Chapter 6
"So I'll make sure to keep my distance
Say I love you and you're not listening
How long, can we keep this up"
Distance – Christina Perri ft Jason Mraz
xxxx
Sakura POV
"Gadis muda sepertimu, nona. Harus bisa menemukan pria yang kaya dan mapan. Tampan? Ketampanan tidak menyediakan makanan di rumahmu! Kekayaanlah yang membuatmu hidup enak. Benar tidak kataku?"
"Ugh..."
"Ah sudahlah, tak perlu kau jawab. Pemikiran gadis jaman sekarang itu tidak realistis. Melulu tentang cinta. Kau bisa tebak berapa umurku?"
"Entahlah?"
"65 tahun, dan aku meminang istri yang berumur 30 tahun! Itu wanita yang realistis, karena aku punya harta yang banyak."
Oke...
Jangan menguap, Sakura. Itu akan menyinggung pria ini.
Aku mengangkat kedua alisku tinggi-tinggi. Mencengkram pegangan kursi erat, hanya untuk menahan kantuk yang menghantam. Sarutobi-san, pria tua yang baru kukenal di atas pesawat tidak henti-hentinya berceloteh tentang bisnis dan kekayaan. Dua hal yang sama sekali tidak kumengerti (ataupun tertarik akannya).
Perlahan suaranya teredam oleh pikiranku sendiri, ketika dalam beberapa detik pandanganku beralih pada dua kursi di seberang kananku. Sasuke tengah menggenggam erat tangan Ino. Wanita itu tidak menampakan seulas senyum sama sekali, sementara Sasuke bersandar menatap ke arah jendela. Ino hanya terpaku, duduk tegak dan memandang kursi lain di hadapannya. Ino tidak menikmati perjalanan ini.
Ino mungkin tidak menyadarinya ketika beberapa kali aku mencuri pandang ke arahnya. Hanya agar dapat menikmati kecantikan itu sejenak, sekaligus sebagai pengalih rasa kantukku.
"Hey, apa kau mendengarku, nona?"
Bagaimanapun, aku juga tidak menikmati perjalanan panjang ini. "Tentu saja, Sarutobi-san. Aku akan mengikuti seluruh saranmu."
"Bukan, bukan itu. Aku bertanya padamu apa kau seorang model?"
"Oh..." Ingin rasanya aku menepuk jidatku karena jawaban bodoh tadi. "Aku? Bukan tentu saja, bukan."
"Aneh." Pria itu mengerutkan keningnya, "Kau memiliki postur seperti seorang model."
Darimana juga pria ini tahu postur seharusnya seorang model?
"Kurasa tubuhku terlalu kurus, Tuan."
Pria itu mengibaskan tangannya, "Ah. Dengan sedikit pulasan kau akan nampak luar biasa. Kau harus memikirkan kemungkinan berkarir sebagai model, Haruno-san."
Yang benar saja? Jika saja pria ini tahu aku adalah asisten pribadi dari model ternama Ino Yamanaka. Kurasa pria itu terlalu sibuk mengobrol (satu arah) denganku hingga tidak menyadari Ino duduk tidak jauh darinya. Atau pria ini sama sekali tidak tahu siapa Ino.
Aku menyandarkan tubuhku di bangku pesawat dan mulai memejamkan mata. Sepertinya pria itu juga kelelahan berceloteh sedari tadi, atau dia menangkap signal dariku agar berhenti berbicara. Aku tertidur. Melupakan Ino, melupakan dimana aku berada, melupakan segalanya.
xxxx
Ino POV
Kedua matanya memerah, wajahku tertarik oleh kedua tangan kekarnya.
Dia tidak mengerti ketika aku mengucapkan maaf karena tidak bisa menemaninya berkeliling kota New York. Sasuke melempar seluruh koper dan mengamuk menampar wajahku.
Pria itu mendekatkan wajahnya, membuatku memejamkan mata erat. "Dengar aku, sialan. Jika aku ingin kau mati terjun dari kamar hotel ini sekarang juga, kau harus melakukannya. Mengerti?!"
Kedua rahangku mengetat. Aku tidak menanggapinya. Namun pipiku mulai terasa ngilu karena cengkraman yang kuat. Dia sama sekali tidak berniat melepaskanku semudah itu, hingga aku benar-benar mengikuti keinginannya.
"Jawab aku!"
Napasku menderu, sama sekali tidak ingin bertekuk lutut untuknya.
Sasuke siap memukul wajahku dengan sekepalan tangan, hingga derit pintu terbuka menghentikan gerakan tubuhnya.
"Aku hanya ingin memberitahu kalian acara dimulai pukul tujuh malam." Deidara. Dia berdiri santai bersandar pada daun pintu seolah tidak terjadi apapun. "Dan, Sasuke-san. Mengapa kau masih di sini, eh? Sudah ada yang membocorkan kedatanganmu kemari, dan penyelenggara acara ingin bertemu denganmu secara langsung!"
Sasuke mengerutkan keningnya, dia menatap Deidara dalam. "Untuk apa mantan pacar sialanmu datang ke sini?" Sasuke menyipitkan matanya dan menoleh ke arahku.
"Ayolah, aku tidak tertarik dengan pacarmu sama sekali..." Deidara berjalan maju, mendekati kami. "...malah, aku lebih tertarik denganmu, sayang."
Sasuke yang tidak siap akan godaan darinya, segera bergerak mundur menjauh. "Dimana mereka menungguku?"
"Datang saja ke tempat pagelaran nanti malam. Mereka sudah menunggu di ruang VIP."
Tanpa berucap apapun, Sasuke segera pergi meninggalkan kami.
Aku tidak tahu bagaimana rasanya aku ingin bernapas lega. Namun, aku tidak mungkin memperlihatkannya pada Deidara.
"Apa yang akan dilakukannya padamu, Ino?" Suara Deidara terdengar dalam. Baru kali ini aku melihat kedua matanya menyorot begitu tajam. Seolah siap untuk membunuh siapapun dengan tatapan itu.
"Bukan urusanmu."
"Sialan, Ino! Apa dia memukulmu lagi?"
Aku membuang wajah ketika Deidara berusaha menyentuh pipiku dengan jarinya. "Iya ataupun tidak, sama sekali bukan urusanmu. Aku sangat lelah, Deidara, kuharap kau mengerti."
"Oke." Dia menepuk kepalaku lembut, "Ino, aku selalu siap menyelamatkanmu. Just, let me know. Let me protect you."
"Pergilah, Deidara." Aku memejamkan mata, bersyukur semua ini telah berakhir.
"Oke, oke. Aku akan pergi sekarang."
Xxxx
Beberapa menit aku membaringkan tubuh di atas ranjang, terdengar keributan di koridor membuatku mengernyit. Aku tersenyum kecil mendengar suara Sakura yang bercakap dengan seorang (kuduga) staff hotel.
"Nona, kami tidak dapat membiarkan tamu membawa sendiri kopernya."
"Bukan bermaksud tidak sopan, tapi aku akan membawa sendiri koper ini! Dan ayolah, kita sudah berada di depan kamarku sekarang!"
Pintu berderit terbuka, nampak Sakura berkeringat dengan dua koper besar dan tiga tas jinjing di tangannya. Napasnya memburu. "Ino, haruskah kau membawa tas sebanyak ini?"
"Maafkan saya, nona, tapi nona ini memaksa untuk membawa semuanya sendirian."
"Aku tidak akan memercayakan seluruh barang ini padamu, tuan!"
Staff tadi mengangkat kedua alisnya, merasa tersinggung dengan ucapan Sakura.
Aku bangun dan mengambil beberapa lembar dollar dari dalam dompet, "Sudahlah, kau boleh pergi sekarang. Terima kasih."
Pria itu tersenyum lebar menatap lembaran uang di tangannya.
"Hey! Aku membawa koper-koper ini sendirian dan kau memberinya tips?!"
"Sakura, itu memang pekerjaannya." Aku menggeleng mendapati kepolosan dan kekeras kepalaan gadis ini. "Kita masih punya setengah jam sebelum pergi ke salon."
Aku kembali berbaring di atas ranjang dan berusaha memejamkan mata. Sebelum kurasakan tangan yang dingin menyentuh pipiku. Tubuhku mulai melemas dan perutku bergolak. Aku berusaha semakin keras untuk memejamkan mata.
"Apa dia memukulmu lagi, Ino?"
Aku membuka mata dan menepis tangan Sakura dari wajahku, "Apakah terlihat jelas?"
"Samar, dapat diatasi dengan make-up kurasa." Sakura duduk di sisi lain ranjang, "Ino bisakah kita membicarakan soal..."
"Katakan apa yang ingin kau katakan."
"Bisakah kita menghentikannya?"
Hatiku mencelos mendengar permintaan yang begitu naif darinya. Apakah dia tidak pernah menginginkan ciuman dariku sama sekali? Apakah dia merasa terganggu karenanya? Sial. Apa yang sudah kulakukan?!
"Aku sudah bilang tidak akan melakukan apapun lagi padamu."
"Aku juga berjanji tidak akan menceritakan hal ini pada siapapun, Ino. Apa yang terjadi dua hari belakangan mungkin hanya..."
"Pergilah, Sakura. Aku butuh istirahat."
Sakura menghentikan kalimatnya, aku tidak membuka mata sama sekali ketika kurasakan dia bangkit dan berjalan keluar dari dalam kamar.
Apakah ini yang akan terus kulakukan? Mengusir orang-orang ketika aku merasa tidak nyaman dan terluka?
Lalu mengapa mendengar Sakura mengatakannya membuatku merasa terluka?
xxxx
Sakura POV
Aku menarik napas panjang dan menghembuskannya secara berlebihan hingga helai rambutku yang tertata rapih terhempas. Aku duduk terpaku di dalam limusin berhadapan dengan Ino yang mengabaikanku dan hanya menatap jendela.
Pria di salon tadi mengubah warna rambutku menjadi merah bergradasi. Entahlah perpaduan merah muda dan merah menyala. Lalu memakaikan gaun putih dengan punggung yang terbuka. Aku merasa cantik ketika di salon tadi. Sebelum limusin benar-benarmendekati tempat ini dan aku melihat bagaimana orang-orang nampak begitu rapih dan formal. Jauh berbeda dari pesta-pesta yang Ino hadiri sebelumnya.
"Ini adalah festival pagelaran busana yang besar, Sakura. Bersikaplah dengan anggun, dan kita akan melewati malam ini dengan selamat. Ingat apa yang selalu kukatakan?"
"Tersenyum dan jangan bagikan mereka informasi apapun tentangmu." Kedua tanganku memilin dengan gugup. "Ino apakah penampilanku baik-baik saja?"
"Apa maksudmu?"
"Orang-orang terlihat cantik dan tampan. Maksudku..."
"Kau cantik, Sakura." Kupikir jantungku berhenti detik ketika Ino menatap mataku dan mengatakannya begitu saja. "Aku membayar jasa salon tadi dengan sangat mahal, tentu saja kau sangat cantik."
Ino menggenggam tanganku dan menuntunku keluar dari dalam limusin. Gestur sederhana yang membuat hatiku menghangat.
"Kau lihat pria di sebelah sana? Itu adalah Orochimaru, politisi yang tertarik dengan dunia modeling."
Aku tersenyum ketika Ino tidak berhenti bergumam menjelaskan semua orang penting yang ada di dalam hall besar ini. Aku merekam semua dalam ingatanku denga lekat. Tersenyum ketika dia tersenyum, terdiam di sisinya memerhatikan gestur Ino ketika berinteraksi dengan orang-orang di sini.
"Sakura, lihat pria yang tengah menghampiri kita? Dia adalah tuan rumahnya. CEO Mercedess Benz yang mengadakan pagelaran malam ini."
Aku memfokuskan pandanganku pada pria tua yang tidak lagi asing.
"Aku duduk bersamanya di dalam pesawat!"
"Hey, pelankan suaramu!"
"Apa kau yakin dia orang penting di sini? Aku duduk dan mengobrol dengannya di dalam pesawat. Oh tidak... aku bahkan mengabaikan obrolan kami siang tadi. Sial!"
"Sakura, tersenyum manis. Dia mendekat."
Sarutobi-san berjalan mendekat dan menepuk kedua tangannya. Senyumnya memperjelas keriput di wajahnya, "Nah, lihat siapa ini?! Kurenai!" Pria tua itu terlihat memanggil seseorang, aku mengikuti arah pandangnya kepada seorang wanita berumur 30an. Persis seperti apa yang diceritakannya di dalam pesawat tadi. "Lihat ini, ini gadis yang kuceritakan padamu duduk bersamaku di dalam pesawat. Cantik, bukan?"
Ino mengerutkan kening dan menatapku heran. Aku menatapnya dengan arti sudah kubilang aku kenal dengannya! Semoga Ino mengerti apa yang kuucapkan melalui kedua mataku. "Sarutobi-san..." Aku membungkuk dan menyapanya dengan sopan.
Kurenai menyeringai, wajahnya memerah, malam belum larut dan dia terlihat mabuk dengan segelas anggur di tangan kirinya. "Cantik."
Aku hampir tersedak ketika Kurenai mengedipkan sebelah matanya, tangannya menjulur dan membelai lenganku dengan lembut. Membuatku menggigil.
"Sarutobi-san," Ino berusaha merebut perhatian pria tua itu.
"Nah, beritahu aku, Ino. Apakah gadis ini adalah anak didikmu?"
Ino tertawa sungkan, "Dia adalah asistenku, Tuan."
"Ah! Sayang sekali. Kupikir dia juga model." Sarutobi mengangkat alisnya dan menangkup kedua tanganku, "Nah, Sakura, kau juga boleh mengajak Ino datang ke rumahku sewaktu-waktu, aku akan menunjukanmu lapangan tembak yang kuceritakan tadi siang. Kita akan makan siang bersama, dan aku akan menceritakanmu tentang kisahku ikut serta dalam pertandingan adu tembak sewaktu muda dulu!"
Aku melirik sedikit ke arah Ino, kulihat dia sama terkejutnya denganku mendapat undangan mendadak itu dari Sarutobi-san (yang tidak kuduga) adalah seorang CEO dari perusahaan ternama. "Terima kasih atas tawaranmu, Sarutobi-san. Aku merasa terhormat mendapat kesempatan itu darimu." Kini Ino yang menjawabnya, menggantikanku yang masih bergeming karena rasa terkejut.
"Ah, santai saja, Ino-san. Aku harus pergi sekarang, selamat menikmati malam ini, nona-nona!"
"Bagaimana mungkin kau tidak tahu siapa dia, Sakura?!" Ino berbisik gemas kepadaku.
Aku hanya mengangkat bahu, "Kupikir dia pria tua yang suka pamer? Mengapa kau juga tidak menyadarinya?! Kita berada dalam satu pesawat, Ino!"
Ino menggeleng dan mengalihkan pandangannya dariku. Tersenyum pada Kurenai yang sibuk menyesap anggurnya. Dia menarik tubuhku sedikit menjauh dari Kurenai dan mulai membeberkan informasi mengenai wanita itu, "Kurenai wanita yang sedikit unik."
"Umn, aku dapat... melihatnya."
"Dia..." Ino berdeham, berusaha meredakan kegugupan apapun yang tiba-tiba muncul, "...tertarik pada gadis muda, tapi ini hanya gosip yang beredar. Dan dia sepertinya tertarik padamu, ikuti saja apa maunya selama itu tidak membahayakan. Dia tidak suka mendapat penolakan, dan jika kau mengecewakannya, dia dapat memastikan kau, atau aku dalam kasus ini tidak akan selamat menjalani karirku. Oke?"
"Oke."
Aku menarik napas dalam ketika Kurenai berjalan mendekat. Dia menaruh gelasnya dengan keras ke atas meja kaca di dekatku. "Sakura-san? Aku tidak begitu suka ketika suamiku berbicara dengan perempuan lain, sejujurnya."
"Ah, sebetulnya percakapan kami..."
Kurenai meletakan telunjuknya di bibirku, membuat lidahku tercekat. Dia menyeringai lalu terkekeh kecil, "Kau bisa menceritakannya padaku di tempat lain, kan?"
Aku mengangkat sebelah alis mendengar nada yang merayu itu terlontar darinya, berusaha menahan kernyitan menghirup aroma napasnya yang sengat berbau alkohol. Ino menggumamkan sesuatu seperti cepat pegi dengannya ketika aku meminta persetujuan darinya.
"Tentu saja, Kurenai-san."
Wanita itu kembali menyeringai dan menarik tanganku melintasi kerumunan.
xxxx
Ino POV
Aku benar-benar tidak dapat mengalihkan pandanganku dari arah luar balkon dimana Sakura dan Kurenai tengah mengobrol santai. Karena ekspresi tegang yang ditunjukannya semalaman ini (padaku) mulai menghilang tepat ketika Kurenai menyalakan sebatang rokoknya. Ya, aku mengamati dengan sedetil itu. Aku... mengkhawatirkan keamanannya, tentu saja tanpa alasan lain seperti cemburu. Yang benar saja?
Seseorang menyikut lenganku, "Apa yang membuatmu memasang wajah seseram itu, eh?"
"Apa maksudmu?" Ujarku ketus menatap Deidara yang menyeringai jail.
"Ah, Kurenai memilih Sakura malam ini, huh? Jangan sampai dia mengundang Sakura masuk ke kamar hotelnya, Ino. Kau benar-benar nekat membiarkannya mengobrol dengan Kurenai."
"Apa Kurenai benar-benar melakukan itu?!"
Oh, sial.
Deidara tertawa terbahak, "Aku hanya bercanda. Kenapa tidak kau bawa Sakura menjauh jika ini mengkhawatirkanmu, huh?"
"Kurenai akan membenciku kalau begitu. Apa yang kau lakukan di sini?"
"Menemanimu yang terlihat begini kesepian tanpa asisten kesayanganmu."
Oke, adegan di luar sana mulai mengkhawatirkan dan mengesalkan. Kurenai memajukan wajahnya mendekati Sakura, namun Sakura melengos dan menjauh dari wanita itu.
"Kau yakin akan membiarkan keadaan ini berlangsung?"
"Diamlah, Deidara!"
Deidara tertawa semakin keras, membuatku ingin meninju wajahnya keras-keras. Kulihat Kurenai mencengkram tangan Sakura dan memaksanya mendekat. Sakura dan senyum gugupnya. Hanya masalah waktu sebelum Sakura benar-benar jatuh ke dalam rayuannya.
Aku tidak salah, karena dalam menit berikutnya Sakura telah duduk di atas kursi memejamkan mata sementara Kurenai memijat punggungnya dengan wajah seperti seorang predator yang berhasil menjebak mangsanya.
Wanita itu menundukan tubuhnya, seperti membisikan sesuatu di telinga Sakura dan membuat gadis itu tersenyum. Ini benar-benar harus dihentikan.
Aku melangkah cepat ke arah balkon dan membuka pintunya menimbulkan keributan yang menarik perhatian mereka berdua. "Sakura, aku membutuhkanmu."
"Tapi, Kurenai-san baru saja..."
"Apa kau bekerja untuknya? Aku. Membutuhkanmu. Sekarang."
Sakura berjalan pergi dari balkon sementara aku masih menatap Kurenai dengan sengit, tanpa kuketahui mengapa aku menjadi begitu kesal padanya. Wanita itu hanya menghela napas dan berjalan melewatiku. Dengan kalimat singkat sebelum dia benar-benar pergi, "You are one repressed lesbian bitch."
xxxx
Sasuke harus kembali ke Tokyo malam ini juga. Dia mengecup bibirku singkat sebelum pergi dari kamarku dan meminta maaf karena ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Sebisa mungkin memasang wajah sedih ketika dia pergi dari sini alih-alih perasaan senang dan lega.
Membayangkan aku dapat menghabiskan malam ini bersama dengan Sakura membuat perutku bergolak oleh rasa senang dan antisipasi berlebihan. Aku mandi dengan tergesa, mengenakan baju tidurku dan membaca majalah (tanpa benar-benar membacanya) dengan nyaman di atas ranjang, menunggu Sakura masuk ke dalam kamar.
Pintu kamarku terbuka, menampakan wajahnya yang menelusup dari luar. "Ino, jam berapa aku harus membangunkanmu besok?"
Keningku berkerut melihatnya yang tidak berniat masuk. Aku menyewa dua kamar tentu saja, tapi kupikir dia akan tetap tidur bersamaku seperti biasanya.
"Jadwal penerbangan kembali ke Tokyo di sore hari. Kita memiliki waktu bebas sebelum itu."
"Oke."
"Sakura, apa kau tidak akan tidur bersamaku?"
Gadis itu terdiam sebelum masuk ke dalam kamar, "Ino... Kurasa akan lebih baik jika aku tidur di kamarku."
"Kenapa? Kau takut aku akan menciummu lagi? Apa yang membuatmu begitu percaya diri?"
Sakura bergeming mendengar kalimat itu terucap dariku. Karena itu yang selalu kulakukan bukan? Menyakiti orang lain sebagai bentuk perlindungan diri, dan egoku.
"Maafkan aku, Ino. Aku takut, aku yang tidak dapat menahan diriku kali ini."
Sakura pergi dan menghilang dari pandanganku.
Begitu saja malam terasa lebih dingin dari biasanya, karena baru aku merasa terbiasa tidur dalam kehangatan gadis itu, dan kini aku kembali sendiri. Bersama rasa sepi yang sudah begitu jamak di setiap malam-malamku.
Repressed lesbian
Aku merindukan Sakura, meski kehadirannya hanya terbatas oleh dinding kamar ini. Aku merindukannya. Detik ini kesadaran menghantamku, sesuatu yang seharusnya sudah kusadari sebelumnya. Aku selalu menginginkan ciuman dan kehangatannya, batas yang ditetapkan Sakura membuatku takut... aku tidak dapat lagi merasakannya.
To Be Continue...
Author's Note: Thank you if you're still reading this. Fyi, it's been 78 pages in my draft (with Calibri font size 11), dan cerita ini sama sekali belum kemana-mana. Segitu lemot dan bertele-telenya kawan-kawan. Still a long way to go for them. Hope you enjoy this one!
