Kris menatap belakang punggung luhan yang menghilang di belokkan lorong gedung dimana mereka berada saat ini. Kris hanya bisa menghela nafasnya panjang. Ia hanya bisa berharap semoga ini bisa memudahkannya.

"Kris…."

"Ne ?"

"Yang Tadi ituu…..kau serius…."

Drace menanyakan soal perkataan Kris dia awal sebelum meninggalkan dirinya dan Luhan. Kris menundukkan kepalanya sedikit—tak membalas kata kata Drace.

"Entahlah…." Kata Kris sedikit gelisah

"Jadi?"

"Aku sendiri kaget kenapa aku bisa berkata demikian…di saat seperti ini…."

Drace sedikit kebingungan dengan kata kata Kris—ia sama sekali tidak paham dengan kata katanya namun suatu pikiran menghampirinya.

"Kr—Kris…ja—jangan bilang kalau…"

"Bukan…"sela namja itu"ini bukan soal pengadilan Drace…ini soal yang lain…"

"Lalu ?"

"Entah kenapa…feelingku semakin memburuk drace…"

Drace melebarkan matanya yang pupilnya tiba tiba menyempit dan tiba tiba mendorong Kris ke dinding lorong dengan keras.

BRUGH

"A—Argghhh….Drace…"

"KRIS WU YIFAN….APA KAU SUDAH LUPA HAH ?"

"Dra—drace…tu—tunggu dulu…."

"TUNGGU APA YIFAN ? TUNGGU APA ? KAU MAU MENJELASKAN APA?"

"aku tak paham maksudmu Drace sungguh…."

Kris sama sekali tak mengerti. Kenapa tiba tiba naga kesayangannya menjadi mengamuk seperti ini….

Ia sama sekali tak mengerti karena ini bukanlah karakter Drace yang ia kenal. Drace tak akan mudah marah kecuali kalau ia memang dipancing. Memangnya apa sih yang ia lakukan hingga memancing kemarahan Drace ?

"SETELAH SEJAUH INI KAU MAU BERHENTI BEGITU SAJA ?"

"Dra—Drace…"

"APA KAU TAK MEMPERCAYAI MEMBER MU SENDIRI YIFAN ? KAU TAK PERCAYA SUHO ?"

Kris menangkap maksud pet kesayangannya itu. Ia hanya sedikit salah paham. Ia berpikir kalau Kris merasa bahwa Suho tak mampu menjaga member lainnya di EXO Planet sana—menganggap semua ini akan berakhir dengan kata percuma

"Drace…keep calm yourself okay…"

Kris mengelus pelan dengan tangannya, surai hitam kelam Drace yang masih menatapnya tajam semberai mencengkram kerah jubahnya erat. Nyaris mencekik lehernya.

"Bukan itu maksudku…maksudkuu….aku merasa….kalau mereka….dalam sesuatu yang lebih berbahaya…."

Drace masih tetap menatap tajam Kris kali ini dengan tatapan yang siap membunuh kris kapan saja. Drace biasanya hanya akan begini jika ia benar benar marah atau serius dalam bertarung tapi jarang sekali ia melakukan padanya seperti saat ini di hadapannya.

"Bukan berarti aku tak percaya Suho Drace…." Jelas Kris lagi—mencoba menenangkan Drace. "Tapi….—"

"Tapi apa Kris ?"

Kris terdiam—ia tak mau mengatakan atau melakukan hal hal tertentu yang akan beresiko memancing kemarahan Drace lebih dari ini. Dalam hati Kris masih merasa sedikit bersyukur bahwa Drace tak h dalam wujud menjadi naga dengan keadaan sedang marah seperti ini. Karena dampaknya mungkin akan lebih buruk daripada ini kalau kalian mau tahu apa yang akan terjadi….

"Akuu….Aku….Aku merasakan sesuatu yang sangat buruk Drace….Sesuatu yang diluar perkiraan kita….ah bukan….mungkin juga perkiraanmu Drace….Entahlah…"

Tatapan tajam Drace perlahan memudar—ia menarik dan melepaskan nafasnya perlahan. Kris masih tetap bersandar pada dinding—menatap Drace—sementara genggaman Drace pada kerah jubahnya telah melonggar.

"Ternyata bukan hanya aku yang merasakan…."

"Sudah kuduga—Kau juga ?" Tanya Kris.

Drace hanya membalas dengan anggukan. "Tapi sangat samar sekali….Syukurlah tak hanya aku yang merasakan…."

"Ah…Arraseo…akupun juga begitu…."

"U—Ummm…Ma—Master Kris…"

Kris hanya membalas dengan gumaman.

"Maaf Master….tadi akuu…akuu….tadiii…" Kata Drace dengan nada sangat bersalah

"Tak Apa Drace….Tak apa…." Kris masih memegang dan mengelus surai Drace.

"Ta—Tapi…Tadiii…."

Kris tetap menepuk dan mengusap pelan surai hitam kelam Drace. "Aku paham Drace….tak apa okay…"

"Tapi tadi kaann…."

"Sudahlah….lupakan yang tadi…..kau pasti tadi lelah menungguku bersama dengan Luhan-gege bukan Drace ? Allright,Let's rest then…enough for today okay…."

-1XOXO2-

Disebuah ruangan yang dindingnya terbuat batu yang begitu dingin dan menusuk…

Tao membuka matanya perlahan—menatap sekitarnya yang terasa sangat asing baginya. Nafasnya masih tersengal karena menghirup aroma manis dari asap putih yang secara tiba tiba masuk ke dalam ruangan mereka tadi dari sebuah tabung perak. Ketika ia mencoba untuk menggerakkan tangan ia baru tersadar kalau tangannya terikat dengan sebuah rantai yang ujungnya melekat ke lantai tempatnya berbaring—begitu juga dengan bagian pinggangnya.

'Ugh…ke—kenapa tanganku terikat…sial…kekuatanku juga tak bisa ku gunakan…'

Tao berusaha untuk memberontak. Namun,gerakkan yang diakibatkan oleh tao tak memberikan dampak apapun pada rantai yang mengikatnya tersebut—belum lagi ditambah dengan badannya yang terasa amat lemas.

"Arrggghh…"Tiba tiba Tao berteriak kesakitan.

Rantai itu semakin mengetat menarik dan mengikat tangannya."Si—siaaallhhh…..aarrgghh….."

Tao terus menerus memberontak hingga tanpa sadar,sebuah pintu terbuka dari salah satu dinding yang berada sekitarnya.

"Sudah bangun eum?"

Tao menatap ke arah suara itu sembari menahan rasa sakit yang menderanya. Matanya menangkap sesosok yeoja tengah mentapnya dengan tatapan tajam dengan rambut coklat yang diujungnya setengahnya berwarna biru.

"Si—Siapa Kau…."

Yeoja itu hanya tersenyum dengan sebuah smirk mengerikan. "Kau akan tahu nanti…"

"A—Apa maksudmu…."

BZZZZTT

"a—aarrrrrrggghhh….."

Tao merasakan jutaan voltase listrik menyengat tubuhnya. Ia menutup matanya—berusaha melawan aliran listrik dalam tubuhnya. Entah berapa lama Tao merasakannya sengatan listrik itu hingga ia sangat merasakan betapa nyeri badannya sesudah aliran listrik itu berhenti.

"Bagaimana?" Tanya yeoja itu "Menyakitkan bukan ?"

Tao hanya terengah engah menanggapinya setelah ia menatap tajam yeoja itu. "a—apaa…maumuu….."

Yeoja itu lalu menekan dada Tao dengan kakinya dan mendekatkan wajahnya ke Tao yang masih terengah engah. "Kill Your Partner Huang Zi Tao….Kill Dragon…."

Tao mengeluarkan smirk andalan,"Too Obvious huh….sudah kuduga itu maumu…."

DUAGH

"JANGAN BERCANDA ZI TAO….."

"Aku tak bercanda bodoh…."kata Tao tetap tenang dan menatap tajam yeoja itu.

"AKU TAK AKAN MEMBUNUH KRIS GEGE SAMA SEKALI…."

DUGH DUGH

"BRENGSEK…MENJIJIKAN…."

DUGH DUGH

Tao menahan sakit karena yeoja itu mulai menendang Pipi dan badan Tao secara bertubi tubi hingga hampir babak belur.

"Dasar namja sialan…." Yeoja itu mulai berhenti menendangi Tao setelah ia selesai melampiaskan semua rasa kesalnya karena kata kata Tao tadi—sementara Tao sendiri dalam keadaan setengah sadar.

"Ciihhh….kenapa yang mulia perdana menteri memakaimu untuk membunuh naga sialan itu…tsk—menyebalkan….."

-1XOXO2-

Sepasang mata yang tadi terpejam kini kembali terbuka. Dia berada di suatu kamar yang asing dan menatap jendela kearah sebuah pemandangan dimana langit tengah menumpahkan beban bebannya sembari menabrakkan begitu banyak awan abu abu hingga terdengar bunyi gemuruh yang mengerikan.

'Hujan….'

Namja pemilik mata itu semakin mengeratkan dekapannya ke bantal yang tadi ia peluk erat sebelum terpejam. Perasaan tidak enak itu kembali menghampirinya. Seandainya saja ia bisa melakukan sesuatu untuk mencari info keadaan Sehun saat ini agar ia sedikit tenang…

Luhan sendiri bahkan bingung bagaimana bisa Kris bisa tahan berlama lama tanpa Tao di sisinya….sejujurnya saja menurutnya kombinasi paling kuat dalam Black Pearl adalah TaoRis—Dragon dan Chronos—kekuatan naga dan pengendalian waktu. Bahkan kekuatan mereka mungkin mampu untuk mengalahkan kekuatan ChanBaek—Phoenix dan Light karena Tao tak hanya mengandalkan kemampuan supranatural-nya namun juga kemampuan fisiknya, Sehingga Luhan sendiri tak bisa membayangkan kalau suatu hari mereka berdua akan bertarung dan berhadapan satu sama lain tanpa saling mengalah dan saling melukai.

'Semogaaa…..jangan sampai terjadi….'

Luhan terdiam sangat lama. Pikirannya benar benar kosong. Ia tak tahu kenapa…

Otaknya seperti tak mau diajak bekerja sama untuk bergerak memikirkan sesuatu bahkan untuk sekedar menggerakkan sesuatu dengan telekinesis pun tidak—Ia tak tahu apakah ini efek karena dia terlalu mengkhawatirkan keadaan KrisTao saat ini atau keadaan Sehun di EXO Planet sana atau mungkin saja keduanya.

Matanya menatap tetes demi tetes hujan yang membasahi jendela kaca dikamarnya—menarik nafasnya dalam dalam.

"Hyung….Lihat diluar…Hujan lagi…..bukankah menyenangkan?"

"Yaa….Sehun-ah…."

"Unngg….nde ?"

"Kau seperti bukan pengendali angin, kau tahu?"

"Eh..memangnya kenapa…."Tanya namja itu bingung kepada kekasihnya.

"Apa sebegitunya kau menyukai hujan sehun-ah? Kenapa?Kalau kau punya kekuatan seperti Suho kan seharusnya baru wajar…."

Sehun tertawa perlahan—membuat tanpa sadar pipi Luhan memerah dan mengalihkan pandangan dari Sehun—ia menyukai Sehun yang tertawa seperti ini.

"Entahlah….aku menyukainya saja….lagipula kau tahu hyung?"

"U—uunnggg…..tauu….apaaa…."

"Tanpa ada angin….hujan tak akan menyebar hyung….hujan tak akan bisa bermanfaat bagi siapapun….awan hujan dan angin akan saling melengkapi…."

Tiba tiba Sehun mendekatkan wajahnya ke depan wajah Luhan—membuat pipi namja yang ditatap Sehun itu memerah.

"Karena itulah hyung….akupun…juga ingin melengkapimu hyung….would you be mine?"

-1XOXO2-

BRUGH

"Harus berapa kali ku katakan Water….beritahu apa yang direncanakan oleh Dragon atau akan semakin ku siksa mereka…"

"SUHO JANGAN LAKUKAN…"

"HYUNG JANGAN BERITAHU DIA…."

"Tsk—Brengsek…"

Yeoja yang berada di hadapan Suho hanya mengeluarkan sebuah smirk yang tampak meremehkan Suho."Kuanggap itu pujian…"

DUAGH

BRUGH

"Ughhh…"

"Bagaimana huh ? Masih mau tetap keras kepala…."

Suho hanya bisa terdiam dan meraup nafas sebanyak banyaknya. Dada naik turun secara perlahan meraup udara sebanyak banyaknya.

"Kau tahu….Aku bisa saja mengisi ruangan ini dengan Air dan yah kutahu walau kau terikat rantai itu kau masih bisa bertahan dalam air bukan…."

Yeoja itu menarik dagu Suho dan membuat mereka saling bertatapan satu sama lain.

"Apa mau mu ?"

"Mauku ? Membunuh temanmu mungkin dan bisa jadi…. "kata Yeoja itu dengan nada ringan tanpa beban apapun,seakan akan hal itu sudah biasa.

"Ku mulai dari kekasihmu itu mungkin…",bisik yeoja itu tepat dihadapan Suho—mata yeoja itu melirik kearah lain. Suho yang menyadari arah tatapan yeoja menuju ke Lay—hanya mendesis mengancam.

"Jangan pernah coba-coba…."

============================= ===TO BE CONTINUED =================================

WE A12E ONE