"Anaknya Akachin ya." Ucap paman berbadan besar yang sangat tinggi bahkan mungkin lebih tinggi dari paman-paman yang berada disekitarku, paman ini bersurai ungu.
"Ka-kawaii." Ucap bibi bersurai pink yang menatapku dengan mata berbinar-binar.
"Benar dia lucu sekali-ssu, ne ne bolehkah aku memelukmu Aicchi?." Pinta paman bersurai kuning yang juga menatapku dengan mata berbinar-binar, aku hanya menganggukan kepalaku dan paman itu langsung memelukku dengan sangat erat.
"Kyaa kau lucu sekali-ssu, lebih baik kau jadi anakku saja-ssu." Ucapnya masih memelukku dengan sangat erat.
"Pa-paman sesak."
"Woi Kise jangan memeluknya seperti itu, kau bisa membunuhnya." Omel paman bersurai hitam jabrik sambil menjitak kepala paman kuning.
"Hidoi-ssu, aku tidak akan membunuhnya Kasamatsu senpai."
"Ryota jika kau tidak melepaskan pelukanmu dari Aichan, aku pastikan namamu akan tertulis dalam batu nisan sekarang juga." Ancam papa sambil menyeringai yang sontak membuat paman kuning melepaskan pelukannya padaku, aku langsung berlari menuju paman bersurai baby blue yang berdiri tak jauh dari tempatku dan bersembunyi dibelakangnya, sedangkan dia yang melihatku seperti itu hanya tersenyum lalu berjongkok didepanku dan mengelus suraiku.
"Daijoubu aku tidak akan membiarkan paman kuning itu memelukmu seperti tadi, dia pasti membuatmu takutkan?." Tanya paman itu yang sempat mendapat ucapan protes dari paman kuning dan sebuah anggukan kepala dariku. Paman itu menggendongku dan memperkenalkan paman-paman yang berada disekelilingku.
"Biar aku memperkenalkan mereka, dimulai dariku, namaku Kuroko Tetsuya, kau bisa memanggilku apa saja." Ucapnya sambil tersenyum.
"Lalu paman yang bersurai kuning tadi, namanya Kise Ryota, disebelahnya adalah Kasamatsu Yukio, lalu yang bersurai biru itu Aomine Daiki dan wanita yang bersurai pink itu Momoi Satsuki, yang bersurai hijau itu Midorima Shintarou, disebelahnya Takao Kazunari, lalu yang bersurai ungu itu Murasakibara Atsusi dan disebelahnya Himuro Tatsuya, lalu paman bersurai merah kehitaman itu Kagami Taiga." Ucap paman Tetsu memperkenalkan teman-temannya padaku dan aku cukup terpesona dengan pemuda yang berada disamping paman Atsu. Tatsuya mendekat kearahku kemudian mengelus rambutku.
"Yoroshiku ne Aichan." Ucapnya sambil tersenyum kearahku yang aku balas dengan anggukan kepala dan wajah bersemu merah.
Ne Tatsuya, aku harap aku dapat bertemu lagi denganmu, dan saat itu terjadi aku ingin menyampaikan perasaanku padamu.
BROTHER CONFLICT © Bukan Milik Saya
CROSSOVER: KUROKO NO BASUKE © FUJIMAKI TADATOSHI
AMAZING GRACE © SHERRYSAKURA99
.
WARNING: OC, OOC (mungkin), Crossover, jika ada yang kurang mengerti jalan ceritanya atau banyak kesalahan Typo mohon di maklumi, cerita mengikuti alur anime Brother Conflict dengan tambahan dari saya.
Genre: Romance, Friendship, Humor (mungkin, walau humornya agak garing), Hurt/Comfort
Rate:T
Conflict 5: Patah hati?
'Tik…tik…tik' Oke sudah lebih dari dua jam aku berkutat dengan manga yang sedang aku kerjakan, dan aku masih belum mendapat adegan yang bagus. Saat ini aku kebingungan dengan adegan dimana sang heroin sedang memakai baju maid dan berhadapan dengan sang hero.
'Apa yang akan dia lakukan ketikah melihat seorang wanita berpakaian maid?, jika prediksiku, mungkin sang hero akan menggodanya dan memujinya bahwa dia cantik, lalu sang rival Fuu datang dan mengejeknya yang membuatnya jengkel setelah itu sang hero akan memarahi Fuu karena sudah menjelek-jelekkan sang heroin, sepertinya itu bagus, tapi baju maid seperti apa ya yang cocok untuk heroin?, sebentar sepertinya aku punya satu dialmari.' Pikirku mendekat kearah almari yang tak jauh dari tempatku dan mengambil baju maid yang sempat aku beli, bukan karena aku ingin menjadi maid, kebetulan waktu itu aku membuat adegan dimana ada seorang maid yang imut melebihi majikannya sedang bertugas, karena itu aku membeli satu set pakaian maid untuk dijadikan refrensi. Aku memperhatikan baik-baik baju itu mempertimbangkan apakah cocok untuk dipakai sang heroin atau tidak.
"Sepertinya terlalu imut, mungkin kalau pita bagian belakang dihilangkan lalu roknya sedikit dipanjangkan dan rambutnya diikat, Yutsuko pasti tampak lebih dewasa." Gumanku mengembalikan pakaian tadi ketempat asalnya dan kembali mengerjakan mangaku, sampai akhirnya aku kembali menemukan jalan buntu.
"Hah sepertinya aku terlalu banyak berpikir, lebih baik aku jalan-jalan dulu saja." Gumanku mulai beranjak dari kursiku, tapi sebelum aku keluar kamar, sebuah suara melewati gendang telingaku, membuatku mengalihkan pandanganku pada sumber suara yaitu ponselku, segera aku menyambar ponselku setelah membaca namanya sebentar lalu mengangkat telponnya.
"Ya Azumi-san?."
"Ah Aichan aku sekarang ada didepan mansion, bisakah kau menemuiku?."
"Tentu sebentar ya." Ucapku menutup telepon itu lalu bergegas pergi menemui Azumi-san yang sudah menungguku dibawah. Sesampainya disana, aku melihat Azumi-san dengan pakaian rapi (karena dia sedang bekerja) sedang menyender ke pintu mobilnya.
"Azumi-san." Sapaku padanya yang langsung mendapat perhatian darinya.
"Ah Aichan." Jawabnya tersenyum padaku.
"Jadi ada apa?."
"Begini kantouku sudah menyelesaikan story board chapter satu dan karena kau yang mengerjakan karakter utamanya jadi aku ingin menyerahkan story boardnya padamu." Ucapnya sambil menyerahkan map coklat padaku.
"Baiklah, berapa adegan yang harus kukerjakan."
"Untuk chapter satu ini mungkin sekitar 50 adegan."
"Hee majide?."
"Hai."
"Hah sepertinya aku harus bekerja keras."
"Hehehe oh ya ada oleh-oleh dari ketua, katanya kau disuruh memakannya." Ucap Azumi-san menyerahkan sebuah kotak berwarna coklat dengan gambar cupcake disana.
"Cupcake?."
"Emm beliau bilang kalau ini kesukaan Aichan."
"Souka tolong ucapkan tanda terima kasihku untuk paman Chi ya."
"Hai, kalau begitu aku permisi dulu ya, jaa ne Aichan."
"Jaa Azumi-san." Dan dengan begitu Azumi-san pergi meninggalkan Sunrise Recident, sedangkan aku kembali masuk kedalam, tapi kuurungkan niatku begitu melihat Tsubaki-san keluar dari mansion dengan wajah yang sulit diartikan, disusul dengan Azusa-san yang mengejarnya. Penasaran akupun mengikuti mereka berdua, terlihat mereka sedang bertengkar akan sesuatu dan ini pertama kalinya aku melihat mereka bertengkar, karena biasanya mereka sangat akur mungkin malah terlalu akur. Aku memutuskan untuk menyapa mereka, bukan dalam artian ingin ikut campur sih, hanya penasaran saja.
(Author: Itu sama saja Aichan.)
(Ai: Author-san diam *lempar gunting merah ke Author*)
"Tsubaki-san, Azusa-san." Sapaku sambil tersenyum kearah mereka.
"Eh oh Aichan." Jawab Azusa-san melihat kearahku begitu juga dengan Tsubaki-san, hanya saja dia menjawab dengan senyuman paksa dibibirnya.
"Doushita Tsubaki-san, apa kau sakit?." Tanyaku mendekat kearah Tsubaki-san dan menyentuh keningnya dengan tanganku, tapi dia langsung menarik tanganku menjauh dan menggenggamnya.
"Daijoubu Aichan, aku tidak apa-apa." Jawabnya dengan senyuman yang kembali dipaksakan.
"Apa ada masalah?."
"Iie bukan masalah yang serius kok."
"Aku rasa ini masalah yang serius karena kau bersikap aneh Tsubaki-san." Ucapku kemudian membuka kotak pemberian paman Chi dan mengambil salah satu cupcake rasa coklat lalu memberikannya pada Tsubaki-san.
"Douzo, aku harap ini bisa membuatmu sedikit baikan." Ucapku masih menyerahkan cup cake itu didepan Tsubaki-san. Sejenak Tsubaki-san hanya memandang cupcake itu sebelum akhirnya menerimanya dengan senyuman yang kembali dia paksakan.
"Arigato Aichan."
"Ya sama-sama."
"Ngomong-ngomong Aichan sedang apa disini?." Tanya Azusa-san padaku.
"Oh Azumi-san menyerahkan story board padaku, soalnya aku kebagian menjadi desain karakter dan juga menggambar pemeran utama."
"Souka, jadi anime apa yang sedang kau kerjakan?." Tanya Tsubaki-san.
"Kalian lihat saja sendiri?." Jawabku menyerahkan amplop coklat itu pada Azusa-san, dia membuka amplop itu dan membaca judul yang terterah di story boardnya, seketikah mereka berdua melebarkan kedua matanya.
"I-inikan anime yang juga kami ikuti audisinya." Ucap Azusa-san sedikit berteriak.
"Eh masakah anime yang kalian maksud kemarin adalah yang ini?."
"Hai begitulah, sugoine aku tak menyangkah kalau kau menjadi desain karakternya."
"Itu artinya aku akan bekerja sama dengan kalian berdua lagi ya, kalau begitu yoroshikune Tsubaki-san, Azusa-san."
"Iie mungkin kau hanya akan bekerja sama dengan Azusa saja." Ucap Tsubaki-san dengan nada sendu membuatku mengalihkan pandanganku padanya.
"Apa maksudnya Tsubaki-san, masakah?."
"Ya aku gagal dalam audisi, dan Azusa terpilih menjadi seiyuu dari karakter utama." Jawabnya yang lagi-lagi dengan senyum terpaksa.
'Pantas jadi ini yang membuat Tsubaki-san terlihat aneh karena sejak tadi dia diam saja.' Batiku menatap khawatir pada Tsubaki-san.
"Tsubaki-san."
"Kalau begitu aku pergi dulu ya, terima kasih atas cupcakenya Aichan." Ucap Tsubaki-san mulai melangkahkan kakinya meninggalkan aku dan Azusa-san. Awalnya Azusa-san ingin mengejarnya, tapi buru-buru aku cegah dengan menarik lengannya seraya berucap.
"Biarkan saja, Tsubaki-san butuh menenangkan diri dulu, aku yakin kalau dia pasti kecewa, jadi biarkan saja dulu Azusa-san." Azusa-san sempat terdiam tapi dia akhirnya hanya menganggukan kepala dan kami berdua kembali masuk kedalam mansion karena cuaca semakin dingin mengingat ini sudah mulai memasuki musim dingin dan aku tidak memakai jaket.
~Amazing Grace~
Beberapa hari ini aku mulai disibukan dengan pekerjaan, entah itu masalah osis, key animation, manga, latihan Subaru-san, hah semuanya membuat badanku sangat lelah karena terlalu dipaksakan. Oh ya tentang masalah Azusa-san dan Tsubaki-san sudah terselesaikan dua hari yang lalu, sepertinya mereka menyelesaikannya dengan baik-baik dan sebagai seorang pro Tsubaki-san mau menerima kenyataan bahwa dia tidak terpilih sebagai seiyuu pemeran utama dan menyerahkannya pada Azusa-san, lalu ada lagi kejadian yang tidak mengenakan dan membuatku sendiri sedikit bingung tentang hubungan Ema senpai dan Tsubaki-san.
*flashback*
Malam ini aku sama sekali tidak bisa konsentrasi mengerjakan mangaku jadi aku putuskan untuk jalan-jalan sebentar dengan Serafina yang berada dipundak ku. Saat aku akan keluar mansion aku melihat Tsubaki-san sedang berbicara dengan Azusa-san dan juga ada Ema senpai disana. Dari yang aku dengar Tsubaki-san meminta Azusa-san menerima peran itu dan sudah merelahkan dirinya tidak lolos dalam audisi, sepertinya dia juga menyuruh menelpon managernya karena terlihat Azusa-san pergi meninggalkan mereka berdua, lalu Tsubaki-san mengajak Ema senpai pergi kesuatu tempat.
"Ne bagaimana kalau kita mengikutinya miaw." Usul Serafina sambil menyeringai.
"Jangan, tidak baik menguping pembicaraan orang Serafina."
"Oh ayolah, tidakkah kau penasaran miaw?." Jawab Serafina turun dari pundakku dan melangkahkan kaki-kaki kecilnya keluar mansion.
"Kalau kau tidak mau biar aku saja yang mengikuti mereka miaw." Ucap Serafina mulai mengikuti mereka.
"Co-cotto Serafina tunggu." Akupun akhirnya mengikutinya tapi aku kehilangan jejak sewaktu berada di pinggir sungai.
"Mou Serafina ada dimana?." Gumanku sambil melihat sekeliling, tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara seseorang tak jauh dari tempatku berdiri.
"Sejujurnya, aku sudah lelah jadi sedikit frustasi." Ucap suara yang aku kenali adalah suara Tsubaki-san, reflek aku langsung bersembunyi dibalik pohon tak jauh dari Tsubaki-san dan Ema senpai.
"Yang pertama kali menjadi seiyuu adalah aku, aku sering menyemangati Azusa, tapi seiring berjalannya waktu malah dia yang menyemangatiku, sejak dulu memang selalu begitu, Azusa selalu lebih unggul dariku, meski kami lahir dari telur yang sama." Lanjutnya sambil memandang kearah langit, lalu menundukan kepalanya.
"Lagipula Azusa aktingnya lebih baik, aku sudah tau itu, mangkanya penilaianku kali ini memang benar, aku sudah tau itu jadi aku sedikit frustasi." Ucap Tsubaki-san dengan nada yang sendu.
"Tsubaki-san." Ucap Ema senpai menatap Tsubaki-san dengan pandangan khawatir.
"Omong-omong ada yang ingin aku tanyakan?." Tanya Tsubaki-san menghadap ke Ema senpai.
"Barusan kau bilang menyukai suaranya Azusa, kalau aku bagaimana?." Lanjutnya.
"Tentu aku juga menyukai suaranya Tsubaki-san, aku tak tau banyak soal akting tapi, daripada memikirkan siapa yang terbaik, aku lebih ingin Tsubaki-san tetap menjadi Tsubaki-san, pastinya ada peran yang hanya bisa dilakukan Tsubaki-san, karena itu, ah maaf perkataan egois." Belum sempat Ema senpai menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba Tsubaki-san menciumnya tepat dibibirnya. Ema senpai terlihat sangat terkejut mendapat perlakuan seperti itu secara tiba-tiba, begitu juga denganku yang hanya bisa menutup mulutku dengan tangan kananku melihat adegan tersebut. Tsubaki-san melepaskan ciuman mereka dan kembali menatap Ema senpai.
"Maaf, tapi kau tahu untuk menghibur laki-laki yang sedang bersedih yang diperlukan hanyalah ciuman dari gadis yang manis." Ucapnya dan sekali lagi mencium Ema senpai, bahkan sepertinya Ema senpai tidak keberatan dicium oleh Tsubaki-san, aku yang melihatnya hanya diam saja dan memandang mereka dengan wajah datar yang merupakan sifat asliku.
"Serafina ayo kita pulang." Ucapku bersiap akan meninggalkan mereka, sedangkan Serafina yang sejak tadi berada diatas pohon yang sama dengan pohon tempatku bersembunyi sedikit terkejut mendapatiku berhasil menemukannya.
"Kau menemukanku miaw, tapi apa kau tidak ingin menghentikan mereka miaw?." Tanya Serafina yang sekarang sedang melompat keatas pundakku.
"Lebih baik jangan diganggu, biarkan saja." Jawabku sambil menyeringai.
"Sepertinya menarik." Lanjutku masih menyeringai, Serafina sempat bergidik melihatku menyeringai seperti itu.
"Kau sangat menakutkan ketikah sifat Akashimu keluar miaw." Komentar Serafina, aku hanya meliriknya sekilas kemudian kembali melanjutkan perjalananku menuju Sunrise Recident.
*end flashback*
'Jadi bisa aku simpulkan bahwa Tsubaki-san menyukai Ema senpai, tapi aku tidak menyangkah dia bisa seagresif itu, iie sejak awal dia memang agresif, tipe-tipe S mungkin.' Batinku sambil melihat kearah daftar sifat saingan sang hero yang bernama Tsun, ya karakternya sifatnya aku ambil dari Tsubaki-san, dan memang diceritanya dia sangat agresif pada sang heroin. Aku menghela nafas, menutup kembali buku catatanku dan menatap kearah langit-langit kamar.
'Sekarang hari minggu bahkan belum menjelang siang, daripada aku stress disini lebih baik aku jalan-jalan saja.' Pikirku mulai beranjak dari tempat dudukku menuju almari dan mengambi jaket berwarna putih disana serta rok berwarna hitam dan stoking berwarna hitam.
"Ayo kita jalan-jalan Serafina." Ajakku pada Serafina yang tidak dijawab olehnya karena dia langsung naik kepundakku.
"Mau jalan-jalan sendirian miaw?, tidakkah sebaiknya mengajak teman miaw?." Tanya Serafina saat aku selesai mengunci kamarku.
"Hmm sepertinya memang lebih bagus kalau mengajak teman, baiklah aku akan lihat diruang tamu, siapa tau aku bisa mengajak seseorang disana." Ucapku yang langsung melangkahkan kakiku menuju ruang tamu. Sesampainya disana, aku melihat Ema senpai, Yusuke senpai, Tsubaki-san dan juga Azusa-san ditambah July sedang ngobrol.
"Are Aichan." Panggil Ema senpai yang menyadari keberadaanku, aku segera mendekatinya sambil tersenyum pokerface.
"Konichiwa."
"Eh Aichan mau pergi?." Tanya Yusuke senpai padaku.
"Hai aku hanya ingin jalan-jalan sebentar, apa kalian mau ikut?." Tawarku pada mereka.
"Boleh, aku ikut ya." Jawab Ema senpai dengan semangat.
"Ah aku juga ikut, kebetulan hari ini aku libur." Jawab Tsubaki-san sambil tersenyum.
"Boleh juga, aku juga ikut." Jawab Azusa-san yang juga ikut tersenyum.
"A-aku juga ikut." Jawab Yusuke senpai sedikit terbata-bata.
"Heee aku pikir kau tidak tertarik dengan jalan-jalan Yusuke." Goda Tsubaki-san yang sukses mendapat protes darinya.
"Baiklah kalau begitu aku tunggu kalian diluar ya." Ucapku meninggalkan mereka berempat yang langsung pergi kekamar masing-masing untuk bersiap-siap.
Tak sampai 15 menit mereka sudah datang menghampiriku, Ema senpai mengenakan jaket berwarna merah sama seperti jaket milik Yusuke senpai, sedangkan Tsubaki-san mengenakan jaket berwarna coklat dan Azusa-san mengenakan jaket berwarna hitam. Kami akhirnya pergi meninggalkan Sunrise Recident menuju pusat pertokohan, disana jalanan penuh dengan hiasan natal karena ya sebentar lagi natal lebih tepatnya sih dua hari lagi. Aku melihat beberapa toko dan sekali-kali melihat aksesoris yang dipajang disana, siapa tau bisa dijadikan refrensi, kami juga berbelanja pakaian dan beberapa hiasan pohon natal, sampai akhirnya mataku menangkap sosok bersurai orange terang yang aku yakini adalah Natsume-san baru saja keluar dari salah satu cafe, aku memutuskan untuk mendekat kearahnya sekedar untuk menyapanya.
"Natsume-san." Sapaku ketikah aku sampai didekatnya begitu juga dengan yang lainnya.
"Eh Aichan dan kalian sedang apa disini?." Tanyanya dengan wajah sedikit terkejut.
"Ale Natsume, kami hanya sedang jalan-jalan, kau sendiri?." Tanya Tsubaki-san.
"Ya aku juga sedang jalan-jalan mumpung hari ini libur." Jawabnya.
"Ah bagaimana kalau Natsume-san ikut saja jalan-jalan bersama kami, daripada jalan sendirian lebih baik jalan bersama-sama kan?." Usulku.
"Boleh juga, lebih baik kau ikut kami saja Natsume." Ucap Azusa-san sambil tersenyum.
"Baiklah sepertinya tidak ada pilihan lain, aku ikut." Jawabnya dan kami mulai melanjutkan perjalanan kami.
Sepanjang perjalanan, aku banyak mengobrol bersama Nantsume-san, dia juga bercerita tentang bosnya yaitu salah satu teman papa yang merupakan pamanku Mibuci Reo, dia bilang kalau paman Reo sempat mengomelinya akibat kurang istirahat dan terlalu memaksakan diri untuk bekerja, sedangkan aku hanya terkekeh mendengar cerita Natsume-san karena ya paman Reo itu paling cerewet kalau sudah mengkhawatirkan orang lain, dia itu bisa bersikap sangat keibuan bahkan pada papa sekalipun. Pernah aku sempat mengira dia itu perempuan loh, habisnya dia sangat cantik dan terlalu lembut untuk ukuran laki-laki, aku sempat bertanya pada papa dan paman Chi, mereka yang mendengar pertanyaan polosku itu hanya bisa berusaha menahan tawa dan papa akhirnya menjelaskan kalau paman Reo itu laki-laki tulen, walau aku masih belum yakin dia itu beneran laki-laki tulen atau tidak. Aku yang sibuk mengobrol dengan Natsume-san tidak menyadari ada seseorang didepanku yang akhirnya akupun menabraknya sampai jatuh terduduk ditanah.
"Ittai." Ringisku.
"Daijoubu?." Ucap seseorang yang kutabrak sambil mengulurkan tangannya, tu-tungu sebentar sepertinya aku kenal dengan suara ini, suara yang sangat aku rindukan, sontak aku langsung mendongkakkan wajahku menghadap kearahnya dan terkejut mengetahui siapa orang yang tadi aku tabrak.
"Tatsuya-san." Ucapku kaget melihat pria bersurai hitam yang hampir mirip seperti Azusa-san karena poninya menutupi mata kirinya, hanya saja dia tidak mengenakan kaca mata, ya dia adalah Himuro Tatsuya teman dari paman Atsu dan orang yang selama ini aku sukai. Dia juga sepertinya kaget melihatku.
"Aichan, kau Aichan kan?." Tanyanya membantuku berdiri dari posisi jatuhku.
"Hai ini aku Tatsuya-san, hisashiburi." Ucapku sedikit membungkukkan tubuhku.
"Hisashiburi Aichan." Ucap Tatsuya sambil tersenyum kearahku.
"Aichan kau tidak apa-apa?." Tanya Azusa-san dengan pandangan khawatir begitu juga dengan yang lain.
"Daijoubu desu, aku tidak apa-apa kok." Jawabku sambil tersenyum, dan mereka sempat kaget melihat Tatsuya yang berada disebelahku.
"Ah apa mereka teman-temanmu?." Tanya Tatsuya mengerling kearah mereka berlima.
"Ya biar aku perkenalkan, yang bersurai orange itu Asahina Natsume, lalu yang bersurai merah Asahina Yusuke, disebelahnya Asahina Ema, lalu yang bersurai putih itu Asahina Tsubaki, dan yang mirip denganmu itu Asahina Azusa." Jawabku memperkenalkan mereka.
"Perkenalkan namaku Himuro Tatsuya, yoroshiku." Ucap Tatsuya memperkenalkan dirinya sambil tersenyum kearah mereka, sejenak mereka diam memperhatikan Tatsuya lalu Azusa-san dan ke Tatsuya lagi begitu seterusnya selama beberapa detik seperti sedang membandingkan mereka. Aku hanya terkekeh pelan melihat kelakuan mereka.
"Kan sudah aku bilang kalau Azusa-san mirip dengan Tatsuya, apalagi kalau kacamatanya dilepas." Ucapku mendekat kearah Azusa-san dan melepas kacamatanya.
"Be-benar-benar mirip ya." Komentar Yusuke senpai sedikit sweetdrop.
"Ya kecuali dibagian mata." Komentar Natsume-san.
"Mereka seperti saudara kembar ya." Komentar Ema senpai yang langsung mendapat tatapan tidak suka dari Tsubaki-san.
"Tidak boleh, Azusa itu saudara kembarku, aku tidak akan menyerahkannya pada siapapun." Ucapnya sambil memeluk leher Azusa-san dan merengek seperti anak kecil yang tidak mau direbut mainannya, tentu saja hal itu membuat kami semua sweetdrop. Aku menyerahkan kembali kacamata milik Azusa-san dan mendekat kearah Tatsuya.
"Oh ya sedang apa Tatsuya-san disini?, bukannya seharusnya kau masih di Amerika ya?."
"Ah aku sedang ada urusan disini, kalau Aichan sendiri?, bukanya kau seharusnya di Kyoto?, tidak biasanya Aichan tidak ditemani Akashi-kun?."
"Mulai sekarang aku tinggal di Tokyo, sedangkan papa dia masih ada di Kyoto dan aku yakin sekarang dia sedang berkutat dengan pekerjaannya." Jawabku sambil meletakan jari telunjukku dipipi dan memiringkan sedikit kepalaku.
"Hehehe dia pasti sangat sibuk." Ucap Tatsuya sambil mengelus rambutku, wajahku sempat merona akibat perlakuan Tatsuya, tapi cepat-cepat aku menghilangkan rona diwajahku dan tersenyum kearahnya.
"Oh ya bagaimana kalau kita makan dulu sambil ngobrol, ada banyak hal yang aku ingin ceritakan padamu." Usulku sambil memeluk lengan kanan Tatsuya.
"Boleh saja, kabetulan aku lapar dan aku juga ingin sekali mendengar ceritamu." Jawab Tatsuya tersenyum kearahku. Kami bertujuh akhirnya mampir ke Maji Burger dan memesan beberapa makanan, setelah itu kami segera mencari tempat duduk yang cukup untuk tujuh orang. Aku banyak bercerita pada Tatsuya tentang beberapa pengalamanku, mulai dari yang menyebalkan sampai yang menyenangkan, sedangkan dia hanya tersenyum dan tertawa mendengar ceritaku, sesekali dia juga menanggapinya, ah pokoknya aku begitu bahagia bisa bertemu kembali dengannya. Andai waktu bisa berhenti berputar pada saat ini, aku ingin seperti ini saja, duduk disebelahnya, mengobrol dan membagi pengalaman, ah aku benar-benar menyukainya, iie aku mencintainya, sangat mencintainya.
*Normal Pov*
Sementara Ai dan Himuro sedang mengobrol, mereka berlima ditambah dengan July dan Serafina hanya bisa melihat mereka mengobrol tanpa ingin mengintruksinya. Azusa yang menyadari ekspresi tidak biasa Ai sedikit terkejut, karena tidak biasanya dia bisa menjadi periang seperti ini.
"Aichan terlihat sangat bahagia ya." Komentar Ema sambil tersenyum.
"Ya mungkin karena orang itu adalah orang yang disukainya." Jawab Nantsume sambil menyesap kopi miliknya, sontak jawaban Nantsume membuat mereka semua kaget.
"Be-benarkah dia orang yang disukai oleh Aichan?." Tanya Yusuke dengan wajah masih terkejut.
"Ya dia pernah bercerita kalau dia menyukai seseorang yang sekarang tinggal di Amerika yang bernama Himuro Tatsuya, dia juga menunjukan fotonya padaku dan foto itu mirip dengannya." Jawab Natsume.
"Souka, tapi entah kenapa aku senang melihat Aichan bisa tertawa seperti itu, jarang-jarang loh bisa melihat ekspresi itu dari Aichan." Komentar Tsubaki, sedangkan Azusa hanya diam saja melihat kearah mereka berdua, entah kenapa ada perasaan tidak suka saat melihat mereka berdua bercanda bersama.
'Ada apa denganku, kenapa aku tidak suka melihat Aichan tertawa seperti itu padanya.' Batin Azusa bingung dengan perasaannya sendiri. Setelah semua makanan habis, mereka mulai meninggalkan Maji Burger, tiba-tiba saja Ai memegang lengan Himuro sambil menundukan kepalanya.
"Ta-Tatsuya-san ada yang ingin aku katakan padamu." Ucap Ai sedikit gugup.
"Tentu tapi sebelum itu ada sesuatu yang ingin aku berikan padamu mumpung kau ada disini." Ucapnya sambil merogoh tas hitam miliknya dan reflex Ai melepas pegangannya pada lengan Himuro dan menatapnya dengan pandangan bertanya-tanya. Setelah mendapatkan apa yang dia cari, Himuro segera memberikannya pada Ai yang ternyata itu adalah sebuah undangan pernikahan, tertulis disana nama Himuro Tatsuya dengan Kawaguchi Ayumi. Ai sempat diam beberapa saat mencoba mencerna benda yang diberikan Himuro padanya sebelum akhirnya menerima undangan tersebut.
"Sebenarnya aku akan menikah bulan depan, alasan kenapa aku sekarang berada di Jepang karena ingin menyebarkan undangannya." Ucap Himuro sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, Ai hanya diam saja mendengar perkataan Himuro sedangkan keenam kepala bersurai warna-warni dibelakangnya sempat kaget mendengar kabar dari Himuro dan sekarang mereka khawatir pada Ai karena dia hanya diam saja, mereka pikir Ai pasti syok dengan perkataan Himuro. Himuro yang menyadari Ai diam saja mulai menggerak-gerakkan tangannya didepan wajah Ai.
"Aichan kau tidak apa-apa?." Tanya Himuro sedikit khawatir.
"Kenapa?." Tanya Ai masih menundukan kepalanya.
"Eh?."
"Kenapa kau tidak memberi tahunya padaku, mou Tatsuya-san jahat, seharusnya kau memberi tahuku lebih dulu supaya aku bisa membantumu." Lanjutnya sambil menggembungkan pipinya, membuat mereka semua lega karena sepertinya Ai tidak terlalu memikirkan soal pernikahan Himuro kecuali Serafina yang memandang sendu kearah Ai karena dia tahu, Ai sedang memasang poker face miliknya, dan dia tau sebenarnya Ai sangat syok saat ini.
"Eh aku tidak tau kalau kau tertarik dengan hal ini, maaf-maaf baru bisa memberi tahumu sekarang." Ucap Himuro sambil mengelus surai milik Ai.
"Huh, baiklah aku pastikan papa dan aku akan datang Tatsuya-san, iie paman Tatsuya." Ucap Ai tersenyum poker face.
"Selamat ya atas pernikahannya, aku harap paman Tatsuya bahagia dengan pasanganmu." Lanjut Ai sambil menggenggam tangan Himuro, sedangkan Himuro hanya tersenyum menanggapi perkataan Ai.
"Aku pegang janjimu, baiklah kalau begitu aku pergi dulu ya, masih banyak undangan yang harus aku sebar, lain kali aku ajak Ayumi bertemu denganmu, dia pasti akan sangat senang."
"Em tentu saja."
"Jaa Aichan, kalian juga." Ucap Himuro mulai meninggalkan mereka semua dan sempat melambaikan tangan pada mereka. Setelah Himuro tak terlihat lagi dari pandangan mereka, Ai segera memasukan undangan itu dalam tas dan menghadap kearah mereka yang masih memandang Ai khawatir.
"Kenapa kalian menatapku seperti itu?." Tanya Ai mengangkat sebelah alisnya.
"Daijoubukah Aichan?." Tanya Ema.
"Aku tidak apa-apa kok senpai, lihat aku sehat-sehat saja."
"Bukan itu maksud Emachan, yang dia maksud adalah tentang Himuro-san, bukankah kau menyukainya?." Tanya Tsubaki.
"Iie daijoubu-daijoubu, justru aku bahagia karena dia akhirnya menikah, aku hanya sedih memikirkan papa yang belum juga memutuskan untuk menikah padahal teman-temannya sudah banyak yang menikah." Ucap Ai sambil menghela nafas.
"Lebih baik sekarang kita pulang, sebentar lagi kan makan malam, lagipula aku masih ada kerjaan nih." Usul Ai sambil menatap jam yang ada dipergelangan tangan kirinya, mereka hanya menjawab dengan anggukan kepala dan pulang sambil mengobrol banyak hal, sayangnya mereka harus berpisah dengan Natsume karena dia pulang ke apartemennya. Sesampainya di Sunrise Recidence, Ai berpamitan agar tidak diganggu dengan alasan mau mengerjakan key animation. Dikamar, Ai langsung mengunci pintu luar dan dalam lalu terduduk dilantai sambil memeluk lututnya menangis dalam diam.
*Ai Pov*
Aku memeluk lututku dan menangis dalam diam, aku masih tidak percaya kalau Tetsuya akan menikah, padahal aku tadi berencana menyatakan cinta padanya, apa ini jawaban dari kami-sama agar aku melupakan Tatsuya, ah sial dadaku benar-benar sakit saat ini, bahkan air mata yang sejak tadi aku tahan kini mengalir dengan derasnya tanpa bisa dihentikan, aku benar-benar menyedihkan. Serafina yang mengerti akan kesedihanku, mulai menggosok-gosokkan kepalanya dikakiku mencoba menenangkanku tapi sepertinya tidak berhasil, malah aku semakin keras menangis. Aku mulai beranjak dari posisi dudukku menuju ranjangku dan melanjutkan acara menangisku sampai akhirnya aku tertidur.
~Amazing Grace~
Aku terbangun dimalam hari dan melirik jam digitalku yang menujukan pukul 11 malam, ah sudah berapa jam aku tertidur, rasanya sudah cukup lama aku menangis bahkan sepertinya dalam tidurku juga aku sempat menangis. Aku memutuskan untuk mengganti pakaianku dengan piyama berwarna merah, lalu melihat kearah jendela.
'Rasanya aku ingin jalan-jalan sebentar.' Pikirku mengambil sweterku dan pergi keluar mansion menuju ke pohon besar yang terletak didepan mansion dan sedang tidak berbunga karena ya ini sudah musim dingin. Aku duduk dibawah pohon itu lalu mengadakan wajahku keatas, niatnya sih ingin melihat bintang-bintang tapi urung kulakukan karena melihat awan hampir menutupi seluruh Tokyo dan entah kenapa cuaca hari ini lebih dingin dari biasanya, tapi aku tidak peduli bahkan aku seperti sudah mati rasa dengan udara sedingin ini. Tiba-tiba saja benda putih turun perlahan-lahan dari awan, menciptakan sensasi dingin ketikah menyentuh wajahku, semakin lama-semakin banyak jumlahnya dan hampir tak terhitung, ah aku jadi ingat waku itu papa pertama kali menemukanku tergeletak ditengah-tengah dinginnya salju, aku yang hampir mati terkena hipotermia masih dapat diselamatkan oleh papa dan sejak saat itu beliau merawatku, mengangkatku menjadi anaknya dan mengajariku banyak hal, menjadi keluarga Akashi seutuhnya, dan beliau selalu berkata padaku.
"Sebagai seorang keluarga Akashi kau tidak boleh menunjukan kelemahanmu didepan orang lain."
Ya begitulah, sampai sekarang aku masih memegang prinsip itu. Tapi untuk saat ini aku benar-benar lemah, hatiku sudah hancur berkeping-keping bahkan aku tak lagi memakai poker face andalanku, yang terlihat hanyalah wajah sendu dan menyedihkan terpancar dari wajahku. Ah tidak aku jadi mengingat kejadian tadi dan itu membuatku kembali mengeluarkan air mataku yang seolah tidak ada habisnya, baru kali ini setelah sekian lama aku tidak pernah menangis, terakhir kali aku menangis saat kakek memarahi papa dan saat okaasan membuangku, sekarang lihatlah aku, aku benar-benar seperti orang aneh.
"Khh, Tatsuya baka." Gumanku disela-sela tangisku, aku menundukan kepalaku berharap agar salju yang turun dapat mendinginkan kepalaku dan setidaknya membuatku lupa akan kejadian tadi, sampai akhirnya aku merasa ada seseorang yang mendekatiku dan berjongkok didepaku.
"Aichan, sedang apa kau disini?." Tanya seseorang itu dengan nada khawatir sambil memegang kedua bahuku, aku melihat kearahnya sekilas dan sedikit terkejut mendapati salah satu keluarga Asahina disana.
"A…zu…sa-san." Gumanku sebelum akhirnya kegelapan menguasaiku.
To Be Continue
Author: *membaca kembali cerita* Hahaha kayaknya dicerita ini terlalu banyak drama ya, dan poor Aichan karena ditinggal menikah oleh Tachan.
Ai: *lempar pisau ke Author* AUTHOR.
Author: *menghindar* Hahaha…rasa-rasanya saya membuat character Aichan jadi penyuka om-om ya, soalnya kan Aichan disini masih umur 15th.
Azusa: Hoo jadi kau menyebutku om-om ya.
Author: Hee padahal aku tidak mengatakan loh Aichan menyukai anda.
Azusa: Hah mati aja sana.
Tsubaki: *specless* A-Azusa kau kerasukan apa.
Azusa: Kebanyakan bacot lu Tsubaki.
Masaomi: Azusa bahasanya.
Natsume: Azusa kau mulai ooc (=.=)
Author: Sudahlah-sudahlah jangan bertengkar hanya karena merebutkan saya (Asahina: siapa juga yang ngerebutin lo) lebih baik kita jawab review, special chapter ini dan besok para Asahina Brother termasuk Emachan dan Julychan yang akan menjawab Review.
Ema: E-eehh aku juga Author-san.
Author: Tentu saja Emachan, jadi silahkan tanyakan sesuatu pada mereka, ocnya juga boleh kok, saa mari kita langsung jawab Review dimulai dari Masaomi-san.
Masaomi: hai, ini dari ashidaakane7.
Siapa yang patah hati sudah terjawab oleh Author tadi. Mungkin ini kesempatan bagi keluarga kami untuk mendapatkan hati dari Aichan. Benarkan Aichan?.
Ai: Iya aja deh biar cepat.
Ukyo: Selanjutnya dari Lavender White.
Romancenya kapan muncul?, silahkan tanyakan pada Author yang bergoyang.
Hikaru: Ukyo nii mulai ikut-ikutan ooc (-.-|||).
Subaru: Ya aku sependapat (-.-|||).
Ukyo: Hahaha maaf-maaf, baiklah saya baru mendapat kertas naskahnya dari Author-san dan dia menjawab kalau itu ditunggu saja karena akan ada prosesnya nanti, walau saya tidak mengerti apa maksud dari proses disini.
Ema: Ah Author-san menyuruhku untuk menutupnya, haruskah ditutup sekarang?.
Kaname: Tentu saja aku tidak keberatan kalau kau yang menutupnya imoutochan \(^o^)/.
Ema: *blushing* eh oh ba-baiklah, kalau begitu terus ikuti cerita ini dan jangan lupa Review Please…!.
See You Next Conflict 6: Natal dan Tahun Baru?
