"Ne apa yang sedang papa mainkan?." Tanyaku ketikah melihat papa yang sedang duduk dibalkon teras rumah sembari memainkan bidak disebuah papan sendirian.

"Oh Aichan, papa sedang bermain shogi."

"Shogi?, apa itu pa?."

"Ya itu semacam permainan catur."

"Souka, bolehkah Aichan juga ikut belmain?." Tanyaku dengan atusias, papa hanya terkekeh mendengar permintaanku dan mendudukkanku dikursi yang ada didepannya.

"Baiklah, akan papa ajarkan, dan setelah itu kita akan bertanding bagaimana."

"Emmm setuju, Aichan pasti akan mengalahkan papa."

"Hee, kita lihat saja nanti siapa yang akan menang, papa atau Aichan."

.

BROTHER CONFLICT © Bukan Milik Saya

CROSSOVER: KUROKO NO BASUKE © FUJIMAKI TADATOSHI

AMAZING GRACE © SHERRYSAKURA99

.

WARNING: OC, OOC (mungkin), Crossover, jika ada yang kurang mengerti jalan ceritanya atau banyak kesalahan Typo mohon di maklumi, cerita mengikuti alur anime Brother Conflict dengan tambahan dari saya.

Genre: Romance, Friendship, Humor (mungkin, walau humornya agak garing), Hurt/Comfort

Rate:T

.

Conflict 7: Perendaman?

.

"Hah hari ini melelahkan sekali." Gumanku yang saat ini baru saja pulang dari perusahaan Mayuzumi setelah membahas tentang key animation untuk episode yang akan kami kerjakan, dan entah kenapa mereka menyuruhku datang keperusahaan mereka. Aku memutuskan untuk pergi kedapur mengambil minuman karena sejak tadi aku merasa haus dan juga aku tidak sempat membeli air minum disana.

"Tadaima." Ucapku begitu aku melihat ternyata ada beberapa orang disana.

"Ah okairi Aichan/oneechan." Jawab mereka bersamaan.

"Oh ya Aichan kita akan makan malam diluar sekaligus melihat hanami, kau ikut ya." Ajak Tsubaki-san padaku.

"Em em oneechan ikut ya." Pinta Wataru berlari kearahku dan berhenti tepat didepanku.

"Hanami, boleh juga, baiklah aku ikut." Jawabku tersenyum pokerface sambil mengelus surai Wataru.

"Yatta, Ai oneechan ikut, Ai oneechan ikut." Ucapnya berkali-kali dengan kedua tangan yang terangkat keatas, sepertinya dia sangat senang.

"Kalau begitu aku akan membuatkan karagee dulu." Ucap Ema senpai melangkahkan kakinya menuju dapur dan menyiapkan bahan-bahannya, akupun meletakan kantung plastik yang sejak tadi aku bawa keatas meja dan mendekat kearah Ema senpai.

"Biar aku bantu Ema senpai."

"Eh tidak perlu Aichan, kau terlihat kelelahan lebih baik istirahat saja."

"Daijoubu desu, aku tidak apa-apa kok, jadi tidak usah khawatir." Jawabku mengambil celemek berwarna biru dan mulai membantu Ema senpai memasak karagee.

"Oh ya Aichan, kantung plastik ini isinya apa?." Tanya Azusa-san menunjuk kearah kantung plastik yang berada dimeja.

"Itu isinya cup cake pemberian paman Chi, saat aku mau pulang beliau memberikan itu padaku."

"Apa cup cake yang pernah kau berikan padaku waktu itu?."

"Tepat sekali Tsubaki-san, dia tau kalau aku suka sekali dengan coklat, karena itu ketikah aku berkujung beliau selalu memberiku kue atau cup cake rasa coklat, oh ya aku akan membawanya dan kita bisa memakannya bersama-sama."

"Daijobukah?, bukannya itu khusus untukmu saja?."

"Daijoubu Masaomi-san, lagipula aku lebih suka kalau dimakan bersama-sama."

"Baiklah aku tidak akan segan-segan loh Aichan, soalnya aku suka cup cake yang pernah kau berikan padaku rasanya enak." Ucap Tsubaki-san dengan semangat.

~Amazing Grace~

Kami akhirnya sampai disebuah taman disamping sungai dan terlihat banyak sekali orang yang berada disini, tapi yang membuatku takjub adalah bunga sakura yang bermekaran disepanjang jalan, rasanya sudah lama sekali aku tidak melihat hanami, terakhir mungkin sekitar dua tahun lalu itupun kalau bukan aku yang memaksa papa dan kakek untuk melihat hanami. Kamipun memutuskan untuk menggelar tikar didekat sungai yang untungnya kosong lalu mulai menata beberapa makanan walau hanya jus, karagee dan cup cake. Aku duduk disamping kiri Azusa-san bersama Serafina yang duduk dipangkuanku sedangkan Ema senpai duduk didepanku bersama Wataru dan Masaomi-san, kalau Tsubaki-san dia sedang dikerubungi oleh beberapa fansnya dan sedang bernyanyi yang menurutku suaranya agak nyaring atau bisa kubilang kalau agak fales.

"Ah Natsume." Ucap Azusa-san membuatku langsung mengerling kearah Natsume-san yang mengambil tempat duduk disebelahku.

"Na-kun selamat datang." Ucap Wataru dengan semangat.

"Aku tidak menyangkah kau benar-benar akan datang Natsume-san, kupikir kau akan menolaknya." Komentarku.

"Ya sebenarnya aku tidak mau datang, lagipula kalian sudah hampir selesai, bukankah lebih baik aku tidak datang saja."

"Itu tidak baik Natsume, kita jarang punya waktu berkumpul seperti ini, jadi kau harus ikut, berhubung kau tinggal sendiri, kau sangat tidak koperatif." Ucap Azusa-san.

"Ya ya koperatif." Ucap Natsume-san malas lalu mengerling kearah Tsubaki-san yang saat ini baru saja selesai menyanyikan sebuah lagu dan menyapa para penggemarnya.

"Ya ampun, tak peduli berapa umurnya sekarang dia masih tetap berisik ya." Komentar Natsume-san masih melihat kearah Tsubaki-san.

"'Jiwa yang berusia tiga tahun hingga seratus', begitulah kata mereka." Timpal Azusa-san sembari meminum jus ditangannya.

"Demo sangat lucu rasanya melihat jiwa anak kecil yang terperangkap ditubuh orang dewasa, soalnya aku pernah bertemu dengan anak kecil tapi sifatnya begitu dewasa, it's look creepy you know?." Komentarku.

"Ya aku bisa melihatnya." Jawab Natsume-san sedikit faceplam dengan komentarku barusan.

"Ah ini Nantsume-san, silahkan." Ucap Ema senpai memberikan segelas jus pada Nantsume-san yang diterima olehnya dan dijawab "arigato" oleh Natsume-san.

"Oh ya ini cup cakenya, cobalah Natsume-san, ini enak loh." Ucapku menyodorkan sekotak cup cake yang masih tersisa pada Natsume-san, dia mengambil satu cupcake kemudian memakannya setelah mengucapkan "arigato" padaku.

"Emm ini enak." Komentar Natsume-san.

"Desou."

"Maaf tiba-tiba menghubungimu ditengah-tengah kesibukanmu." Ucap Ema senpai pada Natsume-san.

"Tidak masalah."

"Oh ya, bukannya Natsume-san seharusnya sedang berkumpul dengan teman-teman kantormu?." Tanyaku.

"Ya, ketikah Tsubaki menelphonku, aku baru saja pulang dari hanami bersama teman-teman kantor, tapi darimana kau tau?."

"Sebenarnya paman Reo juga mengajakku mengingat aku juga bagian dari mereka, demo aku menolak karena waktu itu aku ada pertemuan dengan perusahaan lain."

"Pantas, kau itu terlalu sibuk ya, jaga kesehatanmu, jangan sampai kau sakit lagi seperti kemarin."

"Hai hai, hah Natsume-san jadi seperti otousan deh."

"Itu karena aku mengkhawatirkanmu baka." Jawab Natsume-san sambil menjitak kepalaku.

"Ittaio Natsume-san."

"Sepertinya kita kehabisan minuman." Ucap Masaomi-san mengerling kearah satu botol jus jeruk yang telah habis.

"Kalau begitu biar aku membeli minuman sebentar." Ucap Ema senpai berdiri dari posisi duduknya dan bersiap-siap akan pergi.

"Biar aku bantu Ema senpai."

"Tidak usah Aichan kau disini saja, aku tidak akan lama."

"Oh baiklah, tapi bisakah aku titip pocky rasa coklat?."

"Tentu, aku pergi dulu ya." Dan dengan begitu Ema senpai pergi dari hadapan kami semua. Setelah Ema senpai menghilang, aku memutuskan untuk berkeliling sebentar bersama Serafina. Aku bisa melihat banyak pasangan muda mudi yang sedang memadu asmara membuatku sedikit iri dengan apa yang aku lihat.

'Mereka terlihat begitu bahagia ya, tapi tidak denganku.' batinku sambil menghela nafas.

"Emm doushitano miaw?." Tanya Serafina mengerling kearahku yang sempat kaget dengan pertanyaannya yang tiba-tiba.

"I-iie nandemonai, ah lihat disana ada yang menjual permen apel." Ucapku menunjuk pada stand penjual permen apel dan mendekat kearah stand tersebut. Aku membeli tiga permen apel untukku, Ema senpai dan juga Wataru karena aku yakin wataru pasti suka permen dan tidak akan menolak memakan permen apel ini. Setelah itu kami memutuskan untuk kembali bersamaan dengan kembalinya Ema senpai dari mini market dan dia datang dengan Subaru-san.

"Kau sudah datang senpai."

"Eh Aichan darimana saja kau~?." Tanya Tsubaki-san padaku sambil merangkul pundak Azusa-san dan sepertinya dia sedang mabuk karena wajahnya tampak merah dan mata yang sayu.

"Hanya jalan-jalan sebentar, dan Tsubaki-san kau terlalu banyak minum." Jawabku lalu mendekat kearah Ema senpai dan memberikan satu permen apel padanya.

"Douzo, tadi aku sempat membelinya saat jalan-jalan."

"Wah permen apel, arigato Aichan, oh ya ini pocky titipanmu." Jawab Ema senpai memberikan pocky itu padaku.

"Arigato Ema senpai."

"Lalu permen yang satunya lagi untuk siapa?." Tanya Subaru-san menunjuk kearah permen yang ada ditangan kiriku.

"Oh ini, aku ingin memberikannya pada Wataru-kun, demo aku tidak melihatnya dimanapun, kemana dia?." Tanyaku melihat kesekeliling dan memang benar dia tidak ada dimanapun.

"Benar juga dimana dia?." Tanya Tsubaki-san.

"Dia dari tadi sini." Jawab Masaomi-san.

"Ah dia ada disana." Ucap Azusa-san menunjuk kearah Wataru yang sedang menarik perhatian bebek dipinggir sungai dibelakang kami.

"Itu berbahaya." Ucap Ema senpai ketikah melihat Wataru, reflex Natsume-san berlari kearahnya, berniat menolong Wataru tapi malah dia yang jatuh kesungai. Akupun langsung sweetdrop ditambah faceplam ketikah melihat kejadian tersebut, untung bukan Wataru yang jatuh kesungai dan untung sungai itu dangkal. Kami semua segera mendekati mereka berdua yang mana Tsubaki-san segera menarik tangan Natsume-san dan membantunya keluar dari sungai.

"Haah, Na-kun jadi basah kuyup, kenapa kau terjun kekolam?." Tanya Wataru saat Tsubaki-san sedang menolongnya.

"Natsume oniichan suka berenang." Jawab Tsubaki-san mengerling keadik terkecilnya.

"Hounto?."

"Benar, lihat saja." Tsubaki-san pun melepas pegangannya pada Natsume-san dan membuatnya kembali masuk kedalam sungai, dia hanya bisa tertawa seperti tidak melakukan apa-apa sedangkan kami semua langsung jawdrop.

"Tsubaki-san hentikan lelucon itu dan segera tolong Natsume-san sebelum dia sakit." Omelku masih jawdrop melihat kelakuan Tsubaki-san yang kelewat absurd. Akhirnya Tsubaki-san dan Azusa-san menolong Natsume-san keluar dari dalam air dan segera Ema senpai melap wajah Natsume-san yang basah dengan sapu tangan miliknya.

"Natsume-san daijoubu desukah?, sapu tanganku memang tidak banyak membantu, demo-."

"Arigato." Potong Natsume-san. Aku segera melepas jaket hitamku dan meletakannya tepat diatas kepala Natsume-san, membuatnya langsung mendongkak kearahku dengan wajah bertanya-tanya.

"Pakailah, tenang saja jaket itu cukup besar jadi akan pas ditubuh Natsume-san, lagipula kalau kau pulang dengan keadaan basah seperti itu kau bisa sakit nanti."

"Tidak usah Aichan, kau lebih membutuhkannya mengingat kau hanya memakai kaos tipis seperti itu."

"Daijoubu, aku sudah terbiasa dengan hawa dingin seperti ini, jadi tidak masalah, dan untuk Wataru-kun." Aku mendekat kearah Wataru lalu berjongkok didepannya berusaha menyamakan tinggi badannya lalu mengelus surainya.

"Bermain dipinggir sungai tanpa pengawasan orang dewasa sangat berbahaya jika kau sampai terjatuh dan tidak ada yang tau, kita semua akan repot kan, berjanjilah pada oneechan kau tidak akan melakukannya lagi ya." Lanjutku sambil tersenyum yang dijawab "wakatta" olehnya.

"Bagus, karena kau sudah mau menurut pada oneechan, aku punya sesuatu untukmu."

"Eh apa itu Ai neechan." Aku mengeluarkan sapu tangan dari sakuku dan meletakannya ditangan kananku yang tergenggam lalu menariknya kembali dan memunculkan permen apel ditangan kananku. Wataru yang melihat sulap milikku langsung memandang permen yang muncul secara tiba-tiba dengan mata berbinar-binar.

"Wah sugoi oneechan, arigato, bagaimana cara melakukannya?." Tanya Wataru mengambil permen apel itu dari tanganku.

"Ah it's secret, seorang pesulap tidak boleh menunjukan triknya kepada orang lain, itu sudah peraturan." Jawabku meletakan jari telunjuk dimulutku sembari mengedipkan mata kiriku.

"Souka, arigatona hountoni." Ucap Wataru yang tiba-tiba saja langsung mengecup pipi kananku lalu berlari kearah Masaomi-san dengan senyuman diwajahnya, aku sendiripun hanya bisa tersenyum dan berdiri dari posisi dudukku lalu mengerling kearah mereka semua yang memandangku dengan takjub.

"Ke-kenapa?." Tanyaku.

"Su-sugoi Aichan, darimana kau belajar sulap seperti itu?." Tanya Ema senpai.

"Aku tidak menyangkah kalau kau juga bisa bermain sulap." Komentar Tsubaki-san.

"Aku belajar sulap dari pria yang dijuluki sebagai arsenal lupin di Jepang (Author: kalian pasti tau dia siapa…lol :D)." Jawabku memasang pose berpikir.

"So-souka, Natsume maaf atas perlakuan Tsubaki, dia hanya sedang bercanda." Ucap Azusa-san pada Natsume-san yang masih duduk ditanah.

"Ya, lagipula bukan kali ini saja dia pernah megerjaiku."

"Memang benar lelaki yang baik adalah yang basah kuyup, hahaha." Timpal Tsubaki-san sambil tertawa senang, benar-benar seperti tidak punya rasa bersalah.

"Kenapa kau tidak kembali dan mandi ditempat kami saja." Usul Azusa-san.

"Hah baiklah." Kamipun memutuskan untuk pulang karena hari semakin malam dan juga tidak baik untuk Natsume-san yang sedang basah kuyup terlalu lama diluar karena dia bisa kena demam kan.

*Normal Pov*

Sesampainya mereka di mansion, Natsume segera pergi kekamar mandi untuk membersikan dirinya setelah itu dia pergi menuju dapur dan terkejut mendapati Subaru dan Ai sedang ngobrol sambil duduk disofa. Karena penasaran, diapun mencoba menguping pembicaraan mereka berdua.

"Jadi Subaru-san, apa yang ingin kau bicarakan?." Tanya Ai pada Subaru yang duduk disebelahnya.

"Y-ya sebenarnya aku igin berterima kasih padamu karena kau sudah mau membantuku waktu itu, dan juga aku harap kau mau melihat pertandingan yang akan dilaksanakan beberapa hari lagi, ka-kau mau datang kan?." Pinta Subaru dengan semburat merah tipis diwajahnya, Ai tampak berpikir sejenak sebelum menganggukan kepala dengan senyuman pokerface diwajahnya.

'Oh hanya obrolan bisa.' Batin Natsume memutuskan untuk turun dari tangga. Subaru yang melihat kedatangan Natsume segera berdiri dari posisi duduknya, berpamitan pada Ai sebentar sebelum akhirnya berjalan menuju tangga yang ada disamping Natsume.

"Subaru, aku membaca majalah bulanan basket." Ucap Natsume ketikah Subaru melewatinya, membuatnya langsung menghentikan langkahnya.

"Mereka bilang kau sedikit terpuruk, bukankah ini saat yang penting?, memangnya apa yang sedang kau lakukan?." Lanjutnya mengerling kearah Subaru.

"Natsu nii kau tidak tau apa-apa, tinggalkan aku sendiri." Jawabnya dengan wajah datar dan segera pergi dari hadapan Natsume dan juga Ai. Ai sendiri segera mendekat kearah Natsume yang berdiri tak jauh dari tempatnya.

"Doushita Natsume-san?, apa kalian sedang bertengkar?." Tanya Ai.

"Iie nandemonai, aku hanya mengkhawatirkannya saja."

"Oh daijoubu desu, selama dia ada dipengawasanku, dia akan baik-baik saja, lagipula dia sudah berlatih keras untuk dapat kembali bermain basket seperti biasa." Jawab Ai sambil tersenyum.

"Menurutmu begitu?."

"Emm aku sendiri yang mengajarinya, jadi tidak akan ada masalah, semuanya akan terlihat sempurnah saat dia bertanding nanti." Jawab Ai masih tersenyum, atau mungkin menyeringai kecil kearah Subaru terakhir kali terlihat membuat Nantsume mengangkat sebelah alisnya ketikah mendengar ucapannya.

"Ya semoga saja."

~Amazing Grace~

Besoknya, lagi-lagi Ai pulang sampai larut malam karena pekerjaannya dan kali ini dia baru saja bertemu dengan editor dari perusahaan manga untuk membahas beberapa alur yang cocok digunakan dalam manga karangannya. Dia membuka pintu menuju dapur dan terkejut mendapati Ema serta Ukyo yang berada dibalakangnya seperti Ukyo sedang memeluk Ema dari belakang, padahal niat sesungguhnya Ukyo ingin mengajari Ema bagaimana cara memotong ayam dengan benar.

"Ano, sebenarnya apa yang sedang kalian lakukan?." Tanya Ai pada mereka berdua, reflex mereka berdua segera mengerling kesumber suara dan terkejut mendapati Ai berdiri dipintu masuk dengan Serafina yang berada disampingnya.

"A-Aichan." Ucap Ema sedikit berteriak.

"Aichan, sejak kapan kau ada disana?." Tanya Ukyo.

"Baru beberapa menit yang lalu, jadi apa yang sedang kalian lakukan?."

"Khu…khu…khu…sepertinya Ukyo nii berniat menyerang Emachan." Jawab pemuda yang berpakaian layaknya seorang waria #dilempar sandal#.

(Hikaru: woi aku bukan waria)

(Narator: lalu apa dong?)

(Hikaru: eke ini banci tau~)

(Narator: ah cin sama kayak eke dong~)

(Author: tolong abaikan percakapan diatas (=.=|||))

Berdiri dibelakang Ai yang lagi-lagi membuat Ukyo maupun Ema terkejut dengan kedatangannya yang terkesan tiba-tiba, sedangkan Ai sendiri tidak terlalu terkejut mengingat dia sudah sempat berpapasan dengan pemuda yang bernama Hikaru itu.

"A-apa yang kau bicarakan Hikaru?."

"Tenang saja, aku tidak akan bicara pada siapapun kalau kau menggodanya didapur."

"Aku sama sekali tidak punya maksud seperti apa yang kau tuduhkan."

"Jadi apa maksudnya saat kau memegang tangannya?, kenapa tengkuk lehermu menjadi merah?." Tanya Hikaru membuat Ukyo terkejut dengan perkataannya, dan dengan cepat July hewan peliharaan Ema menyerang Ukyo sembari berucap "ternyata kau sama saja pengacara busuk" lalu mendarat dengan sempurnah diwajah Ukyo.

Ai dan Serafina sendiri sweetdrop melihat tingkat keoverprotektifan July pada Ema, padahal Serafina saja tidak pernah seover itu padanya. Setelah itu jadilah Ai dan Ukyo yang memasak makan malam dengan pengawasan July dan Serafina yang berjaga-jaga kalau Ukyo berbuat sesuatu pada Ai (ini saran dari July). Setelah selesai makan, Ai segera pergi kekamarnya dan merebahkan dirinya diatas kasur.

"Besok hari pertandingan Subaru-san ya, aku yakin dia pasti bisa memenangkannya." Gumannya dan mulai memajamkan matanya, tak lama kemudian diapun tertidur.

Keesokan harinya~

"Wah ramai juga ya, walau tidak seramai winter cup atau inter high." Komentar Ai sembari melihat sekeliling yang mana telah terisi penuh dengan penonton. Aipun memilih untuk melihat pertandingannya ditempat strategis walaupun harus berdiri. Pertandingan berjalan sesuai harapan Ai, walau Subaru dimasukan ketikah quarter ketiga, tapi untung saja universitas milik Subaru berhasil memenangkan pertandingan, dan itu semua berkat latihan neraka yang disusun oleh Ai.

'Yappari seperti dugaanku kalau mereka akan menang, dan juga sepertinya semua status Subaru-san juga meningkat dengan pesat.' Batin Ai ketikah dia keluar dari stadion, diapun melihat keatas dimana awan mendung menyelimuti hampir sebagian Tokyo, dan menurut ramalan cuaca hari ini hujan akan datang.

'Untung saja aku membawa payung, jadi aku tidak perlu-.' Batinnya terputus begitu melihat Natsume dan Ema yang baru saja keluar dari stadion dan berjalan menjauh, lalu sepertinya Natsume meninggalkan Ema sendirian karena dia sedang menerima telpon dari orang lain. Ai mendekat kearah Ema dan berniat menyapanya tapi dia urungkan begitu melihat Subaru mendekati Ema, diapun memutuskan untuk bersembunyi dibalik gedung yang dekat dengan posisi Subaru dan Ema.

"Syukurlah." Ucap Subaru ketikah sudah sampai didepan Ema.

"Tadi sangat luar biasa, aku-." Ucap Ema terputus karena tiba-tiba saja Subaru memeluknya, membuat semburat merah tipis muncul diwajah Ema, sedangkan Ai memandangnya dengan wajah datar.

"Arigato atas segalahnya, semua ini berkat dirimu." Ucap Subaru masih memeluk Ema.

"Eh?."

"Itu karena kau datang dan menonton pertandinganku, karena itu aku melakukan yang terbaik."

"Subaru-san." Subaru melepas pelukannya dan menatap wajah Ema dengan semburat merah diwajahnya.

"Ano, apa ada orang yang kau suka?." Tanya Subaru membuat Ema lagi-lagi terkejut dengan perkataannya.

"Aku serius, tolong beritau aku, orang yang kau suka bukan orang yang sedang kau kencani."

"Ti-tidak ada kok."

"Souka, kalau begitu aku ingin kau ada disisiku mulai sekarang, zutto, aku membutuhkanmu." Ucapnya menatap lurus kearah Ema yang masih melihatnya dengan pandangan terkejut.

"Subaru." Panggil seseorang pada Subaru, reflex Subaru, Ema dan Ai mengerling kesumber suara dan terlihatlah Natsume sedang berdiri diantara mereka berdua. Subaru segera melepas kedua tangannya yang berada dibahu Ema dan menoleh kearah Natsume.

"Natsu nii kenapa kau ada disini?." Tanya Subaru.

"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu, sedang apa kau disini?, mana rekan-rekanmu, ketua, dan pelatih?."

"Natsu nii."

"Jangan sombong hanya karena kau berhasil melakukannya, masih ada pertandingan kedua kan?, ini bukan seperti kau memenangkan kejuaraan, kembali sana, jika kau ingin menjadi orang bodoh lakukan nanti setelah kau menjadi pemain pro, masih terlalu cepat bagimu."

"Aku tidak ingin mendengarnya dari orang sepertimu yang tak bersungguh-sunggu dalam pekerjaannya."

"Bahkan jika kau meneruskannya, sama saja jika kau tidak mengerahkan semuanya, bagaimana kau bisa menghadapi lawan yang tangguh seperti Kiseki No Sedai jika kau tidak serius dalam pertandingan?, percuma Ai mengajarimu bukan?." Omel Natsume bersamaan dengan hujan yang turun semakin deras, butuh beberapa detik mereka saling menatap sebelum akhirnya Subaru menghela nafas.

"Hah aku sudah muak, pikirkan apa yang kukatakan barusan." Ucap Subaru pada Ema dan diapun pergi meninggalkan Ema dan Natsume menuju ke stadion. Ai yang melihat Subaru telah pergi mulai membuka payung putih transparan miliknya dan berjalan meninggalkan Ema serta Natsume yang masih berada disana.

'Subaru-san menyatakan cinta pada Ema senpai, kenapa aku tidak terkejut ya, aku sudah menduga ada yang aneh dengan keluarga ini.' Batin Ai menghentikan langkahnya dan menatap awan mendung diatasnya.

"Aku penasaran apa yang akan terjadi selajutnya."

~Amazing Grace~

"Jadi begitulah Serafina, bagaimana menurutmu?." Tanya Ai pada Serafina yang saat ini sedang duduk disamping jakusi tempat Ai berendam, sedangkan objek yang ditanya memasang pose berpikir.

"Entahlah miaw, memang sepertinya mereka semua menyukai Ema miaw."

"Souka, apakah Azusa-san juga menyukainya ya?." Guman Ai sembari membenamkan separuh wajahnya kedalam air yang sayangnya terdengar oleh Serafina.

"Hee kau khawatir orang yang kau sukai direbut oleh Ema miaw?." Tanya atau mungkin Serafina mengonfirmasi ucapan Ai sembari menyeringai, yang sontak membuat semburat merah muncul diwajahnya.

"Su-suka?, chi-chigauyo desu, ma-mana mungkin aku menyukai Azusa-san." Jawab Ai sambil menggerak-gerakkan tangan kekiri dan kekanan masih dengan wajah memerah.

"Heee justru sikapmu menunjukan kalau kau menyukainya, apa karena dia selalu perhatian padamu ya miaw." Lagi-lagi ucapan Serafina membuat wajah Ai semakin memanas bahkan sampai ketelinganya.

"Ternyata memang benar, hehehe."

"U-urusai Serafina mou." Ucap Ai menggembungkan kedua pipinya tanda dia sedang kesal, sedangkan Serafina hanya terkekeh melihat kealakuan Ai. Tiba-tiba saja ada yang masuk kekamar mandi dan berjalan mendekat kearah Ai, mereka segera menoleh kesumber suara ketikah mereka berdua mendengar suara langkah kaki dan mendapati Subaru berdiri beberapa meter di depan mereka. Seketikah beberapa perempatan langsung muncul didahi Ai, kalau Subaru sudah dipastikan wajahnya memerah seperti tomat ketikah tau bahwa ada seseorang didalam kamar mandi dan itu adalah Ai.

"A-Aichan?."

"Subaru-san, sedang apa kau ada disini?." Tanya Ai dengan suara berat serta aura-aura hitam yang berada disekelilingnya, membuat Subaru hanya bisa menelan air liurnya ketikah melihat aura-aura yendere dari Ai.

"Tu-tunggu Ai, aku bisa jelas- *stap*." Ucap Subaru terputus begitu melihat penggaris besi meluncur kearahnya dan menancap didinding sampingnya. Ai segera keluar dari jakusi dan dengan cepat melilitkan handuk ditubuhnya lalu berjalan kearah Subaru, reflex Subaru mundur kebelakang sembari berusaha menenangkan Ai yang masih marah.

"Co-cotto Ai, aku tidak tau kalau kau ada didalam."

"KAU SEHARUSNYA MENGETUK DULU SEBELUM MASUK, DASAR MESUM." Teriak Ai melemparkan kembali penggaris besi yang entah dia dapat dari mana pada Subaru, untung saja dia dapat menghindarinya dan penggaris itu menancap kembali ketembok yang ada dibelakangnya.

Mendengar suara ribut-ribut dari kamar mandi, beberapa keluarga Asahina yang ada dirumah termasuk Ema segera menuju kearah sumber suara dan terkejut mendapat Ai yang hanya dibalut handuk dengan aura-aura hitam disekitarnya sembari memegang penggaris besi ditangan kanannya serta rambut panjangnya yang hampir menutupi seluruh wajahnya, sedang menatap tajam kearah Subaru yang berada didepanya dan sedang ketakutan, Ai terlihat menyeramkan dimata mereka.

"Apa yang sedang terjadi disini?." Tanya Masaomi, segera Subaru berlari kearah kakak tertuanya itu dan bersembunyi dibelakangnya.

"Iie hanya saja Subaru-san tiba-tiba masuk kekamar mandi saat aku sedang berendam." Jelas Ai mengacungkan penggaris besi kearah Subaru.

"A-aku tidak tau kalau Aichan ada didalam."

"Su-sudahlah Aichan, Subaru tidak sengaja jadi maafkan dia ya." Ucap Azusa berusaha menenangkan calon istri ehem maksud saya Ai.

"Di-dia tidak akan melakukannya lagi iya kan Subaru." Ucap Tsubaki mengerling kearah Subaru yang langsung menganggukan kepalanya dengan cepat.

"Hah baiklah kali ini akan aku maafkan." Ucap Ai sembari menyisipkan beberapa helai rambutnya kebelakang telinga, membuat mereka langsung bernafas lega terutama Subaru.

"Demo, aku akan pastikan menambah porsi latihanmu hingga sepuluh kali lipat, khu…khu…khu." Lanjutnya sambil menyeringai ala pesikopat lalu kembali masuk kedalam kamar mandi. Untuk sesaat mereka semua yang ada diluar kamar mandi terdiam, bahkan mereka sampai lupa bernafas karena saking takutnya dengan ancaman Ai terutama Subaru.

"Di-dia benar-benar wanita yang unik ya." Komentar Azusa memecahkan keheningan.

"Y-ya siapa sangkah dia bisa begitu menakutkan kalau sedang marah." Komentar Yusuke.

"Hora Subaru, sepertinya besok nerakamu akan datang lebih cepat dari perkiraan, hehehe." Ucap Tsubaki tertawa senang yang langsung membuat mereka semua faceplam sedangkan Subaru hanya bisa bergidik ngeri ketikah mengingat kembali ancaman Ai.

'Latihan seperti biasanya saja sudah berat, apalagi kalau dilipat gandakan, bisa-bisa aku tidak akan melihat hari esok.'

.

To Be Continue

.

Author: Saya update cerita kembali yuhuu.

Ai: Tapi sepertinya tidak ada review yang masuk ya.

Author: Ya itu artinya para karakter KNB tidak perlu menjawab review untuk chapter ini.

Karakter KNB: *bernafas lega*

Ai: Baiklah kalau begitu ikuti terus ya cerita ini.

Author: Dan bagi kalian para pembaca silahkan di Review ya…!

.

See You Next Conflict 8: Photo?