Dingin, rasanya dingin sekali.
Apa aku sudah mati?.
Sreek…sreek…sreek
Aku mendengar suara orang mendekat, apa itu malaikat yang akan menjemputku?.
"Hei apa kau tidak apa-apa?, bertahanlah aku akan menyelamatkanmu"
Aku membuka sedikit mataku dan hey kenapa yang kulihat hanya warna merah dan putih. Aku merasa seperti badanku diangkat seseorang.
"Cepat buka pintu mobilnya."
"Baik, tuan."
Gawat kesadaranku mulai hilang.
Okaasan kenapa kau begitu tega padaku.
BROTHER CONFLICT © Bukan Milik Saya
CROSSOVER: KUROKO NO BASUKE © FUJIMAKI TADATOSHI
AMAZING GRACE © SHERRYSAKURA99
.
WARNING: OC, OOC (mungkin), Crossover, jika ada yang kurang mengerti jalan ceritanya atau banyak kesalahan Typo mohon di maklumi, cerita mengikuti alur anime Brother Conflict dengan sedikit tambahan dari saya.
Genre: Romance, Friendship, Humor (mungkin, walau humornya agak garing), Hurt/Comfort
Rate:T
Conflict 1: Pindah?
'Srek…srek…' Tanganku tak henti-hentinya menggoreskan noda hitam pada kertas kosong yang sekarang telah dipenuhi oleh gambar wajah seseorang.
"Masih sibuk membuat manga?." Tanya seseorang dibelakangku dan itu membuatku berhenti menekuni aktifitasku lalu menoleh kesumber suara.
"Eh papa, tidak kok aku sedang buat key animation." Jawabku sambil tersenyum pada pria bersurai merah dengan tinggi 175 dan berusia sekitar 26th, dia memiliki mata heterochromia karena mata sebelah kanan berwarna merah sedangkan mata sebelah kirinya berwarna kuning keemasan.
"Key animation?, jangan bilang kalau dari perusahaan Chihiro?." Tanyanya mendekat kearahku.
"Memang, kan aku sudah bilang pada papa kalau aku akan membantu paman Chi selama dibutuhkan." Jawabku kembali melanjutkan aktivitasku.
"Hah, hai hai, menggambar memang sudah menjadi keahlianmu." Ucapnya tersenyum sambil mengelus kepalaku.
"Jangan lupa juga dengan basket papa, kan papa sendiri yang mengajariku basket."
"Ya tentu saja, sayang sekali ya kau tidak masuk Rakuzan tapi malah masuk ke SMA lain."
"Hee aku pikir itu sekolah yang cukup bergengsi loh, ya walaupun tidak seterkenal Rakuzan."
"Hah tapi gara-gara itu kau harus bolak-balik Kyoto-Tokyo."
"Habisnya papa tidak mengijinkanku menyewa apartemen sih."
"Itu karena aku tidak bisa melepaskanmu begitu saja Ai."
"Sudah aku duga." Ucapku sweetdrop.
"Oh ya bagaimana kalau kau tinggal saja di mansion milik kenalan papa?."
"Eh mansion kenalan papa?."
"Hai dia mempunyai mansion bernama 'Sunrise Recidence', jika kau mau papa bisa meminta satu kamar padanya, kebetulan sekolahmu juga dekat dengan mansion itu."
"Hee bolehkah?, apa papa mengijinkanya?." Tanyaku menoleh kearahnya.
"Ya kalau di sana sih boleh."
"Tapi teman papa yang mana?."
"Kau tau Asahina Miwa?."
"Ah designer terkenal itu ya, yang pernah membuatkanku pakaian."
"Ya, sebenarnya sudah sejak kau pertama masuk sekolah Miwa memintaku agar kau tinggal disana saja, tapi papa masih ingin memikirkannya."
"Hee kenapa."
"Itu karena disana nanti juga ada ke 13 anaknya."
"Loh justru bukanya bagus papa, itu artinya aku tidak akan kesepian."
"Masalahnya ke 13 anaknya itu laki-laki semua."
"Eh benarkah?, Miwa-san mau buat klub sepak bola ya?, apa mereka lahir bersamaan?." Ucapku sweetdrop.
"Itu tidak mungkin Ai, tapi kemarin Miwa menelpon dan mengatakan bahwa dia akan menikah lagi, dan calon suaminya mempunyai anak perempuan, jadi aku tidak perlu khawatir soal itu, karena itu papa bertanya padamu apa kau mau tinggal disana?."
"Tentu saja aku mau." Jawabku sambil memeluk papa, setidaknya aku tidak perlu lagi bolak-balik Kyoto-Tokyo, karena itu sangat melelahkan.
"Baiklah papa akan menelpon Miwa, kau bisa melanjutkan kembali aktivitasmu." Ucap papa sambil tersenyum.
"Aye papa, ah tapi sebelum itu." Aku mencium pipi kanan papa sebelum akhirnya melepas pelukanku padanya.
"Oyasuminasai papa."
"Oyasumi." Jawab papa tersenyum kemudian pergi meninggalkan kamarku, sedangkan aku kembali melanjutkan membuat key animation.
~Amazing Grace~
'Ukh dimana aku.' Batinku membuka mataku sambil melihat kesekelilingku. Sekarang aku berada disebuah kamar yang didominasi dengan warna merah, mulai dari cat sampai prabotannya.
"Kau sudah sadar?." Ucap seseorang dari arah pintu, aku melihat kearahnya dan mendapati seorang pria bersurai merah sedang berdiri disana yang kemudian mendekat kearahku.
"Ai ada dimana?." Tanyaku pada pria tadi.
"Kau ada dirumahku, tadi aku menemukanmu bersama kucingmu tergeletak tak sadarkan diri di taman dekat sekolahku, karena itu aku membawamu kemari."
"Ah Sel(r)afina dimana dia?." Tanyaku cadel, karena bagaimanapun juga menyebut huruf 'R' pada usiaku saat ini sangat susah.
"Tenang saja, kucing itu sedang tidur disana." Jawabnya menunjuk kearah gumpalan bulu warna coklat yang ada disampingku, aku hanya bisa bernafas lega melihat kucing itu baik-baik saja.
"Setelah kau baikan, aku akan mengantarmu pulang, oh ya dimana kau tinggal?."
"Ai tidak punya tempat tinggal." Jawabku menundukan kepalahku.
"Kenapa?, melihat tas yang tadi kau bawa, apa kau melarikan diri dari rumah?."
"Bukan, okaasan yang menyuluh Ai pelgi, okaasan bilang kalau Ai mengganggu pekeljaanya, dan juga melepotkannya." Jawabku masih menundukan kepalahku.
"Bagaimana dengan otousanmu?." Tanya pria tadi yang aku balas dengan gelengan kepala.
"Okaasan bilang kalau Ai lahil tanpa ayah, lebih tepatnya okaasan tidak tau Ai anak siapa dali semua plia yang dikencaninya."
"Souka, kalau begitu kau bisa tinggal disini." Ucap pria tadi.
"Bo-bolehkah Ai tinggal disini?." Tanyaku memastikan bahwa dia tidak berbohong.
"Tentu saja, siapa namamu?."
"Kuluto Ai."
"Namaku Akashi Seijurou, kau bisa memanggilku apa saja."
"Bolehkah Ai memanggilmu papa?."
"Tentu, kau bisa memanggilku papa jika kau mau." Jawabnya tersenyum tulus sambil mengelus kepalahku.
"Hai kalau begitu Ai akan memanggilmu papa." Ucapku tersenyum sambil memeluk papa baruku dan diapun membalas pelukanku.
~Amazing Grace~
Nama asliku Kuruto Ai sebelum akhirnya berganti menjadi Akashi Ai, umurku sekarang menginjak 15th, tinggiku sekitar 160cm dengan berat sekitar 40kg. Aku memiliki surai coklat cream (Author: warna rambutnya sama seperti Fuuto) yang panjang sampai pinggang dan juga iris mataku berwarna merah darah seperti papa. Sedangkan yang sedang mengemudi disebelahku adalah papaku namanya Akashi Seijurou, dia seorang pemimpin perusahaan terbesar di Jepang bernama Akashi Corp. Dan juga seorang pemain basket Nasional dan termasuk kapten dari Kiseki No Sedai, sebuah kelompok basket yang berisi orang-orang berbakat yang hanya muncul sekitar sepuluh tahun. Lalu yang ada dipangkuanku ini adalah kucingku namanya Serafina, dia memiliki bulu berwarna coklat terang serta mata yang berwarna sama seperti punyaku, dia juga mengenakan dengan liontin berbentuk 'S'. Serafina punya keistimewaan, yaitu dia bisa berbicara denganku, hanya denganku saja, ini kuketahui ketikah umurku menginjak sepuluh tahun saat Serafina membangunkanku dengan suaranya. Aku pernah menceritakan ini pada papa, tapi papa hanya menanggapinya dengan senyuman dan bilang kalau itu hanya khayalanku saja. Jadi soal kucingku yang bisa berbicara ini hanya aku saja yang tau.
Oh ya aku ini bukan anak kandung papa, melainkan aku diadopsi olehnya. Aku ditemukan papa ketikah beliau berumur 16th ditaman dekat sekolahnya saat dia pulang dari klub basket, saat itu umurku masih 5th. Papa bilang kalau aku ditemukan tergeletak ditaman yang tertutup salju. Dan sejak saat itu aku diangkat oleh papa menjadi anaknya, walau ditentang keras oleh kakek mengingat umur papa yang masih sangat mudah, tapi papa tetap bersikeras untuk mengadopsiku. Tapi lama-kelamaan kakek mau menerimaku, bahkan kami sering main shogi sama-sama yang selalu dimenangkan oleh kakek atau bermain PS yang selalu aku menangkan, he jangan salah walau kakek sudah berumur lanjut tapi beliau masih seperti umur 30th. Begitu juga dengan papa, walau papa sudah berumur 26th tapi wajah beliau masih seperti remaja.
"Ai jika kau sedang memikirkan hal aneh-aneh tentang papa lebih baik jangan teruskan." Ucap papa tanpa menoleh padaku.
"Papa jangan baca pikiranku." Ucapku kesal sambil menggembungkan pipiku, mungkin karena gemas, papa mencubit pipiku.
"Papa tidak membaca pikiranmu, tapi kau sendiri yang dari tadi melihat papa." Ucapnya masih mencubit pipiku.
"Ittaio papa, lepaskan."
"Hai hai." Ucap papa melepaskan cubitanya.
"Nee papa kira-kira anak-anak Miwa-san itu seperti apa?."
"Aku tidak tau pasti sih papa cuma sekali bertemu dengan mereka."
"Souka."
"Oh ya kau bilang kau ingin buat shoujo manga bukan?."
"Hai, tapi aku masih belum dapat gambaran tentang karakter utama, lagipula aku butuh inspirasi."
"Mungkin di sana kau akan dapat inspirasi."
"Eh apa papa yakin?."
"Hee kau meragukan papa, papa itu selalu benar tau."
"Iie terakhir kali papa bilang begitu saat kita akan pergi ke taman, papa bilang kalau tidak akan hujan tapi nyatanya pulang-pulang malah hujan deras." Ucapku sweetdrop ketikah mengingat-ingat kejadian waktu dulu.
"I-itu karena efek global warming, jadinya cuaca tidak bisa diprediksi."
"Hai, hai papa."
"Kau tidak percaya pada papa?."
"Aku percaya kok." Ucapku sambil tersenyum.
"Hah Ai ingat pesan papa ya."
"Wakatta aku akan selalu jaga kesehatan kok."
"Bukan yang itu, tapi yang paling penting dari itu."
"Ah selalu pakai pokerface dimanapun kau berada."
"Jangan tunjukan kelemahanmu pada siapapun selain papa, oke."
"Hai."
"Baiklah kita sudah sampai." Ucap papa memarkirkan mobilnya didepan pintu mansion yang lumayan besar. Akupun turun dari mobil begitu juga dengan papa, dan kami langsung disambut oleh pria bersurai coklat tua dan seorang anak kecil bersurai pink, warna rambutnya mirip seperti milik bibi Satsuki.
"Koichiwa." Ucapku tersenyum tipis pada pria tadi.
"Ah konichiwa, kami sudah menunggu kalian, nama saya Asahina Masaomi putra pertama dari Asahina Miwa, sedangkan yang disebelah saya adalah Asahina Wataru putra terakhir." Ucap pria bersurai coklat tua yang bernama Masaomi sambil mengajak papa bersalaman.
"Namaku Akashi Seijurou, sedangkan ini anakku Akashi Ai, dia yang akan tinggal disini nanti." Ucap papa menerima jabatan tangan Masaomi-san.
"Kalau begitu aku tinggal dulu ya." Ucap papa pada kami.
"Eh anda tidak mau mampir dulu?."
"Tidak usah Masaomi-san, aku titip Ai padamu tolong jaga dia ya." Ucap papa sambil mengelus rambutku.
"Hai saya akan menjaganya, jadi anda tidak usah khawatir."
"Baik-baik disini ya Ai."
"Mou papa aku bukan anak kecil lagi." Ucapku sambil menggembungkan pipiku.
"Hai hai wakatta, baiklah papa pergi dulu." Ucap papa sambil masuk kedalam mobil, sebelum pergi aku sempat mencium pipi papa baru setelah itu papa pergi meninggalkanku bersama dua orang Asahina.
"Baiklah biar aku tunjukan kamarmu." Ucap Masaomi-san tersenyum lalu membawa tasku masuk ke mansion diikuti oleh aku dan Wataru. Akhirnya kami sampai di kamar milikku, tempatnya lumayan luas, ada kasur, lemari, tv, ac, kamar mandi, dan juga meja belajar.
"Ini kamarmu, lalu ini adalah dena rumah ini." Ucap Masaomi-san memberikan beberapa kertas yang merupakan dena mansion ini padaku.
"Arigato Masaomi-san, ah hampir lupa, ini ada oleh-oleh dari Kyoto." Ucapku menyerahkan tas kertas yang ada ditanganku sambil tersenyum.
"Wah apa isinya oneechan?." Tanya Wataru menerima tas itu.
"Beberapa kue khas Kyoto, aku rasa kau akan menyukainya." Jawabku sambil mengelus kepala Wataru.
"Arigato oneechan, aku pasti akan memakannya." Ucap Wataru sambil tersenyum.
"Kalau begitu kami keluar dulu, kalau butuh bantuan telpon saja, aku meninggalkan nomor telponku disana." Pamit Masaomi-san kemudian keluar dari kamarku bersama Wataru.
"Aku rasa mereka berdua tidak buruk, miaw." Komentar Serafina melompat keatas kasur.
"Ya tapi kita belum melihat anggota keluarga mereka secara keseluruan." Jawabku sambil merapikan pakaianku kedalam lemari.
"Apa kau sudah dapat inspirasi pada ceritamu, miaw?."
"Belum, wajah Masaomi-san memang aku akui lumayan tampan, tapi dia belum memenui kategoriku." Jawabku memasang pose berpikir.
"Memang kategorimu seperti apa, miaw?."
"Mungkin seperti Tatsuya, atau paman Tetsu dan paman kiseki lainnya, soalnya mereka punya wajah bisounen."
"Well, kenapa tidak mengambil contoh dari mereka saja, miaw?."
"Aku butuh contoh yang lain Serafina." Jawabku mendekat kearah Serafina karena aku sudah selesai merapikan semua barang-barangku.
"Hah kau ini selalu saja ingin lebih, miaw."
"Hehehe, bagaimana kalau kita keruang tamu saja?, mungkin kita bisa bertemu dengan Asahina yang lain."
"Aku mau istirahat saja, miaw."
"Baiklah, aku akan berkeliling sendiri, kau istirahat saja ya." Ucapku sambil tersenyum lalu mengelus kepala Serafina sebelum akhirnya keluar dari kamarku.
Pertama-tama aku pergi menuju ruang tengah tanpa menggunakan peta, soalnya aku sudah menghafalnya. Sesampainya disana aku bertemu dengan seorang pria bersurai putih sedang memeluk seorang wanita bersurai coklat di ruang tengah dan aku tau siapa wanita itu. Aku turun menuju kearah mereka, dan menyapanya.
"Konichiwa." Sapaku sambil membungkukkan kepalaku, mereka sempat kaget dengan kedatanganku secara tiba-tiba.
"Ko-konchiwa, ale Aichan." Ucap wanita bersurai coklat yang merupakan salah satu senpai di sekolahku mendekat kearahku.
"Konichiwa Hinata senpai." Ucapku tersenyum.
"Mou Aichan sudah aku bilang panggil aku Ema."
"Hai hai gomenasai Ema senpai."
"Tapi apa yang sedang Aichan lakukan disini?, apa kau mencari seseorang?."
"Bukan Ema senpai, mulai sekarang aku akan tinggal disini."
"Eh benarkah."
"Tentu apa wajahku terlihat bohong senpai?." Ucapku sambil tersenyum.
"Yatta, syukurlah aku punya teman perempuan disini, setidaknya aku tidak akan kesepian." Ucapnya sambil memelukku.
"Hai hai aku akan menemani Ema senpai kok." Ucapku membalas pelukanya.
"Emachan, dia siapa?." Tanya pria besurai putih yang sempat terlupakan pada Ema senpai.
"Ah dia ini kouhaiku."
"Perkenalkan namaku Akashi Ai desu, mulai sekarang aku akan tinggal disini, Yoroshiku onegaishimasu."
"Souka kau anak dari temanya Miwa-san ya, namaku Asahina Tsubaki putra kelima." Ucapnya mendekat kearahku lalu memelukku.
"Yoroshiku." Lanjutnya.
"Boleh aku memanggilmu Tsubaki-san?."
"Tentu saja."
"Kalau begitu bisa kau melepas pelukanmu Tsubaki-san."
"He kenapa kau tidak suka dipeluk, aroma Aichan seperti wangi coklat sangat menenangkan, dan aku jadi ingin memakannya."
"Tsubaki jangan menggodanya." Omel seseorang dari belakang Tsubaki-san. Aku melihat kearahnya dan kaget karena dia mirip dengan seseorang. Tsubaki-san melepas pelukanya padaku kemudian menoleh pada pria yang sepertinya seumuran denganya bersurai hitam, berkacamata dan poninya menutupi mata kirinya, berbeda dengan Tsubaki-san yang poninya menutupi mata kananya.
"Aku tidak menggodanya kok Azusa." Elaknya.
"Hah jelas-jelas kau tadi menggodanya, maafkan kelakuan Tsubaki ya." Ucap pria tadi kepadaku.
"Iie daijoubu desu, ano."
"Ah namaku Asahina Azusa putra keenam."
'Dia mirip Tatsuya.' Pikirku.
"Namaku Akashi Ai desu, yoroshiku emm boleh aku memanggilmu Azusa-san."
"Tentu saja, dan Tsubaki sebentar lagi kita harus kerja." Ucap Azusa-san mengerling kearah Tsubaki-san.
"Kalau begitu aku pergi dulu ya Emachan, Aichan." Ucap Tsubaki dan merekapun pergi dari hadapan kami. Aku dan Ema senpai memutuskan untuk duduk dan sedikit mengobrol.
"Aku pikir kau tidak diperbolehkan ayahmu untuk tinggal jauh dari rumah?." Tanya Ema senpai padaku.
"Awalnya memang tidak boleh, tapi setelah Miwa-san mengatakan kalau mansionnya masih ada kamar kosong dan juga katanya anak perempuannya juga akan tinggal disini, papa mengijinkanku, aku tidak menyangkah kalau anak perempuan Miwa-san adalah Ema senpai."
"Hehehe aku juga tidak menyangka papa akan menikah lagi, tapi menyenangkan sekali punya banyak saudara seperti ini."
"Ne Ema senpai kapan Rentarou-san akan menikah?."
"Aku rasa masih beberapa minggu lagi."
"Souka, itu artinya namamu akan berganti menjadi Asahina ya?."
"Ya mungkin seperti itu, ne Aichan masih membuat key animation?."
"Tentu saja karena menggambar itu keahlianku, tapi sebenarnya aku juga mengerjakan desain karakter game."
"Eh benarkah?, game apa?."
"Panzer Of The Dead, hampir semua desain caracternya aku yang buat."
"Sugoi Aichan."
'Trililit…Trililit…' tiba-tiba saja ponselku berbunyi, aku melihat nama yang terterah disana sebelum akhirnya mengangkatnya.
"Halo Azumi-san, doushita?."
"Aichan, apa key animation untuk episode 9 sudah selesai?."
"Aku sudah menyelesaikan semuanya, kau bisa mengambilnya hari ini."
"Hounto?, sasuga Aichan selalu menyelesaikannya tepat waktu, kalau begitu aku akan langsung kesana, oh ya kau jadi pindah ke Tokyo Aichan?."
"Hai aku sudah mengirim alamatnya bukan?."
"Baiklah kalau begitu, aku akan datang sekitar 10 menit, jaa nee~." Dan telpon itu terputus.
"Dari siapa Aichan?." Tanya Ema senpai padaku.
"Seseorang dari perusahaan, kalau begitu aku kekamar dulu ya senpai." ucapku sambil tersenyum kemudian mulai berjalan menuju kekamarku. Ditengah jalan tiba-tiba ada yang menabrakku hingga aku terjatuh kelantai.
"Ittai, kalau jalan berhati-hati-." Omelku terputus begitu tau siapa yang aku tabrak.
"Ale Yusuke senpai." Ucapku berdiri dari posisi dudukku lalu mengulurkan tangan pada Yusuke senpai.
"Eh Aichan?, sedang apa kau disini?." Tanya Yusuke senpai menerima uluran tangan dariku.
"Mulai sekarang aku akan tinggal disini, ah benar juga nama keluarga Yusuke senpai kan Asahina, pantas saja aku seperti pernah mendengar nama Asahina disuatu tempat."
"Eh co-cotto kau akan tinggal disini?, benarkah?."
"Hai, apa Miwa-san tidak memberitahu Yusuke senpai?."
"Aku hanya diberitau kalau salah satu anak teman Miwa-san akan tinggal disini, tapi aku tidak tau kalau itu kau."
"Karena sekarang sudah tau, jadi yoroshiku Yusuke senpai."
"Ya semoga kau betah disini."
"Hai tentu saja, kalau begitu aku kekamar dulu ya Yusuke senpai." Ucapku sambil tersenyum yang dijawab "hai" oleh Yusuke senpai dan aku pergi meninggalkannya.
~Amazing Grace~
"Baiklah ini sudah semua, arigato Aichan, aku tidak tau apa jadinya kalau tidak ada kau." Ucap Azumi-san setelah memeriksa semua key animation yang aku buat.
"Daijoubu, ini kan sudah menjadi tugasku." Jawabku sambil tersenyum.
"Kalau begitu aku permisi dulu, nanti kalau ada yang retake aku kabari."
"Wakatta, oh ya titip salam untuk paman Chi ya."
"Hai jaa Aichan." Ucap Azumi-san dan pergi meninggalkan Sunrise Recidence. Setelah Azumi-san pergi, aku memutuskan untuk tiduran disamping Serafina yang sepertinya sudah tertidur disebelahku.
'Aku tidak menyangkah kalau bisa satu rumah dengan Ema senpai dan Yusuke senpai.' pikirku sambil mengingat-ingat kembali kejadian yang baru saja aku alami.
"Kau sedang memikirkan sesuatu, miaw." Tanya Serafina tiba-tiba yang sempat membuatku kaget.
"Aku pikir kau sudah tidur."
"Aku hanya istirahat, miaw, jadi apa yang kau pikirkan, miaw?."
"Tadi aku bertemu dengan Ema senpai dan Yusuke senpai."
"Eh maksudmu tuanya si July?."
"Ya, aku tidak menyangka kalau anak perempuan Miwa-san yang dimaksud papa adalah Ema senpai."
"Ya kadang dunia begitu sempit, miaw, lalu apa kau bertemu dengan keluarga Asahina yang lain, miaw?."
"Aku bertemu dengan dua orang Asahina, satunya bernama Asahina Tsubaki dan yang satunya bernama Asahina Azusa."
"Seperti apa mereka, miaw?."
"Asahina Tsubaki memliki surai putih yang poninya menutupi mata kananya, sedangkan Asahina Azusa mirip seperti Tatsuya."
"Eh mirip seperti dia, miaw?."
"Emm, hanya saja dia mengenakan kacamata dan iris matanya berwarna ungu." Jawabku menganggukan kepalaku.
"Sepertinya aku sudah menemukan inspirasiku." Lanjutku mengubah posisi menjadi duduk sambil tersenyum semangat.
"Hah bisakah kau melupakan Tatsuya, miaw?."
"Eh kenapa?."
"Kau tau kalau dia tidak mungkin jadi milikmu, miaw."
"Aku tau." Ucapku menundukan kepalaku.
"Tapi tidak salahnya kan aku berharap, walau dia hanya menganggapku sebagai anak kecil." Lanjutku sambil membenamkan wajahku pada kedua kakiku.
"Hah, dia bahkan jarang menghubungi mu, miaw." Komentar Serafina memutar bola matanya bosan
"Mou Serafina setidaknya kau bisa sedikit menghiburku kan." Ucapku mengerling kearah Serafina sambil menggembungkan pipiku.
"Hai hai gomenasai, miaw."
'Tok…tok…tok.' Suara ketukan dari pintu menggentikan acara perdebatanku dan Serafina, segera aku membuka pintunya dan mendapati Masaomi-san sedang berdiri disana.
"Dousitano Masaomi-san?."
"Sebentar lagi makan malam, jadi aku ingin memanggilmu."
"Hai, aku sebentar lagi akan turun."
"Baiklah aku tunggu dibawah ya."
"Hai." Jawabku sambil tersenyum.
Aku kembali masuk kekamarku dan mengganti pakaianku dengan pakaian santai lalu berjalan kearah ruang makan yang tempatnya menjadi satu dengan ruang tengah. Sesampainya disana aku melihat sembilan orang laki-laki yang sudah duduk dimeja makan, tapi entah kenapa aku tidak melihat Ema senpai dimanapun, aku memutuskan untuk berjalan kearah mereka dan hal itu disambut baik oleh Tsubaki-san.
"Aichan kochi-kochi, kau bisa duduk disini." Ucapnya sambil menepuk-nepuk kursi yang ada disampingnya. Aku hanya tersenyum kemudian duduk disamping Tsubaki-san dan juga Yusuke senpai.
"Ah kau pasti anak dari teman Miwa-san ya?." Tanya seorang pria bersurai coklat agak kekuning-kuningan dan berkacamata sambil meletakan makanan didepanku.
"Hai, namaku Akashi Ai desu, yoroshiku minna." Ucapku memperkenalkan diri sambil tersenyum.
"Namaku Asahina Ukyo anak kedua." Ucap pria tadi sambil tersenyum.
"Namaku Asahina Kaname anak ketiga, yoroshiku nona cantik." Ucap pria bersurai kuning dan mengenakan pakaian seperti pendeta atau biksu sambil mengedipkan matanya padaku.
"Namaku Asahina Iori anak kesepuluh, yoroshiku Akashi-san." Ucap pria bersurai putih yang duduk disamping Kaname-san sambil tersenyum.
"Namaku Asahina Subaru anak kesembilan." Ucap pria bersurai hitam yang duduk disebelah Iori-san dan aku cukup terkejut karena suaranya mirip seperti paman Shin.
"Namaku Asahina Louise anak kedelapan, yoroshiku Aichan." Ucap pria bersurai coklat terang yang duduk disamping Subaru-san sambil tersenyum.
"Ano bolehkah aku memanggil dengan nama depan kalian?, karena cukup sulit jika harus memanggil dengan nama keluarga kalian." Ijinku pada mereka dengan wajah sedikit kebingungan.
"Tentu saja boleh Aichan, kami tidak keberatan kok." Jawab Tsubaki-san sambil tersenyum.
"Hai, kalau begitu kalian bisa memanggilku dengan nama depanku." Ucapku sambil tersenyum.
Kami melanjutkan makan malam dan pandanganku selalu menuju Subaru-san, karena selain dia berada tepat didepanku aku juga sedikit tertarik dengan angka-angka yang muncul ditubuhnya. Melihat aku yang dari tadi mencuri pandang pada Subaru-san, Yusuke senpai langsung bertanya padaku.
"Ada apa Aichan, dari tadi kau terus melihat kearah Subaru nii?." Tanya Yusuke senpai yang langsung mendapat perhatian dari kami semua.
"Iie, ano apa Subaru-san pemain basket?." Tanyaku to the poin, yang sontak membuat mereka semua kaget.
"Eh bagaimana kau bisa tau?." Tanya Subaru-san yang juga menjadi pertanyaan mereka semua.
"Terlihat saja dari angka-angka yang ada ditubuh Subaru-san." Jawabku sambil tersenyum.
"Angka?, apa maksudnya Aichan?." Tanya Tsubaki-san, sepertinya dia masih belum paham.
"Masakah, kau mempunyai kemampuan analisa?." Tanya Subaru-san padaku.
"Hai, begitulah."
"Apa itu kemampuan analisa?." Tanya Yusuke senpai.
"Itu adalah kemampuan dimana seseorang dapat melihat tinggi badan, berat badan, kekuatan pada tubuh yang dilihatnya, bahkan bisa melihat otot yang kaku dan jarang berolahraga." Jelas Subaru-san yang membuat mereka kembali terkejut.
"Hee, apa benar itu Aichan." Tanya Tsubaki-san melihat kearahku diikuti oleh yang lain.
"Hai begitulah, aku juga bisa melihat olahraga apa saja yang cocok untuk tiap orang." Jawabku sambil tersenyum.
"Sugoi oneechan, darimana kau mendapatkannya?." Tanya Wataru antusias.
"Kalian tau papaku kan?."
"Maksudmu Akashi Seijurou?." Jawab Masaomi-san yang sempat membuat Subaru-san menyemburkan air yang diminumnya.
"Co-cotto otousanmu Akashi Seijurou, Akashi Seijurou yang itu?." Tanya Subaru-san memastikannya yang aku balas dengan anggukan kepala.
"Eh memang ada apa dengan Akashi Seijurou?." Tanya Azusa-san.
"Kalian tidak tau, dia itu mantan pembasket nasional yang sangat terkenal." Jawab Subaru-san.
"Bukan mantan Subaru-san, papa masih bermain basket jika beliau diminta, papa itu kapten dalam tim basket nasional yang juga kapten dari Kiseki No Sedai." Jelasku.
"Kiseki No Sedai?, apa yang kau maksud adalah kelompok basket yang isinya orang-orang berbakat itu?." Tanya Ukyo-san padaku.
"Hai, sebenarnya aku mendapat kemampuan analisa ini dari teman papa yang merupakan menejer dari Kiseki No Sedai, Aomine Satsuki, bibi melatihku atas permintaan papa."
"Souka, apa kau juga bisa bermain basket?." Tanya Subaru-san padaku.
"Tentu walau tidak semahir mereka." Jawabku sambil tersenyum.
"Sasuga julukan perfect queen memang cocok untukmu ya." Ledek Yusuke senpai mengerling kearahku.
"Perfect queen?." Tanya Tsubaki-san.
"Ya di sekolah Aichan mendapat julukan seperti itu, karena dia selalu mendapat nilai tinggi dalam bidang apa saja, dan juga selalu bisa diandalkan, dia saja baru kelas satu tapi sudah jadi ketua osis." Jelas Yusuke senpai.
"Hee benarkah?, sugoi Aichan, bagaimana kau bisa melakukannya?."
"Iie, aku hanya melakukan apa yang aku bisa kok Tsubaki-san, tapi aku tidak suka dengan julukan itu." Jawabku sambil menggaruk pipiku dengan jariku.
"Eh kenapa?"
"Soalnya manusia itu tidak ada yang sempurnah Louise-san." Jawabku sambil tersenyum.
"Oh ya ngomong-ngomong Ema senpai dimana?." Tanyaku pada mereka.
"Emachan sedang sakit, sepertinya dia kecapean setelah perjalanan jauh." Jawab Tsubaki-san.
"Souka, nee apakah Ema senpai sudah makan?."
"Sepertinya belum."
"Kalau begitu biar aku saja yang mengantar makanan padanya, Ukyo-san." Pintaku sambil tersenyum pada Ukyo-san.
"Aku juga ikut ya Aichan." Pinta Kaname senpai padaku.
"Hai tentu saja."
Setelah selesai makan, aku meletakan sup serta beberapa buah-buahan dan juga kue oleh-olehku tadi di sebuah troli. Wataru juga meletakan boneka disana katanya hadiah untuk Ema senpai supaya dia cepat baikan, lalu membawanya bersama Kaname-san kekamar Ema senpai. Karena aku yakin kalau Ema senpai sudah tidur, jadi aku meletakannya didepan kamarnya. Tapi tiba-iba saja kamar Ema senpai terbuka dan mucul Ema senpai (hanya kepalanya saja sih) sambil melihat kearah kami berdua yang akan meninggalkan kamarnya.
"Ah apa kami membangunkanmu Ema senpai?." Tanyaku.
"Iie Aichan."
"Aku dengar kau sakit, jadi aku membawakanmu sup dan oleh-oleh dariku." Ucapku mendekat kearah Ema senpai.
"Dan ada juga hadiah dari semuanya." Lanjut Kaname-san lalu membawa troli itu masuk kekamar Ema senpai.
"A-arigatogozaimashu Kaname-san, Aichan."
"Kau bisa memanggilku 'oniichan'." Ucap Kaname-san sambil tersenyum.
"O-oniichan." Ucap Ema senpai yang wajahnya bersemu merah.
"Kedengaranya bagus, sekali lagi."
"O-oniichan."
"Sudahlah Kaname-san, biarkan Ema senpai istirahat." Ucapku pada Kaname-san.
"Nee bagaimana kalau Aichan juga memanggilku oniichan." Pinta Kaname-san mengerling kearahku yang aku balas dengan kedua tanganku yang aku angkat.
"Aku pass."
"Hidoi Aichan, padahal aku ingin kau juga memanggilku oniichan." Ucap Kaname-san sambil menundukan kepalanya serta terdapat aura-aura hitam yang muncul disekitarnya.
"Apa sekarang kau bisa tidur?." Tanya Kaname-san yang telah kembali dari depresinya.
"Oh hai, mungkin." Jawab Ema senpai.
"Apa oniichan harus tidur denganmu?."
"Eh tidak usah."
"Souka, sayang sekali, tapi jika kau butuh sesuatu, katakan saja padaku."
"Arigatogozaimasu."
"Kalau begitu, oyasumi." Ucap Kaname-san sambil mencium pipi kiri Ema senpai, yang sempat mendapat tatapan kaget darinya.
"Tolong jangan menggodaku." Ucap Ema senpai.
"Apa yang bisa kukatakan?, mungkin aku serius." Jawab Kaname-san masih memegang dagu Ema senpai.
"Itu hanya lelucon bukan."
"Eh."
"Bisa kubilang kalau Kaname-san adalah orang yang baik." Lanjut Ema senpai yang seketika membuat Kaname-san melepas tangannya dari dagu Ema senpai.
"Gawat jika demamu sampai naik, jadi akan aku biarkan untuk hari ini, saat kau sembuh, biarkan aku memberimu ciuman yang lebih baik." Ucap Kaname-san sambil tersenyum.
"Ehem…ehem…sepertinya kalian lupa ya kalau aku masih ada disini." Ucapku sambil tersenyum sangat manis tanda bahwa aku sedang kesal karena terlupakan.
"Ah apa Aichan juga mau ciuman selamat malam?." Tanya Kaname-san mendekat kearahku dan menundukan sedikit badanya.
"Bahkan tidak dalam mimpimu Kaname-san?." Jawabku masih tersenyum yang langsung membuat Kaname-san pudung dipojokan. Aku mendekat kearah Ema senpai dan memegang keningnya untuk memeriksa suhu tubuhnya.
"Aku rasa istirahat semalam dan besok kau sudah bisa masuk sekolah Ema senpai." Ucapku.
"Kalau begitu kami pergi dulu, beristirahatlah dan jangan lupa minum obatnya." Pesanku sebelum akhirnya pergi bersama Kaname-san.
Aku memutuskan untuk melanjutkan membuat key animation dikamarku, karena aku memang mendapat job untuk dua episode, sekalian ingin membuat susunan plot untuk manga shoujo yang masih dalam tahap rencana. Dan entah kenapa malam ini hawanya sedikit panas, atau mungkin otakku sudah mulai panas dari tadi dipaksa untuk berpikir.
'Hmm, mungkin sedikit air putih bisa mendinginkan kepalaku.' Pikirku dan mulai beranjak dari kamarku menuju dapur. Sesampainya disana aku melihat Tsubaki-san dan juga Azusa-san belum tidur, aku memutuskan untuk menyapa mereka terlebih dahulu.
"Tsubaki-san, Azusa-san, belum tidur?." Tanyaku pada mereka.
"Ah Aichan, kami sedang latihan." Jawab Tsubaki-san.
"Latihan?."
"Ya latihan sambil menghapal naskah." Jawab Azusa-san.
"Untuk apa?."
"Kami belum bilang ya kalau kami berdua adalah Seiyuu, dan kami ini kembar loh." Jawab Tsubaki-san sambil merangkul leher Azusa-san, entah kenapa sifatnya mirip seperti paman Ryota yang sering memelukku dan paman Tetsu.
"Souka, pantas saja aku seperti pernah mendengar suara kalian disuatu tempat." Ucapku memasang pose berpikir.
"Kalau Aichan sendiri kenapa belum tidur?." Tanya Azusa-san padaku.
"Aku masih ada kerjaan."
"Eh kerjaan apa." Tanya Tsubaki-san.
"Itu rahasia, jika kalian tau kalian pasti akan kaget."
"Eh Aichan hidoi, kami sudah memberi taumu pekerjaan kami."
"Nanti kau juga akan tau Tsubaki-san." Jawabku tersenyum lalu berjalan mengambil air yang ada didalam kulkas dan kembali mendekat kearah mereka.
"Ne bolehkah aku melihat kalian latihan?."
"Tidak boleh." Tolak Tsubaki-san cepat sambil memalingkan wajahnya, sepertinya dia sedikit kesal.
"Aku sih tidak keberatan." Jawab Azusa-san sambil tersenyum.
"Azusa seharusnya kau membelaku."
"Kenapa aku tidak boleh melihatnya Tsubaki-san?." Tanyaku pada Tsubaki-san.
"Habis Aichan tidak mau memberi tau kami pekerjaanmu." Jawab Tsubaki-san ngambek.
"Hah baiklah akan aku beritau, sebenarnya aku menerima job menggambar key animation."
"Heee, benarkah?."
"Hai."
"Kau bekerja diperusahaan mana?." Tanya Azusa-san yang sepertinya tertarik.
"Itu tergantung, tapi aku lebih sering mendapat job dari perusahaan Mayuzumi."
"Cotto itukan perusahaan yang juga menjadi tempat kerja kami." Ucap Tsubaki-san masih dengan wajah kaget.
"Eh kalian menjadi salah satu seiyuu disana?."
"Hai, kau tidak tau Aichan?."
"Gomen Azusa-san, aku tidak terlalu tau tentang hal itu, habis kalau masalah pemilihan Seiyuu itukan pak produser yang menentukan, aku sih hanya membuat key animationnya saja."
"Tapi Aichan keren umur 15th sudah menjadi seorang animator."
"Tidak juga Tsubaki-san, sebenarnya hobiku dari kecil adalah menggambar, jadi bisa dibilang kalau itu sudah keahlianku."
"Baiklah karena Aichan sudah mengatakan apa pekerjaanya kau boleh mendengar kami latihan, lalu tolong komentari jika ada yang salah ya, atau ada yang kurang." Ucap Tsubaki-san antusias.
Akhirnya aku mendengar mereka latihan, sebenarnya Tsubaki-san yang latihan sedangkan Azusa-san hanya membantu. Ceritanya karakter Tsubaki-san sedang curhat kepada kekasihnya dan ingin menembaknya, aku cukup kagum dengan suara Tsubaki-san yang bisa menghayati suara si karakter begitu juga dengan Azusa-san. Aku saja sampai bisa membayangkan karakter itu sedang ada didepanku dan melakukan hal yang sama persis dengan apa yang suarakan oleh Tsubaki-san dan Azusa-san, maklum imajinasiku sedikit tinggi, namanya juga seorang animator jadi harus mempunyai imajinasi yang tinggi. Sampai akhirnya aku mendengar suara seperti suara Ema senpai dan Subaru-san di balkon yang berada di atas kami. Kami memutuskan untuk melihat suara berisik tersebut.
"Ada apa ini?." Tanya Tsubaki-san berjalan kearah Subaru-san dan Ema senpai diikuti Azusa-san dan aku yang mengekor dibelakang.
"Eh." Ucap Ema senpai.
"Bagaimana keadaanmu?." Tanya Azusa-san pada Ema senpai.
"A-ano."
"Wajahmu sangat merah." Komentar Tsubaki-san.
"Apa kau masih demam?." Lanjut Azusa-san.
"Bu-bukan?." Jawab Ema senpai sambil memalingkan wajahnya yang jelas membuat kami semua bingung.
"Kalau begitu apa kau butuh sesuatu?."
"Ti-tidak."
"Aku mengerti kau tidak bisa tidur sendiri?, kalau begitu aku akan tidur bersamamu." Ucap Tsubaki-san mendekat kearah Ema senpai.
"Eh, bukan bukan begitu."
"Tsuba nii." Omel Subaru-san pada Tsubaki-san.
"Katakan saja keinginanmu." Pinta Azusa-san.
"Kita ini kan saudara." Lanjut Tsubaki-san. Ema senpai sempat diam sesaat dan aku seperti melihat July membisikan sesuatu pada Ema senpai. sebelum akhirnya Ema senpai mengatakan sesuatu pada Azusa-san dan Tsubaki-san.
"Ano, aku akan mendukungmu." Ucap Ema senpai yang sempat membuat kami bengong.
"Tidak peduli apa yang terjadi, kita adalah keluarga, aku mendengarnya em, pembicaraan kalian itu." Lanjut Ema senpai, dan aku langsung tau apa yang dia maksud, mungkin Ema senpai mendengar saat Tsubaki-san dan Azusa-san latihan tadi, memang sih jika ada yang tidak tau mereka sedang latihan pasti akan mengira kalau Tsubaki-san sedang menyatakan cinta pada Azusa-san.
'Mungkin Ema senpai mengira terjadi sesuatu pada mereka berdua, hah pikiran Ema senpai ternyata masih polos.' Batinku, sebenarnya aku ingin tertawa mendengar penuturan Ema senpai, tapi demi menjaga poker faceku aku diam saja sambil tersenyum kearahnya.
"Ah aku mengerti, itu benar aku tidak bisa menahanya lebih lama lagi, aku tidak bisa berhenti jadi aku menyatakan perasaanku pada Azusa." Ucap Tsubaki-san dengan wajah serius yang sontak membuat Ema senpai dan Subaru-san terkejut sedangkan aku hanya memasang wajah datar, sepertinya perasaanku tidak enak.
"Tak apa kami saling mencintai, benarkan Azusa." Ucap Tsubaki-san merangkul leher Azusa-san lalu mencium tepat dibibirnya, oke perasaanku yang tidak enak dari tadi itu ini toh, untung saja aku bukan seorang fujoshi seperti Ebichan, jadi aku hanya bisa merinding melihat mereka melakukannya.
"Tsubaki." Omel Azusa-san yang langsung membuat Tsubaki-san tertawa sedangkan Ema senpai sudah lari sambil meminta maaf.
"Hahaha reaksi yang bagus darimu dan Subaru." Komentar Tsubaki-san masih tertawa yang langsung membuat Ema senpai berhenti dan menoleh kearah kami.
"Jangan dengarkan Tsubaki-san Ema senpai, sebenarnya mereka sedang berlatih menghapalkan naskah, jadi terlihat seperti Tsubaki-san menyatakan cinta pada Azusa-san." Jelasku mengerling kearah Ema senpai.
"Walau aku tidak yakin apa Tsubaki-san itu normal apa tidak." Ledeku pada Tsubaki-san.
"Hidoi Aichan aku ini normal loh, buktinya aku masih suka dengan wanita." Jawabnya lalu merangkul leherku dari belakang.
"Naskah?." Tanya Ema senpai.
"Benar, kami sedang latihan untuk pekerjaan selanjutnya." Jawab Tsubaki-san sambil menunjukan naskah yang tergeletak dimeja.
"Pekerjaan?."
"Dua orang ini adalah seorang Seiyuu." Jelas Subaru-san.
"Seiyuu?, ah maaf sepertinya aku telah mengganggu latihan kalian." Ucap Ema senpai sambil menundukan kepalanya dengan wajah yang merah, mungkin karena malu.
"Tak masalah, lain kali maukah kau menjadi partner latihanku?, aku merasa kalau aku akan menjadi lebih semangat." Ucap Tsubaki-san.
"Hai hai, ayo lewatkan saja latihan ini." Komentar Azusa-san.
"Hahaha, maaf soal itu, kau kan masih dalam masa pemulihan." Ucap Tsubaki-san sambil menepuk-nepuk kepala Ema senpai.
"Sungguh, aku minta maaf kalau kami sangat aneh." Ucap Subaru-san pada Ema senpai.
"Ti-tidak kok." Jawab Ema senpai masih menundukan wajahnya.
"Aku rasa kau semakin sakit Ema senpai." Ucapku mendekat kearahnya.
"Biar aku mengantar kekamarmu ya." Lanjutku tersenyum sambil mengulurkan tanganku yang langsung disambut olehnya.
"Eh cotto Aichan bagaimana dengan penilaian kami." Cegah Tsubaki-san yang lagi-lagi merangkul leherku.
"Em bagus kok." Jawabku masih tersenyum.
"Hanya itu?."
"Loh memang Tsubaki-san mau aku berkomentar apa?."
"Setidaknya bilang kalau itu keren atau apa."
"Iie segitu sudah bagus kok Tsubaki-san, lagipula sangat cocok dengan karakternya, kalau begitu aku juga harus melanjutkan pekerjaanku, jadi oyasuminasai." Ucapku membungkukan sedikit tubuhku pada mereka.
"Hee tidak perlu seformal itu Aichan." Ucap Tsubaki-san sambil meraih daguku.
"Bagaimana kalau aku beri ciuman selamat malam karena sudah berkomentar bagus." Lanjutnya sambil mencoba mencium pipi kiriku tapi langsung aku tahan dengan tangan kananku yang membekap mulutnya sebelum Tsubaki-san sempat menciumku.
"Gomenasai Tsubaki-san, kau tidak bisa menciumku seenaknya." Ucapku masih memasang senyuman yang sudah menjadi poker faceku.
"Mou Aichan tidak asik." Ucap Tsubaki-san sedikit menjauh dariku sambil mengrucutkan bibirnya seperti sedang ngambek, persis paman kuning yang entah berada disuatu tempat.
(Kise: Hasyuu…)
(Someone: Dousitano Ryota-kun?)
(Kise: Sepertinya ada yang sedang membicarakanku-suu)
(Someone: Sudahlah lebih baik kau tidur saja, ini sudah malam)
(Kise: Hai hai anata)
"Ya sudah aku pergi dulu ya Azusa-san, Subaru-san, ayo Ema senpai." ucapku kemudian menggandeng Ema senpai dan mengantar kekamarnya, baru setelah itu aku kembali kekamarku untuk menyelesaikan pekerjaanku.
To Be Continue
#Curhatan Author#
Saya mampir di fandom Brother Conflict nih, walau dalam cerita ini crossover dengan KNB. Cerita ini saya buat dengan keisengan ide saya, dan karena ada salah satu chara yang saya suka di sini *peluk Azusa*. Oh ya OC saya disini selalu pakai poker face berupa senyuman, jadi dia tidak pernah menunjukan wajah sedihnya didepan orang lain kecuali papanya.
Oke jadi semoga anda sekalian menikmati cerita saya, dan jangan lupa REVIEW PLEASE…!.
See You Next Conflict 2: Ulang Tahun?
