Title: No Smooking, Girl
Naruto is belong to Masashi Kishimoto
Rated: M
Genree: Romance
Warning: YURI, Lime, AU, OOC
Enjoy it...
"Mata hijau bercahaya, pipi yang merona, dan rambut yang bergelombang indah. Jika memang ini bukan aku, jika malam ini hanya mimpi. Aku tidak lagi aku terlihat cantik, dan aku tidak akan pernah melupakannya."
"Untuk malam ini, semesta membiarkanku tertidur lelap dengan Sakura dan bantalnya tepat di sisiku."
OooooO
Ino POV
Tidak dapat kuingat kapan terakhir kalinya aku merasakan yang seperti ini. Seperti kehangatan yang menyamankan seluruh tubuh tengah menyelimutiku dengan rasa yang tidak biasa. Mataku masih memejam, tapi aku bisa merasakan matahari yang menelusup langsung dari balik jendela gedung tinggi ini, menyentuh setiap inci kulitku yang terbuka, namun tidak dapat menandingi kenyamanan lain yang kurasakan begitu dekat dengan tubuhku.
Ketika itulah aku membuka mata.
Aku tidak menyadari, mungkin aku tidak lagi paham dengan rasa sakit yang mendera seluruh tubuhku karena berada dalam posisi yang sama dalam waktu cukup lama, bagaimana aku mampu memahami kembali seluruh rasa-rasa itu jika aku mendapati seseorang terpejam memelukku semalaman.
Apa yang seharusnya kulakukan sekarang? Tubuhku tidak lekas beranjak dari kedua tangannya yang masih lekat melingkari bahuku. Mungkin aku tengah menyimpan rasa itu, dan mungkin aku menyukai rasa nyaman yang mengalir begitu saja dengan mendengar detak jantung yang berirama dan nafas ritmis terasa begitu menyenangkan.
Jika pada saat lain, bisa jadi aku akan berteriak kesal dan mendorong tubuhnya dengan kesal luar biasa, namun tidak, seolah aku tidak sadar, bahwa Sakura yang kini berada di bawahku, membiarkan kepalaku bersandar pada bahunya dan kedua lengannya memelukku.
Tunggu.
Ini Sakura.
Oh sial.
Kepalaku kini berada pada tempat yang seharusnya. Dan posisi ini, jelas bukan sesuatu yang seharusnya. Aku menegakan tubuhku secara spontan, mengabaikannya yang segera meregang dan perlahan membuka mata. Baru kusadari hanya selembar kain tipis yang melingkar di dadaku. Selimut besar Sakura tidak lagi membungkusku, dan begitu saja kurasakan tubuhku mengigil karena pagi yang masih begitu belia.
Tanpa lagi sungkan, aku segera berjalan cepat—berlari jika kau sebut begitu—masuk kedalam kamarku. Mungkin jika aku menoleh sedikit, aku akan kembali tenggelam dalam luapan pesona mata hijau yang selalu memancar, membuat rasa yang ganjil. Rasa kesal yang luar biasa kuduga. Mungkin.
Aku tidak akan lagi memberikan diriku kesempatan untuk hilang kontrol seperti malam ini. Tidak akan.
Segera kukenakan pakaianku, bersiap untuk berolahraga. Waktu olahraga sudah lewat dari yang seharusnya, namun tidak lagi sedikitpun terlintas dalam niatku untuk meluapkan amarah pada gadis tidak bersalah itu. Terutama ketika dia telah memeluk tubuhku semalaman, dan karena aku tidak akan mungkin bisa menatap mata hijau itu terlalu lama.
Jantungku berdegup cepat tanpa kusadari, gerakan impulsif yang tubuhku tidak lagi mampu kendalikan. Mungkin, hingga ingatanku dapat begitu saja melupakan memar-memar yang mulai membiru di beberapa bagiannya.
Begitu saja ingatan semalam terlintas memukul-mukul memori dalam kepalaku, membuatku mengernyit saat adegan itu kembali terbayang jelas di pelupuk mata. Aku memejamkan mataku rapat-rapat. Kucoba singkirkan bayangan itu jauh-jauh. Begitu jauh di sudut terdalam kepalaku, seperti yang selalu kulakukan. Seperti yang seharusnya terjadi. Karena tidak ada pilihan lain untuk kulakukan.
Tidak ada.
Aku tertawa sinis, melihat refleksi wajahku dalam cermin. Kantung hitam yang membayang jelas di bawah kedua mata, lebam merah di sisi kiri pipiku yang mulai tirus. Kecerian. Tidak akan sedikitpun kau temukan di dalamnya. Ada banyak hal dalam raut wajah yang kumiliki. Sangat banyak hal, namun keceriaan dan kehidupan. Bukan salah satu di antaranya.
Ketika kakiku melangkah keluar, Sakura hanya bergeming menatapku. "Apa kau akan pergi berolahraga sekarang?"
"Jika kau mengerjakan PRmu dan melihat jadwal kehidupanku, kau akan sadar seharusnya aku berolahraga setengah jam yang lalu." Jawabku sinis, terlalu dingin dalam pandanganku.
Hey, apa yang seharusnya kuucapkan? Berterima kasih padanya karena telah memeluk tubuhku semalaman dan menciptakan reaksi yang tidak pernah kuharapkan? Tidak, kurasa tidak.
Tanpa menoleh sedikitpun kukenakan sepatuku dan berjalan meninggalkannya. Kuharap peluh dapat membuatku melupakannya, atau minimal, aku dapat mengetahui cara yang tepat untuk menghindarinya dan mata hijau bercahaya itu.
OooooooO
Sakura POV
Kau tahu apa yang sulit dari mengucapkan "Terimakasih?" secara layak?
Tidak, aku tidak tahu. Kupikir itu hanyalah dua kata yang sangat mudah untuk terucap dari bibirmu. Menunjukan rasa syukur dan betapa kau menghargai hal yang dilakukan itu. Tidak, aku tidak menemukan sedikitpun kesulitan di dalamnya.
Namun kurasa Ino memiliki kesulitan itu. Kau harus bertanya padanya apa yang sulit dari mengucapkan kata itu setelah aku mengorbankan jam tidurku dan kedua bahuku yang seperti terikat oleh tali berduri karena memeluknya semalaman. Rasa pegal yang tidak terkira bukanlah sebuah pengorbanan baginya, mungkin saja. Itu menyebalkan jujur saja.
Telingaku berdenging, merasakan gelombang suaranya yang menusuk, menggetarkan gendang telingaku hingga aku harus mengernyit dan menahan gejolak besar untuk menyumpal mulutnya dengan semua peralatan make-up yang berserakan di atas meja.
Persetan dengan penata rias yang harus menderita penyakit jantung hingga tidak bisa datang malam ini dan meriasku seperti biasanya. Juga, jangan tanyakan bagaimana mungkin aku tidak mengerti cara menggunakan seluruh peralatan ini.
Dapat kudengar hempasan pintu yang terbuka. "Apa kau ingin terus membuatku menunggu hingga acara selesai, Sakura?" sarkasme yang kental begitu terasa kala dia mengucapkannya, membuatku menahan rasa kesal yang mengganjal hingga ingin meneriakinya dari sini –dia bosku tentu saja, dan aku tidak diijinkan melakukan itu—Aku menoleh, menatapnya yang tengah mengangkat sebelah alisnya, menampakan ekspresi menyebalkan yang telah kukenal baik.
"Jika saja kau mau berbaik hati dan mengajarkanku bagaimana cara menggunakan benda-benda sialan ini.."
"Berita baru untukmu, Sakura, itu adalah pekerjaanmu, bukan pekerjaanku, dan kau tidak menggajiku untuk melakukan itu." Kalimat terakhirnya sesaat sebelum dia kembali menutup pintu dan menghilang dari pandanganku.
Aku tidak tahu haruskah aku menggerutu, atau benar-benar menyumpal mulutnya itu, hingga aku hanya mampu menggeram kesal dan kembali menatap paras wajahku di cermin. Tidak ada yang menarik disana, hanya sepasang mata hijau kusam membosankan, pipi tirus yang tampak pucat (terimakasih pada gadis sialan itu yang membuatku lembur setiap malam), dan rambut merah muda yang tidak pernah kusukai. Oh, yang benar saja.
Terdengar ketukan lemah di pintu. Sungguhkah? Dia tengah ingin memainkan lelucon ini denganku? Mengetuk pintu seolah-olah dia manusia beradab yang memiliki budaya kesopanan? Bahkan memikirkannya saja terasa begitu menggelikan.
Pintu terbuka, menampakan siluet rambut pirang familier yang tergambar dari balik cermin ini. Aku terkesiap, berusaha meredakan gemuruh jantungku yang berdegup liar, mengambil napas dan menghembuskannya secara berirama, seolah cara itu akan ampuh mengurangi rasa ganjil yang segera saja melingkupi seluruh tubuhku.
"Tsunade-san?"
"Kesulitan dengan alat-alat itu, huh?" wanita itu menyunggingkan senyum, menampakan rona pada wajahnya, dan membiarkan kerut-kerut itu tampak, tidak mengurangi kecantikannya sedikitpun. Sedikitpun. Kau harus percaya, ketika kubilang dia memiliki keanggunan yang sungguh tidak biasa, seolah setiap kakinya menjejak, maka dunia akan berhenti berputar hanya agar dia menyelesaikan jejak langkahnya.
Aku menarik napas dalam, dan mengangkat kedua bahuku, berusaha terlihat santai, meski aku tau, aku tampak idiot detik ini. "Aku tidak pernah berteman dengan benda-benda ini."
"Biarkan aku membantumu, Sakura-san." Dia mengangkat kedua alisnya, melihatku yang masih bergeming menatapnya. "Kau bisa duduk sekarang, dan pejamkan kedua matamu."
"Kau... yakin?"
"Duduklah." Ucapnya sekali lagi, kali ini memberikan ultimatum bahwa aku tidak memiliki pilihan lain selain duduk dan membiarkannya bekerja. Bukankah wanita ini merupakan.. orang penting di tempat ini? Perhatiannya padaku, sungguh membuatku bertanya-tanya. Kubiarkan degup jantung terus berdentum-dentum kala aku memejamkan mata, dan menunggunya.
Hangat nafasnya kini terasa begitu dekat, menyapu wajahku, kubiarkan hidungku menghirup aroma tubuhnya yang kini hanya beberapa jengkal dariku—sepertinya—cokelat, bunga, tropis, dan vanila berbaur menjadi satu, sesuatu yang tidak familier sebelumnya, membuatku menarik napas dalam-dalam karena rasa nyaman yang melebur begitu saja membuatku nyaris terhipnotis.
"Ralph Lauren." Mendengarnya berbicara, membuat mataku secara refleks terbuka. "Jangan buka matamu."
Jemarinya terasa dingin ketika menyentuh kelopak mataku dengan lembut, sentuhan kecil yang ringan menelusuri lipatan mata, dan rasa yang asing membuatku sungguh ingin membukanya kembali. "Dan apa itu?" tanyaku padanya.
"Parfumku malam ini. Aku membelinya dengan harga tiga ribu dollar, ketika menikmati soreku di New York. Kau tahu mengapa aku menghabiskan uang sebanyak itu hanya untuk sebotol kecil wewangian?"
Oh, pertanyaan yang segera saja terbentuk dalam benakku, selagi aku mengkalkulasi nominal tiga ribu dollar amerika dan mengkonversinya dalam bentuk yen. Dan sial. Parfum itu dapat membayar sewa kamarku dulu selama beberapa bulan.
"Untuk menghabiskan uangmu?"
"Untuk menunjukan siapa aku." Ujarnya membuatku bungkam. Kini satu jarinya menyentuh bibirku, memulaskan sesuatu yang beraroma seperti jeruk dan anggur yang bercampur menjadi satu. "Karena wanita adalah simbol akan kelembutan, dan kekuatan. Parfum mampu mencerminkan siapa kau sesungguhnya, hingga ketika kau hadir dalam suatu ruangan, semua orang akan dapat merasakan keberadaanmu hanya karena aroma tubuhmu."
Aku mengernyitkan kening, mendengar kalimat yang sungguh terdengar filosofis itu, seolah parfum adalah masalah genting yang dapat menyelamatkan kelaparan dunia. aku menghela napas. "Seksi, elegan, profesional, parfum harus dapat mencerminkannya. Seperti ini." Hidungku berkerut ketika Tsunade menyemprotkan sesuatu pada tubuhku, aroma bunga yang sungguh asing, "Coco, sangat cocok untukmu, Sakura. Cantik dan penuh percaya diri."
"Aku tidak tahu jika..." aku berdeham, rasa gugup yang begitu saja mencekik leherku hingga tidak mampu melanjutkan kata-kataku. "...aku cantik. Ataupun percaya diri."
"Percayalah padaku." Kini wanita itu tersenyum, kembali menampakan kerutan pada matanya, membuatku ikut tersenyum bersamanya. Kini kedua tangannya menangkup wajahku, hingga mata kami terasa begitu dekat. "Kau terlihat sangat cantik. Sekarang.." dia mengarahkan wajahku pada cermin. Dan..
Tidak.
Tidak, itu bukan aku.
Seumur hidupku, hanya ada dua warna yang kutahu dapat menghiasi pipimu, pucat, atau memerah ketika kau tengah merona. Tidak malam ini, aku tidak tahu jika warna dapat terlihat begitu artistik ketika tangan yang tepat bermain-main dengannya. Bibirku tampak penuh dan memesona, seolah aku tengah memandang orang lain dan bukan diriku. Memandang mereka yang sama dengan Ino, yang tampak elegan dan menakjubkan, tapi sungguh, itu bukan aku.
"...Bagaimana..."
"Kau cantik. Lihat mata hijau itu.." Tsunade mengangkat daguku dengan satu tangannya, ibu jarinya menelusuri lekuk pipiku lembut, menciptakan gelenyar di seluruh tubuhku, hingga aku harus menahan napas selama beberapa detik. "...sangat indah. Dan ketika kau tersenyum, Sakura, aku merasakan ketenangan yang menenggelamkan. Jadi aku ingin kau tampil percaya diri malam ini, dan jangan mempermalukanku. Kau mengerti?"
Aku hanya mampu mengangguk. Dari dalam cermin, kuamati Tsunade yang masih tersenyum. "Pakailah gaun putih di atas kursi itu, telah kusiapkan sepasang sepatu untukmu di luar ruangan ini."
Dia berbalik, kakinya menghentak mantap ketika berjalan menuju pintu. "Tsunade-san.." suaraku terdengar lirih, gemetar, "..kenapa kau melakukan ini semua untukku?"
Dia tidak menoleh sedikitpun menanggapi pertanyaanku, suaranya terasa begitu dingin dan jauh, namun hangat di saat yang bersamaan. "Karena kau akan melakukan sesuatu untukku kelak, Sakura-san."
Pintu tertutup, menelan sosoknya hingga lenyap dari pandangan, menyisakanku yang masih termenung menatap pantulan wajahku di dalam cermin.
Mata hijau bercahaya, pipi yang merona, dan rambut yang bergelombang indah. Jika memang ini bukan aku, jika malam ini hanya mimpi. Aku tidak lagi perduli.
Karena aku terlihat cantik, dan aku tidak akan pernah melupakannya.
OooooooO
Ada hentakan yang tidak pernah kuduga kala aku menatap mata biru aqua itu, menyorot tajam. Menjerat hatiku. Membuatnya terasa aneh, seperti, nyeri yang tidak kusangka-sangka.
Kupikir aku terlalu berharap, meski logikaku tidak lagi mampu mencerna segalanya dengan akal sehat yang seharusnya, mengapa aku harus berharap, ketika malam ini terasa begitu menakjubkan untukku. Aku hanya berharap Ino mau terpaku beberapa detik untuk memandangku, atau terpukau seperti diriku yang bahkan terpesona dengan kecantikanku.
Namun tidak, tepat ketika kedua kakiku berdiri tegak di atas sepatu bersol merah yang telah disiapkan oleh Tsunade seperti janjinya, Ino hanya melengoskan wajah, kelu, tidak mengucap sepatah katapun. Perjalanan menuju pesta hanya diisi keheningan yang mencengkram seluruh keberanianku untuk berbicara. Aku menduga apakah dia dapat menghirup aroma parfum ini, apakah dia dapat merasakan kecantikan dan rasa percaya diri yang memancar dariku seperti apa yang Tsunade katakan?
"Ino..." bagaimana penampilanku? Pertanyaan yang lenyap dengan begitu mudahnya, ketika dia langsung memejamkan mata dan mengacuhkanku. Mengapa mulut besarku yang biasanya, kini terkatup rapat, dan membisu? Aku tidak cukup peduli untuk berusaha menjawabnya, namun aku merasakannya, sesuatu yang aneh tengah terjadi pada gadis di sisiku.
"Terus berdiri di belakangku, Sakura. Jawab pertanyaan orang-orang itu seperlunya jika mereka bertanya mengenai aku, atau pekerjaanmu. Mengerti?" bisiknya parau, ketika kaki kami melangkah keluar dari dalam mobil.
Aku mengangguk mantap. Hanya itu kalimat terakhir yang diucapkannya sebelum melangkah masuk kedalam pintu kayu yang berpelitur, dan bergaya Eropa. Tipikal bangunan-bangunan mewah di kota ini, memang. Tapi memasukinya sebagai seorang tamu, pengalaman pertama dalam hidupku.
Ruangan yang berkilauan dengan puluhan orang tengah menikmati detik mereka di tempat ini. Lampu kristal besar di langit-langit tampak begitu tinggi, dan melodi musik yang terus terdengar, mengiringi setiap percakapan yang begitu riuh, menciptakan pening di kepalaku.
Kini Ino berdiri tepat di depanku, mengambil segelas wine yang tersaji oleh para pelayan yang terus berjalan membawa nampan-nampan besar. Tampak begitu rileks seolah pesta sosialit semacam ini telah menjadi kesehariannya. Sesuatu yang memang sangat familier untukku setelah beberapa minggu bekerja untuknya, namun malam ini. Terutama malam ini, dia lebih cantik dari hari-hari sebelumnya.
Panggung kecil setinggi satu meter, berdiri tegap di tengah-tengah ruang besar dan lapang ini, memanjang hingga ke ujung ruangan, berkarpet merah dengan kursi-kursi yang mengelilinginya, . Namun belum terisi seorangpun, semua pengunjung masih berdiri dan mengisi malam mereka dengan obrolan-obrolan ringan.
"Hey, apakah akan ada fashion show juga di sini?" aku berbisik di telinga Ino. "Apakah kau akan tampil juga?"
Kurasa sudah puluhan kali selama bekerja padanya, aku menatap tubuhnya yang melangkah mantap dengan berbagai busana. Mata biru itu akan menyala, memancarkan keberanian dan keanggunan yang tidak selalu dapat kulihat dalam kesehariannya. Dan aneh, karena aku begitu menyukainya. Satu-satunya waktu ketika aku ingin memandangnya begitu lama, ketika dia hanya berjalan dan tidak bersikap menyebalkan padaku.
Dia menoleh, mengangkat sebelah alisnya. "Apakah itu ada dalam jadwal kerjaku? Perlukah kau bertanya?" jawabnya muram, selalu terlihat kesal setiap berbicara denganku.
"Hey, kan tidak mungkin aku mengingat seluruh jadwalmu." Jawabku tidak kalah kesal.
"Aku membayarmu mahal untuk itu, nona. Mengingat seluruh jadwalku!" ujarnya lagi.
"Yamanaka-san!" seorang pria berambut putih yang terlihat tidak beraturan berjalan mendekat, memeluk tubuhnya erat. "Kau tampak menakjubkan malam ini. Seperti biasa, tentunya."
Ino tersenyum. "Kau juga tidak kalah gagah, Jiraiya-san."
"Andai saja pria gagah ini belum memiliki istri. Dia pasti sudah menikahimu!" Jiraiya berkelakar, sebelum tertawa terbahak. Detik berikutnya, perhatiannya teralih padaku, matanya bergerak lincah memandangi seluruh tubuhku, "dan siapa gadis cantik yang bersamamu ini?"
"Haruno Sakura." Aku menjawab singkat pada pria itu.
"Aneh, aku belum mengenal wajahmu, model baru rupanya?"
"Ah, dia asistenku." Ino segera menyela pria itu, kemudian menatapku dan dia bergantian. "Baru beberapa minggu bersamaku."
Pria tadi tampak terkejut, sebelum kembali tersenyum "Kau harus bekerja keras kurasa, karena aku tahu betapa sulitnya menghadapi wanita yang satu ini." Oh, kau benar-benar tidak tahu. Jiraiya mengedipkan sebelah matanya padaku sebelum memeluk Ino kemudian, membungkukan tubuhnya, memberi salam perpisahan padaku. "Kurasa aku harus kembali pada istriku sebelum dia menggila, kau tahu..."
"Ya, tentu saja.." Ino tersenyum padanya. "Mungkin kau memang tampak cantik malam ini, Sakura. Ironis, sesuatu yang jarang sekali terjadi, bukan?" ujarnya setelah Jiraiya berjalan menjauh dari tempat kami berdiri
"Bisakah kau memujiku tanpa sedikitpun sindiran di dalamnya? Aku tahu kau sangat ingin memujiku."
"Oh, jangan terlalu percaya dengan dirimu sendiri, karena itu dapat membunuhmu, Sakura-san."
Aku tidak tahu apa yang membuat kepercaya dirianku semakin membumbung tinggi, jika itu bukan karena orang-orang yang berlalu lalang menghampirinya dan menyatakan kekaguman mereka pada kecantikanku. Sesuatu yang janggal, sesuatu yang jarang—mungkin tidak pernah—kudapatkan. Tidak dapat aku menyapu senyuman yang terpatri di wajahku.
"Hey," aku berbisik pada Ino, membuatnya mengerutkan kening. Tampak begitu kesal, seperti biasanya setiap kali mendengarku berbicara. "Aku ingin pergi keluar dari sini sebentar."
"Aku akan memotong gajimu." Ujarnya singkat, membuatku mengernyit, hingga dia menarik napas dalam-dalam, "Oke, tapi kembali sebelum acara utama berlangsung. Kau memiliki lima belas menit, Sakura."
Aku menyeringai tepat ketika dia mengucapkannya. "Kau bisa percaya padaku." Ino hanya mendengus sinis mendengar pernyataanku. "Kau tampak cantik malam ini, ngomong-ngomong."
Dia menoleh, menyipitkan kedua matanya seolah aku telah mengucapkan hinaan terbesar dalam hidupnya. "Enyahlah."
"Oke, oke.."
Aku berjalan menuju pintu kaca yang kuduga mengakses langsung ke arah halaman rumah mewah ini. Tepat seperti dugaanku, pintu kaca besar itu mengarah langsung pada taman lapang yang temaram, dengan lampu-lampu kecil kekuningan yang tidak cukup memberi pencahayaan pada setiap sudut-sudutnya.
Kurasakan hempasan angin yang menusuk tulang, membuatku sedikit menggigil karena bahuku yang terbuka. Aku melangkahkan kakiku, menginjak tanah rerumputan lembab, menenggelamkan sepatuku. Ugh, semoga Tsunade tidak menyadari noda tanah kecoklatan yang telah menodai sepatu mahalnya.
"Aku tidak menyangka." Aku terkesiap mendengar suara pria tepat di belakang tubuhku, membuatku menoleh dan mendapati seringai idiot yang tidak asing lagi. "Ternyata kau bisa lebih cantik dari kemarin." Seringai di wajahnya bertambah lebar.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanyaku sedikit ketus padanya.
"Menunggumu, tentu saja." Sasori menyapukan jemari di antara helai rambut kemerahannya, kemudian menyesap minuman dalam gelasnya dan kembali menatapku. "Aku tahu kau pasti datang."
"Kau harus berhenti menggodaku sebelum sepatu ini melayang dan melukai wajahmu, Sasori-san."
Dia tertawa kecil mendengar pernyataanku, "Aku tahu kau akan mendapatkan pekerjaan itu, Sakura-san."
"Seharusnya kau memperingatkanku betapa mengesalkannya orang itu!" aku menggerutu kesal. Membuat Sasori mengerutkan keningnya.
"Kupikir dia sangat memesona." Sasori kembali menyesap minumannya. "Sudah lama aku mengaguminya, kau tahu."
Seolah-olah aku perduli dengan hal itu, tapi sekali lagi, jika bukan karena lelaki idiot di sisiku ini, tidak mungkin aku mendapatkan pekerjaan dengan gaji sebesar itu. "Aku tidak pernah menemukan kecantikan seperti itu pada wanita lain, meski aku masih mencari sosok sepertinya." Dia berdeham, aku tidak tahu apa yang membuat pria ini jadi begitu cengeng dan membuatku muak setiap mendengar cerita-cerita kegundahannya, "Aku masih begitu kecil pada waktu itu.."
"Apa kau akan menghabiskan seluruh malamku untuk kembali bercerita tentang Aurora-chan? Karena sungguh, aku tidak memiliki banyak waktu untuk ini, dan aku tidak bercanda ketika kubilang Ino sangat menyebalkan." Ujarku cepat memotongnya.
"Tidak akan lama, tapi siapkan dirimu untuk tidak menangis, Sakura. Karena ceritaku akan sangat mengharukan." Yeah, tentu saja. "Aku masih begitu kecil ketika terjatuh dari pohon, dan dia menemukanku yang tengah meringkuk dengan luka di sekujur tubuhku. Entah darimana, dia membersihkan seluruh lukaku, dan membuatku menatap mata biru memesona itu cukup lama. Sejak saat itu Sasori kecil tidak pernah berhenti memimpikan dan mencari-carinya sosoknya."
"Sangat mengharukan..." ujarku sarkastis.
"Hey! Hargai aku sedikit!" dia mencibir kesal, membuatku perutku terasa geli menatap ekspresinya. "Hingga suatu hari, aku melihatnya di layar televisi, dalam salah satu peragaan busana nasional. Aku mulai terobsesi dengannya, setelah aku mengetahui namanya. Sampai suatu siang, dia mengetuk pintu rumahku.." Sasori berdeham sebentar. "Kau harus tahu bagaimana terkejutnya aku, Sakura."
"Umnh, tidak. Kurasa aku tidak tahu."
"Untuk bertemu dengan Nii-san. Aku berumur 15 tahun pada saat itu, dan baru kuketahui dia adalah kekasih Nii-san." Lanjutnya tidak menggubris cemoohku.
"Apa Sasuke..."
"Ah, tidak. Mereka sudah tidak bersama lagi sejak lama. Aku tahu Sasuke itu, dan dia brengsek."
"Setidaknya kita sepaham akan satu hal, dia memang brengsek."
Seringai itu kembali menghiasi wajahnya, "Aku tidak pernah suka padanya, entah mengapa Ino harus berpisah dengan nii-san hanya untuk pria brengsek seperti itu."
"Tunggu. Kenapa kau bisa ada di pesta ini?"
Sasori berdecak, dan melirik jam tangannya. "Sebentar lagi kau akan tahu. Ayo masuk, tuan rumah membuka acara sebentar lagi."
Aku mulai merasakan nyeri pada kakiku karena heels yang begitu tinggi. "Kau harus terbiasa dengan sepatu-sepatu itu, Sakura-chan." Pria itu terkekeh melihatku kesulitan berjalan.
"Jika kau memang seorang pria, seharusnya kau membantuku, Tuan muda." Ujarku sinis.
"Hingga beredar gosip tentang kita? Aku tidak tahu kalau kau ternyata begitu menginginkanku dibalik sikap ketus itu."
Aku menyikut perutnya dengan kesal, membuatnya mengerang kesakitan. Setidaknya itu membuatku sedikit puas. "Kau benar-benar harus merasakan tamparanku."
Kami memasuki ruangan tepat ketika semua orang berkumpul, menumpukan pandangan pada satu titik, tempat seorang pria berambut pirang berdiri dengan segelas minumannya. Terlihat gagah dan tampan bahkan dengan pakaian nyentrik berpayet yang sangat tidak...laki-laki? Senyuman manisnya membuatku tertegun sejenak.
"...aku juga ingin mengucapkan selamat pada adikku yang telah menyelesaikan studi kedokterannya di Jerman dan telah memutuskan untuk kembali ke sini." Semua orang bertepuk tangan, dan ketika itulah kusadari, Sasori telah hilang dari sisiku.
Dia melangkah ke depan, berdiri tegap di sisi pria berambut pirang, dan kesadaran segera saja menyentakku tanpa sungkan. Nii-san yang selalu diceritakannya adalah tuan rumah acara ini. Desainer ternama yang juga mantan kekasih Ino Yamanaka. Oh sungguh, betapa bodohnya aku tidak pernah memikirkan hal ini sebelumnya.
Aku berjalan menembus kerumunan dan berdiri di sisi Ino. "Kau terlambat tiga menit."
"Maafkan aku. Jadi apakah dia benar mantan kekasihmu?"
Ino segera saja menoleh dan menatap ganjil ke arahku. "Darimana kau mengetahuinya?"
Aku tersenyum menatapnya. "Kau tidak akan percaya ceritaku. Lagipula, aku tidak tahu seleramu jauh lebih feminin dari yang kuduga, Ino. Meski kupikir dia jauh lebih baik dari pria pucat itu."
"Itu sama sekali bukan urusanmu." Jawabnya muram. Membuat senyumku melebar, kuarahkan pandanganku pada Sasori yang tengah mengedipkan sebelah matanya padaku.
OoooooO
Ino POV
Aku tidak bisa bernapas. Nyeri seolah mencengkram paru-paruku, membuat jantungku berdebum hingga telingaku tidak lagi mampu mendengar suara lainnya selain aku yang terengah dan terisak. Air mata mengalir begitu saja membasahi wajahku, hingga kurasakan seluruh tubuhku lembab oleh keringat.
Kenangan-kenangan menyerang tanpa ampun, membuat kepalaku berputar hingga perutku terasa mual. Berkali-kali kusapukan punggung tanganku untuk menghentikan air yang mengalir, namun percuma. Aku tidak mampu melakukannya.
Aku benci hidupku.
Jika aku tidak mampu menghapus memori mengerikan yang selalu menghantui tidurku, yang membuat kantung mata ini menjadi permanen menghiasi wajahku. Buku yang bertumpukan di sisi tempat tidurku tidak lagi cukup untuk mengalihkan rasa sakit yang selau mengendap di sana. Berpuluh tahun tidak berhenti menerorku dengan ketakutan-ketakutan yang sama.
Angin yang menghempas dari balik jendela membuat tubuhku semakin menggigil, meski tidak dapat mendinginkan panas hatiku. Aku mencengkram bantalan di kepalaku erat, berharap dapat mengurangi sedikit saja rasa sakit yang mendera.
"Kami tidak pernah menginginkan kelahiranmu."
"Okaa-san1." Aku, 4 tahun, menangis tersedu, mencengkram sisi celana okaa-san erat, mengahalaunya untuk pergi dan meninggalkanku.
"Otou-san2 telah meninggalkan kita, Ino-chan." Tidak ada setetespun air mata di wajahnya, dia hanya menatapku, begitu dingin. Sedingin salju yang melebur di atas kulitku. "Baik-baiklah bersama nenek."
Dia bangkit, hanya kulihat jejak kakinya di atas hamparan salju, yang kemudian tertimbun oleh butiran salju yang kembali turun, hingga hilang sama sekali. Sama seperti sosoknya yang tidak pernah lagi muncul dalam kehidupanku.
Aku menatap rumah kayu yang berdiri tegap, dan obaa-san dengan wajah kaku dan keriput tengah menatapku nanar. Tidak pernah sedikitpun aku menyukainya dengan kimono abu-abu yang selalu membalut tubuhnya, dia membawa kayu rotan itu kemanapun, seolah kayu itu adalah satu bagian darinya yang tidak akan pernah terlepaskan.
Jeritanku tenggelam dalam riuhnya gemuruh badai salju, ketika obaa-san membanting pintu dan melempar tubuhku ke sudut ruangan, kayu rotan itu menghabisi seluruh kulitku hingga lebam dengan sepuluh pukulan yang terasa sakit seolah mengoyak daging di tubuhku.
"Jika kau menangis sekali lagi di hadapanku, aku tidak segan-segan menghabisimu. Mengerti?!"
Tanpa kusadari, jemariku gemetar menyentuh lebam di bahu dan perutku, seluruh perbuatan Sasuke hanya membuatku kembali tenggelam dalam masa lalu, tidak ada yang berlebihan ketika aku pernah merasakannya. Bahkan hingga detik ini, aku begitu takut untuk menangis, aku takut jika obaa-san muncul dengan rotan kayu di tangannya dan kembali memukuliku.
Segera kuhapus air mata di wajahku, menarik napas dalam, dan menghembuskannya secara teratur. Cara ini selalu efektif menenangkan diriku. Sudah beberapa minggu kenangan itu teredam dengan timbunan aktivitas dan rasa letih, namun malam ini. Ketika begitu banyak emosi tengah berkecamuk dalam diriku, aku kembali terjerat.
Ledakan emosi membuatku kembali membangun tembok besar itu di sekelilingku. Aku tidak tahu apa yang membuatku begini marah, ketika diam-diam aku melihat Tsunade memulaskan make-up di wajah Sakura. Ketika sayup kudengar dia memuji betapa cantiknya gadis itu. Sama seperti dulu, dulu ketika tubuh rapuhku digiringnya ke dalam rumah hangat dan mewah. Dia selalu menyisir rambutku dengan lembut dan mengatakan betapa cantiknya aku.
Meski ketika aku menatapnya keluar dari dalam ruangan itu, mengenakan sepatu yang bahkan telah disiapkan oleh Tsunade, aku tidak dapat menyembunyikan rasa terkejutku. Dia cantik, sungguh cantik. Hingga aku harus menggigit lidahku kuat-kuat agar tidak mengucapkan sepatah katapun padanya, atau bahkan memujinya.
Kecantikan yang tidak pernah kusadari sebelumnya.
Pujian semua orang dalam ruangan itu karena kehadirannya, seolah tengah menenggelamkan pesonaku yang selalu memancar. Ancaman yang tidak kuketahui akan kutakutkan membuatku menjadi begitu defensif akan kehadirannya, meski hanya beberapa jengkal dariku.
Emosi yang membuncah, menciptakan kecemasan yang tidak kusangka, membuatku merasa harus menyakiti gadis itu.
Malam tadi, keheningan menelusup membuat rasa gugup menyergapku begitu saja. Kutatap gadis di sisiku yang tampak termenung melihat keluar jendela mobil. Musik yang terputar sayup, tidak mampu memecahkan canggung yang terasa begitu saja.
"Aku mendengarnya dari Sasori." Ujarnya tiba-tiba. "Dia menceritakan sedikit kisahmu dengan Deidara padaku. Mungkin pria itu jauh lebih baik daripada kekasihmu sekarang, Ino."
"Kau tidak tahu apapun, Sakura."
"Setidaknya aku tahu kejadian semalam."
"Jangan pernah sekalipun kau membahas hal itu." Dia terdiam, tidak lagi menanggapiku. "Darimana kau mengenal Sasori?"
Bocah kecil berambut merah yang tentu saja lekat dalam ingatanku, meski tidak pernah menjadi sosok signifikan dalam hidupku. "Dia yang menawarkan pekerjaan ini, dan memintaku datang. Kurasa dia sangat kagum padamu, Ino."
"Bukan urusanku."
"Ino-san.." Sakura mengalihkan pandangannya dan menatapku, kedua mata hijau itu kini tampak menyala dengan antusiasme yang telah kukenal baik. "...tidakkah aku cantik malam ini?"
Aku tertegun mendengar pertanyaannya.
Tentu saja. Kau sangat cantik malam ini.
Tidak, aku tidak akan mampu menjawab itu ketika kerisauan dan rasa iri berkejaran membuat amarahku mendidih dalam tembok yang tengah kubangun tinggi.
"Hanya karena kemahiran tangan Tsunade meriasmu, tidak berarti kau cantik. Dan jangan pernah sekalipun membiarkan dirimu mempercayai hal itu... Karena kau tidak akan pernah bisa menjadi cantik, Sakura. Tidak tanpa riasan palsu itu."
"Ah, ya." Dia mengalihkan pandangannya dan kembali menatap sisi jalan yang terus berkelebatan. "Kau benar, tidak seharusnya aku merasa cantik malam ini."
Aku tidak mengerti. Mengapa ratusan jarum seperti tengah menusuk dadaku, hingga aku harus menyentuhnya perlahan, dan berusaha menenangkannya, ketika aku tahu, dia tengah menangis di sisi jendela. Pantulan wajahnya menampilkan air mata itu, yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Mengapa aku harus begitu perduli padanya?
Pintu kamarku sedikit terbuka membuatku bangun seketika oleh rasa terkejut, menghempaskan kenangan yang tidak berhenti terputar. Cahaya dari luar menelusup masuk menerangi kamarku yang gelap gulita. Sakura muncul dengan kaus lusuh dan celana pendek yang selalu dikenakannya.
"Bolehkah aku tidur di sini?"
"Apa kau sudah gila?" semoga dia tidak menyadari mataku yang sembab oleh tangisan.
"Kurasa sebentar lagi akan hujan."
"Dan apa yang membuat itu menjadi urusanku?"
"Aku takut jika harus tidur sendiri, Ino." Dia berdeham. "Anggap saja ini balasanmu untuk semalam." Kemudian dia menyunggingkan seulas senyum, seolah itu akan mampu meluruhkan hatiku. Oke, itu memang mampu meluruhkan hatiku.
"Jika kau mendekat tiga puluh senti ke arahku, maka aku akan mengusirmu keluar."
Dia mengangkat bantal yang dibawanya tinggi-tinggi. "Tenang saja, aku akan membatasinya dengan ini."
Aku membaringkan tubuhku dan memejamkan mata, mengabaikan gemparnya perasaanku ketika kurasakan dirinya berbaring di sisiku, membatasi jarak kami dengan bantal tadi. Aku dapat menghirup aroma permen dari tubuhnya, terasa begitu manis, membuatku tersenyum kecil.
"Apa ini perasaanku saja, atau tempat tidurmu sedikit basah?"
"Perasaanmu saja."
"Apa kau menangis?"
"Bisakah kau berhenti berbicara?"
Dia terdiam ketika aku mengucapkannya, membiarkan keheningan melingkupi malam ini. Sesuatu yang tidak kuduga akan membuatku merasa begini nyaman. "Ino-san.." suaranya terdengar lirih. "...kau tahu bagaimana orang mengagumimu karena kecantikanmu?"
Aku terdiam, menunggunya melanjutkan.
"Ketika kau tidak sedang menyebalkan, kurasa aku memiliki kekaguman yang sama untukmu."
"Kau tidak bisa memujiku tanpa sindiran di dalamnya, huh?" ujarku sinis meniru ucapannya malam ini.
Sakura tertawa kecil, membuat perutku bergelenyar mendengarnya. "Kau benar, tidak seharusnya aku merasa cantik jika kau ada di sisiku, tidak ada seorang wanitapun yang memiliki keanggunan sepertimu, tatapan sedalam matamu, ataupun..."
"Apa kau akan terus menjilatku dengan pujian-pujian itu?" ujarku sedikit jenaka, hanya untuk mengkamuflase rasa gugup yang mendebarkan jantungku hingga aku mulai sulit bernapas. Apa itu yang dipikirkannya tentangku?
"...suaramu yang akan terasa berbeda ketika kau tidak tengah memasang tembok tinggi di sekelilingmu. Sesekali, kau terlihat jauh lebih hidup. Seperti saat ini." Ujar Sakura lembut, menatapku dengan kedua mata hijau emerald itu.
Lidahku terasa kelu, hingga aku bungkam, tidak mampu mengucapkan sepatah katapun. Sesuatu yang selalu kutakutkan, bahwa suatu saat aku akan sungguh tenggelam dalam kedua matanya yang indah, dan kini sedang terjadi, tidak satupun kalimat padu yang terbentuk dalam benakku. Kemudian aku memejamkan mata, mengenyahkan wajahnya dari kepalaku.
"Tidurlah, Sakura."
Tidak lagi terdengar suara selain napasnya yang mulai teratur, ritmis menghipnotisku seolah menina bobokan hingga aku juga mengantuk dan mulai melayang dalam dunia bawah sadar.
"Sakura..." suaraku terdengar parau, meski kutahu dia tidak akan mungkin mendengarnya. "...kau cantik, bahkan tanpa riasan apapun yang menutupi wajahmu."
Aku memiringkan tubuhku, memeluk bantal yang dibawa oleh gadis ini dan menenggelamkan wajahku, menghirup aroma permen yang begitu santar, seolah aku tengah memeluk tubuhnya, membuat seluruh kerisauanku lenyap bersama kesadaran karena rasa nyaman yang tidak pernah kurasakan seumur hidupku. Untuk malam ini, semesta membiarkanku tidur lelap dengan Sakura dan bantalnya di sisiku.
TBC
OooooO
1 Sebutan untuk ibu
2 Sebutan untuk ayah
