"Ai ada dimana, kenapa Ai bisa telsesat sih." Ucapku sambil melihat kesekeliling, tadi aku sempat mengejar kupu-kupu sampai keluar GYM dan sekarang aku tersesat disekolah papa yang luasnya dua kali rumah papa. Aku bahkan sudah melewati perpustakaan itu sebanyak 3X, akhirnya aku menyerah dan memutuskan duduk disamping pintu itu sambil memeluk lututku.
'Aku takut, aku takut sendilian, papa tolong aku.' Tiba-tiba aku merasakan seseorang penepuk pelan kepalaku, aku mendongkakkan wajahku dan mendapati paman Chi berada didepanku dengan wajah datar.
"Sedang apa kau disini?." Tanyanya, aku langsung memeluknya dan menangis dengan tangan gemetar karena ketakutan.
"Ai telsesat, dan Ai takut sendilian paman, hiks."
"Dimana Akashi?."
"Papa ada di GYM, tadi Ai sedang mengejal kupu-kupu tapi malah sekalang tidak bisa kembali, hiks."
"Hah, baiklah aku akan mengantarmu ke papamu, tapi jangan menangis ya." Ucap paman Chi sambil menggendongku.
"Ai takut paman, hiks." Ucapku melepas pelukanku padanya dan melihat kearahnya.
"Jangan takut paman ada disini, dan tidak akan meninggalkanmu." Ucapnya sambil tersenyum tulus. Aku hanya menganggukan kepalaku kemudian kembali memeluknya.
"Aligato paman, Ai janji akan membantu paman jika paman membutuhkan bantuan Ai." Ucapku sambil menenggelamkan wajahku dilehernya.
"Wakatta, aku akan memegang janjimu." Ucap paman Chi sambil mengelus kepalaku.
Ne paman kau tau, kau akan selalu menjadi paman terbaik dan nomer satu untukku, selamanya.
BROTHER CONFLICT © Bukan Milik Saya
CROSSOVER: KUROKO NO BASUKE © FUJIMAKI TADATOSHI
AMAZING GRACE © SHERRYSAKURA99
.
WARNING: OC, OOC (mungkin), Crossover, jika ada yang kurang mengerti jalan ceritanya atau banyak kesalahan Typo mohon di maklumi, cerita mengikuti alur anime Brother Conflict dengan tambahan dari saya.
Genre: Romance, Friendship, Humor (mungkin, walau humornya agak garing), Hurt/Comfort
Rate:T
Conflict 4: Pernikahan?
Trillit…trillit… Suara ponselku terdengar nyaring ditelingaku, aku melirik kearah jam yang menunjukan pukul 06.00 sebelum akhirnya menyambar ponsel yang ada disamping jam digitalku.
'Siapa yang menelpon pagi-pagi sekali.' Batinku melihat nama yang terterah di ponsel tersebut dan ternyata dari papa. Langsung saja aku mengangkat telponnya.
"Halo papa ada apa tumben menelpon pagi-pagi sekali?."
"Ah Ai kau tau kan hari ini hari pernikahan Miwa."
"Ya memang kenapa papa?."
"Bisahkah kau mewakilkan papa, hari ini papa tidak bisa datang karena ada urusan mendadak."
"Souka, wakatta aku memang diundang oleh Miwa-san kok pa."
"Syukurlah, tolong katakan padanya papa minta maaf karena tidak bisa datang."
"Baiklah akan aku sampaikan, ngomong-ngomong kapan papa akan mengunjungiku?."
"Papa tidak tau, jika tidak sibuk papa pasti akan kesana."
"Janji ya."
"Tentu saja."
"Baiklah kalau begitu, aku mau mandi dulu, I love you pa jaa ne~."
"I love you too." Dan telpon terputus, aku memutuskan pergi kekamar mandi untuk membersikan diri. Setelah selesai aku mendengar bel kamarku berbunyi tanda seseorang berada didepan pintu dan sedang mencariku.
"Sebentar." Ucapku sambil menggosok-gosok rambutku yang basah dengan handuk dan pergi menuju kearah pintu. Ketikah aku membukanya, aku melihat Louise-san sedang berdiri disana dengan senyuman diwajahnya.
"Doushitano Louise-san?."
"Aku hanya ingin merias rambut Aichan karena hari ini merupakan hari sepesial, bolehkah?."
"Tentu jika kau mau, masuklah." Jawabku mempersilahkan Louise-san masuk kedalam kamarku.
"Kamar Aichan wanginya sangat manis dan menenangkan, pantas saja Fuuto sampai tertidur dikamarmu waktu itu." Komentar Louise-san sambil melihat sekeliling.
"Aku menggunakan parfum aroma terapi Louise-san."
"Wanginya seperti wangi Aichan." Ucap Louise-san tanpa menoleh padaku.
"Ah maaf ayo kita segera rapikan rambutmu." Ucap Louise-san mengerling kearahku sambil tersenyum.
"Tapi rambutku masih basah."
"Daijoubu biar aku yang mengeringkannya." Aku akhirnya menuruti perintah Louise-san dan duduk dikursi meja rias yang memang berada dikamarku. Louise-san mulai merapikan rambutku dengan sangat tenang dan begitu lembut, seperti tidak ingin merusak rambutku.
'Sasuga seorang penata rambut professional memang sangat berbeda, begitu tenang.' Pikirku sambil memejamkan mataku.
"Louise-san sangat ahli dalam menata rambut ya?, apa dari dulu Louise-san juga hobi melakukannya?."
"Ya bisa dibilang seperti itu, ne boleh aku bertanya sesuatu?."
"Apa Louise-san?."
"Kenapa kau tidak pernah menguncir rambutmu?, ya kecuali saat kau berolah raga saja."
"Ah soal itu, seseorang yang kusukai bilang kalau aku lebih cocok dengan rambut yang digerai, katanya aku tampak lebih manis."
"Memang benar sih Aichan sangat cocok jika rambutnya tidak dikuncir, tapi aku rasa akan lebih cocok lagi jika di tata seperti ini." Ucapnya sedikit menjauh dariku, aku melihat tatanan rambutku saat ini. Sebagian kecil rambutku dikepang lalu dijadikan bando dan diujungnya diberi pita berwarna putih yang bawahnya menjuntai sampai pundakku, lalu ujung rambutku dibuat bergelombang dan ada sebagian yang diletakan didepan, poniku juga dibuat menyamping kekiri hampir menutupi mata kiriku, penampilanku benar-benar berubah.
"Sugoi Louise-san ini bagus sekali, aku jadi tampak berbeda." Pujiku masih menatap kearah cermin.
"Youkatta kalau kau menyukainya Aichan, kalau begitu aku akan ganti baju dulu, aku tunggu dibawah ya." Ucapnya sambil tersenyum yang aku balas dengan senyuman diwajahku. Louise-san akhirnya keluar dari kamarku sedangkan aku masih menatap kearah cermin.
"Sedikit polesan diwajah dan kau akan sempurnah miaw." Komentar Serafina yang sedang tiduran dikasurku.
"Ya kau benar juga."
Aku mengambil peralatan makeup yang berada dimeja rias dan memoleskannya diwajahku, makeup yang kugunakan terkesan natural dan tidak terlalu mencolok, aku juga memakai lipglose berwarna pink. Baru setelah itu aku mengenakan pakaian yang diberikan Miwa-san padaku, sebuah drees berwarna putih yang panjangnya sampai lutut dan diatasnya hanya menutupi sampai dadaku, dan juga terdapat pita berwarna hitam dibagian dada serta pinggang, aku juga memakai sepatu high heals warna hitam yang tinggi haknya sekitar 10cm, dan tak lupa aku memakai kalung berliontin bintang yang terdapat batu safir kecil ditengahnya serta sebuah kacamata berframe hitam yang agak besar. Setelah aku benar-benar sudah siap, aku mengambil tas kecil berwarna hitam dan keluar dari kamar menuju kehalaman Sunrise Recidence, sedangkan Serafina menunggu dikamar. Sesampainya disana, aku melihat mereka semua sudah berkumpul dihalaman, langsung saja aku menghampiri mereka dan meminta maaf karena sudah membuat mereka menunggu.
"Gomenasai, telah membuat kalian menunggu." Ucapku sambil membungkukkan badanku.
"Iie daijoubu Aichan, lagipula kami juga baru saja berkumpul." Ucap Hikaru-san yang mengenakan drees pink sambil tersenyum.
"Aichan kawaii, kau jadi terlihat lebih dewasa." Puji Tsubaki-san mendekat kearahku.
"Arigato Tsubaki-san, pakaian pilihan Miwa-san memang selalu cocok untukku." Jawabku sambil tersenyum.
"Kalau begitu ayo kita berangkat." Usul Masaomi-san yang masuk kedalam mobil diikuti oleh kami semua. Kami pergi menuju tempat diadakannya resepsi pernikan yaitu disebuah gedung hotel yang cukup mahal. Sebenarnya Miwa-san dan Rentarou-san meminta papa mencarikan gedung untuk acara pernikahan mereka, untung saja paman Kotaro pemilik hotel ini bisa menyewakan hotelnya tepat pada tanggal yang ditentukan. Karena belum ada tamu yang datang, aku memutuskan mengelilingi gedung tersebut, tiba-tiba saja mataku tertuju pada pria bersurai orange yang masuk kedalam ruangan resepsi dan aku tau siapa dia, karena itu aku memutuskan untuk mengikutinya masuk kedalam ruangan itu sekedar ingin menyapanya.
"Konichiwa Natsume-san." Sapaku yang saat ini berada dibelakangnya, sontak dia langsung menoleh kearahku dan memasang wajah kaget saat melihatku disana.
"Aichan, cotto kau Aichan kan?." Tanyanya mendekat kearahku.
"Hai ini aku Nantsume-san, hisashiburi Natsume-san." Ucapku sambil memeluknya.
"Hisashiburi Aichan, aku tidak menyangka akan bertemu lagi denganmu." Jawabnya membalas pelukanku.
"Tapi sedang apa kau disini?." Tanya Natsume-san melepas pelukannya.
"Aku diundang oleh Miwa-san, kalau Natsume-san sendiri?."
"Akukan bagian dari keluarga ini."
"Hee jangan-jangan nama keluarga Natsume-san adalah Asahina?."
"Kau baru menyadarinya." Ucap Natsume sambil menyentil dahiku dengan jarinya.
"Habis Natsume-san tidak pernah memberitahukannya padaku."
"Maaf maaf."
"Tapi kenapa aku tidak pernah melihatmu dimansion?."
"Aku menyewa apartemen sendiri."
"Souka, apa boleh kapan-kapan aku main ke apartemenmu?."
"Tentu saja."
"Baiklah kalau begitu aku mau bertemu Miwa-san dulu, nanti kita ngobrol lagi ya Natsume-san." Ucapku membungkuk sebentar kemudian pergi dari hadapan Natsume-san menuju keruangan Miwa-san dan Rentarou-san. Sesampainya disana aku melihat Miwa-san dan Rentarou-san sedang mengobrol.
"Konichiwa Miwa-san." Sapaku yang langsung mendapat perhatian dari mereka berdua.
"Ale Aichan, hisashiburi." Ucap Miwa-san mendekatiku lalu memelukku.
"Hisashiburi Miwa-san, kau tampak cantik hari ini."
"Aichan juga tampak selalu imut ya." Ucapnya melepas pelukannya dan tersenyum kearahku.
"Arigato Miwa-san, pakaian yang kau kirimkan benar-benar cocok untukku."
"Syukurlah kalau kau menyukainya."
"Oh ya papa menitipkan pesan padaku kalau dia minta maaf karena tidak bisa datang."
"Souka, sudah aku duga akan sangat susah mengundang papamu, aku yakin dia pasti banyak kerjaan."
"Ya seperti itulah, menjadi pewaris tunggal dari perusahaan besar pasti membuat pekerjaan papa jadi banyak."
"Hahaha aku tau itu, tapi aku berterima kasih padanya karena sudah mau mencarikan tempat untuk acara pernikahan."
"Itu karena papa sudah berjanji pada Miwa-san dan Rentarou-san, lagipula papa tidak suka mengingkari janjinya."
"Ya, bagaimana kau betah tidak tinggal di Sunrise Residence?, mereka tidak ada yang menganggumu kan?."
"Tentu saja tidak Miwa-san, mereka semua baik sekali padaku, sepertinya aku betah berada disana."
"Souka, yokatta kalau kau memang betah disana."
"Kalau begitu aku permisi dulu ya Miwa-san, Rentarou-san." Pamitku, membungkukkan sedikit badanku baru setelah itu pergi dari hadapan mereka berdua, tapi sebelum aku benar-benar keluar dari ruangan itu, Rentarou-san memanggilku.
"Aichan tolong jaga Ema ya, jika terjadi sesuatu segera hubungi aku." Pintanya.
"Wakarimashita." Jawabku sambil tersenyum kemudian keluar dari ruangan itu.
Tak lama kemudian pesta pernikahan dimulai dan Miwa-san terlihat begitu cantik dengan balutan busana pernikahan, tampak serasi dengan Rentarou-san, sampai akhirnya kami berada di acara puncak yaitu acara pemotongan kue dan lain sebagainya. Oh ya aku membawa handycam untuk merekam semua acara pernikahan ini sampai sedetail-detailnya, karena aku juga butuh referensi tentang pernikahan, dan sekarang adalah acara pelamparan buket bunga dari mempelai wanita, ya banyak sekali wanita yang diundang dalam acara pernikahan Miwa-san terlihat antusias. Buket bunga sudah dilempar dan entah kenapa mendarat sempurnah tepat diatas handycam ku, jadi terpaksa aku mengambilnya, membuat semua orang disana bertepuk tangan padaku.
"Wah Aichan mendapatkannya." Komentar Ema senpai sambil tersenyum.
"Itu artinya selanjutnya kau akan menjadi pengantin." Komentar Tsubaki-san.
"Aku tidak tertarik dengan pernikahan Tsubaki-san, tapi ini bisa menjadi contoh yang bagus untuk mangaku." Ucapku memandang buket bunga itu dengan pandangan berbinar-binar yang sempat membuat mereka semua sweetdrop.
"Ehem, oh ya Emachan kami akan mengatakan ini secara resmi sekali lagi." Ucap Masaomi-san.
"Mungkin ini bukan tempat yang pas, tapi." Lanjut Ukyo-san.
"Bukankah ini karena kita semua berkumpul disini." Potong Hikaru-san.
"Rasanya sedikit canggung tapi." Ucap Yosuke senpai.
"Tapi inilah yang kami rasakan." Lanjut Iori-san.
"Semuanya bersiap." Teriak Wataru dengan semangat.
"Selamat datang dikeluarga Asahina." Ucap mereka semua bersamaan kepada Ema senpai, aku sempat melihat Ema senpai tersenyum sangat manis pada mereka semua, aku rasa dia sangat bahagia, begitu juga denganku yang tersenyum kecil kearahnya lalu pergi meninggalkan mereka. Melihat ada salah satu balkon yang dihias dan terdapat tempat duduk dari kayu serta tempatnya cukup sepi, aku memutuskan untuk istirahat disana sebentar lalu mengeluarkan catatan kecil dari sakuku menulis beberapa alur cerita disana.
"Yang pertama dari judul, hmm mungkin Brother Conflict?, iie aku tidak ingin menjadikan karakterku bersaudara dengan pasangannya, Lovely Love sepertinya bagus, tapi siapa yang jadi heroin ya?, apa aku harus menjadikan Ema senpai sebagai model heroin?, tidak aku tidak suka sifat Ema senpai yang terlalu lemah dan penurut, hmmm aku dengar kalau karakter tsundere sekarang banyak peminatnya, ah benar juga Yusuke senpai bisa dijadikan modelnya, lalu karakter heronya aku rasa modelnya dari sifat Azusa-san juga boleh, lalu saingannya Tsubaki-san, Fuuto-kun, Natsume-san, mereka akan aku jadikan model, lalu untuk karakter sampingan teman heroinnya aku ambil modelnya dari Subaru-san." Gumanku yang terputus karena ada seseorang yang memotongnya.
"Ada apa denganku?." Tanyanya, reflex aku langsung menoleh kesebelah kanan dan mendapati Subaru-san sedang berdiri disana sambil menatapku dengan pandangan bertannya, cepat-cepat aku kembali memasukan buku catatanku kedalam saku.
"I-iie bu-bukan apa-apa kok Subaru-san?, Subaru-san sendiri sedang apa disini?." Tanyaku berusaha memasang poker faceku.
"Aku ingin bicara denganmu." Jawabnya mengambil tempat duduk disebelahku
"Eh kenapa?."
"Begini, aku ingin minta tolong padamu?."
"Minta tolong apa?."
"Aku ingin kau melatihku bermain basket." Pintahnya menatap lurus kemataku yang sempat membuatku kaget.
"Eh kenapa aku?, seharusnya kau meminta pada paman Yukio mengingat dia pelatihmu?."
"Hanya kau yang bisa kuharapkan, aku mohon." Pintahnya sekali lagi membuat gestur tubuh seperti memohon, aku memandangnya sejenak sebelum akhirnya menghela nafas.
"Hah baiklah aku akan mengajarimu dengan dua syarat." Ucapku.
"Syarat apa?."
"Pertama kau harus bersungguh-sungguh ketikah latihan, saat kau membuat kesalahan dan kembali tidak fokus aku akan langsung menghukummu, kedua kau harus siapkan mental akan latihan neraka yang aku buat, mengerti." Ucapku sambil menyeringai, bisa kulihat Subaru-san sempat menelan air liurnya sendiri sebelum akhirnya menganggukan kepalannya sebagai jawaban.
"Bagus kalau begitu temui aku besok pagi jam 5 dilapangan street basketball, kau bisa kembali ketempat yang lainnya Subaru-san." Ucapku tersenyum poker face padanya.
"Ha-hai, arigato Yuichan." Dan dengan begitu Subaru-san pergi meninggalkanku sendirian di balkon tersebut.
"Baiklah, waktunya melanjutkan kembali alur ceritaku." Ucapku mengambil catatan kecil dari sakuku dan meneruskan aktifitasku yang sempat tertunda.
~Amazing Grace~
"Ne Aichan suka warna apa?." Tanya paman Reo padaku.
"Walna melah."
"Eh kenapa dengan warna merah?."
"Soalnya walna melah itu sepelti lambut papa dan kakek, kalena itu Ai suka dengan walna melah."
"Memang benar sih warna rambut Seichan itu warna merah."
"Kalau paman suka walna apa?."
"Aku suka warna putih."
"Kenapa?."
"Mungkin karena warna putih itu melambangkan kesucihan, sama seperti Aichan yang masih bersih." Jawab paman Reo sambil mengelus rambutku.
"Benalkah?, tapi bebelapa bibi tetangga okaachan dulu mengatakan kalau Ai ini anak kotol dan tidak pantas hidup didunia." Ucapku sambil menundukan kepalaku, paman Reo sempat kaget mendengar perkataan, dan tiba-tiba saja dia memelukku.
"Jangan dengarkan perkataan mereka, bagiku Aichan seperti kertas putih yang masih suci dan belum ternoda oleh apapun, mereka hanya mengatakan apa yang mereka lihat dari luar bukan dari dalam, jadi apapun komentar jelek dari mereka jangan dengarkan ya." Ucapnya masih memelukku, aku hanya menganggukan kepalaku sebagai jawaban kemudian membalas pelukannya.
~Amazing Grace~
"5 putaran lagi Subaru-san." Perintahku pada Subaru-san, saat ini kami sedang latihan sesuai janjiku dan sekarang Subaru-san sedang berlari mengitari lapangan sebanyak 25 kali dalam waktu 15 menit, jika sampai lebih dari itu aku akan menambah 5 putaran lagi, dan kalian tau sudah 3 kali aku menambah jumlah putaran karena melebihi waktu yang sudah aku berikan, alhasil Subaru-san sudah mengelilingi lapangan sebanyak 40 putaran.
"Baiklah istirahat selama 5 menit." Ucapku setelah Subaru-san berhasil mengitari lapangan dengan tepat waktu, Subaru-san langsung terduduk di lapangan dengan kringat yang bercucuran di dahi dan tubuhnya, bahkan dia sempat hampir muntah karena hal tersebut. Aku segera memberikannya handuk dan meletakannya diatas kepalanya lalu menyerahkan minuman isotonic padanya.
"A-arigato." Ucapnya ketikah menerima minuman itu dariku.
"Baiklah setelah istirahat kita latihan lagi ya." Ucapku sambil tersenyum yang dibalas anggukan kepala olehnya.
Kami kembali melanjutkan latihan hingga sore hari, berterima kasilah pada hari libur karena jika tidak aku tidak akan bisa melatih Subaru-san satu hari penuh. Besoknya aku diundang oleh perusahaan game yang kebetulan karakter desainya adalah aku, untuk menghadiri sebuah acara seperti jumpa fans untuk mempromosikan gamenya. Tapi aku kesana tidak sendirian loh, ada Ema senpai dan juga Yusuke senpai yang ikut keacara tersebut karena ajakan dari Tsubaki-san dan juga Azusa-san. Aku sempat mendengar teriakan-teriakan penonton yang kebanyakan didominasi oleh kaum hawa, begitu ramai dan membuat telingaku sempat berdengung, aku hanya bisa berharap ini cepat selesai dan aku ingin segera pulang.
"Otsukare." Ucap Tsubaki-san.
"Otsukaresama." Ucap Azusa-san sambil bertos dengan botol minuman yang mereka bawa.
"Hei kalian juga seharusnya ikut bersulang." Ucap Tsubaru-san mengerling kearah kami.
"Tapi aku ini orang luarkan?." Ucap Ema senpai.
"Aku tidak keberatan." Ucapku mengambil botol minuman yang berada dimeja, karena kebetulan aku sedang haus.
"Daijoubu Emachan, kau ini adik kami jadi kau cukup punya wewenang disini." Ucap Azusa-san megambil botol teh dan menyerahkannya pada Ema senpai.
"Arigatogozaimashu." Ucap Ema senpai menerima minuman itu.
"Bagaimana tadi apakah kau menikmatinya?." Tanya Azusa-san pada Ema senpai.
"Tadi aku sangat keren kan?." Tanya Tsubaki-san.
"Hai, ini pertama kalinya aku ikut acara seperti ini, karena aku suka game, jadi aku menyukainya." Jawab Ema senpai sambil tersenyum.
"Baguslah kalau begitu." Ucap Azusa-san.
"Ngomong-ngomong kapan tanggal peluncurannya?."
"Peluncurannya masih tahun depan kok Ema senpai, game ini dibuat 3D jadi akan memakan waktu yang cukup lama, kau bisa bertanya pada Natsume-san untuk detailnya." Jawabku sambil duduk dikursi samping Tsubaki-san.
"Natsume-san?."
"Ya dia salah satu staff perusahaan gamenya."
"Oh ya bagaimana kalau aku suruh dia mengirimimu CD ROM yang masih dalam tahap pengembangan." Ucap Tsubaki-san.
"Be-benarkah?."
"Serahkan saja padaku." Ucap Tsubaki-san sambil tersenyum yang sempat membuat Ema senpai merona.
"Ehem, ano aku masih disini loh." Ucap Yusuke senpai yang sejak tadi berada dibelakang Ema senpai.
"Ah kau masih disini ya?." Ledek Tsubaki-san pada Yusuke senpai.
"Tunggu, kau bersulang hanya dengan air dan teh?." Tanya Yusuke senpai sambil melirik botol minuman yang tergeletak dimeja.
"Lagipula masih ada sesi sore." Jawab Azusa-san sambil melempar botol teh pada Yusuke senpai yang dapat diterimanya dengan baik.
"Terlebih lagi nanti ada audisi penting jadi kita tidak bisa minum sake." Lanjut Tsubaki-san.
"Audisi penting?." Tanyaku.
"Ya tapi ini masih rahasia jadi aku tidak bisa memberi tahumu detailnya, seri anime terbaru yang memotivasi kami menjadi seiyuu, pembuatannya sudah ditetapkan jadi diadakan audisi untuk pemeran utama." Jelas Tsubaki-san.
"Sebenarnya ini untuk Tsubaki." Lanjut Azusa-san.
"Akulah yang memutuskan untuk pertama kali menjadi Seiyuu dan Azusa ikutan jadi Seiyuu gara-gara aku, bukannya itu sama." Ucap Tsubaki-san mengerling kearah Azusa-san.
"Pembuatan anime yang membuat Tsuba-nii ingin menjadi Seiyuu adalah, oh Au-." Ucap Yusuke senpai terputus karena buru-buru dibekap oleh Tsubaki-san.
"Makannya aku memberi tahumu kalau itu rahasia, jangan membicarakannya disekolah sampai pemberitahuannya keluar." Ucap Tsubaki-san pada Yusuke senpai yang dijawab "hai" olehnya.
Trillit…trillit… tiba-tiba saja ponselku berbunyi tanda ada panggilan masuk, akupun mengambil ponsel itu dari tasku, membacanya sebentar sebelum akhirnya mengangkat telpon tersebut.
"Halo Azumi-san ada apa?, bukannya sekarang sudah tidak ada key animation yang kau tugaskan padaku?."
"Ini bukan masalah key animation Aichan, begini kau tau kan kalau kami akan mengerjakan kembali sekuel dari anime yang dulu pernah kami buat?."
"Ya lalu?."
"Kami ingin kau menjadi desain karakternya."
"Heee, aku, cotto biasanya Furin-san yang mengerjakannya?."
"Ya, tapi entah kenapa Furin-san menolak mendesain karakter tersebut karena terlalu berat, dan dia merekomendasikanmu untuk membuatnya."
"Ta-tapi."
"Ayolah Aichan, kau pernah mendesain karakter untuk game bukan?."
"Mendesain karakter 3D dengan 2D itu berbeda Azumi-san."
"Aku mohon, hanya kau satu-satunya yang bisa diharapkan."
"Hah, baiklah-baiklah tidak ada pilihan lain, aku menerimanya."
"Benarkah, yatta, hari ini kau langsung saja ke perusahaan ya, apa perlu aku menjemputmu?."
"Tidak perlu Azumi-san, aku bisa kesana sendiri, kalau begitu aku tutup ya jaa~."
"Jaa~." Dan telpon terputus, aku memandangi sesaat ponsel yang telah padam lalu menghela nafas.
"Doushita Aichan?." Tanya Ema senpai padaku.
"Iie nandemonai, sepertinya aku tidak bisa lama-lama disini." Ucapku sambil berdiri dari posisi dudukku.
"Eh kenapa Aichan?." Tanya Tsubaki-san menampilakan wajah kecewa.
"Aku ada urusan sebentar Tsubaki-san jadi aku permisi dulu ya." Ucapku membungkukkan sedikit badanku kemudian mulai melangkahkan kaki keluar dari gedung tersebut menuju perusahan Mayuzumi yang lumayan jauh, soalnya aku harus menaiki bus untuk sampai disana. Sesampainya disana aku langsung disambut Azumi-san yang telah berdiri didepan pintu masuk.
"Ah Aichan, syukurlah kau datang." Ucapnya begitu aku berada didekatnya.
"Ya, beruntunglah aku sedang tidak ada job hari ini Azumi-san, jadi kita langsung saja kepertemuannya."
"Em wakarimashita." Ucap Azumi-san masuk kedalam gedung diikuti olehku yang mengekor dibelakangnya menuju ruang yang digunakan untuk pertemuan.
Disana aku melihat produser dan beberapa jajaran staff lainnya yang sudah duduk manis disana, aku mengambil tempat duduk didepan mereka dan kami mulai mendiskusikan desai karakter seperti apa yang mereka inginkan, mulai dari karakter hero sampai heroinya juga karakter sampingannya, aku bahkan sampai menghabiskan beberapa lembar kertas untuk menggambar contoh yang diinginkan dan mencatat beberapa poin di buku catatanku, dan diskusi panjang ini berlanjut sampai malam hari, kami memutuskan untuk menyudahi diskusinya begitu menemukan gambar karakter mana yang cocok untuk dibuat bergerak dalam anime. Aku keluar dari ruangan tersebut dan terkejut begitu mendapati seseorang sedang berdiri disamping pintu masuk.
"Pa-paman Chi." Ucapku menunjuk kearah pria yang dua tahun lebih tua dari papa, bersurai abu-abu dan berwajah datar seperti paman Tetsu, salah satu paman favoritku.
"Kalian sudah selesai diskusinya?." Tanyanya padaku.
"Hai, hisashiburi paman, aku merindukanmu loh." Jawabku kemudian memeluknya dan dia juga membalas pelukanku.
"Ya aku juga merindukanmu, bagaimana kabar papamu?." Tanyanya sambil mengelus rambutku.
"Baik, paman sendiri?."
"Ya seperti yang kau lihat, bagaimana kalau kita makan malam diluar, aku yakin kau pasti belum makan." Usulnya melepas pelukannya padaku dan menatapku.
"Em tentu saja, ayo." Ucapku sambil memeluk lengan paman Chi, kami keluar dari gedung menuju restoran tak jauh dari gedung perusahaan Mayuzumi, oh ya aku sempat menelpon Ema senpai dan mengatakan kalau aku akan makan malam diluar. Paman Chi memesan meja untuk dua orang, baru setelah kami dapat tempat duduk paman mulai memesan makanan, ya termasuk aku juga.
"Oh ya Aichan, maaf ya sepertinya kami merepotkanmu lagi." Ucap paman begitu pesanan kami sudah datang.
"Iie daijoubu, aku sudah bilang pada paman kan kalau aku akan membantumu ketikah dibutuhkan, jadi kau tidak perlu merasa bersalah paman." Ucapku tersenyum kearah paman Chi.
"Kau tidak pernah berubah ya Ai." Ucap paman tersenyum sambil mengelus kepalaku.
"Hehehe paman juga." Ucapku tersenyum manis kearahnya.
"Lebih baik kita makan sekarang saja nanti keburu dingin."
"Hai."
Kami mulai memakan makanan kami sambil sesekali ngobrol, aku bercerita tentang aku yang tinggal di mansion Miwa-san serta bertemu dengan semua anak-anaknya yang berjumlah 14 orang dan semuanya laki-laki dan ada satu anak perempuan yang sempat membuat paman Chi sweetdrop, aku juga bercerita tentang beberapa pengalamanku selama disana, tanpa kami sadari hari sudah semakin malam. Paman Chi mengantarku pulang sampai didepan mansion dan sempat melambaikan tangan padaku sebelum akhirnya dia pulang kerumahnya, sedangkan aku masuk kedalam kamarku dan memutuskan untuk tidur karena badanku cukup lelah.
To Be Continue
Tidak usah banya bicara lagi saya akan menjawab Review yang sudah masuk…
Rizuki Sakura Kuroko: Eh ini cerita romance ya?. #plak#
(Ai: Apaan sih Author-san, jelas-jelas genrenya Romance -.-)
Hehehe gomen-gomen saya hanya bercanda, kalau hal itu nanti bisa anda lihat sendiri di chapter-chapter berikutnya, soalnya saya tidak mau spoiler di sini, hihihihi ;)
ashidaakane7: Awalnya mungkin akan di setting seperti itu, tapi untuk selanjutnya saya tidak tau, silahkan diikuti saja cerita ini :D
Terus ikuti cerita ini dan jangan lupa Review Please…!.
See You Next Conflict 5: Patah hati?
