"Kau sudah siap Tetsuya?." Tanya Nina mengerling kearah Kuroko yang saat ini sedang bersiap-siap. Setelah memasukan baju ganti, handuk dan lain sebagainya, diapun menarik resleting tasnya dan berjalan kearah Nina yang sudah menunggunya didepan pintu.
"Aku sudah siap ayo." Jawabnya menggandeng tangan Nina menuju ketimnya yang sudah berkumpul sejak tadi dan berangkat bersama ke lapangan indoor tempat diadakannya winter cup. Ya hari ini adalah harinya, dimana mereka para anggota tim basket akan bertanding merebutkan gelar tim nomor satu di jepang. Terlihat banyak sekali tim yang ikut, juga penonton yang melihat dari seluruh Jepang.
"Turnamen Piala Musim Dingin SMA tingkat nasional sebentar lagi akan dimulai." Begitulah ucapan sambutan dari ketua penyelenggara yang menandakan dimulainya winter cup tahun ini.
.
KUROKO NO BASUKE © FUJIMAKI TADATOSHI
KUROKO NO BASUKE: NINA STORY BOOK 2 © SHERRYSAKURA99
COVER © SHERRYSAKURA99
.
WARNING: OC, OOC (mungkin), alur mengikuti jalan cerita KNB yang asli hanya saja ada beberapa tambahan dari saya, jika ada yang kurang mengerti jalan ceritanya atau banyak kesalahan Typo mohon di maklumi.
Genre: Friendship, Romance, Humor (mungkin, walau humornya agak garing)
Rate:T
Pair: Kuroko TetsuyaXOc (Nina Valentine)
Kiyoshi TeppeiXOc (Kanami Yumi)
Izuki ShunXOc (Kanami Yuki)
.
Ket:"Berbicara"
'Berpikir/dalam hati'
"Berbicara dalam telepon atau alat komunikasi lainnya"
"Berbicara Bahasa Inggris/flashback"
.
Chapter 2: Meet Generation Of Miracle
.
~Nina Pov~
Setelah mendengarkan kata sambutan, tiba-tiba saja ponselku berdering tanda ada pesan masuk. Langsung saja aku membuka flap ponselku dan membaca pesan yang ternyata dari mantan kaptenku dulu Akashi Seijurou.
.
From: Akashi-kun Kapten
Subject: Hisashiburi
Aku tau kalau sekarang kau ada di Jepang dan masuk tim Seirin yang artinya kau pasti juga ada di gedung ini, jadi aku ingin kau menemuiku sekarang ditaman sebelah gedung, aku menunggumu dan aku tidak menerima penolakan.
.
Begitulah isi dari pesan itu, demo darimana dia tau kalau aku ada disini?, aku rasa sejak tadi aku tidak berpapasan dengan tim Rakuzan deh. Sasuga Akashi, aku memang tidak akan bisa membohonginya. Akupun mendekat kearah Riko senpai untuk meminta ijin padanya dengan alasan pergi ketoilet, dan dia mengijinkanku dengan syarat aku harus kembali sebelum pertandingan dimulai atau dia akan memberiku hukuman, membayangkannya saja aku sudah merinding, jadi aku hanya membalas dengan anggukan kepala sebagai jawaban dan segera melesat ketaman dekat lapangan indoor.
Sesampainya disana, aku memandang kesekeliling dan menemukan pemuda bersurai merah sedang berdiri dibawah pohon sembari menyenderkan tubuhnya disana. Aku sendiri segera menghampirinya karena tidak mau membuang-buang waktuku, dan aku tau Akashi sendiri tidak suka menunggu terlalu lama.
"Hisashiburidana Akashi-kun." Sapaku dengan wajah datar begitu aku sudah berada disampingnya yang langsung membuatnya menoleh kearahku.
"Ah Nina, hisashiburi." Jawabnya dengan senyuman atau seringai diwajahnya.
"Maaf sudah membuatmu menunggu lama."
"Iie aku juga baru saja datang, secara fisik kau tidak berubah ya Nina bahkan setelah dari Amerika, tapi entah kenapa auramu terlihat sedikit berbeda."
"Ya ini semua berkatmu juga, berkat kata-katamu sebelum aku pergi, tapi ngomong-ngomong kenapa kau memanggilku?."
"Aku hanya ingin melihatmu saja dan juga, aku harap kau bisa menjelaskan alasan kenapa kau sampai memutuskan pindah waktu itu."
"Hmm?, bukannya aku sudah mengatakan kalau orang tuaku menyuruhku untuk pindah ke Amerika."
"Iie aku tau kalau itu bukan alasan sebenarnya, karena jika itu benar seharusnya sudah sejak dulu kau pindah ke Amerika kan?." Ucap atau mungkin bisa dibilang dia mengonfirmasi jawabanku. Akupun menghela nafas dan memandang tepat dikedua mata heterocomnya, sejujurnya mata itu tidak terlalu menakutkan juga, ah entah sejak kapan aku jadi tidak takut melihat mata Akashi.
"Apa kalau aku menceritakannya kau akan peduli, lagipula itu sudah masa lalu, aku tidak suka mengungkit kejadian itu." Tolakku halus masih dengan wajah datar. Aku bisa melihat wajahnya sempat terkejut mendapati responku, tapi keterkejutan itu digantikan oleh sebuah seringai diwajahnya, diapun mendekat kearahku memperkecil jarakku dengannya dan menatapku dengan intens yang aku balas dengan wajah datar.
"Kau tau Nina, kau selalu bisa membuatku tertarik denganmu, responmu, semua tentangmu selalu menarikku, tapi kali ini aku benar-benar serius dengan pertanyaanku Nina, aku tau kalau kau membenciku-."
"Iie aku tidak pernah membencimu Akashi-kun, aku hanya kecewa dengan semua keputusanmu dulu, aku tau kalau kau sebenarnya sangat baik, hanya saja kau sudah termakan oleh kekuatanmu sendiri hingga membuatmu bersikap seperti itu, itu yang membuatku kesal, hah baiklah aku akan mengatakannya, alasan kenapa aku memutuskan untuk pindah karena-."
"Tetsuya, apa karena dia?."
"Salah satunya, tapi bukan itu yang utama, kau tau alasan kenapa aku bisa menyukai basket?, suara pantulan bola, decitan sepatu, sorak sorai penonton, semangat para pemain, kerja sama tim, ya aku menyukai basket karena itu semua, awalnya aku memperoleh semua itu dari kalian tapi lama kelamaan ketikah kalian sudah menemukan bakat kalian masing-masing aku tidak menemukannya lagi dari kalian, dan hal itu diperparah dengan keputusan pelatih dan juga kau, bagiku kalian tidak seperti sebuah tim lagi, aku bahkan sudah putus asa dengan kalian semua, karena itu aku memutuskan untuk pindah ke Amerika atas usul dari kakakku."
"Souka, sepertinya waktu itu kau sudah membenci basket ya."
"Chigauyo desu, aku memang sudah kehilangan harapanku pada basket demo aku tidak pernah membencinya, aku masih bertahan karena aku memang menyukainya, karena itu…karena itu aku-."
"Wakatta, kau tidak perlu menjelaskannya, yang penting sekarang disini kita semua menjadi musuh, kau dan Tetsuya, aku jadi tidak sabar berhadapan dengan kalian." Ucapnya berjalan melewati tapi sempat berhenti beberapa meter dariku.
"Aku sudah mengundang mereka semua untuk berkumpul, jadi aku harap kau juga ikut Nina, kami menunggumu dihalaman tak jauh dari pintu masuk." Ucapnya dan kembali melanjutkan perjalanan. Setelah dia menjauh, aku langsung menghela nafas dan memandang sendu kearah langit biru tanpa awan diatas.
"Sudah aku duga, percuma saja aku bercerita padamu, toh kau juga tidak akan memperdulikanya." Gumanku. Akupun membalikan badanku dan memutuskan untuk menemui para Kiseki No Sedai. Sesampainya disana aku dikejutkan dengan Akashi yang tiba-tiba menyerang Kagami dengan gunting berwarna hitam ditangan kirinya dan memberikan goresan dipipinya.
"Hee, aku terkejut kau bisa menghindarinya seperti itu, karena responmu yang cepat itu, aku akan memaafkanmu kali ini, tapi tidak ada kesempatan kedua, jika aku berkata pergi maka pergilah didunia ini kemenangan adalah segalanya, pemenang akan diakui sepenuhnya dan pecundang akan dilupakan, aku tidak akan kalah dan tidak akan pernah kalah, karena aku selalu menang maka aku selalu benar, aku tidak akan mengampuni siapapun yang menantangku, meskipun itu orang tuaku sendiri." Ucap Akashi sembari memotong poninya dengan gunting yang ada ditangannya. Lagi-lagi aku hanya bisa menghela nafas dan mulai mendekat kearah mereka.
"Sepertinya kau sudah keterlaluan Akashi-kun." Ucapku membuat pandangan mereka semua tertuju kearahku termasuk Akashi.
"Ah Ninacchi." Ucap Kise begitu melihat kearahku.
"Hisashiburi minna, ini pertama kalinya setelah sekian lama kita tidak berkumpul seperti ini, terakhir kali sebelum aku pindah ya."
"Oh Ninachin hisashiburi*nyam*, ale kenapa kau ada disini?, apa kau juga akan ikut pertandingan?." Tanya Murasakibara sambil mengunya kripik yang berada ditangannya.
"Ya bisa dibilang seperti itu, demo kali ini aku akan membantu Tetsuya dan tim Seirin yang lainnya, walaupun hanya sebagai manager, tapi aku tidak akan menyerah."
"Hmmm, kau memang selalu seperti itu Nina."
"Ya, aku sudah pernah bilang kalau aku tidak akan menyerah dalam basket." Jawabku mendekat kearah Kagami yang berada dibawah lalu meletakan plaster dipipinya yang terluka.
"Daijoubukah Kagami-kun?." Tanyaku saat selesai memberinya plaster.
"Da-daijoubu desu, a-arigato." Jawabnya mengalihkan pandangannya dariku dengan semburat merah tipis diwajahnya.
"Kalau begitu aku akan pergi, aku hanya ingin menyapa kalian semua hari ini." Ucap Akashi menyerahkan gunting itu kembali ke Midorima dan bersiap-siap pergi meninggalkan kami.
"Hah?, jangan main-main Akashi, kau memanggil kami hanya untuk itu?." Omel Aomine membuat Akashi menghentikan langkah kakinya.
"Iie, sebenarnya aku ingin memastikan sesuatu, tapi setelah melihat wajah kalian kurasa itu tidak perlu, tidak ada satupun dari kita yang melupakan janji itu, semuanya baik-baik saja tepat pertemuan kita selanjutnya adalah di lapangan." Jawab Akashi menoleh sebentar kearah kami sebelum akhirnya kembali melajutkan perjalannya.
"Ah tapi sebelum itu Akashi-kun ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu." Ucapku membuatnya kembali menghentikan langkahnya dan mengerling kearahku.
"Aku iie, kami tim Seirin pasti akan membuat sang raja jatuh, itu pasti akan aku buktikan." Lanjutku sambil menyeringai, mereka yang mendengarnya sempat terkejut dengan perkataanku kecuali Akashi yang malah menyeringai senang dengan perkataanku barusan.
"Baiklah, aku menerima tantanganmu Nina."
Setelah Akashi pergi, aku, Tetsuya, Kagami, dan Furihata memutuskan untuk segera keruang ganti pemain seirin dan sesampainya disana, pelatih langsung memarahi Kagami karena datang terlambat, terlihat sudah beberapa siku-siku yang muncul diwajahnya dan aura-aura hitam yang menguar dari tubuhnya, aku sendiripun tidak berani menolongnya.
"Kagami-kun sudah saatnya." Ucapku mendekat kearah Kagami yang entah kenapa malah duduk didepan loker penyimpanan dengan wajah seperti memikirkan sesuatu, padahal yang lainnya sudah keluar dari ruang ganti.
"Ya."
"Hmm?, doushita?."
"Iie aku hanya kepikiran soal tadi, Akashi membuatku seperti pecundang, tapi ya sudahlah, tidak ada gunanya memikirkan orang yang belum kita hadapi." Jawabnya berdiri dari posisi duduknya.
"Lagipula, pikiranku sudah dipenuhi dengan dia." Lanjutnya dengan wajah serius.
"Souka, yoakattane kalau kau memang sangat bersemangat dengan lawan kita hari ini, aku harap kau tidak mengecewakanku Kagami-kun." Ucapku tersenyum tipis kearahnya dan bersiap-siap meninggalkan ruang ganti, tapi buru-buru Kagami menahan lenganku membuatku menghentikan langkahku dan memandang kearahnya.
"Apa ada lagi yang kau perlukan Kagami-kun?." Tanyaku dengan wajah datar, aku sempat melihat semburat merah itu lagi diwajahnya.
"I-iie, a-ano, tadi aku membawa oleh-oleh, jadi i-ini untukmu." Jawabnya menyerahkan tas kertas kecil kepadaku. Aku menerimanya dan menemukan sekotak coklat serta roll cake coklat disana.
"Arigato Kagami-kun, aku pasti akan memakannya."
"Y-ya ya sama-sama, ka-kalau begitu lebih baik kita segera temui yang lain." Jawab Kagami yang langsung melesat keluar dari ruang ganti dengan wajah memerah seperti surainya.
Aku hanya bisa tersenyum dan menyimpan tas kertas pemberian Kagami diloker milikku baru setelah itu aku pergi kelapangan yang mana disana sudah banyak sekali penontonnya, bahkan suara teriakan-teriakan seperti "mereka muncul" atau "kalian pasti bisa Seirin" dan lain sebagainya terdengar cukup keras dari para penonton. Aku, Kuroko, Kagami dan Teppei nii sih menganggapnya biasa saja, tapi bagi yang lainnya sepertinya tidak, lihat saja mereka terlihat gugup seperti itu.
"I-ini luar biasa, sorakan mereka belum pernah aku dengar." Komentar Kawahara mengerling kearah bangku penonton yang telah penuh pengunjung.
"Baru hari pertama tapi tempat duduknya sudah penuh." Komentar Fukuda.
"Apa kita terkenal?." Komentar Furihata.
"Daho tentu saja tidak." Komentar Hyuuga senpai yang saat ini sedang melepas jersey miliknya, membuat ketiga kouhainya mengerling kearah dirinya.
"'Kalian bisa' mungkin bukan bermakna yang seharusnya." Timpal Izuki senpai semakin membuat mereka bertiga bingung.
"Apa maksudnya senpai?." Tanya Furihata.
"Maksudnya mereka disini sebenarnya mendukung lawan kita hari ini." Jawabku dengan wajah datar sembari mengerling kearah pintu masuk bertepatan dengan munculnya tim Touou yang langsung disambut dengan kemeriahan dari bangku penonton.
"Desou." Lanjutku dengan wajah datar masih menatap kearah mereka, aku bisa melihat Momoi juga menatap kearahku dan langsung berlari mendekatiku lalu memelukku dengan sangat erat.
"Kyaa Ninachan." Ucapnya masih memelukku dengan erat hingga membuatku hampir kehabisan nafas.
"Mo-Momoi-san, a-aku tidak bisa bernafas." Ucapku dan dia langsung melepas pelukannya dariku sedangkan yang lainnya sepertinya sweetdrop melihat tingkah Momoi barusan.
"Hehehe gomen-gomen, habisnya aku merindukan Ninachan sih, kau tidak pernah memberiku kabar." Ucap Momoi sembari menggembungkan pipinya.
"Sumimasen Momoi-san, sepertinya aku terlalu sibuk belakangan ini, maukah kau memaafkanku?."
"Hmmm baiklah, demo kau harus mengajakku kencan kau mengerti."
"Hai, hai, setelah pertandingan ini selesai aku akan mengajakmu kencan."
"Janji?."
"Janji."
"Ah kalau begitu aku harus kembali, dan juga aku tidak akan menyerah Ninachan, aku akan bersungguh-sungguh dalam pertandingan ini." Ucap Momoi dengan semangat membuatku hanya bisa menyeringai kearahnya.
"Tentu saja aku juga tidak akan menyerah Momoi-san." Jawabku masih menyeringai, dan dengan begitu dia kembali ketimnya sedangkan aku kembali ketimku sendiri.
"Kau akan mengajak Momoi-san berkencan?." Tanya Kuroko setelah aku berada didepannya.
"Tentu saja, kenapa Tetsuya?, jangan bilang kalau kau cemburu Momoi-san mengajakku berkencan?." Tanyaku dan entah kenapa aku bisa melihat semburat merah tipis diwajahnya dan dia langsung mengalihkan wajahnya kearah yang lain.
"I-iie chigauyo desu, aku tidak cemburu, kenapa juga aku harus cemburu dengan Momoi-san?."
"Sikapmu berbeda dengan perkataanmu Tetsuya."
"Ninachan."
"Demo mereka luar biasa ya, pantas saja mereka mendapat peringkat kedua di Inter High." Komentar Hyuuga senpai mengerling kearah tim Touou.
"Jangan merendah, kita sudah tau soal itu-." Omel Riko senpai terputus begitu melihat wajah dari para pemainnya karena hampir dari mereka semua tersenyum seperti tidak ada kecemasan pada diri mereka membuat Riko senpai ikut tersenyum ketikah memandang mereka.
Merekapun mulai memasuki lapangan ketikah sang wasit menyuruh mereka untuk berbaris dan mengucapkan salam, baru setelah itu mereka menuju keposisi masing-masing dimana Teppei nii bersama Wakamatsu melompat untuk mendapatkan bola yang untungnya didapatkan oleh Teppei nii dan segera dipass ke Izuki senpai. Dia langsung mendribel bola menuju ring tim lawan bersama pemain lainnya.
"Awal akan menjadi sangat penting, lawan kita adalah peringkat kedua di Interhigh, selain itu mereka mencetak dua angka lebih banyak dari kita sebelumnya, perbedaan kekuatan kita sangat besar, jika menurut kalian mereka meremehkan kita jangan ragu-ragu lagi, mulailah dengan sungguh-sungguh sejak awal dan ungguli mereka." Entah kenapa perkataan Riko senpai sebelum pertandingan terlintas dipikiranku. Tapi aku merasa tim lawan tidak meremehkan kita sekalipun, terlihat sekali dari tatapan mata serta pertahanan mereka yang sama sekali tidak menurun.
"Mereka tidak meremehkan kita." Komentar Tsuchida senpai masih melihat kearah lapangan.
"Mereka bermain seolah ini adalah saat-saat terakhir." Komentar Kogaine senpai.
.
To Be Continue
.
Author: Kayaknya nih Chapter menurut saya dikit ya, sebenarnya sih Chapter ini cukup panjang karena itu saya membaginya jadi dua.
Nina: Dan di Chapter selanjutnya pertarungan antara Seirin VS Touou akan dimulai.
Kuroko: Kalau begitu mari kita jawab review yang telah masuk.
Michelle. hadiwijaya, Jaladritias009: Ini sudah lanjut, saya juga ikut bahagia kalau anda juga bahagia .
Sakura. seiya99, Akuro. terojima: Maaf kalau misalnya updatenya lama, semoga chapter ini tidak mengecewakan.
Asia Tetsu: Anda merinding?, sama saya juga. Kemarin Aomine gak sengaja minum ramuan saya jadi ya kayak gitu.
Aomine: Author teme kemari kau.
Author: *glek* sa-saya mau permisi dulu, Ninachan tolong lanjutkan *kabur*.
Nina: Baiklah berhubung Author-san lagi di kejar Aomine-kun.
(Author: Kyaa tolong saya di kejar banci)
(Aomine: Apa?, woi sini loh kampret, gue grep grep baru tau rasa ya)
Nina: *sweetdrop* aku akan melanjutkannya, ah soal tembok yang retak itu ya, ya karena aku menggunakan tenaga dalam jadi ya begitu lah, tapi tenang saja tembok itu sudah diperbaiki soalnya ada asuransi untuk tembok retak(?). Dan juga terima kasih karena sudah mendukung Author-san.
Kuroko: Terus ikuti cerita ini dan jangan lupa REVIEW PLEASE…!.
.
Next Chapter in Nina Story Book 2
.
"Iie aku masih bisa bertahan sebentar lagi, kantouku disaat quarter kedua sudah dimulai ijinkan aku memakai vanishing drive sekali lagi, kita memang seri tapi kita sudah susah payah mengejar mereka, aku tidak mau terus tertinggal."
"Jika kita memakainya terlalu sering mereka mungkin akan mengetahui triknya, kita harus menggunakannya dengan hati-hati."
.
"Itu tidak sia-sia baka, semua bercaya kalau kau akan kembali, kali ini jangan menyerah, selama kau duduk aku akan menunjukkan padanya, jika usaha yang sia-sia itu tidak ada."
"Kalahkan mereka ya Kagami-kun, sampai Tetsuya kembali, karena aku percaya kau pasti bisa melakukannya."
.
Chapter 3: Seirin VS Touou in Winter Cup
.
"Ninachan hisashiburi."
"Cotto sedang apa kau disini?."
