A Different Hue

Naruto belongs to Masashi Kishimoto

Colors three: Nickname

Fanon, Rated T, OOC, Fictlet

-Kumpulan drabble SaiSaku-

This fict made just for fun and for promote A Different Hue (SaiSaku Group FB)

"Kau yakin mereka akan muncul?" Tanya Sai tanpa melirik wanita disebelahnya, suara yang ia keluarkan sangatlah pelan, namun cukup untuk terdengar oleh Sakura, rekan misinya saat ini.

"Berdasakan perkataan warga desa para perampok itu pasti akan muncul jika melihat warga sipil melewati hutan," ujar Sakura, ia melirik dengan waspada ke arah sekeliling jalan setapak yang sedang mereka berdua lewati, kepala gadis itu langsung menegak saat mendengar suara gemeresak dari balik semak-semak.

"Tenanglah, itu hanya kelinci," ujar Sai sambil tersenyum. Sakura menghela nafas panjang. Kakinya terasa sangat lelah, ia ingin mengalirkan cakra ke arah pergelangan kakinya hanya saja ia harus menahan keinginannya itu mengingat saat ini ia dan Sai sedang menyamar sebagai warga sipil. Itu artinya tak ada cakra, senjata, atau bahkan harimau bertinta milik Sai.

Sai mengerutkan keningnya saat melihat Sakura yang mendudukkan dirinya di bawah pohon ginko yang sudah mati.

"Aku lelah," jawab Sakura saat melihat wajah Sai yang seolah sedang bertanya apa yang dilakukannya.

"Sakura, aku tahu kau lelah mengingat kau bertambah gemuk akhir-akhir ini," Sakura berjengit saat mendengar perkataan Sai, "tapi saat ini kita sedang menjalankan misi."

"Baiklah baiklah! Lihat saja nanti, perampok-perampok bodoh itu akan merasakan akibatnya saat mereka muncul," ujar Sakura sambil menepuk-nepuk pantatnya, mencoba membersihkan helaian daun yang menempel. "Dan Sai, aku tidak bertambah gemuk," ujar Sakura penuh penekanan.

"Ah, tapi pipimu−"

"Sai," panggil Sakura sambil menarik tangan Sai, sehingga mau tak mau pemuda itu kini hanya berjarak sekian sentimeter dari tubuh sang gadis.

"Hm?" tanya pemuda itu sambil menunjukkan senyum tak berdosa miliknya.

"Tidak bisakah kau memujiku? Kau tahu, aku sudah lelah dengan berbagai julukanmu untukku. Jelek, pink… dan kini gendut? Yang benar saja, kita bukan anak-anak lagi kau tahu!" ujar Sakura sambil menatap Sai tajam. Ia kesal, sangat kesal pada pemuda yang seenaknya saja memberinya julukan yang artinya bisa membuat gadis manapun menangis karena terlalu kejam. Oke, mungkin terlalu berlebihan. Tapi tak ada satupun gadis yang au di panggil jelek dan gendut, bahkan Chouji yang notabene seorang pria akan mengamuk jika kau mengatainya gemuk. Sakura menatap Sai yang tenga menunjukkan raut wajah bingungnya.

"Rupanya kau belum terbiasa dengan julukan itu ya? Itu aneh mengingat Naruto, yang aku ragukan kepintarannya itu− kini bahkan sudah terbiasa dengan julukan yang kuberikan padanya. Seharusnya kau sudah terbiasa. Atau kau ingin kuberikan julukan baru? Hmm… bagaimana mijikai?" alis Sakura berkedut mendengar perkataan Sai.

"Kau mengataiku pendek? Apa tidak ada julukan yang lebih jelek lagi hah?" tanya Sakura sarkatis.

"Monsuta?" tanya Sai memenuhi perkataan Sakura. Pemuda itu polos, seharusnya Sakura tidak menggunakan majas ironi untuk menunjukkan ketak setujuannya.

"Sai−"

"Hm, bagaimana jika majo? Aku rasa itu sedikit berlebihan untukmu, tapi jika kau meminta−"

"Demi tuhan Sai! Kau memberiku julukan monster dan nenek sihir? Kau bahkan memanggil Ino cantik!"

"Ah, jadi kau marah karena julukan yang kuberikan pada Ino-san?" tanya Sai sambil menaikkan sebelah alisnya, berusaha mengerti tingkah teman setimnya yang juga merupakan rekannya dalam misi kali ini.

"Bu… bukan begitu!" ujar Sakura, nampak gadis itu salah tingkah setelah mendengar perkataan Sai. Wajah manis gadis itu memerah, hampir menyamai buah kesukaan Uchiha Sasuke.

"Kau cemburu?"

"Aku tidak−"

"Araaa… lihatlah siapa yang sedang berduaan dengan kekasihnya di tengah hutan begini," Sakura langsung memasang pose waspada saat mendengar sebuah suara alto tak jauh dari posisinya dan Sai. Tak lama kemudian munculah seorang pria, kira-kira berusia 30 tahunan, menggunakan kimono lusuh, sesuai dengan wajahnya yangterlihat tak terurus. Nampak jambang dan kumis lebat menghiasi wajah paman itu. "sebaiknya kalian memilih tempat lain untuk berkencan," ujar sang paman sambil menunjukkan seringainya.

"Ka... kami bukan pasangan kekasih!"

"Wajahmu memerah nona muda, sudahlah tidak usah berbohong pada paman… kalian lebih baik mencari tempat lain untuk bermesraan… seperti di tempat yang lebih tertutup misalnya? Ah jika tidak salah di dekat sini ada sebuah losmen. Lebih baik kau-

BUKHHHH!

"AKU BUKAN PACARNYA! DAN KAMI TIDAK AKAN MENGINAP DI LOSMEN! Hah hah hah! Kau! Kenapa kau tidak membantah perkataan paman mesum itu hah?" tanya Sakura dengan terengah-engah karena emosi. Ia bahkan menunjuk-nunjuk ke arah Sai dan sang Paman dengan penuh emosi.

"Sakura… kau membuatnya pingsan," ujar Sai sambil menatap paman yang kini sedang terbaring pingsan dengan tatapan datarnya.

"…. aku tahu."

"Dia bukan perampok yang kita incar. Dia warga sipil."

"..."

"…"

"… Sai…"

"Hm?"

"Bisakah kau merahasiakan hal ini dari shisou?" ujar Sakura sambil menunjukkan raut wajah memohonnya pada sang pemuda. Ia tidak ingin mendapatkan ceramah dari shisou kesayangannya itu.

Hokage kelima sangat terkenal akan kepatuhannya akan peraturan, terutama pada didikannya. Dan salah satu dari peraturan yang ada adalah, jangan- jangan pernah menyakiti warga sipil yang tidak bermaksud buruk padamu, apalagi jika kau memliki tenaga monster. Sama seperti Sakura. Wajah sakura memucat, ia bisa membayangkan bahwa nasehat bukanlah satu-satunya balasan yang ia terima jika shisou-nya tahu apa yang telah terjadi.

"Hm… baiklah." Sakura menghela nafas lega saat mendengar jawaban dari Sai.

"Apa?" tanya Sakura saat mendapati Sai tengah menatapnya intens.

"Aku membaca dari sebuah buku mengenai uang tutup mulut," ujar Sai sambil menunjukkan senyum polosnya. Mata Sakura terbelalak saat mendengar perkataan Sai. Ia mendesah pelan, ia tidak menyangka jika teman setimnya yang menurutnya paling polos, yah tentu saja jika dibandingkan dengan si tuan pesimis Sasuke, dan tuan lakukan segalanya dengan berlebihan alias Naruto, Sai cenderung lebih manis. Lupakan sebentar mengenai julukan yang diberikan pemuda itu padanya.

"Tapi aku tidak membawa uang, aku akan−"

Cup

"Manis. Aku rasa itu cukup," ujar Sai sambil tersenyum seakan-akan apa yang ia lakukan merupakan hal yang normal. Butuh waktu sepersekian detik bagi Sakura untuk memproses apa yang sebenarnya telah terjadi. Wajah gadis itu memerah, benar-benar merah saat menyadari bahwa Sai baru saja menciumnya, di bibir.

"Ayo, kita harus mencari para perampok itu," ujar Sai sambil mulai melangkahkan kakinya kembali.

"Bagaimana dengan−"

"Kita akan mengurusnya nanti," ujar Sai datar, akhirnya Sakura mengikuti langkah Sai dan meninggalkan sang paman yang tak sadarkan diri karena pukulan mautnya. Sakura tersentak saat dengan tiba-tiba pemuda itu menghentikan langkahnya.

"Hei, apakah kau ingin aku tidak memberitahu rookie 9 mengenai ciuman kita?"

"Eh−"

"Karena jika begitu, itu berarti aku harus meminta uang tutup mulut lagi padamu." Dan wajah Sakura sudah tak terdefinisi lagi warnanya, lihatlah! Bahkan kini asap mulai keluar dari kepalanya. Sai, ingatkan dirimu bahwa kalian sedang menjalankan misi, dan jangan lupakan nasihat sang paman. Losmen pasti sangat tepat untuk kalian yang dimabuk asmara.

-fin-

a.n: Oke aku tahu fict ini seperti apa. Seharusnya chapter ini mengenai misi, tapi entah mengapa malah jadi seeperti ini… maaf, beribu maaf untuk amuto. Maaf banget karena fict ini ga sesuai harapan kamu, tapi aku sudah berusaha semampuku, dan kemampuanku memang menyedihkan… *cakar dinding

Oh ya sekali lagi mengingatkan, bagi yang baru baca fict ini, fict ini merupakan kumpulan drabble/fictlet/fict Sai-Saku. kalian bisa memberi ide tentang chappie selanjutnya, cukup meulis sepatah dua patah kata tentang ide kalian.