"Jadi…bagaimana ge ?" Tanya Kris.

"Kau bisa membantuku kan ge ?"

Luhan terdiam sembari mengaduk pelan minumannya. Entah rasanya banyak sekali pikiran yang berkecamuk dikepalanya saat ini.

"Ta—Tapi akuuu…sama sekali belum pernah seperti ini…Kriisss~~ apa yang harus kulakukan ?" Tanya Luhan dengan nada ragu. Kris hanya tersenyum biasa.

"Sederhana saja kok ge…" kata Kris

"Kau hanya harus bicara dan bercerita jujur dan apa adanya saja pada hakim tentang perdana menteri….mereka sudah menjamin keamananku dan gege kalau gege bersaksi…"

Luhan menarik nafas-nya dalam.

Disatu sisi dia seperti meyakini kalau ini salah satu jalan baginya untuk menolong sehun dan lainnya tapi di satu sisi lainnya ia sendiri ketakutan…

bagaimana jika mereka berdua kalah dalam pengadilan ini ?

Luhan sama sekali tidak peduli dengan nasib dirinya—tapi bagaimana dengan keadaan dari sehun ?

Luhan menarik nafas panjang. "A-A..kuuu…."

"Kau mengkhawatirkan Sehun kan ge?"

Luhan tersentak kaget mendengar selaan Kris. Ia menghindari tatapan Kris—sembari mengepalkan tangannya. Dia benci terlihat lemah—saat ini bahkan perasaannya bercampur dengan kebingungan.

"Aku juga mengkhawatirkan Taozi,ge…."

Suasana diantara mereka berdua kembali dalam keheningan. Mereka berdua sama sama mengkhawatirkan kekasih mereka hanya bedanya Kris sudah mantap dengan langkah yang diambilnya. Sementara Luhan sendiri ?

"Lalu apa kau tak takut kalau kau gagal ? maksudku bukannya aku pesimis atau apa…tapi…—"

"Sejujurnya dalam hati kecilku aku takut…" Kata Kris pelan "tapi sepertinya memang tak ada jalan lain ge….kurasa memang ini jalannya…aku akan menempuh apapun….."

"Lalu.." lanjut Luhan "apa kau punya rencana cadangan kris ?"

Kris mengangguk pelan.

"Tapi rencana cadangan ku bukan hanya untuk Tao saja ge…"

Luhan menatap Kris penasaran. "Rencana cadanganku ini untuk kita ber-dua belas ge…"

Luhan hanya terdiam tanpa bereaksi apapun

"Jadi bagaimana ge ? Kau bisa membantuku kan ge ?"

Luhan menarik dan membuang nafasnya pelan. "Kurasa memang tak ada jalan lain…"

Kris hanya tersenyum saat mendengar Luhan berkata "Aku akan bersaksi untukmu—ah bukan untuk kita semua nanti Kris…"

-1XOXO2-

BRUGH

"Ugh…."

BRAK

"SUHO GE!"

"Katakan apa yang sedang kau dan dragon rencanakan,water ?"

Suho menarik nafasnya berat—yeoja di depannya ini mencekik lehernya dengan sangat kuat. Dadanya terasa sakit semenjak tadi—tapi ia tetap memilih untuk bungkam. Bisa bisa ia membahayakan Kris—dan mungkin juga Luhan—jika ia memberitahukan rencananya pada yeoja di depannya ini.

Suho masih menatap yeoja di depannya yang tengah menginterogasi mereka semua saat ini dengan tajam walaupun dari suaranya ia kelelahan dan sedikit tercekat,"Apaaahh….pedulimuuuhh…"

BRUK DUAGH

"Urgghhh…"

Yeoja menunjukkan aura kemarahan yang mengerikan dan membanting suho ke lantai dingin ini,"Kau menguji kesabaranku huh ?"

BRAAKK BRAKKK

"Baiklah…kalau itu maumu…." Yeoja itu kemudian menginjak dada serta perut suho.

DUAGH DUAGH

"U—Ughh…"

"Yak….Hentikan…..jebal…." Lay meronta pada ikatan rantainya. Ia sama sekali tak tahan melihat Suho disiksa seperti itu—tak mempedulikan ikatannya yang semakin lama semakin erat. Akan tetapi,yeoja itu tak menghiraukan kata kata Lay—ia tetap terus menerus menyiksa tubuh Suho.

"Dasar yeoja iblis berambut hijau..." desis Sehun pelan namun kasar.

Yeoja itu berhenti menoleh menatap Sehun dan langsung mendorong Sehun ke dinding. Suho menatap khawatir namja dengan poker face itu.

'Se—Sehun…jangan…'

"Kau berkata apa tadi,heh?"

Sehun masih memasang tatapan bitch-poker-face nya ke yeoja itu—tidak menjawab kata kata itu. "Bisa kau ulangi lagi ?"

"Kau….Yeoja Iblis Jelek…berambut hijau…"

BRUK DUAGH

"Aarrgghhh…."

DUAGH DUAGH

"Menikmatinya ummm ?" yeoja itu mengeluarkan smirk nya yang tampak mengerikan.

"Haaahhh…Haaahhh….—si…al….dasar licik…" Sehun mengepalkan tangannya erat dan nafasnya terengah engah—menahan rasa sakit yang menerpanya bertubi tubi tadi.

DUAGH

"Arggghhhh….."

"Dasar brengsek…."geram Xiumin kesal—ia berusaha meronta melepaskan ikatannya. Ia merasa ingin melindungi dongsaengnya yang paling mudaitu sebagai hyung yang paling tua. Tapi rantai itu tetap saja menekan kekuatannya—bahkan semakin menguat dan sedikit mngeluarkan sengatan listrik kecil pada saat ia semakin memaksakan untuk mengeluarkan kekuatannya.

DUAGH DUAGH

Yeoja itu tanpa ampun terus menerus menendang tubuh itu bagaikan sebuah boneka yang tak bernyawa dengan tawa yang tampak sangat bahagia. Sehun hanya bisa terus menerus menahan rasa sakit yang menerpanya. Beberapa kali ia terbatuk batuk dengan kesakitan dan dengan sedikit darah keluar dari sudut bibirnya.

Pandangan Sehun semakin kabur dan kabur; Suara di sekitarnya juga semakin terdengar makin tipis.

"Sampai kapan kau akan bertahan dan sok kuat seperti ini eoh ?". Yeoja itu kemudian lagi lagi tertawa dengan tawa yang mengerikan. "Sok kuat sekali kau wind…"

Yeoja itu terus menerus menyiksanya dengan tatapan dingin dan menusuk jahat sementara genggaman tangan Sehun pada ikatannya sendiri semakin melemah—walaupun Sehun tetap berusaha untuk tetap kuat dan entah kenapa pikirannya tiba tiba merefleksikan Luhan.

'Luhan-ge….mian….'

Kemudian…..hanya kegelapan yang bisa dilihat oleh Sehun…..

Yang disertai rasa sakit….

-1XOXO2-

"SEHUN-AH !"

Nafas Luhan memburu. Ia menatap sekitarnya dengan panic—tenggorokkannya terasa amat sangat tercekat dan kasar. 'Ya—Yang tadi itu…apa ?'

"Kau tak apa apa Master-Lu…"

Luhan menatap ke samping nya dan seorang namja berambut hitam kelam dengan iris mata tampak berwarna kuning terang menatapnya khawatir.

Luhan mengangguk pelan—nafasnya masih tersengal sengal. "Ma—Maaf akuuu…."

"Gwenchana.."

"A…Ani…tapi aku kan tadii…— "

"Tak apa apa…kau pasti lelah Luhan-ssi….tadi pun aku juga tak sengaja tertidur juga kok…" kata Drace—namja itu sembari tersenyum.

Luhan hanya menundukkan kepalanya—perasaan tak enak menghampiri dirinya—membuatnya antara tidak niat atau mungkin takut untuk kembali tertidur. Tangannya mengepal erat. 'Se—Sehun….'

Pluk

Tangan Drace menepuk pelan bahu Luhan. "Sungguh Master-Lu tak kenapa napa ?"

Luhan menatap balik Drace dan mengangguk pelan. "I—Iya…."

"Ah…ba—baiklah kalau begitu…."kata Drace "kau tiba tiba terbangun seperti tadi….makanya aku agak sedikit khawatir…"

Seorang namja tiba tiba datang menghampiri mereka berdua. "Ma—Maaf…lama ya…"

Drace menatap namja yang baru saja datang itu dengan tatapan malas.

Drace dan Kris tiba tiba agak sedikit cekcok kecil karena Kris yang membuat mereka berdua menunggu lama hingga tak sengaja tertidur. Luhan berusaha untuk sedikit tersenyum untuk melupakan yang tadi—tapi perasaan yang tadi ia rasakan membuatnya sedikit kesulitan untuk melakukannya.

'Apa benar yang tadi itu mimpi ?...tapi…kenapa terasa sangat nyata ? Suara Sehuunnnn…..'

Kris yang menyadari ada yang aneh dengan ekspresi pada Luhan—menepuk pundak gegenya itu pelan. Luhan hanya menggeleng pelan pada Kris.

"Akuuu….hanya sedikit lelah Kris…"

"Benarkah ?" Tanya Kris pelan. Luhan hanya mengangguk ringan.

Kris lalu menarik pergelangan tangan Luhan dan meletakkan sebuah kunci kamar pada telapak tangan Luhan. "Istirahatlah ge…."

"Ta—Tapi…."

"Aku tak apa…" ujar Kris pelan. "Aku masih ada sedikit urusan dan lagipula kau juga pasti kelelahan setelah perjalanan jauh ge… ambil kunci itu ge…itu kunci kamar gege untuk sementara ini…"

"Ah…Ba—Baiklah…a…aku ke kamarku…." Kris hanya membalas dengan anggukan—ketika luhan pergi meninggalkan tempat itu.

Kakinya melangkah dengan gontai menuju kamarnya—meninggalkan Kris dan Drace. Pikirannya terus melayang ke mimpi yang tadi ia rasakan. Terasa begitu nyata dan begitu dekat.

Rasanya bila ia bisa,ia akan berlari dan berlari menuju ke sumber suara itu—tempat dimana suara Sehun berasal tapi ia tidak bisa. Badannya terasa terlilit sesuatu yang sangat menyakitkan dan menariknya untuk semakin menjauhi suara itu.

Luhan terus tenggelam dalam dunianya sendiri hingga ia tak menyadari kalau ia sampai di kamarnya—berterimakasih lah ia pada Kris karena memberitahukan arahnya.

Luhan memasukki kamarnya. Kamar itu lumayan luas untuk satu orang dan kasurnya pun bukan single size mungkin kasurnya cukup untuk dua hingga tiga orang. Luhan melepas jubahnya dan berbaring di tempat tidur.

Ia sangat lelah tapi badannya tak bisa di ajak kerja sama untuk beristirahat sedikit pun saat ia berbaring. Ia hanya memeluk bantal lainnya dan mengelusnya pelan—membayangkan kalau ia sedang memeluk Sehun. 'Se—Sehunahh….kau tak apa kan?'

DEG

'Ugghhh….hiks….sehun-ah…..' Luhan merasakan perasaan yang menyakitkan dan memeluk semakin erat bantalnya. Ia perlahan matanya terpejam dan kealam mimpinya—ia hanya bisa berharap dan terus berharap kalau ini semua hanya mimpi kelam-nya dan ia akan terbangun dalam dekapan Sehun-nya dan semua dalam keadaan baik baik saja.

Tanpa gangguan dan masalah apapun. Yah,semogaa…

============================= ===TO BE CONTINUED =================================

WE A12E ONE