"Apa kau bercanda Sei, kau masih sangat muda, aku tidak akan mengijinkanmu mengadopsi seorang anak." Maki pria yang mirip seperti papa, hanya saja ini versi dewasanya, sepertinya itu kakek.
"Aku akan tetap mengadopsinya, walau otousan tidak mensetujuinya." Jawab papa dengan wajah tenang.
"Kau mau menentangku Sei."
"Untuk masalah ini, aku akan menentang otousan."
"Kenapa kau bersikeras sekali, apa dia sangat berharga untukmu?."
"Ya Ai sangat berharga untukku, dia mengingatkanku pada diriku sewaktu kecil dulu, karena itu aku ingin mengadopsinya apapun yang terjadi."
"KAU." Ucap kakek seperti akan menampar papa. Cepat-cepat aku berlari kearahnya sebelum tangan kakek mengenai pipi papa lalu memeluk kaki kakek, dan cara itu berhasil menghentikan pergerakan tangan kakek.
"Tolong kakek jangan pukul papa, papa tidak salah apa-apa kok hiks…" Pintaku sambil menangis.
"Ai bukanya sudah aku bilang untuk menunggu dikamar."
"Ai tidak bisa membialkan papa beljuang demi Ai, kalena itu tolong jangan malahi papa kakek."
"Ai kemarilah." Pinta papa berjongkok sambil merentangkan kedua tanganya, aku mendekat kearahnya dan papa langsung memelukku lalu menggendongku menjauh dari kakek, aku sendiri masih menangis dipelukannya. Tapi sebelum kami benar-benar keluar dari tempat itu, kakek berbicara sesuatu pada kami.
"Lakukan apa yang kau mau, aku mengijinkan dia tinggal disini, tapi aku masih belum setuju dia menjadi keluarga Akashi, dia harus membuktikan kalau dia layak menjadi anakmu." Ucap kakek yang seketikah membuat papa menghentikan langkahnya.
"Wakatta, aku akan membuktikan kalau dia layak menjadi anakku dan juga keluarga Akashi." Jawab papa tanpa menoleh kearah kakek lalu pergi dari kamar itu.
Sepertinya aku tidak akan ditinggal lagi oleh orang lain, bolehkah aku terus berharap berada di samping papa?, aku janji akan menjadi anak yang bisa membanggakan papa maupun keluarga ini, aku ingin menjadi bagian dari keluarga ini selamanya.
BROTHER CONFLICT © Bukan Milik Saya
CROSSOVER: KUROKO NO BASUKE © FUJIMAKI TADATOSHI
AMAZING GRACE © SHERRYSAKURA99
.
WARNING: OC, OOC (mungkin), Crossover, jika ada yang kurang mengerti jalan ceritanya atau banyak kesalahan Typo mohon di maklumi, cerita mengikuti alur anime Brother Conflict dengan tambahan dari saya.
Genre: Romance, Friendship, Humor (mungkin, walau humornya agak garing), Hurt/Comfort
Rate:T
Conflict 2: Ulang Tahun?
Paginya aku bangun sekitar jam 5 pagi dan diluar masih terlihat sangat gelap karena itu aku putuskan untuk sedikit olahraga, mungkin lari mengelilingi komplek bisa membuat ototku tidak kaku. Aku berjalan kearah lemari pakaianku perlahan-lahan karena takut membangunkan serafina dan mengambil satu set pakaian olahraga yang berwarna merah disana lalu memakainya, kemudian memakai sepatu olahraga yang juga berwarna merah dan sedikit ada warna putih disana, baru setelah itu keluar dari kamarku. Beberapa jam setelah aku berlari mengelilingi komplek, aku kembali menuju Sunrise Recidence karena cukup kelelahan.
'Baru kali ini aku merasa kelelahan, mungkin karena beberapa hari ini aku jarang berolahraga dan lebih fokus membuat key animation.' Pikirku sambil berjalan menuju arah dapur, ya aku sedikit haus. Sesampainya disana aku melihat Ukyo-san dan juga Ema senpai sedang menyiapkan makanan.
"Ohayo Ukyo-san Ema senpai." Sapaku pada mereka sambil tersenyum.
"Ohayo Aichan, eh kau habis dari mana?." Tanya Ema senpai sambil meletakan nasi diatas meja, sedangkan aku langsung mengambil air putih yang ada didalam kulkas dan meminumnya.
"Hanya sedikit olahraga kok senpai." jawabku mendekat kearah meja makan.
"Sugoi apa Ema senpai yang membuatnya?."
"Iie bukan kok, Ukyo-san yang memasaknya, aku hanya menyiapkan nasinya saja."
"Souka, sugoi Ukyo-san, masakanmu seperti restoran jepang bintang lima."
"Kau terlalu memujiku Aichan, ini sudah menjadi tugasku untuk menyiapkan makanan."
"Kalau begitu aku mau mandi dulu ya." Ucapku meninggalkan mereka berdua, tapi sebelum naik tangga aku menabrak seseorang yang untungnya tidak sampai jatuh. Aku menundukan kepalaku dan melihat Wataru yang baru bangun tidur sambil menggosok-gosokan matanya.
"Ohayo Wataruchan." Sapaku sambil tersenyum kearahnya.
"Ohayo Ai neechan."
"Wataruchan langsung duduk saja ya dimeja makan."
"Hai, oneechan juga makan bersama kami kan?."
"Tentu saja tapi aku mau ganti baju dulu, nanti aku menyusul."
"Hai." Dan dengan begitu aku pergi meninggalkan mereka.
Dikamar aku melihat Serafina sudah bangun dan sedang merenggangkan tubuhnya, langsung saja aku menuju kamar mandi untuk membersikan diri dan mengganti pakaian ku dengan pakaian sekolah. Kalau soal rambut aku lebih suka menggerainya karena menurut Tatsuya rambutku lebih cocok jika digerai, jadi aku hanya menambahkan sebuah bando berwarna merah dengan hiasan pita yang sedikit menjuntai kebawah lalu mengenakan kacamata dengan frame yang agak besar, baru setelah itu aku mengalungkan earphone dileherku dan juga sebuah liontin berbentuk bintang, yup aku sudah siap pergi kesekolah. Aku keluar dari kamarku menuju ruang makan bersama Serafina, dan sesampainya disana aku melihat mereka semua sudah berkumpul dimeja makan, ya tidak semuanya sih, soalnya ada beberapa meja kosong.
"Ah Aichan ohayo." Sapa Azusa-san padaku.
"Ohayo Azusa-san." Jawabku sambil tersenyum.
"Aichan, ka-kawaii." Ucap Tsubaki-san sambil memelukku dengan sangat erat sampai aku sepertinya sulit bernafas.
"Tsu-Tsubaki-san, bisakah kau melepaskanku."
"Tidak mau, Aichan kawaii seperti boneka, aku jadi ingin membawa Aichan."
"A-aku tidak bisa bernafas."
"Tsubaki lepaskan Aichan." Ucap Azusa-san sambil menarik kerah baju Tsubaki-san, dan itu membuatnya melepaskan pelukan mautnya padaku.
'Hah kupikir aku akan mati.' Batinku menghirup udara sebanyak-banyaknya, ukh pelukan mautnya mirip seperti bibi Satsuki, paman Ryota dan juga Ebichan.
"Maa maa, lebih baik kita langsung makan saja." Usul Masaomi-san pada kami.
Aku memutuskan duduk disamping Ema senpai dan juga Azusa-san, sebenarnya Tsubaki-san ingin duduk disebelahku dan Ema senpai, tapi karena tidak mau mengambil resiko akan pelukan mautnya jadi aku meminta Azusa-san yang duduk disampingku. Dan entah kenapa sejak tadi pandangan mereka selalu kearahku, memang ada yang salah dengan penampilanku ya?.
"Ano, apa ada yang salah denganku?, kenapa kalian dari tadi melihatku seperti itu?." Tanyaku sambil sedikit memiringkan kepalaku. Aku bisa melihat tatapan bagai om-om pedofil dari mereka semua, kecuali Louise-san, Masaomi-san, dan Juga Ukyo-san yang hanya tersenyum padaku, bahkan July saja tidak menyukai tatapan mereka.
"Jangan dipikirkan Aichan, mungkin karena Aichan terlalu moe dihadapan mereka." Jawab Louise-san yang jujur saja mendengar suaranya membuatku sedikit mengantuk, karena suaranya begitu lembut ditelingaku.
"Souka, apa aku harus mengganti penampilanku?."
"JANGAN." Teriak mereka bersamaan, yang sempat membuatku sweetdrop mendengarnya.
"Ne Yusuke apa Aichan selalu berpenampilan seperti itu disekolah?." Tanya Kaname-san pada Yusuke senpai yang berada disebelahnya.
"Ya dia memang selalu seperti itu kok."
"Karena itu banyak yang naksir Aichan, bahkan setiap hari selalu ada surat cinta dilokernya." Lanjut Ema senpai.
"Eh benarkah?."
"Ya begitulah, tapi semuanya selalu kutolak."
"Kenapa Aichan?."
"Papa tidak suka melihatku punya pacar Tsubaki-san, lagipula aku sudah menyukai orang lain."
"Eeee siapa, siapa yang berani merebut hatimu?." Tanya Ema senpai sambil menggebrak meja, o-ow aepertinya aku telah membangunkan jiwa overprotektif Ema senpai.
"Iya siapa orang yang kau sukai?." Hah sekarang Yusuke senpai yang ikut-ikutan berdiri dari posisi duduknya. Mereka yang melihat hal itu hanya bisa sweetdrop dengan perubahan drastis dari Ema senpai dan Yusuke senpai soalnya mereka berdua sudah menganggapku seperti adik mereka sendiri karena Ema senpai dan Yusuke senpai sering meminta bantuanku dan juga sangat sering curhat padaku. Jadi mereka sedikit over jika sudah menyangkut masalah cowok.
"I-itu rahasia, aku tidak akan mengatakannya pada kalian, lagipula dia berada diluar negeri sekarang."
"Lalu apa kalian sudah berpacaran?."
"Belum kok Ema senpai."
"Hah yokatta, aku pikir kalian sudah berpacaran." Ucap Ema senpai kembali duduk ditempatnya begitu juga dengan Yusuke senpai.
"Kalian berdua begitu overprotektif pada Aichan ya?." Tanya Masaomi-san.
"Tentu saja, Aichan harus memiliki pacar yang lebih baik darinya."
"Tidak boleh sembarangan orang yang bisa menjadi pacar Aichan." Lanjut Ema senpai.
'Huft, dua orang lagi yang jadi overprotektif padaku.' Batinku sweetdrop mendengar ucapan Ema senpai dan Yusuke senpai.
Setelah makan, aku, Ema senpai dan juga Yusuke senpai menaiki kereta untuk sampai disekolah dan kami harus merasakan 'Japanese Lunch Time Rush' yang sering dikatakan paman Taiga, karena ya kereta ini sangat sesak, bahkan kami harus berdesak-desakan untuk dapat masuk kedalamnya. Tapi sepertinya ini menjadi kesempatan emas bagi Yusuke senpai karena bisa sangat dekat dekat dengan Ema senpai (Ps: aku sudah tau tentang perasaan Yusuke senpai pada Ema senpai karena dia sering curhat padaku).
"Maaf atas perbuatan July sebelumnya, dia tidak terbiasa dengan pria muda." Ucap Ema senpai pada Yusuke senpai yang terdengar olehku karena aku berada disebelah mereka.
"Daripada itu apa kau baik-baik saja?." Tanya Yusuke senpai.
"Eh?."
"Bukankah kau bingung karena tiba-tiba punya banyak saudara?."
"Tentu, tapi semuanya sangat baik padaku, terima kasih sudah mengkhawatirkanku."
"Ba, bu-bukan begitu, bukan seperti itu." Ucapnya terputus, hehehe aku rasa sifat Tsundere Yusuke senpai tidak bisa dihilangkan begitu saja.
~Amazing Grace~
"Jadi seperti itu, bagaimana nih Aichan, aku bingung." Ucap Yusuke senpai padaku, setelah pulang sekolah Yusuke senpai langsung menemuiku diruang osis dan curhat tentang masalah yang dihadapinya padaku, sedangkan aku hanya mendengarkan sambil menandatangani kertas-kertas yang menunmpuk diatas meja, ya sebagai ketua osis aku tidak bisa melalaikan tugasku.
"Bukanya itu bagus senpai?, kau jadi bisa lebih dekat dengan Ema senpai bukan?." Jawabku tanpa mengalihkan pandanganku dari kertas-kertas itu.
"Iya juga sih, tapi kalau harus menjadi saudara, aku tidak yakin harus bersikap bagaimana dihadapannya, aku benar-benar bingung." Ucap Yusuke senpai frustasi sambil mengacak-acak rambutnya. Aku hanya bisa menghela nafas kemudian beranjak dari kursiku dan mengambil tas yang berada disamping Yusuke senpai.
"Lebih baik kita pulang senpai, hari sudah semakin malam." Usulku menghadap kearahnya sambil tersenyum.
"Eh kau sudah selesai dengan tugasmu?."
"Sudah kok, ayo kereta terakhir akan berangkat." Jawabku kemudian pergi meninggalkan ruang osis diikuti Yusuke senpai, tak lupa aku menguncinya terlebih dahulu baru setelah itu pergi menuju stasuin dan untung saja masih ada satu kereta yang belum berangkat.
"Tapi aku tidak akan menyerah, aku pasti bisa mendapatkan hatinya." Ucap Yusuke senpai ketikah kami berada didalam kereta.
"Sebelum itu, buang dulu sifat tsunderemu Yusuke senpai."
"Eh aku tidak tsundere."
"Orang tsundere tidak akan mengakui dirinya tsundere."
"Aichan."
"Hehehe, tapi aku sedikit khawatir dengan Ema senpai."
"Eh khawatir kenapa?."
"Iie nandemonai."
Kami akhirnya sampai distasiun dan kembali berjalan untuk sampai ke Sunrise Recidence, sesampainya disana aku disambut oleh Serafina yang langsung naik kepundakku didepan pintu masuk bersama dengan Iori-san yang sedang menyiram bunga di depan gedung itu.
"Kalian sudah pulang." Sapa Iori-san menoleh kepada kami.
"Tadaima Iori-san/nii." Ucap kami berdua bersamaan.
"Apa Ema senpai sudah pulang Iori-san."
"Dia sudah pulang dari tadi, kalian sendiri kenapa baru pulang?."
"Aku sedang mengerjakan tugas sebagai ketua osis, sedangkan Yusuke senpai menemaniku."
"Kalau begitu kami masuk dulu ya." Lanjutku kemudian masuk kedalam bersama Yusuke senpai.
Diperjalanan menuju kamar kami yang berada dilantai sama, kami bertemu dengan seseorang pria yang sepertinya seumuran denganku dijalan, dia bersurai sama sepertiku dan mungkin hampir mirip denganku hanya saja iris matanya berwarna coklat, berbeda denganku yang berwarna merah darah. Dia sempat melihat kearah kami kemudian menyapa Yusuke senpai.
"Ah Yusuke nii, konichiwa." Ucapnya, sambil tersenyum kearah Yusuke senpai.
"Fuuto?, sedang apa kau disini?."
"Hee aku juga kan tinggal disini, apa dia pacarmu Yusuke nii?." Tanya pria tadi yang aku ketahui bernama Fuuto mengerling kearahku.
"Bukan, aku juga tinggal disini kok." Jawabku sambil tersenyum, entah kenapa dia terlihat sangat familiyar dimataku.
"Souka apa kau anak dari teman Miwa-san?."
"Hai begitulah." Jawabku, tiba-tiba dia mendekatkan wajahnya tepat didepanku yang sontak membuatku sedikit kaget.
"Nee apa kita pernah bertemu sebelumnya?, aku seperti pernah mengenalmu?." Tanyanya padaku yang sempat membuatku bingung.
"Iie aku baru pertama kali ini bertemu denganmu." Jawabku bohong, karena jujur saja aku juga seperti pernah bertemu dengan dia sebelumnya.
"Hoi hoi Fuuto jangan menggodanya." Ucap Yusuke menjauhkan Fuuto dariku.
"Souka, ne siapa namamu?."
"Akashi Ai, yoroshiku emm."
"Namaku Asahina Fuuto, mungkin lebih dikenal Asakura Fuuto."
"Ah idol itu ya, yoroshikune Fuuto-kun." Ucapku sedikit membungkukkan badanku.
"Hai yoroshiku Aichan." Ucapnya kemudian pergi meninggalkan kami berdua, sedangkan kami kembali melanjutkan perjalanan kami yang disisi oleh keheningan.
"Maafkan sikap Fuuto ya, dia memang orang seperti itu." Ucap Yusuke senpai membuka percakapan.
"Daijoubu senpai, tidak masalah kok."
"Tapi entah kenapa kalian berdua terlihat mirip ya, ya kecuali bagian mata kalian dan juga sifatnya."
"Kau tau senpai, orang bilang didunia ini kita mempunyai tujuh kembaran, siapa tau Fuuto memang mirip denganku dalam segi fisik, kalau begitu aku masuk duluan ya senpai." ucapku yang dijawab anggukan kepala dari Yusuke senpai ketikah kami sampai didepan kamarku. Aku langsung masuk kedalam dan mengunci pintunya lalu terduduk dilantai.
'Kenapa-kenapa saat melihat Fuuto-kun rasanya begitu familiyar, rasanya ada sesuatu didadaku yang begitu sesak.' Batinku sambil menutup sebelah mataku.
"Dousitano miaw, kau baik-baik saja." Tanya Serafina yang menatapku dengan wajah cemas.
"Fuuto-kun mirip seperti seseorang, seseorang yang sangat aku kenal, dan kenapa dadaku menjadi sesak?." Jawabku sambil menundukan kepalaku.
"Aku tidak bisa mengingatnya Serafina, pasti aku pernah bertemu denganya bukan?."
"Aku tidak tau miaw, setauku baru kali ini kau bertemu dengannya miaw."
"Atau mungkin ini hanya perasaanku saja." Ucapku kemudian berdiri dari posisi dudukku lalu mengganti pakaianku dengan pakaian santai, aku juga mengikat rambutku menjadi pony tail lalu berjalan kearah dapur bersama dengan Serafina yang mengekorku dari belakang. Sewaktu aku berada didapur, aku hanya melihat Ukyo-san dan juga Ema senpai sedang memasak didapur, akupun memutuskan untuk membantu mereka.
"Ukyo-san apa ada yang bisa kubantu?." Tanyaku padanya sambil memasang kembali poker faceku.
"Ah Aichan bisakah kau membantuku membuat makanan?."
"Tentu saja." Aku mengambil celemek yang ada di laci meja dapur kemudian membantu mereka memotong beberapa sayuran yang akan dimasak.
"Oh ya Aichan besok Subaru ulang tahun loh." Ucap Iori-san membuatku menghentikan aktifitasku dan memandang kearahnya.
"Eh benarkah?, kenapa tidak mengatakanya sejak awal, bagaimana kalau kita buat pesta ulang tahun sederhana tapi berkesan untuk Subaru-san?, ah aku bisa membuat kuenya."
"Eh Aichan bisa membuat kue?."
"Tentu saja Iori-san, bagaimana kalau kita bagi tugas, aku dan Iori-san akan memasak kuenya Ema senpai yang membeli bahanya."
"Aichan dan Iori-san yang akan memasak?."
"Jika Ema senpai mau, Ema senpai bisa membantu kami setelah berbelanja tentu saja."
"Baiklah sepertinya itu ide yang bagus." Ucap Iori senpai sambil tersenyum, yang kami balas dengan senyuman juga.
Selesai menyiapkan makanan, kami menunggu yang lainnya turun baru setelah itu kami makan bersama-sama, tapi kali ini ada tambahan satu orang dari keluarga Asahina yang juga ikut makan, yaitu Asahina Fuuto. Ya walaupun makan malam kali ini hanya diisi dengan pertengkaran antara Fuuto-kun dan juga Yusuke senpai, tapi entah kenapa aku merasa sepertinya Fuuto-kun terus melihat kearahku, atau mungkin itu hanya perasaanku saja. Setelah makan malam, aku memutuskan untuk keluar sebentar mencari udara segar bersama Serafina, tapi sepertinya Masaomi-san dan yang lainnya tidak mengijinkanku pergi sendirian, jadilah aku sekarang pergi bersama dengan Azusa-san. Sebenarnya aku ingin membeli kado untuk Subaru-san, tak apa mungkin Azusa-san bisa membantuku mencari kado yang bagus untuknya, ya walau aku sudah menentukan kado apa yang cocok untuk Subaru-san.
"Aichan kita mau kemana?." Tanya Azusa-san padaku.
"Sebenarnya aku berencana untuk membelikan kado pada Subaru-san."
"Kado, ah benar juga besok ulang tahun Subaru ya."
"Hai karena itu aku ingin memberikannya kado, kita sudah sampai." Ucapku berhenti didepan sebuah toko.
"Ini kan toko sepatu?."
"Ayo kita masuk Azusa-san." Ucapku menggandeng tangan Azusa-san masuk kedalam toko tersebut. Sesampainya didalam, aku melihat banyak sekali sepatu yang dipajang, aku bertanya pada karyawan disana untuk mencarikan ukuran serta merek sepatu yang aku sebutkan.
"Bagaimana kau bisa tau ukuran sepatu Subaru?."
"Azusa-san lupa kalau aku punya kemampuan analisa?."
"Eh karena kemampuan itu juga kau bisa mengetahui ukuran sepatu seseorang."
"Aku juga bisa tau ukuran pakaian seseorang."
"Su-sugoi Aichan." Ucap Azusa-san sweetdrop, tak lama kemudian karyawan tadi membawa sepasang sepatu yang aku sebutkan, warnanya putih dengan corak biru disisinya.
"Sepatunya hanya tinggal yang ini saja."
"Souka, kalau begitu aku ambil yang ini, ah dan tolong diberi kertas kado sekalian ya dengan warna biru tua."
"Wakarimashita, mohon tunggu sebentar." Ucap karyawan tadi kemudian meninggalkan kami berdua, beberapa menit kemudian dia kembali dengan sebuah tas kertas yang aku yakini didalamnya terdapat sepatu yang aku pesan. Setelah membayar sepatu itu, kami memutuskan untuk pulang kerumah karena hari semakin malam. Aku meminta Azusa-san untuk merahasiakannya dari Subaru-san dan lainnya yang hanya dijawab dengan senyuman dan juga sebuah elusan dikepalaku dan entah kenapa aku merasa nyaman mendapat perlakuan seperti itu darinya.
~Amazing Grace~
Besok sesuai rencana kami menyiapkan pesta ulang tahun kecil-kecilan untuk Subaru-san, dan tentu saja kami sudah membagi tugas kami masing-masing. Aku bagian membuat kue sedangkan Ema senpai berbelanja dan Ukyo senpai membantuku tapi karena beliau sekarang sedang bekerja, jadilah aku yang menyiapkan semuanya, untung saja hari ini hari minggu jadi aku sedikit bebas.
'Tinggal menunggu beberapa bahan dari Ema senpai dan ini akan selesai, tapi dimana dia sekarang?.' Batinku melihat sekeliling dan mataku langsung tertuju pada Ema senpai yang baru saja menuruni tangga bersama dengan July dan juga Louise-san.
"Ema senpai, aku dari tadi menunggumu loh." Ucapku mendekat kearah Ema senpai yang membawa dua kantong pelastik besar, aku yakin dia cukup kesulitan ketikah membawanya.
"Sumimasen Aichan, tas ini cukup berat karena itu aku beristirahat sebentar."
"Souka, kalau begitu serahkan saja kantong plastiknya padaku, lalu apa Louise-san butuh sesuatu?." Tanyaku mengambil kantung belanjaan dari tangan Ema senpai.
"Iie Aichan, aku hanya ingin menata rambut Chichan untuk ulang tahun Subaru."
"Chichan?, ah apa yang kau maksud Ema senpai, kalau begitu silahkan saja."
"Eh Aichan tidak mau dibantu?."
"Daijoubu Ema senpai sebentar lagi kuenya matang dan tinggal menghias, jadi kau istirahat saja?." Jawabku meletakan kantung itu di meja dapur lalu tersenyum pada Ema senpai.
"Baiklah kalau begitu, jika butuh bantuan panggil aku ya."
"Hai."
"Arigato Aichan, kapan-kapan aku juga ingin menata rambutmu."
"Tentu saja Louise-san." Akhirnya Louise-san dan Ema senpai meninggalkanku, sebenarnya mereka hanya duduk di ruang tengah dengan Louise-san yang menata rambut Ema senpai, sedangkan aku kembali melanjutkan membuat kue tart. Tak lama kemudian suara ting dari oven terdengar, segera aku mengeluarkan dari oven dan menunggunya dingin sebentar baru setelah itu aku menghiasnya dengan krim berwarna putih dan juga beberapa hiasan strawberry diatasnya lalu ucapan 'Happy Birthday' yang terbuat dari batangan coklat. Dan akhirnya kuenya sudah jadi, aku meletakannya didalam kulkas dan melepas celemekku lalu melihat kearah Ema senpai yang sudah dirias oleh Louise-san.
"Wah Ema-senpai kau cantik sekali." Pujiku mendekat kearahnya.
"A-arigato Aichan."
"Kalau begitu sekarang giliran Aichan ya." Pinta Louise-san mengerling kearahku.
"Eh tidak usah Louise-san, lagipula sebentar lagi semuannya akan pulang." Tolakku halus.
"Apa kuenya sudah jadi Aichan?."
"Tenang saja semuanya sudah beres Ema senpai."
"Gomenasai aku tidak bisa membantumu."
"Daijoubu desu, aku senang kok bisa membantu orang lain." Ucapku sambil tersenyum.
Malamnya setelah semua berkumpul aku menyuruh Ema senpai mengeluarkan kue tart yang ada didalam kulkas. Hari ini Ema senpai mengenakan dress berwarna orange ditambah dengan blazer berwarna putih terlihat sangat cantik apalagi rambutnya sudah ditata oleh Louise-san, sedangkan aku sendiri hanya mengenakan kaos warna biru tua dan juga celana pendek warna hitam sangat sederhana karena aku kan sedang dirumah, sangat merepotkan jika harus mengenakan baju formal walau saat ini kita sedang merayakan ulang tahun Subaru-san.
"Wah kuenya besar sekali." Komentar Wataru dengan mata berbinar-binar.
"Kelihatannya enak." Komentar Tsubaki-san.
"Sugoina imoutochan." Komentar Kaname-san.
"Karya yang indah." Komentar Ukyo-san
"Sayang sekali kalau dimakan." Komentar Iori-san.
"Ta-tapi yang membuat bukan aku." Ucap Ema senpai sambil menundukan kepalanya.
"Eh lalu siapa yang membuatnya."
"Aichan yang membuatnya tadi."
"Iie Ema senpai juga ikut membantu kok." Ucapku yang duduk di kursi meja makan sambil tersenyum.
"Eh kau yang membuatnya Aichan, Sugoina, darimana kau belajar membuat kue?." Tanya Tsubaki-san padaku.
"Salah satu pamanku mengajariku cara membuat kue kok, karena itu aku bisa membuatnya."
"Hebat benar-benar luar biasa." Ucap Wataru masih mengagumi kue tersebut.
"Wataru kue ini buatan oneechan untuk Subaru, seharusnya Subaru yang lebih senang dari Wataru?." Tanya Masaomi-san pada Wataru.
"Souka." Ucap Wataru menundukan kepalanya sebentar kemudian berjalan kearah Subaru-san yang duduk tak jauh darinya.
"Gomenasai Subaru." Ucapnya sambil membungkukkan kepalanya yang dibalas senyuman dan elusan oleh Subaru-san.
"Bersaudara itu indah ya." Komentar Ema senpai yang membuat Subaru-san sempat merona.
"Kau membuatnya sendirian?." Tanya Yusuke senpai pada Ema senpai.
"Iie Aichan yang-."
"Ema senpai juga membantu kok, memang ada apa Yusuke-san?." Potongku.
"Untuk Suba nii kau."
"Eh."
"Aku tak bisa memakannya."
"Kenapa kau tak suka kue?." Tanya Ema senpai.
"Bukan, bukan begitu kau yang membuatnya, aku tak enak jika memakannya, tapi aku juga ingin, bagaimanapun juga aku tidak bisa."
"Yusuke-kun?."
"Ah aku mengerti, Yusuke tidak mau memakannya, jadi bagianmu buatku saja." Komentar Tsubaki-san menggoda Yusuke senpai.
"Lagipula ini kan kue yang dibuat dengan segenap hatimu, aku merasa seperti bisa memakan semuanya." Lanjut Tsubaki-san mendekatkan wajahnya kearah Ema senpai sambil tersenyum.
"He-hei Tsuba nii." Omel Yusuke senpai.
"Eh kenapa Yusuke senpai, bukannya kau tidak ingin kuenya?."
"Me-memang sih, tapi bukan seperti itu Aichan."
"Ah benar juga, aku akan sangat senang jika kau menyuapiku, lakukan, ayo lakukan." Ucap Tsubaki-san pada Ema senpai.
"Ano."
"Atau kau lebih ingin disuapi?."
"Aku tidak keberatan, ayo sini katakan 'aaa'." Pinta Tsubaki-san mengambil sisa strawberry yang ada disampingnya dan mengarahkan kemulut Ema senpai. Tapi dengan sigap dicegah oleh Azusa-san dengan menarik lengan bajunya.
"Hentikan itu Tsubaki." Omel Azusa-san yang dijawab "hai" olehnya.
"Tapi tampaknya orang yang dimaksud tidak terlalu senang." Lanjut Tsubaki-san mengerling kearah Subaru-san.
"Iie itu." Gumannya masih dengan wajah memerah.
"Subaru-san?." Tanya Ema senpai sedikit khawatir.
"Tak apa dia tidak sakit, tunggu mungkin dia memang sakit." Komentar Kaname-san yang berada disamping Ema senpai.
"Eh"
"Sakit yang bahkan dokter tidak bisa sembuhkan, aku juga mempunyai penyakit yang sama." Lanjut Kaname-san kemudian merangkul pundak Ema senpai.
"Kalau bisa aku lebih memilih menderita karena penyakit ini."
"A-ano."
"Kau mengganggunya Kaname niisan." Omel Iori-san sambil menjauhkan tangan Kaname-san. Dan setelah itu aku tidak mau mendengar kelanjutannya, yang jelas entah kenapa aku merasakan keganjilan dirumah ini.
'Apa mereka semua menyukai Ema senpai.' Pikirku sambil memasang pose berpikir.
"Sepertinya begitu miaw." Jawab Serafina, hah dia membaca pikiranku.
"Serafina jangan membaca pikiranku." Bisikku pada kucing yang duduk tepat disebelahku.
"Hehehe kebiasaan miaw, oh ya apa kau tidak ingin memberikannya miaw?."
"Memberikan?."
"Kado Subaru-san miaw."
"Ah benar juga hampir lupa." Aku mengambil kotak kado berwarna biru tua yang ada disebelahku kemudian berjalan kearah Subaru-san.
"Subaru-san aku punya hadiah untukmu, tidak banyak sih tapi aku harap ini berguna." Ucapku tersenyum lalu menyerahkan kado itu pada Subaru-san yang diterimanya dengan tatapan tanda tanya.
"Hee Aichan memberikan kado pada Subaru, aku juga ingin." Komentar Tsubaki-san.
"Wataru juga ingin." Komentar Wataru.
"Tunggu ulang tahun kalian selanjutnya, mungkin aku akan memberikan sesuatu untuk kalian." Jawabku masih tersenyum.
"Arigato Aichan, tapi apa isinya?."
"Buka saja Subaru-san." Jawabku, Subaru-san membuka kado tersebut dan cukup terkejut melihat apa yang ada didalamnya.
"I-ini sepatu basket."
"Hai aku harap warnanya cocok denganmu Subaru-san, dan jangan khawatir soal ukurannya, itu sangat pas untukmu."
"Bagaimana kau bisa tau ukuran sepatuku?."
"Eh Subaru-san lupa ya kalau aku punya kemampuan analisa, aku juga bisa melihat ukuran sepatu seseorang, lingkar pinggang dan lain sebagainya."
"E-eh, Aichan masakah kau juga bisa melihat?."
"Aku tidak tau apa yang kau pikirkan Kaname-san, tapi aku hanya melihat apa yang dibutuhkan saja."
"So-souka." Ucap Yusuke senpai sedikit lega.
Kami memutuskan untuk berkumpul dimeja makan dengan Subaru-san yang berada ditengah dan kue tart didepannya yang telah di beri lilin dengan jumlah 20 sama seperti umurnya sekarang. Aku duduk di diantara Ema senpai dan juga Kaname-san, biar lebih menghayati lampu sengaja dimatikan ini ide dari Tsubaki-san.
"Kalau begitu biar Subaru yang meniup lilinya." Ucap Ukyo-san.
"A-apa kita benar-benar melakukannya?." Tanya Subaru-san.
"Hai."
"Aku akan memotretnya." Ucap Ema senpai yang sudah memegang kamera di tangannya.
"Biar aku saja yang memotretnya Ema senpai."
"Hai ini Aichan." Jawab Ema senpai menyerahkan kemeranya padaku.
Saat Subaru-san meniup lilinya aku langsung memotretnya, hmm ini juga bisa menjadi refrensi mangaku nanti, mungkin aku akan meminta filenya pada Ema senpai, setelah itu kami menyalakan lampunya dan mulai memotong kuenya menjadi beberapa bagian kemudian memakannya bersama. Aku melihat sekelilingku sudah lama sekali aku tidak merasakan kebersamaan seperti ini. Rasanya sangat hangat, mungkin begini rasanya jika mempunyai banyak saudara, Ema senpai termasuk anak yang beruntung. Aku melihat Ema senpai sedang memotret semua orang yang sedang memakan kue buatanku, atau dalam kasus ini sepertinya mereka mengira kue ini buatan Ema senpai. Aku sih tidak masalah, asal bisa membuat mereka tersenyum bahagia itu sudah membuatku senang.
~Amazing Grace~
"Ne papa apa maksud kakek dengan Ai yang tidak pantas menjadi kelualga Akashi?, memang apa yang halus Ai lakukan supaya kakek menelima Ai?." Tanyaku pada papa yang saat ini sedang tidur disampingku.
"Keluarga papa sedikit rumit Ai, kau harus bisa sempurna dihadapan orang lain, kau harus bisa lebih dari orang lain, pokoknya kau harus bisa menjadi orang nomor satu." Jelas papa sambil mengelus rambutku.
"Souka, kalau begitu Ai akan menjadi olang sempulna sepelti apa yang diinginkan kakek."
"Ai kau masih kecil untuk hal seperti itu."
"Kalena itu papa halus mengajali Ai bagaimana calanya menjadi sepelti papa, ya."
"Iie aku akan membuatmu bisa melampaui papa."
"Janji?." Tanyaku sambil menyodorkan jari kelingkingku.
"Janji." Jawab papa menautkan jari kelingkingnya padaku sambil tersenyum yang aku balas dengan pelukan untuknya.
~Amazing Grace~
Malam ini aku sama sekali tidak bisa tidur, setelah acara ulang tahun Subaru-san selesai aku memutuskan untuk kembali kekamarku, dan ada beberapa hal yang membuatku tidak bisa tidur, pertama karena aku ingin segera membuat manga shoujo pertamaku, hanya saja aku belum memiliki alur yang sempurna, kedua.
'Mungkin karena haus, setelah makan kue itu aku belum minum sama sekali.' Aku beranjak dari tempat tiduku kemudian berjalan menuju dapur. Sesampainya disana aku melihat Ema senpai sedang berdiri di balkon menuju kearah dapur. Aku berniat menyapanya tapi langsung terhenti begitu mendengar teriakan Subaru-san.
"Untuk menjelaskannya saja itu menyebalkan, mereka sangat menganggu." Teriak Subaru-san terdengar jelas ditelingaku.
"Selama ini hanya ada kita para lelaki, tapi tiba-tiba seorang gadis datang, belum lagi tambah seorang lagi yang tidak kukenal, sejak kedatangan mereka berdua, aku mesti hati-hati saat menggunakan kamar mandi, dan aku tidak bisa melepas atasanku saat berlatih." Lanjutnya.
'Souka jadi disini aku hanya mengganggunya.' Pikirku sambil menundukan kepalaku, aku menggelengkan kepalaku pelan, kemudian mendekat kearah Ema senpai dan menepuk pundaknya membuatnya sedikit kaget karena kemunculanku yang tiba-tiba.
"Eh Aichan."
"Ema senpai apa yang sedang kau lakukan disini?." Tanyaku mencoba memasang poker faceku.
"A-aku hanya ingin mengambil ponselku, Aichan sendiri?."
"Aku ingin minum, kebetulan sejak tadi aku belum minum sama sekali."
"So-souka, apa kau mendengarnya Aichan."
"Em?."
"Perkataan Subaru-san tadi."
"Ah yang itu." Belum sempat aku menjawab tiba-tiba Subaru-san naik keatas balkon tempat aku dan Ema senpai berada, dia melihat kearah kami dengan wajah memerah yang bisa kutebak dia sedang mabuk dan juga sedikit kaget melihat kami berdua.
"Su-sumimasen." Ucap Ema senpai berlari meninggalkan kami, sepertinya dia syok dengan kata-kata Subaru-san tadi, walaupun aku juga sedikit syok, tapi aku sudah terbiasa mendapat kata-kata pengganggu seperti itu. Aku membungkukan sedikit badanku kemudian berjalan menuju kearah dapur yang letaknya berada dibawah, tapi langsung ditahan oleh Subaru-san ketikah aku melwatinya.
"Apa kau mendengarnya?."
"Mendengar apa Subaru-san?."
"Kata-kata yang tadi aku ucapkan."
"Oh apa yang kau maksud adalah perkataan kalau aku dan Ema senpai mengganggumu?." Ucapku tanpa menoleh kearahnya.
"So-soal itu."
"Subaru-san, aku tidak masalah jika kau menganggapku pengganggu karena aku memang orang luar yang bahkan bukan bagian dari keluarga kalian, tapi bagi Ema senpai itu sangat menyakitkan hatinya, kau berbicara seolah-olah Ema senpai bukan salah satu dari keluargamu, dia pasti sangat syok mendengar hal itu darimu." Lanjutku masih tanpa menoleh kearahnya.
"Aichan gomen."
"Iie kau tidak perlu minta maaf padaku, minta maaflah pada Ema senpai, karena dia lebih membutuhkanya daripada aku." Potongku cepat sambil melepas pegangan tangan Subaru-san yang sejak tadi berada dilenganku kemudian pergi menuju arah dapur, sedangkan Subaru-san langsung pergi entah kemana, mungkin dia pergi kekamar Ema senpai.
"Maaf atas perkataan Subaru tadi, aku rasa dia sedang mabuk." Ucap Azusa-san yang berdiri tepat disampingku.
"Iie daijoubu desu, aku tau kalau dia sedang mabuk Azusa-san, da juga aku minta maaf jika kedatanganku kesini malah menganggu kalian." Ucapku sedikit membungkukkan badanku pada Kaname-san, Tsubaki-san, dan juga Azusa-san.
"Justru aku malah senang loh Aichan ada disini." Ucap Tsubaki-san sambil memelukku.
"Ya kami tidak ada yang keberatan kok Aichan ada disini." Ucap Azusa-san sambil mengelus rambutku.
"Lagipula rumah tidak terlalu sepi ketikah kau datang kemari." Ucap Kaname-san sambil mengelus pipiku. Jujur saja aku sedikit terpanah dengan kata-kata mereka dan entah kenapa senyuman poker faceku sedikit luntur dan digantikan dengan senyuman tulus dari bibirku.
"Arigato minna."
"Wah Aichan kawaii desu, aku jadi ingin punya adik seperti Aichan, ne ne malam ini kau tidur denganku ya." Pinta Tsubaki-san masih memelukku, bahkan mungkin sekarang lebih erat dari tadi.
"Oi oi jangan seperti itu Tsubaki, aku juga ingin tidur bersama Aichan." Ucap Kaname-san menarikku menjauh dari Tsubaki-san.
"Tidak bisa Kaname nii, aku dulu yang akan tidur bersama Aichan."
"Mengalahlah pada yang lebih tua."
"Seharusnya Kaname nii yang mengalah pada adiknya." Ok karena aku tidak ingin mendengarkan pertengkaran mereka berdua akupun menarik ujung sweeter Azusa-san yang berdiri tepat disebelahku meminta perhatiannya.
"Ano Azusa-san, bagaimana kalau kita lihat keadaan Subaru-san, aku rasa sebentar lagi dia akan pingsan." Bisikku padanya.
"Ah itu ide yang bagus, lagipula aku tidak ingin mendengar pertengkaran mereka, ayo." Ajak Azusa-san sambil menggandeng tanganku, entah kenapa wajahku sedikit memerah karena diperlakukan seperti itu oleh Azusa-san dan jantungku berdetak lebih cepat dari seharusnya.
'Ada apa denganku?, dan ada apa dengan jantung ini?.' Batinku sambil menundukan kepalaku.
"Oi kenapa kalian meninggalkanku." Ucap sebuah suara dari belakang kami yang ternyata itu Tsubaki-san.
"Habis Tsubaki-san lama, jadi kami tinggal saja." Jawabku.
"Eh Azusa menggandeng tangan Aichan, aku juga mau menggandengnya."
"Hai hai tanganku yang sebelah lagi masih kosong kok Tsubaki-san." Ucapku tersenyum poker face sambil mengulurkan tangan kananku padanya yang langsung dia genggam dengan erat. Kami berjalan menuju kamar Ema senpai dan sesampainya disana kami dikejutkan dengan pemandangan Subaru-san yang menindi Ema senpai.
"Hei."
"Apa yang kau lakukan?." Omel Azusa-san dan juga Tsubaki-san, langsung saja Tsubaki-san menyeret catat menyeret Subaru-san menjauh dari Ema senpai, aku segera membantu Ema senpai berdiri dari posisi jatuhnya.
"Sepertinya Subaru-san sudah tidak sadarkan diri." Komentarku melihat kearahnya.
"Dia terlalu banyak minum." Komentar Azusa-san.
"Ah orang ini." Komentar Tsubaki-san.
"Dengar lupakan saja apa yang Subaru tadi katakan." lanjut Tsubaki-san mengerling kearah Ema senpai begitu juga dengan Azusa-san.
"Semua menganggapmu sebagai saudara yang berharga." Ucap Azusa-san.
"Ini karena aku terus menggodanya mangkannya dia sampai bicara seperti itu, tapi sebenarnya dia tidak pernah berpikir seperti itu kok." Lanjut Tsubaki-san.
"Ha-hai." Jawab Ema senpai.
"Tapi kenapa bisa jadi begini?." Tanya Azusa-san.
"Apa Subaru sengaja?." Lanjut Tsubaki-san.
"Bu-bukan bukan begitu, Subaru-san tersandung dan jadinya seperti itu."
"Oww jadi itu hanya kecelakaan Ema senpai."
"Hai hanya kecelakaan kok."
"Jadi begitu." Ucap Azusa-san.
"Bahkan kalau ini hanya kecelakaan, aku pasti terganggu dengan hal itu, jangan berpikir kami akan membiarkannya begitu saja." Ucap Tsubaki-san melihat kearah Subaru-san sambil menyeringai.
"Aku harap kau tidak merencanakan hal yang jelek Tsubaki-san." Komentarku sedikit sweetdrop.
"Hee, kenapa Aichan."
"Kalau itu benar, aku ikut." Ucapku sambil menyeringai.
"Khu khu khu, ayo kita lakukan Aichan." Ucap Tsubaki-san masih dengan seringai diwajahnya.
Entah apa yang akan kita berdua perbuat pada Subaru-san, yang jelas sepertinya ini akan sedikit seru.
To Be Continue
#Curhatan Author#
Saya kembali lagi dengan lanjutan cerita ini, maafkan saya jika saya telat mengupdatenya dikarenakan kesibukan saya, jadi langsung saja saya akan menjawab review yang masuk.
Rizuki Sakura Kuroko: ide cerita ya, sebenarnya saya agak tertarik dengan Brother Conflict, walaupun saya belum lihat animenya secara keseluruan dikarenakan ceritanya yang terlalu romance, kesalahan Typo mohon dimaafkan karena saya memang kurang teliti, dan kalau dibolehkan saya ingin tau judul cerita anda (walau saya tidak terlalu suka dengan sailormoon karena saya tidak pernah lihat Animenya secara keseluruhan), tapi saya penasaran loh. Terima kasih karena sudah mendukung saya melanjutkan cerita ini.
Oke jadi semoga anda sekalian menikmati cerita saya, dan jangan lupa REVIEW PLEASE…!.
See You Next Conflict 3: Basket?
