Title: No Smooking, Girl

Naruto is belong to Masashi Kishimoto

Rated: M

Genree: Romance

Warning: YURI, Lime, AU, OOC

Enjoy it...


Chapter 5

I've been watching your world from afar
I've been trying to be where you are
And I've been secretly falling apart
Unseen -
Strange and Beautiful (Aqualung)


Ino POV

Wanita itu terpaku pada majalah di pangkuannya ketika aku melangkah keluar dari dalam kamar. Tidak sepatah kata pun diucapkan olehnya. Tidak juga denganku, tidak mempertanyakan apa tujuan kedatangannya di waktu sepagi ini. Tidak, karena aku sudah terlalu terbiasa untuk dapat menduganya.

Sasuke.

Pria itu pasti telah menceritakan semuanya pada Tsunade.

Aku menarik napas beberapa kali dan menenggak segelas air dingin. "Apa lagi?" Tanyaku padanya.

"Kau tahu tujuanku datang kemari, Ino."

Aku meletakan gelas itu ke atas meja dengan keras, menciptakan suara benturan yang memecah keheningan. "Dia menamparku. Jika Sakura tidak—"

"Gadis itu tidak ada hubungannya dengan semua ini. Aku tidak akan membiarkannya mencampuri urusanmu lagi lain kali." Wanita itu mengangkat pandangannya dari atas majalah dan menatapku, rahangnya mengetat. Gestur yang sudah familier ketika dia tengah berusaha mengintimidasiku. "Sudah kukatakan berapa kali padamu, Ino."

"Apa tujuanmu sebenarnya?" Tanganku menggenggam gelas kaca itu dengan sangat erat. "Tidak cukupkah kehidupan mewah ini untukmu? Mengapa kau memaksaku berhubungan dengan pria sialan itu?"

"Dia adalah jaminan karirmu," Tsunade berujar dingin, "Aku melakukan semua ini untukmu. Jika kau ingin kembali ke jalanan kumuh itu, silakan keluar dari permainan ini."

Aku mendengus sinis, "Dengan reputasiku sekarang, agensi manapun akan membuka pintu mereka lebar-lebar, Tsunade-san. Maafkan aku, tapi satu-satunya alasan aku tetap bertahan adalah karena utang budiku padamu."

Tsunade bangkit dari kursinya dan berjalan perlahan mendekatiku, "Kau yakin? Kau yakin Sasuke akan melepasmu semudah itu? Alih-alih menciptakan rumor yang kejam tentangmu dan membuat hidupmu hancur?"

"Dia tidak akan—"

"Dia dapat melakukannya, dengan sangat mudah. Perhatikan kemana kakimu melangkah, nona. Aku tidak ingin kejadian semalam terulang lagi."

Wanita itu berbalik, hendak pergi meninggalkanku. Sebelum aku berucap tegas padanya, "Kau tidak berhak menentukan hidupku, Tsunade."

"Ya, aku berhak. Tepat ketika aku memungutmu dari jalanan kumuh itu.."

Aku bergeming ketika pintu tertutup dengan keras. Kalimat terakhir itu tidak berhenti terngiang di dalam kepalaku.


Sakura POV

Aku terbangun karena bunyi alarm yang berdering. Ada rasa ringan dalam hatiku ketika membuka mata, meski otakku belum siap untuk mencerna apa yang sebenarnya telah terjadi semalam. Namun semudah itu aku merasa bahagia. Langit masih berwarna jingga dan aku merasa begitu kedinginan karena selimut kesayanganku telah tergeletak begitu saja di lantai.

Dengan gemetar aku berjalan keluar dari dalam kamar. Ketika itu juga ingatanku kembali menghambur, membuatku mengulas senyum kecil. Sebagian diriku sungguh yakin bahwa apa yang tergambar dalam kepalaku hanyalah mimpi. Ketika rambut pirangnya tergerai indah di atas tempat tidurku, atau ketika hangat napasnya terasa begitu nyata berhembus di tengkukku.

Tuhan, aku mencium wanita paling cantik yang pernah kulihat seumur hidupku!

Kini aku berjinjit dengan cepat untuk membuka pintu. Kulihat Ino bersedekap masih dengan baju tidurnya di depan televisi yang tidak menyala. Aku berdeham ragu, dan berjalan menghampiri. Berusaha menarik perhatian Ino, namun wanita itu tetap bergeming.

"Ino-chan..."

"Apa jadwal untuk hari ini?"

Dia berucap dengan sangat dingin, tanpa menatap mataku sama sekali. Entah mengapa aku tertegun mendengar pernyataan itu, membuatku semakin percaya bahwa apa yang terjadi semalam sungguh hanya mimpi.

"Apa kau mendengarku, Sakura-san?"

"Oh..." Aku tergagap. Kedua tanganku saling mencengkram erat, sama sekali tidak menduga mendapati Ino bersikap jauh seperti ini, "Meeting mulai pukul sepuluh untuk membicarakan peranmu sebagai juri di acara pencarian bakat terbaru NihonTV."

"Hmn," Ino terdiam sejenak sebelum melanjutkan, "Pesankan aku sebuket bunga mawar siang ini,"

"Ditujukan kepada—"

"Sasuke-kun. Tuliskan permintaan maafku untuknya, dan katakan bahwa aku sangat mencintainya."

Napasku terasa berat. Aku hanya mampu menatapnya yang sama sekali tidak menoleh ke arahku. Seolah tengah menghindar, dia hendak berjalan masuk ke dalam kamarnya. Permintaan maaf untuk pria brengsek yang hampir membunuhnya semalam? Apa yang sebenarnya ada di dalam kepala wanita itu?!

"Ino-chan, kenapa kau melakukan ini?"

Ino menghentikan langkahnya. Dia terdiam sejenak, lantas berbalik. Dan untuk pertama kalinya pagi ini, mata kami beradu. Tidak ada kelembutan seperti yang kusaksikan semalam, tatapan itu menjadi lebih dingin dari biasanya hingga aku membeku di tempatku berdiri. Tiba-tiba saja melupakan apa saja yang hendak kuucapkan padanya. Kedua mata indah itu memancarkan kebencian yang membuatku sesak.

"Apa kau harus selalu mempertanyakan semua tindakanku, Sakura-san? Hentikan kebiasaan itu jika kau masih ingin bekerja padaku."

Aku menundukan wajah, berusaha mengabaikan air mata yang membasahi pipiku. Tanganku mencengkram sofa dengan erat agar dapat menopang lututku yang melemas.

Aku tidak mengerti mengapa melakukannya, namun aku segera mengambil ponselku dan mengetikkan pesan singkat.

-Sasori-san, kuharap kau bebas siang ini. Bisakah kita bertemu?-

Sakura.


Kami bertemu di dalam sebuah kedai ramen yang sederhana, tidak jauh dari tempat Ino rapat. Ketika aku datang, Sasori tengah menghirup kuah ramennya dengan nikmat. Aku menyentuh pundaknya sebelum duduk di sebelah Sasori, lelaki itu menyeringai. Dengan intonasi bicara yang sangat menyebalkan itu, dia berkata, "Wah, wah. Apa kubilang, suatu saat Haruno Sakura akan datang memohon cinta padaku.",

"Idiot."

Sasori menghela napas. Baru aku benar-benar menyadari raut wajahnya siang ini. Kedua matanya nampak seperti ditinju. Tidak tampil prima seperti biasanya, kali ini Sasori nampak lusuh. "Ada apa, Sakura-chan?"

"Mengenai kejadian semalam..."

"Aku sangat ingin menghubungimu, Sakura."

"Kenapa kau tidak melakukannya?"

"Terlalu takut membahayakan keselamatan kalian dengan adanya pria jahanam itu. Kita sama-sama tahu tidak akan mungkin menelpon polisi."

"Karena Ino pasti tidak menginginkannya."

Tanpa kusadari kedua tanganku mencengkram erat, berusaha menahan amarah.

"Aku berhasil menyelamatkannya semalam."

Aku menceritakan seluruh kejadian semalam, tentu saja seluruhnya... sebelum Ino mulai mendekati dan menciumku. Sasori tidak perlu mengetahui informasi itu.

"Dan pagi ini, Ino memesankan sebuket bunga untuknya meminta maaf."

Sasori menyipitkan kedua matanya, "Apa dia sudah gila?"

Aku mengambil cangkir teh yang baru saja di sajikan oleh pemilik kedai dan menghirupnya. Untuk pertama kalinya dalam dua hari ini aku benar-benar merasakan sedikit ketenangan karena aroma secangkir teh dan—aku tidak percaya akan mengatakan ini—kehadiran Sasori di sampingku.

"Aku benar-benar akan menghabisinya, Sakura!" Sasori menggebrak meja dengan amarah yang meletup.

Aku menggeleng, "Tidak, ada sesuatu yang aneh. Tidak ada satu pun perempuan yang mau diperlakukan seperti itu. Ada alasan mengapa Ino mempertahankan Sasuke."

"Apa mungkin... dia benar-benar mencintainya?"

"Aku mungkin tidak berpengalaman dalam urusan ini, tapi Ino tidak mungkin setegang dan sedingin itu jika bersama dengan orang yang dicintainya. Semalam..." aku memejamkan mata, berusaha menenangkan jantungku dan mengenyahkan rasa ngilu di perut mengingat kejadian itu. "...untuk pertama kalinya, aku melihat Ino sangat ketakutan."

"Apa alasan yang mungkin?"

"Entahlah... Sasori, apa sebenarnya hubungan antara Ino dan Tsunade-sama?"

Sasori menatap kedua mataku sejenak, "Bisakah kau menjaga rahasia, Sakura?"

"Jika ini mengenai Ino, aku akan berjanji."

"Nii-san pernah bercerita padaku mengenai Ino. Setelah lima tahun berhubungan dengan wanita itu, aku cukup bangga Nii-san bisa mendapat informasi ini. Mengingat bagaimana dingin dan tertutupnya dia." Sasori menghirup tehnya, mungkin meredakan rasa gugup yang muncul. Nampak dari kedua tangannya yang saling memilin. "Tsunade menemukan Ino di jalanan kumuh ketika dia masih sangat kecil. Kehilangan kedua orangtua, dan tidak punya tempat tinggal. Wanita itu merawat Ino dan melatihnya hingga seperti sekarang ini."

Kini semua terasa masuk akal bagiku. Alasan Ino menangis sendirian malam itu, atau mengapa dia begitu muram dan ketus pada semua orang. "Apa kedua orangtuanya meninggal?"

"Meninggalkannya, Sakura." Rahang Sasori mengetat, "Mereka tidak menginginkan Ino. Aku tidak tahu apa alasan sebenarnya. Bahkan mungkin Ino juga tidak pernah mengetahui alasannya."

Setidaknya ada satu persamaan di antara kami. Sama-sama yatim piatu. Bedanya aku tahu kedua orangtuaku telah tenang di atas sana. Mereka telah menghabiskan banyak waktu berharga bersamaku selama hidup, kurasa itu semua cukup. Kurasa itu yang membuatku tetap kuat hingga hari ini. Ino, aku tidak tahu bagaimana seseorang dapat hidup jika bahkan kedua orangtuanya tidak pernah mengharapkan kelahirannya.

"Tsunade orang yang sangat aneh. Meski aku tidak tahu apakah ini ada hubungannya dengan Sasuke. Tapi dia begitu mencurigakan."

"Aku akan berusaha mencari tahunya lagi." Sasori menggenggam tanganku, "Bantu aku, Sakura-chan. Aku sangat mengharapkanmu."

Aku menatap mata lelaki itu beberapa saat. Sebelum kali ini mengangguk mantap. Apapun perasaan yang kurasakan, aku harus menyelamatkan Ino. Tidak peduli jika Sasori melakukan itu atas nama cinta, dan meskipun itu sedikit mengganggu. Aku akan tetap melakukannya. Karena mungkin... mungkin Ino telah menjadi orang yang cukup penting dalam hidupku.


Ino POV

Ini adalah cangkir kopi tanpa gula kelima yang kuminum sepagian. Persetan karena cairan hitam ini tidak mampu mengusir rasa jengah dalam hatiku. Hanya ada satu orang yang dapat kusalahkan akan ini. Seseorang dengan dua mata indah yang tidak mampu enyah dari benakku. Aku mengingat ciuman semalam, tapi yang paling kuingat adalah tatapannya yang begitu lekat tepat sebelum bibir kami bersentuhan.

Ada keraguan namun hasrat yang sama seperti kurasakan terpancar. Mengingat kejadian semalam hanya membuatku merasa semakin ganjil. Tidak seharusnya aku merasakan keinginan yang begitu besar akan gadis itu. Gadis tak berotak yang sering membuatku kesal itu.

"Ino-chan!"

Deidara menyikutku dengan cukup keras membuatku mengernyit kesal padanya, kedua matanya melotot dan memberi signal dengan menaikan kedua alisnya berulang kali.

"Ada yang ingin anda sampaikan, Ino-san?"

Ah.

Bagaimana mungkin aku menyampaikan sesuatu jika aku tidak benar-benar memerhatikan presentasi yang tengah berlangsung di depan sana?

"Umn.. Ah..."

"Ino akan menyampaikan pendapatnya setelah melakukan riset mendalam tentang acara serupa. She'll let you guys know. Right, Ino?"

"Y-yes, I will." Aku menghela napas lega, Deidara benar-benar penyelamatku pagi ini. Jujur saja, aku terbiasa kritis akan setiap acara-acara yang kubintangi, itu alasan mengapa aku tidak pernah melewatkan rapat perdana yang diadakan untuk mendiskusikan acara. Profesionalitas selalu kubayar dengan waktuku.

Pagi ini, aku benar-benar membuang waktuku hanya karena Sakura. Sial.

"Get your shit together, Ino. Kau yang selalu mengajariku untuk profesional setiap rapat!"

"Sorry, and thanks." Bisikku padanya, Deidara hanya menggeleng kesal dan kembali terfokus pada staff kreatif di depan sana.

Bahkan tanpa kehadirannya, Sakura benar-benar membuatku kesal.

Aku tidak dapat menemukan wajah mengesalkannya di ruang tunggu ataupun koridor gedung. Sakura tidak terlihat dimanapun, hal ini membuatku berdecak kesal. Dua jam lagi aku harus berada di New York untuk menghadiri pagelaran mode salah satu kawan Deidara. Tidak ada waktu untuk memaklumi kebodohannya.

"Hey, apakah kita akan bertemu lagi nanti malam?" Deidara merangkul bahuku. Aku tidak menyadari keberadaannya sedaritadi, pria itu seolah menghilang seusai rapat. "Kau nampak tidak sehat, nona."

"Entahlah, kurang tidur kurasa."

Deidara mengangkat kedua alisnya dan mengulas senyum tipis, "Kupikir kau vampir selama ini, tidak pernah membutuhkan tidur."

"Kita berpacaran selama lima tahun dan kau berpikir seperti itu? Wow."

Deidara terkekeh geli, dia memelukku dengan erat. Pelukan yang sama seperti Kakashi, selalu mampu membuatku nyaman. Setelah kuingat lagi, ini adalah salah satu alasan aku berpacaran dengan Deidara dulu. Sebelum pria itu mengakui bahwa dia gay pada akhirnya.

"Dimana asistenmu yang cantik itu?" Deidara melihat ke sekelilingku.

"Tersasar di suatu tempat, aku tidak tahu mengapa mempekerjakannya."

Deidara menepuk bahuku, "Kau beruntung mempekerjakannya, Ino. Dia benar-benar inspirasiku beberapa hari ini."

Aku mengerutkan kening, "Apa maksudmu?"

"Setelah aku bertemu dengannya ketika pesta penyambutanku, aku benar-benar tidak dapat melupakan wajah manis dan tubuh rampingnya. Aku harus mendesain gaun khusus yang akan sangat cocok dengannya!"

Pria itu nampak begitu antusias hingga menepuk kedua tangannya dengan wajah berseri. "Kupikir kau hanya begitu padaku, Deidara."

Deidara tersenyum dan mengusap bahuku, "Tentu saja, sayang. Tapi Sakura benar-benar nuansa yang baru dalam imajinasiku. Kuharap kau tidak cemburu."

"Ino!"

Gadis yang dibicarakan sedari tadi, datang dengan napas terengah dan keringat yang membasahi seluruh tubuhnya. Seolah dia baru saja berlari kemari.

"Darimana saja kau?"

Sakura menyisir rambutnya dengan jemari. Dia kelihatan kelelahan, dan tidak ada satu kata pun yang mampu terucap olehku. Aku hanya mampu memikirkan (atau merasakan) jantung yang berdegup kencang dan napas yang mulai terasa sesak. Seharusnya aku sadar, ada Deidara yang begitu lekat mengamati kami sedari tadi, karena pria itu berdeham kemudian.

"Aku harus pergi sekarang." Ujarnya, "Sakura-chan, telepon aku kapan-kapan." Pria itu tersenyum tipis sebelum pergi meninggalkan kami.

Dan aku masih bergeming menatapnya dengan wajah idiot.

"Maafkan aku, sungguh. Aku baru saja dari toilet."

Ada toilet di setiap lantai, dan terletak pada arah yang berlawanan dari tempat kedatangan Sakura tadi. Namun aku masih saja tidak dapat berbicara. Persetan dengan diriku sendiri. Apa yang sebenarnya terjadi?

"Apa ada yang bisa kulakukan langsung? Aku sudah menyiapkan makan siangmu di mobil, juga koper untuk kau bawa ke New York malam ini. Kurasa..."

"Sakura..."

Ino... Kau tidak hendak menyebut namanya, ayolah!

"Ya?"

Bibirku membuka dan mengatup beberapa kali hendak mengucapkan sesuatu. Kenapa dia harus berkeringat dan selalu bersemangat seperti itu? Benar-benar membuatku lepas kendali dan kupikir ini karena rasa kesal yang tidak terbendung.

"Temani aku ke toilet."

Setidaknya aku dapat berbicara dengan layak di sana. Tidak ada seorang pun yang dapat melihat ekspresi kosong ini.

Atau ini adalah keputusan yang salah.

Ketika aku tidak dapat berhenti memikirkan kedua matanya sepagian, ataupun bibirnya yang terasa begitu lembut. Mungkin ini keputusan yang salah.

Tapi aku tidak menghentikan langkahku, dan Sakura mengikuti dari belakang. Tepat ketika pintu toilet tertutup, aku melihat ke sekeliling. Jika ada seorang pun di dalam sini.

"Ino, aku tidak tahu ada apa denganmu pagi ini, tapi jika ini karena semalam..."

Kalimatnya terhenti ketika aku mendorong tubuhnya hingga menghantam pintu. Dia mengernyit kesakitan, namun aku segera melumat bibirnya dengan kasar. Ini benar-benar yang kubutuhkan seharian. Menciumnya lagi seperti semalam, ini yang membuat otakku tidak dapat bekerja dengan seharusnya, yang membuat napasku sesak ketika melihat sosoknya berlari tadi.

Tanganku bergerilya berusaha menyentuh seluruh tubuhnya, Sakura tidak banyak bereaksi, namun tubuhnya melemas hingga aku kembali memajukan tubuhku sehingga beban tubuhnya tertumpu padaku dan pintu. Aku tidak tahu kemana tanganku berlabuh, terlalu banyak untuk dirasakan pada saat yang bersamaan. Atau mungkin menciumnya telah merenggut kemampuan berpikirku.

Aku menyentuh pinggulnya dan terus bergerak ke bawah, hingga kedua tanganku meremas tempat yang begitu tepat. Sakura melenguh kala aku melakukan itu, membuatku semakin bersemangat mendorong tubuhnya. Hingga tidak tersisa sedikit pun jarak di antara kami. Lidahku menelusup masuk, disambut dengan erangan Sakura yang membuatku melenguh.

Sakura menyambutnya dengan kembali melumat bibirku. Aku tidak tahu bahwa dia bisa agresif seperti ini. Tangannya bergerak dan menyentuh wajahku. Gestur hangat yang sama seperti ciuman semalam, membuatku semakin menggila.

Namun tangan itu menarik wajahku menjauh darinya, meski lidahnya masih tetap bermain denganku, Sakura berusaha menjauhkanku. Begitu saja kesadaran menghantamku, apa dia tidak pernah menginginkan ciuman ini?

Aku melepas ciuman kami, meski wajah kami masih terlalu dekat. Kedua mata Sakura masih memejam, dia menggigit bibir bawahnya. Pemandangan ini membuatku kembali memajukan bibirku dan mengecupnya sekali lagi. Baru Sakura membuka matanya dan menengadahkan kedua tangannya. Mendorongku, membuat tubuhku sedikit limbung dan bergerak mundur.

"Ino," Napasku terengah, dan lidahku kelu hanya mampu menatapnya dengan gairah yang kuyakin masih memancar. "Kita harus menghentikan ini,"

"Kenapa?"

"Karena pesawatmu berangkat satu setengah jam lagi."

"Oh..."

Aku memundurkan tubuhku dengan canggung, kemudian berjalan cepat ke arah cermin. Sakura masih berdiri bersandar pada pintu, wajahnya kaku. Dia tidak bergerak sedikit pun dari sana.

Aku menatap bayangan wajahku dalam cermin. Terlihat begitu merah dengan rambut yang berantakan. Dengan cepat aku berusaha merapihkannya, namun tanganku masih gemetar dan degup jantungku belum kembali pada irama yang semula. Keningku nampak berkeringat.

"Sakura," Gadis itu masih tidak bergerak.

"Ya?" Ujarnya dengan suara yang parau.

"Aku tidak tahu apa yang terjadi." Ujarku pada akhirnya, sesuatu yang aku tahu harus kukatakan padanya, "Tapi biarkan ini menjadi rahasia kita. Untuk saat ini."

"Aku tahu." Dari cermin, aku dapat melihat gadis itu menundukan wajahnya, "Maafkan aku, Ino." Suaranya terdengar begitu lirih. Aku sama sekali tidak mengerti pergumulan semacam apa yang dirasakannya, apakah sama seperti yang kurasakan? Mungkin tidak seharusnya aku peduli.

Aku berjalan mendekatinya (pintu, sebenarnya. Karena kita benar-benar harus pergi dari sini untuk mengejar jadwal pesawat). Dengan lembut aku mengangkat dagunya, Sakura hanya menatapku, tidak menunjukan ekspresi apapun. "Tidak ada yang perlu dimaafkan, Sakura."

Mungkin jika ada orang yang seharusnya meminta maaf, itu adalah aku. Aku yang memulai segalanya, dan tidak tahu bagaimana mengakhirinya.

"Aku berjanji tidak akan melakukannya lagi padamu." Ucapku sedikit ragu. Bagaimana mungkin jika aku akan terus bersama dengannya dan tatapan lugu itu?

Gadis itu bergerak agar memberiku akses keluar dari ruangan ini. Tidak ada seorang pun di koridor, sehingga aku menggenggam tangan Sakura yang berkeringat. Kakinya bergerak perlahan, aku dapat merasakannya begitu gentar berjalan bersamaku. Setidaknya hanya ini yang dapat kulakukan untuk meyakinkan Sakura bahwa semuanya baik-baik saja. Menggenggam tangannya.

"Ino-chan,"

Langkah kami terhenti, ketika wajah yang familier muncul mendekat. Sasuke.

Dia menatapku dan Sakura secara bergantian, tatapannya turun ke arah dua tangan kami yang saling bergandengan. Pria itu mengerutkan kening. Sakura segera menarik tangannya, dan mengalihkan wajahnya dari kami. Aku menelan ludah dan mengambil napas beberapa kali. Mungkin pria ini telah mendapat bunga kirimanku.

Aku hanya berharap tidak pernah menemuinya lagi, namun hidup tidak bekerja dengan caraku.

Karena dia selalu muncul pada saat yang tidak kuinginkan.

"Sasuke-kun."

Aku menyeringai, dan berjalan menghampirinya. Memeluk tubuhnya yang kurus dan kekar. Sama sekali tidak membuatku nyaman ataupun aman, justru sebaliknya.

"Maafkan aku tentang semalam." Sasuke tersenyum, seolah semua yang telah dilakukannya cukup terbalas hanya dengan satu kata maaf. "Sakura tidak perlu menemanimu, aku akan ikut ke New York denganmu."

Detik itu, aku merasakan tangan Sakura mencengkram lenganku. "Aku harus ikut dengannya. Ino-san pasti membutuhkanku di New York."

Aku menyentuh genggaman tangannya, karena hanya dengan cara itu. Aku merasa aman dari tatapan mengerikan pria ini.

To Be Continue


Author's Note: Terima kasih untuk teman-teman yang masih mengikuti cerita ini. Terlepas dari gue yang update entah berapa tahun sekali. But I really, really, love this story. Jadi kalau masih ada di antara kalian yang mengikuti jalan ceritanya. Thanks a lot.