BRAKK!

Tubuh Sakura membentur ranjang dengan keras, pandangan matanya kosong tak memberikan reaksi saat sesosok pemuda menekan tubuhnya. Tubuh rekan setimnya, tubuh Sai.

"Kau milikku," ucap Sai dengan lirih, membelai lembut pipi sang gadis yang tak memberikan reaksi apa-apa atas sentuhannya. Tersenyum perih, Sai bangkit dari posisinya dan berjalan ke arah ruangan sebelah. Tak perlu waktu yang lama, pemuda itu kembali ke kamarnya, menemui Sakura dengan sebuah kanvas dan peralatan lukis lain di tangannya.

"Aku akan melukismu, aku sudah berjanji kan?" ujar Sai sambil menunjukkan senyum manisnya ke arah sang gadis musim semi yang masih betah berbaring diam di atas ranjangnya.

Ia mulai menggoreskan kuas berwarna merah pekat kedalam kanvas kosong miliknya, melukis sang gadis musim semi kesayangannya.

"Aku akan melukismu dengan cantik, Sakura…"

A Different Hue

Naruto belongs to Masashi Kishimoto

Colors two: Painting

Fanon, Rated T, OOC, Angsty

This fict made just for fun and for promote A Different Hue (SaiSaku Group FB)

Anyway, happy birthday Haruno Sakura

"Kau tidak apa-apa?" tanya Naruto pada Sasuke, ia mengkhawatirkan kondisi pemuda itu. Pemuda berambut pirang itu bahkan sengaja pergi ke rumah sahabatnya hanya untuk memastikan bahwa pemuda terakhir dari klan Uchiha itu tidak melakukan hal yang bodoh.

"Pergilah," ujar Sasuke dingin. Naruto menunjukkan ekspresi khawatir saat dilihatnya pandangan Sasuke yang kosong seakan tak bernyawa.

"Sasuke, Tsunade baa-san sudah berusa—"

"Aku ingin sendiri Naruto, keluarlah!" usir Sasuke sekali lagi tanpa menatap wajah Naruto. Ah, bahkan jika Naruto perhatikan ia bahkan tak menatap wajahnya sejak awal ia datang ke kediaman Uchiha. Calon Hokage keenam itu menghela nafasnya panjang, mengerti bahwa ia tidak akan bisa melakukan apa-apa saat ini.

"Aku mengerti, kalau kau butuh aku kau bisa menemuiku," ujar Naruto sambil menepuk pelan bahu Sasuke, dengan berat hati ia meninggalkan sahabatnya, berharap bahwa pemuda itu segera menerima kenyataan.

"…"

"Gomen…" ucap Sasuke lirih saat akhirnya ia sendirian di rumahnya, nampak air mata mengalir di kedua pipinya. "Gomen, Sakura…"

-Painting-

"Sudah kuduga, warna matamu viridian. Naruto berkata bahwa warna matamu emerald. dia memang bodoh," ujar Sai saat memutuskan untuk menggunakan warna viridian pada bagian iris mata sang gadis musim semi.

"Kau ingin aku menggunakan warna apa untuk bajumu? Tidak− merah terlalu meyala. Aku ingin mengatakan itu sejak dulu, warna merah tidak cocok untukmu. Tapi aku tahu, kau pasti akan memukulku jika aku mengatakannya. Ah! kau benar− putih…" ujar Sai datar, "warna putih, seperti warna shiromuku," tambahnya dengan pahit.

"Sai! aku mencarimu dari tadi!" ujar Sakura saat mendapati Sai di warung ramen Ichiraku di jam makan siang. "Hei, sejak kapan kau jadi suka ramen seperti Naruto?" tanya Sakura saat mendapati mangkuk ramen ukuran jumbo yang berada di hadapan pemuda itu.

"Ah… aku lapar," ujar Sai sambil menunjukkan senyumnya. Sebelah alis mata Sakura terangkat tak mengerti arah pembicaraan Sai. "Kemarin Ino memberiku kupon ramen gratis."

"Ah souka! Seharusnya ia memberikan kupon itu pada Naruto, dia pasti akan sangat gembira, apalagi akhir-akhir ini Tsunade shisou memberinya latihan yang berat sebagai calon hokage," ujar Sakura sambil memandang ke arah kantor Hokage dengan sebuah senyum prihatin menghiasi wajahnya

"Kau mencariku?" tanya Sai mengembalikan fokus Sakura padanya.

"Ah, gomen! Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu," ujar Sakura sambil menunjukkan senyum lebarnya pada sang pemuda. Sai menaikkan alisnya, heran akan prilaku sang gadis. Ia memperhatikan dengan aneh saat Sakura membuka mulutnya, namun tiba-tiba saja menutup mulutnya kembali.

"Aku rasa aku akan memberi tahunya padamu malam ini. Di apato milikku seperti biasanya?" tanya Sakura dengan senyum masih terpatri di wajah manisnya.

"Aaa, aku akan menjemputmu saat shiftmu di rumah sakit selesai," ujar Sai sambil berjalan menghampiri Sakura yang menunggunya di depan warung ramen Ichiraku setelah sebelumnya memberikan kupon gratis miliknya pada paman Takeuchi.

"Bagus! Baiklah, aku harus kembali ke rumah sakit. Jika tidak, Shizune senpai akan memarahiku, Jyaa nee! Jangan lupa nanti malam!" ujar Sakura sambil beranjak pergi, akan tetapi langkah sang gadis terhenti saat tangan Sai menarik tangannya, membiarkan tubuh sang gadis jatuh kedalam pelukannya.

"Sai—" pekik Sakura pelan saat menyadari posisinya saat ini yang berada dalam pelukan sang pemuda. Wajah gadis itu memerah saat melihat beberapa orang tengah menatap mereka dengan rasa ingin tahu yang besar.

"Sakura—"

"Uh… ya?"

"Kau tidak akan meyuruhku untuk menjadi tester masakanmu seperti biasanya kan? Besok aku ada misi. Aku tidak bisa memakan masakan buatanmu dan terbaring sakit keesokan harinya," ujar Sai dengan wajah datarnya.

BUKH!

"Aku tidak akan memasak untukmu lagi!" ujar Sakura marah setelah berhasil memukul sang pemuda dan membuat tubuh mantan pasukan anbu ne itu terdorong beberapa langkah ke belakang.

"Ah apa itu artinya−"

"Kau tetap harus menjemputku nanti malam!" potong Sakura tajam.

"… wakatta."

"Jyaa…," ujar Sakura riang, seolah-olah melupakan kejadian saat Sai yang secara tidak langsung mengejek masakan buatannya. "Ah, dan tenang saja, nanti malam aku akan membeli makan malam di Yakiniku-Q, jadi kau tidak usah khawatrir!" ujar Sakura dari kejauhan. Tanpa terasa sebuah senyuman lembut terpatri di wajah Sai.

Aku menyukaimu…

-Painting-

"Aku akan menambahkan lautan bunga daisy sebagai latarmu. Kau suka daisy bukan? Ino memberi tahuku saat itu. Daisy putih… aku tidak tahu apa makna bunga itu, tapi kurasa kau cocok dengannya," ujar Sai saat melukis lautan bunga daisy berwarna putih sebagai latar di lukisan Sakura.

"Seharusnya aku tidak mengijinkanmu pergi dengannya…" ujar Sai lirih, nampak air mata mengalir di pipinya. Ia tersenyum lirih. "Aku tidak bisa kehilangan orang yang berharga bagiku untuk kedua kalinya Sakura…"

"Besok aku akan menjalankan misi ke desa Kabut," ujar Sakura saat seperti biasanya mereka sedang menghabiskan waktu makan malam mereka di apato milik Sakura

"Misi tunggal? Tidak biasanya…" ujar Sai sambil membantu Sakura meletakkan piring-piring bekas makan malam mereka ke dalam tempat cucian.

"Ah, bukan… aku tidak sendiri, misi ini aku lakukan dengan Sasuke-kun…" ujar Sakura pelan.

"…"

"Sai… kau marah?" ujar Sakura, menghentikan kegiatannya mencuci piring.

"… Sakura−"

"Hm?"

"Menikahlah denganku," ujar Sai sambil menatap mata Sakura.

"…. Kau… melamarku?" Sai menganggukkan kepalanya, mengiyakan pertanyaan sang gadis. Sakura menghela nafasnya tak percaya. "Kau melamarku saat kita sedang mencuci piring bersama?"

"Kau tidak mau?" tanya Sai sambil menunjukkan raut wajah terluka.

"Damnit Sai, tentu saja aku mau! Tapi seharusnya kau melamarku dengan romantis! Setidaknya kau membawa sebuket bunga untukku! dan cincin! Ah ya cincin! kau bahkan tidak memberiku cincin!"

"Aku bisa membelinya besok," sahut Sai cepat. Sakura mengerjapkan matanya. Ia tidak percaya dengan tingkah kekasihnya. Akan tetapi saat melihat raut wajah gugup Sai, mau tak mau ia tersenyum geli. Baru kali ini ia melihat ekspresi Sai yang seperti ini.

"Lamar aku sekembalinya aku dari misi," ujar Sakura sambil tersenyum lembut, ia menjinjitkan kakinya dan mengecup singkat bibir sang pemuda, dan setelah itu kembali melanjutkan acaranya mencuci piring.

"Kita akan langsung menikah setelah kau kembali," putus Sai sambil memeluk tubuh Sakura dari arah belakang. Sakura tertawa renyah saat mendengar ucapan Sai.

"Aku setuju, tapi kau harus mengatakannya pada Kakashi, Naruto, Sasuke… ah! dan juga Tsunade shisou tentu saja!" ujar Sakura antusias. Ia tidak sabar ingin melihat reaksi teman-temannya dan juga gurunya saat Sai berkata bahwa mereka akan menikah.

"Aaaa…" ujar Sai sambil menciumi tengkuk Sakura. "Hei Sakura, kita akan selalu bersama kan?"

"Baka! tentu saja, aku hanya melakukan misi rank A… aku tidak akan meninggalkanmu… aku janji."

-Painting-

"Sai!" Sai melihat Naruto dengan heran, nampak keringat mengalir di pelipis calon hokage keenam itu, nampaknya pemuda itu berlari dengan sekuat tenaga untuk menemuinya.

"Naruto? Ada a−"

"Sakura! Ia... rumah sakit!" ujar Naruto rancu, entah mengapa Sai merasakan firasat buruk. Dengan cepat ia menuju ke arah rumah sakit, meninggalkan Naruto di belakangnya.

"Dia ada di ruangan mana?" Tanya Sai saat Naruto berhasil menyusulnya.

"Tsunade baa-san sudah berusaha tapi…" Sai tidak mendengarkan lagi perkataan Naruto. Ia merasa tuli, buta. Ia merasa mati rasa. Ia hanya ingin melihat gadisnya, mendengar celotehnya, melihat senyumnya. Ia berharap bahwa gadisnya baik-baik saja.

Tak butuh lama baginya untuk sampai di rumah sakit, ia terus berlari, tak mempedulikan teriakan para perawat yang meyuruhnya untuk tidak berlari, serta Naruto yang menyuruhnya untuk menunggunya. Yang ia inginkan hanya satu, Sakura. Gadisnya.

Tubuh Sai membeku saat ia melihat Kakashi, Sasuke serta Tsunade yang sedang berada di sebuah ruangan. Dengan ragu ia memasuki ruangan itu, berharap bahwa semua firasatnya salah, dan mendapati gadis musim semi itu menyambutnya dengan tawa. Tubuhnya seolah-olah kehilangan nyawa saat melihat tubuh Sakura terbaring diatas ranjang, pucat… dingin… tak bernyawa.

"Sai," ujar Tsunade saat menyadari kehadiran sang pemuda di ruangan.

"Katakan padaku ia tidak apa-apa," ujar Sai dengan pandangan mata kosong.

"Sai−"

"Dia bukan Sakura," ujar Sai dingin, ia membalikkan tubuhnya dan berjalan ke arah luar ruangan. Ia ingin kembali dan menunggu kepulangan Sakura di apato milik sang gadis. Akan tetapi langkahnya terhenti saat sebuah suara menginterupsinya.

"Gomen, seharusnya aku bisa melindunginya… aku−"

"Sasuke, itu bukan salahmu," potong Kakashi. Sai merasakan tubuhnya semakin mati rasa. Ia berharap bahwa saat ini ia tuli, tuli sehingga tidak bisa mendengar fakta bahwa gadisnya−

"Tentu saja itu salahku! Aku ketua dalam misi ini, aku yang membuatnya mati Kakashi!" teriak Sasuke frustasi.

mati. Sai membalik tubuhnya, ia bisa mellihat Kakashi yang tengah berusaha menenangkan Sasuke, serta Tsunade yang menutup matanya, berharap bahwa semua ini hanyalah mimpi buruk di siang hari.

"Kami akan menikah," ujar Sai datar, membuat semua perhatian beralih padanya. "Kami akan memberi tahu kalian saat misi ini selesai…" ujar Sai sambil menunjukkan senyum getirnya.

"Kau… Sakura…"

"Aku melamarnya tepat sebelum ia berangkat misi… ia berjanji ia tidak akan meninggalkanku, dan bahwa kami akan segera menikah begitu ia kembali," ujar Sai sambil melangkah mendekati tubuh Sakura. "Tampaknya ia tidak bisa memenuhi janjinya…," ujar Sai pahit. Ia membelai pipi Sakura dengan lembut.

Dingin…

"Sai−"

"Aku mencintainya…. Hei, mengapa Konoha mengambil semua yang kusayang? Shin… dan kini Sakura… seharusnya aku tidak mengijinkannya pergi…" ujarnya pahit, air mata mengalir dari kedua pelupuk matanya. "Seharusnya aku tidak mengijinkannya pergi…"

-Paint-

BRAKKK

Tsunade terkejut saat mendapati pintu ruangannya dibuka dengan paksa. Ia hampir saja memaki orang yang dengan beraninya membanting pintu ruangannya, saat ia sadar bahwa sosok yang membanting pintunya adalah Shizune, asistennya.

"Shizune! Apa yang kukatakan padamu tentang−"

"Tsunade shisou! Jasad Sakura menghilang!"

-Paint-

Sai melangkahkan kakinya, mendekati tubuh Sakura yang tengah berbaring di atas ranjangnya, dengan lembut ia mengecup bibir berwarna pucat sang gadis.

"Lukisanmu sudah selesai. Apa kau tidak mau melihatnya? Kau sangat cantik…" bisik Sai tepat ditelinga Sakura.

"Kita akan selalu bersama Sakura, kau tidak akan meninggalkanku kan…?"

FIN