"Ne paman Tetsuya milip sepelti paman Chi ya, suka menghilang dan muncul secala tiba-tiba."Komentarku saat aku berlatih basket dengan teman-teman papa.
"Itu karena mereka sama-sama punya misdirection Ai."Jawab papa sambil mengelus rambutku.
"Missdi apa, apa itu papa?."
"Itu kemampuan dimana mereka yang memiliki misdirection mempunyai hawa keberadaan yang tipis dan membuat mereka sulit dilacak."Jawab paman Chi yang sekarang berada disampingku begitu juga dengan paman Tetsuya yang berada disebelahnya.
"Wah sugoine, belalti kalian bisa menjadi sepelti ninja dong, ne ne bisahkah Ai memiliki kemampuan itu?."Tanyaku dengan mata berbinar-binar pada mereka berdua, sedangkan mereka hanya saling berpandangan sebelum akhirnya tersenyum, lalu paman Tetsuya mengelus rambutku.
"Kenapa Aichan ingin punya misdirection?."Tanya paman Tetsuya masih mengelus rambutku.
"Habisnya okaasan pelnah bilang kalau lebih baik Ai hilang saja dali pandangan okaasan, jadi dia tidak pellu melihat Ai lagi."Jawabku sambil menundukan kepala, ah aku jadi mengingat kejadian dimana saat aku yang tidak sengaja menyenggol tas miliknya dan dia langsung memarahiku, mengatakan kalau aku itu hanya pengganggu dan lebih baik aku menghilang agar dia tidak perlu lagi melihatku, paman Tetsuya yang mendengar hal itu sempat terkejut, bahkan paman-paman yang lainnya juga ikut terkejut begitu juga dengan papa. Paman Tetsuya langsung memelukku lalu mengelus rambutku dengan sayang seraya berucap.
"Kau tidak boleh punya pikiran seperti itu Aichan, mempunyai misdirection atau tidak, aku tidak ingin Aichan menghilang, karena kami semua menyayangimu, jadi jangan dengarkan ucapan okaasanmu dulu, sekarang kau punya kami kan." Aku hanya tersenyum mendengar ucapan paman Tetsuya dan membalas pelukannya serta menjawab "hai"padanya.
Ya punya misdirection atau tidak, mereka akan tetap menyayangiku, karena itu aku akan sebisa mungkin untuk membantu mereka selama aku hidup, karena aku menyayangi mereka semua.
.
BROTHER CONFLICT © Bukan Milik Saya
CROSSOVER: KUROKO NO BASUKE © FUJIMAKI TADATOSHI
AMAZING GRACE © SHERRYSAKURA99
.
WARNING: OC, OOC (mungkin), Crossover, jika ada yang kurang mengerti jalan ceritanya atau banyak kesalahan Typo mohon di maklumi, cerita mengikuti alur anime Brother Conflict dengan tambahan dari saya.
Genre: Romance, Friendship, Humor (mungkin, walau humornya agak garing), Hurt/Comfort
Rate:T
.
Conflict 6: Sakit dan Natal?
.
Aku mencoba membuka mataku yang terasa sangat berat dan entah kenapa badanku juga sangat lemas, ketikah aku membuka mataku sepenuhnya, hal yang pertama kali aku lihat adalah surai hitam milik seseorang dan wajah seseorang yang tepat berada disebelahku.
'Tatsuya?.' Batinku, tapi aku langsung menggeleng cepat dan memperhatikan wajahnya sekali lagi.
'Hah ternyata Azusa-san, aku pikir Tatsuya, tapi sedang apa Azusa-san dikamarku?, tu-tunggu sebentar tadi malam kan aku berada di luar mansion lalu aku bertemu dengan Azusa-san dan sepertinya aku pingsan, setelah itu mungkin Azusa-san membawaku masuk kedalam, lalu kenapa dia tidur disini, sebentar-sebentar kayaknya ini bukan kamarku deh.' Pikirku sambil melihat sekeliling, ya ini bukan kamarku karena kamarku tidak ada poster Azusa-san dan Tsubaki-san, kan dikamarku tidak ada poster sama sekali, lalu tidak ada wangi manis dari parfum aroma terapi yang biasanya aku nyalakan. Tiba-tiba saja Azusa-san terbangun dan langsung melihat kearahku yang sudah bangun lebih dulu.
"Ohayo Aichan." Sapanya padaku.
"O-ohayo A-Azusa-san." Jawabku pelan, aku terkejut mendapati suaraku yang begitu serak dan tidak seperti biasanya.
"Sepertinya kau sakit." Ucap Azusa-san menempelkan keningnya pada keningku membuat wajahku sontak memerah karena hal itu.
"Badanmu panas sekali, lebih baik kau istirahat saja dulu." Pintahnya atau mungkin perintah dari Azusa-san padaku.
"Ka-kalau begitu, a-aku akan kembali kekamarku." Ucapku mencoba untuk duduk tapi tiba-tiba saja badanku oleng dan kembali jauh kekasur, entah kenapa kepalaku sakit sekali seperti dipukul sesuatu.
"Sudahlah kau tidak perlu memaksakan diri, lebih baik kau istirahat saja disini." Ucap Azusa-san turun dari kasur dan memakai kacamatanya lalu menyelimutiku.
"Aku akan menelfon dokter untuk memeriksamu." Lanjutnya mengambil ponsel yang tergeletak dimeja samping tempat tidurnya tapi langsung aku cegah dengan menarik tangan kanannya.
"Ka-kalau Azusa-san ingin memanggil dokter, tolong telfon nomor ini saja." Ucapku, untung saja kemarin aku membawa ponselku yang sepertinya diletakan disampingku. Aku segera mencari nomor telfon salah satu pamanku yang kebetulan seorang dokter dan memberikannya pada Azusa-san.
"Dia dokter kepercayaan papa, dan bi-biasanya dia yang merawatku ketikah aku atau papa sakit." Lanjutku dan akhirnya Azusa-san menelfon dokter itu menyuruhnya untuk datang kemari.
"Dokter bilang kalau dia akan datang ½ jam lagi, kalau begitu aku akan mandi dulu, lebih baik kau istirahat saja dan nanti aku akan minta Ukyo nii membuatkanmu bubur." Ucap Azusa-san sambil mengelus rambutku dan mulai beranjak menuju kamar mandi.
"Azusa-san." Panggilku sebelum dia keluar dari kamar yang membuatnya langsung menoleh padaku.
"A-arigato, untuk semuanya." Lanjutku dengan wajah bersemu merah, Azusa-san sempat terkejut dengan kata-kataku dan aku juga bisa melihat wajahnya sedikit merah, tapi dia langsung tersenyum kearahku.
"Ya sama-sama."
~Amazing Grace~
"40° celcius, dan kau juga terkena gejala typus-nanodayo." Ucap dokter bersurai hijau yang mengenakan kacamata, salah satu pamanku dan juga anggota dari Kiseki No Sedai bernama Midorima Shintarou sedang menatapku tajam yang aku balas dengan cengiran padanya.
"Hah kau harusnya menjaga kesehatanmu-nanodayo, jika papamu sampai tau kau sakit seperti ini dia pasti akan memarahimu." Komentar paman Shin sambil membenarkan letak kacamatanya yang tidak bergeser sama sekali.
"Oh ayolah paman bulan ini sedang sibuk-sibuknya, dan tolong jangan katakan hal ini pada papa ya please." Pintaku sembari mengeluarkan puppy eyes pada paman Shin yang lagi-lagi dijawab dengan helaan nafas.
"Hah baiklah aku tidak akan memberitahukannya pada papamu-nanodayo, tapi bukan berarti aku mau menolongmu, aku hanya kasihan saja melihatmu memelas seperti itu."
"Yey paman Shin baik deh, aku sayang paman Shin." Ucapku menarik lengan kanan paman Shin lalu memeluknya, aku bisa merasakan dia tersenyum dan membalas pelukanku. Setelah memberitahu apa-apa saja yang tidak boleh aku lakukan pada Masaomi-san dan Azusa-san yang sejak tadi ada didalam kamar, paman Shin memberikan resep obatnya dan kembali mendekatiku lalu memberikan dua benda padaku, satunya berupa kotak dibungkus dengan kertas kado berwarna merah juga pita yang berwarna sama dengan kertas kadonya, yang satu lagi adalah sebuah boneka usagi berwarna putih dengan pita merah dilehernya.
"Ini apa paman?." Tanyaku dengan pandangan bertanya-tanya.
"Boneka itu lucy itemmu untuk bulan ini-nanodayo, sedangkan kotak ini hadiah natal karena besok kan natal." Jawab paman Shin yang langsung membuatku sweetdrop dan juga senang, sweetdrop karena kebiasaannya membawa lucy item tidak berubah dan senang karena dia memberikanku kado natal.
"Arigato paman Shin, kapan-kapan aku akan membelikanmu kado juga."
"Tidak usah, lebih baik kau pikirkan kesehatanmu-nanodayo." Jawab paman Shin sambil mengelus rambutku.
"Kalau begitu aku permisi dulu, jika ada apa-apa segera hubungi aku-nanodayo." Ucap paman Shin. Paman Shinpun pergi meninggalkan kamar Azusa-san di antar oleh Masaomi-san, dan jadilah hanya ada aku dan Azusa-san yang berada dikamar.
"A-ano Azusa-san tidak kerja?." Tanyaku pada Azusa-san yang saat ini sedang duduk disamping tempat tidurku sambil membaca naskah mungkin.
"Hari ini aku diberi libur Aichan."
"Souka, kenapa tidak jalan-jalan saja, keluar bersama teman misalnya, atau bersama Tsubaki-san?." Azusa-san menutup naskah yang berada ditangannya kemudian melihat kearahku sambil tersenyum.
"Iie, aku ingin menjaga Aichan disini." Ucapnya masih tersenyum manis, dan entah kenapa wajahku memerah hanya melihat senyuman itu, uh kenapa jantungku ikut berdetak dengan cepat.
"Se-sepertinya aku menyusahkanmu ya Azusa-san." Ucapku sembari menutup separuh wajahku dengan selimut supaya Azusa-san tidak melihat semburat merah diwajahku.
"Tidak kok Aichan, kau jangan berpikiran seperti itu, lagipula aku tidak keberatan kok." Jawabnya sambil mengelus surai coklatku.
"Istirahatlah, aku akan menunggumu disini."
"Ha-hai." Jawabku dan mulai memejamkan mataku yang entah kenapa terasa berat, hah mungkin karena efek kecapean dan juga obat yang diberikan paman Shin sepertinya sudah bekerja hingga membuatku ngantuk, dan akhirnya akupun tertidur.
~Amazing Grace~
Saat aku membuka mataku kembali, kali ini aku melihat ada surai berwarna merah pendek berada didepan mataku, dan juga iris heterocomia yang sedang menatapku intens. Tu-tunggu sebentar, aku rasa keluarga Asahina tidak ada yang punya iris mata seperti itu deh, masakah?. Butuh beberapa menit aku menerjapkan mataku sampai aku sadar kalau yang ada dihadapanku saat ini adalah papaku Akashi Seijurou.
"Sudah bangun putri tidur." Ucapnya dengan wajah datar, reflex aku langsung mengubah posisiku menjadi duduk dan mundur kebelakang sambil menunjuk kearah sosok iblis berhati malaikat berkedok sebagai papaku yang berada tepat dihadapanku.
"Se-se-sedang apa papa disini?." Teriakku dan seketikah suaraku kembali serak karena teriakan mendadak tadi. Papa sendiri hanya menghela nafas lalu menurunkan tanganku yang masih menunjuknya dan memberiku air putih yang berada disamping meja kamar tidurku. Akupun segera meminum air putih itu hingga habis setengahnya, baru setelah itu papa memberi penjelasan padaku.
"Apakah salah kalau seorang ayah menjenguk anaknya yang sedang sakit?."
"De-demo bagaimana papa tau kalau aku sedang sakit?."
"Jangan kira hanya karena Shintarou tidak memberitauku kalau kau sakit, aku tdak mengetahuinya, koneksiku disini banyak jadi aku bisa tau kalau kau sekarang sedang sakit." Jawabnya yang langsung membuatku bergidik ngeri.
'Sasuga emperror eye milik papa benar-benar berfungsi dengan baik.' Batinku sweetdrop.
"Salah, bukan karena emperor eye, tapi salah satu keluarga Asahina yang memberitau papa."
"Eh?, si-siapa?."
"Kau tidak perlu tau, yang jelas sekarang aku ingin bertanya padamu, bagaimana bisa kau sampai sakit?, bahkan kena gejala typus?." Tanya papa dengan aura intimidasi yang menguar dari tubuhnya, aku hanya bisa menelan air liurku kemudian menjawab pertanyaan papa sambil menundukan kepalaku.
"Ne papa apa kau sudah dengar kalau paman Tetsuya akan menikah?."
"Ya, aku baru diberi undangannya kemarin, tapi darimana kau tau kalau Himuro akan menikah?."
"Kemarin aku bertemu dengannya dan saat itu dia memberiku undangan, padahal aku berencana untuk menyatakan cinta padanya, ne papa aku benar-benar bodoh ya." Jawabku dan air mata kembali mengalir dikedua mataku. Papa yang melihatnya langsung memelukku dan membiarkanku menangis dipelukannya.
"Padahal…hiks…padahal aku sangat mengharapkannya, hiks, ne papa apa artinya aku sudah kalah, hiks."
"Iie, mungkin ini jawaban dari Kami-sama agar kau melupakannya Aichan, aku sudah mengatakannya berkali-kali padamu kalau dia tidak mungkin menjadi milikmu, sudahlah lebih baik kau melupakan dia ya." Ucap papa melepas pelukannya dariku lalu menatapku dengan wajah khawatir. Aku hanya menganggukan kepalaku dan kembali memeluk papa, jika dipikir-pikir sudah lama juga aku tidak memeluk papa seperti ini, rasanya jadi kangen.
"Kalau begitu istirahatlah lagi, papa akan menjagamu."
"Hai, demo bolehkah aku memeluk papa sampai aku tidak menangis lagi." Pintaku. Sepertinya papa sempat terkejut dengan permintaanku, tapi dia langsung tersenyum dan mengelus suraiku seraya berucap.
"Boleh, kau bisa memeluk papamu kapan saja Aichan."
*Normal Pov*
Sementara ayah dan anak itu masih berpelukkan, dibalik pintu terdapat seseorang pemuda bersurai hitam yang poninya menutupi mata kirinya menatap sendu kearah mereka berdua atau mungkin kearah Ai yang saat ini tertidur dipelukan ayahnya.
'Jadi itu yang membuatnya menangis selama dia pingsan?, sudah aku duga kalau dia masih memikirkan kejadian itu.' Batinya masih menatap kearah Ai.
"Dia benar-benar wanita yang tegar ya." Gumannya mulai meninggalkan kamar itu dan membiarkan Ai bersama ayahnya dulu. Tak terasa sebuah senyuman tulus lolos dari bibir pria itu.
"Apakah itu artinya aku masih punya kesempatan?." Lanjutnya sembari mengerling kearah jendela yang mana saat ini diluar sedang turun hujan salju.
~Amazing Grace~
"Hasyuu…" Ah entah sudah beberapa kali aku bersin hari ini, dan juga entah kenapa mataku sejak tadi berkunang-kunang, apa aku kurang tidur ya?.
"Doushita Aichan?, kau sakit?." Tanya papa yang saat ini sedang bersiap-siap akan berangkat sekolah, beliau berjongkok didepanku dan menempelkan keningnya ke keningku. Aku bisa melihat wajahnya cukup terkejut mendapati suhu tubuhku yang naik.
"Kau sakit Aichan, biar papa antar kekamar." Ucap papa mulai menggendongku masuk kembali kedalam kamar dan membaringkan tubuhku keatas kasur lalu menyelimutiku.
"Istirahatlah, papa akan menemanimu."
"Eh papa tidak sekolah?."
"Iie hari ini papa akan ijin tidak masuk."
"De-demo."
"Daijoubu, oh ya papa akan membuatkanmu sup tofu kau mau?."
"Mau mau, tapi memangnya papa bisa masak ya?."
"Hmmm, kau meragukan papa."
"Habisnya waktu itu papa pelnah memasak tapi gagal."
"Pa-papa bisa masak kok, lihat saja akan papa buatkan sup tofu untukmu."
"Baiklah, buatkan yang enak ya pa."
"Tenang saja, aku akan buatkan yang paling enak."
~Amazing Grace~
'Hah kenapa aku malah bermimpi itu.' Batinku saat aku kembali terbangun, aku melirik jam yang berada disamping tempat tidur dan ternyata ini sudah pagi. Aku mencoba untuk duduk, mengucek pelan mataku dan melihat sekeliling.
'Sudah pagi rupanya, berapa jam aku tidur dan sepertinya aku masih belum pindah dari kamar Azusa-san.'
"Kau sudah bangun Aichan." Ucap seseorang dari arah pintu, reflex aku melihat kesumber suara yang ternyata suara papa, dan dia juga membawa nampan ditangannya.
"Papa, kau masih disini?."
"Ya, papa akan disini sampai kau sembuh, apa sudah baikan?." Tanya papa meletakan nampan itu didepanku yang ternyata berisi semangkuk sup tofu.
"Emm sudah lumayan, apa papa yang membuat sup tofu ini?."
"Ya begitulah, cobalah."
"Papa tidak menghancurkan dapurnya kan."
"Aku tidak akan melakukan hal seperti itu Aichan."
"Hehehe hanya bercanda kok papa, kalau begitu ittadakimashu." Ucapku mulai memakan sup tofu tersebut.
"Oishi desu, ini benar-benar enak papa."
"Syukurlah kalau kau menyukainya, kalau begitu habiskan ya."
"Emmm." Aku kembali memakan sup tofu itu hingga habis dan setelah itu aku meminum obat lalu kembali berbaring kekasur. Oh ya kalau tidak salah aku masih punya hutang key animation kan, sebaiknya aku mengerjakannya sebelum dateline. Aku berdiri dari posisi tidurku dan berjalan menuju pintu keluar yang sempat membuat papa heran.
"Kau mau kemana Aichan?."
"Aku ingin kekamarku, ada beberapa key animation yang harus aku selesaikan."
"Tidak boleh, kau harus istirahat."
"Ta-tapi."
"Kau mau menentang papamu ini Aichan."
"Oh ayolah papa, hanya tinggal sedikit lagi kok, sebelum dateline nih."
"Hah kau ini benar-benar ya, kembalilah tidur biar papa yang mengambilnya." Perintah papa padaku yang segera aku turuti. Aku kembali tidur dikasur bersama dengan Serafina yang tidur disampingku, tak lama kemudian papa kembali masuk kedalam kamar dengan membawa beberapa map yang berisi key animation beserta storyboard ditangannya.
"Papa akan memberimu waktu 1 jam untuk menyelesaikannya setelah itu kau harus istirahat kembali."
"Co-cotto hanya satu jam?, tidak mungkin aku bisa menyelesaikannya dalam waktu segitu?."
"Masih mending papa memberikanmu waktu segitu untuk mengerjakannya, masakah kau tidak bisa mengerjakannya?." Tanya papa sembari menyeringai kearahku membuat beberapa perempatan langsung tercetak dikeningku.
"Baiklah akan aku tunjukan kalau aku bisa melakukannya." Jawabku mengambil storyboard dan mulai menggambar key animationnya dengan wajah serius. Sampai akhirnya aku berhasil menyelesaikan semua key animation dalam waktu kurang dari satu jam.
"Akhirnya selesai juga, ukh tanganku sakit sekali." Gumanku sembari melihat kearah tangan kananku yang sedikit gemetaran lantaran terlalu fokus menggambar key animation.
"Hehehe kau terlalu serius dengan tugasmu Aichan." Komentar Azusa-san, sejak kapan Azusa-san disini?.
"Dia sudah ada disini sejak 30 menit yang lalu." Ucap papa seperti menjawab kebingunganku sembari mengambil pensil serta key animation yang ada dipangkuanku dan meletakannya dimeja sampingku.
"So-souka, sepertinya aku terlalu fokus sampai tidak sadar kalau Azusa-san disini."
"Hah kau ini, ulurkan tangan kananmu?." Perintah papa padaku.
"Eh untuk apa?."
"Sudah turuti saja." Aku mengulurkan tangan kananku yang masih sedikit bergetar dan ternyata papa hanya ingin memijatnya. Tapi papa memijatnya lumayan sakit.
"I-ittai."
"Tahan sedikit."
"Co-cotto papa."
"Sudah kubilang tahan sedikit."
"Ta-tapi itu sakit, akh."
"Ini salahmu juga karena terlalu memaksakan."
"Mou papa kan yang menyuruhku mengerjakannya dalam kurun waktu satu jam." Jawabku sembari menggembungkan pipiku yang langsung mendapat cubitan dari papa.
"Jangan memasang wajah seperti itu."
"I-ittai, papa lepaskan."
"Hai, hai." Jawab papa melepas cubitannya pada pipiku dan kembali memijat tanganku, kali ini dengan lembut.
"Nanti Shintarou akan kesini."
"Eh paman Shin?, kenapa?."
"Tentu saja memeriksa keadaan Aichan." Jawab Azusa-san yang sekarang sudah duduk disamping tempat tidurku, ah aku lupa kalau masih ada Azusa-san disini.
"Souka, hah aku harap aku sudah dinyatakan sembuh."
"Aku rasa itu tidak mungkin."
"Hee papa tidak ingin anaknya cepat sembuh ya?."
"Tentu saja papa ingin, hanya saja kondisimu benar-benar masih lemah dan juga wajahmu lebih pucat dari biasanya, kau tau itu."
"Eh benarkah, aku rasa baik-baik saja."
"Hah itu karena kau tidak melihatnya sendiri." Jawab papa dengan wajah datar.
"Tapi beneran pah aku baik-baik saja, ya mungkin kepalaku agak pusing sih."
"Ya pokoknya biarkan Shintarou memeriksamu nanti."
"Hai hai."
~Amazing Grace~
Hari ini adalah malam yang paling ditunggu oleh hampir semua pasangan, malam yang sacral bagi beberapa kalangan, ya apa lagi kalau bukan malam natal. Malam dimana kita berkumpul bersama keluarga, teman atau kekasih. Aku memang berkumpul bersama papa sih tapi tetap saja.
'Membosankan, jadi ingin keluar, hah tapi paman Shin bilang aku harus istirahat, hmm lebih baik aku keluar sebentar saja, toh papa sedang tidur kan.' Dengan langkah perlahan, aku turun dari kasurku tapi sempat mengambil jaket untuk aku pakai dan selimut untuk papa yang saat ini tidur di sofa, baru setelah itu aku keluar secara diam-diam tentunya. Sampainya diluar, yang kulihat hanyalah benda putih dingin sejauh mata memandang, ya namanya juga musim dingin jadi tidak heran kalau hanya salju yang terlihat. Aku mengadahkan tangan membuat butiran-butiran salju itu mendarat ditanganku menciptakan sensasi dingin ditelapak tanganku karena aku memang tidak memakai sarung tangan.
"Apa yang sedang kau lakukan diluar hah?." Omel seseorang dibelakangku yang ternyata adalah Yusuke senpai.
"Yusuke senpai?, aku bosan di kamar terus jadi aku memutuskan untuk keluar."
"Di tengah salju gini?, kau itu masih sakit Aichan, apa lagi kau hanya memakai jaket tanpa syal dan sarung tangan, lihat betapah dinginnya tanganmu itu." Ucap Yusuke senpai masih mengomeliku sambil menggenggam tanganku, dia lantas melepas syal yang dipakaianya dan memakaikannya padaku.
"Ayo kita masuk kedalam."
"Sebentar Yusuke senpai aku ingin jalan-jalan sebentar saja ya, please temani aku jalan-jalan di kota sebentar." Pintaku pada Yusuke senpai memasang wajah memelas disertai puppy eyes pada Yusuke senpai yang wajahnya sudah memerah.
"Ukh, ba-baiklah aku akan temani kau jalan-jalan, tapi setelah itu kau harus istirahat ya."
"Hai, arigato Yusuke senpai, kalau begitu ayo." Aku menggandeng tangan Yusuke senpai pergi dari Sunrise Recidence menuju ketengah kota yang tentunya sangat ramai dan kebanyakan didominasi oleh kaum remaja.
"Wah sangat ramai, ini bisa jadi refrensi." Ucapku mengambil kamera poketku dan mulai memfoto beberapa tempat atau hiasan termasuk pohon natal besar yang menjulang dihadapanku.
'Sepertinya aku akan membuat edisi natal, tapi mau ambil cerita yang bagaimana ya.' Pikirku masih memandang kearah pohon natal itu.
"Hei bagaimana kalau kita minum coklat panas sebentar di cafe yang ada disana?." Tawar Yusuke senpai menunjuk kearah café yang berada diseberang jalan.
"Boleh saja, aku juga sedikit kedinginan sih."
"Mungkin karena kau tidak memakai sarung tangan." Ucap Yusuke senpai melepas sarung tangan kanannya dan memakainya ditangan kananku sedangkan tangan kiriku dia genggam dan memasukannya di saku jaketnya.
"Tanganmu dingin sekali seperti es, tapi dengan begini sepertinya tidak apa-apa, ta-tapi bukannya aku peduli loh ya jangan salah paham dulu." Ucap Yusuke senpai mengalihkan wajahnya yang memerah, aku bisa merasakan kehangatan dari tangan Yusuke senpai, ternyata tangannya besar juga ya.
"Arigato Yusuke senpai, hountoni arigato." Ucapku tersenyum manis kearahnya membuat wajahnya semakin memerah. Sesampainya di café itu (yang untungnya saja suhu di café ini cukup hangat), kami memutuskan untuk duduk di meja untuk dua orang disamping jendela lalu memesan makanan pada pelayan yang mendekat kearah kami, kami berdua memesan coklat hangat ditambah mini pancake. Selagi menunggu pesanan datang, aku lebih memilih melihat kearah luar café, saat itulah aku melihat Ema senpai sedang berjalan berdua dengan Natsume-san, gawat kalau Yusuke senpai sampai melihatnya-.
"Ada apa Aichan?." Tanya Yusuke senpai membuatku sempat terkejut dengan pertanyaannya.
"Eh…iie nandemonai."
"Mencurigakan, memang ada apa di-." Belum sempat Yusuke melihat kearah luar, aku buru-buru menggenggam tangannya.
"A-ano Yusuke senpai habis ini kita pulang saja ya, sepertinya aku tidak enak badan."
"Baiklah jika itu maumu." Jawab Yusuke senpai bersamaan dengan datangnya palayan yang membawa pesanan kami, huft diselamatkan oleh pelayan. Kami mengobrol banyak hal selama sesi dinner dan untuk sejenak aku bisa merefress otakku hanya dengan mengobrol bersama Yusuke senpai, menyenangkan rasanya bisa mengobrol santai dengan Yusuke senpai walau dia terkadang menunjukan sisi tsunderenya yang terkesan manis malah.
Setelah itu kami memutuskan untuk pulang, tapi lagi-lagi dijalan aku melihat Natsume-san dan Ema senpai berjalan kearah kami, duh bisa gawat kalau Yusuke senpai tau Ema senpai jalan dengan cowok lain atau Natsume-san tau aku keluyuran di tengah cuaca dingin seperti ini padahal lagi sakit. Haduh aku harus ngapain, berpikir-berpikir kau ini punya otak cerdas kan, argghh sudah tak ada waktu lagi untuk berpikir harus bertindak cepat. Aku lantas memegang pipi Yusuke senpai dan menarik kepalanya hingga kening kami bersentuhan, kesannya kayak orang ciuman, tapi sebenarnya gak kok.
"Co-cotto Aichan apa yang kau-."
"Ssstt, diam dulu Yusuke senpai." Jawabku. Saat dirasa mereka sudah jauh, aku melepas peganganku pada pipi Yusuke senpai dan menghela nafas lega karena mereka tidak mengenali kami berdua.
"Maaf ya Yusuke senpai, tadi ada salah satu kenalanku yang lewat, bisa jadi masalah kalau dia tau aku keluyuran saat sakit begini, halo Yusuke senpai." Panggilku sambil menggerakan tanganku didepan wajahnya karena sejak tadi dia diam saja degan wajah yang sangat merah.
"Yusuke senpai."
"E-eh, na-nani?."
"Wajahmu memerah apa kau sakit?." Tanyaku mencoba memeriksa suhu tubuhnya menggunakan tanganku tapi segera ditahan oleh Yusuke senpai dengan menarik tanganku dan menggenggamnya.
"A-aku tidak a-apa-apa kok, su-sudahlah lebih baik kita pulang saja." Jawabnya menggandengku pergi dari tempat itu menuju Sunrise Recidence.
Dan begitulah natalku diakhiri dengan jalan-jalan (Author: Bilang aja kalau kencan, hehehe), jalan-jalan, ingat ini hanya jalan-jalan Author-san. Ah pokoknya natal ini aku berhasil mendapat gambar-gambar yang bagus serta hadiah-hadiah dari papa, paman serta para bibiku dan keluarga Asahina yang lain termasuk Ema senpai juga Ebihara. Ya natal tahun ini walaupun aku sakit tapi masih bisa bersenang-senang.
.
To Be Continue
.
Author: Wah senang rasanya berhasil menupdate cerita ini kembali, sudah berapa bulan ya hahaha, oh ya ada sedikit perubahaan pada judul sampingannya, soalnya menurut saya judul ini lebih cocok. Yokay seperti janji di Chapter kemarin maka review kalian semua akan di jawab oleh para Brocon kita, guys.
Kaname: Review pertama dari xxxFeliciaxxx, terima kasih karena sudah mengatakan cerita ini menarik dan maaf jika Authorchan lama dalam update cerita ini, semoga kau menikmati chapter ini ya (^0^)/.
Hikaru: Selanjutnya dari Shakha, bagaimana caranya ya?, mungkin bisa ditanyakan pada Author-chan.
Author: Hmm ada apa?.
Hikaru: *kasih kertas sama Author*
Author: *baca kertasnya* oh ini, bikin ff ya tinggal buat saja ceritanya, mungkin cuma penambahan Disclaimer yang kayak diatas itu, beserta mentaati segala peraturan per ffan (halah ngomong apa sih) yang bisa dibaca ketikah kita akan mempublish cerita (tapi peraturannya dalam bahasa inggris), selebihnya ya itu terserah anda, sekian dan terima kasih.
Tsubaki: Hoo sudah terjawab oleh Author-chan, baiklah selanjutnya dari Sacchan, ini sudah update jadi silahkan dibaca dan jangan lupa di review ya *senyum charming*.
Azusa: Untuk selanjutnya dari Lavender White, ini sudah lanjut walau aku tidak begitu suka dengan Chapter ini *deathglare Author*.
Author: Apa? *wajah innocent*.
Azusa: *menghela nafas* gak apa-apa, dan terima kasih karena sudah mendukungku, aku akan berusaha *senyum manis*.
Natsume: Review selanjutnya dari Arisa Hamada, ini sudah lanjut, tapi sepertinya keduluan sama Yusuke.
Azusa: *deathglare Natsume*.
Natsume: *pura-pura gak liat* dan terima kasih karena sudah menyemangati Author-san.
Louis: Yang terakhir dari AshidaAkane, ya saya juga sedih membaca Chapter kemarin an merasa kasihan pada Aichan. Lalu untuk jawaban dari pertanyaan kedua, tentu ada jadi ditunggu saja ya.
Ai: Baiklah karena sudah semua aku akan menutupnya, ah dan juga untuk dua Chapter yang akan datang bakalan dijawab oleh para karakter KNB, jadi bersiap-siaplah paman-pamanku.
All character KNB: *merinding*
Ai: Terus ikuti cerita ini ya dan jangan lupa REVIEW PLEASE…!
.
See You Next Conflict 7: Perendaman?
