikan Ron yang tertawa di belakangnya. Dan Ron mengejar Harry meski kakinya terasa lemas karena geli. Ah, Ron sudah masa bodoh dengan Scabbers—paling nanti Scabbers pulang sendiri, seperti biasa. Karena menggoda Harry lebih menyenangkan daripada mencari tikus itu.
"Oh, ya, omong-omong mau apa si Riddle di toilet perempuan?"
Misery Future
Harry Potter © J.K. Rowling
Tom Riddle Jr. x Harry Potter
Word count: 3k+
Warning: OOC overload, slash, mild-language, canon divergence, alternate age (khusus buat Tom), tyop(s)/misstype(s), slow build relationship, troll, alay, gaje, etc.
And I give my biggest thanks for Aurorafalter, Estrella Es-teller, Blukang Blarak, Kim Ri Ha, flawlesshand, AR Keynes, sherry dark jewel, Guest, potter15, Incredible Z, Loony, ms. M, Malachan12, Malachan Black, Kriwil, Hwaiting 93, Jim, Noe Hiruma, Jaringan Eror, shin is minoz, Shin234, lilywiwin17, fav/follows, and silent reader(s).
Dislike? ctrl + f4
Happy reading and meet your shitty day! ehehe
and ...
HAPPEE BIRTHDAE HARRY
2 hours earlier
Harry berkali-kali mengerling jam besar di dinding. Rasanya jam itu bergerak separo lebih lambat daripada jam yang biasa. Barangkali Riddle sudah menyihir agar jam itu berjalan ekstra lambat? Mana mungkin sih dia baru berada di sini selama setengah jam … satu jam ... satu jam setengah...
"Sampai mana?" Tanya Riddle tulus, tapi bagi Harry terdengar meledek.
"Kaupunya mata." Balas Harry sarkastis tanpa menoleh ke Prefek Slyterin tersebut—tetap berkutat dengan tinta dan perkamennya (menuliskan nama-nama).
Tanpa Harry tahu—karena matanya fokus menulis—Riddle menyeringai. Laki-laki bermata kelam itu menunduk, menjajarkan matanya dengan kepala Harry.
"Wow, anaknya menulis nama Bapaknya sendiri." Celetuk Riddle yang berhasil membuat darah mengepul di ubun-ubun Harry. Tapi, Harry tetap tidak mempedulikannya. "James Potter memang paling hebat. Seharusnya dia mendapat penghargaan 'Gryffindor Terbengal' atau maha-karyanya—menjahili setiap penghuni Hogwarts—dibuat tropi dan di—"
Untaian ejekan Riddle terhenti begitu Harry tiba-tiba mendongak. Mata onyx-nya berbentrokan dengan dua keping zamrud Harry. Pemuda Gryffindor itu yakin kalau Riddle bisa merasakan tatapannya begitu tajam, tapi ... ia kembali menunduk—menulis nama-nama.
"Mulut orang-orang banyak membual tentangmu dan Ayahmu." Riddle mulai lagi. Harry risih. Mengapa Riddle yang bersamanya saat ini sangaaaaaat keluar dari karakternya, sih? "Mereka bilang kalian mirip, tapi bagiku tidak sama sekali."
Harry mengembuskan napas. Berusaha keras untuk tidak mencolok mata si Prefek sialan ini dengan tongkatnya. Tidak menghiraukan Riddle, karena baginya perkamen dekil lebih menarik dari seorang Riddle yang sangat menyebalkan.
"... Ayahmu berantakan, sementara kau manis."
CROOOT!
Harry tersedak udara tiba-tiba. Bulu burung elang yang menjadi penanya mencoreng liar perkamen dekil yang telah Harry tulisi nama-nama dengan rapi. Dan dua emerald Harry membelalak melihat tinta hitam yang tadi tenang di tempatnya, keluar berhamburan, berlarian brutal membasahi perkamen-perkamen lainnya.
Demi sempak Merlin, Harry benar-benar ingin meninju Riddle sampai hidungnya sebengkok Snape! Lihat, karena si brengsek itu berisik, membuat lima perkamen yang sudah ditulisi nama-nama—sekitar hampir lima ratusan nama—ternoda tinta hitam. Kalau begini 'kan mau-tidak-mau Harry harus mengulangnya lagi. Bangsaaaat!
"KAU!" Teriak Harry murka, mengacungkan tongkatnya tepat ke hidung Riddle. "Mati sanaaaaa!"
Dengan tampang setenang Fluffy yang mendengar suara harpa, Riddle menyingkirkan tongkat Harry yang seolah-olah memberi jari tengah padanya.
"Hei, kaulupa, tidak boleh memakai sihir, lho." Kata Riddle kalem, tapi nadanya bikin Harry muak. "Ingat. De-ten-si. Snape bakal mencabik-cabikmu kalau kau ketahuan melanggar aturan."
"Peduli setan!" Harry kembali mengacungkan tongkatnya. "Furnicul—"
"Immobulus!" Gerakan Harry dibekukan oleh mantra yang keluar dari mulut Riddle. Dan Harry bisa lihat ujung bibir si Riddle itu mencuat ke atas—menyeringai. Kurang ajar!
Riddle, yang masih mengumbar senyuman luar biasa brengseknya, duduk manis tepat di seberang Harry yang kentara sekali sudah tidak tahan ingin menendang bokong laki-laki tampan berambut hitam itu.
"Eh, kutarik omonganku tadi, deh." Lagi. Riddle cari ribut lagi. "Kau memang mirip James Potter, Harry. Keras kepala; nakal." Dia tersenyum mirip setan, membuat Harry mengerutkan dahinya. Kemudian melanjutkan, "Kalau begitu ... kuambil 25 dari Gryffindor karena merapalkan—oh, sori, nyaris merapalkan mantra dan sudah berbuat tidak sopan pada senior. Hehe ..."
Mata kodok Harry melotot dahsyat mendengarnya. 25, katanya? Sampah! "Dasar setan! Ular licin! Dementor!" Harry mengumpat kesal, nyaris meninju wajah tengik Riddle kalau dia tidak ingat detensi dari Snape. "Kusumpahi kau bisulan!"
"You're welcome, Potter." Balas Riddle, tengil.
"Nitwit!"
Di atas kepala Harry sudah mengepul asap pekat secara imajiner saking kesalnya. Ingin sekali rasanya siswa Gryffindor berambut amat berantakan ini meng-expluso si Prefek Slyterin itu agar hancur berkeping-keping. Ah, tapi, lupakan tentang sihir. Snape memang sialan kalau memberikan hukuman.
Jadi, daripada meladeni Riddle, Harry lebih baik kembali duduk dan menulis. Ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa Riddle hanyalah anak tujuh-belas tahun pengidap sakit jiwa. Meski amarah berkecamuk di benaknya karena harus mengulang lima perkamen. Duh.
.
"Wingardium Leviosa!"
Harry menangkap suara Riddle. Ketika kepalanya mendongak sedikit; ia melihat Riddle sedang iseng menerbangkan kertas-kertas yang ditumpuk di atas loker. Cih. Harry beranggapan kalau Riddle sedang cari perhatian. Jadi, yah, Harry hanya mengangkat bahu.
"Wow, aku beruntung jadi penyihir." Riddle bersuara lagi. "Meski Ayahku seorang Muggle bajingan, untungnya aku bukan Squib. Dan, oh, betapa senangnya bisa melakukan sihir ketika seseorang dilarang memakainya."
Wow, sarkasme. Harry muak.
"Licik!" Gerutu Harry dengan suara amat kecil sembari menulis.
"Aku Slyterin. Ingat?"
Oh, rupanya dia mendengarnya. Shit.
Iris hijaunya kembali melihat jam dinding yang bertengger di dinding. Sampai kapan penyiksaannya ini selesai? Tidak nampak tanda-tanda kalau jarum pendek akan berhenti di angka tiga—seolah-olah jam itu mati, padahal hanya tinggal lima belas menit lagi. Tapi, kok...?
Saat itu juga Harry melakukan dosa karena suudzon pada Riddle—menduga kalau dia benar-benar menyihir jam tersebut agar bergerak amat lambat.
Meski sudah jenuh setengah mati, Harry memaksakan tangan kanannya untuk menulis nama-nama lagi—demi mengakhiri detensi bersama si Prefek sialan itu. Kali ini ia lebih cepat. Masa bodoh dengan tulisannya yang mulai menggila—tidak rapi—, yang penting hari ini harus selesai sekitar seribu nama. Pokoknya detensi sialan ini jangan sampai lebih dari seminggu...
Teng!
Suara yang amat ditunggunya akhirnya berdenting dan membuat hatinya menjerit senang. Dia melirik jam menunjukkan angka tiga. Itu artinya, untuk hari ini, detensi Harry selesai.
"Tandai sampai mana," Kata Riddle, sepertinya dia sudah kembali ke sifat asalnya. "besok dilanjut."
Harry dengan semangat—karena akhirnya dua jam siksaan bersama Riddle selesai juga—merapikan meja; menjejalkan daftar nama ke dalam kotak sedang di ambang pintu Riddle yang menunggunya diam-diam menyeringai mengerikan.
"Seringaianmu jelek!" Sindir Harry tiba-tiba dengan suara dingin.
Rupanya Harry sempat meliriknya. Riddle hanya tersenyum (sok) gentle bermaksud sarkasme. Kemudian Harry keluar, tanpa berkata apa-apa lagi pada Riddle yang sedang mengunci pintu gudang.
"Kau menarik perhatianku, Potter."
Kalimat random-nya berhasil membuat langkah Harry terhenti, kemudian berbalik dan mengernyit heran. Orang sinting itu lagi. Ah ..., Harry mengedikkan bahunya masa bodoh, lalu berlari mencari Ron.
Current time
"Ceritamu masih belum apa-apa dibanding denganku," Komentar Ron sombong setelah Harry selesai cerita tentang detensinya yang lebih buruk dari mimpi buruk.
Mereka berdua kini ada di perjalanan menuju menara Gryffindor setelah berkelana mencari Scabbers namun nihil malah bertemu dengan Seseorang-yang-Sangat-Harry-Hindari. Sepanjang perjalanan, Ron terus berceloteh bagaimana detensinya bersama Filch yang menurutnya lebih beruntung dari teman sekamarnya ini. Sampai akhirnya mereka sampai di depan lukisan Fat Lady, Ron masih punya tenaga untuk bercerita.
"Setelah itu ... kautahu, Harry—"
"Pig snout." Gumam Harry sembari enggan mendengar Ron, kemudian lukisan yang berada di hadapannya itu mengayun, mempersilakan mereka masuk.
"—Peeves membanjurnya dengan air dan menculik Mrs. Norris. Whoaaa, bloody brilliant Peev—"
"Ron! Harry!" Suara teriakan Hermione Granger—sahabat mereka yang lain—memotong kalimat Ron, membuat kedua laki-laki ini berhenti berjalan dan saling tatap tidak mengerti.
"Kenapa?" Tanya Harry bingung, karena wajah gadis berambut cokelat ngembang itu terlihat panik, dadanya juga terlihat naik turun dengan cepat—tidak biasanya.
"Hei, kalian dari mana saja, sih?" Tanya Hermione (yang sebenarnya lebih terdengar umpatan daripada pertanyaan), "Tolong bantu aku. Ini penting."
Ron mengakat sebelah alisnya; heran—tumben manusia yang katanya jenius luar biasa ini meminta tolong pada temannya yang dianggap merapalkan wingardium leviosa pun tidak becus. "Serius pemilik kucing jelek ini meminta bantuan padaku?" Tanyanya, tengil.
Hermione menggerlingkan mata sebal. "Maaf saja, ya, pemilik tikus sialan ..., aku meminta tolong pada Harry!"
"What the—kau tadi berteriak memanggil namaku juga!" Ron mulai berang.
Sementara Harry yang kebetulan posisinya berada di tengah tidak tahan untuk memijit pelipisnya yang berdenyut pusing kalau melihat Ron dan Hermione sudah bertengkar, dan, oh, bisa berabe untuk membuat mereka akur kembali.
"Sudah, dong ..." Harry mengeluh malas. "Masalah sepele saja sampai ribut, blimey!"
Ron dan Hermione sama-sama buang muka dan saling mengumpat dengan suara sangat pelan. Bukannya sok bijaksana atau apa (lebih jujurnya lagi, sebenarnya Harry masa bodoh kalau mereka bertengkar), demi Tuhan ia hanya ingin istirahat. Melihat mereka bertengkar itu sama saja membuang waktu. Harry menghempaskan napas berat sembari memutar bola mata, sebal. "Asal kalian tahu, tanganku seperti patah menulis seribu nama dalam dua jam. Jadi, aku ke kamar dulua—"
"No way in hell, Harry!" Sembur Hermione galak, langsung menarik jubahnya begitu Harry nyaris melangkahkan kaki menuju kamar. "Bantu aku dulu sebentar."
Harry menghela napas, "Ada Ron." Katanya enteng yang segera dibalas pelototan seram dari Hermione. Tapi, karena tatapannya mengerikan, Harry terpaksa mengalah. "Oke. Apa?"
"Ada sesuatu yang harus kulakukan dan ini gawat sekali. Jadi, aku harus meminjam time turner milik Dumbledor untuk menyelesaikan masalah ini."
"Time turner?" Harry mengerutkan dahi, tidak tahu.
"Benda yang dulu kita pakai untuk menyelamatkan Buckbeak." Jawab si gadis bergigi renggang tersebut gemas.
Harry mengangguk (sok) paham. Ron menguap. Dan Hermione berusaha untuk tidak terpancing emosi melihat tingkah menyebalkan si rambut merah itu.
"Aku harus apa?" Tanya Harry malas. "'Kan kau tinggal minta Dumbledore. Beres. Apa lagi?"
Hermione memutar bola mata sebal, mendecih. "Masalahnya, benda itu ada di Tom Riddle!"
Cough!
Harry tersedak udara tiba-tiba begitu mendengar nama yang paling enggan ia dengar. Apa-apaan Hermione meminta pertolongannya untuk meminjam benda yang ada di si monster brengsek asal Slyterin itu. Lebih baik Harry mati dipatuki Hippogrif daripada harus berurusan dengan Riddle!
"Maaf saja, ya, kalau berhubungan dengan Prefek Slytherin yang itu, aku tidak bisa bantu." Kata Harry defensif, buru-buru melangkahkan kedua kakinya menuju kamar. Tapi—sialan. Tangan Hermione lebih cepat menarik jubahnya (lagi) hingga ia nyaris terjungkal. Bonusnya, iris cokelat yang tampak menawan itu terlihat jauh lebih mengerikan begitu bertemu dengan iris hijaunya. Harry menghela napas putus asa, "Why always me?"
"Jangan mencuri line-nya Neville, Potty!" Hermione sewot, masih mencengkram jubah Harry. "Demi Tuhan, kau tega sekali tidak mau membantuku." Lanjutnya, memasang wajah andalan setiap gadis—memelas sampai membuat laki-laki luluh.
Lagi-lagi anak tunggal dari Tuan Prongs ini tidak tahan untuk mengembuskan napas jengah. Bagaimana juga, Harry James Potter, sebagai laki-laki tidak boleh membuat seorang perempuan menangis—apalagi ini Hermione. Memalukan kalau hal itu sampai terjadi. Yah, intinya man pride Harry kelewat besar. Dia hanya tidak mau kalau Lavender Brown menyebarkan gosip yang aneh-aneh—seperti, apa yang telah kaulakukan pada Granger, Potter? (pertanyaan bermakna ambigu yang ada di otak level standard Lavender).
Bloody hell, kenapa Hermione harus memasang ekspresi begitu, sih?
"Bukannya tidak mau, tapi, yah ... kenapa harus aku?" Harry mengeluh, mencoba melepaskan cengkraman Hermione pada jubahnya.
"Kaukenal dia. Yah, setidaknya akan lebih mudah meminjam."
"Lucu, Hermione. Aku hanya menjalankan detensi dan itu berarti aku mengenalnya? Bloody git!"
Hermione hanya menyunggingkan ujung bibirnya dan mengedikkan bahu, "Oh, oke, kalau begitu ..., aku tidak akan pernah membantumu mengerjakan PR dan tidak akan menolongmu lagi di pelajaran Ramuan—pelajaraan Snape." Katanya dengan ekspresi songong, kemudian melangkahkan kaki menuju pintu keluar.
"FINE, Hermione! FINE!"
xoxoxo
Dengan ogah-ogahan seeker hebat dari Gryffindor itu mencari keberadaan Prefek kesayangan Snape ke asramanya, Slytherin. Dari awal harusnya Harry sudah sadar kalau mendekati asrama ular itu merupakan tindakan paling tolol. Buktinya, dia malah bertemu dengan tiga manusia dungu yang sering merengek. Si Malfoy dan antek-anteknya, Crabbe dan Goyle. Cih, kalau saja si Ferret manja itu bukan anak kesayangan dear yang tampan—yuck—Harry sudah melucuti celananya. Ah, lagipula berurusan dengan ketiga makhluk imbisil itu akan membuatnya terkena detensi lagi.
Jadi, kedua kaki Harry putar balik menjauhi asrama Slytherin; mengabaikan ejekan manis yang dilontarkan oleh Malfoy cs. Duh, benar-benar, deh, Harry membenci Snape dan anak-anak Slytherin-nya yang semua wataknya di luar batas pemikiran Harry. (Yah, termasuk anak kesayangannya selain si Malfoy, yaitu ... Riddle. Eww.)
Oh, persetan juga dengan Ron Weasley. Kalau saja anak dari Pak Arthur itu tidak membuat seorang Hermione Granger keki, mungkin saat ini Harry akan ditemani dengannya. Yah, hitung-hitung bisa membalas ocehan sampah Malfoy dan dua kroninya, 'kan? Sementara Hermione malah menghilang dengan alasan masih ada kelas Rune. Sialan.
Setelah menjauhi asrama ular tersebut, otak Harry yang biasanya dipadati oleh latihan Quidditch—oh, astaga, mengapa tadi tidak alasan latihan Quidditch saja, sih?—sekarang terpaksa memikirkan di mana si Tom Riddle Junior berada. Merepotkan, serius.
Terus berpikir ...
Terus berpikir ...
Terus berpi—oh, kedua mata kodok Harry tiba-tiba membulat begitu ingat di mana terakhir kali ia melihat si Prefek Slytherin tersebut. Toilet perempuan yang sudah tidak terpakai di lantai dua.
Harry langsung bergegas ke toilet yang juga merupakan tempat bersemayamnya si hantu genit Moaning Myrtle. Diam-diam Harry menyeringai karena otaknya berpikir kalau Tom Riddle punya fetish pada si hantu ganjen itu. Yah, mengapa si Riddle mengunjungi toilet perempuan yang tidak terpakai itu coba? Oh, dan lagi dia itu laki-laki.
Pemuda Gryffindor itu sudah tidak sabar ingin sampai toilet dan memergoki Tom Riddle sedang ciuman dengan Moaning Myrtle. Yah, semoga saja dugaan liarnya benar karena dengan senang hati Harry akan meledeknya habis-habisan di detensi hari kedua besok. Tapi—
BRAK!
Begitu Harry membuka pintu, yang kedua iris zamrudnya lihat tidak ada siapa-siapa. Baik Riddle maupun Myrtle. Laki-laki berkacamata bulat itu mendengus kecewa. Ia berjalan gontai menyusuri seisi toilet dan—
"MERLIN! APA YA—bisa tidak untuk tidak muncul di hadapanku tiba-tiba, Myrtle?"
Harry mengelus dada secara mental begitu Maoning Myrtle hanya terkekeh melihat wajah Harry yang memucat akibat ulahnya yang tiba-tiba muncul dari closet. Inginnya Harry mengabaikan hantu itu dan mencari Riddle—siapa tahu dia masih di sini, pikirnya—tapi Myrtle malah memblokir jalannya.
"Apa lagi?" Tanya Harry berang.
Myrtle masih terkekeh, kemudian tersenyum seduktif dengan kebiasaan menggelikannya—senggol-senggol Harry, "Kau mencari si tampan itu, bukan?"
Blush!
Entah mengapa pertanyaan yang dilontarkan Myrtle membuat pipinya memanas. Duh, sialan. "Aku cuma mau meminjam time turner milik Dumbledor, kok." Jawab Harry buru-buru.
"Serius? Tidak penasaran apa yang dia lakukan di sini?"
Mata Harry langsung memicing begitu mendengar pertanyaan terakhir Myrtle. Tentu saja dia penasaran. Hanya saja ... yah, harga dirinya terlalu tinggi untuk mengaku.
"I. Don't. Give. a. Shit. Mana dia?"
"Wah, wah, kalem Harr—"
Harry langsung membekam mulut Myrtle—dia lupa kalau Myrtle transparan—begitu melihat Riddle di hadapan wastafel. Ia mengernyit untuk memastikan apa yang sedang dilakukan Rid—tunggu. Harry mendengar sesuatu yang aneh keluar dari mulut Prefek yang tengah mengalungkan time turner milik Dumbledor itu ... ngobrol sendiri? Oh, bukan. Dia mendesis. Sinting!
Kemudian Harry menyingkirkan tangannya dari Myrtle—sehabis mendekap tadi—lalu berjalan menghampiri Riddle. Namun, belum sempat bertegur sapa—atau, yah, setidaknya Riddle belum melihat Harry—siswa Slyterin itu tiba-tiba masuk ke dalam wastafel yang ternyata sebuah lubang besar.
"Oh, twit! Riddle, kembali kau!" Teriak Harry murka karena sedikit lagi benda yang dicarinya untuk Hermione itu berada di tangannya tapi malah dibawa oleh si Riddle.
Pemuda berambut hitam semrawutan itu mendengus (lagi) dan akhirnya duduk di lantai menunggu cucuk Marvolo itu kembali. Kalau saja ancaman Hermione tidak mengerikan—tidak akan membantunya lagi di pelajaran Snape—demi bulu dada Merlin, Harry tidak mau mengejar Riddle seperti ini. Cih.
"Hei, kau masuk saja ke dalam, Harry." Suara Moaning Myrtle membuat Harry mendongak, menatapnya skeptis. "Kau bisa parseltongue, 'kan?"
"Par—apa?"
"Parseltongue, Harry. Bahasa ular. Duh."
Harry berpikir sejenak, tapi karena tidak menemukan jawaban akhirnya ia bertanya, "Kapan aku bisa berbahasa ular? Memangnya aku orang gila apa ngomong mirip ular begitu."
"Aku tidak tahu kalau kau sedungu ini, Harry. Saat melawan Malfoy, kemarin, eh. Walaupun aku hantu tapi aku tahu apa yang terjadi di Hogwarts. Kau jadi artis sehari karena terkenal kalau kau itu parselmouth. Oh, jangan-jangan kau dengan si tampan itu ... jodoh?!"
Jodoh? Ew! Harry mendecak kesal, kemudian bangkit dari duduknya. "Jodoh pantatmu! Mana mungkin aku dan si brengsek itu berjodoh!? Jangan ngaco ah!" Katanya, yang malah membuat Myrtle terkikik sembari melayang-layang di udara.
"Wow, kau bisa saja bicara begitu sekarang, Harry." Balas Myrtle sedikit—sumpah—terdengar menyebalkan di telinga Harry. Apa maksudnya coba? "Mungkin beberapa tahun ke depan kau akan menelan omonganmu sendiri, hihihi ...,"
Kerutan di dahi Harry semakin kentara mendengar pernyataan absurd Myrtle barusan. "Sumpah, aku enggak ngerti sama sekali."
Myrtle yang melayang-layang ke seluruh penjuru toilet dan berakhir di closet, tersenyum—atau menyeringai?—seduktif. "Eh, kalau kau tidak percaya, masuk ke sana dan buktikan sendiri!" Kata si hantu itu sambil mmenunjuk lubang besar yang tadi Riddle lompat ke dalamnya.
Ekspresi Harry masih sama seperti sebelumnya—clueless. Tatatapannya seolah-olah bertanya: memangnya ada apa di dalam sana? Dan Myrtle dengan gilanya menerobos tubuh Harry, lalu menjawab, "Entahlah, aku tidak tahu persis. Tapi, aku berani sumpah, aku rela dikejar-kejar Bloody Baron kalau aku bohong,"
"Iya, kenapa?" Tanya Harry gemas—tidak sabar.
"Aku melihat dia menyimpan sesuatu di dalam sana. Yah, semacam baskom berisi sesuatu berwarna keperakan." Lanjut Myrtle, matanya menghadap ke atas—mencoba mengingat-ingat sesuatu. "Oh, asal kau tahu, isinya ternyata bukan ramuan atau semacamnya, tapi aku melihat kau, Harry!"
Harry mendadak tersedak. "Sori?"
"Demi Merlin, kau mendengarku!" Myrtle sewot. Tetapi, entah mengapa wajah menyebalkan yang dari tadi sering cekikikan itu, sekarang terlihat agak murung—yah, sesuai julukannya, sih, Moaning Myrtle. "Tapi ..., ketika aku ingin mengintipmu lagi di dalam sana, ada monster sialan yang membuatku trauma berurusan dengannya."
Laki-laki berambut amat liar itu semakin tidak mengerti arah pembicaraan mereka. Dia berusaha keras untuk tidak mengacak-acak rambut hitam berantakannya karena terlalu pusing. "Monster apa? Kalau yang kaumaksud itu si Riddle, well, dia memang monster tersialan sepanjang masa."
"Bukan, bukan ..., tapi semacam ular, mungkin? Karena dua kali aku pernah bertemu dengannya dan itu kesialan fatal."
"Eh?"
"Pertama, aku mati. Kedua, meskipun hantu, tubuhku beku karena tidak sengaja melihat matanya."
Oh. OH—jadi, si monster ini penyebab Myrtle mati? Omong kosong. sampah. Monster macam apa itu bisa membuat orang kehilangan nyawa bahkan hantu sekali pun dibuat tidak bergerak hanya dengan menatap matanya. Ah, tapi Harry tidak mungkin mengutarakan komentarnya pada Myrtle, takut-takut si hantu cengeng itu malah menangis dan menyerangnya. Yang jelas, yang Harry bisa simpulkan, Riddle memang orang sinting yang bersembunyi di ... apa namanya ini? Chamber of Secret?
"Konyol!" Cibir Harry, kemudian mengintip lubang yang tadi dimasuki Riddle. "Apa-apan maskudnya Riddle masuk ke dalam sana dan kaubilang tadi ada monster? Dia tolol atau bagaimana? Mau cari mati atau—"
"Shhh, Harry. Sudah kubilang, kalau kau tidak percaya, yaaa masuk saja ke sana." Sanggah Myrtle, memotong kalimat laki-laki penggila Quiddtich itu.
Harry yang merasa bosan—Ruddle tak kunjung datang—dan juga kesal—hell, apa-apan maksud Myrtle ada Harry di dalam baskom?—akhirnya memutuskan untuk melompat ke dalam lubang sana. Ia ingat kata Myrtle kalau ia bisa bahasa ular. Yah, kalau ada ular atau sebangsanya, siapa tahu Harry bisa mengajaknya akur, 'kan?
.
Rasanya seperti meluncur di luncuran gelap, licin, tak berujung. Dia bisa melihat pipa-pipa yang bercabang ke segala arah, tetapi tak satu pun yang sebesar pipa yang diluncurinya—yang tadi Harry kira lubang besar. Pipa itu berbelit dan berbelok, melandai curam ke bawah, dan Harry tahu dia sedang terjatuh ke bawah sekolah jauh lebih dalam dari ruang bawah tanah.
Harry tidak habis pikir bagaimana bisa Riddle punya kamar rahasia yang, duh, mengerikan seperti ini. Gelap, banyak bebatuan—malah ini lebih pantas disebut gua daripada kamar—dan, ow, banyak kerangka entah apa itu—sejenis tikus?—dan Harry lagi-lagi menyimpulkan kalau Riddle itu gila.
"Lumos!" gumam Harry kepada tongkatnya, dan tongkat itu menyala.
Dia berjalan, mencari Riddle—tetapi sebelum itu, Harry berusaha mencari baskom konyol yang disebut-sebut Myrtle yang katanya melihat dirinya di dalam sana dan semoga ia tidak bertemu dengan monster yang juga disebut Myrtle.
Ketika berjalan menyusuri ruangan aneh ini dan berhasil melihat baskom tersebut dari kejauhan, mendadak kerongkongan Harry terasa sangat kering, dengan jantung yang berdegup amat kecang begitu kedua mata emerald-nya melihat laki-laki jangkung nan ramping dengan rambut hitam rapi. Tom. Marvolo. Riddle. Sialaaaaan!
Ujung bibir Riddle mencuat ke atas—menyeringai.
"Oh, Potter, ada perlu apa ke sini? Mau kukurangi point Gryffindor lagi? Atau ... 'bermain' denganku, eh?"
To be continued
Once more ... HAPPEE BIRTHDAE HARRY and our queen J.K. ROWLING! wish you woke up with amnesia and forget about the stupid little things /heh salah/ yah semoga hp ada sekuel kedelapannya sih /ga mungkin/ atau wb ga cuma bullshit mau buat film fantastic beasts hehehe
A/N: Hello, semua. Sori kalau ini buat yang baca pasang tampang "wtf ewww". udah setahun lebih ya? Maaf lagi karena setahun ini saya kena block, serius. huhuhu, semoga masih ada yang inget dan btw meskipun lagi ga ada passion buat nulis tapi karena liburan kemarin baca Harry Potter and half-blood prince kok saya jadi keingetan penpik eww ini ya hahaha serius deh teen!tom itu adorable banget, jadi aja saya berfantasi liar bikin tom di sini. Well, soriiii banget kalau ooc ('kan saya udah kasih tau lho ya), dan chapter ini cenderung ngebosenin. oh, iya, alurnya kecepetan atau gimana? tapi saya udah usahain biar ga kecepetan, makanya chapter ini lumayan banyak, tapi kalo gaje atau apa, saya hapus dan perbaiki. Monggo ... kritik, saran, atau apa silakan kirim ke PM. Saya mah suka berteman kok.
Akhir kata, makasih banyaaaak yang udah baca sampai sini.
Have a wonderful day! :)
Review?
Yo, ketemu lagi kapan-kapan hehe /sectumsempra-ed/
