"Wah jadi ini anakmu Akashi?." Tanya pria bersurai orange terang pada papa, sedangkan aku hanya bersembunyi dibelakang papa.
"Kawaii, kemarilah aku tidak akan menyakitimu." Ucap pria bersurai hitam agak panjang sambil merentangkan kedua tangannya, seperti memintaku memelukknya. Papa hanya melirik kearahku kemudian mengelus kepalaku sambil tersenyum.
"Tidak apa-apa Ai, mereka orang baik kok, pergilah." Ucap papa mencoba menenangkanku, aku hanya menganggukan kepalaku lalu berjalan kearah pria bersurai hitam yang menatapku dengan mata berbinar-binar.
"Namaku Ai, yoloshikune paman." Ucapku membungkukkan badanku sambil tersenyum manis.
"Ka-kawaii, Aichan kau menjadi anakku saja ya." Pinta paman bersurai hitam sambil memelukku yang langsung mendapat tatapan tajam dari papa.
"Itu tidak mungkin Reo, Ai sudah menjadi anakku dan aku tidak akan menyerahkannya pada siapapun." Ucapnya sambil mengeluarkan sesuatu dari kantung celananya dan juga tatapan intimidasi pada paman yang sedang memelukku, hal itu membuat mereka semua bergidik ngeri sedangkan aku hanya memiringkan kepalaku bingung akan situasi mereka.
"Ha-hai Seichan, aku hanya bercanda kok, ne Aichan namaku Mibuchi Reo desu, kau bisa memanggilku paman Reo." Ucap pria bersurai hitam memperkenalkan dirinya padaku.
"Kalau aku Hayama Kotaro, yoroshiku Aichan." Ucap pria bersurai orange terang sambil mengelus kepalaku.
"Kalau aku Nebuya Ekichi." Ucap pria bersurai hitam dan berbadan lebih besar dari yang lain sambil tersenyum lebar.
"Ne Chichan, perkenalkan dirimu juga." Pinta paman Reo pada pria bersurai abu-abu yang sedang membaca novel di bench tak jauh dari tempat kami. Dia melirikku sebentar sebelum akhirnya kembali melanjutkan membaca novel ditangannya.
"Mayuzumi Chihiro, terserah kau mau memanggilku apa." Jawabnya tanpa melihat kearahku.
"Kalau begitu boleh aku memanggil kalian paman Leo, paman Kotalo, paman Ekichi, dan paman Chi."
"Tentu saja Aichan." Jawab paman Reo sambil tersenyum, begitu juga dengan paman Kotaro dan juga paman Ekichi, dan jangan lupa paman Chi, walau dia tidak melihatku tapi aku tau dia sedang tersenyum dibalik novel miliknya. Aku senang karena sekarang aku punya paman yang bisa diajak untuk bermain.
BROTHER CONFLICT © Bukan Milik Saya
CROSSOVER: KUROKO NO BASUKE © FUJIMAKI TADATOSHI
AMAZING GRACE © SHERRYSAKURA99
.
WARNING: OC, OOC (mungkin), Crossover, jika ada yang kurang mengerti jalan ceritanya atau banyak kesalahan Typo mohon di maklumi, cerita mengikuti alur anime Brother Conflict dengan tambahan dari saya.
Genre: Romance, Friendship, Humor (mungkin, walau humornya agak garing), Hurt/Comfort
Rate:T
Conflict 3: Basket?
Hari ini aku berangkat sekolah seperti biasa, tapi sebelum itu aku diminta tolong oleh Ukyo-san mengantar makan siang milik Subaru-san yang kampusnya kebetulan tak jauh dari sekolahku. Sesampainya disana aku langsung bertannya pada salah satu teman Subaru-san, dan beliau mengatakan kalau hari ini Subaru-san sedang latihan basket di GYM. Setelah diberi tau dimana letak GYM aku langsung pergi menuju tempat itu. Disana aku melihat beberapa pemain sedang latihan dan juga ada Subaru-san yang sedang mencoba melakukan three poin tapi selalu gagal, sepertinya dia kurang konsentrasi.
'Apa mungkin Subaru-san masih memikirkan kejadian waktu itu ya?.' Pikirku masih fokus kelapangan, tiba-tiba saja ada yang menepuk bahuku, reflek aku menoleh kebelakang dan mendapati pria bersurai hitam agak jabrik serta iris matanya berwarna hitam.
"Apa kau sedang mencari seseorang." Tanyanya, aku sempat terkejut melihat siapa orang yang menepuk pundakku begitu juga dengan pria tadi.
"Eh paman Yukio?." Ucapku sambil menunjuk kearahnya.
"Eh Aichan, kau Aichan kan?."
"Hai hisashiburi paman Yukio." Ucapku sambil tersenyum pada pria yang ternyata adalah teman dari paman Ryota, Kasamatsu Yukio.
"Hisashiburi Aichan, wah kau sudah besar ya." Ucapnya sambil mengelus kepalaku.
"Emm tentu saja umurku sekarang sudah lima belas tahun loh paman."
"Hai hai paman tau kok."
"Oh ya paman sedang apa disini?."
"Paman menjadi pelatih di universitas ini."
"Hee benarkah? Tapi kenapa memutuskan menjadi pelatih?."
"Entahlah aku tidak bisa jauh dari basket, karena aku tidak seperti ayahmu atau para Kisedai yang punya kemampuan khusus, aku lebih memilih menjadi pelatih daripada pemain."
"Tapi aku rasa paman bisa menjadi pelatih yang hebat." Ucapku dengan semangat.
"Tentu saja, oh ya ngomong-ngomong Aichan sendiri sedang apa disini?, bukannya kau seharusnya sekolah?."
"Ah aku lupa, sebenarnya aku kesini ingin bertemu Subaru-san."
"Oh maksudmu Asahina Subaru, cotto kau tidak ada hubungan apapun dengannya kan?." Selidik paman Yukio menatap tajam kearahku.
"Tentu saja tidak paman Yukio."
"Tapi kenapa kau memanggilnya dengan nama depan?."
"Itu karena sekarang aku tinggal di mansion milik keluarganya, karena saudaranya banyak jadi aku memutuskan untuk memanggil nama depannya supaya tidak membingunkan."
"Souka, baiklah aku akan memanggilnya." Ucap paman kemudian melihat kearah lapangan dan memanggil Subaru-san.
"Asahina Subaru kemarilah, ada yang mencarimu." Teriak paman Yukio kearah lapangan yang langsung mendapat perhatian dari Subaru-san, dia sempat kaget melihatku berada disana dan segera menghampiriku.
"Aichan kenapa kau kemari?." Tanya Subaru-san kepadaku.
"Aku ingin menyerahkan makan siangmu, kau meninggalkannya saat berangkat tadi, dan Ukyo-san menitipkannya padaku." Jawabku menyerahkan kotak makan warna putih padanya.
"A-arigato Aichan."
"Kalau begitu aku permisi dulu, paman kapan-kapan kita ngobrol lagi ya." Ucapku mengerling pada paman Yukio lalu tersenyum pada beliau.
"Yaa, mampirlah kesini jika kau mau."
"Wakatta, jaa ne~." Ucapku tapi sebelum aku melangkah lebih jauh seseorang menarik tangan kananku dan aku tau siapa dia.
"Doushitano Subaru-san, apa ada lagi yang kau butuhkan?." Tanyaku melihat kearah Subaru-san.
"Pulang sekolah nanti aku ingin berbicara sesuatu padamu, aku akan menjemputmu disekolah jadi ketikah sekolah sudah usai kirimi aku pesan."
"Wakatta Subaru-san." Dan dengan begitu dia melepas pegangannya padaku, sedangkan aku langsung berangkat menuju sekolah karena sebentar lagi bel masuk akan berbunyi.
~Amazing Grace~
"Kazu senpai, aku sudah menyelesaikan semua laporannya, tolong segera kau cek besok ya dan minta pada bendahara untuk menyerahkan laporan bulanannya padaku." Perintahku pada pemuda bersurai hitam pendek bernama Kazuya Tomoru yang merupakan wakil ketua osis.
"Hai Aichan, kau mau pulang sekarang?."
"Ya, aku sedikit lelah."
"Apa mau aku antar?."
"Tidak usah Kazu senpai, aku sudah dijemput seseorang, sudah dulu ya aku pergi dulu, jaa~." Ucapku pergi meninggalkan ruang osis menuju kearah gerbang sekolah. Saat sampai disana, aku melihat Subaru-san berdiri sambil menyender ditembok samping gerbang sekolah. Aku mendekatinya dan dia langsung menoleh kearahku.
"Gomen Subaru-san apa aku membuatmu menunggu lama?." Tanyaku sambil membungkukkan sedikit badanku.
"Iie aku juga baru datang kok, ayo kita pergi." Jawabnya mulai melangkahkan kakinya menjauh dari sekolahku diikuti olehku yang mengekor dibelakangnya. Kami berjalan dalam diam dan aku sama sekali tidak tau akan diajak kemana?, akhirnya aku memutuskan untuk bertanya padanya.
"Ano Subaru-san kita mau kemana?." Tanyaku padanya, dia menghentikan langkahnya dan itu juga membuatku menghentikan langkahku.
"Kita sudah sampai." Ucapnya menoleh kearah tokoh yang ada disampingnya, aku mengikuti arah pandang Subaru-san, dan ternyata itu adalah sebuah cafe ice cream. Kami memasuki cafe tersebut lalu duduk di meja untuk dua orang samping jendela.
"Ano Subaru-san kenapa kita ada disini?." Tanyaku setelah duduk dikursiku.
"I-itu aku ingin mentraktirmu ice cream." Jawab Subaru-san yang wajahnya sedikit memerah.
"Eh atas dasar apa Subaru-san ingin mentraktirku?."
"Aku dengar dari Yusuke kalau kau suka sekali dengan makanan manis terutama ice cream, dan juga ini sebagai tanda permintaan maafku waktu itu."
"Aku sudah bilang kalau kau tidak perlu minta maaf padaku Subaru-san, seharusnya kau mentraktir Ema senpai bukan aku."
"Iie kata-katamu waktu itu membuatku sadar akan sesuatu, karena itu kau harus menerima permintaan maafku ini."
"Baiklah baiklah, aku akan terima." Jawabku sambil tersenyum poker face. Akhirnya seorang pelayan mendatangi kami dengan buku menu lalu menyerahkannya padaku dan Subaru-san.
"Aku pesan ice cream mocca ukuran sedang dan juga satu burger dan satu kentang goreng ukuran jumbo kalau Aichan ingin pesan apa?."
"Emm ice cream chocolate with vanilla syrup ukuran sedang dan cheess cake."
"Wakatta tolong tunggu sebentar." Ucap pelayan itu lalu pergi dari hadapan kami. Tak lama kemudian pesanan kami datang dan kami langsung memakannya. Aku memakan ice cream itu dengan tatapan berbinar-binar karena jujur saja aku sangat suka ice cream apalagi yang rasa coklat dan keju, iie sepertinya apapun yang berhubungan dengan coklat dan keju pasti aku suka. Subaru-san hanya terkekeh melihatku yang memakan ice cream milikku seperti anak kecil.
"Hehehe sepertinya kau begitu menyukai ice cream itu."
"Emm aku suka semua makanan yang rasa coklat dan keju, lagipula ice cream ini sangat enak, kapan-kapan aku akan kemari lagi." Jawabku menyendokkan satu suapan ice cream kedalam mulutku.
"Ya kau bisa mengajakku jika kesini lagi."
"Eemm tapi lain kali aku yang akan membayarnya."
"Hai hai."
Kami melanjutkan makan ice cream sambil mengobrol banyak hal hingga semua pesanan habis, setelah itu kami memutuskan untuk pulang karena hari semakin malam. Sesampainya disana aku melihat Azumi-san sedang berdiri dipintu masuk apartemen dan membuatku bertanya-tanya sedang apa dia disana?, aku mendekat kearahnya diikuti oleh Subaru-san yang berada disampingku.
"Azumi-san, doushita?, apa kau ada perlu denganku?." Tanyaku pada Azumi-san begitu aku berada didepannya.
"Ah Aichan, aku dari tadi menunggumu loh, bukannya aku sudah mengirimimu pesan kalau aku ingin mengambil key animationnya jam 6 sore?."
"Ah gomenasai, tadi batrei ponselku habis jadi aku tidak tau kalau Azumi-san mengirim pesan."
"Hah, lalu apa key animationnya sudah jadi Aichan."
"Key animation?." Tanya Subaru-san yang menyimak percakapan kami tadi.
"Ah iya aku belum mengatakan kalau aku juga bekerja sebagai Animator."
"Eh benarkah?, sugoi kau masih berumur 15th tapi sudah jadi Animator."
"Itu hanya hobi kok Subaru-san, kalau begitu Azumi-san kita kekamarku saja, key animationnya sudah aku selesaikan kok." Jawabku tersenyum kemudian masuk kedalam apartemen diikuti Subaru-san dan juga Azumi-san. Sesampainya dikamar aku langsung menyerahkan key animationya pada Azumi-san yang diterima dengan mata berbinar-binar seperti anak kecil yang diberikan permen, aku saja sampai sweetdrop melihatnya.
"Arigato Aichan, kau benar-benar penyelamatku, baiklah aku akan segera mengeceknya, nanti akan kuhubungi jika ada yang retake." Ucap Azumi-san sambil membungkukkan badannya kemudian keluar dari kamarku.
Aku hanya bisa menghela nafas, mengambil beberapa kertas yang berserakan dimejaku dan merapikannya sebelum akhirnya aku mendengar suara keributan dari arah kamar Ema senpai yang berada disebelahku. Aku memutuskan untuk keluar kamar dan mendapati Yusuke senpai sedang menyeret Fuuto-kun keluar dari kamar Ema senpai.
"Yusuke senpai ada apa?, kenapa berisik sekali?." Tanyaku pada Yusuke senpai ketikah dia melintas disampingku.
"Ah Aichan, ini si Fuuto dia berani-beraninya masuk kekamar Ema." Jawabnya sambil melepaskan tangannya dari leher Fuuto-kun.
"Sudah aku bilang kalau Ema neechan juga menginginkannya."
"Kau ini jangan dekati Ema."
"Heee apa hak Yusuke nii melarangku bersama oneechan?."
"Pokoknya kau tidak boleh mendekatinya, aku akan selalu mengawasimu."
"Coba saja kalau berani."
"Kau."
'Dak…dak…' Karena tidak tahan mendengar pertengkaran mereka aku memutuskan untuk memukul kepala mereka menggunakan kipas kertas besar, dan mereka berdua hanya mengaduh kesakitan karena hal itu.
"Ittai Aichan apa yang kau lakukan?." Protes Yusuke senpai sambil mengelus kepalanya.
"Ya apa yang kau lakukan?." Protes Fuuto-kun yang melakukan hal sama seperti Yusuke senpai.
"Membuat kalian diam, habis kalian berisik sekali." Jawabku dengan wajah innocent.
"Tapi tidak perlu memukulku dengan kipas kertas itu kan."
"Iya bagaimana kalau kepalaku kenapa-napa apa kau mau bertanggung jawab hah?."
"Justru dengan pukulan dikepala, kalian bisa berpikir jernih, kalian berdua seperti anak kecil yang meributkan masalah sepele."
"Tapi ini bukan masalah sepele Aichan."
"Sudahlah sudahlah, kalau kalian mau ribut diluar saja ne." Ucapku sambil tersenyum dan kembali masuk kedalam kamar tapi langsung dicegah oleh tangan Fuuto-kun yang mencengkram lenganku.
"Tunggu sebentar kau harus bertanggung jawab karena sudah berani memukul kepalaku." Ucapnya sambil menyeringai kemudian masuk kedalam kamarku dan mengunci pintunya dengan cepat, bahkan Yusuke senpai tidak sempat memarahinya.
"Hah untuk apa kau masuk kamarku Fuuto-kun?." Tanyaku menghela nafas sambil memperhatikan Fuuto-kun yang sedang duduk di kasurku.
"Kamarmu begitu rapi ya, wanginya juga sangat manis, kau memakai parfum aroma terapi?."
"Ya itu membuatku tidak stress ketikah mengerjakan pekerjaanku."
"Pekerjaan?, memang kau bekerja apa?." Aku mendekat kearah meja belajar, mencari file yang berisi key animation, lalu melemparnya kearah Fuuto-kun yang ditangkap dengan sempurnah olehnya. Dia membuka lembar demi lembar kertas itu baru dia mengerti apa pekerjaanku.
"Kau seorang animator?, tapi kau terlihat seperti masih seumuran denganku."
"Aku memang seumuran denganmu kok, umurku masih 15th." Jawabku memasang poker faceku.
"Wah kau hebat juga ya, umur 15th tapi sudah menjadi seorang animator."
"Ya sama sepertimu, kau juga hebat padahal baru berusia 15th tapi sudah menjadi idol terkenal."
"Aku tersanjung bisa mendapat pujian darimu."
"Bukankah kau lebih baik keluar dari kamarku Fuuto-kun?."
"Iie aku masih ingin disini saja." Jawabnya meletakan key animation tadi diatas meja belajarku kemudian kembali tiduran dikasurku.
"Memang hari ini kau tidak bekerja?."
"Tidak hari ini aku libur." Jawabnya membelakangiku.
"Hah kau tau Yusuke senpai bisa marah kalau kau-." Ucapku terputus begitu mendengar suara dengkuran halus dari arah Fuuto-kun, aku mendekati kasur dan mendapati Fuuto sudah tertidur dengan nyenyak, mungkin karena efek aroma terapi yang aku nyalakan.
'Ya sudahlah biarkan saja dia tidur, mungkin dia kecapean karena pekerjaanya.' Pikirku tersenyum tulus, aku menyelimuti Fuuto-kun kemudian membuka pintu kamar, disana aku melihat Yusuke senpai masih berdiri didepan pintu dengan wajah yang kesal.
"Dimana Fuuto?."
"Sssttt dia sedang tidur senpai jadi biarkan saja, sepertinya dia kecapean." Jawabku keluar dari kamarku dan menutup pintunya.
"Hah?, ya sudahlah jika dia bangun suruh dia tidur dikamarnya."
"Hai Yusuke senpai." dan dengan begitu Yusuke senpai pergi meninggalkan kamarku, sedangkan aku sendiri memutuskan untuk keluar apartemen diikuti Serafina yang muncul entah dari mana. Diluar apartement aku melihat Loise-san sedang berbicara dengan July, akupun mendekati mereka.
"Konichiwa Louise-san, July."
"Ah Aichan konichiwa." Jawab Louise-san menoleh kearahku sambil tersenyum.
"Konichiwa Aichan." Jawab July.
"Sedang apa kalian berdua disini?."
"Hanya sedikit mengobrol." Jawab Louise-san.
"Souka, tumben sekali July tidak bersama Ema senpai?."
"Iie aku hanya sedang tidak ingin."
"Eh kau juga bisa berbicara dengan July-san?." Tanya Louise-san padaku.
"Hai, itu karena aku juga punya guardian, yaitu Serafina, jadi aku bisa memahami apa yang dikatakan oleh July."
"Souka, jadi kucing ini adalah guardianmu." Ucap Louise-san sambil mengelus kepala Serafina dan dijawab "Miaw" olehnya.
"Tapi kau tidak bisa berbicara dengan Serafina Louise-san."
"Kenapa?."
"Soalnya Serafina itu guardian khusus, dia hanya bisa berbicara dengan sesama guardian dan orang yang dijaganya, walaupun Louise-san bisa berbicara dengan July, tapi tidak dengan Serafina."
"Souka, apa Chichan tau kalau kau bisa berbicara dengan July-san?."
"Ema senpai tidak tau, jadi tolong rahasiakan ini dari Ema senpai ya Louise-san."
"Baiklah aku akan merahasiakannya." Jawabnya sambil tersenyum yang aku balas dengan senyuman diwajahku.
"Lalu apa tuan July sedang ngambek miaw?, apa Ema-san melakukan sesuatu yang tidak kau suka?." Tanya Serafina dengan nada mengejek.
"Itu bukan urusanmu Serafina." Jawabnya mengalihkan pandangan dari Serafina.
"Apa ini ada hubungannya dengan Fuuto-kun yang tadi kekamar Ema senpai."
"Eh kau melihatnya?."
"Iie, aku hanya melihat Yusuke senpai menyeret Fuuto-kun keluar dari kamar, dan sekarang Fuuto-kun sedang tidur dikamarku."
"Eeehhh, apa yang dilakukan serigala itu dikamarmu, Serafina seharusnya kau menjaga Aichan, bukan malah pergi kelayapan." Omel July persis seperti ibu-ibu memarahi anaknya, dan tentu saja hal itu mambuatku dan Louise-san sweetdrop. Sedangkan Serafina hanya menundukan kepalanya sambil berguman "gomenasai" padanya.
"Su-sudahlah July, aku memang menyuruh Serafina untuk pergi jalan-jalan kok, lagipula mereka semua orang baik." Ucapku mencoba meredahkan amarah July.
"Tapi apa tidak sebaiknya kau membangunkan Fuuto Aichan?."
"Daijoubu Louise-san, dia sepertinya sangat kecapen jadi aku tidak ingin membangunkannya."
"Souka, hmm." Tiba-tiba saja Louise-san memperhatikanku dari atas kebawah yang tentu saja membuatku bertanya-tanya.
"Doushitano Louise-san?."
"Iie aku baru sadar kalau Aichan mirip seperti Fuuto ya."
"Mirip?."
"Emm mulai dari wajah sampai warna rambutnya, walau rambut Aichan lebih lembut dari Fuuto, mungkin yang membedakan hanya warna mata dan juga sifatnya."
"Memang mirip sih, mungkin kau punya semacam hubungan darah dengan Fuuto?." Selidik July.
"Itu tidak mungkin July, aku saja baru bertemu dengannya ketikah datang kemari."
"Souka, mungkin memang hanya mirip." Komentar Louise-san.
"Kalau begitu lebih baik kita masuk kedalam saja ya, makan malam sebentar lagi siap." Usulku yang mendapat anggukan setuju dari mereka semua.
~Amazing Grace~
Karena hari ini hari minggu, aku memutuskan untuk olahraga sebentar, dan kali ini aku ingin bermain basket, karena sudah lama sekali aku tidak bermain basket. Aku mulai mendribel bola kekanan dan kekiri lalu melakukan layup, kadang juga aku melakukan three poin biasa atau melakukan dunk.
'Aku lihat akhir-akhir ini permainan Subaru-san semakin memburuk, bahkan aku dengar kalau paman Yukio menariknya keluar dari pemain regular.' Pikirku lalu melakukan dunk dan masuk.
'Apa jangan-jangan dia masih memikirkan Ema senpai?.' Lanjutku sambil berjalan kearah bench dan mengelap keringatku dengan handuk.
"Ne apa kau masih mengingat pesan Yukio-san miaw?." Tanya Serafina yang duduk disamping tasku, akupun ikut duduk disampingnya.
"Oh soal aku harus menyadarkan Subaru-san?."
"Ya dia meminta bantuanmu bukan."
"Memang sih, kalau begitu biar aku coba." Ucapku mengambil tas dan pergi dari lapangan street basketball menuju ke Sunrise Recidence.
"Tadaima." Ucapku begitu aku sampai diruang tengah, disana aku melihat Azusa-san, Tsubaki-san, Subaru-san, Ukyo-san, Ema senpai, Louise-san, Yusuke senpai dan Fuuto-kun sedang duduk di sofa ruang tamu.
"Tadaima Aichan, kau habis dari mana?." Tanya Ema senpai padaku.
"Sedikit olahraga mumpung hari minggu." Jawabku kemudian mendekat kearah Subaru-san.
"Subaru-san, aku dengar kalau kau diturunkan dari pemain regular." Ucapku to the poin yang langsung membuat mereka semua terkejut.
"Ba-bagaimana kau bisa tau?."
"Paman Yukio yang memberitahuku, dia bilang kalau kau kurang konsentrasi ketikah latihan maupun saat pertandingan."
"I-itu."
"Ne kalau begitu." Aku mengeluarkan bola basket dari dalam tasku dan mengarahkannya pada Subaru-san.
"Bagaimana kalau kita bertanding one on one." Tantangku padanya sambil tersenyum.
"Eh Kau serius Aichan, menantang Subaru nii bertanding?."
"Tentu saja Yusuke senpai."
"Hee ini menarik, terima saja Subaru nii." Komentar Fuuto-kun.
"Iie a-aku menolak."
"Hmm kenapa, apa kau takut melawanku Subaru-san?, kau takut melawan anak kecil sepertiku yang tingginya hanya sekitar 160cm?, kau lemah sekali Subaru-san." Ledekku masih memasang poker faceku.
"Bu-bukan begitu hanya saja."
"Kalau memang kau tidak takut melawanku, tunjukan padaku kalau kau memang seorang laki-laki, jika menolak berarti kau hanya pecundang Subaru-san, aku akan menunggumu di lapangan samping mansion, jadi cepatlah ganti bajumu." Ucapku pergi meninggalkan mereka menuju kelapangan street basketball yang tadi sempat aku gunakan. Aku menguncir rambutku ala ponytail dan tak lama kemudian Subaru-san datang bersama saudara-saudaranya yang tadi berada diruang tamu termasuk Ema senpai, July, dan juga Serafina hadir disana. Saat Subaru-san mendekat kearahku aku melempar bola basket kearahnya yang langsung ditangkap dengan mudah olehnya.
"Peraturanya sederhana, kau hanya perlu memasukan satu bola dalam ringku dan kau bisa menang, sedangkan aku memasukan sepuluh bola dalam ringmu baru bisa menang."
"Apa kau sedang meremehkanku Aichan?."
"Tentu saja, orang yang baru saja diturunkan dari pemain regular mana mungkin bisa melewatiku, dan aku harap kau bermain serius Subaru-san."
Subaru-san mulai mendribel bola itu sedangkan aku mengambil posisi bertahan, dia menderibel kesebelah kiri yang aku tau hanya sebuah fake karena dia melempar bola itu kesebelah kanan, melihat ada kesalahan dalam dribelnya aku langsung melakukan steal dan mendribel menuju kearah ring, Subaru-san dengan cepat mengejarku tapi aku sudah terlanjur berada didepan ring lalu melakukan dunk sebelum Subaru-san sempat menghadangku dan itu membuat Subaru-san tercengang begitu juga dengan yang lainnya, kecuali aku dan Srafina. Bola sekarang berada ditanganku dan Subaru-san yang menjagaku dengan intens seperti tidak ada celah.
'Kanan, kiri, bawah, sepertinya memang harus lewat atas, dan aku tau caranya.'
"Ne Subaru-san." Panggilku yang langsung mendapat perhatian penuh darinya.
"Aku rasa kau berdiri terlalu jauh." Lanjutku yang seketikah melakukan barrier jumper lalu ditambah dengan tembakan three poin ala paman Shin, ya karena jarakku dari ring yang cukup jauh dan tentu saja bola itu masuk dengan sempurnah.
"Sudah aku bilangkan Subaru-san, kalau aku tidak akan main-main."
Saat ini bola berada pada Subaru-san yang sudah bersiap menembak three poin, begitu bola dilepaskan aku langsung melompat dan mengambil bola itu sebelum mencapai ring. Aku mendribel bola itu kearah ring Subaru-san tapi langsung dihadang olehnya, tidak tinggal diam aku langsung melakukan teknik yang diajarkan paman Tetsu padaku yaitu vanishing drive dan berhasil melewati Subaru-san dengan mudah lalu melakukan Layup dan masuk. Kami melanjutkan pertandingan kami dengan aku yang terus memasukan bola kedalam ring Subaru-san sedangkan Subaru-san belum berhasil memasukan satupun bola kedalam ringku, hingga akhirnya satu kali lagi aku memasukan bola, maka aku memenangkan pertandingan ini.
"Aku tidak akan membiarkanmu lewat Aichan." Ucap Subaru-san yang memasang posisi bertahan.
"Iie justru Subaru-san yang akan menyingkir dariku." Ucapku lalu melakukan teknik yang diajarkan papa padaku yaitu Ankle Break, dribel kecepatan tinggi yang mampu menggangu keseimbangan lawan dan membuat mereka terjatuh. Tentu saja karena teknikku ini Subaru-san terjatuh dan tidak bisa berdiri dari posisinya. Itu membuatku lebih mudah melewatinya lalu melakukan layup dan masuk. Aku melihat kearah Subaru-san yang terlihat masih syok dengan pertandingan ini.
"Belum ini masih belum, ayo kita bertanding sekali lagi." Teriak Subaru-san yang telah berdiri dari posisi jatuhnya.
"Iie ini sudah berakhir Subaru-san." Jawabku berjalan kearah bench dan mengambil handuk yang diberikan Ema senpai padaku.
"Tidak ini belum berakhir."
"Hentikan Subaru-san, yang tadi itu hanya sebagian kecil dari teknikku, aku bahkan tidak mengeluarkan semuanya, dan lagi ini membuktikan kalau kau memang tidak bersungguh-sungguh dalam bermain basket."
"Apa maksudmu?."
"Kau kurang konsentrasi Subaru-san, bahkan aku bisa merebut semua bola yang ada ditanganmu, aku kecewa sungguh, aku kira kau bisa bermain lebih baik tapi ternyata kau hanya ingin bermain-main, keputusan paman memang benar menarikmu dari pemain regular." Ucapku melangkahkan kakiku keluar dari lapangan, tapi sebelum aku benar-benar pergi aku sempat berbicara sesuatu.
"Kau tau Subaru-san lebih baik kau keluar dari klub basket jika memang sudah tidak bisa bermain sungguh-sungguh, lagipula mereka tidak membutuhkan orang yang tidak professional sepertimu." Ucapku tanpa menoleh kearahnya lalu benar-benar pergi meninggalkan mereka semua menuju kearah dapur karena aku cukup haus. Sesampainya disana aku melihat seseorang pria bersurai coklat yang panjang sampai pinggang dan mengenakan dress berwarna merah serta blazer hitam sedang berdiri melihat kearah jendela yang pemandangannya langsung menuju lapangan street basketball, penampilannya seperti seorang perempuan tapi aku tau kalau dia sebenarnya laki-laki, dia langsung menoleh kearahku begitu tau aku berada didekatnya.
"Ah kau pasti Akashi Ai putri dari teman Miwa-san?." Ucapnya mendekat kearahku.
"Hai, ano tuan siapa?."
"Eh kau tau jika aku laki-laki?."
"Tentu, walau anda berpakaian seperti wanita tapi badan wanita dan pria sangat berbeda."
"Souka sasuga seperti apa yang dikatakan Ukyo nii, observasimu sangat luar biasa." Pujinya sambil tersenyum.
"Namaku Asahina Hikaru, kau bisa memanggilku dengan nama depanku seperti yang lain."
"Souka, yoroshiku Hikaru-san."
"Yoroshikune Aichan, oh ya ada sesuatu yang ingin aku serahkan padamu, ini." Ucapnya sambil menyerahkan kotak yang sedikit besar dan sebuah tas kertas padaku.
"Apa ini?." Tanyaku menerima pemberian Hikaru-san.
"Hadiah dari Miwa-san, dia ingin kau mengenakannya saat acara pernikahannya."
"Eh tapi kenapa?."
"Entahlah beliau tidak mengatakan apapun padaku."
"Souka, arigato Hikaru-san." Ucapku sambil membungkukkan sedikit badanku.
"Sama-sama Aichan." Jawab Hikaru-san sambil mengelus rambutku.
To Be Continue
Akhirnya bisa publish juga cerita ini, padahal sedang dalam suasana Tugas Akhir, baiklah saya akan menjawab review yang masuk.
ashidaakane7: arigato karena sudah bilang fic ini keren, semoga chapter ini tidak mengecewakan :D.
Niechan Seicchi: ini sudah lanjut semoga tidak mengecewakan.
Rizuki Sakura Kuroko: kenapa Aichan inget sama Futto?, silahkan tanyakan pada rumput yang bergoyang :D (hahahaha), nanti akan terjawab sendiri ;). Saya akan membaca cerita anda nanti dan arigato sudah mendukung saya melanjutkan cerita ini.
Terus ikuti cerita ini dan jangan lupa Review Please…!.
See You Next Conflict 4: Pernikahan?
