Title: No Smooking, Girl
Naruto is belong to Masashi Kishimoto
Rated: M
Genree: Romance
Warning: YURI, Lime, AU, OOC
Enjoy it...
"I think that possibly, maybe I'm fallin for you. Yes there's a chance that i've fallen quite hard over you." – Falling In Love at The Coffee Shop (Landon Pigg)
Chapter 4
Sakura POV
Aku tahu seharusnya pagi ini kau membelikan kopi tanpa gula di kafe dekat apartemenmu untuk Ino. Aku menunggumu disana, Sakura.
See you, my dear
Sasori.
Aku mengerjapkan kedua mataku beberapa kali, sebelum otakku bekerja keras mencerna setiap kalimat yang terbentuk dalam sebuah pesan singkat pagi ini. Ya ampun, lagipula darimana bocah ini mengetahui nomor ponselku? Dan, ya, aku memiliki ponsel sejak seminggu yang lalu, tentu saja tidak terlepas dari keharusanku memenuhi segala kebutuhan nenek sihir itu—Ino maksudku.
Membawa-bawa ponsel dalam saku celana tidurku semalam bisa kukatakan sebuah kesalahan yang fatal, selain karena SMS dari Sasori pagi ini berdering cukup kencang hingga aku terbangun, namun suara itu juga harus membangunkan Ino di sisiku. Detik inilah, aku menyadari sebelah tangannya yang mengepal dan mencengkram kain bajuku erat, matanya tengah mengerjap dan kurasa dia akan tersadar sepenuhnya sebentar lagi.
Wanita itu menguap membuatku mengamatinya sejenak, dan membiarkan rasa kagum yang (sama sekali tidak kuijinkan hadir) muncul tiba-tiba. Bagaimana mungkin seorang manusia tetap dapat terlihat secantik ini bahkan ketika wajahnya tampak begitu sembab setelah tangis semalaman? Dia membuka matanya perlahan, dan seolah tengah mencerna segala sesuatu dalam kepalanya sebelum berujar parau. "Kenapa kau ada di sini?" tidak lupa dia menyipitkan kedua matanya untuk mempertegas nada sinis dalam suaranya.
"Karena kau menangis semalaman, dan aku berinisiatif untuk menemani?" ujarku dengan kerutan kening yang dalam.
"Aku tidak mungkin mengijinkanmu." Ino segera bangkit dari tempat tidur, "...dan aku tidak menangis semalaman, hanya... terlalu lelah hingga aku menguap dan tampak seperti menangis."
"Bisa diterima." Jawabku singkat, meski tentu saja aku tahu dia menangis. "Aku akan membelikanmu kopi, seingatku kau harus hadir di NihonTV nanti siang. Kurasa kau memiliki banyak waktu untuk berolahraga dan sedikit bersantai."
"Siapa yang menghubungimu barusan?"
Oh ternyata, dia sungguh mendengarnya. "Operator." Jawabku asal.
Tanpa menjawab lagi dia segera pergi ke dalam kamar mandi, dan dengan sigap aku keluar dari kamar ini, mengganti pakaian tidurku, lalu segera bersiap mengenakan sepatu dan melangkah keluar. Sebetulnya ini kegiatan yang menyebalkan, karena aku harus berjalan ratusan meter hanya karena dia tidak menyukai kopi buatanku dan memilih untuk membeli kopi di kedai yang sama setiap dua kali seminggu, (seketat itulah Ino menjaga asupan kafein masuk kedalam tubuhnya).
Pertanyaan mulai bermunculan dalam benakku, darimana Sasori mengetahui nomor ponselku? Bagaimana dia tahu bahwa pagi ini adalah jadwal Ino meminum kopinya? Tindak tanduk bocah itu mulai mengerikan.
Terdengar suara denting pintu ketika aku melangkah masuk, menatap seluruh ruangan mencari Sasori dan seringai idiotnya yang pasti akan kutemukan lagi hari ini. Aku mengerutkan kening ketika mendapati kafe yang sepi tanpa gaya pongah mengesalkannya itu, sebelum kurasakan seseorang menepuk bahu membuatku menoleh.
"Aku tahu kau pasti datang." Sasori tersenyum menampilkan lesung di kedua sisi pipinya.
"Aku datang dengan beribu pertanyaan untukmu." Ujarku muram, "Darimana kau mendapatkan nomor ponselku, huh?"
Sasori hanya mengangkat bahu. "Aku orang kaya dan bisa mengetahui segalanya."
"Kau tahu itu bukan jawaban yang tepat." Ucapku sedikit kesal padanya. "Dan kenapa aku harus menemuimu pagi-pagi buta seperti ini?"
"Hmn, anggap saja aku terlalu merindukanmu, Sakura-chan," bocah itu kembali tersenyum. "Duduklah, ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu."
Aku mengurungkan makian yang sudah bergumpal dalam kerongkonganku mendengar nada suara Sasori yang berbeda pagi ini. Dia masih menyeringai, namun sorot mata yang intens itu dapat menunjukan keseriusannya. Aku duduk bersamanya di ujung ruangan meskipun kafe masih begitu sepi pagi ini. Seolah dia ingin menyembunyikan pertemuan kami, dan apapun itu yang hendak dibicarakannya.
Seorang pelayan menghampiri kami dan menanyakan pesanan. Sasori memesan segelas teh, dan tentu saja. Dia mengedipkan sebelah matanya pada pelayan itu. Rasanya aku benar-benar ingin memukul kepala itu dengan kencang melihat betapa tengil tingkahnya. Sungguh. Jika tidak mengingat bagaimana serius wajahnya tadi.
"Sasori, jika kau berani membangunkanku sepagi ini hanya untuk bercerita tentang Aurora-chan itu. Sungguh, aku akan..."
"Hey, hey!" Sasori berucap kesal. "Aku ingin membicarakan sesuatu yang serius! Sabarlah sedikit."
Aku menarik napas dalam-dalam menahan rasa kesal yang sudah tidak asing lagi meluap-luap. Ini reaksi yang kurasakan setiap kali berbicara dengannya, "Sebaiknya kau ucapkan itu sekarang. Jika Ino tahu kita bertemu..."
"Oke. Begini," Sasori menarik napas dan merendahkan wajahnya hingga kedua matanya kini sungguh menatapku dalam. "Apakah kau pernah bertemu Sasuke sebelumnya?"
Aku menduga, kemana sebenarnya dia akan membawa arah pembicaraan ini. Terutama ketika dia tampak begitu tertarik dengan Sasuke. "Ya, tentu saja. Dia datang ke apartemen Ino beberapa kali."
"Kau tahu apa saja yang mereka lakukan?"
"Kau tahu, tidak seharusnya kau menanyakan pertanyaan seperti ini-"
"Dengar aku. Apa kau mengetahui hal-hal buruk yang dilakukan Sasuke pada Ino?"
Aku menundukan wajahku. Rasa enggan menelusup begitu saja untuk menjawab pertanyaan Sasori. Karena aku sungguh yakin, Ino tidak menginginkan orang lain untuk mengetahui hal ini, tidak juga Sasori.
"Kau mengetahuinya, Sakura..." Aku dapat melihat kedua tangan Sasori mengepal, entah mengapa dia tampak sekesal ini. Sesuatu yang tidak pernah kulihat sebelumnya.
"Darimana kau mengetahui hal ini?"
"Nii-san sudah mendengar gosipnya dari beberapa teman. Semua orang membicarakannya, namun belum ada yang bisa memastikan. Untuk itu aku mengajakmu kemari."
Sebagian diriku begitu ingin meluapkan semuanya di hadapan bocah ini. Malam ketika Ino menangis dengan lebam di sekujur tubuhnya, namun aku berusaha menahannya sekuat tenaga. Aku dapat membayangkan kemarahan Ino jika sampai aku menceritakan hal ini pada orang lain.
"Apa yang akan kau lakukan tentang ini?"
"Bisakah kau melindunginya sekuat tenagamu, Sakura-chan? Aku tidak mengerti mengapa dia tetap memertahankan hubungan semacam itu."
Aku juga tidak mengerti. Meski ingin sekali rasanya aku menghabisi pria pucat menjijikan itu.
Keningku berkerut dalam mendengar permintaan itu terlontar dari Sasori, "Aku tidak memiliki kekuatan untuk itu, Sasori."
"Aku mencintainya, Sakura."
Lidahku kelu, tidak satu kata pun yang dapat terucap. Aku bergeming entah mengapa. Dapat kurasakan lalu lalang yang mulai ramai dan suara denting pintu bersahut-sahutan. Namun tidak sedikit pun dari kalimatnya dapat dicerna oleh otakku. Sasori masih menatapku, menunggu jawaban semacam apa yang mungkin kuungkapkan padanya.
"Aku..." Aku hanya mampu berbisik. Ada rasa sesak yang begitu asing menjerat dadaku, hingga aku mencoba untuk menarik napas secara teratur beberapa kali.
"Katakan sesuatu? Aku tidak dapat bersama dengannya setiap waktu. Bahkan dia tidak pernah melihatku, Sakura. Tapi kau bersamanya, dan aku ingin memastikan dia tidak berada dalam kekuasaan pria brengsek itu." Aku masih bergeming mengabaikan permintaannya, Sasori menggenggam erat kedua tanganku yang tergolek begitu saja di atas meja. "Anggap saja ini balasan karena aku telah membantumu mendapat pekerjaan."
Aku mengangguk lemah, memancing seulas senyuman dari wajah lelaki itu. Dia mengecup punggung tanganku berkali-kali karena rasa semangat yang menggebu. Tidak berhenti dia mengucapkan terima kasih padaku. Meski sejujurnya, saat ini, aku merasakan waktu berjalan begitu lamban dan hanya ada wajah Ino dalam benakku, dan satu pertanyaan yang ganjil.
Mengapa hatiku terasa sakit seperti ini?
xxxx
Ino POV
"Apakah kau membutuhkan waktu selama itu hanya untuk memesan segelas kopi, Sakura?" Aku bertanya dengan kesal sembari melepas sepatu olahraga yang kukenakan. Selama dia menghilang, aku telah melakukan seluruh ritual pagiku dengan rasa jengkel yang luar biasa. Kemana sebenarnya gadis ini menghilang?
Dia tidak pernah memesan kopi selama ini sebelumnya. Aku tidak ingin mengakuinya, namun aku membayangkan dia tertabrak oleh bus atau semacamnya. Bayangan semacam itu lumayan menyenangkan, meskipun sedikit mengkhawatirkan. Aku tidak berniat mencari asisten baru dalam waktu dekat ini.
Sakura meletakan gelas kopi itu di atas meja bar. Aku melihat rona wajahnya yang tidak biasa. Dia tidak mengucapkan apapun, seolah mulutnya yang tidak dapat berhenti berbicara itu dijahit paksa seperti dalam film horor yang pernah kutonton. (Aku akan sangat bersyukur jika itu benar terjadi sejujurnya). "Kemana kau sebenarnya?"
"Antrian sangat panjang tadi."
Aku mengerutkan kening. Kafe manapun tidak akan mungkin ramai sepagi tadi, terutama tempatnya biasa membeli kopi yang terletak tidak begitu jauh dari apartemen ini. Namun, aku membiarkan alasan itu mengendap meskipun menimbulkan sedikit keganjilan dalam hatiku.
"Ino-san," Sakura berdeham, namun wajahnya menunduk menolak untuk menatapku langsung. "Kau tahu melindungimu adalah bagian dari pekerjaanku, kan?"
"Aku yang membuat peraturan itu, tentu saja aku tahu." Tidak ada sedikit pun keceriaan yang tersisa dalam nada suaranya, dan hal ini sedikit banyak mulai membuatku gusar.
"Aku akan benar-benar melindungimu," Sakura berujar lirih "Aku tidak akan membiarkan Sasuke-"
"Hubunganku dan Sasuke sama sekali bukan urusanmu."
Aku sama sekali tidak berniat untuk bersikap defensif padanya pagi ini, namun mendengarnya menyebut Sasuke dengan begitu tiba-tiba. Aku tidak dapat menahan diriku. Gadis ini tidak mengetahui apapun tentangku. Apapun.
"Dia menyakitimu." Sakura mengangkat wajahnya dan menatapku, kali ini tatapannya terasa begitu dalam. Menunjukan kesungguhan atas setiap kata yang diucapkannya. Tanpa kusadari seluruh tubuhku meremang merasakan kedalaman dua mata hijau emerald itu. Sekali lagi, aku tenggelam kedalamnya.
"Jangan pernah membicarakan hal ini lagi padaku, atau pada siapapun." Aku segera bangkit dari tempatku duduk dan hendak menghilang dari hadapannya, karena setiap kali aku mengingat hal ini, rasa sakit itu akan kembali ke permukaan. Lebam merah yang mulai membiru seiring berjalannya waktu. "Dan jangan berbohong lagi padaku. Kafe tidak pernah ramai di waktu sepagi itu, Sakura." Ujarku dingin sebelum benar-benar meninggalkannya.
xxxx
Aku menatap wajahku yang kuyu dari dalam cermin. Tidak ada sedikit pun kecantikan yang kurasakan memancar dari dalam sana. Dengan gemetar aku kembali memupurkan bedak, memulas wajah pucat tanpa gairahku dengan kehebatan make-up. Menghadiri acara talkshow selalu mampu meningkatkan rasa gugup dan insekuritas akan pertanyaan apa yang mungkin mereka lontarkan. Beberapa akan mendiskusikannya sebelum acara, beberapa lainnya merupakan pertanyaan kejutan untuk menggali kehidupan pribadiku.
Dan aku tidak pernah menyukainya.
Sakura berlarian kesana kemari sedari tadi, seolah begitu disibukkan oleh pekerjaanya yang sama sekali tidak kumengerti. Karena aku tidak memerintahkannya untuk melakukan apapun. Dia berbicara dengan cepat dan wajahnya terus menunduk, seolah begitu enggan menatapku. Lantas dia akan kembali disibukkan oleh hal-hal tidak penting lainnya.
Setiap kali aku hendak membuka bibir untuk berbicara, dia akan segera memotongnya dengan "Tunggu, aku harus pergi sebentar," atau "Aku akan menyiapkan makan siangmu untuk nanti, Ino-san."
Kini, dia tidak terlihat dimana pun. Lenyap begitu saja, sementara acara akan dimulai beberapa menit lagi. Seluruh kru telah bersiap-siap dengan kameran besar dan berbagai peralatan lainnya. Microphone juga telah terpasang di balik gaun yang kukenakan. Aku menatap wajahku sekali lagi dan berusaha menenangkan rasa kalut yang bergelung dalam hati. Aku dapat melewati acara kali ini, apapun yang ditanyakan olehnya. Jawablah dengan anggun tanpa membuka apapun mengenai kehidupan pribadiku.
Jika mereka bertanya tentang Sasuke. Katakan saja aku sangat mencintainya.
Itu adalah mantra yang tampaknya selalu ampuh. Meski tentu saja mantra itu adalah kebohongan mutlak. Aku mendengus membayangkan betapa ironisnya keadaan ini.
"Hey, sayang."
Tubuhku menegang mendengar panggilan itu, sebelum sosok yang familier muncul dari balik cermin. Dia membungkuk dan mengecup pipiku lembut. Senyuman Kakashi dengan sebuket bunga lili di tangan mau tidak mau membuatku bernapas lega. Sangat lega. Karena Sasuke tidak harus menambah keriuhan keadaan ini dengan kehadirannya yang sangat mengganggu.
"I know you'd be nervous, darling." Aku tersenyum menepuk sebelah pipinya perlahan.
"Aku sangat menghargainya, Kakashi." Ujarku sambil menghirup aroma bunga lili itu.
"Dan aku bukan Sasuke. Jadi kau tidak perlu setegang itu." Kali ini dia berbisik, dan kembali tersenyum jenaka. "Oh, dan aku akan mengajakmu makan siang setelah ini. Ajak asistenmu juga, oke?"
Aku menggedikan bahu, "Entahlah, dia bertingkah semakin aneh hari ini."
"Hmn, tadi aku melihatnya berlarian kesana kemari. Katanya sedang memastikan semua kru bekerja dengan baik, seluruh studio tertawa melihat tingkahnya, Ino."
Hal tersebut mau tidak mau membuatku mengulas senyum kecil, membayangkan Sakura merepotkan semua orang dengan tingkahnya. Bertanya pada seluruh kru dan bersikap seolah-olah acara ini adalah hidup matiku.
"Hey, dan ngomong-ngomong aku tidak melihat kantung matamu yang biasanya? Tidak lagi terjaga sepanjang malam, huh?" Kakashi menggigit bibir bawahnya. Aku mengenal gestur ini, ini adalah saat ketika dia tengah begitu antusias untuk mengorek seluruh kisah pribadiku. Gosip baru yang hangat untuk digunjingkan olehnya.
"Benarkah?"
Aku bahkan tidak pernah menyadarinya. Kali ini mataku terfokus pada pantulan wajahku di dalam cermin. Tentu saja masih ada raut datar tanpa gairah di dalam sana, tapi mataku tampak lebih hidup. Tidak ada cekungan dalam menghitam yang sudah lumrah menghiasi bagian bawah mataku.
"Apa kau tidur dengannya?"
Keningku berkerut mendengar pertanyaan itu. "Sasuke, maksudmu?"
"Euwh! Kau tidur dengannya?! Menjijikan. Bukan, bukan pria aneh itu. Maksudku..." Aku mengangkat sebelah alisku menunggu lanjutan kalimatnya. "...Sakura-chan?"
Kini kedua mataku membelalak lebar. Jadi Kakashi masih terus berpikir aku akan melakukan sesuatu pada gadis aneh itu? Yang benar saja?! "Apa kau sudah gila, tuan?"
Pria itu tertawa terbahak-bahak, dan menepuk pundakku berkali-kali. Well, oke. Mungkin aku tidur dengannya, tapi bukan "tidur" seperti yang dimaksud oleh Kakashi!
Aku mendengus sinis dan mulai mengabaikan Kakashi dengan tawanya yang belum habis juga. Tanganku kembali sibuk menata rambutku, sebelum kudengar dering ponsel berbunyi dari dalam tas Sakura. Aku mengerutkan kening. Kesal karena dering itu tidak juga berhenti berbunyi. Sungguh, hanya gadis seperti Sakura yang dapat memasang ringtone senorak itu. Begitu memekakan telinga. Namun aku tetap mengabaikannya.
Kakashi juga tampak tak peduli dengan riuhnya suara ponsel itu. Dia berjalan membuka-buka majalah yang tergeletak di atas meja. Tapi bunyi itu tidak juga berhenti. Dengan tidak sabar aku mengambil tasnya dan mengambil ponsel yang baru saja kubelikan untuknya. Gadis itu tidak pernah menghubungi siapa pun. Tidak keluarga, maupun teman dekat. Meski aku meragukan dia memilikinya. Jadi sedikit mengherankan dia mendapat pesan di waktu seperti ini.
Dari nomor tidak dikenal, aku menekan tombol dengan sedikit ragu dan membaca pesan yang muncul.
Aku tidak tahu bagaimana lagi harus berterima kasih padamu, Sakura-chan. Terima kasih untuk pagi ini. Apakah sekotak coklat dapat membalasnya?
Aku akan datang ke apartemenmu (atau Ino).
Sasori. ;)
Aku bergeming menggenggam ponsel itu dengan erat. Sungguh erat hingga tanganku sedikit gemetar. Setiap kata yang tertera seolah melayang lepas dalam benakku dan tidak lagi membentuk kalimat yang padu. Sasori? Bocah berambut merah itu? Sejak kapan dia mengenal Sakura?
Dengan segera aku meletakan ponsel itu kembali dan menghadap cermin. Kakashi masih tampak sibuk dengan majalah di tangannya, semoga dia tidak menyadari sedikit pun perubahan pada raut wajahku. Tampak dadaku yang naik turun, napasku terasa berat karena rasa sesak yang muncul tiba-tiba.
"Ino? Kurasa kau akan tampil sebentar lagi." Kakashi memijat bahuku lembut. "Kau adalah gadis paling cantik dan anggun yang pernah kukenal. Percayalah, semua orang mencintaimu."
Aku memaksakan seulas senyum. Bibirku gemetar. Mungkin karena rasa gugup yang kembali menyergap, atau karena nama Sasori dan sekotak coklat yang terus terngiang-ngiang di dalam kepalaku. Hanya ada satu hal yang dapat kupastikan kini. Sakura benar-benar berbohong tadi pagi, dan dia menemui Sasori.
"Hey? Kau baik-baik saja?"
"Ya, tentu saja." Tanpa kusadari suaraku terdengar begitu lirih, membuatku berdeham sekali.
Aku mendengar orang bertepuk tangan, itu adalah tanda ketika seharusnya aku berjalan ke depan kamera sekarang juga. Dengan langkah gentar, aku memaksakan kakiku bergerak melewati orang-orang yang tengah sibuk untuk mengatur acara ini. Musik mulai berdentam dan pintu terbuka. Aku melihat cahaya yang kontras dengan ruang rias sehingga mataku sedikit memicing. Kamera tidak boleh menangkap rasa tidak nyamanku ini.
Dari kejauhan aku dapat melihat Sakura yang tengah berdiri menontonku. Dia tersenyum dan mengepalkan kedua tangan memberikan semangat. Sekali lagi aku menatap wajahnya, namun tidak dapat membalas senyuman itu sedikit pun.
Pertanyaan ganjil tetap bergelayut dalam benakku. Mengapa Sakura bertemu dengan Sasori pagi tadi? Mengapa dia harus berbohong padaku?
Juga, mengapa aku harus merasa begitu terganggu karenanya?
xxxx
Sakura POV
Orang-orang riuh bertepuk tangan untuknya, hal ini membuatku tersenyum lebar melihat ada begitu banyak orang yang mencintainya. Terlepas dari betapa menyebalkan dan aneh dirinya (dan aku sudah mengulangnya berkali-kali).
Aku benar-benar tidak dapat menahan diriku, karena wanita itu memasuki studio dengan sedikit ragu, namun tidak memudarkan keanggunan yang terpancar darinya. Ino mengenakan gaun bercorak yang tampak kasual sekaligus menunjukan bagian tubuh yang tepat. Sangat tepat hingga aku harus memaksa mataku untuk berkedip dan memalingkan wajah karena rasa malu yang menelusup tiba-tiba. Ada yang salah dengan otakku. Benar-benar salah...
Perutku terasa geli melihat wajahnya yang tampak memucat. Jauh lebih pucat daripada biasanya. Dan tidak pernah aku melihatnya seperti ini. Dia terlihat begitu panik dan ketakutan, seperti akan ada dua anjing besar yang bersiap menerkamnya di tempat itu sekarang juga. Ino mengecup pipi si pembawa acara dengan kecupan ringan sederhana. Lalu, dengan sedikit canggung dia duduk dan (sangat berusaha) menyamankan dirinya sendiri. Aku tidak tahu apakah orang lain menyadari hal ini.
Terdengar dehaman seorang pria, membuatku menoleh. Aku melihat Kakashi melipat kedua tangannya di dada, dan tersenyum ke arahku. Pria itu berjalan mendekat dan berdiri tepat di sisiku, dengan tiba-tiba dia mencondongkan tubuhnya dan berbisik, "Dia selalu seperti ini jika menghadiri acara talkshow. Semua orang terlalu ingin ikut campur dalam kehidupan pribadinya."
Aku mengulas senyum kecil dan balik menatap Kakashi yang terlihat begitu flamboyan pagi ini. Dengan kaus katun putih yang dilipat hingga siku dipadukan syal kuning gading, setelah memerhatikan gesturnya, aku teringat pada sosok Deidara yang sedikit feminin dengan rambut pirang panjang itu.
"Aku tahu bagaimana murungnya Ino, Kakashi-san."
"Ah! Jangan bersikap formal padaku, Sakura-chan!" Kakashi menepuk-nepuk pundakku, "Kau cantik sekali pagi ini, ngomong-ngomong." Pria itu tersenyum dan mengecup pipiku ringan.
Hal ini sontak saja membuat wajahku memerah, mendapat pujian dan kecupan ringan sekaligus. "A-ah, kau juga terlihat... rapih, Kakashi." Aku berusaha tersenyum meski lebih terlihat seperti seringaian yang begitu idiot. Seperti seringai Naruto ataupun Sasori.
"Dan tenang saja, I don't like girls. Aku lebih tertarik dengan pria-pria jantan seperti kameramen itu." Kakashi menunjuk ke arah seorang kameramen beralis tebal yang mondar-mandir sedari tadi.
Informasi baru ini membuatku tergagap dan tidak tahu harus membalas pernyataan itu dengan kalimat semacam apa. Alhasil, aku hanya diam terpaku berusaha berkonsentrasi pada Ino yang sedang menjawab pertanyaan-pertanyaan membosankan seputar kesibukan. Seluruh kosakata mengenai gay terus berputar-putar dalam benakku, membuatku merasa risih berdiri di sisi pria ini. Kakashi yang merasakan perubahan itu segera merangkul bahuku dan tubuhnya bergetar karena tawa tertahan. Ah, dasar pria sialan. Bikin panik saja!
"Ikut makan siang denganku dan Ino nanti. Tertarik?"
"Ah, kupikir Ino-"
"Dia ingin kau ikut, percayalah. Ngomong-ngomong, dia tidak pernah emosional seperti itu pada asisten lamanya."
Keningku berkerut mendengar pernyataan itu, "Apakah aku separah itu?"
"Tidak, justru sebaliknya. Kau membuatnya lebih hidup, tidak seperti robot. Aku sungguh risih melihat tingkahnya yang semakin menjadi-jadi karena pekerjaan dan imej."
Sejenak kami tenggelam dalam kediaman masing-masing, ketika aku mendengar pertanyaan dari si pembawa acara yang membuat jantungku berdegup kencang luar biasa. "Jadi, Ino-san. Ceritakan padaku bagaimana hubunganmu dengan pria tampan itu—Sasuke-kun."
Mataku kini terfokus pada wajah Ino yang memucat. Bahkan lebih pucat dari sejak dia masuk ke dalam ruangan. Dia tersenyum getir, dan berdeham. Sebelum dia menyadari bahwa raut wajahnya masih terlihat tegang dan mulai tertawa renyah (kurasa dia berusaha begitu), berpura-pura malu dan ragu. Tanganku mengepal erat dan napasku tertahan menunggu jawaban apa yang mungkin diungkapkannya. Semoga dia tidak menangis di tempat ini.
"Aku mencintainya."
Kini, aku bisa membuang napasku keras-keras, lalu tersenyum lepas. Dia berhasil menjawab pertanyaan itu dengan baik. Mendengar jawaban itu, seluruh penonton di studio riuh bertepuk tangan dan bersiul-siul. Meski aku tahu semua ini hanya sekadar akting yang mungkin telah dilatihnya dengan baik, sejak lama.
"Dia adalah pria yang baik dan selalu sabar menghadapi seluruh kemauanku, yang terkadang merepotkan jujur saja." Penonton kembali tertawa, hanya aku dan Kakashi yang tetap bergeming di tempat tanpa reaksi sedikit pun.
"Dia tidak mencintai pria itu." Kakashi kembali berbisik padaku. "Kau pernah menyadarinya?"
Lidahku kelu mendengar pertanyaan itu. Dua kali dalam hari ini, loyalitasku diuji dalam menyimpan rahasia kelam Ino. Aku hanya menggeleng perlahan, "Kupikir mereka pasangan yang... normal."
"Hanya karena Sasuke pria tidak berarti hubungan mereka lebih normal dari orang lainnya, Sakura-chan." Kakashi kembali menahan tawanya ketika mengungkapkan kalimat itu. Membuatku tersadar kemana dia menangkap arti kalimatku, aku menunduk hingga menempelkan daguku pada leher karena rasa tidak enak.
"Ah, maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyinggung hal itu."
"Hey, santai saja." Kakashi mempererat rangkulannya. "Katakan padaku, apa kau menganggapnya cantik?"
Keningku kembali berkerut, namun kali ini aku mengangkat wajahku menatap kedua mata Kakashi yang tampak serius. Kurasa dia mengharapkan jawaban yang serius juga. "Cantik, dia sangat cantik."
"Kagum padanya?"
"Sangat. Meski dia—"
"Menyebalkan, aku tahu. Seksi?"
"Ya... itu juga."
"Rambutnya tampak menggoda untukmu?"
"...terkadang?"
"Pernah tidur di kamarnya?"
"Tentu saja-" Aku mengangkat wajahku dan mendapati seringai lebar di wajah pria itu. Dan sial! Pasti pria ini menginterpretasikan jawabanku dengan cara yang berbeda, melihat bagaimana mesumnya senyuman itu. "—tidak seperti yang kau pikirkan, Kakashi. Itu hanya—"
"Aku mengerti," Kakashi berdeham dan masih menahan gelak tawanya.
"Kau tidak kalah menyebalkan daripada model itu. Entah ada apa dengan dunia kalian!"
"Ehm, tidak. Begini, apapun yang kalian lakukan di kamar Ino—oke, meskipun tidak ada apapun yang terjadi," pria itu mengoreksi, ketika aku mengangkat sebelah alisku dan menantangnya. "Percayalah padaku, tidak ada satu pun orang asing yang pernah melihat bagaimana kamarnya. Sama sekali."
Tanpa kusadari, hatiku terasa menghangat mendengar fakta yang dituturkan oleh Kakashi. Sesuatu yang tidak pernah kuketahui sebelumnya, mungkin itu berarti...
"Dia percaya padamu, Sakura. Jangan kecewakan hal itu." Kali ini pria itu kembali memelankan suaranya dan sekali lagi mengecup pipiku. Kecupannya terasa hangat, sama seperti hatiku yang kini tengah meluruh mendengar kalimat itu terucap.
Kejadian pagi ini bersama Sasori terekam kembali dalam ingatanku. Ketika dia memintaku untuk menjaga Ino semampuku, dan ketika Kakashi memintaku untuk menjaga kepercayaannya. Mungkin mereka adalah dua sosok pria yang sama-sama mencintainya dengan cara yang berbeda. Meski alasan mengapa aku yang harus melakukan semua ini masih berada di luar akal sehatku. Baru beberapa waktu aku mengenalnya, dan seluruh kejadian ini membuatku merasa begitu dekat dengan model es itu.
Kembali pertanyaan dari si pembawa acara membuyarkan konsentrasiku, kali ini hanya pertanyaan sederhana namun membuat rasa antisipasiku meningkat, "Apa yang kau pikirkan tentang asisten barumu?"
Ino mengangkat sebelah alisnya, tatapannya mengarah kepadaku hanya sejenak, sebelum kembali terfokus pada si pembawa acara. "Dia orang yang sangat menyenangkan."
Aku berkonsentrasi menebak-nebak apakah itu hanya sekadar akting, atau benar-benar jawaban dari hatinya, namun Kakashi berujar, "Itu bukan akting, Sakura. Aku juga merasakannya."
"Dia gadis yang sangat cantik, seperti yang terlihat ketika acara penyambutan desainer ternama waktu itu. Apakah kau tidak takut tersaingi oleh kecantikannya, Ino-san?"
Lagi-lagi pertanyaan provokatif, namun pertanyaan ini mau tidak mau membuatku tergelak geli. Apakah orang ini tidak salah bertanya? Tidak lama kemudian layar besar di belakang mereka menampilkan foto-foto acara penyambutan malam itu. Tak pelak, aku ada di antaranya, dengan gaun dan riasan oleh hasil tangan Tsunade. Aku sampai memicingkan mata untuk meyakinkan bahwa itu benar-benar aku. Karena demi Tuhan, gadis di dalam foto itu sangat cantik!
Ino tertawa renyah, "Aku mengakui dia sangat cantik, dan jika kau memerhatikan dua matanya yang indah, kau akan benar-benar tenggelam. Namun sedikit pun aku tidak merasa terganggu akan hal itu, semua orang memliki bidangnya masing-masing."
Jawaban yang cukup tepat, aku tersenyum melihatnya yang tampak lebih nyaman daripada sewaktu memasuki studio ini tadi. Pertanyaan tadi menjadi pertanyaan penutup yang mengakhiri acara talkshow pagi ini, dan Ino dapat bernapas dengan sangat lega. Dia segera beranjak pergi menuju ruang rias setelah beramah-tamah dengan beberapa kru. Aku mengikuti langkahnya dengan tergesa. Memberikan kotak makan siangnya kepada salah satu kru yang lewat, karena dia tidak akan membutuhkannya.
Ino sedang menghapus riasan wajah ketika aku masuk. Kakashi menyusul setelahnya.
"Kau sangat... memesona, Ino."
Bibirnya terkatup rapat, tidak menjawab pernyataanku sedikit pun. Tidak juga sepercik senyuman dan keramahan. Matanya enggan menatapku dan terus terfokus pada wajahnya di dalam cermin. Aku dengan sigap merapihkan seluruh barang-barangnya yang berserakan.
"Kemana kau pagi tadi, Sakura?" Dia berbicara, namun terdengar begitu dingin dan jauh. Tidak bisa kusebut menyebalkan, meskipun nada bicaranya membuatku gusar.
"Apa maksudmu?"
Dia melemparkan kapas di tangannya ke atas meja. Dia menoleh. Kali ini, aku mendapati mata biru itu menyorot tajam, begitu menusuk hingga lidahku kelu untuk kembali berbohong padanya. Aku tidak bisa berbohong jika dia menatapku dengan cara seperti itu. "Kau berbohong padaku, Sakura."
"Hey, ada apa ini?" Kakashi yang menyadari tensi panas di antara kami berusaha menyela.
"Diamlah, Kakashi. Ini bukan urusanmu, atau kau peduli karena kau juga berteman dengannya, sekarang?" Ino kini mengalihkan tatapannya ke arah Kakashi. Membuat pria itu bungkam dan hanya bersedekap di ujung ruangan, meski dia tidak berniat untuk pergi meninggalkan kami.
"Aku benar-benar tidak—"
"Aku bisa memecatmu karena ini, Sakura," Ino kini berdiri dan berjalan mendekatiku. "Sejak kapan kau mengenal Sasori?!"
"Darimana kau—"
"Jika kau berani berbohong padaku sekali lagi. Aku tidak akan segan mengusirmu kembali ke jalanan." Kedua matanya menyipit dan telunjuknya menudingku, membuatku kaku tak bergerak. Tetap bergeming di tempatku berdiri, bahkan ketika Ino mengambil tasnya dan segera pergi keluar ruangan.
Kusadari wajahku pasti memucat, karena seluruh tubuhku terasa panas dan lututku melemas. Aku tidak yakin aku sanggup berdiri lebih lama lagi, maka aku segera menduduki kursi terdekat dan membiarkan kepalaku berputar, memikirkan dimana letak kesalahanku hingga Ino dapat mengetahuinya. Sebelum kusadari sesuatu, dengan segera aku mengambil tasku dan mengeluarkan ponsel.
Aku membaca pesan terbaru dari Sasori yang sudah dalam keadaan terbuka. Kini semua tersimpul dalam otakku, mengapa Ino bisa mengetahui semuanya. Aku memijat pelipisku yang berdenyut membuatku mengernyit. Aku sama sekali tidak tahu bagaimana harus mengendalikan keadaan ini, karena tidak kusangka Ino akan menjadi semarah itu hanya karena pertemuanku dengan Sasori.
Tidak lama, kudengar Kakashi tertawa kecil dan berjalan menghampiriku, "Hey, pria aneh. Apa kau tidak lihat keadaan genting yang baru saja terjadi?!" Aku menjadi kesal melihat tingkahnya. Namun Kakashi hanya membungkuk agar kedua matanya sejajar denganku.
"Ino cemburu."
"Aku tidak akan mungkin merebut Sasori darinya!"
Kakashi hanya menggeleng sebelum menegakkan tubuhnya, masih dengan senyum jahil itu di wajahnya. "Kau akan tetap makan siang bersamaku dan Ino. Dan dia tidak boleh melanggar janjinya padaku."
"Kau benar-benar sudah gila!" Aku bangkit berdiri dan berjalan cepat mengikuti langkah Kakashi, "Ino akan memasakku hidup-hidup dan menjadikanku makan siang ternikmatnya!"
xxxx
Suara denting lift yang berbunyi sedari tadi, ditambah musik sumbang dari speaker kecil di pojok sana tidak juga dapat mengisi keheningan yang membuat rasa canggung ini begitu mencekik. Astaga! Mengapa apartemen Ino harus berada di lantai setinggi itu sehingga aku harus menghabiskan waktu berdua dengannya dalam lift sialan ini! Tanpa sepatah kata pun! (Dan menutup bibirku rapat-rapat selalu menjadi hal tersulit).
Setelah menghabiskan makan siang yang dipenuhi dengan percakapan antara Kakashi dan Ino, jadwal berlanjut dengan sesi pemotretan Ino untuk merek sebuah produk di majalah ternama Jepang. Tidak banyak percakapan yang terjadi di antara kami selama itu. Hingga saat ini.
"Ino—"
"Aku tidak memaafkanmu." Dia menjawab cepat dengan jengkel.
"Aku juga tidak memaafkanmu!" Hal ini sontak membuat perhatiannya tertuju padaku, dia mengernyit. Aku melanjutkan, "Karena telah mengganggu privasiku dengan sangat lancang, Ino."
"Aku membelikanmu ponsel itu!"
"Lalu? Tidak membuatmu berhak menyentuhnya tanpa seijinku," aku menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan, "Lagipula pertemuan pagi tadi tidak bermakna apapun."
"Aku sama sekali tidak peduli jika pun pertemuan itu bermakna untukmu." Suaranya kembali terasa dingin membuatku meremang karena rasa asing yang menyergap. Mengikuti dinamika suasana hati model aneh ini benar-benar membuat kelelahan.
Tidak lama lift berhenti di lantai 45. Aku menghela napas lega dan dengan sigap melangkah keluar dari dalam lift. Kami segera berhenti di depan pintu apartemen Ino. Dia mengambil kartu aksesnya dan dalam sekejap pintu itu terbuka. Aku dan Ino terkesiap ketika mendapati dua orang yang tidak lagi asing tengah duduk dan membuang muka satu sama lainnya.
"Ada apa dengan kunjungan mendadak ini?" Ino berusaha mengendalikan emosinya yang kuyakini tengah bergejolak saat ini. Dia tetap mempertahankan kendali dalam dirinya, sesuatu yang sama sekali tidak kulihat siang tadi. Kini raut wajahnya begitu datar, tanpa emosi sedikit pun.
"Pria sialan ini memaksaku mengijinkannya masuk ke dalam apartemenmu, Ino-chan." Aku bahkan dapat melihat bahu Ino sedikit bergidik ketika mendengar panggilan itu dari Sasuke. Sebesar itukah kebenciannya pada pria berwajah pucat itu?
"Kau tidak bisa bersikap santai, huh?" Sasori berusaha tersenyum santai, meski kulihat kedua tangannya tengah mengepal erat. Bersiap meninju pria itu tepat di wajahnya. "Oh, dan aku membawakanmu ini, Sakura-chan." Sasori mengambil sebuah kotak coklat tua dengan pita kuning yang manis di atas meja.
Aku menyadari pandangan Ino yang mengikutiku, ketika aku berjalan mendekati Sasori dan mengambil kotak itu. Aku berdeham. Kecanggungan ini sungguh luar biasa, tidak satu pun di antara kami yang berniat membuka percakapan santai ataupun beramah tamah.
"Kau boleh pergi sekarang, orang asing." Sasuke berucap getir dan menatap Sasori dengan tajam.
Sasori tertawa sinis dan menoleh pada Ino, "Aku rindu padamu, Ino-chan." Lalu kembali menoleh pada Sasuke, "Oh, dan asal kau tahu, aku sama sekali bukan orang asing baginya. Dia adalah mantan kekasih nii-san, dan kami menghabiskan banyak momen bersama bahkan sebelum dia mengetahui keberadaanmu di muka bumi ini, tuan!"
"Brengsek!" Sasuke mengepalkan tinjunya dan meraih kerah kemeja Sasori dengan kasar.
"Hentikan." Ino berujar datar, kini matanya tertuju pada Sasori, "Pergi dari apartemenku sekarang juga, Sasori."
Sasori mengerutkan keningnya, "Aku tidak akan meninggalkanmu bersamanya."
Untuk pertama kalinya semenjak aku mengenal bocah itu, aku melihatnya begitu dewasa dan protektif terhadap sesuatu. Bibirnya mengatup menunjukan kekeras kepalaan, gestur yang menguatkan keyakinanku tentang intensnya perasaan Sasori terhadap Ino. Hatiku terenyuh sekaligus ngilu menatap adegan ini.
"Kau bukan orang yang pantas untuk mengatakan itu, Sasori-san. Sasuke adalah kekasihku, dan kau adalah orang asing di tempat ini. Pergilah."
Kenapa Ino mengatakan itu? Kenapa Ino membela pria berwajah pucat yang tampak geram itu?
"Jika dia berani melakukan—"
"Pergi, sekarang juga."
Sasori melangkah cepat dengan amarah yang menggelegak, dia membanting pintu apartemen keras-keras. Menyisakan kami bertiga yang tetap bergeming di dalam ruangan ini. Napas Sasuke masih menderu, dan Ino tetap dengan postur tubuhnya yang menegang. Ketika aku membuka mulutku untuk berbicara, Sasuke memotongnya, "Apa saja yang sudah kau lakukan dengan orang tak berguna itu?!"
Ino hanya terdiam.
"Jawab aku, sialan!"
Kini dada Ino yang naik turun, dia berusaha keras menahan gejolak emosinya. "Aku tidak mengenalnya dengan baik, Sasuke. Dia hanya adik dari Deidara."
"Oh, mantan kekasihmu itu?" Sasuke tersenyum sinis, "Desainer terkenal sialan itu?!"
Aku bergerak menjauhi mereka, mendekat ke arah dapur tempat dimana peralatan masak berbahaya tersimpan. Karena aku telah berjanji untuk menjaganya, karena aku telah berjanji untuk meraih kepercayaannya. Dengan tangan gemetar dan kehati-hatian yang luar biasa, aku membuka laci dengan perlahan. Sangat perlahan. Deretan pisau yang berkilauan di bawah sinar lampu membuatku begitu tergoda untuk segera melemparnya ke arah pria itu sekarang juga.
Aku mengambil salah satu pisau lalu menyembunyikannya di belakang tubuhku.
Sasuke menghampiri Ino dan tanpa segan menjambak rambutnya hingga kepala Ino menengadah ke belakang. Pria itu menampar wajah Ino dengan sebelah tangannya, lalu meneriakan kata-kata kasar di telinganya, "Pelacur tidak tahu diri! Persetan denganmu!"
Aku mengendap-endap berjalan ke arah mereka di ruang tamu. Kubiarkan Sasuke menampar Ino sekali lagi. Kugenggam pisau itu dengan mantap, lalu mengacungkannya ke arah pria pucat itu, "Lepaskan dia atau aku akan menusuk bola matamu dengan benda ini." Sedikit banyak aku bangga dengan diriku sendiri karena terdengar begitu percaya diri, tanpa sedikitpun getaran dalam suaraku.
Sasuke menoleh ke arahku dan mengerutkan keningnya, "Kau tidak akan berani, gadis kecil!" suaranya berteriak menggelegar, membuatku sedikit tergagap. Namun melihat wajah Ino yang meringis kesakitan, membuat bertekad untuk mengusir pria ini. Setidaknya untuk saat ini. Aku melangkah sekali semakin mendekat padanya.
Cengkraman tangannya di rambut Ino terlepas. Pria itu mengangkat kedua tangannya dengan senyuman beringas yang membuat tubuhku meremang oleh rasa takut. Aku takut jika ternyata dia mampu merebut pisau ini dan balas membunuhku. Orang gila sepertinya tidak akan segan. Jantungku berdegup cepat, namun sekali lagi aku melangkah mendekatinya.
"Aku tidak akan pernah melupakan perlakuanmu malam ini, nona. Kau akan merasakan ganjarannya nanti."
Dia membalikan tubuhnya dan berjalan melewati pintu itu hingga hilang dari pandanganku. Tanganku gemetar dan pisau dapur itu terjatuh begitu saja. Lututku lemas seperti agar-agar, hingga aku menjatuhkan diriku dan duduk bersimpuh di atas lantai. Aku membuang dan menarik napas beberapa kali hingga deburan jantungku menenang.
Tidak lama kudengar isak tangis, membuatku menoleh. Kudapati Ino masih berdiri di tempatnya dan menangkupkan kedua tangan menutupi wajahnya yang pasti telah basah oleh air mata. Dengan segera aku bangkit mendekatinya, "Ino..."
Ino mengangkat wajahnya dan menatapku. Dia hanya menggeleng lemah beberapa kali, "Aku tidak tahu harus berbuat apalagi. Maafkan aku," Ujarku getir. "Aku akan meminta maaf pada pria itu agar kau tidak terkena masalah besok."
Wanita itu hanya merentangkan kedua tangannya dan memelukku. Aku mendekap tubuhnya yang melemah dalam pelukanku. Dia terisak di bahuku, menggumamkan kata-kata yang sama sekali tidak kumengerti. Tangisannya memilukan, tersedu-sedu dan menampakan pertahanan yang telah luruh sepenuhnya. Aku menahan tubuhnya dengan mengandalkan kekuatan dua tanganku, karena sepertinya dia tidak sanggup bertumpu pada tubuhnya sendiri.
Namun, aku tetap membiarkannya menangis. "Kau melindungiku, Sakura."
"Itu pekerjaanku. Kau boleh menaikan gajiku jika berkenan." Ino tertawa kecil di sela isakannya. Hal ini membuatku tersenyum.
Kejadian ini membuatku menyadari satu hal, ada sesuatu yang terjadi antara Sasuke dan Ino. Alasan mengapa Ino mengusir Sasori hanya demi membela pria itu, meski dia tahu apa yang akan terjadi. Aku tidak bisa membayangkan jika aku tidak mengancamnya dengan pisau itu, apa yang akan dilakukan Sasuke pada Ino. Kubiarkan keganjilan itu mengendap, semoga menghilang seiring berjalannya waktu.
"Sakura—" Ino memundurkan tubuhnya dan menatap kedua mataku dalam-dalam, "Kau tahu dua matamu itu adalah hal paling indah dan tulus yang pernah kulihat seumur hidupku." Meski suaranya terdengar bergetar, aku bisa merasakan dalamnya kalimat itu. Entah mengapa, jantungku kembali berdegup cepat.
"B-benarkah?" Lidah sialan yang tergagap di saat-saat semacam ini.
Dua tangan Ino menangkup wajahku, lalu jemarinya bergerak perlahan menelusuri lekuk wajahku hingga bibirku. Seluruh tubuhku bergelenyar dan kurasakan darahku berdesir cepat ketika kurasakan jarinya menyentuh dengan lembut dan ringan.
Tidak ada satu kejadian pun yang dapat terekam oleh otakku ketika Ino mendekatkan wajahnya ke arahku. Hanya deru pendingin ruangan yang menjadi begitu signifikan dan desau napasnya yang hangat ketika menyentuh pipiku. Ketika kepalaku tetap bergeming, dua tangan Ino memaksaku untuk mendekat dan menyambut ciumannya.
Ciuman pertamaku.
Itu bukan masalah, karena duniaku hilang detik ini, karena mataku memejam dan hanya kegelapan yang menyelimuti pandanganku. Seolah aku tidak peduli jika aku buta, ataupun tuli. Selama aku tetap bisa merasakan momen ini dan terus merekamnya. Aku tidak peduli. Kecupan itu semakin dalam dan memaksaku untuk mengikuti setiap gerak bibirnya.
Napas Ino tersengal, begitu juga dengan napasku. Tapi bibir kami tetap menyatu. Meskipun apartemen sunyi senyap, aku dapat merasakan melodi-melodi yang indah terdengar melenakan kesadaranku dan membuatku terus hanyut dalam emosi yang meletup-letup.
Ino tidak menghentikan ciumannya malam itu. Dan kubiarkan musik yang asing terus bermain sepanjang waktu.
To be continue...
